14 February 2009

Keroncong di Santa Maria



Singgih Sanjaya (ISI Jogja) mencoba variasi keroncong dengan saksofon saat seminar musik keroncong di SMPK Santa Maria Surabaya. Ciamik soro!


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Dari sekian banyak musik yang berkembang di tanah air, nasib keroncong, sesuai dengan namanya, benar-benar keroncong. Memprihatinkan! Musik yang pernah berjaya sebelum kemerdekaan hingga 1980-an ini sekarang mati suri. Di televisi tidak ada lagi, kecuali kadang-kadang di TVRI.

Kota Surabaya, yang dulu dikenal sebagai pabrik musisi keroncong, saat ini pun sulit menemukan orkes keroncong. Ada sih bapak-bapak dan ibu-ibu yang tetap main keroncong, tapi hampir semuanya berusia lanjut, di atas 60 tahun. Itu pun sekadar klangenan, sama sekali tidak mampu memberikan pendapatan kepada para musisi.

Maka, sejak lama saya memperkirakan, keroncong akan habis pada 10 tahun mendatang kalau tidak ada upaya regenerasi atau revitalisasi. Dan itu berarti kita, bangsa Indonesia, kehilangan sebuah genre musik yang mengalir, tenang, legato, dengan perpaduan harmoni Barat dan Timur itu.

Syukurlah, di Surabaya ini ada SMP Santa Maria. Sekolah Katolik milik suster-suster Ursulin ini ternyata ikut prihatin dengan kondisi keroncong yang sekarat. Boleh sekarat, tapi jangan sampai mati! Sekolah Santa Maria justru mengajarkan keroncong dalam kurikulum sekolah itu. Mereka juga bikin konser, mengundang para buaya keroncong, dan terus mengasah wawasan para pelajar.

Kusdinarto, guru SMP Santa Maria, mengatakan bahwa satu-satunya cara sekolah menyelamatkan musik keroncong adalah memasukkan keroncong ke dalam kurikulum sekolah sejak 2008. Ini agar para siswa terbiasa mendengarkan dan memainkan musik keroncong. Dus, anak muda punya alternatif musik selain industri pop yang terus menggelontor musik pop, dangdut, rock, disco, R&B, dan sebagainya.

“Selama ini musik keroncong hanya dinikmati oleh orang tua,” kata Pak Kus.

Menurut dia, SMP Santa Maria sangat serius mempelajari musik keroncong yang disebut-sebut sebagai salah satu aset budaya bangsa Indonesia. Siswa-siswa dibimbing oleh guru seni musik. “Kami juga mendatangkan ahli-ahli keroncong,” kata Pak Kus.

Persoalannya memang tidak sederhana. Kenapa? Di Surabaya ini ada ratusan, bahkan ribuan, guru musik klasik--apalagi pop dan dangdut yang tidak perlu guru--sementara guru keroncong sangat-sangat sedikit. Padahal, orkes keroncong itu harus ada sedikitnya tujuh macam alat musik seperti flute, biola, cak, cuk, cello, gitar, bas.

Teknik vokal keroncong yang pakai cengkok khas--dan ini lebih mudah dikuasai orang Jawa ketimbang luar Jawa seperti Flores atau Batak--pun tidak mudah diajarkan. Tapi bagaimanapun juga kerja keras Santa Maria ini layak diapresiasi.

La la la la la.....
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la.... oooo..
Laju sekali ke Surabaya

Tanjung Perak kapale kobong
Monggo pinara kamare kosong

1 comment:

  1. Terima kasih^^
    Saya salah satu murid SMP Santa Maria kelas 8^^, Aku di SD ndak suka menari tradisional, tapi ketika memasuki smp , ada mulai pelajaran karawitan dan seni tari tradisional^^ Dan aku mulai suka^^ , Sehingga aku masuk extra tari tradisional~

    Hahaha aku adalah salah satu pemain dan anggota paduan suara keroncong nyaa, Thanks Ya!
    Aku juga penari nyaa , walaupun begitu aku dimarahi salah satu gurunya karena aku suka menyanyi dan menari jawa -_-. Jadi aku ndak boleh tampil dee

    ReplyDelete