29 April 2009

Orang Tua Tionghoa dan Musik Klasik



FOTO: Bapak Solomon Tong memimpin latihan Surabaya Symphony Orchestra (SS)). 70 persen pemusik SSO adalah remaja Tionghoa di Surabaya.


Lanjutan artikel Anak Tionghoa dan Musik Klasik Barat

Sebagian besar anak-anak Tionghoa di Surabaya yang belajar musik klasik umumnya atas keinginan orangtua. Padahal, hampir semua orangtua Tionghoa sebenarnya tak ingin anaknya benar-benar jadi pemusik di masa depan. Ini memang paradoks yang sudah berlangsung sejak 1960-an.

Maka, ketika si anak sudah menginjak usia remaja, beban sekolah makin berat, menjelang ujian, para orangtua ramai-ramai menarik anaknya dari sekolah musik. Demikian antara lain petikan percakapan saya dengan Solomon Tong belum lama ini.

Solomon Tong adalah dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO) dan pemilik Sekolah Musik SSO. Dia termasuk salah satu guru musik klasik yang konsisten di Surabaya sejak 1960-an.

"Bahkan, ada yang minta cuti sampai tiga bulan atau empat bulan. Lha, kalau sudah begitu, untuk melanjutkan lagi itu susah. Gurunya setengah mati, si anaknya juga akan kesulitan belajar," kata Solomon Tong.

Begitulah.

Orangtua yang mendorong, tapi di tengah jalan mereka pula yang menghambat anak-anaknya menekuni musik klasik Barat. "Lha, kalau anaknya main musik terus, nggak mau kerja, terus ke depan dia makan apa? Apa bisa makan dengan main musik," ujar salah satu orangtua pianis cilik berprestasi di Surabaya.

Karena itu, menurut Solomon Tong, sulit melahirkan pemusik yang benar-benar serius di Surabaya, bahkan Indonesia. Setelah tamat SLTA, kuliah, biasanya anak-anak berbakat musik ini memilih bidang lain yang mungkin jauh dari musik. Entah itu kedokteran, bisnis, marketing, desain, dan sebagainya.

"Orangtua mereka bilang, yang penting anak saya sudah punya dasar musik klasik. Nanti kalau sudah jadi dokter, ya, dokter yang bisa main piano, mengerti musik klasik," ujar Tong.

Kalaupun ada anak Surabaya yang terus menekuni musik klasik, sambung pria kelahiran Xiamen, Tiongkok, ini, biasanya ujung-ujungnya akan membuka kursus musik atau jadi guru musik. Kalau dirasa penghasilannya masih kurang, dia akan membuka bisnis lain. "Ini memang masalah lama yang belum terpecahkan di Indonesia," kata pria 70 tahun ini.

Menurut Solomon Tong, yang mengajar musik klasik sejak 1950-an, dari seribu siswa sekolah/kursus musik klasik, paling banyak lima orang yang bertahan sampai dewasa.

"Lima dari seribu orang. Dan itu akibat orangtua yang tidak sabar ditambah motivasi anak yang tidak murni. Orangtua inginnya instan," kritiknya.

25 April 2009

10 Keuntungan Istri Jelek



OBSESI CANTIK: Artis Korea bernama Han Mi Ok ini aslinya sudah cantik, tapi ingin selalu lebih cantik dan lebih cantik lagi. Setelah operasi wajah 15 kali, hasil akhirnya seperti ini. Dijamin sulit selingkuh!


Istri Anda buruk rupa? Wajahnya jelek? Tidak secantik Luna Maya, Mulan Kwok, Bunga Citra Lestari, Agnes Monica, Aura Kasih, Maia Estianti?

Jangan cemas! Ojo kuatir! Ora usah minder, Saudara-Saudara!

Ketahuilah bahwa sesungguhnya istri cantik bukan jaminan keluarga bahagia. Kebahagiaan tak pernah ditentukan oleh kecantikan, Bung! Bahkan, begitu banyak suami yang terpaksa menceraikan istrinya yang ternyata sangat cantik. Simak program gosip artis alias INFOTAINMEN di televisi yang topik utamanya selingkuh, kawin, cerai para artis di Indonesia Raya.

Dari segi wajah, penampilan, karier, uang... apa sih yang kurang dari selebritas-selebritas itu? Tapi Ahmad Dhani tak bahagia bersama Maia. Keluarga Saipul Jamil dan Dewi Perssik berantakan. Pasha Ungu cerai dari istri cantik. Glenn Fredly sedang sidang cerai dengan Dewi Sandra. Daftar istri cantik yang tidak bahagia, kemudian stres, masih panjang, Bung!

Bapak Muhammad Nuh, menteri komunikasi yang asli Rungkut, Surabaya, itu dalam beberapa bulan terakhir suka membahas topik MANFAAT PUNYA ISTRI JELEK. Kalau ada seminar, pidato, kata sambutan, Pak M. Nuh--hehehe...--suka kasih bumbu joke tentang istri buruk rupa. Di Surabaya, Sidoarjo, Malang... topik ringan ini disinggung Pak Menteri yang juga bekas rektor ITS Surabaya.

Apa saja 10 keuntungan punya istri buruk rupa? Saya petik beberapa hal yang masih sempat saya ingat.

1. LOW COST.

Istri jelek (maksudnya berwajah jelek, bukan jelek watak) tidak neko-neko. Dia tidak doyan ke salon-salon mahal. Treatment macam-macam ala artis cantik Tamara tentu jarang dilakukan. Dandan seadanya pakai bedak yang biasa-biasalah. Bedake tipis-tipis, gak larang blas. Soale, diupur koyok opo ae, slirake ya pancet kayak ngono.

Yang penting, pantas, tidak bikin malu kalau digandeng ke pesta pernikahan, undangan resmi, atau hajatan publik. Para suami yang istrinya jelek bisa berhemat cukup banyak. Beda dengan artis cantik: biaya ke fitness, diet menguruskan badan, sedot lemak, menghilangkan selulit, semir rambut, pakaian branded, dan macam-macam lagi. Muahaaal buangeeet!


2. LEBIH SAFE.

Peluang wanita berwajah jelek untuk berselingkuh lebih kecil. Kalau jalan-jalan belanja ke mal atawa plaza, tidak akan ada yang suit-suit. Tidak ada yang minta nomor HP, alamat e-mail, Facebook, dan sebagainya. Artis-artis cantik sangat rawan selingkuh, dan wajar saja, karena sejak zaman dulu para pria sangat gila pada wanita cantik.

3. SUAMI TIDUR NYENYAK.

Ada kaitan dengan nomor 2. Ketika suami bekerja di kantor, lembur berjam-jam, dinas di luar kota, si suami tidak cemas. Sebab, istrinya sibuk mengurus anak, rumah tangga, bersih-bersih, umbah-umbah, dan sebagainya. Perempuan rumahan! Jarang ada laki-laki yang nekat berselingkuh dengan istri orang yang jelek wajahnya. Kecuali kalau kepepet.

4. RAJIN BEKERJA

Wanita cantik sangat khawatir kulitnya hitam, terkena matahari, payudara kendor, tangannya tebal, dan sebagainya. Orang cantik rata-rata malas mengepel lantai, bahkan membersihkan kamarnya sendiri. Bahkan, enggan mencuci pakaian dalamnya sendiri. Dan itu wajar kalau dia artis top yang memang mengandalkan wajah dan penampilan sebagai komoditas.

Istri jelek tidak segan-segan bekerja keras. Semua pekerjaan rumah, housekeeping, biasanya ditangani dengan baik. Sangat celaka kalau istri sudah jelek, malas kerja, suka bertingkah pula. Hehehe....

5. LEBIH TAWADU

Lebih menghargai suami sebagai "kepala keluarga". Istilah "kepala keluarga" perlu diberi tanda petik karena akhir-akhir ini sudah mengalami degradasi di Indonesia. Banyak istri--khususnya yang cantik, kaya, terkenal--terang-terangan menolak status suami sebagai "kepala keluarga". Apalagi kalau sang suami kalah pintar, kalah penghasilan, kalah segalanya. Wibawa "kepala keluarga" bakal menjadi nol koma nol sekian.

Menurut Pak Nuh, istri jelek itu (biasanya) lebih manut sama suami. Tidak banyak cakap. Tidak banyak protes. Tawadu. Dia menghayati hidup pernikahan, berkeluarga, sebagai ibadah, dan suami diposisikan sebagai imam. Istri yang tawadu, kata beliau, menempatkan suami sebagai pemimpin (imam) yang harus dihormati.

Tidak mengekspos keburukan rumah tangga di muka umum. Apalagi, mengundang wartawan, jumpa pers yang habis-habisan "menelanjangi" perbuatan-perbuatan suami yang dianggap jelek. Mana ada manusia sempurna? Apakah sang istri yang menyerang suami itu suci adanya?

6. RUMAH TANGGA AWET

Istri yang jelek (rupa) umumnya sangat berkomitmen menjaga keutuhan keluarga sampai maut memisahkan. Tak ada pikiran untuk bercerai. Beda dengan artis cantik yang gampang bercerai karena sudah banyak kumbang yang antre. Bahkan, di INFOTAINMEN ada pasangan suami-istri artis yang masing-masing sudah punya pacar, padahal belum cerai. Wudan tenan!

"Lha, wong sek anyar, kinclong, ae angel payune, opo maneh sing bekas pake?" ujar Pak Nuh yang disambut tawa banyak orang. Ketika masih gadis, perawan, saja (wanita muka jelek) sulit laku, apalagi sudah pernah menjadi suami orang. Hehehe... Maka, sang istri berusaha habis-habisan agar jangan sampai rumah tangga bubar.

7. SAYANG ANAK

Anak-anak lebih disayang, dijaga, dimandikan, dan sebagainya. Dia tidak jijik dengan (maaf) urine atau kotoran sang anak. Kasih sayangnya luar biasa demi merawat dan membesarkan buah hati tercinta. Dia berpikir 17 kali sebelum menitipkan anak-anaknya pada baby sitter atau pembantu. Sehebat-hebatnya baby sitter, dia tak punya kasih sayang sehebat ibu kandung yang melahirkan anak.

Bagaimana dengan wanita pesohor cantik jelita mempesona? Hehehe....

Di INFOTAINMEN, tak sedikit pesohor cantik yang menitipkan anak-anak pada pembantu, baby sitter, bahkan mamanya di kampung. ASI eksklusif? Boro-boro. Artis jelita sangat cemas payudaranya tak indah lagi, kehilangan sensualitas. Bahkan, ada wanita cantik yang mengaku gadis di media massa, padahal sudah punya anak. Oh, Ibu, mana kasih sayangmu?

Istri yang wajahnya biasa-biasa, bahkan jelek, menurut standar penilaian umum, tidak segan-segan mengorbankan karir gemilang demi anak-anak. Buat apa karir hebat kalau anak-anaknya terjerat narkoba, seks bebas, masuk penjara? Sebaliknya, wanita cantik punya 1.001 alasan untuk mengabaikan hak-hak anak.

"Sing penting iku kan kualitas pertemuan sama anak. Kan di rumah ada orang sing ngurusi anaku. Arek-arek saiki gak perlu dimanja, kan wis moderen banget. Lha, kalo aku dikongkon nang omah wae, ya, iso setres," begitu alasan ibu-ibu muda cantik dari kalangan artis.

Di Surabaya, setiap Hari Kartini selalu ada aktivis partai politik tertentu yang turun ke jalan bagi-bagi bunga dan menyerukan pentingnya kaum perempuan memperhatikan anak-anaknya. Berkarier silakan, tapi jangan lupa menjadi ibu buat anak-anakmu sendiri. "Itu anakmu, bukan anaknya pembantu," kata seorang aktivis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memang sangat family oriented.

Begitu sayangnya sama anak-anak, kawan-kawan PKS ini selalu membawa anak-anaknya, termasuk balita, ke acara-acara partai. Termasuk unjuk rasa sosial politik. Pada kampanye lalu, seorang caleg perempuan PKS di Sidoarjo, wilayah tempat tinggal saya, mengusung tema ini.

NOMOR 8, 9, 10?

Sila tuan-tuan dan puan-puan boleh tambah sendiri mana sukalah.

23 April 2009

Anak Tionghoa dan Musik Klasik Barat




GRACE ROZELLA SOETEDJA, lahir di Surabaya 23 Mei 1994. Pada usia 5 tahun sudah menjadi juara II lomba piano di Hongkong. Di usia 9 tahun Grace menerima sertifikat Museum Rekor Indonesia sebagai violinis termuda yang mampu memainkan Concerto for Violin in Bes Major karya WA Mozart dan Concerto for Violin No 3 in G Major bersama orkes simfoni tanpa partitur. Ciamiiik soro!



Hampir setiap pekan ada konser atau resital musik klasik di Surabaya baik itu konser kecil, ujian kenaikan tingkat, solo concert, konser ulang tahun, hingga pemecahan rekor nasional. Dan, yang menarik, para pemusik ini (hampir) 100 persen anak-anak dan remaja Tionghoa.

