28 March 2009

Gereja kena virus politik



Di sini politik, di sana politik. Ke mana-mana aku mendengar orang bicara politik. Partai. Caleg. Kampanye. Obral janji. Contreng. Coblos. Dapil. Iklan politik. BPP alias bilangan pembagi pemilih. Konstituen.

Teman karibku, bekas aktivis demonstrasi anti-Soeharto 1998, akhir-akhir ini begitu doyan bicara politik. Padahal, dulu dia paling malas bicara politik. Dulu dia senang membahas gadis cantik karena wajahnya memang ganteng, penampilan perlente, karir bagus.

"Lapo ngomong politik? Sontoloyo kabeh!" kata temanku. Itu dulu!

Sekarang dia berubah 180 derajat. Politik itu penting, katanya. Sangat penting. Sebab, urusannya dengan negara, pemerintah, penyusunan undang-undang, kebijakan ekonomi, dan macam-macam. "Golput itu haram, Bung!" tegas kawanku.

"Kita harus cerdas memilih caleg. Dari ribuan caleg, 38 partai, pasti tidak semuanya buruk. Ada yang baik to," katanya.

Contohnya siapa? "Banyaklah," kata temanku sambil menyebut beberapa nama.

Aku curiga karena dia mengungul-unggulkan nama seorang pengusaha besar di Surabaya/Sidoarjo yang Tionghoa. Aku cek sana-sini ternyata temanku ini tim suksesnya. Dibayar berapa ya? Hehehehe...

Jalan-jalan ke Katedral Surabaya, nongkrong di kafe. Aha, ketemu lagi teman-teman lama, aktivis, penulis, pelatih paduan suara, Flores-Jawa-Tionghoa-Batak. Bicara politik lagi. Bicara caleg A, B, C, Z, berikut kiat-kiat memenangkan caleg tertentu.

"Bung, saya maju dari dapil X. Tolong bantu ya! Saya punya komitmen pada rakyat," ujar kenalan baru saya, orang Flores Barat. Isi pidatonya khas politisi: penuh janji-janji manis.

Orang-orang gereja, yang dulu mengambil jarak, bahkan alergi politik, sekarang ini sudah lain. Aku dengar para aktivisnya rajin bikin sosialisasi ke paroki-paroki di Keuskupan Surabaya. Walaupun pemilu bersamaan dengan Kamis Putih, kata bapak ketua komisi politik, umat kristiani jangan sampai golput.

"Gunakan hak suara Anda secara bertanggung jawab. Kita, umat Kisten, harus ikut bertanggung jawab pada masa depan bangsa Indonesia. Kita bukan penonton. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya," kata Pak Siswanto, bekas kepala sekolah SMA Katolik, yang juga politisi.

Adakah caleg-caleg yang bisa dipercaya?

"Ada. Masak, dari ribuan caleg nggak ada yang benar. Masak, semuanya maling? Semuanya koruptor," tegas Pak Yohanes, pengurus lingkungan di Sidoarjo.

Hehehe... ternyata Pak Yohanes yang asli Jawa ini tercatat sebagai tim sukses salah satu caleg Dapil I (Surabaya-Sidoarjo). Pantas saja bapak yang pandai menyanyikan Mazmur Tanggapan ini suka bicara politik di mana-mana.

Katanya, politik itu sangat dianjurkan oleh Alkitab. Pasal berapa, ayat berapa, kitab apa? "Hehehe.... Saya belum sempat buka Alkitab. Sekarang pencontrengan sudah dekat. Baca Alkitab nanti-nanti saja. Kita lagi sibuk kampanye," ujar Pak Yohanes.

Stevanus Roy, orang Flores, mantan aktivis PMKRI, bikin partai berbendera Katolik. Namanya Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), peserta Pemilu 2009 nomor urut 32. Lambang PKDI kalung rosario dan pohon natal.

Apakah Bunda Maria, ratu rosario, akan menolong PKDI? Orang-orang Kristen mau contreng karena ada pohon cemara natal yang warna hijau itu? Yang jelas, pada pemilu sebelumnya PKDI--dulu bernama Partai Katolik Demokrat--tidak laku. Tidak lolos ambang batas pemilihan, sehingga ganti nama.

"Mo moi PKDI le take? (Kamu kenal PKDI atau tidak?)" tanya saya kepada Kopong, orang kampung di Flores Timur.

