03 March 2009

Oei Hiem Hwie, tangan kanan Pramoedya



Para pecinta buku, khususnya karya Pramoedya Ananta Tour, dan peminat sejarah di Surabaya beruntung punya tokoh sekaliber OEI HIEM HWIE. Pria 73 tahun ini merupakan orang kepercayaan novelis terkemuka Pramoedya Ananta Tour (almarhum).

Oei mengoleksi semua buku karyawan Pramoedya, termasuk tulisan tangan Pram semasa pembuangan di Pulau Buru. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dari RADAR SURABAYA dengan Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung Jalan Medayu Selatan IV/42-44 Surabaya, Sabtu (28/2/2009).


ANDA BARU SAJA DIOPNAME DI RKZ. SEBENARNYA ANDA SAKIT APA SIH?

Vertigo. Enam hari saya harus tinggal di rumah sakit. Mungkin karena saya terlalu banyak membaca, membaca, membaca, ya, jadinya seperti ini.

MEMBACA ITU KAN BAGUS! APAKAH ANDA AKAN MENGURANGI MEMBACA?

Bagus, tapi harus diimbangi dengan olahraga dan pola makan yang baik. Jadi, pengalaman diopname kemarin ada hikmahnya. Saya tidak kapok membaca karena itu merupakan satu-satunya hobi saya sejak kecil.

Karena hobi membaca itulah, saya mendapat banyak informasi, bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Pak Pram (Pramoedya Ananta Tour). Saya beruntung sekali karena dipercaya Pak Pram untuk menyimpan naskah-naskah karyanya.

SELAMA DI PULAU BURU RUPANYA ANDA SANGAT DEKAT DENGAN PAK PRAM?

Betul. Sejak dulu nama Pak Pram sudah sangat terkenal di Indonesia, bahkan di luar negeri. Karena itu, saya beruntung bisa sangat dekat dengan beliau meskipun tempatnya di Pulau Buru. Dulu, Buru itu masih hutan, kami harus babat alas, buka sawah, bercocok tanam.

Kami yang tidak biasa bertani di Jawa, apa boleh, dipaksa menjadi petani supaya bisa hidup. Itu pengalaman hidup yang luar biasa. Nah, selama di Buru Pak Pram masih tetap suka menulis. Saya ikut membantu mencari referensi untuk Pak Pram.

APAKAH ADA KERTAS DAN MESIN KETIK DI PULAU BURU?

Nggak ada. Kertasnya pakai sak semen. Sak semen itu kan berlapis-lapis kertasnya. Nah, saya gunting menjadi lembaran kecil-kecil agar bisa dipakai menulis. Mesin ketik belum ada, sehingga Pak Pram pakai tulisan tangan. Coba Anda lihat tulisan tangan Pak Pram di situ. (Oei memperlihatkan manuskrip novel Bumi Manusia di dekat pintu masuk perpustakaan. Ada juga tulisan-tulisan Pram yang lain.)

SETELAH DIBEBASKAN DARI BURU, PAK PRAM TIDAK MEMINTA TULISANNYA ITU?

Saya yang justru mengembalikan kepada Pak Pram, tapi Pak Pram bilang saya saja yang nyimpan. Khawatir hilang kalau dia yang simpan sendiri. Maka, sejak tahun 1978 itu saya menyimpan tulisan-tulisan Pak Pram di rumah (Malang).

APAKAH TIDAK DICARI-CARI INTEL MENGINGAT WAKTU ITU KARYA-KARYA PRAM SANGAT DIMUSUHI REZIM ORDE BARU?

Silakan cari, saya bilang nggak ada. Padahal, naskah-naskah itu saya simpan di plafon. Hehehe.... Baru setelah reformasi, informasi ini saya buka kepada masyarakat. Ini perlu agar masyarakat mengetahui dengan benar sejarah bangsa ini. Misi saya meluruskan sejarah.

ADA RENCANA UNTUK MENERBITKAN TULISAN-TULISAN PAK PRAM YANG ANDA SIMPAN INI?

Oh, kalau itu haknya keluarga Pak Pram. Tapi mereka pun tidak meminta naskah asli. Yang diminta hanya fotokopinya saja. Saya bersyukur karena sekarang buku-buku Pak Pram sudah tersebar luas di mana-mana.

LANTAS, APAKAH PERPUSTAKAAN MEDAYU AGUNG INI DIMAKSUDKAN UNTUK MENYIMPAN KARYA-KARYA PAK PRAM?

Salah satunya itu. Saya sejak kecil itu kan suka membaca dan mengoleksi buku. Saya punya ribuan buku, termasuk karya Pak Pram. Ini perlu perpustakaan yang memadai. Dan itu impian saya sejak dulu. Akhirnya, pada tahun 2001 perpusatakaan ini berdiri. Sekarang koleksi saya sudah mencapai sekitar 250 judul buku.