Kursus piano, les biola, hingga seni suara klasik ibaratnya sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup keluarga Tionghoa di kota-kota besar, khususnya Surabaya. "Sebagai oang tua, kami hanya memberikan dukungan agar anak-anak bisa maju," ujar Gunawan.

Salah satu putri Gunawan, Valerie, tercatat sebagai pemegang rekor Muri dalam bidang seni vokal klasik. Tak hanya pandai membawakan repertoar-repertoar klasik yang berat, Valerie pun fasih memainkan berbagai instrumen musik.

Sejak kapan sebenarnya keluarga Tionghoa memperkenalkan anak-anaknya, termasuk yang balita, pada musik klasik?

Menurut Solomon Tong (70 tahun), dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO), yang juga guru musik klasik, cikal bakal kursus musik klasik, khususnya piano, mulai muncul di Surabaya pada 1950-an. Orang-orang Tionghoa yang kaya kemudian memasukkan anak-anaknya ke sekolah, kursus musik, atau les privat.

Pada 1970-an, ketika Orde Baru berkuasa, minat anak-anak Tionghoa belajar musik klasik semakin besar seiring semakin membaiknya kondisi perekonomian dan politik di dalam negeri. Orang tua merasa kurang sreg kalau anaknya hanya fokus di pelajaran sekolah atau membantu keluarganya berbisnis. Musik klasik sudah dianggap penting.

"Tahun 1980-an tambah banyak. Sekolah-sekolah musik tumbuh di mana-mana. Sehingga, terjadi booming anak-anak Tionghoa yang belajar musik," tutur Solomon Tong dalam sebuah diskusi di kantor SSO, Jalan Gentengkali 15 Surabaya, kepada saya.

Kalau dulu fokusnya hanya pada piano, menurut Tong, pada awal 1980-an anak-anak mulai mempelajari violin alias biola. Tong sendiri menitipkan anak dan keponakannya pada Paul Situpang, guru piano terkemuka saat itu. Sambil belajar biola, kursus piano jalan terus. Selain Paul Situpang, guru-guru piano di Surabaya antara lain Bernardo (warga Filipina), Lie Xian Fai, Welly Liando, Ricky, Alex Tambayong, dan Braga.


Lantas, mengapa keluarga Tionghoa sangat antusias memperkenalkan musik klasik kepada anak-anaknya? Solomon Tong menyebut beberapa alasan.

1. FINANSIAL.

Kursus atau les apa pun, apalagi musik klasik, membutuhkan biaya cukup besar. "Nah, kebetulan orang-orang Tionghoa secara umum cukup mampu secara ekonomi," jelas Tong.

2. KOMUNITAS.

Di mana-mana musik klasik punya segmen penggemar tersendiri yang akhirnya membentuk semacam komunitas. Ketika melihat anak-anak temannya bisa memainkan nomor-nomor klasik, tampil di konser, maka yang lainnya pun tertarik. Komunitas klasik ini sangat solid. Perhatikan semua konser musik klasik, sebagian besar penonton saling mengenal satu sama lain.

"Komunitas itu pula yang menghidupi SSO sejak 1996," kata tokoh yang sejak 1950-an aktif sebagai guru musik klasik itu.

3. KEBUDAYAAN.

Musik klasik sejak dulu diakui sebagai fine art atau "budaya tinggi" dalam peradaban Barat. Pengaruhnya sudah meluas ke dunia internasional. Karena itu, masyarakat modern merasa perlu mendalami atau setidaknya mengapresiasi musik klasik. Apalagi di era globalisasi sekarang. Musik klasik itu ibarat bahasa universal yang perlu dipahami semua orang apa pun latar belakangnya.

"Ketika ekspresi budaya Tionghoa dilarang (selama Orde Baru, Red), maka anak-anak Tionghoa merasa lebih aman belajar musik klasik. Kalau orang Jawa, Batak, Madura, Bugis... mempelajari kesenian tradisionalnya, orang Tionghoa belajar apa? Kesenian Tionghoa gak boleh, ya, larinya ke musik klasik," tukas Tong.

4. KEBUTUHAN ROHANI.

Dibandingkan profesi-profesi lain, menurut Tong, pemusik atau guru musik jauh lebih enjoy meskipun tidak selalu makmur. Dokter yang tiap hari menghadapi orang sakit, insinyur yang berurusan dengan bahan bangunan, misalnya, membutuhkan keseimbangan jiwa dengan musik. "Maka, sebagian besar dokter itu senang musik. Bahkan, waktu kecil mereka ikut les musik klasik. Dan itu sangat penting ketika sudah bekerja."

5. PROSPEK JANGKA PANJANG.

Menurut Tong, orang-orang Tionghoa selalu melihat peluang keuntungan jauh ke depan. Apa manfaatnya jika anak-anak diikutkan dalam kursus piano, biola, cello, dan instrumen lain?

"Orang Tionghoa sadar bahwa abad ke-21 itu abad jasa. Dan musik termasuk salah satu profesi yang bisa ditekuni anaknya di masa depan. Kalau dia nggak bisa kerja, setidaknya kemampuan musik yang pernah dipelajari itu bisa dipakai untuk cari makan," urai Tong.

6. PEMBENTUKAN KARAKTER.

Keluarga-keluarga Tionghoa di Surabaya, ungkap Tong, merasa lebih aman jika anak-anaknya belajar musik klasik. Ini karena selain merangsang kemampuan kognitif, juga membentuk karakter yang santun, rendah hati, menghargai orang lain.

Berdasarkan pengalamannya mendidik ribuan pemusik di Surabaya, Tong melihat bahwa orang-orang yang belajar musik klasik memiliki daya ingat yang tajam dan kemampuan analisis lebih baik.

"Saya yang sudah 70 tahun, misalnya, sampai sekarang masih ingat apa saja yang saya lakukan di Tiongkok 65 tahun lalu. Nama anjing saya apa, saya ingat betul. Hehehehe," kata Tong.

20 April 2009

Paduan Suara Lagu Pop



Di panggung inilah, di Gedung Sutardjo Universitas Jember, Jawa Timur, 1990-an, saya mendalami paduan suara bersama PSM Universitas Jember. Posisi saya biasanya di deret belakang, kanan, bas. Paling kanan biasanya si Andong. Dirigennnya Mas Yudhi, Mas Arif, Vivit (yang cantik, di mana dikau sekarang), atau langsung sama sang pembina, Bapak Suyono. Pianis: Mas Ahmad Yani.

Pada mulanya paduan suara (kor, choir) itu berorientasi pada klasik. Paduan suara identik dengan musik klasik. Bahkan, hampir semua dedengkot musik klasik macam Mozart, Bach, Handel, Mendelssohn juga menulis komposisi paduan suara.

Teman-teman aktivis paduan suara -- entah di kampus, gereja, sekolah, komunitas tertentu -- umumnya merasa belum sreg jika belum membawakan komposisi klasik. Kalau bisa yang sulit-sulit. Belum sreg lagi kalau belum bikin konser bertema klasik.

"Kalau hanya nyanyi lagu nasional, lagu daerah, lagu pop, ya, aba bedanya choir kita dengan choir anak-anak sekolah," kata seorang teman, aktivis paduan suara di Jawa Timur.

"Komposisi klasik itu lebih menantang. Awalnya sulit, bahkan sangat rumit. Tetapi, kalau kita sudah kuasai, kemudian konser, wah, puasnya bukan main," tambah lulusan sebuah perguruan tinggi terkenal di Surabaya ini.

Ada benarnya memang. Tapi, harus diingat, seni paduan suara belum mentradisi di Indonesia. Kor itu tradisi musik klasik Barat. Tangga nadanya saja, harmonisasi, beda dengan tangga nada tradisional Indonesia, India, Vietnam, Tiongkok, Tibet, dan sebagainya.

Maka, kalau kor kita umumnya belum "klasik" ya tidak apa-apa. Anggap saja ini "bahasa Inggris untuk penutur asing". Itu pula alasan mengapa catatan paduan suara yang saya tulis di sini hampir semuanya untuk paduan suara biasa-biasa. Paduan suara pemula. Paduan suara yang landasan musik klasiknya belum kuat, bahkan tidak ada. Gampang-gampang sajalah!

Selain lagu-lagu daerah, lagu-lagu pop [Indonesia, asing khususnya Barat] kerap "dipaduansuarakan" di kampus, sekolah, atau komunitas. Malam Minggu lalu, 18 April 2009, kor ibu-ibu muslim Tionghoa Surabaya membawakan beberapa nomor populer. Paduan suara Jawa Pos juga ngepop.

Kita tidak usah menggunakan standar kor klasik untuk menilai paduan suara ibu-ibu atau paduan suara karyawan. Berlatih di sela-sela kesibukan saja yang menumpuk jelas tidak mudah. Kita harus angkat topi. Jangan bandingkan, misalnya, dengan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan, Bandung, yang sudah sangat profesional dan mendunia.

Sejak kapan lagu-lagu pop dikorkan?

Saya pastikan sudah sangat lama. Sudah sejak seni paduan suara dikenal di Indonesia, khususnya era 1950-an dan 1960-an. Tapi, menurut saya, paduan suara yang ngepop, pop choir, berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan paduan suara mahasiswa (PSM).

Gerakan PSM ini dipelopori Nortier Simanungkalit, yang kita kenal sebagai "bapak paduan suara", pada 1978 dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Kompetisi paduan suara antarmahasiswa mulai tumbuh sejak itu. Dan pada 1980-an PSM menyebar di hampir semua kampus baik negeri dan swasta.

Di sinilah "virus" budaya pop merasuki semua paduan suara kampus dan pelajar di tanah air. Ini memang jalan termudah untuk memperkenalkan paduan suara di kalangan anak-anak muda Indonesia yang memang tidak punya tradisi musik klasik. Maka, jangan heran PSM-PSM itu praktis hanya punya tiga macam komposisi: lagu nasional [sebagian ditulis N Simanungkalit], lagu daerah, dan lagu pop.

Lagu-lagu pop yang memang sudah populer dibuatkan aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas) oleh pelatih atau pembina PSM. Kalau tidak punya home arranger, teman-teman PSM universitas A biasanya minta pada universitas B. Begitulah sebuah partitur SATB beredar dari tangan para aktivis di seluruh Indonesia. Saking seringnya dipakai kertas partitur itu biasanya terlihat lusuh, kumal, sulit terbaca.

Satu partitur difotokopi berkali-kali. "Dulu, mencari partitur yang bagus itu nggak gampang. Sebab, belum ada teknologi komputer untuk menulis notasi. Paling banyak pakai tulisan tangan atau mesin ketik manual. Hehehe," kenang teman saya, Robby, sesama eks aktivis paduan suara mahasiswa.

Masih pada 1990-an PSM Universitas Trisakti Jakarta sangat terkenal sebagai paduan suara yang fokus pada lagu-lagu pop. Kebetulan Trisakti punya Bonar Sihombing, pelatih dan arranger yang berorientasi pop. Bonar mampu meracik lagu-lagu pop menjadi komposisi paduan suara yang rancak. Juga lagu-lagu daerah, tentu saja.

PSM-PSM di Jawa Timur pun mulai mengadopsi komposisi pop dalam festival paduan suara antarperguruan tinggi. PSM Universitas Brawijaya, misalnya, pernah bikin lomba paduan suara dengan lagu wajib BALADA SEJUTA WAJAH (Ian Antono/Theodore KS). Aransemen SATB disiapkan pelatih Universitas Brawijaya. Lagu kedua pop aransemen bebas. Ketiga, lagu daerah, juga aransemen bebas.

Bagi kampus-kampus di kota kecil atau daerah, di mana tradisi musik klasik masih lemah, bahkan susah mencari pianis yang bisa baca partitur not balok, paduan suara lagu pop ini sangat efektif untuk menarik minat mahasiswa-mahasiswa baru untuk ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara.

Di mana-mana kegiatan paduan suara paling banyak diserbu mahasiswa baru ketimbang UKM pencak silat, pecinta alam, keroncong, karawitan, atau menwa misalnya. Salah satu cara ampuh untuk menarik minta adik-adik baru itu, ya, menggunakan repertoar-reprtoar pop, bahkan keroncong atau dangdut. Orang merasa familier, akrab, daripada komposisi klasik yang berat-berat.

Apakah setelah berpop ria lantas sebuah PSM "naik pangkat" dengan menjajal komposisi paduan suara beneran alias klasik? Belum tentu. Hanya PSM-PSM tertentu, yang punya pelatih andal, rekam jejak klasik, macam Universitas Kristen Petra, UGM Jogjakarta, ITS Surabaya, Universitas Indonesia, Universitas Parahiyangan, ITB Bandung, Airlangga Surabaya, yang terkenal dengan klasiknya.

PSM-PSM lain sejak dulu ya hanya berkutat di situ saja. Lagu nasional, lagu darah, lagu pop. Beban kuliah yang berat, tuntutan menyelesaikan studi, nyambi cari uang, membuat aktivis PSM kemudian fokus untuk cepat-cepat selesai kuliah. Urusan paduan suara tergeser ke nomor 47. Siklus ini berjalan terus-menerus dari tahun ke tahun.

