04 February 2009

Pedestrian di Surabaya



SURABAYA MACET: Budaya jalan kaki hilang, sehingga tiap hari Surabaya macet. Pemerintah kota sejak tahun 2008 mulai membangun jalur khusus perjalan kaki untuk mengurangi kemacetan dan membiasakan warga menggunakan kendaraan umum. Yang paling sulit itu sebetulnya membangun BUDAYA JALAN KAKI. Kalau bikin pedestrian sih gampang... kalau ada duit.

Oleh Arif Afandi
Wakil Wali Kota Surabaya
Mantan Pemimpin Redaksi JAWA POS

Panambahan ruas pedestrian di Jalan Raya Darmo Surabaya memicu protes para pengguna jalan. Mereka menyesalkan keputusan tersebut karena dianggap mempersempit hak kendaraan bermotor. Mereka khawatir, dengan sempitnya jalan, maka ruas jalan yang selama ini sudah padat itu akan makin macet di masa mendatang.


Pembangunan sarana untuk pejalan kaki di salah satu jalan protokol tersebut memang memakan 60 sentimeter ruas jalan. Kelak, pedestrianya akan lebih lebar dibanding yang ada sekarang. Di beberapa tempat, juga dilakukan hal yang sama. Bahkan, di ujung bawah Embong Malang harus menabrak tembok cagar budaya. Untung, bangunan cagar budaya itu masuk klasifikasi C sehingga bisa dibongkar.

Terus membangun sarana untuk mempernyaman pejalan kaki memang sudah menjadi kebijakan. Setiap tahun akan terus ditambah ruas pedestriannya. Standar kualitasnya pun juga ditingkatkan. Sehingga kelak pedestrian akan menjadi bagian arsitektur kota. Ia tidak hanya berfungsi membuat pejalan kaki nyaman. Tapi juga memperindah sudut pandang.

Lantas bagaimana dengan berkurangnya hak pengguna kendaraan? Ini resiko yang tak bisa dihindarkan. Harus diakui, berapa pun lebar jalan tidak akan pernah kecukupan. Apalagi dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang rata-rata hampir 12 persen setiap tahunnya. Makin lama, tentu jalan makin sesak. Sekarang mungkin belum begitu padat. Tapi bagaimana dengan lima tahun mendatang?

Namun, keputusan harus dipilih. Menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki atau pengguna kendaraan? Kota masa depan yang nyaman bukan karena padatnya kendaraan. Harus ada strategi untuk mengurangi jumlahnya. Di beberapa kota besar, malah sepeda motor mulai dilarang. Tujuannya agar tidak terlalu banyak menghasilkan gas buang yang merusak lingkungan.

Karena itu, memilih prioritas untuk pejalan kaki merupakan kebijakan yang tepat untuk masa depan. Tentu, harus ada kebijakan ikutan untuk memperkuat pilihan ini. Misalnya, sudah saatnya dibangun sistem transportasi kota. Sebuah sistem yang ‘’memaksa’’ orang tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke tempat kerja. Sebuah sistem transportasi kota yang juga menjanjikan kenyamanan untuk para penumpangnya.

Sejak sepuluh tahun berjalan, memang belum ada perkembangan sistem transportasi kota secara signifikan. Bahkan tidak ada penambahan jalur yang bisa mengurai kebutuhan penumpang. Padahal, kota berkembang dengan pesatnya. Apalagi ada dua kampus di sana. ITS di timur, Unesa di barat. Meski, kawasan timur dan barat tumbuh cepat, belum ada trayek baru bus kota untuk melayani mereka.

Tidak hanya itu. Tata kota juga perlu penataan ulang. Tumbuhnya kendaraan bermotor terkait dengan pertumbuhan kota yang masih bersifat horisontal. Perumahan di perkotaan masih cenderung landed alias mendatar. Butuh lahan luas karenanya. Jarak antar wilayah menjadi melebar. Ketika kota tumbuh, lahan makin mahal. Kelas menengah ke bawah tak bisa punya rumah di tengah kota. Mereka makin minggir dan untuk bekerja sepeda motor jadi pilihan.

Bayangkan jika perumahan tumbuh ke atas. Kebutuhan lahan makin efesien. Tata kota menjadi sistem blok. Para pekerja tidak harus ke luar kota untuk mendapatkan tempat tinggal. Mereka bisa memiliki rumah di apartemen tengah kota. Tentu bukan apartemen mewah seperti yang berkembang sekarang. Karena jarak tempat tinggal dan kerja tidak berjauhan, mereka cukup dengan jalan. Pedestrian akhirnya menjadi sangat signifikan.

Jadi, pedestrian ini adalah bagian strategi awal untuk menciptakan kota masa depan yang nyaman dan ramah lingkungan. Dalam jangka waktu lima belas tahun ke depan, harus terus dibangun sistem transportasi kota yang murah dan nyaman. Juga sistem perumahan yang memungkinkan para pekerja tinggal di tengah kota. Bukan di pinggiran sehingga mereka harus membeli sepeda motor untuk ke tempat kerja.

Singkatnya harus ada kebijakan ikutan setelah membangun pedestrian. Kebijakan baru mengenai sistem transportasi kota, tata kota baru yang bersifat vertikal, dan infrastruktur yang memperhitungkan perkembangan kota jangka panjang. Ini semua yang telah dan sedang dipersiapkan dalam bentuk perencanaan maupun kebijakan.



PEDESTRIAN DI SINGAPURA: Lebar, nyaman, teduh, terawat... dan ditunjang BUDAYA JALAN KAKI. Kita di Surabaya harus belajar banyak dari negara-negara maju. Ojo studi banding thok, ngelencer thok nang Singapura, Eropa, Amerika, tapi hasile gak jelas! (Lambertus Hurek)

2 comments:

  1. Jadi kangen Surabaya nih. Dah 8 tahun gak ke sono. :) Pa kabarnya Pasar Gembong ya?

    Btw, makasih dah mampir ke blog gw yang sederhana.

    ReplyDelete
  2. Hai... Awie....
    Surabaya aman2 saja, makin ramai, padat, tapi juga ruwet. Pak wali kota tahun lalu "membersihkan" semua permukiman liar, pasar2 kaget, termasuk di Gembong. Ini memang situasi pelik yang dihadapi semua pemerintah kota besar, termasuk Surabaya.

    Yah, saya mampir di blog sampean karena kebetulan waktu itu cari lagu nistalgia. Blog sederhana itu sering kali menyimpan mutiara yang berharga. Selamat kerja. Ojo lali Suroboyo!

    ReplyDelete