26 March 2009

Log Zhelebour 50 Tahun



Log Zhelebour, promotor musik rock legendaris, kemarin genap berusia 50 tahun. Arek Kranggan, Surabaya, ini tak akan berpaling dari musik cadas meski pamor rock sedang surut.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Selama ini Log Zhelebour mengaku hampir tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Kalaupun ada perayaan, biasanya teman-teman atau relasi yang sengaja bikin kejutan. Namun, di usia setengah abad ini, Log terlihat bisa menikmati perayaan yang juga dipersiapkan teman-temannya.

"Gak nyangka aku ini sudah tua. Lima puluh tahun. Soalnya, selama ini saya gak pernah merasa tua," ujar pria kelahiran Surabaya 19 Maret 1959 ini.

Kemarin tidak ada perayaan khusus, karena dua hari sebelumnya sejumlah musisi rock, wartawan musik, dan relasinya sudah bikin pesta kecil-kecilan. "Tapi saya terima banyak SMS ucapan selamat. Ya, saya ucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman semua."

Acara HUT ke-50 Log Zhelebour dihadiri begitu banyak musisi rock baik yang senior maupun yunior. Sebut saja Ian Antono, Eet Syahranie, Toto Tewel, Sylvia Sarrtje, Harry Sabar, Kresna Sucker Head, Yaya Moektio, Jelly Tobing, Sandy Pas, Beng Beng Pas, Trison Roxx. Kemudian wartawan musik senior macam Ipik Tanoyo, Bens Leo, Remy Soetanzah, Hans Miller Banureah, Theodore KS, Rosihan, Harris Sukandar, dan Fajar Budiman.

"Saya tidak mungkin eksis sampai sekarang kalau tidak didukung teman-teman musisi dan wartawan," ujar alumnus SMAK Sint Louis Surabaya ini.

Log yang bernama asli Ong Oen Log benar-benar memulai karirnya sebagai promotor rock dari nol. Lulus dari Sinlui tahun 1977, Log mencoba menjadi promotor disko di berbagai tempat hiburan Surabaya. Karirnya mulai menanjak setelah menggelar konser band-band lokal dengan bintang tamu SAS (Surabaya) dan Super Kid (Bandung).

"Saya namakan Rock Power," kenang promotor musik yang tidak bisa memainkan instrumen musik ini.

Setelah itu berlanjut dengan konser lady rocker Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja, Bani Adam, hingga Giant Step. Log kemudian membidani festival musik rock se-Indonesia yang puncaknya digelar di Surabaya sejak 1984 hingga 2007.

Begitu banyak penyanyi dan band rock ditangani Log. Sebu saja Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, El Palmas, Kaisar, Power Metal, Gank Pegangsaan, Boomerang, Jamrud, Log Gun, hingga Kobe. Banyak yang populer, tapi tidak sedikit yang patah di tengah jalan.

Log pun berjasa menghidupkan God Bless yang vakum selama bertahun-tahun. Bukan itu saja. Sejumlah superband rock internasional didatangkan ke Indonesia. "Saya ingin penggemar rock bisa menikmati grup-grup idolanya. Bila perlu nonton gratis," kata penggemar Scorpion dan God Bless ini.

Apa rahasia sukses Anda?

"Trust. Harus bisa menjaga kepercayaan sponsor, musisi, dan semua pihak," tegas Log.

Dia mengenang, pada awal karirnya dia hanya punya modal sepeda motor butut dan mesin ketik manual yang juga butut. "Saya ketik proposal pakai mesin ketik itu. Kemudian saya bawa ke calon sponsor."

Keluguan Log ternyata bisa menjadi senjata ampuh untuk merebut kepercayaan sponsor. "Kita mula-mula dites dulu dengan bujet yang kecil. Kemudian pelan-pelan ditambah terus sampai besar. Jadi, nggak bisa langsung gede," bebernya.

Kini, pamor Log Zhelebour tidak seterang pada era 1980-an dan 1990-an. Ini tak lepas dari surutnya industri musik rock di tanah air. Setelah band-band senior surut, beberapa band baru yang diorbitkan Log seperti Log Gun atau Kobe tak seheboh band-band pop ala Peterpan, Ungu, atau Dewa 19. Namun, Log menyatakan tak akan berpaling dari musik rock yang telah membesarkan namanya.

"Rock sudah menjadi jiwa saya. Maka, saya nggak mungkin lari ke pop meskipun mungkin prospeknya lebih bagus," tegasnya.

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-50, Log merilis album baru tiga grup yang bernaung di labelnya: Boomerang, Jamrud, dan Kobe. "Saya rasa orang sekarang sudah jenuh dengan musik yang seragam," terangnya. (*)


Dimuat di Radar Surabaya edisi 20 Maret 2009

No comments:

Post a Comment