01 February 2009

Slamet Abdul Sjukur



Tidak banyak komponis Indonesia yang dikenal luas di dunia internasional. Salah satu 'manusia langka' itu adalah Slamet Abdul Sjukur (73). Arek Surabaya ini sudah berkali-kali tampil di forum internasional, dan beroleh penghargaan, temasuk dari pemerintah Prancis. Ironisnya, Slamet kurang dikenal di negaranya sendiri.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dari Radar Surabaya dengan Slamet Abdul Sjukur di sela-sela Pertemuan Musik Surabaya belum lama ini.


Sumber: Radar Surabaya, Minggu 1 Februari 2009

Sejak kapan ada Pertemuan Musik Surabaya (PMS)?

Sudah lama sekali. Sejak tahun 1957 forum ini diadakan untuk saling bertemu, bercakap-cakap, tentang musik. PMS bertahan sampai tahun 1982, selama 25 tahun. Setelah itu mandek karena berbagai alasan.

Dan sejak 26 Maret 2006 kita ingin menghidupkan lagi roh PMS ini. Kebetulan banyak teman di Surabaya, Malang, dan sekitarnya tertarik untuk menghidupkan PMS.

Apa saja yang dibicarakan di PMS?

Yah, teman-teman pencinta musik bertemu tiap bulan bertemu untuk membicarakan segala sesuatu tentang musik dalam suasana yang bersahabat, murah, tapi genah dan bermutu. Kita bicara banyak hal seputar musik, nonton bareng film-film yang ada kaitan dengan komponis tertentu. Lalu, kita membahasnya bersama-sama.

Topik yang pernah dibahas antara lain Glenn Gould (film Bruno Monsengeon), AeroSon–Arno Peters (musik audio visual), film opera Woyzzeck–Alban Berg, bagaimana Beethoven menyelesaikan Simfoni 9. Nah, sekarang ini Anda saya ajak ikut menyaksikan film tentang Chopin dan Fanz Liszt.

Tadi Anda menyampaikan di depan para pemusik, peserta PMS, bahwa sekarang ini ada fenomena para pemusik kita justru takut main musik?

Benar. Dan ini gejala yang sangat tidak sehat di Indonesia. Orang belajar musik karena musik itu menyenangkan. Tapi, anehnya, setelah bisa bermain musik, orang justru tidak senang lagi dengan musik. Banyak orang yang kemudian malu atau takut bermain musik. Takut salah, takut ditertawakan orang lain, takut kalau ada orang lain yang lebih hebat, sungkan, dan sebagainya.

Akhirnya, tidak ada lagi kegembiraan dalam bermusik. Orang-orang musik sendiri malah stres, tertekan. Nah, saya punya misi untuk mengembalikan kegembiraan bermusik yang sudah mulai hilang ini.

Itu yang rupanya Anda kembangkan di PMS?

PMS ini tidak menganut paham kompetisi. Siapa saja silakan main musik, tidak perlu takut salah, tidak perlu sungkan karena ada yang lebih hebat. Salah itu manusiawi kok. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk orang yang sudah bertahun-tahun bermain musik.

Saya mengajak teman-teman di Surabaya untuk kembali merasakan senangnya bermain musik dalam kebersamaan. Main musik bukan karena ingin dipuji. Kita tidak perlu takut pada dunia orang sakit. Dunia ini tidak terbatas hanya untuk para supermodel atau manusia yang tubuhnya kekar seperti gladiator. Tuhan menciptakan dunia kebinekaan dan menyediakan tempat buat semua.

Lantas, bagaimana Anda melihat kursus musik, khususnya klasik, yang semakin menjamur di kota-kota besar, termasuk di Surabaya?

Belajar musik sejak usia dini sih pada dasarnya baik. Sebab, musik itu bisa memberi kegembiraan kepada anak-anak. Celakanya, guru-guru musik kita, khususnya piano, kurang memahami psikologi anak-anak. Bukannya memberikan kegembiraan kepada anak-anak yang belajar piano, tapi membebani anak-anak dengan kompetisi. Ada ambisi untuk ikut lomba, dapat piala, ikut lomba lagi, dapat piala lagi, dan seterusnya. Ini jelas sangat keliru!