Maka, ketika saya mampir melihat latihan adik-adik PSM, suasananya hampir sama dengan ketika saya menjadi aktivis paduan suara di kampus Universitas Jember pada 1990-an. Lagunya -- mengutip ungkapan Pance Pondaag-- "masih seperti yang dulu". Sebut saja:

DOA ANAK NEGERI (Donny Hardono/Prasetyo), BUMIKU INDONESIA (Lilik Sugiarto), TEKAD (Damodoro Nuradyo), PERALIHAN (N. Simanungkalit), WARISAN (N. Simanungkalit), PUING (N. Simanungkalit), RENUNGAN IBU DI HARI TUA (N. Simanungkalit).

INDONESIA JAYA (Chacken M.), KEBYAR-KEBYAR (Gombloh), INDONESIA SUBUR (Muhammad Syafei), TANAH AIRKU (Iskak), TANAH AIRKU (Ibu Sud), KEPADA PAHLAWAN (Cornel Simanjuntak), LEBUR DALAM BAKTI (Trisutji Kamal), RAYUAN PULAU KELAPA (Ismail Marzuki)....

Prof. Fasichul Lisan, Rektor Universitas Airlangga




Ketika Universitas Airlangga (Unair) mengubah statusnya menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN) tiga tahun lalu, muncul banyak pro dan kontra. Rektor Universitas Airangga Prof Dr H Fasichul Lisan Apt pun tak lepas dari sorotan terkait kebijakan itu. Bagaimana Prof Fasich menyikapi gejolak di Unair? Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Prof Fasich kemarin.

Oleh FAISAL PRASTIA
Sumber: Radar Surabaya, 19 April 2009

Bagaimana pendapat Anda mengenai kualitas pendidikan kita saat ini?

Secara umum kita sudah mulai bergerak maju. Tapi, dibandingkan dengan negara yang lebih maju, apa yang dicapai bangsa kita ini rasanya masih jauh. Bukan berarti tidak ada kemajuan lho. Kalau ukuran kasarnya angka partisipasi pendidikan ke perguruan tinggi, ya, sudah sangat tinggi. Dulu masih zaman saya, angka masuk ke perguruan tinggi hanya 15 persen atau 700 ribu orang. Kalau diukur dari waktu ke waktu, bangsa kita ini sudah cukup maju.

Apa masukan Anda agar kualitas pendidikan kita menjadi lebih baik?

Kuantitas lulusan S-1 saja tidak cukup. Perlu upgrading menjadi S-2. Jumlah S-2 sendiri sebenarnya juga masih belum mencukupi. S-3 harus ada spesifikasi dan kekhasan agar mampu menghadapi tantangan global. Jadi, bangsa kita sudah lebih maju, tapi masih kalah dengan bangsa lain. Kita masih berusaha mengejarnya. Sebagai bangsa yang bermartabat, kita harus memajukan bangsa kita.

Bagaimana pendapat Anda tentang polemik BHMN di Unair?

Itu hanya pro dan kontra. Yang harus dipahami bersama adalah apakah perguruan tinggi itu perlu diberi otonomi apa tidak. Menurut saya, perguruan tinggi harus diberi otonomi secara penuh untuk mengelola sumber daya yang ada. Maka, tugas utama pengembangan ilmu itu harus didukung dengan lembaga-lembaga yang otonom.

Pengembangan ilmu adalah pencarian kebenaran. Kalau tidak ada kontrol otonomi di luar universitas, bagaimana mungkin melakukan kontrol kebenaran? Kalau tidak otonom, kontrol kekuatan di luar universitas. Bisa dibayangkan nilai kebenaran yang dikembangkan oleh universitas. Pada zaman otoritarianisme, kebenaran ditafsirkan oleh penguasa.

Kalau kebenaran itu harus mengikuti tafsir penguasa, apa yang akan terjadi?

Ilmu pengetahuan tidak berkembang. Ilmu akan disubordinasikan oleh pejabat atau penguasa. Maka, rusaklah universitas ini. Jadi, menurut saya, otonomi itu sangat diperlukan karena tugas utama universitas adalah pengembangan ilmu. Setiap kita sepakat otonomi keilmuan itu harus ditegakkan dalam penyelenggaraan universitas.

Universitas harus otonom. Anda bisa bayangkan jika keuangan dikendalikan oleh pihak eksternal. Rekrutment ditentukan oleh orang luar. Maka, rekrutment itu tidak didasarkan pada kebutuhan, kompetensi, dan keberlanjutan universitas. Kita bisa bayangkan bagaimana universitas adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan. Biarkan universitas ditentukan oleh masyarakat universitas.
Biar mereka menentukan jati diri, nilai-nilai, tujuan ke depannya.
Jadi, jangan kemudian dikaitkan kalau BHMN SPP-nya naik. Itu barang sepele. Yang harus kita pelajari adalah makna dari otonomi itu sendiri.

Apa saja yang sudah ditempuh Unair agar masuk world class university?

World class university sebenarnya suatu upaya untuk memperoleh kesetaraan dengan universitas-universitas di dunia. Tidak hanya universitas, tetapi produk-produknya juga harus diakui. Misalnya, lulusan kita bisa berkiprah dan mengabdi di negara mana pun.

Dalam masyarakat universitas internasional ada dua ukuran yang kita ikuti, yakni TIMES dan WTO. Dari Geometric, kita sudah masuk 11 besar di Asia Tenggara. Unair masih kalah dengan ITS, tetapi itu bukan alasan untuk tidak bisa meraih yang lebih baik. Kita baru memulai untuk mengintegrasikan seluruh sistem informasi yang kita miliki.

Kalau menurut TIMES, untuk social science, kita meraih 300 besar di dunia. Kemudian, analisis science biomedicine itu masuk 300 besar. Kemudian natural sciences masuk 500 besar. Humaniora juga 500 besar. Jadi, Unair itu lumayanlah sebenarnya. Cuma, pemerintah minta supaya kita tidak jauh dari angka 100 atau 300. Kita ini sudah menyiapkan perbaikan-perbaikan sistem informasi untuk menunjukkan apa yang sedang kita miliki. Jadi, di web kita seluruh dokumen dimasukkan, misalnya penelitian, kerja sama, dan publikasi-publikasi. Jangan mengada-ada.

Apa lagi persiapan konkret Unair?

Kita sudah menyiapkan jurnal-jurnal yang berbasis pada riset. Dana-dana riset baik yang di departemen maupun di universitas harus kita tingkatkan untuk kemajuan sarana prasarananya. Dosen-dosen yang S-1 ditingkatkan minimal S-2. Yang S-2, di-upgrade menjadi S-3. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas. Karena ada korelasi mutu staf dan mutu pendidikan.

Kita juga menyiapkan program universitas yang berbasis kewirausahaan. Kita ingin lulusan Unair mepunyai kapasitas sebagai enterpreneur. Kalau sudah punya modal enterpreurship itu lebih mudah bekerja. Mahasiswa akan dimodali universitas untuk mengembangkan usahanya. (*)


Kalem, Mengalir seperti Air

Fasichul Lisan lahir di Jember 63 tahun lalu. Dia merasakan betul masa-masa sulit negeri ini. Untuk itu, dia menyadari betul arti pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Fasichul cilik kemudian masuk Sekolah Rakyat (SR) Semboro 1, Tanggul, Jember.

Berkat kerja keras dan ketekunannya, dia lulus memuaskan pada 1959. Dia melanjutkan ke SMPN 2 Bagian B Jember dan lulus tiga tahun kemudian. Tamat SMP, dia melanjutkan ke SLTA Negeri Paspal Jember, lulus 1965. Semasa SLTA, Fasichul aktif berorganisasi. Dia tercatat sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia.

Dengan kondisi keluarga yang pas-pasan, Fasichul berjuang keras agar bisa masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah, akhirnya dia diterima di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair). Setelah masuk kuliah, dia selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

"Sejak mahasiswa, saya mengoleksi buku-buku agama, di samping buku-buku kuliah," kata Fasich. Tempaan religius dalam organisasi-organisasi keislaman, termasuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), membuatnya menjadi pribadi yang ikhlas dan mengalir.

Fasich pernah menjabat ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi Unair dan sekretaris Dewan Mahasiswa Unair. Pengalaman sebagai aktivis membuatnya cepat berkembang setelah lulus Fakultas Farmasi pada 1974. Perjalanan karirnya dimulai dengan pangkat Asisten Muda II/B.

Sambil meniti karir, Fasichul Lisan menikahi Mughnijah pada 18 Juli 1975. Pasutri ini dikaruniai dua putra dan dua putri. Pendidikan dan agama sangat ditekankan dalam keluarganya. Tiga putra-putrinya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, sedangkan putri terakhirnya masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Unair.

Dalam menjalani hidup, Prof Fasichul Lisan mempunyai moto "mengalir seperti air". Alasannya: "Hidup itu jangan buat target yang muluk-muluk karena hal itu justru akan menjadi tekanan bagi individu yang bersangkutan."

Di mata rekan-rekan dan sivitas akademika Unair, penyuka nasi pecel ini dikenal sebagai sosok yang kalem, hati-hati, dan penuh pertimbangan. Karena itu, dia sangat berhati-hati sebelum akhirnya mengubah status Unair menjadi PT Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada 2006.

Fasich menjelaskan, otonomi sangat perlu agar perguruan tinggi bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional. Sebab, perguruan tinggi dapat melakukan pemisahan kepemilikan aset dan kemandirian dalam pengelolaan keuangan. "Kita punya bargaining dalam transaksi," katanya.

Dia menjelaskan, tantangan dalam mengelola PT BHMN itu ada empat hal. Yakni kekuatan moral, manajemen, partisipasi masyarakat, dan penyediaan pengetahuan (relevansi). Sedang untuk menjadi otonomi, maka diperlukan empat syarat: budaya (spirit), akuntabilitas, check and balance, dan legalitas status.

"Kita dituntut untuk membangun kepemimpinan universitas dengan semangat korporat, transparan, dan akuntabel, tetapi tetap nonprofit. Jadi, Unair BHMN bukan berarti komersial," tegas Fasich. (*)

Tentang Prof Fasich

Nama : Prof Dr H Fasichul Lisan Apt
 Lahir : 31 Desember 1946
Istri : Mughnijah
Anak : dr. Achmad Chusnu Romdhoni
Dr. Nur Rochmah
Muchammad Yasir ST
Nur Hidayati

PENDIDIKAN

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Institut Teknologi Bandung (Doktor MIPA)

PENGALAMAN ORGANISASI

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi Unair
Anggota Majelis Pekerja Kongres HMI
Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PW Muhammadiyah Jatim (1990-1994)
Kadiv SDM ICMI Jatim (1990-1995)
Ketua Majelis Wilayah KAHMI Jatim (1995-2000)
Ketua PW Muhammadiyah Jatim (2000-sekarang)
Ketua Kelompok Pakar Farmasi Indonesia (2004-sekarang)

KARIR

Pembantu Rektor I Universitas Bangkalan (1987-1990)
Rektor Universitas Bangkalan (1990-1994)
Kepala Lab Biofarmasetika-Farmakokinetika (1990-sekarang)
Sekretaris TPP Apoteker RS Farmasi Unair (1991-1994)
Anggota Dewan Sosial Politik Daerah (1992-1998)
Asisten Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Unair (1994-1998)
Dekan Fakultas Farmasi Unair (1998-2002)
Pembantu Rektor Bidang Akademik Unair (2002-2006)
Rektor Universitas Airlangga (2006-sekarang)

19 April 2009

Carmen Straight dan Buddha's Relic Tour




Orangnya ramah, murah senyum, lekas akrab dengan siapa saja. Bahasa Inggrisnya juga relatif mudah dipahami kita-kita yang bukan penutur asli. Yah, mungkin karena Carmen Straight ini sudah lama hidup dan mengembara di Asia, negara yang penduduknya tidak berbahasa Inggris.

Carmen Straight berada di Surabaya sejak 17 April hingga 20 April 2009 untuk pameran relik-relik suci Buddha di Vihara Buddhayana, Jalan Putat Gede 1 Surabaya. Perempuan asal Kanada ini membawa ratusan relik suci Buddha untuk dipamerkan di Surabaya.

Bukan sekadar pameran biasa, umat Buddha juga melakukan devosi pada sisa-sisa tulang, rambut, dan bagian tubuh lain dari para guru spiritual kaum Buddhis itu. Diiringi musik khas Buddhis yang melodinya diulang-ulang, suasana vihara terasa khidmat. Umat juga membunyikan lonceng kecil.

"Relik itu mengandung energi cinta kasih. Dan kami datang ke Surabaya untuk membagikan cinta kasih dan semangat perdamaian," ujar Carmen Straight. Selama empat hari di Surabaya, Carmen tampak sibuk menjawab pertanyaan pengunjung. Pengalamannya menggelar pameran bertajuk Buddha's Relic Tour ke 48 negara [Indonesia negara ke-48] bikin orang-orang takjub. Termasuk saya.

