
SAKSOFONIS JAZZ: Arief Setiadi, saksofonis dan komposer jazz jempolan Indonesia.
Oleh LAMBERTUS L. HUREK
Televisi apa yang paling jelek? Kalau Anda lontarkan pertanyaan macam ini kepada 10 orang, misalnya, maka kemungkinan besar semua orang menjawab: TVRI. Televisi paling tua ini jelas kalah bersaing dengan TV-TV swasta. Kalah iklan.
Acara TVRI kurang seru. Artisnya kurang banyak, kurang bahenol, kurang muda... pokoknya serbakurang. "Hare gini lihat TVRI? Gila apa," tukas Santi, 20 tahun, di kawasan Aloha, Sidoarjo, kepada saya.
"Sorry lho ya, TVRI itu televisi paling jelek," kata gadis kemayu ini sambil memoncongkan bibirnya.
Saya tertegun, tapi bisa memahami mengapa Santi bersikap demikian. Sebagai anak gaul--doyan pacaran, tahun 2008 lalu dia punya tiga pacar, sekarang punya pacar baru lagi--TVRI yang formal jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan hiburan anak muda. Gosip artis tak ada di TVRI. Show band-band terkenal nyaris tak ada.
Apa pun kata orang, bagi saya, TVRI masih punya kelebihan. Jumat malam lalu, saya terpaku selama 90 menit di depan TVRI. Program KLAB JAZZ sangat apresiatif, dengan suguhan musik jazz yang bagus. Terima kasih, hare gini TVRI masih mau menayangkan secara langsung konser jazz Oelle Pattiselanno dan kawan-kawan.
Oelle pada gitar, Arief Setiadi (saksofon), Jeffry Tahalele (bas), Cendy Luntungan (drum). Grupnya Paman Oelle ini dipekuat tiga vokalis muda: Andien, Dira, Tata.
Tampil serbaakustik, para dedengkot jazz ini menawarkan warna bossanova yang teduh. Nyanyi tak perlu ngoyo, tak perlu sound system yang bikin kuping budhek, tapi banyak 'akrobat' akor yang wah. "Ciamik soro!" begitu kira-kira kata orang Tionghoa Surabaya.
Selain nomor instrumental karya Arief Setiadi--paman yang satu ini memang salah satu komposer jazz ulung di negeri Pancasila--KLAB JAZZ memainkan lagu-lagu pop-jazz standar. Nomor-nomor yang sangat lazim dibawakan di acara-acara jazz. Improvisasi para musisi, termasuk vokalis, terukur, tidak belebihan.
Sebut saja: Night in Tunissia, The Look of Love, Song for Maya (by ARief Setiadi), Santai (Arief Setiadi), The Way You Look Tonight, Cheek to Cheek, Over the Rainbow, No More Blues. Baik Dira, Tata, Andien, yang usinya masih di bawah 30 tahun, berusaha menyanyikan jazz dengan ekspresif. Mereka, insyaallah, akan menjadi vokalis matang kalau tetap menekuni musik ini.
Ingat, jazz itu ibarat anggur: makin tua makin ciamik! Beda dengan musik pop: makin tua [apalagi vokalis cewek] makin ditinggalkan!
Sayang sekali, sesi dialog yang disediakan presenter Happy Salma tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penonton di studio serta penelepon di rumah. Ada sih beberapa pertanyaan, tapi isinya meleset jauh dai jazz. "Hai Dira, ntar kita kontak-kontakan di facebook ya," kata seorang penelepon yang mengaku pemusik, tapi jelas-jelas tidak paham konteks acara. Kacau!
Menjawab pertanyaan pemusik muda di studio, Paman Oelle Pattisellano mengatakan, bermain jazz itu tidak perlu takut salah. Main, main, berlatih, kolaborasi, ngejam [jam session]... terus-menerus. Waktu jualah yang akan membentuk kematangan seseorang.
"Tidak perlu malu kalau kamu merasa kalau permainan grup kamu belum bagus. Kalau main terus, ya, lama-lama jadi bagus," ujar Paman Oelle yang tidak banyak bicara itu.
Durasi 90 menit untuk jazz! Ini luar biasa untuk televisi. Berapa banyak uang masuk kalau dipakai untuk memutar gosip artis pacaran, kawin, cerai, baku cakar, baku cium, baku selingkuh...? Untuk itu, apresiasi tinggi harus kita berikan kepada TVRI.
Semoga KLAB JAZZ ditayangkan secara rutin. Hidup TVRI!
INFORMASI
klabjazztvri@yahoo.com

Televisi apa yang paling jelek? Kalau saya jawab JTV bang. TVRI nomor dua, dulu saya ingat ada acara RONA-RONA, yang jadi mc nya Didit Hape, dulu itu acara favorit saya di TVRI, lalu ada lagi program Campur Sari, yang pembawa acaranya Supali, itu saya juga suka, apalagi kalau ada acara Kartolo Cs, pokoknya TVRI enggak jelek-jelek amatlah. Kalau tentang musik Jazz?, Saya kurang tahu. Hidup TVRI!
ReplyDelete- WarnetLanggeng -
Waduh mas Hurek, saya keduluan posting ttg TVRI nih!
ReplyDeleteKebetulan TV kabel sini menayangkan acara TVRI. Saya termasuk penggemar setianya. Kenapa? Karena banyak acaranya yg bisa saya gunakan sebgai bahan/materi mengajar di kelas! Ada jalan2 ke daerah, acara kunjungan desa, kunjungan ke situs menarik, ragam budaya dll dll.
Walau kadang terlihat kualitas peralatan yg seadanya sekali, tapi yg menting muatan acaranya bagus, daripada nonton acara gosip dan sinetron yg makin heboh dan tidak jelas ceritanya!
Hidup TVRI!
Suwun untuk arek Warnet Langgeng:
ReplyDeleteKok nyasar nang blogku??? Iki sekadar komentar enteng2an soal televisi, khususnya TVRI, yang lagi berusaha eksis di tengah kompetisi superketat. Di mana2, kata para ahli, harus ada TV publik yang nonkomersial dan punya misi kebudayaan dan pendidikan. Hiburan biarlah yang swasta2 itu.
Kita bisa lihat televisi Prancis atau Tiongkok yang punya program budaya, musik, sejarah yang sangat luar biasa. Ada politik kebudayaan yang jelas. Sementara di RI ini belum sampai ke sana. Tapi saya senang dengan beberapa acara di TVRI, ya kayak Klab Jazz ini.
Mbak Dyah di Singapura:
Matur sembah nuwun, sampean selalu mampir di blog saya dan menulis komentar. Insyaallah, Anda dan keluarga selalu diberkati Tuhan di negara singa. Salam.
konten blog nya smua menarik :D
ReplyDeletetwo thumbs up buat sampean ;) slm knl
Nggak!! TVRI bukan televisi yang paling jelek! TVRI itu adalah televisi yang penting di Indonesia. Walaupun sudah tua, tapi TVRI merupakan televisi yang mempunyai dokumen-dokumen di massa Soekarno dulu. Sekarang, TVRI saja sudah mempunyai beberapa siaran dan acara yang sudah memadai dan bagus. TVRI tidak lagi ketinggalan walaupun hanya televisi milik pemerintah.
ReplyDelete