04 March 2009

Andaikan Obama Tetap di Indonesia



Barack Obama pidato pelantikan. Sumber foto: bbc.co.uk


Andaikan Barrack Obama tetap tinggal di Menteng, Jakarta, Indonesia. Mungkinkah dia bisa sehebat sekarang? Punya kapasitas menjadi presiden Republik Indonesia? Jawabannya sudah jelas: TIDAK MUNGKIN.

Mustahillah seorang Obama jadi kepala negara Indonesia. Mengapa?

1. Obama bukan Islam.

Agama mutlak penting di Indonesia. Sehebat apa pun Anda, kalau bukan Islam, agama mayoritas, jangan pernah mimpi jadi presiden. Di Amerika Serikat sekalipun sama saja.

Andaikan Barrack Obama bukan Kristen, mustahillah dia jadi presiden USA. Maka, kita bisa paham mengapa media massa USA selama berbulan-bulan meriset apa sih agama Obama sebenarnya.

"Boro-boro jadi calon presiden, umat Katolik minta agar jadwal pencoblosan pemilu 9 April 2009, yang bersamaan dengan hari Kamis Putih, diubah sedikit saja ditolak sama KPU dan pemerintah. Aspirasi orang Katolik di NTT dianggap angin lalu," kata teman Flores, yang protolan seminari di kampung.

Yah, jangankan presiden, jabatan-jabatan publik lainnya macam gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, bahkan ketua RT pun pakai ukuran agama. Bahkan, akhir-akhir ini ada tren menarik di sejumlah daerah. Islam saja tidak cukup. Si kandidat harus menjalani fit and proper test mengaji Alquran. Ngaji harus lancar, fasih.

2. Obama bukan Jawa.

Ayah tirinya saja yang Jawa, Pak Sutoro. Faktor JAWA selama bertahun-tahun menjadi kriteria presiden Indonesia. Jika engkau orang Papua, Maluku, Flores, Dayak, Timor, Bali, Tionghoa... jangan mimpilah jadi presiden. Jadi blogger sajalah!

Jusuf Kalla yang orang Bugis-Makassar rupanya ingin menghapus mitos bahwa presiden Indonesia harus Jawa. Alasannya, masyarakat Indonesia sudah makin rasional, makin berubah, makin modern. Orang Jawa pun, harus diakui, jauh lebih maju dan cerdas dibandingkan suku-suku lain di tanah air.

Saya membayangkan, jika Barrack Obama mencalonkan diri [atau dicalonkan partai-partai] sebagai presiden, setelah sebelumnya "menyesuaikan agama" alias jadi mualaf, bakal muncul gugatan-gugatan yang bikin pening kepala. "Lha, wong Jowo kok ireng, rambute kriwul-kriwul? Gak ono potongan Jowo blas. Wong ireng kok nekat dadi presiden?" Dan seterusnya.

3. Obama tak punya dinasti politik.

Yang ini pernyataan Muhammad Fadjroel Rachman di The Jakarta Pos edisi Minggu 1 Maret 2009. Begini petikannya:

"If Barrack Obama were in Indonesia, he would not be able to run for the presidency because there is no convention here. To run for the presidency, he must change his nama to Obama Soekarnoputra. Or his name must be Obama Yudhoyono if he were from Yudhoyono's Democratic Party or Obama Wahid if he were from the National Awakening Party (PKB).

"It would be impossible for political regenartion to occur in Indonesia because many political parties here are occupied and controlled by dynasties. Political parties are based on bloodlines."


4. Obama terlalu muda, 47 tahun.

Di Indonesia, calon presiden rupanya menjadi kursi empuk buat para manula (manusia usia lanjut), pensiunan, purnawirawan tentara, kakek nenek. Susilo Bambang Yudhoyono, pensiunan tentara, yang selalu tampak kelelahan, senang jadi presiden. Megawati yang nenek-nenek, sudah seharusnya ngemong cucu, punya ambisi besar membalas kekalahan dari Susilo.

Sutiyoso, calon presiden yang bekas gubernur Jakarta, ya kakek-kakek. Jusuf Kalla ya kakek sepuh. Sri Sultan Hamengkubuwono X pun jelas lansia. Prabowo juga tidak bisa dibilang muda dan segar. Aneh, presiden yang tugasnya sangat berat, kerja hampir 24 jam, justru diisi oleh manusia-manusia Indonesia yang sudah lewat usia produktif.

Sebetulnya kita, orang Indonesia, tidak bodoh-bodoh amatlah. Pada awal kemerdekaan Bung Karno diangkat sebagai persiden. Usia Bung Karno 44 tahun. Sangat ideal. Tapi, kita tahu, Bung Karno kebablasan, berkuasa terus, tidak mau turun. Bahkan, dijadikan presiden seumur hidup segala. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi ketika si manula jadi presiden di republik yang sangat luas dan rumit ini.

Pak Harto juga sama. Dia jadi presiden ketika masih usia produktif, 45 tahun. Betapa segar dan tampannya Presiden Soeharto pada periode pertama. Kita bisa melihat foto-foto lama Pak Harto di awal Orde Baru.

Muda, segar, punya visi jangka panjang dengan pembangunan lima tahun, pembangunan 25 tahun, akselerasi modernisasi, dan macam-macam lagi.