Syukurlah, di sela-sela kesibukannya, Carmen Straight bersedia menerima saya untuk sebuah wawancara khusus. "Oke. Kita cari tempat duduk di sebelah saja ya. Kebetulan di sana ada minumnya," ujar Carmen Straight dengan ramah.

"Apakah Relic Tour ini untuk menggalang dana pembangunan patung Buddha berukuran besar senilai Rp 250 juta di India? Saya kebetulan membaca informasi ini di internet," kata saya.

"Itu bukan tujuan utama kami," tegas Carmen Straight. Tujuan utamanya, ya, lebih ke spiritual. Mengajak orang-orang Surabaya, khususnya jemaat Buddha, untuk lebih meningkatkan keimanan dan devosinya kepada Tuhan. Selalu berjuang menjadi Buddha.

Hanya saja, menurut Carmen, Relic Tour ini kiranya bisa memberi inspirasi kepada jemaat untuk ikut mendukung rencana pembangunan patung tersebut. Di Bodhgaya, India Utara, juga dibuat kompleks pendidikan untuk anak-anak. Saat ini dana yang sudah terkumpul mencapai separo dari kebutuhan.

"Mudah-mudahan Anda mendapat tambahan dana dari Surabaya," pancing saya.

"Hehehe.... Bagus sekali. Terima kasih," jawab Carmen Straight seraya tertawa kecil.

Menurut dia, pembangunan patung Buddha Maitreya ini diperkirakan membutuhkan waktu lima tahun. Sekarang belum ada pembangunan karena panitia alias pelaksana proyek masih mengurus berbagai keperluan terkait proyek itu. "Doakan saja semoga bisa segera diwujudkan," katanya.

Nah, setelah patung itu jadi, maka ribuan relik yang dipamerkan ke banyak negara sejak 1994 itu akan ditaruh di sana. Menjadi bagian tak terpisahkan dari patung Buddha di situs rohani utama umat Buddha di dunia itu. "Tapi bisa saja dibawa ke tempat-tempat lain kalau memang diperlukan. Ini agar umat Buddha bisa memperoleh energi dan manfaat rohani lainnya."


PENCERAHAN DI CALIFORNIA

Carmen Straight mengaku mulai berkenalan dengan agama Buddha di California, Amerika Serikat, pada 1994. Waktu itu dia mengikuti sebuah acara meditasi yang dipimpin Lama Zopa Rinpoche, rohaniwan Buddha yang sangat terkenal di dunia internasional.


"Saya merasa cocok dengan meditasi serta ajaran-ajaran yang dia sampaikan. Dan sejak itu saya semakin mendalami tradisi-tradisi Buddha," cerita Carmen Straight.

"Bagaimana reaksi keluarga serta teman-teman ketika tahu Anda menjadi Buddha?" tanya saya. (Sebelumnya, Carmen mengaku tidak memeluk satu agama pun. Tapi dia berusaha mempelajari berbagai macam agama yang ada. )

Carmen tertawa kecil. "No problem. Baik-baik saja. Sebab, kami di Kanada itu sudah terbiasa dengan semangat kebebasan. Setiap orang bebas memilih keyakinan tertentu," katanya.

Ketertarikan Carmen Straight juga tak lepas dari pilihannya menjadi vegetarian sejak 1984. Dia merasa lebih nyaman tidak mengonsumsi segala macam makanan hewani. "Badan saya memang tidak bisa menerima daging. Jadi, saya ini sebenarnya sudah jadi Buddha sebelum resmi masuk agama Buddha," katanya.

Carmen, yang punya hobi jalan-jalan alias travelling ini, kemudian berkelana ke India. Dia mendalami kehidupan rohaninya dengan bermeditasi di padepokan milik sang guru, Lama Zopa Rinpoche. Dari situ dia semakin menghayati pentingnya nilai relik-relik suci. "Dan kami ingin agar makin banyak orang yang mendapat energi cinta kasih dari orang-orang suci itu. Misi kami memang pedamaian," tuturnya.

Sejalan dengan hobi travelling-nya, Carmen Straight bersama beberapa staf kemudian mengadakan Buddha's Relic Tour di berbagai negara. Saat ini sudah 48 negara yang didatangi. "Kami ke Indonesia karena ada permintaan dari sini. Sebelumnya, kami tur di Vietnam dan setelah ini kami geser ke Srilanka," tuturnya.

Bagi Carmen Straight dan para penggemar travelling di Kanada umumnya, Indonesia bukanlah negara yang asing. Namun, mereka hanya tahu kalau Indonesia itu ada Pulau Bali yang ekstik, tari-tarian, serta pemandangan alam yang indah.

"Saya sendiri tidak tahu bahwa Indonesia itu negara yang multietnis, multiagama, dengan toleransi yang tinggi. Semua agama bisa hidup berdampingan secara damai. Ini yang bena-benar menarik," tuturnya.

Di kalangan Buddhis internasional sendiri, menurut Carmen, Indonesia nyaris tidak masuk hitungan karena tidak ada guru-guru spiritual yang terkenal. "Padahal, setelah saya datang ke sini, ada banyak guru yang bermutu," pujinya.


ORANG BARAT DAN AGAMA TIMUR

Bagaimana orang-orang Barat yang sekuler itu tertarik pada agama, khususnya spiritualitas Timur, seperti dilakoni Carmen Straight? Apakah ini terkait dengan kekosongan rohani masyarakat modern?


Menjawab pertanyaan saya, Carmen Straight menyinggung "generasi bunga", flower generation, pada 1960-an. Masa ketika The Beatles sangat berjaya. Pentolan band asal Inggris ini ternyata tertarik dengan spiritualitas Timur. Mereka ke India untuk belajar meditasi, mencoba menjalani keutamaan-keutamaan Buddhis.

Dari situlah orang-orang Barat mulai terbuka mata dan hatinya pada agama Buddha. Buddhist Center tumbuh di Barat. Guru-guru spiritual juga didatangkan ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya. "Orang mulai mencoba belajar meditasi. Ada yang merasa cocok, ada yang hanya bertahan sebenatar saja."

Dua dasawarsa kemudian, 1980-an, gelombang spiritualitas Timur yang dirintis para "generasi bunga" mulai surut. Meditasi dan latihan-latihan rohani masih ada, tapi tidak semarak 1960-an dan 1970-an. "Ini juga karena guru-guru yang datang ke Barat cenderung kurang qualified," papar Carmen Straight.

Perjalanan rohani itu ibarat siklus yang naik turun. Pada 1990-an ada gelombang baru kebangkitan agama-agama. Pusat-pusat Buddhis di Barat tumbuh lagi. Kali ini dengan pembimbing atau guru yang mumpuni. Nah, Carmen Straight ikut meditasi di California, Amerika Serikat, bersama sejumlah kawannya. Generasi ini seolah menemukan pilihan baru di tengah kehidupan yang makin materialistis, keras, dan penuh persaingan.

"Orang Barat itu tahunya kerja, kerja, kerja. Sementara ada ruang spiritual yang kosong. Dan itu yang perlu diisi dengan meditasi, doa, dan sebagainya," jelas Carmen Straight. Ini semua pilihan pribadi, sehingga Carmen mengaku tak punya pretensi untuk "mengagamakan" rekan-rekannya di Kanada sana.

"Anda akan membuka Pusat Buddha di Kanada? Atau, barangkali menjadi pemimpin spiritual Buddha yang berlatar belakang Barat?" tanya saya.

"Hehehe.... Tidak mudah membuka Pusat Buddha di Kanada atau Amerika Serikat. Ada banyak persyaratan yang harus diperhatikan, khususnya kualitas sang pemimpin. Dan saya belum memenuhi persyaratan itu. Hehehe..."

"Sekarang mungkin belum, tapi 10 tahun mendatang? Siapa tahu?"

"Hehehe...."

Wawancara makin asyik saja. Carmen Straight yang baru saya kenal 40-an menit lalu kini sudah seperti teman lama. Tiba-tiba pengurus Vihara Buddhayana memberi tahu Carmen Straight bahwa jadwal ceramahnya tinggal beberapa menit lagi.

"Baiklah. Ini pertanyaan terakhir. Apa pesan Anda untuk generasi muda di Surabaya yang makin lama makin berkiblat ke Barat, bergaya hidup modern, menikmati segala fasilitas modern?"

Carmen Straight yang sudah melanglang ke puluhan negara mengatakan, gaya hidup Barat memang diadopsi anak-anak muda di mana-mana. Orang berusaha mencari kebahagiaan ke mana-mana, ke tempat hiburan, materi, dan sebagainya.

"Tapi itu bukan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati itu justru ada di sini," ujar Carmen Straight seraya menepuk dadanya.

"Carmen Straight, terima kasih!"

Dalam perjalanan pulang, saya mengingat-ingat kata-kata bijak Carmen Straight--yang sebetulnya sudah sering kita dengar:

KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM HATIMU.

18 April 2009

Tambak di Sidoarjo Terancam



Di sini tambak, di sana tambak. Itulah Sidoarjo.

Sebagai kabupaten yang berada di muara sungai, delta, sejak dulu Sidoarjo memang kaya tambak. Maka simbol kabupaten ini: udang dan bandeng. Dua satwa khas tambak.

Udang organik Sidoarjo sudah lama diekspor ke negara-negara Eropa. Meskipun produksinya sempat terganggu gara-gara serangan virus, sampai sekarang Sidoarjo merupakan penyumbang ekspor udang terbesar ketiga dari Jawa Timur setelah Banyuwangi dan Gresik.

Anda bepergian dengan pesawat terbang lewat Bandara Juanda? Nah, bandar udara internasional itu terletak di Sedati, Kabupaten Sidoarjo, yang juga kawasan tambak. Tak jauh dari Bandara Juanda terhampar ribuan hektare tambak.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Sidoarjo menyebutkan, Kecamatan Sedati (sekitar wilayah Bandara Juanda) ada 4.100 hektare lahan tambak. Petani tambak juga membuka usaha pemancingan ikan di Sedati. Setiap akhir pekan ratusan orang memanfaatkan waktu luang dengan memancing di berbagai tambak Sedati.

"Udang dan bandeng itu ikon Kabupaten Sidoarjo. Sehingga, kita punya lahan tambak yang sangat luas. Total 15.530 hektare," demikian data yang dirilis Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sidoarjo Muhammad Sholeh pada Maret 2008.

Kabupaten Sidoarjo, yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Pasuruan punya 18 kecamatan. Dari 18 kecamatan ini, ada 8 kecamatan yang punya lahan tambak karena memang dekat muara sungai. Tambak terluas ada di Kecamatan Sedati dan Kecamatan Jabon, masing-masing 4.000 hektare lebih.

Rincian tambak di Kabupaten Sidoarjo sebagai berikut:

1. Kecamatan Waru 402 hektare.
2. Kecamatan Sedati 4.100 hektare.
3. Kecamatan Buduran .731 hektare.
4. Kecamatan Sidoarjo 3.128 hektare.

5. Kecamatan Tanggulangin 497 hektare.
6. Kecamatan Candi 1.032 hektare.
7. Kecamatan Porong 496 hektare.
8. Kecamatan Jabon 4.144 hektare.

Menurut Muhammad Sholeh, produksi tambak pada 2007 mencapai 22.296 ton, terdiri dari udang windu 3.515 ton, bandeng 15.537 ton, udang putih 108 ton, udang campur 1.782 ton. Sisanya berupa tawes, nila, dan lain-lain mencapai 1.354 ton.

"Komoditas unggulan tetap udang windu dan bandeng. Udang windu setahun tiga kali panen, sedangkan bandeng setahun satu sampai dua kali panen," papar Sholeh.

Bagaimana dengan dampak lumpur Lapindo?

Tentu saja sangat terasa di Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Sebab, semburan lumpur dari Sumur Banjarpanji 1 milik Lapindo Brantas Inc itu melalui tiga kecamatan ini. "Tambak di Porong dan Jabon, sekitar 4.600 hektare, sudah menurun karena terkena lumpur Lapindo," kata Sholeh.

Sidoarjo itu sangat strategis. Sejak 1980-an kabupaten penyangga Kota Surabaya ini diincar kalangan investor. Ribuan hektar lahan diubah menjadi perumahan dan perkantoran. Dan laju konversi lahan, termasuk lahan tambak, akan jalan terus ketika pengusaha berusaha memperluas bisnisnya.

Agus Susanto, aktivis Masyarakat Peduli Tata Ruang Kabupaten Sidoarjo, belum lama ini mengadakan penelitian tentang kondisi tambak di Sidoarjo. "Mengerikan," kata insinyur lulusan Filipina ini kepada saya.

Di Pepe, Kecamatan Sedati, menurut Agus, terjadi pemanfaatan lahan tambak secara tak terkontrol. Perumahan-perumahan baru dibangun tanpa kontrol. "Terjadi tumpang tindih antara lahan pertambakan dan perumahan," tegasnya.

Alih fungsi kawasan pesisir juga terjadi di Waru dan Sedati. Padahal, ada dua fasilitas vital di sini, yakni Bandara Juanda dan Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut (Lanudal).

