03 March 2009

Khotbah Panjang, Khotbah Pendek


Kapela Tuan Anna di Larantuka, Flores Timur. FOTO: Renata Tours Surabaya [matur nuwun].

Khotbah dibahas panjang lebar di HIDUP edisi terbaru. Topik lama sebenarnya. Sejak saya sekolah dasar, majalah ini sering menurunkan liputan panjang tentang khotbah di gereja. Ada apa dengan khotbah?

Khotbah macam apa yang disukai umat. Khotbah yang bikin ngantuk. Khotbah ngelantur. Khotbah berapi-api. Dan seterusnya. Pada 1990-an, ketika masih mahasiswa, saya pun beberapa kali menanggapi artikel di HIDUP seputar khotbah pastor.

Ah, rupanya khotbah ini tetap aktual sepanjang masa. Jemaat gereja, juga tempat ibadah lain, ternyata tetap suka khotbah. Misa atau kebaktian tanpa khotbah hambar rasanya.

Khotbah masih penting?

Yah, banyak orang bilang begitu. Bahkan, di gereja-gereja Protestan, khususnya aliran pentakosta dan karismatik, khotbah luar biasa penting. Pendeta, evangelis, atau apa pun namanya jadi terkenal, ya, karena khotbah. Perhatikan iklan di surat kabar: nama-nama pendeta yang dipromosikan pasti yang dianggap hebat berkhotbah.

"Kalau KKR (kebaktian kebangunan rohani) diisi Bapak Pendeta A, wah, pasti ramai. Jemaat semangat mendengar. Khotbah 90 menit gak terasa sama sekali," ujar Freddy, teman yang Kristen karismatik.

"Dengar khotbah kok bisa semangat. Apanya yang menarik?"

"Banyak. Gaya bicara, kesaksian-kesaksian.... pokoknya relevan dengan kehidupan jemaat. Gak mengawang-awang."

"Banyak teriak dan tepuk tangan?"

"Hehehe... Itu kan hanya sekadar variasi saja. Yang jelas, pendeta itu tahu benar apa yang dibicarakan. Enak deh!"

Saya ingat masa kecil di Flores Timur, tepatnya Larantuka. Ada pastor bule bernama Pater Michael Kriszik SVD. Suka jalan bergegas, semangat, tahu obat (mirip dokter), doyan membaca, tapi paling malas bicara. Kalau bicara hanya sekadar saja, cukup yang penting-penting. Tidak pernah bercanda, apalagi ketawa-ketawa macam Pater Paulus Due SVD.

Pater Kriszik itu bendahara Keuskupan Larantuka zaman dulu. Yah, kata orang, bendahara atau pengurus bagian keuangan memang sebaiknya dipegang orang-orang pelit bicara, tak suka bergaul, tertutup macam Pater Kriszik ini. Siapa pun pasti berpikir 77 kali sebelum meminta uang dari sang pastor asal Polandia.

Meskipun begitu, anak-anak asrama SMP San Pankratio di San Dominggo, Larantuka, yang jaraknya hanya 10 meter dari markas keuskupan, paling suka Pater Kriszik memimpin misa harian. Kenapa?

Khotbahnya paling pendek. Kalau khotbah di gereja besar, hari Minggu, paling lama TUJUH menit. Khotbah di gereja kecil alias kapel tidak sampai TIGA menit. Di San Pankratio itu Pater Kriszik hampir tidak pernah kasih khotbah.

"Misa hari ini tidak ada khotbah. Silakan kalian membaca sendiri Injil Lukas Bab 14 Ayat 15-24. Renungkan baik-baik dan berdoa kepada Tuhan. Misa kita lanjutkan. Aku Percaya akan Allah....," ujar Pater Kriszik.

Hehehe....

Orang Larantuka umumnya sudah tahu karakter romo yang satu ini. Maka, begitu masuk gereja dan tahu bahwa misa dipimpin oleh Pater Kriszik, wah, senangnya bukan main. Yang senang ini tentu orang-orang yang tidak suka dengar khotbah, ingin perayaan ekaristi tidak panjang lebar. Sebaliknya, banyak orang pusing kalau Pater Paulus Due yang pimpin misa. Bisa dua jam lebih tuh!

Selain tidak suka berkhotbah, Pater Kriszik ini paling jago membaca cepat. Lancar seperti air sungai di musim hujan. Karena itu, bacaan-bacaan misa, khususnya doa syukur agung, cepat tuntas.

Ada satu lagi kelebihan beliau: Tidak suka nyanyi. Bagian-bagian misa yang biasanya (atau seharusnya) dinyanyikan, oleh Pater Kriszik dibaca saja. Bapa Kami dibaca, Aku Percaya dibaca, Kudus dibaca, Anak Dmba Allah dibaca....

Maka, bisa dipastikan misa yang dipimpin Pater Kriszik berlangsung sangat singkat: tak sampai 30 menit. Itu sudah termasuk antre komuni yang sedikit makan waktu. Sekarang ini, menurut pengalaman saya, misa di gereja-gereja Surabaya rata-rata 60-80 menit.