Mengapa?

Lha, anak-anak itu kan sudah capek dengan pelajaran di sekolah yang begitu banyak. Mereka ikut kursus piano itu antara lain untuk bergembira, bersenang-senang, supaya tidak melulu mikir pelajaran. Lha, karena dipaksa ikut kompetisi, ya, anak-anak itu mendapat tambahan beban dari guru-guru musik mereka.

Beban anak-anak itu tambah berat. Bagaimana dia bisa gembira? Di sekolah bebannya sudah berat, di kursus musik dia ketambahan beban lagi.

Anda sudah bicarakan hal ini dengan guru-guru musik? Bukankah Anda mengenal sebagian dari mereka, bahkan pernah menjadi guru mereka?

Wah, sudah berkali-kali saya menyampaikan hal ini. Tapi rupanya suara saya tidak ada pengaruhnya sama sekali. Ini merupakan keprihatinan kita bersama karena sejak anak-anak kondisi permusikan kita salah kaprah. Kegembiraan bermusik hilang, dan itu berlanjut sampai dewasa.

Anda sering dianggap 'nyentrik' karena menciptakan umum yang lain dari lain. Kalau saya tidak salah, Anda pernah mengumpulkan orang-orang yang suaranya fals untuk paduan suara?

Bukan fals, tapi bindeng. Orang-orang yang suaranya sengau. Suara bindeng itu sangat menarik kalau dibuat paduan suara. Saya sudah masuk kampung untuk mencari orang yang suaranya bindeng, tapi jumlahnya kurang. Saya juga sudah sempat kasih latihan, tapi mereka malah tertawa sendiri. Makanya, nggak jadi konser paduan suara bindeng.

Saya memang sudah lama sekali belajar menganggap keterbatasan sebagai tantangan kreativitas, dan bukan kemiskinan yang menghambat. Sehingga, berbagai kesulitan yang ada di Indonesia tidak pernah menjadi masalah bagi saya. Saya tidak menyerah dan menerima begitu saja, tapi saya melihat begitu banyak alternatif pemecahannya.

Ada contoh lain?

Saya pernah bikin paduan suara 200 orang, masing-masing sambil main instrumen mungil dari bambu. Dan ini sering dipentaskan di Jepang. Anak-anaknya para pemulung yang hidup dari sampah itu ternyata sangat kreatif dibanding orang gedongan. Dengan suaranya yang fals, berbunyi lembut seperti ribuan nyamuk yang bergerak bagaikan awan.

Saya juga pernah mengerahkan penduduk seluruh desa di Seloliman (Trawas, Mojokerto) untuk bikin musik kolektif di hutan Trawas. Hal-hal seperti itu tidak ada di Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, dan sebagainya. Masalahnya, bagaimana mendayagunakan kelebihan--yang nyata atau tersembunyi--secara maksimal. Yang penting, di dunia ini: sikap dan kemampuan kreatif. Dengan itu, kita merasakan bahagianya menyatu dengan dunia kenikmatan. (*)

Jadi Tukang Pijat dan Tukang Ramal

TINGGAL, belajar, dan main musik selama 14 tahun di Prancis membuat Slamet Abdul Sjukur benar-benar bisa merasakan esensi musik itu sendiri. Dia bisa menciptakan komposisi dengan bahan dasar apa saja. Dan itu membuat karya-karya Slamet sering dilirik pemusik kaliber dunia.

Beberapa waktu lalu Slamet diundang mengikuti festival dan konferensi musik internasional di Selandia Baru. Di sana orang-orang Barat ternyata sangat terkesan dengan beberapa komposisi bernuansa Indonesia yang digarap oleh komponis-komponis Barat.

