25 March 2009

Aming Aminoedhin presiden penyair Jatim



Bagi Aming Aminoedhin (52), puisi ibarat makanan pokok. Sulit membayangkan Aming hidup tanpa puisi. Dia menciptakan puisi, mengajak anak-anak muda menulis puisi, membaca puisi, hingga menerbitkan buku kumpulan puisi dengan biaya sendiri.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Sekarang musim kampanye. Apakah Anda libur sejenak untuk menulis puisi?

Oh, tidak. Kampanye, ya, silakan kampanye. Itu urusan politisi. Penyair seperti saya, ya, urusannya puisi. Akan lebih bagus kalau para politisi itu senang puisi agar mereka punya perasaan yang lebih halus, bisa menangkap suara hati rakyat.
Saya pernah menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) berjudul Kursi Kuwi.

"Kursi kuwi bisa gawe laline pikir. Marang kanca lan sapadha-sapadha. Nanging kursi kuwi bisa uga lingsir. Ndadekake wong bisa kenthir." Maka, hati-hati dalam mengejar kursi legislatif dan eksekutif.

Kabarnya Anda mau merilis buku kumpulan puisi terbaru?

Ya, namanya Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu. Ini kumpulan sajak anak-anak. (Aming memberikan satu eksemplar buku ini kepada Radar surabaya. Buku 34 halaman ini diterbitkan dengan susah-payah oleh Aming sendiri.)

Sejak 1990-an saya mulai aktif menulis puisi anak-anak, khususnya setelah saya punya anak. Anak-anak saya, keseharian mereka, pertanyaan-pertanyaan mereka, menjadi inspirasi bagi saya.

Saya juga sering menjadi juri lomba baca puisi anak-anak. Ternyata, puisi yang dilombakan itu puisi remaja, bahkan dewasa. Ini karena memang ada kesulitan mendapatkan puisi anak-anak untuk dipakai lomba. Dan memang para penyair kita di Indonesia jarang menulis puisi anak-anak. Saya hanya mencatat beberapa nama penyair seperti Sherly Malinton, Abdul Hadi WM. Selebihnya saya tidak tahu.

Ada kesulitan dalam menulis puisi anak-anak?

Harus diakui, awalnya ada kesulitan. Sebab, kita yang orang dewasa harus menulis dalam bahasa anak-anak. Masuk ke alam pikiran anak-anak. Saya memang menasihati, tapi tidak boleh terkesan menggurui. Saya tulis sedemikian rupa sehingga anak-anak itu sadar akan pentingnya membaca buku, pentingnya sarapan, hujan pertama bisa bikin sakit, jangan tinggalkan salat, tidak putus asa, dan sebagainya.

Di puisi berjudul Kata Bukuku, saya tulis: "Jangan selalu nonton televisi. Dengan melihat kartun tanpa henti, yang jadikan engkau lupa padaku, tergeletak di bangku seperti beku." Jadi, yang suruh anak-anak membaca buku, ya, buku itu sendiri. Bukan Aming Aminoedhin. Hehehe....

Apa tidak sebaiknya puisi anak-anak ditulis oleh anak-anak sendiri?

Itu bisa juga. Tapi anak-anak bagaimanapun juga masih kesulitan menemukan kata-kata yang pas lantaran kosa katanya terbatas. Puisi itu kan karya sastra yang terikat oleh irama, matra, rima, penyusunan larik dan bait. Karena itu, perlu ambil bagian dalam mengisi kekosongan puisi anak-anak.

Lantas, kenapa di kumpulan sajak Kunang-Kunang ini Anda banyak bicara tentang buku?

Budaya membaca buku, terus terang, masih sangat kurang di sini. Apalagi, sekarang ada gangguan yang sangat serius seperti televisi yang makin banyak, play station, handphone, serta aneka jenis permainan yang sangat menarik. Nah, kalau tidak ada dorongan dari luar, entah orang tua atau guru, anak-anak tidak akan membaca buku.

Saya ingin agar buku dijadikan kado ulang tahun anak-anak. Buku apa saja, termasuk buku-buku sastra entah novel, kumpulan puisi, cerpen. Selama ini yang membuat saya sedih, buku masih menjadi kebutuhan nomor ke-13. Buku kalah dengan lipstik, HP, pulsa isi ulang, dan sebagainya. Sementara guru-guru kita juga belum bisa memberikan contoh agar anak didiknya punya reading habit.

Anda rajin menerbitkan buku-buku puisi, sementara peminat buku jenis itu sangat sedikit. Bagaimana Anda membiayainya?

Yah, harus gerilya ke sana ke mari, mencari biaya sendiri agar bisa terbit. Kalau nggak punya semangat, nggak ada idealisme, nggak mungkin orang mau terlibat di dunia kesenian, khususnya sastra. Tapi, mau bagaimana lagi, puisi sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dan saya harus membahagiakan kebahagiaan berpuisi kepada orang lain.

Bagi saya, menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan wejangan atau pitutur bagi pembaca. Artinya, saya menulis puisi untuk menyalurkan pikiran-pikiran, ide-ide kreatif saya, tentang bagaimana seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.

Menulis puisi, bagi saya, juga merupakan ibadah. Banyak puisi saya yang bicara soal kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Alquran maupun hukum atau norma sosial kemasyarakatan.

Kalau tidak salah, Anda pernah digelari 'presidennya penyair Jatim'. Itu bagaimana ceritanya?

Hehehe... Yang memberi julukan itu adalah Prof Dr Suripan Sadi Hutomo, almarhum. Beliau itu dokumentator sastra yang juga guru besar IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Red). Suatu ketika dalam sebuah pertemuan para sastrawan di Surabaya, Pak Suripan secara spontan menyebut Aming Aminoedhin sebagai 'presiden penyair'.