Kawasan Bandara Juanda dilewati Sungai Bulubenda. Jarak garis pantai dengan Bandara Juanda hanya kira-kira 1,5 kilometer. Desa terdekat Bandara Juanda adalah Gisikcemandi yang dikenal sebagai daerah rob.

"Jarak desa dengan bandara hanya 400-an meter. Maka, bukan tidak mungkin Bandara Juanda tenggelam kalau terjadi alih fungsi lahan di tambak sekitar Bandara Juanda," tegas Agus Susanto.

KREDIT FOTO: Soegiarto, Jakarta Photo Club.

16 April 2009

SBY di Atas Angin




Perolehan suara Partai Demokrat melonjak dari 7,5% menjadi 21%, berdasar data hitung cepat beberapa lembaga survei. Naik 200%. Sangat fenomenal.

Hasil pemilihan umum ini dibaca berbagai kalangan bahwa "sebagian besar rakyat" menginginkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden lagi. Siapa pun pasangannya, mau Jusuf Kalla, Hidayat Nur Wahid, Sri Sultan Hamengkubuwono IX..., SBY pasti memang.

"SBY itu biarpun berpasangan dengan kucing so pasti menang. SBY seng ada lawan," kata beta punya teman, si Patty.

Dia ini orang Saparua, Maluku, pendukung berat SBY. Mati hidup ikut SBY meski namanya tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT). Dan tidak dapat BLT karena dianggap bukan orang miskin. Tapi utangnya cukup banyak karena penghasilan pas-pasan.

Saking hebatnya SBY dan Partai Demokrat, kata si Patty, siapa pun calegnya, pemilu legislatif pasti dimenangi Demokrat. Termasuk jika Partai Demokrat memasukkan nama-nama kucing sebagai caleg.

"Orang tidak lihat caleg, Bung! Orang tidak peduli kucing jadi caleg, insyaallah, contreng Partai Demokrat," ujar si Patty yang ucapan "insyaallah"-nya tidak fasih. Hehehe... Bung satu ini kok suka kucing ya! "Beta suka piara kucing di rumah, Bung!" aku si Patty.

Kalau berpasangan dengan kucing saja, SBY sudah menang 60-70 persen dalam pemilihan presiden mendatang, apakah masih ada orang yang mau menantang SBY? Jangan-jangan SBY calon tunggal. Buat apa capek-capek ikut pilpres, habiskan uang triliunan rupiah untuk kampanye, bayar ini itu, kalau SBY sudah dijamin menang?

Apakah Megawati Soekarnoputri masih mau menjajal kembali SBY? Apa tidak takut kalah lagi seperti pada pilpres 2004?

"Kasihan Ibu Megawati. Dia tidak bisa revans sama SBY yang sekarang makin kuat," kata teman saya itu.

Daripada kalah lagi, kemudian tidak baku omong selama bertahun-tahun, si Patty mengusulkan agar Megawati tidak maju lagi. Cari calon yang lain? "Wah, tambah kalah. SBY itu beta sudah kasih tahu: berpasangan sama kucing saja sudah menang. Hehehe," kata si Patty.

Kasihan memang Megawati bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai ini akan terus menjadi pecundang, barisan orang kalah, dan nyaris mustahil meraih kekuasaan kembali. Cukup jadi oposisi saja. Berdiri di luar pagar.

Tapi, di sisi lain, kita bersyukur ada Megawati dan PDIP yang konsisten beroposisi. Berpolitik dengan prinsip yang sangat kuat. Beda banget dengan Golkar yang, mengutip Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung, berpolitik dengan dua muka. Menurut saya, Golkar bukan hanya dua muka, tapi dasa muka: 10 muka.

Hari ini gembar-gembor mengusung calon presiden sendiri, minggu depan ganti pikiran. Hari ini Jusuf Kalla menantang SBY, "lebih cepat, lebih baik", kini Jusuf Kalla cepat-cepat merapat lagi dengan SBY: agar tetap jadi wakil presiden. Saya yakin rakyat benar-benar muak melihat silat lidah politisi Golkar di televisi.

"Golkar itu memang terkenal paling licin dan licik di Indonesia. Licinnya bukan lagi kayak belut, tapi belut yang sudah diolesi oli," kata si Patty, teman saya.

"Kalau SBY sama kucing saja sudah pasti menang, kenapa harus berpasangan lagi dengan Jusuf Kalla dan Golkar yang plintat-plintut?" pancing saya.

"Ah, itu sudah!"

KREDIT FOTO:
http://www.presidensby.info/imageBeritafotoD.php/447.jpg

15 April 2009

Misa Malam Paskah di Katedral Surabaya




Malam Paskah tahun ini (11/4/2009) saya "terpaksa" ikut misa tengah malam di Gereja Katedral (Hati Kudus Yesus) Surabaya. Di gereja sendiri, Paroki Paulus, Jalan Raya Juanda Sidoarjo, misa terlalu sore, pukul 18.00. Sementara saya harus kerja malam hari.

Misa kedua di Katedral digelar tepat pukul 22:00 WIB. Jam yang pas untuk pekerja malam macam saya. "Engkau belum terlambat. Masih ada waktu 10 menit," ujar Ansfridus, pentolan Pemuda Katolik, asal Bajawa.

Malam itu Bung Anfridus bersama teman-temannya jadi penjaga keamanan. Misa tidak seramai gelombang pertama, pukul 18:00 WIB. Maklum, bubarnya mendekati pukul 01.00, sehingga memang sejak dulu jarang diambil umat, kecuali yang kepepet macam saya.

Diawali upacara cahaya, misa dipimpin Romo Damar Cahyadi, didampingi dua romo lain: Romo Eddy Laksito alias Romo Nanglek serta Romo Kuncoto Yekti alias Romo Cuncun. Romo-romo muda di Surabaya, entah kenapa, sejak dulu selalu pakai "alias". Nama asli dan nama alias berbeda jauh. Umat lebih kenal nama alias ketimbang nama sebenarnya.

Jika engkau datang ke Gereja Katedral dan bertanya: "Apakah ada Romo Petrus Kanisius Eddy Laksito?", saya pastikan banyak umat bingung. Tapi, sebaliknya, "Apakah Romo Nanglek ada?" Dia akan segera menunjuk pastor yang berewoknya tebal.

Malam itu Romo Nanglek menyanyikan pujian Paskah, exultet. Rupanya, vikjen Keuskupan Surabaya dan mantan pembina Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Surabaya ini sudah latihan cukup. Sehingga, nada-nadanya pas, tidak salah. Kita bisa menikmati upacara lilin Paskah dengan meriah dan asyik.

Romo Cuncun, yang paling muda tapi cerdas, kebagian membacakan doa-doa sebelum bacaan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Cuncun juga kebagian tugas berkhotbah. Saya baru pertama kali ini mendengar khotbah Romo Cuncun. Tenang, santai, tidak meledak-ledak, tapi berbobot.

Pantas saja, sejak frater, Cuncun ini sudah "dijagokan" bakal menjadi pastor yang berpengaruh di Keuskupan Surabaya. "Cuncun itu juga kuat di aksi. Gak pinter ngomong thok," ujar seorang kawan, bekas aktivis PMKRI.

Paduan Suara SMAK Santa Maria menunjukkan kelasnya sebagai salah satu paduan suara terbaik di Surabaya. Mereka tak hanya membawakan lagu-lagu sederhana di buku PUJI SYUKUR, tapi juga berani memilih repertoar sulit. Benar, kata para pakar musik liturgi, paduan suara yang baik sangat mendukung kualitas liturgi.

Katedral Surabaya harus bersyukur punya banyak paduan suara hebat, khususnya sekolahan maupun kategorial. Selain SMAK Santa Maria, ada Paduan Suara SMAK Sint Louis I yang dikenal sebagai langganan juara lomba paduan suara tingkat nasional.

Misa vigili Paskah di mana-mana memang panjang, tapi tidak membosankan. Liturginya bervariasi sehingga umat Katolik merasa rugi kalau tidak ikut. Maka, tidak afdal rasanya jika kita tidak menikmati kor Hallelujah (GF Handel) sebagai lagu penutup misa. Kor SMAK Santa Maria bernyanyi dengan penuh semangat.

Di Inggris, komposisi ini harus dinikmati sambil berdiri. Sikap sempurna memuji dan memuliakan Tuhan. Hallelujah = pujilah Tuhan! Sayang sekali, malam itu jemaat memilih bubar satu per satu, bersalaman, atau ngobrol besama rekannya karena liturgi inti memang sudah selesai. Pastor pun sudah kembali ke sakristi.

Begitulah orang Indonesia, tidak terkecuali jemaat Katolik di gereja paling terkenal di Jawa Timur. Kesadaran untuk menghargai musik klasik, paduan suara, adik-adik SMAK Santa Maria yang sudah capek-capek berlatih, masih sangat kurang.

Mau bilang apa lagi, Bung? Okelah. Selamat Paskah. Semoga kita semua ikut bangkit, lebih semangat dan lebih beriman. Haleluya!!!!

11 April 2009

Album Batak Victor Hutabarat




Tahu kalau saya suka lagu-lagu Batak (Tapanuli) dan Victor Hutabarat, Harlem Napitupulu, lawyer terkenal di Surabaya, kasih saya album bertajuk DI JOU AHU MULAK. Kumpulan sembilan lagu Batak populer yang dinyanyikan oleh Victor Hutabarat.

Terima kasih, Bang Harlem! Horas mejua-jua!

Harus diakui bahwa saudara-saudara kita dari Tapanuli ini dikaruniai suara bagus. Anatomi alat produksi suara bagus. Ditambah pemahaman akan teknik vokal yang juga hebat membuat penyanyi-penyanyi Batak punya kelas. Suara mereka yang bening dan tinggi, alamak, sulit ditiru siapa pun yang bukan Batak.

Selain Victor Hutabarat, sebut saja Benny Panjaitan, Eddy Silitonga, Berlian Hutauruk, Bornok Hutauruk, Diana Nasution. Rinto Harahap juga Tapanuli, tapi kualitas vokalnya biasa-biasa sajalah.

"Bung, Eddy Silitonga punya suara tu.. ah, kitorang mo tiru juga susah ka. Itu suara Tuhan Allah yang kasih dia. Kitorang latihan nyanyi dua taun juga tidak akan bisa," kata Silvanus, orang Papua yang tinggal di Surabaya, suatu ketika.

Nama Victor Hutabarat punya tempat tersendiri di Flores, Nusatenggara Timur. Sejak 1980-an Victor populer sekali dengan lagu-lagu rohani Kristen. Lagu hitnya macam KABULKANLAH (ciptaan Wahyu OS), KARUNIA (Wahyu OS), KU TAK MAMPU MEMAHAMI, TUHAN DENGAR JERIT ANAKMU... dihafal anak-anak muda Flores tahun 1980-an dan 1990-an.

Lagu rohani yang saya hafal di luar kepala, ya, punyanya Victor Hutabarat. Sementara lagu-lagu rohani ala karismatik yang booming belakangan ini satu pun tak. Contoh lagu Victor Hutabarat yang saya hafal:

"Tuhan luruskan jalan yang ia lalui
Jauhkanlah dari segala godaan ini
Teguhkanlah iman di hatinya

Hanyalah pada-Mu Tuhan ku slalu mengadu
Akankah engkau mengabulkan doaku ini
Tuhan tolong teguhkan imannya...."


Victor Hutabarat makin dapat tempat di Flores, pulau yang mayoritas penduduknya Katolik, setelah merilis album rohani lagu-lagu PUJI SYUKUR. PUJI SYUKUR itu buku nyanyian resmi Gereja Katolik Indonesia. Saya paling senang mendengar Bang Victor membawakan SYUKUR KEPADAMU TUHAN dan AVE MARIA.

Kemudian Victor Hutabarat diajak pastor-pastor Redemptoris di Pulau Sumba, masih di Nuatenggara Timur, untuk membuat album lagu-lagu Bunda Maria. Makin dekatlah Victor Hutabarat dengan orang NTT. Maka, dia kerap diundang ke NTT kalau ada acara-acara gereja maupun pemerintahan.

Horas!

Kembali ke album DI JOU AHU MULAK. Victor Hutabarat bekerja sama dengan Ricky Pangkerego dan Iwan Pribadi sebagai penata musik. Penata kor oleh Meyer Hutabarat (almarhum) yang tak lain kakak kandung Victor Hutabarat.

"Bang Meyer itu guru vokal saya dan arranger vokal di hampi semua album saya. Jadi, album Batak ini saya persembahkan secara khusus untuk Bang Meyer," kata Victor Hutabarat yang bersuara tenor ini.

Victor memilih lagu-lagu karya dua maestro Tapanuli: Nahum Situmorang dan S. Dis Sitompul. Dua nama ini sudah menjadi jaminan mutu kalau bicara komposisi musik Tapanuli. Nahum Situmorang boleh jadi penulis lagu Tapanuli paling produktif dan paling legendaris yang pernah ada.

Saya sendiri, yang bukan Batak, sehingga tidak paham syair lagu-lagunya, bisa merasakan kedahsyatan lagu-lagunya. Jika ada lomba paduan suara di kampus atau gereja, misalnya, teman-teman selalu minta disertakan lagu Batak. Dan setelah "diusut" ke sana ke mari, eh, ternyata komposernya Nahum Situmorang atau S. Dis Sitompul.