Dua pemusik Amerika Serikat, Evan Ziporyn dan Christian Southworth, tampil dengan genderan Bali. Mengapa orang Barat bisa sangat menguasai musik tradisional kita? "Jangan lupa, lebih dari 100 universitas di Amerika Serikat punya perangkat gamelan lengkap. Orang Belanda, Prancis, Inggris, Kanada, Jepang juga mendalami gamelan,” ujar Slamet.

Menurut dia, orang-orang Barat punya cukup uang untuk belajar langsung pada empu-empu musik Indonesia. Karena itu, mereka bisa menyerap dengan sangat baik esensi musik kita. "Jadi, oran-orang Barat itu tahu dari tangan pertama. Nah, orang kita kan belajarnya sama tangan ke-48, 49, 50,” ujarnya lalu tertawa kecil.

Dalam beberapa kesempatan, Slamet membeberkan liku-liku kehidupan pemusik di Indonesia, termasuk dirinya. Orang-orang Barat sangat terkejut begitu mengetahui bahwa Slamet Abdul Sjukur ternyata tidak bisa mengandalkan musik untuk hidup.

"Saya harus kerja serabutan di luar musik. Saya mengajar di pascasarjana Bandung dan Bogor, Akademi Jakarta. Saya juga jadi tukang pijat, meramal nasib, dan buka warung nasi,” aku Slamet.

“Di Jakarta sudah banyak orang tahu kalau saya bisa pijat. Orang Surabaya saja yang belum tahu. Hehehe,” papar Slamet. (rek)



SLAMET ABDUL SJUKUR

Lahir: Surabaya, 30 Juni 1935
Alamat: Keputran Panjunan I/5 Surabaya

Pendidikan :

SD Taman Siswa, Surabaya (1949)
SMP Taman Siswa, Surabaya (1949-1952),
Sekolah Musik Indonesia, Jogjakarta (1952-1956),
Conservatoire National Superieur De Musique De Paris, Prancis (1962-1963)
‘Ecole Normale De Musique De Paris, Prancis (1962-1967)

Penghargaan:

Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne in Dijon (1974)
Golden record dari Academie Charles Cros in France, untuk karyanya Angklung (1975)
Zoltan Kodaly Commemorative medal in Hungary (1983),
Perintis Musik Altenatif (1996),
Millennium Hall of Fame of the American Biographical Institute (1998),
Officier de l‘Ordre des Arts et des Lettres (2000)
Penghargaan Gubernur Jawa Timur

4 comments:

  1. Mas, saya jadi ingat satu artikel di Readers' Digest edisi jan '09.

    Di artikel itu ditulis ada sekelompok orang (sayangnya di negara Barat, bukan di Indonesia) yang mendirikan perkumpulan musik yang anggotanya adalah orang2 biasa yang tidak pandai bermain musik. Jadi mereka pernah belajar (formal atau informal) memainkan instrumen musik, tapi ya tidak ada tindak lanjut nya gitu.

    Jadi perkumpulan ini sering latihan bersama, terus manggung bersama...dengan catatan...penonton musti maklum kalau ada nada sumbang, kan pemainnya bukan pemusik profesional! haha

    Ini menarik juga lho..buat saya, yang sepertinya termasuk kategori orang di atas. :)

    ReplyDelete
  2. yg pasti kursus musik itu mahal lho. anakku gak ikut, gak enak kr ikut trend. susah juga. tulisan2 kayhak gini bisa bantu memberi pencerahan.

    ReplyDelete
  3. Matur suwun Mbak Dyah di Singapura,
    Begitulah kondisi di kota2 besar kayak Surabaya, makin maju selalu muncul masalah baru. Hidup manusia memang gak iso luput dari persoalan. Makanya, aku seneng sama orang2 kayak Cak Slamet iki, omongane nyeleneh, kadang nyelekit... tapi perlu untuk nyadarke awak2 iki.

    ReplyDelete
  4. Yang ini yang banyak berkarya dari pada ngomongnya...

    oh ya... jadi ingat Bang Berny... kemaren ada iklan daftarkan musisi anda yang tidak banyak di ekspos tapi banyak karyanya... lupa aku baca dimana... baru kog... sory ya ka,e...ngelantur.

    ReplyDelete