19 March 2009

Bahasa Lamaholot pun terancam musnah




Ina ama kaka air ra dore misa minggu palma lali Hinga, Adonara Timur. Ra nepi koda lohumen [Lamaholot] mela-mela. Nato go wata kenaen uhe, Ina! Hehehe...

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK
Putra asli Lamaholot, tinggal di Surabaya

Djoko Pitono, wartawan senior, pemerhati bahasa, menulis di RADAR SURABAYA (8 Maret 2009) tentang bahasa-bahasa daerah yang sudah musnah, sedang musnah, dan terancam musnah. Mengutip Prof Dr Kisyani-Laksono dari Universitas Negeri Surabaya, Djoko menilai bahasa Jawa sekarang ini cukup aman, tapi tetap terancam musnah.

Maklum, sejak 20-an tahun lalu ada kecenderungan para orang tua di Jawa, khususnya di kota, khususnya lagi di perumahan-perumahan, sengaja membiasakan anak-anaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Bahkan, saat ini mulai dibiasakan berbahasa Inggris. Bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Jawa, tidak dibiasakan.

Prof Kisyani juga mencatat contoh menarik. Bahasa Ibu di Desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Maluku Utara, saat ini penuturnya tinggal delapan orang. Semuanya sudah lanjut usia. Yakni, lima orang di Desa Gamlamo (pada 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di Desa Gamici.

"Bahasa Ibu termasuk bahasa yang sangat kritis. Anak cucu para penutur bahasa ini menggunakan bahasa Ternate. Ini berarti upaya pembinaan untuk mempertahankan bahasa daerah itu tidak berhasil," tulis Prof Kisyani-Laksono.

Bagaimana dengan bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur? Prof Kisyani tak sempat menyinggung sama sekali.

Tapi, menurut saya, yang berasal dari kebudayaan Lamaholot, bahasa mayoritas di Flores Timur pun sudah lama terancam keberadaannya. Jumlah penutur terus berkurang. Dan tren ini berjalan terus jika tidak segera disadari oleh pemerintah daerah setempat: Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Kabupaten Lembata.

Mengapa bahasa Lamaholot--juga sembilan bahasa ibu lain di Pulau Flores--terancam musnah?

1. TIDAK ADA BUDAYA TULIS.

Orang Lamaholot [Flores Timur dan Lembata] 100 persen hidup dalam budaya lisan. Nenek moyang kami tidak bisa menulis. Buta huruf. Tidak punya aksara. Maka, budaya ngomong, KODA KIRING, sangat terasa di Flores Timur. Orang suka menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, untuk KODA KIRING. Membahas belis perempuan, berapa banyak gading, ukuran gading, dan sebagainya menjelang pernikahan.

Di Jawa, meski bahasanya pun terancam, budaya tulis sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Aksara Jawa, HANACARAKA, ada. Siapa pun bisa mempelajari meski tidak gampang. Di Flores, sekali lagi, budaya tulis ini 0,00 persen.

2. GENGSI LAMAHOLOT RENDAH.

Bahasa Lamaholot justru sengaja DIHINDARI orang-orang Lamaholot sendiri karena dirasa sebagai bahasanya orang kampung. Makin sering engkau berbahasa Lamaholot, engkau dianggap orang yang tidak maju dari dusun. Bukan bahasa orang kota.

Karena itu, orang-orang yang satu kampung dengan saya di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, biasanya tidak mau bercakap Lamaholot ketika sudah kerja dan tinggal di Lewoleba, Larantuka, Kupang, Denpasar, dan sebagainya. "Koda kang lohumen loka. Go luparo kae," kata teman saya sesama orang kampung.

Artinya: "Saya tidak bicara lagi dalam bahasa Lamaholot. Saya sudah lupa."