Syukurlah, koleksi buku-buku saya sudah banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswa kayak dua mahasiswa ini (MENUNJUK DUA MAHASISWA UNIVERSITAS AIRLANGGA YANG MELAKUKAN PENELITIAN), peneliti, wartawan, hingga masyarakat umum. Buku-buku di sini tidak bisa dipinjam atau dibawa pulang. Kalau mau memanfaatkan data, ya, baca langsung atau mencatat di sini.


ANDA PUNYA ENAM KARYAWAN DENGAN KOLEKSI RIBUAN BUKU. BAGAIMANA BIAYA OPERASIONAL DAN PERAWATAN?

Ya, saya usahakan sendiri. Ada juga bantuan dari donatur yang peduli, tapi sporadis saja. Tidak rutin. Dan, supaya diketahui, saya ini dari dulu gak suka minta-minta. Mau kasih bantuan, silakan, tapi saya tidak akan minta-minta. Jadi, lebih baik saya tangani sendiri saja.

BAGAIMANA DENGAN KEDUA ANAK ANDA? APAKAH MENGIKUTI JEJAK BAPAKNYA?

Mereka punya dunia sendiri karena pengalaman sejaah yang mereka rasakan berbeda dengan saya. Dan saya memang tidak pernah mengarahkan mereka harus begini begitu. Anak saya yang satu kuliah di ITS, satunya lagi sudah bekerja.

MASIH SOAL BUKU. APA USULAN ANDA AGAR MASYARAKAT, KHUSUSNYA GENERASI MUDA, SENANG MEMBACA BUKU?

Ada banyak faktor, saya kira. Nomor satu, harga buku makin mahal, tidak terjangkau pelajar dan mahasiswa. Penerbit sebaiknya membuat buku-buku edisi murah di samping yang mahal karena kualitas kertasnya tinggi. Kalau harga mahal, orang tentu mendahulukan kebutuhan yang lain.

Kedua, tampilan buku harus dibuat semenarik mungkin. Cover harus menarik. Kemudian ada gambar, foto, ilustrasi, dan sebagainya. Kenapa? Masyarakat kita masih suka melihat gambar. Walaupun isinya bagus, kalau tampilannya jelek, ya, gak disukai orang.

Ketiga, penerbit harus mau keluar biaya untuk promosi. Kalau launching buku itu, ya, jangan sekadar lesehan, tapi digarap dengan baik. Memang, biaya jadi besar, tapi pasti akan kembali.





RISIKO JADI WARTAWAN PRO-SOEKARNO

SEJAK anak-anak sampai sekarang Oei Hiem Hwie mengaku hanya punya satu hobi, yakni membaca. Apa saja dibaca, entah itu surat kabar, majalah, atau buku. Hobi membaca ini membawa Oei remaja mengikuti kursus jurnalistik tertulis dari Jogjakarta dan Bandung.

"Sebab, saya waktu itu memang sangat tertarik dengan jurnalistik. Wartawan itu kan bisa dapat banyak informasi, bisa bertemu banyak tokoh penting, bisa ke mana-mana," ujar Pak Oei kepada saya.

Tak banyak orang Tionghoa yang menekuni dunia jurnalistik. Selain pertimbangan ekonomi, wartawan sulit hidup makmur, risiko profesi ini pun berat. Apakah keluarga tidak melarang menjadi wartawan?

"Sama sekali tidak ada larangan apa pun. Saya diberi kebebasan untuk menekuni pekerjaan apa saja asalkan baik. Wartawan itu kan pekerjaan yang baik," kata Pak Oei sambil tersenyum.

Berbekal kursus jarak jauh itu, Oei Hiem Hwie mulai memasuki dunia jurnalistik. Dia diterima sebagai wartawan TEROMPET MASJARAKAT, koran terkemuka di Surabaya yang bermarkas di Jalan Pahlawan (Gedung Brantas).

"Koran ini independen, memberi ruang kepada pembaca untuk berpikir kritis. Alirannya nasionalis, antikolonialisme. Itu yang membuat saya makin semangat," katanya.

Perubahan politik besar-besaran terjadi di tanah air menyusul peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI). TEROMPET MASJARAKAT yang pro-Soekarno diberedel. Pemiliknya, Goie Poo An, ditangkap, kemudian dibunuh. Oei Hiem
Hwie pun merasakan pahitnya risiko menjadi wartawan pejuang.

"Saya ditangkap karena dianggap pro-Soekarno. Pokoknya, apa saja yang dianggap berbau Soekarno dihabiskan. Buku-buku saya pun dirampas mereka," kenang Oei Hiem Hwie. Itu terjadi pada 19 November 1965.

Syukurlah, sebagian buku koleksinya--sebagian besar tentang sejarah--masih bisa diselamatkan oleh saudara-saudaranya di Malang. Sejak itulah Oei yang masih sangat mudah harus mendekam dari penjara ke penjara.