Saya merasa tersanjung, tapi juga ketawa-ketawa disebut presiden segala. Bagaimanapun juga apresiasi Pak Suripan membuat saya makin bersemangat dalam mengembangkan puisi dan geguritan di Jawa Timur. Terus terang, almarhum Pak Suripan menjadi inspirator dan motivator bagi saya.

Saya mengimpikan suatu saat ada semacam apresiasi khusus untuk beliau, misalnya Suripan Award bagi sastrawan di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Sebab, di Jatim ini selain Pak Suripan, nama besar lain yang perlu diapresiasi adalah Prof Dr Budi Darma. (*)

Ingin Surabaya Jadi Ikon Jazz

Sebagai seniman dan penggiat kebudayaan, Aming Aminoedhin sangat terbuka pada segala macam kesenian. Menurut dia, kolaborasi atau kerja sama di antara para seniman sangat diperlukan demi memajukan kesenian itu sendiri.

Ayah empat anak ini mengaku sangat gemar musik, khususnya jazz. Sebab, jenis musik asal Amerika Serikat ini memberi ruang seluas-luasnya kepada seniman untuk melakukan improvisasi, kreasi, tapi tetap dalam koridor kebersamaan. "Bermain musik jazz itu harus punya kemampuan improvisasi di atas pentas. Jadi, jazz itu sederhana, tapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan," ujar Aming Aminoedhin.

Akhir tahun lalu, Aming mengaku terkesan saat menyaksikan Jazz Night di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Acara ini digagas Yason A Gunawan, Benny Kartono, dan Benny Chen. Meski masih ada kekurangan, Amin menilai acara-acara jazz perlu lebih sering diadakan di Surabaya.

"Masak, Jakarta ada festival jazz berkelas internasional, Java Jazz dan Jak Jazz, sementara kita di Surabaya jarang ada pergelaran jazz. Padahal, jazz lovers di Jawa Timur sangat banyak. Legenda hidup jazz, Bubi Chen, juga berasal dari Surabaya," kata pria 52 tahun ini.

Aming tak sekadar menonton, tapi juga menulis catatan atau semacam reportase yang dimuat di blog pribadinya. Ternyata, redaksi sebuah situs jazz terkemuka di Jakarta tertarik dengan repratase Aming. "Naskah dan foto-foto saya dimuat di situs jazz. Saya dikira pengamat musik jazz. Hehehe," katanya.

Aming berharap pentas Jazz Night yang sudah dirintis di Taman Budaya itu tak hanya sekali dua, tapi berkelanjutan. Menjadi agenda rutin di Surabaya, misal sebulan sekali. Bahkan jika mungkin digelar di halaman terbuka sehingga masyarakat luas bisa mengapresiasi jazz. Sebab, tanpa apresiasi, maka jazz akan sulit berkembang.

"Jazz lovers juga perlu diajak menghargai musik jazz itu sendiri, dengan membeli tiket. Awalnya, tiket memang tidak harus dijual mahal, tapi cukup terjangkau bagi kaum jazz lovers. Kita ingin Surabaya ini menjadi kota yang berbudaya, bukan saja kota buaya," tegasnya.



AMING AMINOEDHIN

Nama asli: Mohammad Amir Tohar
Lahir: Ngawi, 22 Desember 1957
Istri: Sulistyani Uran.
Anak : 3 lelaki, 1 perempuan. Ade Malsasa akbar, Tegar Kartika Akbar, Amri Perkasa Akbar, Mira Aulia Alamanda.
Alamat: Puri Mojobaru AZ-23 Canggu, Jetis, Mojokerto 61352.
Pendidikan:
Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta

ORGANISASI KESENIAN

Paguyuban Pengarang Sastra Jawa
Forum Apresiasi Sastra Mojokerto
Dewan Kesenian Mojokerto
Forum Sastra Bersama Surabaya
Malam Sastra Surabaya (Malsasa)

KUMPULAN PUISI

Jembatan Merah
Perang Teluk
Jejak
Burung-burung
Malsasa
Berjamaah di Plaza
Mataku Mata Ikan
Sajak Kunang-Kunang
Kupu-Kupu (sajak anak-anak)
Embong Malang
Tanpa Mripat (geguritan)
Kereta puisi
Sketsa Malam.

4 comments:

  1. pertamaXXX.........
    knapa harus presiden ????

    ReplyDelete
  2. Terima kasih. Di Jawa Timur ada kebiasaan gojlok-gojlokan. Santai, serius, guyon... campur aduk. Jadi, pembacaannya ya harus pakai cara Jawa Timuran. Salam damai.

    ReplyDelete
  3. Slamat buat Pak Aming karya bpk begitu bagus dan hanya org2 yg menghargai kehdpnnya yg dpt menerima arti dr sajak2 bpk. Dalem sangat interest dg geguritan bpk, yg mana didlmnya terdpt kesan berupa moralitas & nasihat2 yg sgt berartu dlm kehidupan. Skl lg Selamat untuk bpk & sy bangga bahwa di negerin ini msh tersimpan mutiara spt bpk. Vieny

    ReplyDelete
  4. thanks banget atas sanjung pujinya. wah saya jadi gede rasa ini, mbak okta. tapi moga-moga saja tidak lantas tersandung. kalau pun harus tersandung, ya ... tersandung puisi. artinya, tetap menulis dan membaca puisi. sukses selalu buat mbakyu!

    aa
    penyair

    ReplyDelete