Lewoleba itu ibu kota Kabupaten Lembata yang berbatasan langsung dengan kecamatan saya, Ile Ape. Jarak dari desa saya hanya 25 kilometer. Tapi begitu teman-teman saya sekolah di Lewoleba, kemudian kerja, kemudian tinggal di Lewoleba, seketika itu juga dia stop berbahasa Lamaholot.

"Kita so lupa le. Engko jangan bicara bahasa daerah ka," kata teman saya yang sombongnya minta ampun. Malu, rendah diri, kurang keren kalau berbicara dalam bahasa daerah.

3. PEJABAT ENGGAN BERBAHASA LAMAHOLOT.

Kalau orang biasa sekelas sopir, tukang becak, penjaga toko, pegawai negeri, guru, nelayan, tukang kayu... saja "lupa" bahasa daerah [dalam hitungan bulan lho], bagaimana pula dengan pejabatnya? Sangat parah.

Pejabat-pejabat Flores Timur atau Lembata, juga pegawai-pegawainya tidak pernah berbahasa Lamaholot. Sehari-hari mereka berbahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu khas Larantuka. Dengan berbahasa Nagi (apalagi bahasa Melayu Kupang), maka status sosialnya lebih tinggi. Bahasa Lamaholot, sekali lagi, dianggap kampungan.

Inilah bedanya dengan di Jawa. Pejabat-pejabat entah itu menteri, gubernur, bahkan presiden macam Pak Harto, Megawati, atau Susilo Bambang Yudhoyono selalu berbahasa Jawa ketika berkunjung ke desa-desa. Juga senang dihibur dengan musik atau kesenian Jawa.

Di Surabaya, belum lama ini pemerintah kota memerintahkan sekolah-sekolah mengadakan Hari Bahasa Jawa satu kali seminggu. Para siswa dan guru pada hari itu harus berbahasa Jawa, menggeluti kesenian dan budaya Jawa.

4. TIDAK ADA PELAJARAN BAHASA DAERAH.

Kalau pejabatnya saja malas berbahasa ibu, bagaimana mau memikirkan pelajaran bahasa daerah? Di Jawa pelajaran bahasa Jawa masih ada di sekolah dasar, bahkan hingga sekolah menengah pertama. Ada buku-buku pelajaran bahasa Jawa yang sangat banyak.

Ada fakultas atau jurusan bahasa Jawa. Ada sekolah menengah kejuruan bahasa Jawa. Banyak sekali sanggar, padepokan, dan kantong-kantong konservasi budaya Jawa di kota-kota Pulau Jawa. Jadi, kalaupun anak-anak muda sekarang kurang fasih berbahasa Jawa, masih ada konservatori bahasa dan budaya Jawa.

Berbeda dengan bahasa Jawa yang pakem dan langgamnya nyaris seragam, bahasa Lamaholot banyak variasinya. Nah, kalau mau diajarkan pakai versi mana? Adonara Timur? Adonara Barat? Lamahala? Solor Timur? Solor Barat? Flores Timur Daratan? Ile Ape? Lamalera? Lebala? Kalikasa? Puor? Boto? Waiteba?

Sampai sekarang belum ada linguis atau ahli bahasa yang mempelajarinya. Sebab, pemerintah daerah memang cenderung antibahasa daerah.

5. TIDAK ADA MEDIA BERBAHASA DAERAH.

Di Jawa, bahkan di Jakarta yang Betawi, banyak sekali radio swasta yang menyiarkan program bahasa Jawa. Musik Jawa, campursari, langgam, lawak, kidungan, kentrung, ketoprak, wayang kulit, serta ratusan kesenian Jawa lainnya. Di Flores tidak ada. Nol besar.

Media cetak tambah tidak ada. Sebab, itu tadi, orang Flores tidak punya budaya tulis. Hanya budaya lisan. Tanpa dokumentasi tertulis, pelestarian bahasa sulit dilakukan. Sejumlah peneliti seperti Gorys Keraf, Inyo Fernandes, Thres Kumanireng sudah pernah meneliti bahasa Lamaholot. Tapi belum ada pedoman atau katakanlah tata bahasa Lamaholot yang bisa dipelajari secara ilmiah.