Horas mejua-jua!

ALBUM "DI JOU AHU MULAK"
Vokal: Victor Hutabarat
Musik: Ricky Pangkerego, Iwan Pribadi, Posther Sihotang, Eman Saleh
Produser: Sunan Hutabarat

Daftar Lagu
1. Sigulempong (S. Dis)
2. Di Jou Ahu Mulak (Nahum Situmorang)
3. Utte Malau (Nahum Situmorang)
4. Sitogol (Nahum Situmorang)
5. Emani Simbolon (S. Dis)

6. Manipi (Nahum Situmorang)
7. Morombus-ombus Do (Nahum Situmorang)
8. Sega Namahu (Nahum Situmorang)
9. Rura Silindung (Nahum Situmorang).


Lagu favorit saya: SITOGOL (by Nahum Situmorang)

Adong endengku na jeges dabo
Hu oban ingon mandailing godang do
Jeges loguna batoan mo mo
Sitogol goarna sitogol dabo

Beamalakna loguna dabo
Sarupo doi tuonang-onang do
Hati hamargembira bope marsakho
Mar sitogol-sitogol sitogol dabo

REFREIN
Tingon mandailing godangdo
Asal mulani sitogol do
Marsak bope margambira ho
Mar sitogol-sitogol sitogol dabu

Sitogol Sitogol... Sitogol Sitogol
Sitogol Sitogol... Sitogol dabo
Sitogol Sitogol... Sitogol Sitogol
Sitogol Sitogol... Sitogol dabo

10 April 2009

Situ Gintung Njaluk Tulung



Cacahe korban tiwas akibat musibah jebole tanggul Situ Gintung ing Kelurahan Cirendeu, Ciputat, Tangerang, meh satus. Situ utawa tlaga iku jebol Jumat (27/3/2009) parak esuk.

"Korbane udakara ana wong 98," kandhane Yudi, petugas posko. Dene cacahe sing ilang isih durung gumathok. Ana sing kandha 112, uga ana sing ngitung wong 100. Saliyane kurban tiwas, posko uga nyathet ana 37 korban dirawat lan kurban cidera wong 45.

Wadhuk iki dibangun nalika jaman Landa. Situ iki sejatine mujudake saluang irigasi. Sawise merdeka saluran iku fungsine owah dadi wadhuk konservasi wisata.

Meh kabeh jinis hiburan ing kono ana. Dolane bocah-bocah cilik uga ana, water boom, banane boat kanggo ngubeng tlaga, prau layar lan sakehing pelengkapan hiburan liyane sumadhiya ing kana.

Situ Gintung pulo kang manggon ing tengah situ ambane 21 hektar [biyen asale 31 hektar], uga dadi pangonan wisata liyane. Cekake, Situ Gintung wis dadi papan wisata.

Situ Gintung mujudake tlaga gaweyane Landa. Manut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio, Situ Gintung dibangun pemerintah kolonial Belanda taun 1932-1933. Dadi, umure wis76 taun.

Ing kana uga dibangun celah kang disebut pelimpah ambane limang meter. Uga dibangun pintu air cilik kanggo irigasi. Nanging, pintu air iku saiki wis ora ana maneh jalaran lahan-lahan pertanian ing sakiwa tengene kono saiki wis wah dadi perumahan.

Wiwit mula pembangunane, 76 taun kepungkur, tanggul iki ora nate diplengseng. Tanggul iku tetep saka lemah.

Situ Gintung mujudake salah siji saka 160 luwih situ ing wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, lan Bekasi. Jembare Situ Gintung uga wis suda. Manut cathetane Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi, tlga iki jembare nate 70 hektar.

Nalika nembe dibangun dhek 1932, Situ Gintung ambane 31 hektar. Nanging, jalaran saya cethek, jembarane saya suda engga kari 21,4 hektar, kanthi nampung banyu kehe 2,1 yuta meter kubik.

KREDIT FOTO: http://www.republika.co.id/uploads/TV/images/cov_situ_gintung_1_OK.jpg

09 April 2009

Pemilu 2009 Go Sontreng Hala




Kamis 9 April 2009.

Ana bai wekekae te Indonesia rame-rame rai TPS contreng pemilihan umum (pemilu). Nolo tuhuk gambar partai, coblos, pi naranen CONTRENG. Koda Lamaholoten: Sontreng

Teti Lewotana (Flores Timur nong Lembata) sontreng gate ro tanggal 14 April 2009 karena Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah, Minggu Paskah. Pekan suci nepi ana bai sembahyang, misa belen, dore Semana Santa.

Ina ama, ana bai, sekolah hala, peheng spidol bisa hala nega nai? Go koi hala. Nolo teti lewo maring meri TUHUK BAO: pile gambar tukan. Pile gambar wanan jadi hala, mekin partai ata watanen.

Pemilu 2009 partai aya-aya, pulu telo nong buto. "Aya koing," Waipukang alawen maring.

Ina ama, kaka ari, mo pile partai aku, caleg heku? Pikir mela-mela, seba ana bai lewon, tite bisa persaya. Daripada mio pile ata diken sembarangen.

Pas Pemilu pe hulemen go hogo purek. Wia rema g lile televisi, gelaha bal Liverpool nong Chelsea, Chelsea menang 3-1. Go onek senang karena go memang suka Chelsea nong pelatih naen Guus Hidink. Chelsea gelaha te Liverpool langun, Anfield, ro ra sot hala.

Puken aku go sontreng hala?

1. Go naranek masuk daftar pemilih tetap (DPT) hala. Pengurus RT pi Gedangan, Sidoarjo, daftar kame pendatang hala. Ra anggap pendatang nepe conteng te lewuna masing-masing.

Bobi Jakarta alawen, Anton Jombang, Said Madiun, Roso Malang, Wiwin Blitar... di contreng hala. Padahal, kantor/pabrik raen libur leron pat: Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. "Malas ah, nama gue kagak masuk daftar. Ya udah, gak usah ikut," Bobi, ata ana Jakarta maring.

2. Go persaya politisi hala.
Politisi nepe nopena waun-waun. Leron wekekae politisi open tite. Koda kiring aya-aya, kampanye, janji-janji... nepe kolong poho.

3. Partai politik aya ayaka.
Partai puluh telo nong buto nepe aya ayaka. Nolo jaman Pak Harto partai telo hena, pi leron 38. Politisi tula partai rang aku? Ra open tite, rakyat Indonesia.

4. Caleg di aya ayaka.
Heloka teti lolon karena partai puluh telo nong buto. Ra gelaha pemilu nepe tujuan naen jelas hala. Ra seba kerejan. Heku ti peten tite rae lewo. Laran teti lewo, Lembata, medo-medo, listrik di nepa kaen, pembangunan take, tite melarat, seba kerejan lau Malaysia, malu mara.

Pemilu nepe tujuan naen aku?

Seba kerejan susah, tekan tenu susa, barang-barang welin, hope aku-aku bisa hala. Susah tudak kalo tite persaya politisi-politisi, partai-partai medon nepi.

Politisi doita aya-aya, miliaran, tite rakyat pe rae Lewotana susa tudak tekan wata nong toto sia. Pemilu tepi mulai tun 1955. Pak Harto Orde Baru tula pemilu "tuhuk bao" tun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, nong 1997.

Pemilu reformasi tun 1999, 2004, 2009. Moan pulo kae.

Hasil pemilu moan pulo kae nepe aku?

KREDIT FOTO: AFP/Romeo Gacad

08 April 2009

Kecanduan Internet: Facebook, Blog, Chatting




Internet itu ibarat candu: bikin orang ketagihan. Sehari tidak masuk ke dunia maya ini, wah, dunia bagai kiamat. Persis perokok berat yang dipaksa tidak merokok.

Adiksi internet sebetulnya sudah lama dibahas ketika jaringan global ini semakin massal pada 2000-an di Indonesia. Maklum, orang Indonesia kebanyakan suka situs-situs hiburan, games, dan chatting yang memang asyik.

Di Surabaya, misalnya, tak sedikit orang yang menghabiskan waktu berjam-jam di warung internet untuk menikmati situs porno, film biru, dan chatting. Pengelola internet sangat paham tabiat pelanggan kita. Maka, mereka pun menyiapkan folder khusus berisi film-film panas. Bisa diakses 24 jam.

Polisi bolak-balik menggerebek warnet macam ini, tapi ya sulit dihilangkan sama sekali. HIKMAH: Selama laki-laki masih suka melihat perempuan telanjang, suka nonton film porno, maka situs porno mustahil dibasmi.

"Sehari saja gak internetan kepala bisa pecah. Internet itu sumber informasi, pengetahuan, dan hiburan paling murah," kata Eva, 21 tahun, kepada saya.

Gadis Sidoarjo ini paling suka chatting. Temannya buanyaak banget. Dia sampai hafal karakter cowok-cowok penebar rayuan maut di internet. Eva juga bisa menebak usia lawan bicara di chat room dari beberapa kalimat saja. "Pokoknya, banyak pemalsuan umur di internet. Hehehe," katanya.

Eva ini korban chatting. Dia pernah janjian kopi darat dengan teman chatting asal Tanjungperak, Surabaya, di sebuah kafe. Si cowok menyebut ciri-cirinya, pakai baju warna apa, duduk di posisi mana. Selanjutnya, mereka saling ber-SMS. Eva sendiri sengaja menyamarkan identitasnya.

"Waduh, saya langsung kabur sebelum masuk kafe," cerita gadis manis ini.

"Kenapa?"

"Orangnya ternyata kayak om-omo, gak cocok sama data di internet. Bahaya kalau kopi darat. Hehehe," kata Eva yang paling sedikit main internet delapan jam sehari. "Aku kan kerja di internet."

Akhir-akhir ini isu kecanduan internet makin relevan ketika situs pertemanan Facebook makin populer. Di mana-mana orang bicara Facebook. Di kantor, kafe, warung, sekolah, kampus, bahkan di pegunungan kayak Trawas atau Pacet.

"Sudah punya Facebook belum? Asyik lho Facebook itu," ujar banyak teman. Media massa membahas panjang lebar demam Facebook di Indonesia.

Tabloid KONTAN edisi Minggu I April 2009 menjadikan Facebook sebagai bahasan utama. "Demam Facebook: Madu atau Racun?" begitu judul sampul KONTAN. Ada foto seorang nona manis yang keranjingan Facebook.

Di Jakarta, menurut KONTAN, banyak kantor swasta dan pemerintah yang memblokade situs Facebook gara-gara pegawainya kecanduan Facebook. Begitu buka komputer, lama pertama yang dipantau adalah Facebook. Fasilitas kantor dipakai untuk bersosialisasi di jagat maya.

Alokasi waktu dan pikiran untuk kerja pun tergerus demi Facebook. Tak hanya itu. Fasilitas ponsel dan laptop sekarang memungkinkan orang-orang kota untuk menikmati Facebook puluhan kali sehari.
"Kecanduan Facebook itu lebih parah ketimbang chatting," kata si Eva lagi. "Tapi manfaatnya lebih banyak. Semua itu kembali ke diri kita sendiri. Teknologi itu pada dasarnya netral."

Bagaimana pula dengan lama atau website pribadi macam blog, entah di Blogspot, Wordpress, Blogdrive, Friendster, Multiply... dan sejenisnya? Apakah laman-laman ini juga membuat kita kecanduan?

Sebagai blogger, saya harus mengatakan secara jujur bahwa blog itu punya efek adiksi. Kecanduan. Setelah punya blog, saya selalu "dipaksa" untuk melihat-lihat blog sendiri setiap hari.

Pengunjungnya berapa orang? Ada komentar baru? Isi komentar netral, sensitif, menyerang orang atau golongan lain? Posting mana yang paling banyak di-googling pengguna internet?

Ada lagi satu kecanduan yang menimpa para blogger. Yakni, kita "dipaksa" untuk selalu menulis artikel agar selalu ada posting-posting baru. Para blogger itu mengidap penyakit "kecanduan menulis" baik itu tulisan serius, santai, atau sekadar memajang foto-foto sendiri di blog.

Apa pun yang namanya kecanduan, adiksi, itu tidak baik. Tapi kalau kecanduan menulis, menurut saya, baik-baik saja. Jurnalis radio terkenal di Surabaya, Bapak Errol Jonathans dari Radio Surabaya, bahkan selalu menganjurkan anak-anak muda, mahasiswa, untuk membuat blog sendiri.

Hanya dengan begitu anak-anak muda punya kecanduan menulis. "Menulis apa saja. Kalau punya blog, setiap saat Anda bisa memasukkan artikel Anda sendiri. Kalau hanya mengandalkan media-media umum, sulit diprediksi kapan artikel kalian bakal dimuat," ujar Pak Errol.

Kitorang kecanduan blog masih lebih baik daripada kecanduan situs porno to? Yah, itu sudah, Bung!

