01 April 2009

Gesang - berkah Bengawan Solo



Notasi BENGAWAN SOLO saya tulis secara spontan, hanya mengandalkan ingatan. Maaf jika terdapat nada atau lirik yang kurang tepat.


Kita di Indonesia punya ribuan penulis lagu, tapi hanya sedikit yang dikenal di luar negeri. Salah satu dari sedikit nama itu adalah GESANG MARTOHARTONO, 92 tahun.

Seniman asal Solo, Jawa Tengah, ini menulis cukup banyak lagu jenis langgam dan keroncong baik dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Yang bahasa Jawa jauh lebih banyak. Tapi Gesang jadi kondang karena lagu Bengawan Solo.

Lagu Bengawan Solo dari segi bentuk sangat sederhana. Model AABA. Artinya, ada tiga kalimat lagu yang sama (A), kemudian ada variasi di bagian B (Mata airmu dari Solo....). Lagu-lagu langgam memang senantiasa menggunakan pola ini.

Tapi mengapa Bengawan Solo begitu terkenal di luar negeri, khususnya Jepang, Tiongkok, Taiwan, Belanda, dan Suriname? Saya tidak tahu. Mungkin saja lagu mulai populer pada akhir penjajahan Belanda dan awal pendudukan Jepang pada 1940-an.

Dari segi melodi yang mengalun, lembut, legato, tampaknya Bengawan Solo sangat pas dengan selera orang Jepang. Sehingga, Bengawan Solo pun menjadi lagu asing yang paling favorit di Jepang. Bahkan, seperti disiarkan di acara Kick Andy Metro TV beberapa waktu lalu, ada komunitas pengemar Bengawan Solo di Jepang.

Bukan main!

Orang Jepang pun paling rajin membayar royalti Bengawan Solo untuk Gesang di Solo. Ah, andaikan semua pencipta lagu di negeri ini bernasib macam Gesang, betapa indahnya kehidupan kesenian kita. Seniman hidup lebih tenang, tak perlu pusing memikirkan asap dapur. Tak perlu stres menghadapi hari tua.

Pagi tadi, Selasa 31 Maret 2009, saya membaca berita pendek di harian KOMPAS. Gesang menerima royalti sebesar Rp 71 juta dari Penerbit Musik Pertiwi Hendarmin Susilo. Ini royalti Bengawan Solo serta lagu-lagu karya Gesang lainnya.

Pada tahun 2000, masih menurut KOMPAS, Gesang menerima royalti Rp 100 juta dari Jepang. "Uang itu saya masukkan bank, nggak akan saya simpan di almari. Kalau nuruti orang butuh, wah, nggak ada habisnya," kata seniman sepuh yang selalu pakai kopiah hitam ini.

Pada perayaan tahun baru Imlek di Surabaya, akhir Januari 2009, rombongan kesenian dari Yunan, Tiongkok, ikut mengisi acara. Selain membawakan tarian dan nyanyian tradisional dari negaranya, mereka tak lupa membawakan sebuah lagu Indonesia.

Mau tahu judulnya? Bengawan Solo.

"Lagu Bengawan Solo itu sangat terkenal di Tiongkok. Lagunya bagus sekali," ujar George Yuan, juru bicara seniman Yunan, kepada saya.

Bengawan Solo lagi!

Matur sembah nuwun, Pak Gesang! Tetap semangat!!!

3 comments:

  1. Kalau orang lain atau pelatih-pelatih top surabaya mencari orang-orang yang sudah pandai baca not untuk dilatih dan olah vokal yang sudah setengah jadi diolah menjadilebih baik. sebut saja Cahyo Anggoro dan Yulius Kristanto yang melatih orang yang sudah jadi. Saya justru tertantang untuk melatih orang yang tidak punya backing menyanyi paduan suara. walaupunsaya sendiri tidak menguasai teknik secara baik. paling tidak suara-suara orang flore yang terkenal merdu bisa dipoles menjadi lebih baik. Karen pengalamn saya Olah Vokal, pelafalan dan solmisasi sangat minim. kecuali mereka-mereka yang mengikuti paduan suara yang dilatih oleh pakar musik. maaf kalau mleset dari topik..

    ReplyDelete
  2. Marianus,

    Setahu saya Yulius dan Pak Anggoro itu juga mengajar paduan suara pemula kayak ibu-ibu Bunda Kudus dan sejenisnya, selain membina KPMG, siswa SMA, dan beberapa kor independen. Cuma memang ada kesan mereka-mereka itu cenderung menangani penyanyi yang sudah separo jadi atau sudah jadi.

    Tidak gampang memang mengajar orang dari nol, apalagi yang belum lancar baca notasi angka. Gak usah bicara not baloklah. Dirigen atau pelatih menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menuntun anggota. Tapi itu memang pengorbanan yang harus diberikan agar paduan suara bisa berkembang.

    Betul, materi suara orang Flores umumnya sudah baik, tinggal dipoles saja dengan teknik yang benar. Dan itu perlu kesabaran dari pelatih yang mau "kerja bakti". Kita sulit berharap pada pelatih-pelatih yang hanya terima jadi saja.

    ReplyDelete
  3. Bengawan Solo....saya sendiri tidak dapat memberikan secara tepat apakah kesaktian yang ada dalam lagu tersebut sehingga saya sendiri terpesona dengannya. Masih saya ingat lagi sewaktu mula-mula menjadi ahli kumpulan brass band di King Edward VII Secondary School, Taiping, Perak, Malaysia, lagu ini telah menjadi sebagai lagu wajib untuk kami semua 'warming up' sebelum memulakan persembahan. Malahan guru saya akan marah seandainya persembahan lagu ini gagal meresap ke dalam jiwanya...maka terpaksalah kami ulangi lagi!
    Begitu power sekali penangan lagu Bengawan Solo ketika era persekolahan saya di tahun 1970an.
    Sewaktu saya meniti ke alam remaja, saya telah mempunyai kemampuan untuk membeli seruling bambu dan harmonika menggunakan duit yang dihimpun sendiri. Dan apabila sahaja instrument itu berada dalam gengaman saya, maka suddah pastinya lagu Bengawan Solo turut menjadi lagu kegemaran saya untuk dimainkan.
    Sesungguhnya kesaktian Bengawan Solo itu tidak hanya berkisar di tempat kelahirannya di Solo, tetapi ia sudah semacam menjadi hak universal.Seni itu tiada batasnya. Dan semoga Allah akan memberkati Pak Gesang dan famili yang telah hidup bersama Bengawan Solonya untuk kesekian lamanya. God Bless You Pak Gesang.

    ReplyDelete