Misa malam Natal di Jawa rata-rata 90-100 menit. Misa inkulturasi Jawa di Gereja Ganjuran, Jogjakarta, rata-rata 2,5 jam. Misa tahbisan Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono pada 29 Juni 2007 berlangsung dua jam lebih sedikit.

Ada teman saya merindukan "misa kereta api ekspres" ala Pater Kriszik di Larantuka, dulu.

Mengapa? "Kasihan umatnya kalau khotbah sangat panjang, misa terlalu lama. Dari dulu, ya, isi khotbah kita semua sudah tahu. Gak ada yang baru," ujar si Lodo.

"Apa ada jaminan khotbah yang panjang bisa membuat kehidupan umat lebih baik? Moderat sajalah," tambahnya.

Kembali ke Larantuka. Ada ekstrem kiri, ada ekstrem kanan. Ada khotbah ekstrem pendek, ada ekstrem panjang. Kebalikan Pater Kriszik ini, seperti disinggun di muka, adalah Pater Paulus Due. Orang Bajawa ini suka bicara, bercanda, ngeledek, dan menyanyi -- meskipun suaranya tak seberapa bagus. Siap-siap mental kalau misa dipimpin Pater Paulus.

Karena keranjingan nyanyi, bagian-bagian misa yang sebenarnya cukup dibaca saja, dilagukan sang romo. Ordinarium sudah jelas nyanyian, bahkan sering diulang. Aku Percaya nyanyi. Doa syukur agung nyanyi. Prefasi nyanyi. Doa umat nyanyi. Bahkan, bacaan ketiga alias Injil pun dinyanyikan. Makan waktu berapa menit? Silakan diperkirakan sendirilah.

Pater Paulus memang dikenal orang Larantuka--dulu dia Pastor Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka--sebagai pastor spesialis khotbah panjang. Terbalik 180 derajat dengan Pater Krisik. Bicaranya spontan, ceplas-ceplos. Bicara di mimbar sangat lancar, spontan, muncul begitu saja. Saking fasihnya, kalimat-kalimat Pater Paulus seperti keluar dengan sendirinya. Tidak perlu persiapan, apalagi naskah, seperti yang banyak dilakukan rohaniwan lain.

Mengapa khotbah Pater Paulus sangat panjang? Dia suka cerita atau masukkan ilustrasi. Pengalaman kecil ke kampung-kampung, bertemu kambing atau katak, diungkapkan, kemudian dikaitkan dengan bacaan kitab suci barusan. Tak hanya cerita, dia memasukkan guyonan ala kampung-kampung di Flores Timur. Begitu dirasa kena, umat tersenyum atau tertawa, sang pater makin semangat menyusupkan guyonan baru.

Sadar bahwa bumbu-bumbu sudah terlalu banyak, Pater Paulus--mengutip istilah Tukul Arwana--kembali ke laptop. Kembali ke tema awal. Tapi, ya, beliau sebentar lagi sudah tergoda untuk melontarkan bumbu-bumbu humornya. Banyak orang suka, tapi tidak sedikit yang jenuh dengan khotbah panjang ini. Buntutnya, ya, misa menjadi molor tidak karuan.

Di Jawa Timur, alhamdulillah, puji Tuhan, saya belum pernah menemukan pastor macam Pater Kriszik dan Pater Paulus. Bagaimanapun juga yang ekstrem-ekstrem itu tidak baik. Yang sedang-sedang sajalah!

7 comments:

  1. Kame te Kalimantan juga senang membaca tulisan Om Berni tentang lewo titen Mawa apalagi pesta kacang sebagai pengobat rindu...Wahon

    ReplyDelete
  2. Ama, terima kasih aya-aya. Salam untuk kaka-ari teti Kalimantan. Tambahan informasi: Ama Kia Hurek, Jakarta, belara-belara, gawat. Salam.

    ReplyDelete
  3. Saya paling suka dengar khotbah ala pater kridik.Singkat padat dan bermakna buat umatnya,saya namakan pater pengobat ngantuk!
    Kalau terlalu panjang khotbah cepat sekali ngantuknya.Salam Damai selalu.

    ReplyDelete
  4. Jangan sampai terjadi seperti ini: pastur/khotib masuk neraka gara-gara bikin umat tertidur di rumah Tuhan, sedangkan sopir bis ugal-ugalan masuk surga gara-gara bikin penumpang menyebut nama Tuhan.

    ReplyDelete
  5. Jangan sampai terjadi seperti ini: pastur/khotib masuk neraka gara-gara bikin umat tertidur di rumah Tuhan sedangnakn sopir bus ugal-ugalan masuk surga gara-gara bikin penumpang menyebut nama Tuhan.

    ReplyDelete
  6. Hello Bernie, foto diatas sepertinya bukan Katedral Larantuka tapi Kapela Tuan Ana Larantuka

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Carvallo, anda benar, saya keliru menulis teks foto. Sekarang sudah dikoreksi. Selamat bertugas.

    ReplyDelete