"Go denga wati. PKDI nepe aku? Kame teti lewo moi bao nong banteng. (Saya belum pernah dengar. Kami di kampung tahunya hanya Beringin dan Banteng)," jawab temanku di kampung.

Lha, orang-orang Flores yang Katolik saja tidak kenal PKDI. Bagaimana pula mengharapkan orang-orang Katolik di Jawa yang kulturnya sangat berbeda? Atau, orang Tionghoa?

Aku heran kok ada politisi yang bikin partai tanpa basis massa yang kuat. Hitung-hitungan politiknya bagaimana? Apalagi, sejak dulu, kecuali Pemilu 1955 dan Pemilu 1971, orang Katolik itu kurang suka partai politik berbasis agama, termasuk agama Katolik.

Salut untuk orang Bali yang tidak ikut-ikutan bikin partai berbendera agama Hindu. Orang Bali memang cerdas, pandai mengolah potensi alam dan budayanya menjadi komoditas pariwisata kelas dunia. Kita-kita, hehehe..., ternyata masih doyan politik yang berdasar pengalaman penuh dengan retorika kosong bin gombal.

"Mas Hurek, tolong dukung saya ya. Aku ikut nyaleg," bunyi SMS Mbak Isti. Temanku yang satu ini selama bertahun-tahun lebih banyak mengurus bakti sosial, paduan suara, dan kegiatan gerejawi.

Kok ikut nyaleg? Sejak kapan belajar politik?

"Gak usah belajar segala. Hidup kita ini kan politik. Anda tahu gak, Yesus itu dibunuh, dihukum mati, karena konspirasi politik tingkat tinggi antara elite-elite politik Romawi, agamawan, provokator, dan massa," kata Mbak Isti serius.

Aku tertegun. Rupanya, diam-diam Mbak Isti sudah banyak membaca buku-buku politik, anatomi gerakan, hegemoni Gramsci, teologi pembebasan Sobrino, hingga Madilog-nya Tan Malaka.

Maafkan aku, Mbak Isti yang jelita. Selama ini aku kira kamu hanya fasih menyanyikan Mazmur Tanggapan dan Misa Lauda Sion. "Dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya!"

3 comments:

  1. hm......
    tak gereja aje yg kenak bg,,,
    smua bisa kena getahnya nih....
    asal jgn hanyut di Sungai kuantan aja lah,,,
    biar tak tmbah tercemar sungai kuantan tu...
    hihih
    slm knl

    ReplyDelete
  2. Yesus sangat aktif berpolitik, membuat gerakan akar rumput yang radikal, sibuk mencerdaskan wong cilik tertindas agar mempunyai cara berpikir yang berbeda, agar mementingkan sisi spiritual dibandingkan material.

    Akibat gerakan organisasinya lah, Yesus dihukum mati oleh Pontius Pilatus, atas desakan pemuka bait di Yerusalem, yang merasa terancam hegemoninya oleh gerakan Yesus. Yesus marah dan mau membersihkan sistem pertukaran uang di kuil, karena sistem tsb. membohongi rakyat kecil yang sudah miskin. Rakyat disuruh menukar uang Roma dengan uang kuil dengan dipotong komisi untuk pemuka/penguasa kuil, sebelum bisa masuk kuil untuk beli kurban dan membuat persembahan.

    Atas tindakannya mengobrak-abrik kuil dan mengkritik secara tajam sistem yang tak adil itulah, Yesus dihukum mati. Paling tidak begitu kata ilmuwan dan sejarawan Alkitab di barat.

    40 tahun setelah Yesus mati, kuil Yerusalem dihancurkan oleh kaisar Roma karena orang Yahudi memberontak, dan orang Yahudi diusir dari tanah Israel, menjadi diaspora sampai gerakan Zionis yang terkulminasi dgn berdirinya negara Israel pd tahun 1948. Sejak itu, agama Yahudi menjadi fokus pada "buku" (alkitab) dan perdebatan, bukan lagi pada persembahan. Karena budaya berpikir dan berdebat kritis itu, kaum Yahudi maju dalam segala hal.

    ReplyDelete
  3. Politik...? rasanya saya belum bisa menerima kata itu dalam hidup saya... apalgi berbicara para Caleg Katolik yang tidak punya masa dan pengaruh.. mau jadi apa? buang-baung uang... meding bantu mereka yang berkesusahan atau mereka yang terpinggirkan dan para pengemis.

    karena sekarang berpolitik bukan nurani tetapi kepentingan.

    ReplyDelete