6. TIDAK ADA PENULIS BAHASA DAERAH.

Ada kaitan dengan nomor 5. Di lingkungan Jawa, Sunda, Bali, misalnya, banyak sekali penulis yang menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa, Sunda, Bali. Pak Suparto Brata di Surabaya, begawan sastra Jawa, setiap hari menulis artikel, cerita, kolom... dalam bahasa Jawa. Bahkan, karya Pak Suparto bisa diakses dengan mudah di internet.

Di Flores Timur mana ada? Alih-alih menulis dalam bahasa Lamaholot, berbicara saja sungkan, LUPA, malu. Hehehe...

7. TAK ADA REGENERASI PEMANGKU ADAT.

Bahasa lamaholot kelas tinggi lazimnya hanya dikuasai tua-tua adat. Sebagian besar sudah meninggal dunia. Generasi muda yang sekolah atau merantau di kota besar, khususnya Malaysia, praktis sudah jauh dari akar budayanya. Ini membuat kemampuan KODA KIRING, sastra Lamaholot tidak jalan.

Ditambah ketiadaan minat, ketiadaan dukungan pemerintah, komplet sudah. Bahasa Lamaholot jelas masuk daftar salah satu bahasa daerah yang terancam PUNAH.

Belum lama ini saya menerima e-mail dari seseorang yang mengaku berasal dari Ile Ape, satu kecamatan dengan saya. Dia kerja di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Tadinya saya mengira dia menulis dalam bahasa Lamaholot, bahasa Nagi, atau setidaknya bahasa Indonesia lah. Eh, ternyata BAHASA INGGRIS.

Saya geleng-geleng kepala. Hebaaat!

Bagaimana mungkin saya, yang tinggal di Jawa Timur, yang tiap hari berbahasa Jawa dan Indonesia, diminta melestarikan bahasa Lamaholot, sementara teman-teman di LEWOTANAH (tanah Lamaholot) tidak mau berbahasa Lamaholot?

23 comments:

  1. untuk sebagai bangga akan bahasa daerah seperti saya yang ada dirantau, sering menggunakan bahasa daerah ini dalam kelompok/ group daerah yang ada di dunia maya ini, juga mungkin akan ikut melestarikan bahasa daerah sendiri.

    ReplyDelete
  2. Kang Eko, terima kasih atas komentar anda.
    Ada perantau yang bangga dengan bahasa ibunya macam orang Tionghoa di Indonesia atau orang Jawa di Suriname, tapi ada juga yang sebaliknya. Pengguna bahasa Lamaholot ini, menurut saya, sebagian besar kebalikannya.

    Orang Jawa harus berterima kasih kepada penduduk keturunan Jawa di Suriname. Orang Lamaholot perlu belajar sama orang Jawa dan Tionghoa bagaimana menghargai bahasa dan kebudayaan sendiri, dengan tetap beradaptasi dengan lingkungan serta ikut perkembangan zaman. Salam.

    ReplyDelete
  3. aku kira di mana2 bhs daerah terancam krn sdh jarang dipake. dominasi bhs inggris juga mengancam bhs indonesia lho. pd akhirnya yg menang itu bhs yg unggul.

    ReplyDelete
  4. tapi kan masih byk kaset2/cd lagu lamaholot. aq kira lagu2 daerah masih sangat disukai orf flotim n lembata.

    ReplyDelete
  5. Benar banget. Lagu-lagu daerah Lamaholot, termasuk lagu gerejawi, sangat disukai orang-orang Lamaholot. Itu salah satu kekuatan kita. Sekaligus bisa menahan bahasa daerah kita dari gempuran bahasa-bahasa luar yang lebih perkasa.