Mula-mula di Kamp Batu, pindah ke Lowokwaru, kemudian ke Rumah Tahanan Militer Koblen (Surabaya), lantas Kalisosok. Pada 1970, tujuh hari setelah Bung Karno meninggal, Oei dibawa ke Nusakambangan. Beberapa bulan kemudian dipindahkan lagi ke Pulau Buru, Maluku, hingga bebas pada 19 November 1978.

Tidak menyesal jadi wartawan? "Oh, tidak. Hidup memang harus seperti itu. Selalu ada pengalaman pahit dan manis," tandas ayah dua anak ini.



OEI HIEM HWIE

Lahir: Klojen Kidul, Kota Malang, 24 November 1935
Istri: Sri Widiati
Anak: Adi Sandika dan Yudi Sandika
Hobi: Membaca

Alamat: Jalan Medayu Selatan IV/42-44 Surabaya
Pekerjaan: Direktur Perpustakaan Medayu Agung
Idola: Pramoedya Ananta Tour (sastrawan), Djawoto (wartawan, diplomat)

PENDIDIKAN
SD-SMA Taman Harapan Malang
Universitas Res Publica Surabaya

PENGALAMAN PENJARA
Kamp Batu, Malang
LP Lowokwaru, Malang
RTM Koblen, Surabaya
LP Kalisosok, Surabaya.
LP Nusakambangan
Pulau Buru.


PENGHARGAAN
Wali Kota Surabaya Bambang DH (2004)

7 comments:

  1. Hallo mister Hurek..
    Wah wah, gmn kabar? Semoga sehat selalu..
    Saya jadi jarang buka blog nih, gara2 keenakan facebook..

    Nur Aini Wahidah baik2 saja, tapi mbulet mau nyelesaiin laporan magang, dari brp bulan lalu gak beres2.

    Saya sudah selesai maju sidang magang, sekarang lagi berkutat dengan proposal skripsi, mohon doanya ya paaaak...hehe

    Aduuuh, jadi sedih denger lampion pensiun, merasa kehilangan sekali, banyak kenangan soalnya.
    Trus diganti apa kalo dihilangkan pak??

    Anak UPN masih banyak yang magang disana?

    Wah, bapak mengunjungi pak Oei juga akhirnya, saya juga mau kesana buat nyari referensi buku, beliau habis opname ya pak?

    Keren banget ni tulisan guru saya satu ini, lengkaaaaap, barusa saya baca jadi ngerasa flashback ni..

    Sukses ya pak..

    ReplyDelete
  2. Hai Rima,
    Rubrik Lampion masih ada, redakturnya saja yang beda. Bukan saya lagi. Tapi saya masih tetap berusaha mendalami budaya peranakan Tionghoa alias hoakiao di Indonesia. Banyak hal menarik.

    Anak-anak UPN makin banyak yang antre magang. Bulan Maret ini saja ada 12 yang antre. Wah, jangan-jangan Rima dan Iin yang rekomendasikan. Saya sih ingin terima semua, tapi sulit karena keterbatasan ini itu.

    Selamat makan sambil main Facebook.

    ReplyDelete
  3. org2 kayak pak Oei ini sudah langka banget. salut atas kerja keras serta perjuangan beliau sampek masuk penjara n dibuang ke p buru. orde baru memang kejam.

    ReplyDelete
  4. Kurang lebih 8 tahun lalu saya baru baca bukunya Pak pramoedya, "rumah kaca" Versi inggris, krn beli d toko buku sini. Terpesona dan jatuh cinta dg gaya bertutur beliau.

    Memang mbaca itu hobi yg mengasyikkan, betapa bahagia nya Pak oei ini Karena ibaratnya setiap Hari berkutat dg hobi beliau! Sungguh deh, sejak punya anak rasanya waktu untuk membaca (dan hobi lainnya) tersedot tak tersisa! Haha... Gpp lah, nantikan Ada waktunya lagi.

    ReplyDelete
  5. Apa kabar Mbah Dyah? Moga-moga sehat dan tetap semangat. Aku juga tetap ikuti Catatan Pendek dari negara singa.

    ReplyDelete
  6. Salut buat Oei Hiem Hwie! Salut juga buat kawan Lambertus L Hurek! Kopian tulisan ini saya berikan kepada Pak Soesilo Toer, adik Pramoedya, yang sekarang tinggal di Blora. Ohya, kami juga buat merchandise berupa kaos Pramoedya dengan seri karya-karyanya. Kalo sekiranya kawan-kawan ada yang berminat bisa menghubungi saya. Terimakasih Perjuangan berlanjut. Koko' HP. 081328775879 Email: supersamin_inc@yahoo.com

    ReplyDelete
  7. salam utk mas kok dkk.
    tetap semangat n tetap berjuang!!

    ReplyDelete