19 March 2009

Eko Wahyuni penjaga Sanggar Agung



Oleh DIMAS ARIF HADIANTO

Namanya Eko Wahyuni, lahir di Blitar pada 1972. Ibu satu anak ini beragama Islam, tapi setiap hari mengurus Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya.

Sudah sembilan tahun Yuni, sapaan akrab Eko Wahyuni, melayani orang-orang Tionghoa yang sembahyang di Sanggar Agung dan Vihara Buddha Empat Wajah. Meski berbeda agama, Yuni sangat menghayati pekerjaannya di kelenteng.

“Waktu itu, tahun 2000, saya baru saja berhenti kerja. Daripada ngganggur, ya, saya terima saja tawaran kerja di sini. Namanya juga kerja, mungkin rezeki saya ada di sini,” tutur Yuni.

Banyak suka duka dirasakannya selama bekerja di Sanggar Agung. Bisa ketemu teman-teman lama. Bertemu dengan begitu banyak jemaat yang praktis semuanya Tionghoa. "Dukanya ya, capek. Apalagi pas hari-hari besar Tionghoa."

Sanggar Agung merupakan bagian dari Pantai Ria Kenjeran. Ia dikelola PT Granting Jaya, milik pengusaha Soetiadji Yudho. Di sini tersedia aneka hiburan: sirkuit balap, lapangan bulutangkis, gedung serbaguna, kya-kya, hingga stan pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis makanan.

"Nah, Pak Soetiadji itu yang menggaji saya,” urai Yuni yang pernah bekerja di toko spare part sepeda motor selama satu tahun itu.

Menurut dia, tidak semua umat yang sembahyang di Sanggar Agung itu baik perilakunya. Ada saja yang nakal. Misal: suka ambil buah-buahan, lilin, atau yosua. Itu yang membuat Yuni sedih. "Sembahyang itu kan untuk mengurangi dosa, kok malah ada umat yang suka nambah dosanya sendiri,” bebernya.

Yuni mengaku punya pengalaman tak terlupakan di kelenteng yang berada di bibir pantai itu. Sekitar pukul 21:00 Yuni memeriksa pintu-pintu yang memang harus ditutup. Dari kejauhan, dia melihat pintu belakang masih terbuka.

Lalu, dia berjalan menuju lorong pintu belakang untuk menutup pintu. Biasanya, Yuni tak pernah menoleh ke arah laut. "Nggak tahu kenapa saya menoleh ke laut. Wah, ada sesosok orang, berbaju putih, tinggi besar, terlihat jelas dari kejauhan. Dia berdiri di atas air pantai," kenangnya.

Setelah berkonsultasi dengan orang-orang Tionghoa, mereka yakin itu adalah Dewi Kwan Im. Bos Pantai Ria, sekaligus pemilik Sanggar Agung, Soetiadji, akhirnya memutuskan untuk mendirikan patung Dewi Kwan Im berukuran besar di bibir pantai.

"Itulah sejarah dibangunnya patung Dewi Kwan Im,” kata Yuni yang tinggal di kawasan Lebakarum, Surabaya.

No comments:

Post a Comment