Ata Kiwang Nuha Waibalun




Sumber: Reu Tukan, http://nuhawaibalun.blogspot.com/

Leron hae tobo miat jaha
tite marin rae, rae ille kolan ata kiwan

Leron tau goe tobo tutu ne kaka arin kame yang pensiun kae jadi guru rae ille kolan
Nae marin goe ni " goe bodot hae kalo goe ajar rae sain bisa kalo rae bisa kae goe opol akal rae bisa hala kae ka"

Goe pikiran tenuae guru nolon atek maen hamun ternyata pake hala sama sekali. Rae jadi guru tapi rae gesik raan ata kiwang jadi ata benisan. Jadi selama tuun pulo ruan ne lema nae naan ata kedike mete bodo dan nae tetap benisan terus...... nae tutu goe hama noron sombo berua tapi sama sekali nae mian tenake.

Jadi rae, rae ille kolan bisa jadi benisan hala sain pali wali karena tenuen kame nolon yang benisa nekun rae takut kalo ata kiwan meten bisa dan bisa lawan rae.

Coba tite tait rae Lewotala, pe taon 1980 goe rae Lewotala kai, kebetulan kaka arin kame mengajar te rae.

Goe peten jaha tede ana murid raen, rae hormat jaha yang naran nae bapa guru,
ana sekola sekola nawa dimaen yang penting bisa bantu pa guru geta tahan. Ei mio e e... loke jahak di...... pukon ane tite taan rae hama ne.....

Ato jaman nolon we,tenue tite rete tuak/arak gelu tahan mean rae Ille kolan.. rae rete tuak/arak tajo tou rae ait tahan mean karon belen tou. Rae opol akal ata kiwan jaha.

Coba kalo pembangunan rae ille kolan diperhatikan oleh Pemda Nagi pasti bagus sekali.. tanah raen subur jaha,hutan raen mae jaha,pe ke di rae aja jaha meranto lau saba.

Goe pikiran rae rae ile kolan benisan hala karena guru guru le balun alan yang raan rae jadi ata kiwang.......

Goe gete mio weken kae he .... "pukon a ne tite majan rae ne ata kiwang....."

KREDIT FOTO: Katrin Kedang
http://lovekatrin.blogspot.com/2009/02/pulau-waibalun.html

Noor Ibrahim dan patung Yesus



NOOR IBRAHIM itu pematung yang unik. Beragama Islam, tapi setiap hari menggarap karya-karya yang berbau kristiani. Khususnya figur Isa Almasih alias Yesus Kristus. Penampilan Noor dengan rambut gondrong dan cambang lebat pun mirip dengan figur Yesus Kristus.

"Saya mengagumi Yesus Kristus walaupun saya muslim. Menurut saya, Yesus pada zamannya adalah sosok yang berani melawan kekerasan dengan cinta kasih," kata Ibrahim.

Pada 14 April hingga 14 Mei 2009 perupa yang bermarkas di Sidoarjo itu mengadakan pameran bertajuk Holy Art di Kemang Icon, Jalan Kemang Raya 1 Jakarta. Momen ini sengaja disesuaikan dengan Pekan Suci menyambut Paskah. Tanggal 14 menggambarkan 14 perhentian atau stasi jalan salib yang ditempuh Yesus Kristus 2000 tahun silam.

Ibrahim membawa 25 patung dan 23 lukisan. Patung-patungnya menggambarkan kisah jalan salib (dolorosa), roh kudus, malaikat pengawal, Bunda Maria, dan tentu saja Yesus. Sedangkan lukisannya berupa sketsa yang menggambarkan berbagai wajah Yesus serta Yesus yang disalib.

Pameran ini dibuka oleh Dedy Kusuma, art lover, dan dikuratori oleh Aminuddin Siregar, dosen Seni Rupa ITB. Noor Ibrahim tetap pada ciri khasnya: patung logam dengan permukaan yang tidak beraturan.

"Ide pameran tunggal ini karena saya ingin menegaskan budaya toleransi di Indonesia. Sebenarnya Indonesia punya sejarah toleransi yang begitu mengakar. Saat masih bernama Nusantara, jumlah etnis di sini ada 310 lho, tapi keadaan damai-damai saja," jelas pria kelahiran Magelang ini.

Satu lukisan Noor Ibrahim berjudul Mencari Wajah Yesus, terdiri dari 17 sketsa. "Tidak ada yang pernah tahu wajah Yesus sebenarnya. 17 lukisan ini menggambarkan perkiraan saya mengenai wajah Yesus," kata pria yang mulai berkarya sejak 1986 itu.

Ada pula enam lukisan yang menggambarkan Yesus tergantung di kayu salib dilihat dari berbagai sudut pandang. "Yang paling unik, menurut saya, yang berjudul Another Perspective. Lukisan yang satu ini menggambarkan Yesus di kayu salib yang dilihat dari belakang," ujarnya.



NOOR IBRAHIM
Jalan Tropodo I/253 Waru, Sidoarjo.
Jalan Semolowaru Elok G/33 Surabaya.

07 April 2009

Lagu Paskah populer: Syukur Kepada-Mu Tuhan




Apa lagu Paskah paling populer di Indonesia?

Sulit menjawab. Berbeda dengan lagu-lagu Natal yang sangat populer dan dibawakan dalam banyak versi. Lagu-lagu Paskah banyak sekali, jauh lebih banyak ketimbang Natal, tapi semuanya berbau liturgi. Dibawakan selama perayaan ekaristi atau misa di gereja.

Di kalangan penggiat paduan suara, khususnya di kota besar, khususnya yang berlatar belakang mahasiswa, HALELLUJAH HANDEL, paling favorit. Tingkat kesulitan sedang, perlu latihan agak lama, pelatih yang baik, plus pemusik jempolan. Komposisi Halellujah (Georg Friedrich Handel, 1685-1759) ini sejatinya ditulis untuk paduan suara dan orkes simfoni.

"Halelujah ini adalah lagu penutup bagia kedua Oratorium The Messiah," tulis Karl-Edmund Prier SJ. "... Lagu ini selalu diperdengarkan dan dinikmati sambil berdiri."

Teman-teman paduan suara di Jawa Timur, yang belum terlatih, sering memaksakan diri menyanyikan Hallelujah Handel, sehingga kesan megah dan dahsyatnya menjadi hilang. Padahal, komposisi ini masuk kategori E (sedikit sulit) versi Romo Karl-Edmund Prier. Artinya, hanya kor-kor yang banyak berlatih yang bisa membawakannya dengan baik.

Karena itu, di Flores, khususnya di kampung-kampung, lagu Halelujah Handel tidak dikenal umat. Kenapa?

Orang-orang kampung mengatakan, "Terlalu sulit. Terlalu panjang. Terlalu rumit. Terlalu canggih..." Dan masih banyak lagi "terlalu-terlalu" yang lain. Butuh latihan keras berhari-hari, sementara lagu-lagu yang harus dikuasai cukup banyak.

Orang Flores itu pada dasarnya hanya suka lagu-lagu sederhana. Pendek-pendek. Simpel tapi enak. Itulah musik liturgi ala Flores yang sejak 1980-an menjadi hits di seluruh Indonesia.

Bagi saya pribadi, lagu Paskah yang sangat berkesan sejak kanak-kanak sampai dewasa adalah SYUKUR KEPADAMU TUHAN. Lagu ini dimuat di hampir semua buku nyanyian Katolik yang beredar di Indonesia. Buku Puji Syukur Nomor 592.

Diciptakan oleh W. Bone (1826), lirik Indonesia (versi Puji Syukur dan Madah Bakti) oleh Al. Budyapranata (1975). Tak hanya populer di Flores, di Jawa pun lagu ini populer luar biasa. Hampir semua jemaat hafal di luar kepala. Dinyanyikan usai janji permandian, ketika pater memerciki air suci, melodi dan syair Syukur Kepada Tuhan sangat menyentuh.

"Air mata bisa jatuh kalau nyanyi lagu ini," ujar Gorys, aktivis kor asal Ende. Saya membenarkan pernyataan teman lama ini. "Lagu-lagu gereja itu ada ratusan, bahkan ribuan, tapi yang benar-benar berkesan tidak banyak."

Di kampung saya, pelosok Lembata, lagu ini dulu dikenal sebagai TUHAN KINI KUULANGI, buku SYUKUR KEPADA BAPA Nomor 380. Setelah buku nyanyian liturgi 1980-an itu diganti YUBILATE, lagu indah ini tetap dimuat di nomor 330. Syairnya pun sama.

Ketika kuliah di Jember, Jawa Timur, teman-teman mahasiswa Katolik pun selalu menyanyikan lagu ini dalam berbagai pertemuan. Apalagi kalau ada si Yopi, jawara lomba gitar klasik, lagu ini terasa benar kekuatannya.

Saya tidak terkejut ketika Victor Hutabarat membuat rekaman lagu-lagu Katolik, Syukur Kepada-Mu Tuhan menjadi nomor andalannya.

"Syukur kepada-Mu Tuhan,
sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kauangkat

Dosa kami Kauampuni
Kauberi hidup ilahi
Kami jadi putra-Mu."

06 April 2009

Minggu Palma palem habis



Minggu Palma--atau di lingkungan Katolik Jawa lebih dikenal dengan MINGGU PALEM--berlangsung biasa-biasa saja di Jawa, khususnya Surabaya dan Sidoarjo. Tak berbeda jauh dengan misa minggu biasa, kecuali ada pasio. Itu pun dibacakan, bukan dinyanyikan, sehingga cepat selesai.

Prosesi dengan daun-daun palma? Tidak ada. "Ini bukan Flores, Bung, tapi Jawa. Orang Katolik sedikit, kurang dari 1%, dan belum punya tradisi Katolik," ujar teman saya dari Maumere yang sama-sama ikut Misa Minggu Palma di Gereja Pagesangan Surabaya, Minggu (5/4/2009) petang.

Minggu Palma sangat penting dalam kalender liturgi. Ia menandai awal pekan suci Paskah. Jemaat memperingati Yesus Kristus dielu-elukan massa ketika masuk Kota Yerusalem. Massa mengelu-elukan Yesus, yang naik keledai, dengan daun-daun palma.

Sekadar perbandingan, di Flores Timur Minggu Palma ini dirayakan secara besar-besaran. Sabtu, anak-anak sekolah pergi ke hutan untuk mencari daun-daun palma: daun pinang, ijuk, palem hutan, kelapa hutan, dan sebagainya. Singkatnya, daun-daun tanaman keluarga palem.

Proses atau perarakan Minggu Palma pada Minggu pagi berlangsung sangat meriah di kampung saya. Jalan kaki sejauh 2,5 kilometer dari kampung saya, Mawa, ke gereja di Atawatung. Liturgi awal dibuka dengan lagu "Hosana, Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan...." Kemudian lagu: "Anak-anak Ibrani membawa ranting-ranting zaitun...."

Dua lagu gregorian terkenal ini dinyanyikan sambil berjalan kaki sejauh 2,5 km. Capek menyanyi, pak guru yang memimpin perarakan mengajak umat untuk berdoa rosario. Doa sederhana ini sangat populer di lingkungan Katolik, khususnya di Flores.

Sampai di Atawatung, jemaat masuk ke dalam gereja. Sebagian besar jemaat berada di luar karena gereja tidak muat. Lantas, liturgi dilanjutkan meskipun tidak ada pastor. Di Flores, peranan awam atau katekis luar biasa besar. Mereka "mengambil alih" banyak sekali tugas pastor.

Sangat sulit dibayangkan di Jawa Timur yang, menurut saya, cenderung "kelebihan pastor". Banyak pastor di Jawa terkesan "menganggur". Bahkan, kadang sebuah misa dilayani dua tiga pastor sekaligus. Bukan main!

Kenangan perayaan pekan suci, khususnya Minggu Palma, di kampung ini selalu membekas dalam diri saya. Saya selalu heran mengapa perarakan palem tidak diadakan di Jawa Timur. Tidak usah dua kilometer, cukup 100-200 meter dari halaman gereja. Toh, gereja-gereja Katolik di Jawa umumnya punya halaman dan areal parkir yang luas.

Sayang, pastor-pastor di Keuskupan Surabaya, yang sebagian besar orang Jawa, belum punya keberanian untuk melakukan. Gereja masih cenderung berliturgi secara ke dalam. Tidak heran, orang-orang Jawa yang non-Kristen belum banyak tahu tradisi-tradisi liturgi yang ada di lingkungan Katolik.

"Orang Katolik di Jawa itu punya sindrom (penyakit) minoritas. Beda dengan orang Hindu di Jawa yang tiap tahun bikin perarakan ogoh-ogoh di tempat terbuka dan bisa disaksikan semua orang," kata Silvanus, teman saya, asli Flores.

Apa boleh buat. Selain tidak ada perarakan, pastor hanya memerciki air suci secara massal ke daun-daun palma yang dipegang umat, di dalam gereja, dari tempat duduk masing-masing, paroki juga tidak menyediakan daun palma. Umat harus membawa palma sendiri-sendiri dari rumah.

Bagaimana kalau tidak membawa daun palma? Yah, tidak akan punya kenangan Minggu Palma. Padahal, menurut tradisi, daun-daun palma ini selalu dipasang umat Katolik di atas salib yang ada di rumah masing-masing.