    Kang Eko, terima kasih atas komentar anda. Sayang sekali, belum banyak blog orang Lamaholot yang berbahasa Lamaholot.

    ReplyDelete
  6. iya.. saya setuju dengan tulisan ini.. kelemahan bahasa kita orang flores memang tidak dibukukan. saya dulu pernah mendengar ada seorang pemerhati linguistik yang justrui orang belanda yang mengadakan penelitian tentang bahasa dan membukukan dalam kamus bahasa daerah.. dulu saya pernah baca beberapa buku tentang bahasa daerah saya.. tetapi sekarang sudah gak tau arahnya. masih baik bahasa jawa.. yang ada pendidikan bahasa daerah di sekolah. dan satu kesulitan membuat buku bahasa-bahasa di Flores adalah banyaknya ragam bahasa yang digunakan. tapi saya ada keinginan sebenarnya untuk membuat paling tidak kamus bahasa daerah.. bahasa wangka tempat lahir saya... mimpi.. saya akan coba bung... thanks untuk tulisannya... sangat membantu..

    ReplyDelete
  7. blog bahasa daerah? bisa saja kita tulis tapi seberapa orang yang baca ya... belum lagi artinya... kalo dimasukan dalam kurikulum sekolah itu mungkin ada benarnya bung..

    ReplyDelete
  8. Bgus blognya yg ini...
    Heran and kasihan jg kenapa orang kita malu omong bahasa daerah kita sendiri.Kalau mau bicara bahasa lamaholot, jujur saja saya tidak terlalu bisa karena saya asli nagi.Jangankan bahasa lamaholot yg mau di pake, bahasa nagi saja kadang orang malu kalau mereka sudah keluar daerah.

    ReplyDelete
  9. lamaholot adalah kebudayaan yang penuh dengan misteri, semakin menggali, semakin kompleks.
    tapi bukankah itu yang membuat budaya lamaholot masih tetap bertahan...? teman-teman Generasi muda Adonara (GEMA) surabaya sepertinya akan banyak meminta bantuan pada kaka. thanks

    ReplyDelete
  10. Terima kasih aya-aya Abner. Semoga generasi muda Adonara makin semangat dan maju.

    ReplyDelete
  11. Blognya bagus. Sebenarnya bukan hanya bahasa lamaholot yang terancam punah, tetapi bahasa daerah lain seperti dawan dan tetun terik di Timor Barat juga terancam punah karena keengganan orang asli untuk mengunakan bahasa daerahnya termasuk meneruskan nya kepada anak cucu...nya!

    Salam, Gorys

    ReplyDelete
  12. Goe sependapat, tite buka blog khusus bahasa Lamaholot, goe yakin ata dike aja yg mau baca. Kalo di daerah Manado, kame herun, pupu wekit pe kame pake bhs Lamaholot.Kenapa tite miat koda kirin taan bahasa Lamaholot, goe bangga kalo gaoe pake bahasa Lamaholot, karena neme rae roi goe klu goe org Flores Timur. Slm utk Lambert, goe tun telo iak di Waipukang, sekolah di SMP AMPERA.

    ReplyDelete
  13. Berniat melestarikan bahasa??
    Kalau iya.. kebetulan kita mempunyai minat yang sama.
    Hingga saat ini dikomputer saya sudah ada kamus (3 bahasa)dan Tau mo nea ite.. (panduan turis 3 bahasa)(Manggarai barat, NTT)siap untuk dicetak (menunggu proses lebih lanjut dari kompas, Jakarta))dan siap untuk bekerja sama membuat versi bahasa daerah lain.

    mari pertahankan budaya (bahasa) nasional Indonesia !!!
    flaby
    truno_28@yahoo.co.uk

    ReplyDelete
  14. torang po ido jao dari nagi me torang te perna lupa bahasa nagi,me dorang di nagi sekerang lebe suka iko artis sinetron pung cara omong,begena bisa torang yang ido jao lebe bisa omong nagi dari orang yang ido di nagi,sekerang bahasa nagi meking kaco balo tecampo mo bahasa laeng,kalo tero begini kita rasa hatu waktu bahasa nagi so pasti ilang.

