14 February 2009

George Guan dari Yunan

>
Pekan lalu, 6-7 Februari 2009, untuk kesekian kalinya, duta kesenian Tiongkok mengunjungi Surabaya. Salah satu di antaranya George Guan. Sehari-hari dia bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Provinsi Yunan, Tiongkok Selatan.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"My name is George Guan, not George Bush!" ujar George Guan saat berbincang dengan saya di ballroom Hotel V3 Surabaya, Jalan Tambakbayan.

George adalah salah satu dari 28 duta kesenian Yunan, Tiongkok Selatan, yang ikut memeriahkan perayaan Imlek Bersama Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia. Dibandingkan teman-temannya, George terbilang paling komunikatif. Ini tak lepas dari kemampuan bahasa Inggrisnya yang di atas rata-rata. Kalau teman-temannya sibuk berbahasa Mandarin, George cukup 'pede' berkomunikasi dengan warga Surabaya dalam bahasa Inggris.

"Saya kebetulan mengajar bahasa Inggris di Yunan. Saya memang guru, tapi jangan dikira kemampuan bahasa Inggris saya sudah bagus. Saya masih terus belajar dan belajar. Maklum, bahasa Inggris itu sangat sulit untuk kebanyakan orang Tiongkok," katanya.

Menurut suami Tian Mei ini, sebelum berangkat ke Indonesia, mereka sudah pernah tampil di tiga negara, yakni Prancis, Swiss, dan Malaysia. Karena itu, anggota rombongan berusaha belajar percakapan dalam bahasa Inggris sederhana. "Paling tidak bisa bilang good moning, good afternoon, atau good evening. Tapi, ya, tetap saja teman-teman itu kesulitan," ujar George yang beragama Kristen.

"Oha ya, di Tiongkok itu ada banyak agama. Saya sendiri Kristen, ada teman yang Islam, Buddha, Tao, dan banyak juga yang tidak punya agama. Tidak ada kewajiban untuk memeluk agama. Yang penting, kami bisa menjadi warga negara yang baik," tegas George Guan.

Ketika tiba di Surabaya, George Guan dan kawan-kawan merasa seperti di kampung halaman sendiri. Pasalnya, panitia dari Yayasan HM Cheng Hoo ternyata sangat lancar berbahasa Mandarin. "Jadi, saya tidak perlu menjadi juru bicara atau penerjemah. Tapi, sayang sekali, saya dan teman-teman belum bisa berbahasa Indonesia," ujar pria yang berlatih menari dua kali seminggu ini.

George juga dengan bangga menceritakan dua anak laki-lakinya: Xian Guan dan Yun Guan. "Mengapa dua anak? Saya dengar pemerintah Tiongkok melarang warganya punya lebih dari satu anak?" tanya saya.

"Saya beruntung sudah punya dua anak sebelum ada larangan itu. So, I'm a lucky man. Hehehehe," jawabnya enteng.

Dunia kesenian di Tiongkok ternyata tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Seniman tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan kesenian.

Jangan dikira 28 seniman asal Provinsi Yunan, Tiongkok, yang mengisi perayaan Imlek Bersama di Surabaya pekan lalu adalah seniman murni. Mereka ternyata hanya orang-orang biasa yang kebetulan punya hobi menari dan menyanyi. Mereka baru berlatih serius beberapa bulan ketika hendak berangkat ke luar negeri, termasuk Indonesia.

"Terus terang saja, kami ini punya pekerjaan pokok masing-masing. Ada yang buka toko, pegawai kantoran, guru, petani, pengusaha, dan sebagainya. Kalau tidak kerja, ya, nggak mungkin bisa hidup," ujar George Guan.

George Guan sendiri, selain berdagang, juga membuka kursus bahasa Inggris. Ini karena masyarakat Yunan, khususnya anak-anak muda, mulai tertarik mempelajari bahasa internasional tersebut. Mereka merasa bahwa berbahasa Mandarin saja tidak akan cukup.

"Rombongan kami pernah ke Eropa, yakni Prancis dan Swiss. Di sana bahasa Inggris menjadi sangat penting karena hampir tidak ada orang yang bisa berbahasa Mandarin. Lain dengan di Surabaya, orang-orang Tionghoa banyak yang menguasai bahasa Mandarin."

Kalau semua seniman sibuk dengan pekerjaannya, lantas bagaimana mempersiapkan atraksi kesenian ke luar negeri? Menurut George, awalnya memang tidak gampang. Sebab, ada saja anggota yang absen karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

"Yah, kami berlatih dengan anggota yang ada. Dan lama-lama terseleksi dengan sendirinya," bebernya.

Nah, 28 seniman yang ke Surabaya ini pun sebenarnya hasil seleksi alam juga. Mereka kemudian berlatih dua kali seminggu sebelum berangkat ke Surabaya. Untungnya, kata George, enam jenis tarian tradisional Yunan yang dipentaskan itu sudah sangat lazim di kawasan Tiongkok selatan itu. "Jadi, kami hanya tinggal mengatur koreografi, bloking panggung, dan membuat sedikit variasi saja," katanya.

Dan, agar semakin diterima audiens, tim kesenian Tiongkok tak lupa menyertakan beberapa lagu yang dianggap sangat populer di negara tujuan. Di Indonesia, misalnya, grup asal Yunan ini membawakan lagu Bengawan Solo, Butet, serta Ayo Mama. Melodinya sama, hanya liriknya berbahasa Mandarin.

"Saya suka sekali lagu-lagu Indonesia, khususnya Ayo Mama," aku George Guan, lantas menyenandungkan lagu rakyat Maluku itu.

Menurut George, duta kesenian yang datang ke Surabaya kemarin bukanlah grup yang paling hebat di Yunan, tapi punya rekam jejak cukup bagus di kawasan Tiongkok Selatan. Masih ada puluhan grup yang lebih berprestasi di provinsinya.

"Maka, kami sangat bersyukur bisa dikirim ke Indonesia. Kalau nggak ikut grup ini, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah jalan-jalan ke Surabaya. Ini pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya," pungkasnya.

No comments:

Post a Comment