Saya termasuk umat yang alpa membawa daun palma. Meskipun sudah lama tinggal di Jawa Timur, saya sering lupa bahwa paroki di Jawa tidak pernah menyiapkan daun-daun palem itu. Hehehe....

KREDIT FOTO: http://www.flickr.com/photos/37229110@N00/2335977063

Kampanye pemilu abaikan korban Lapindo



Bagi saya pribadi, kampanye pemilihan umum (terbuka) kali ini paling sangat tidak menarik. Saya tidak punya minat menyaksikan kampanye partai mana pun. Padahal, hampir setiap hari ada kampanye nasional di Gelora Delta Sidoarjo dan Gelora Tambaksari Surabaya

Iklan kampanye di televisi juga tidak menarik. Tidak ada yang senang, kecuali pemilik televisi, yang untung miliaran rupiah. Pesan kampanye datar-datar saja. Sembako murah. Pendidikan gratis. BLT bagus. Golkar demokratis dan berpengalaman.

Partai-partai kecil, seperti diduga, tidak punya uang untuk bayar kampanye. Jangankan kampanye di televisi, sekadar mengumpulkan orang di lapangan saja tidak bisa. Ini juga menunjukkan bahwa partai di Indonesia yang 38 itu terlalu banyak.

Menurut saya, partai di Indonesia tak boleh lebih dari dua digit. Paling banyak sembilan. Kalau 38 macam sekarang, dengan sistem pemilu conteng nama calon, maka pemilihan umum jadi tak karuan.

Benar bahwa pada pemilihan umum 1999 pesertanya ada 48. Tapi waktu itu hanya memilih tanda gambar. Nama-nama caleg hanya ditempel di TPS, dan penentuan calon terpilih lewat nama urut. Sehingga, pemilu dengan 48 atau 50 partai tetap sederhana. Dengan sistem sekarang, partai hanyalah kendaraan para caleg. Pertarungan sebenarnya justru di antara para caleg, termasuk yang satu partai.

Kampanye pemilu itu, apa boleh buat, hanya omong kosong. Bualan, retorika, hampa untuk meraih simpati sebanyak-banyaknya. Tapi saya juga ragu rakyat bersimpati karena yang diomongkan itu hanya jargon-jargon politik. Nyaris tidak menyentuh kebutuhan riil massa rakyat.

Ketika para jurkam alias 'penjual jamu politik' ini berkampanye di Sidoarjo, ironisnya, tidak ada yang memberikan solusi untuk 20 ribuan warga korban lumpur Lapindo. Padahal, bersamaan dengan masa kampanye, kira-kira 450 korban lumpur berkemah di Jakarta untuk menuntut sisa ganti rugi 80 persen.

Korban lumpur, yang sudah kehilangan rumah, tanah, harta benda, bahkan mengemis di jalanan Jakarta. Di dekat Istana Negara, bahkan. Tapi Susilo Bambang Yudhoyono, atau katakanlah menteri-menterinya, tidak responsif. Skema kompensasi yang dibuat SBY melalui Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 ternyata tidak jalan.

Prabowo Subianto, bekas komandan Komandan Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat, pada hari pertama kampanye berpidato di Gelora Delta Sidoarjo. Menggebu-gebu, keras, tegas, bak pemimpin sosialis di Amerika Latin. "Pemeintah mengambil jalan yang salah. Gerindra akan membuat perubahan," tegas Prabowo.

Soal lumpur Lapindo, khususnya dampak sosial bagi ribuan warga Porong, Tanggulangin, Jabon, yang jaraknya hanya delapan kilometer dari lokasi kampanye? Prabowo nol besar. Sedikit pun tidak disinggung. Perubahan macam apa lagi?

"Saya di Sidoarjo ini kan kampanye nasional. Jadi, isunya pun isu nasional, bukan isu lokal," kata Prabowo Subianto mengelak. Korban lumpur pun gigit jari.

Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY lain lagi. Pendiri Partai Demokrat dan presiden berkuasa ini sempat menyinggung korban lumpur Lapindo saat berkampanye di Surabaya. "Partai Demokrat akan menuntaskan kasus Lapindo!" teriak SBY yang baru kembali dari London.

Menuntaskan kayak apa? Skema apa lagi? Perpres macam mana lagi? Namanya juga kampanye, jualan kecap politik, SBY tidak menjelaskan. Ingat, selama tiga tahun tragedi lumpur di Sidoarjo terjadi, SBY ternyata tidak berdaya. Kekuasaan di tangan sebagai presiden tidak efektif. Tidak berwibawa.

Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007, kita tahu, tidak jalan. Begitu pula upaya SBY menekan Lapindo, termasuk dengan berkantor selama dua hari di Sidoarjo agar Lapindo Brantas mau mematuhi perpres, pun belakangan tidak efektif. Bukannya patuh, Lapindo membuat skema baru dan itu akhirnya diterima pemerintahan SBY.

Di hadapan perusahaan raksasa seperti Lapindo Brantas Inc, SBY terbukti tidak berdaya. Komitmen ada, empati ada, bahkan SBY sempat menangis di depan korban lumpur Lapindo, tapi loyo dalam eksekusi. Dan ribuan korban lumpur Lapindo di Sidoarjo tak tahu lagi harus mengadu ke mana.

KREDIT FOTO: http://newsmerdeka.wordpress.com/2009/03/

Yen Yen gadis Shanghai: Sulabaya panas



Hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok yang semakin harmonis sejak 1990-an membuat banyak orang dari negeri panda berkunjung ke Indonesia. Mula-mula sekadar jalan-jalan santai, wisata, kemudian jatuh hati pada alam serta penduduk Indonesia.

Salah satunya Yen Yen. Gadis kelahiran Shanghai, Tiongkok, 28 tahun silam ini mengaku betah tinggal di Surabaya. Hampir dua tahun Yen Yen mencoba beradaptasi dengan kultur, gaya hidup, makanan, serta keseharian arek-arek Surabaya.

"Saya suka Sulabaya. Olangnya baek-baek. Tapi Sulabaya panas," ujar Yen Yen kepada saya di sebuah rumah makan di Surabaya.

Bahasa Indonesia Yen Yen masih patah-patah meski dia mengaku sudah bisa memahami kalimat dalam bahasa Indonesia. "Bahasa Jawa tidak bisa," kaya Yen Yen lantas tertawa kecil.

Seperti kebanyakan orang Tiongkok, nama Indonesia, khususnya Surabaya, tak asing lagi buat Yen. Dia pun kerap bertemu dengan warga negara Indonesia yang kebetulan berkunjung ke negaranya. Yen akhirnya sadar bahwa ternyata di Indonesia terdapat banyak warga keturunan Tionghoa.

"Saya jadi ingin sekali jalan-jalan ke Indonesia, entah kapan," papar Yen Yen yang didampingi seorang penerjemah.

Setelah hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok dipulihkan, Yen Yen semakin yakin bahwa keinginannya main-main ke Indonesia bakal kesampaian. "Saya percaya pada suatu saat ada kesempatan ke Indonesia," tutur perempuan langsing ini.

Kesempatan itu pun terbuka dua tahun silam. Tak dinyana, sahabat karibnya berkenalan, kemudian menikah dengan orang Surabaya. "Saya diajak ke Surabaya untuk menemani dia. Kalau nggak punya teman di Surabaya kan susah," tukasnya.

Sebelum ke Surabaya, Yen Yen sudah membayangkan bahwa temperatur di Indonesia jauh lebih panas ketimbang di negaranya. Maklum, Indonesia negara tropis yang hanya punya dua musim. Beda dengan Tiongkok yang punya empat musim. "Tapi ternyata Surabaya itu lebih panas dari bayangan saya. Hehehe."

Meski begitu, Yen Yen mengaku betah tinggal di Surabaya. Dia juga tidak merasa kesulitan berkomunikasi karena di Kota Pahlawan ini terdapat banyak ekspatriat asal Tiongkok. Orang Surabaya sendiri, khususnya yang keturunan Tionghoa, pun banyak yang bisa berbahasa Mandarin dengan baik. Kursus bahasa Mandarin pun ada di mana-mana.

"Saya malah sering dijadikan penutur asli bagi teman-teman di Surabaya yang baru belajar bahasa Mandarin," ceritanya.

Yen Yen merasa 'tidak adil' jika dia tidak belajar bahasa Indonesia. Karena itu,
saat ini penghobi masak ini mulai rajin belajar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. "Saya belajar sama teman-teman (Tiongkok) yang sudah bisa bahasa Indonesia," akunya.

02 April 2009

Pemilu di Flores Timur dan Lembata akhirnya diundur




Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) legislatif di Lamaholot akhirnya ditunda. Bukan 9 April melainkan 14 April 2009. Baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Timur maupun KPU pusat sudah melegalisasikannya.

Deo gratias! Syukur kepada Tuhan!

Mengapa pemilu di Lamaholot MUSTAHIL digelar pada 9 April 2009? Saya sudah lama menulis catatan singkat di blog ini. Hari-H pemilu 9 April 2009 itu bersamaan dengan hari KAMIS PUTIH, bagian penting dari ritual SEMANA SANTA atau pekan suci di lingkungan agama Katolik.

Semua orang tahu, warga Lamaholot--meliputi Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata--mayoritas beragama Katolik. Wilayah yang didominasi etnis Lamaholot yang berbahasa Lamaholot (dominan), bahasa Nagi [Melayu Larantuka], dan bahasa Kedang ini masuk wilayah Keuskupan Larantuka. Ingat, Keuskupan Larantuka, tepatnya di Solor, merupakan tonggak masuknya agama Katolik di Indonesia.

Sejak abad ke-16 telah berlangsung tradisi SEMANA SANTA yang dipelopori para misonaris Dominikan dari Portugis. Dus, tradisi rohani ini sudah berjalan sekitar 400tahun. Empat abad, Bung!

Pekan suci itu diawali dengan perayaan Minggu Palma [di Jawa disebut Minggu Palem], 5 April 2009. Sejak itu dimulai "masa tenang", refleksi, untuk mengikuti ritual tahunan Paskah. Umat ramai-ramai membersihkan gereja, kapela, sakramen rekonsiliasi, persiapan liturgi, paduan suara... dan segala sesuatu seputar Paskah.

Usai Minggu Palma, Uskup Larantuka mengumpulkan semua pastor yang bertugas di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata di Gereja Katedral Larantuka. Diadakan misa krisma. Para imam (pastor) menyatakan loyalitas kepada Bapa Uskup sebagai pemimpin gereja.

Hari Rabu dimulailah rangkaian SEMANA SANTA, khususnya di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Namanya RABU TREWA. Misa khusus dan upacara lamentasi. Besoknya KAMIS PUTIH memperingati perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama 12 muridnya. Malamnya umat berdoa alias tuguran (istilah orang Katolik di Jawa).

Ritual dilanjutkan dengan JUMAT AGUNG. Dilakukan jalan salib pagi dan petang. Malamnya viligi atau tuguran. Perayaan Jumat Agung di Larantuka sangat akbar. Ada prosesi khusus yang diikuti ribuan orang dari berbagai daerah. Karena itu, setiap tahun biro-biro perjalanan wisata rohani di Jawa selalu menawarkan LARANTUKA TOUR.

SEMANA SANTA diteruskan dengan SABTU SANTO (malam Paskah) dan MINGGU PASKAH. Selesai!

Apa jadinya kalau pemilu digelar pada Kamis Putih, 9 April 2009? Betul kata KPU, tidak akan ada orang Lamaholot yang mau jadi petugas KPPS. Akan sangat sedikit orang yang datang ke TPS untuk pencontrengan. Timingnya sangat tidak pas.

"KPU bukan saja tidak profesional, tapi alpa dengan kemajemukan bangsa ini. Paskah terjadi setiap tahun dan perayaan di Lembata dan Flores Timur selalu akbar. Saya menyesalkan mengapa persoalan ini baru dibicarakan sekarang," kata Dr Daniel Sparingga, dosen FISIP Universitas Airlangga, seperti dikutip KOMPAS edisi Kamis (2/4/2009).

Yah, mudah-mudahan kasus Pemilu Kamis Putih ini menjadi pelajaran bagi pemerintah dan penyelenggara pemilu di Indonesia. Jangan alpa dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. KPU bisa dimaafkan karena memang tidak tahu ada liturgi Pekan Suci, khususnya Kamis Putih, yang juga dilakukan di jemaat Katolik di seluruh dunia.

Saya berterima kasih kepada Ama Abdul Kadir, ketua KPU Flores Timur, orang Islam asal Lamaholot, yang sangat gigih berjuang agar jadwal pemilu legislatif di Lamaholot diundur karena Kamis Putih.

Ama Kadir, terima kasih aya-aya! Jasa moen kame lupang hala! Ata kiwan, ata watatan... hama hena. Tite lewo tou. Mo tetap kerja mela-mela mang gelekat lewotana.

TULISAN TERKAIT

Mengapa Pemilu pada Kamis Putih?

Semana Santa di Larantuka.

KREDIT FOTO: http://ermalindussonbay.blogspot.com/