    ReplyDelete
  15. sapa bisa bahasa nagi,kalo bisa bantu saya buat susun kamus bahasa nagi,khan lebih berguna buat ana cucu torang semua,cuma jangan masukan istilah atau yang kesannya porka dan jorok,

    ReplyDelete
  16. aq dilahirkan disabah tp dirumah qmi guna bahasa lamaholot'kame gelupakem hala

    ReplyDelete
  17. Terima kasih aya2 Ina. Mo inam amam aku lewun? Adonara?

    Salam damai.

    ReplyDelete
  18. bahasa kalo kurang digunakan, lama2 memang bisa hilang. dan itu ada kaitan dgn makin meluasnya penggunaan bahasa indonesia dan inggris...

    ReplyDelete
  19. memang benar abang hurek. Bahasa Lamaholot sebagai media dan ekspresi budaya Lamaholot tidak terlepas dari pengaruh dinamika perkembangan dan kemajuan dimana mobilitas masyarakat di tanah Lamaholot begitu tinggi sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai bilingualisme yang pada gilirannya menciptakan suatu pertarungan budaya dan bahasa. perlu dirancang suatu strategi yang dinamis dan terarah menuju pelestarian bahasa Lamaholot yang kita cintai.

    Selamat natal buat abang Lamber, sek.

    ReplyDelete
  20. Untuk bahasa lamaholot, kamusnya klow tidak salah sudah disusun Pa' Felix Sanga dan terbit di Jogja. Pa ini juga memang perna masuk tim untuk susun kamus besar BI sama2 dgn Harimurti Kridalaksana.
    Tetapi beberapa kata penting misalnya "Gemohing", saya bolak balik sepanjang hari di itu kamus pun tidak ketemu hehehehe. Tapi salut saja buat mereka yang sudah pertahankan khasanah ini lewat sejumlah media seni (lagu daerah, baik pop, maupun untuk upacara) juga mereka yang bicara lewat media maya seperti Pa' Hurek dan Nuha Waibalun......Omong2, memang ada usaha untuk serius menyelamatkan bahasa dari kepunahan, yang gaungnya bahkan didengar oleh kami yang bukan selalu bergulat dengan rumitnya tantangan berbahasa yang baik.....

    ReplyDelete
  21. Goe orang jawa asli yg kawin dgn nona adonara dan menetap di Flores Timur hingga sekarang sejak penempatan PNS vertikal thn '99. Sy turut prihatin memang. Namun jangan senaif itu utk ina, ama, kaka, arin.... Hanya generasi2 tertentu saja yg 'sok' utk tidak memakai bhs lamaholot. Sy sendiri belajar dri kehidupan se-hari2 dan yg terpenting adalah mempersatukan bhs lamaholot itu sendiri. Bhs lamaholot di adonara berbeda aksen dgn bhs lamaholot di tanjung bunga, konga, waibalun, solor seluruh. Shg akhirnya mempengaruhi arti dri bhs yg digunakan. Mari satukan persepsi satu bahasa lamaholot. Senaren.

    ReplyDelete
  22. Mudah2 an ada orang2 Flores yang menstandarkan bahasa Flores yang paling banyak dipakai penduduk disana secara tertulis (dibukukan). Demikian pula diadakan buku2 cerita anak2 dalam bahasa Flores sederhana supaya bahasa dan budaya Flores tidak musnah.

    ReplyDelete
  23. memang ada penyusan bhs krn globalisasi. komunikasi makin lintas batas, tidak lagi komunalis seperti tgahun 70an dan 80an.. dan itu membuat bhs indonesia lebih dibutuhkan ketimbang bhs daerah..

    ReplyDelete