13 March 2009

Inter Milan Kalah Kelas dengan MU



Capek. Ngantuk. Kecewa.

Itulah harga yang harus saya bayar untuk menonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Champion di televisi. Kamis dini hari, Manchester United (MU) bentrok dengan Inter Milan. MU jawara Inggris, Inter jawara Italia. Klop!

MU dilatih Alex Feruson, Italia dilatih Jose Mourinho. Keduanya pelatih terkenal, pintar sesumbar di media massa. Kita, penggemar bola, seakan dikondisikan bahwa partai MU vs Inter bakal seru. Sangat kompetitif. Berhari-hari koran dan tabloid menulis prediksi dan analisis pertandingan.

Tapi apa yang terjadi? Baru 10 menit permainan berjalan, saya langsung loyo. Semua prediksi dan komentar pengamat ternyata meleset. Partai ini sama sekali tidak seru. Berat sebelah. MU terlalu hebat, Inter Milan kalah dua kelas. Pasukan Jose Mourinho seperti sedang diajari cara main bola yang benar.

"Bagaimana mungkin juara Liga Italia main seburuk ini?" batin saya. "Kok Jose Mourinho tidak bisa melatih Inter agar setidaknya bisa mengimbangi MU?"

Inter Milan bukan hanya hancur, tapi hancur total. Organisasi permainan tidak jalan. Pola main tidak jelas. Umpan-umpan tidak akurat, bahkan ngawur. Zlatan Ibrahimovic, striker Inter, yang disebut Mourinho lebih baik daripada Ronaldo, tidak bisa apa-apa.

Ibrahimovic sendirian di depan. Tidak ada teman yang berada di dekatnya. Tidak ada pasokan bola. Ibrahimovic juga tidak tahu bagaimana cara melewati pemain belakang MU. Zanetti dan Stankovic juga tidak bisa apa-apa.

"Goblok! Goblok!" teriak seorang teman, Farid, peserta nonton bareng di Sidoarjo. Padahal, si Farid ini sama sekali tidak bisa main bola. Cara menendang bolanya saja tak karuan. Yah, namanya juga pengamat atau penonton, sering merasa lebih pintar ketimbang pemain kaliber dunia seperti Ibrahimovic.

Sebaliknya, permainan MU, Setan Merah, sangat bagus. Nyaris tidak melakukan kesalahan apa pun. Maka, seharusnya, kata teman saya, MU menang 7-0, bukan 2-0. Kalau begini cara mainnya, MU bakal jadi juara sejati. Mempertahankan trofi Liga Champion yang sudah dipegang tahun lalu.

Begitulah. Sebagai penggemar bola, apalagi Liga Eropa, mau tak mau, suka tak suka, kita harus menonton siaran langsung di televisi yang dimulai pukul 02.00 atau 03.00. Ini jelas merusak jam biologis, sekaligus kesehatan kita. Tapi, sayang, kita jarang menikmati pertandingan yang benar-benar bagus.

Sebelumnya, partai Liverpool vs Real Madrid pun mengecewakan. Real, klub hebat di Spanyol, itu kocar-kacir ibarat baru belajar main bola. Real Madrid kebobolan empat gol tanpa balas. "Pemain kayak gitu kok dibayar miliaran rupiah per minggu?" komentar teman saya lagi.

Yah, terus terang saja, selama 20 tahun terakhir saya hampir tidak pernah menyaksikan pertandingan bola yang benar-benar seru, imbang, kompetitif, memuaskan. Selama hidup hanya ada satu pertandingan yang memuaskan saya. Yakni, final Piala Eropa, Belanda vs Jerman pada 1980-an.

Waktu itu Belanda diperkuat pemain-pemain top macam Rijkaard, Marco van Basten, Ruud Gullit. Jerman didukung antara lain Rudi Voeller, Lothar Matthaeus, dan seangkatannya. Selama 90 menit kita, yang melihat TVRI hitam-putih, satu-satunya stasiun televisi, menikmati serangan silih berganti. Dua-duanya sama kuat, sama bagus, sama tajam.

Adegan gol indah, gol kemenangan, dari van Basten dari sebelah kanan gawang Jerman, sampai sekarang masih membekas dalam ingatan saya. Kapan pertandingan bola kelas tinggi kayak itu terulang lagi ya?

FOTO: www.thesun.co.uk

9 comments:

  1. mu kok dilawan...

    ReplyDelete
  2. mu kan tuan rumah, jd kesetanan.

    ReplyDelete
  3. senang bola juga kae berny..

    saya malah gak pernah nonton kalau mainnya malam-malam... gak kuat harus melek trus lanjut kerja pagi...

    tapi saya justru senang kalau inter kala... inter terlalu jago kandang dan tidak punya sejarah hebat di Eropa...

    sementara MU pasti.. spirit anak muda dan ramuan ferguson yang yahud bikin mantabs...

    ReplyDelete
  4. wahh Kae Berny senang bola juga ya...

    aku dah lama gak nonton bola malam-malam...
    capek rasane lek harus bangun pagi dan kerja..

    memang seh.. Inter itu klub jago kandang... tidak ada sejarah bagus di Eropa...
    pelatihnay menang bacot, mulut besar.. gak cukup untuk memenangkan suatu pertandungan.

    sementara MU... mental yang bagus dan pelatih yang brilian... raja eropa.. tahun ini kalau konsisten dan terus seperti ini dia bisa merebut 5 gelar... gila..!!!

    sementara lawannya MU

    ReplyDelete
  5. MU gila dah pokokke....

    setan tuh klub!!! inter doank mah..yaaah..ciil

    emang suka kesetanan sendiri pemain2xnya...

    mdah2x an yang bca bukan setan...amiin..

    ReplyDelete
  6. MU Tim dengan bertabur bintang dan kompetisi yang baik mungkin kunci kemenangan selain metal JUARA.

    ReplyDelete
  7. dari dulu inter milan gak ada apa2nya. jelek banget.

    ReplyDelete
  8. MU juga byk kelemahan, kalah sama Liverpool 1-4. gak sempurnalah. bola itu bundar, bung!!!

    ReplyDelete