01 April 2009

Cak Kartolo raja lawak dan kidungan Surabaya



Ketika banyak pelawak senior rame-rame turun panggung, bahkan meninggal dunia, Kartolo (64 tahun) masih tetap berkibar. Kidungan dan celetukan khasnya selalu ditunggu-tunggu masyarakat Jawa Timur. Pria kelahiran Prigen, Pasuruan, ini memang seniman legendaris yang sulit dicari gantinya.

Apa saja kesibukan Anda sekarang?

Yah, biasa-biasa aja. Bulan Februari kemarin (2009) habis mentas di Jakarta. Main bareng sama Pak Basofi (mantan gubernur Jatim Basofi Sudirman) di Taman Ismail Marzuki. Tapi kalau nggak ada kegiatan, biasanya ya, di rumah. Menghabiskan waktu sama cucu-cucu saya.

Sekarang ini sedang musim kampanye. Apakah Anda ditanggap juga?

Nggak. Saya libur. Karena memang saya nggak minat. Mungkin kalau teman-teman seniman lain seperti Parto dan Dorce bisa jadi. Aku seh nggak neko-neko. Semua itu hak masing-masing individu.

Apa resepnya agar tetap bertahan selama 40 tahun lebih?

Yang paling penting itu sehat. Nek gak sehat, yo, gak isok nggolek duwek. Juga banyak baca buku, surat kabar, lihat TV, untuk referensi. Karena semuanya terus berkembang. Harus fleksibel lah pokoknya.

Setiap kali ngidung, selalu tidak sama. Kenapa?

Tergantung permintaan. Biasanya, panitia yang mengundang untuk manggung, memberitahu siapa tamunya. Kalau yang nonton pejabat atau orang-orang politik, ya, saya beri kidungan dengan pesan politik. Begitu pun sama halnya dengan yang lainnya. Intinya disesuaikan dengan siapa yang nonton lah.

Sejauh ini sih, alhamdulillah, nggak ada komplain dari pihak lain. Karena memang sebelum naik panggung, saya konsep lebih dulu. Kalau pun harus memberi pesan-pesan moral lewat kidungan, ya, bahasanya ringan-ringan saja. Diturut syukur, nggak diturut yo gak popo.

Bagaimana kiat bisa main bareng istri (Kastini) di atas panggung? Apakah masalah rumah tangga tidak mempengaruhi penampilan Anda.

Pokoke, tetap menjaga profesionalitas di atas panggung. Masalah rumah tangga nggak boleh dicampuradukkan ketika saya tampil di atas panggung. Tapi, alhamdulillah, sampai detik ini aku baik-baik aja. Aku ambek bojoku malah sering cengengesan.

Apakah ada arahan agar putra-putri Anda menjadi pelawak?

Oh tidak sama sekali. Kalau soal jalan hidup, semua saya serahkan ke tangan anak-anak saya sendiri. Biar mereka yang menentukan. Demokratis saja lah. Sekarang ini anak saya sering ngajar tari di beberapa sekolah. Masih tetap di jalur seni, tapi bukan lawak. Yang paling penting adalah kuliahnya lancar.

Apakah pengasilan sebagai pelawak bisa mencukupi kebutuhan keluarga?

Alhamdulillah cukup. Besar kecil honor itu relatif. Memang, saya nggak munafik, sampai saat ini yang menghidupi saya dan anak istri ya, dari lawak ini. Tapi, yang terpenting buat saya, penonton respek dan bisa tertawa. Itulah arti sukses buat saya.

Melawak itu sebenarnya susah dan bisa menjadi beban. Iyo nek ngguyu, nek enggak yo, kudu pinter ngimprove.

Surabaya dulu dikenal sebagai gudangnya pelawak. Kenapa sekarang lesu?

Sosialisasinya kurang, sehingga masyarakat khususnya, anak-anak muda, nggak berminat. Bahkan, ironisnya, anak muda sekarang malu untuk melestarikannya. Dianggap kuno. Masyarakat penggemar ludruk ini kebanyakan orang sepuh-sepuh. Di samping itu, fasilitas juga kurang. Seperti gedung pertunjukannya nggak didukung sound system yang bagus.

Melawak adalah pekerjaan yang sulit. Apakah pernah melawak, tapi penonton nggak tertawa?

Oh, kalau itu sih, sering. Pengaruh sound system yang jelek, banyolan-banyolannya lawas, dan mungkin memang nggak diperhatikan. Contoh kalau diundang di acara reuni. Ada yang tangis-tangisan, ada yang ngomong sendiri. Jadi, ya, nggak nyambung.

Dulu Anda dkenal sebagai rajanya kaset. Apakah sampai sekarang masih bikin kaset/CD/VCD?

Sudah nggak karena sudah semakin banyak kaset-kaset ludruk banyolan. Di samping itu, sekarang ini banyak bajakan. Wedi gak payu.

Bagaimana menyikapi soal semakin tenggelamnya kesenian daerah di tengah-tengah seni modern sekarang ini?
Saya tetap optimistis. Asalkan, sosialisasi bagus, anak-anak mudanya digerakkan ke arah sana, dan jangan menanamkan image bahwa kesenian daerah seperti ludruk dan lawak adalah sesuatu yang kuno dan memalukan.

Katanya, Anda selalu usahakan kembali ke rumah meskipun manggung di luar kota?

Benar. Sebisa mungkin saya nggak nginap. Keculai kalau tempatnya jauh seperti di Jakarta. Soale, bojoku kangenan ambek aku. Hehehehe...

1 comment:

  1. Silahkan mampir ke Blog saya http://kartolo-mp3.blogspot.com Luengkap! ada review crita, bisa play langsung, bisa di download, tiap minggu diusahkan diupdate dgn crita2 koleksi sy. http://kartolo-mp3.blogspot.com "BLOG YANG MEMANJAKAN PENGGEMAR KARTOLO CS"

    ReplyDelete