28 February 2009

Sekolah Jepang di Surabaya



Tahun ini Surabaya Japanese School, yang juga disebut Sekolah Jepang Surabaya (SJS), genap berusia 30 tahun. Meski menggunakan kurikulum Jepang, para siswa juga belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Oleh ZULIA RAHMA dan ENDANG SP
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


“KONNICHIWA!" sapaan yang berarti 'selamat siang' itu diucapkan Kuniaki Nishi, kepala SJS, Jumat (13/2/2009). Guru yang ramah ini kemudian mengajak kami jalan-jalan keliling sekolah di Jl Jetis Seraten, Ketintang, Surabaya, itu.

Kompleks SJS terlihat sangat bersih, rapi, dan terawat. Ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, semuanya kinclong. Ada lapangan sepakbola, lapangan olahraga indoor sekaligus aula serbaguna. Maka, tak heran, bocah-bocah cilik yang belajar di sini merasa nyaman dan betah.

Menurut Kuniaki Nishi, sekolah yang dia pimpin mengusung format sekolah ala Jepang pada umumnya. Sistem pembelajaran disesuaikan dengan ketentuan Kementerian Pendidikan Jepang yang disebut Kyouiku Kihonhou. Bahasa pengantar tentu saja bahasa Jepang.

“Siswa kami ajar untuk mandiri dan bertanggung jawab,” ujar pria yang berasal dari Kyushu ini.

Contoh: siswa harus membersihkan dan mempercantik kelas sendiri. Mereka juga harus menata barang-barang mereka dengan baik dan rapi. Semua tempat barang yang dibutuhkan siswa seperti rak buku, loker, tempat sepatu, tempat perabot kebersihan, dan sebagainya telah tersedia di kelas.

Bocah-bocah TK memulai aktivitas sekolahnya dari pukul 07.30 sampai 13.30. Siswa SD dari pukul 07.30 sampai 13.50. Sedangkan yang SMP mulai pukul 07.30 sampai 15.55. Waktu belajar memang relatif panjang. Karena itu, setiap hari siswa harus membawa bento alias bekal makanan untuk makan siang.

"Ketika istirahat, anak-anak itu makan bersama di kelas. Mereka dibimbing oleh guru," kata Kuniaki Nishi.

Saat ini jumlah keseluruhan siswa 47 orang dengan 13 guru. Anak-anak Jepang, termasuk yang campuran Indonesia-Jepang, tampak sangat senang bermain dan belajar di SJS. Menurut Kuniaki, sekolah ini juga memiliki berbagai kegiatan rutin seperti nakawai (menginap di sekolah untuk siswa kelas 1 sampai 4), ryokou (rekreasi), perlombaan, dan penyambutan siswa baru.

Lalu, ke mana lulusan SJS melanjutkan pendidikan? Karena banyak orangtua siswa yang campuran Jepang-Indonesia (orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia), mereka bisa melanjutkan ke SMA di Surabaya atau kota-kota lain di Indonesia. "Ada juga yang pulang ke Jepang," ungkap lulusan Universitas Keguruan Fukuoka ini.

Setiap Jumat siswa SJS belajar bahasa Indonesia. Anak-anak Jepang asli maupun peranakan ternyata cukup lancar berbahasa Indonesia. Mereka juga senang ketika diajak berbincang dalam bahasa Indonesia.

Yang menarik, para siswa juga belajar bahasa Jawa. Bahkan, aksara hanacaraka pun terlihat juga di ruang kelas. "Kami ingin agar anak-anak punya apresiasi terhadap kebudayaan Indonesia," pungkas Kuniaki Nishi. (*)

2 comments:

  1. Hebat y...mereka jd sedikit mengerti kebudayaan Indonesia...

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.