Tapi apa yang terjadi? Pak Harto kebabalasan. Tujuh periode menjadi presiden sampai TOPP: tua, ompong, peot, pikun. Istilah TOPP ini diperkenalkan Pak Harto sendiri. Jadinya, ya, beliau tidak pernah bisa menikmati masa tuanya. Meninggal dalam kondisi mengenaskan. Andai saja Pak Harto mundur pada periode kedua, katakanlah 1977? Ciamik soro!

Orang muda Indonesia kurang percaya diri. Konfidensi tak ada. Yang namanya orang muda itu, ya, mereka-mereka yang berusia di bawah 30 tahun dan belum menikah. Kalau usia 23 tahun, tapi sudah menikah, ya, bukan pemuda. Definisi ini, saya kira, banyak yang sepakat. Tapi apa yang terjadi di Indonesia?

Hampir semua organisasi pemuda di Indonesia, sejak 1980-an, selalu dipimpin orang berusia 40 tahun ke atas. Bahkan, ada juga yang 50 tahun, mendekati 60. Silakan cek pengurus atau aktivis Komite Nasional Pemuda Indonesia, Pemuda Pancasila, Pemuda Katolik, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Pemuda Anshor... dan seterusnya.

Para ketua organisasi yang pakai nama "pemuda" ini rata-rata usianya jauh di atas Barrack Obama, tapi tidak mau turun. Tetap merasa pemuda. "Kalau saya mau jadi ketua terus, Anda mau apa? Itu kan urusan organisasi saya," tegas seorang ketua organisasi pemuda kepada saya. Usianya sudah lewat 50.

5. Obama berkulit hitam, rambut keriting.

Diakui atau tidak, suku-suku keriting dan hitam di Indonesia macam Papua, Maluku, Flores, dan kawasan Indonesia Timur selalu dianggap inferior. IQ jongkok. Orang hitam biasanya diidentikkan dengan kuli pelabuhan, tukang pikul, tukang pukul, debt collector, petinju, satpam, dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya.

Mana ada orang hitam di Indonesia yang bintang film?

"Banyak, Bung! Tapi biasanya jadi tokoh-tokoh jahat seperti tukang pukul, preman, pemerkosa, orang bodoh, dan sejenisnya. Hehehe," kata teman saya yang Maluku.

"Aduhai, Wong Ireng, nasibmu hitam sehitam kulitmu!" kata teman saya yang Jawa.

Juampuuut!

12 comments:

  1. obama emang luar biasa. jarang ada presiden amrik kayak dia.

    ReplyDelete
  2. Orang hitam yang merumput di lap hijau banyak
    MUTIARA HITAM

    ReplyDelete
  3. Sistem politik di Indonesia memang melupakan kaderisasi, dan itu gak lepas dari politik Orba. KNPI dsb itu kan produk Orba utk melakukan hegemoni politik. Tapi aku yakin pelan2 semuanya akan berubah. Sudah mulai muncul kok anak2 muda idealis dlm pentas politik.

    ReplyDelete
  4. Itu hebatnya indonesia... sehebat apapun anda kalau anda minoritas tetap jadi kerdil...

    kapan ya bisa lebih baik...? ngarep yang gak-gak..

    ReplyDelete
  5. Bernas sekali, mas Hurek.

    Saya yang Jawa aja risih kalo segala sesuatu di negeri ini harus diukur berdasarkan Jawa dan Jawa. Kalo Jawa kebanjiran, seluruh penjuru negeri harus tahu. Kalau di Jawa ada kesusahan, seluruh negeri harus ikut berempati.

    Mangkanya saya termasuk salah satu yang setuju kalo ibukota negara dipindah ke Kalimantan atau Sulawesi. Biar tahu rasa itu orang-orang Jakarta yang sudah terlanjur manja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang ini saya sebagai orang jawa sangat setuju

      Delete
  6. manusia itu py jalan hidup masing2. kan gak perlu jd presiden or pejabat to??? org papua bisa jd pemain bola hebat, petinju dsb. org terkenal gak hrs masuk politik.
    dimana2 yg namanya politik selalu ada voting n yg menang mesti mayoritas. kira2 gicu..

    ReplyDelete
  7. Itulah kita yang minoritas...pasti selalu dinomorduakan.Buktinya tetap aja mau langsungkan Pemilu 9 April walaupun hari itu ada perayaan keagamaan, coba kalau pemilu jatuhnya pas hari raya mereka yang mayoritas, pasti ditunda.Sebenarnya mereka yang mayoritas sifat n tingkah lakunya kerdil mereka takut tersaingi tapi tetap berusaha dan terus pada jalur kita. apapun yang terjadi hidup terus berjalan.

    ReplyDelete
  8. obama memang fenomenal. baru kali ini ada org hitam jadi presiden USA. butuh ratusan thn. gak gampang memang.

    ReplyDelete
  9. Buseet...artikel di atas bikin sy makin melek...ada benarnya dan memang gak lepas dari konteks rasionalisasi pemikiran yang bikin kita "ngeh" ala kita SENDIRI...tulisan bagus...keep on write...and good luck..

    ReplyDelete
  10. Makasih Bung Hurek,

    sudah membukakan mata kita. Indonesia itu bukan pulau jawa saja. mungkin indonesia itu lebih baik jawa saja supaya yang lainnya bisa memulai hidup baru, dan tak perlu menunggu sisa2 dari jawa.

    ReplyDelete
  11. kira2 nasib org Jawa klo ibukota RI pindah ke luar pulau Jawa yach ???

    pasti pada menangis darah....

    ReplyDelete