15 February 2009

Diskusi Tambang di Lembata



FOTO ANSEL DERI: Orang-orang kampung di Lembata.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Teman-teman asal Flores sering kumpul-kumpul di Kafe Katedral. Ini tempat strategis di Surabaya. Persis di samping Gereja Hati Kudus Yesus (HKY) alias Katedral yang terkenal itu. Minum kopi, sesekali jus duren [enak tapi mahal], atau membaca buku dan majalah-majalah rohani.

Ada juga aktivis senior macam Paman Ansfridus yang suka bicara politik. Maklum, Ansfridus yang asli Ngada, Flores Barat, ini identik dengan Pemuda Katolik. Selama puluhan tahun Ansfridus menjabat ketua umum DPD Pemuda Katolik Jawa Timur. Seperti Pak Harto, Paman Ansfridus sulit diganti siapa pun.

"Semua tergantung saya. Kalau saya tidak mau diganti, mau apa?" kata sang paman yang dosen Universitas Darma Cendika, juga pelatih paduan suara. "Siapa yang berani gusur saya?" tantangnya.

Paman Ansfridus selalu membuat suasana diskusi warung kopi ini hidup. Dia tahu gosip politik tingkat tinggi, isu-isu panas di gereja, hingga peta politik di NTT. Maklum, sejak 1980-an Ansfridus Leko sudah aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga partai kepala banteng ini pecah menjadi PDI Perjuangan serta partai-partai nasionalis lain.

Nasib Ansfridus tak secerah teman-temannya yan sudah jadi bupati, wali kota, menteri, gubernur, fungsionaris partai besar.... Dia tetap saja di Pemuda Katolik. Beberapa kali ikut caleg, tapi kandas terus. "Hidup itu sudah ada yang atur. Yang paling penting kan bahagia. Buat apa jadi pejabat, tapi setelah itu masuk penjara?" kata Paman Ansfridus.

Nah, belum lama ini cangkrukan warung kopi Katedral diisi topik serius: Rencana Tambang di Kabupaten Lembata. Kabupaten di kampung halaman saya ini hasil pemekaran Kabupaten Flores Timur. Bupatinya, Andreas Duli Manuk, kebetulan juga sama-sama satu kampung dengan saya di Kecamatan Ile Ape "yang terkenal" itu. Hehehe....

Dan isu tambang ini sudah lama bikin panas situasi politik di Lembata. Pejabat, khususnya bupati, DPRD, tokoh masyarakat, tokoh gereja, media massa... selama bertahun-tahun terlibat polemik ihwal tambang mineral di Lembata. Diskusi panjang lebar tanpa ada titik temu. Yang ada justru titik pisah. Lembata, pulau yang tidak luas, itu pecah gara-gara tambang.

"Hubungan keluarga yang dulu baik-baik saja sekarang jadi renggang gara-gara tambang. Bahkan, orang tidak baku omong karena yang satu protambang yang lain menolak tambang," ujar teman asal Lembata.

Kabarnya, aksi unjuk rasa menentang tambang mineral masih berlanjut tidak saja di Lembata, tapi juga di Kupang, bahkan Jakarta. "Kuat mana: pro atau antitambang?" tanya saya.

"Silakan tanya langsung orang Lembata di mana saja. Saya pastikan, hampir semua menolak tambang. Yang ngotot ada pertambangan itu kan cuma bupati dan kroni-kroninya, termasuk sebagian besar wakil rakyat," kata sang teman.

"Lha, kalau mayoritas rakyat menolak tambang, kenapa kok dipaksakan?"

"Nah, itu dia! Itu yang kita orang tidak mengerti le. Kita orang ini tidak tau le!" kata si arek Lembata dengan bahasa Indonesia logat Lewoleba. Belasan tahun tinggal di Jawa Timur ternyata tidak bisa mengubah logat kampungnya. Juga kebiasaan minum tuak, arak, dan makan belawar. Hehehe....

Obrolan santai ini makin serius ketika ada pastor senior keluar dari toko buku. Namanya Pastor Frans Pora SVD, asal Kalikasa, Kebupaten Lembata. "Pater, kita minum kopi dulu. Ini ada omong-omong tentang pertambangan di Lembata. Pater kan lebih tahu kondisi di kampung," kata saya kepada pastor yang sedang berobat di RKZ Surabaya itu.

"Rencana tambang itu bikin kisruh. Dan Saudara Lambertus Hurek harus ikut bertanggung jawab," kata Pastor Frans Pora. "Soalnya, si Lambertus ini kan satu daerah dengan Bupati Andreas Duli. Hehehe...," sambung Pastor Frans Pora. Semua orang tertawa ngakak.

Lalu, pembicaraan makin serius. Pastor Frans kemudian menceritakan perkembangan terakhir di Lembata, termasuk sikap pater-pater SVD yang sangat kritis. Intinya, para rohaniwan perintis Gereja Katolik di Lembata ini khawatir masa depan Pulau Lembata jika tambang itu benar-benar dibuka. Bisa dibayangkan dalam tempo 20, 40, 60... 100 tahun mendatang. Apakah Lembata masih ada?

"Kita tidak usah jauh-jauh pigi ke Freeport di Papua. Cukup ke Manggarai saja. Kalau pejabat atau anggota dewan lihat kondisi di Reo, dia akan pikir 100 kali mau buka tambang di Lembata. kita harus berpikir jangka panjang," kata salah satu pastor asli Lembata angkatan perintis ini. Suaranya tegas, sangat serius.

Menurut Pastor Frans Pora, isu tambang di Lembata sudah lama menjadi bahan pembicaraan di kalangan para rohaniwan di Keuskupan Larantuka, bahkan di seluruh NTT. Sudah menjadi isu nasional. Tapi, rupanya, semangat untuk menggali mineral di bumi Lembata tetap saja membara.

Paman Ansfridus kemudian membuat catatan singkat. Banyak sekali usulan sang politikus Pemuda Katolik Jawa Timur itu. Pastor Frans tersenyum membaca tulisan tangan Ansfridus. "Usulan macam ini sih sudah sering ditawarkan orang, tapi belum ada hasil," katanya.

"Mohon maaf, saya pamit dulu. Ada acara di Soverdi," kata Pastor Frans.

Obrolan warung kopi pun bubar. Tidak ada kesimpulan. Dan pasti tidak ada efeknya bagi penguasa dan politisi di Lembata. Namanya saja diskusi wong cilik di warung kopi.

No comments:

Post a Comment