05 February 2009

Budaya Jalan Kaki Sudah Hilang



Jalan raya di kawasan Wonokromo, Surabaya, ini macet gak karuan. Ini karena semua orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor dan mobil pribadi. Tak ada ruang bagi pejalan kaki dan sepeda pancal.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Sejak tahun 2008 pemerintah kota Surabaya mulai peduli dengan pejalan kaki. Langkah awalnya, membangun pedestrian atawa jaklur khusus untuk para pejalan kaki. Kalau dulu disebut trotoar. Pak Bambang DH (wali kota) dan Pak Arif Afandi (wakil wali kota) sangat getol menyukseskan pedestrian.

Belum lama ini saya ikut mendengar paparan Pak Bambang tentang program-program unggulannya di Kota Surabaya. Dan salah satunya, ya, pedestrian. Sekarang kita bisa menyaksikan pedestrian di pusat kota: Panglima Sudirman, Basuki Rachmat, Tunjungan, Urip Sumoharjo, Embong Malang, dan jalan-jalan utama lainnya.

Sayang sekali, berdasar pengamatan saya [mudah-mudahan saya salah], belum banyak orang yang memanfaatkan pedestrian. Saya sengaja berjalan kaki di beberapa jalur pedestrian Surabaya. Ternyata, tidak sampai 10 orang yang saya temui. Saya pun menjadi orang aneh sendirian.

Mengapa pedestrian yang sudah bagus itu--mirip di luar negerilah--tidak dipakai? Jawabnya jelas: BUDAYA JALAN KAKI alias walking habit sudah lama hilang di Surabaya. Juga di kota-kota lain.

Serbuan sepeda motor Jepang sejak 1970-an, kemudian mobil, mengakibatkan kepemilikan kendaraan pribadi yang luar biasa. Dan setiap tahun jumlah motor dan mobil pasti meningkat, sementara lebar dan panjang jalan raya tetap sama.

Saya tinggal di kawasan Aloha, Gedangan, pinggiran Surabaya. Praktis, semua orang menggunakan kendaraan pribadi. Ada tetangga saya yang punya delapan motor, dua mobil. Ada yang 12 motor. Ada yang satu atau dua motor. Karena itu, ke mana-mana orang menggunakan mesin alias motor untuk bergerak.

Dua kaki tidak lagi berfungsi untuk berjalan meskipun sekadar membeli minyak goreng atau sabun di tetangga sebelah. Banyak teman saya yang memakai sepeda motor hanya untuk membeli air galonan yang jaraknya hanya terpaut lima rumah. Mengapa tidak jalan kaki saja? "Wah, capek deh. Enakan naik motor," kata si Robby, karyawan swasta.

Saya juga suka memperhatikan jalan umum di kawasan Aloha, mulai Bangah, Sawotratap, hingga Pepelegi. Ternyata, tidak orang yang jalan kaki. Jalan penuh sepeda motor. Kendaraan umum, yang warna hijau itu, ada, tapi sangat sedikit. Nah, untuk ke jalan raya yang hanya sekitar 400-500 meter, tak ada orang yang mau jalan kaki. "Capek, ntar keringatan," kata Sarah, karyawan di Surabaya.

Dia memilih naik becak, Rp 5.000 sampai Rp 10.000, sekali jalan. Tarif becak memang sangat lentur, tergantung negosiasi dan kenal-mengenal. Orang baru menjadi makanan empuk tukang becak di Surabaya dan Sidoarjo.

Ada lagi fenomena lain, betapa budaya jalan kaki sudah menghilang sama sekali. Saya kasih contoh si Rusmanto yang parkir di Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso. Hotel ini sangat dekat dengan Plaza Surabaya alias Delta. Ketika hendak ke Delta, apa yang dia lakukan? Aha, bukannya jalan kaki yang hanya 5-7 menit, Rusmanto mampir ke parkir, naik motor ke plasa itu. Masuk ke arel parkir, bayar, dan menikmati pusat belanja di tengah kota itu.

Di Delta muncul pikiran untuk jalan-jalan ke Tunjungan Plaza. Jaraknya pun sebetulnya tak jauh dari Plaza Surabaya. Maka, Rusmanto cepat-cepat ke parkiran, bawa sepeda motor ke Plaza Tunjungan. Kalau di Singapura, Malaysia, dan kota-kota beradab lainnya, perilaku maam ini tentu sangat aneh. Tapi di Surabaya, ya, demikianlah. JALAN KAKI, meski untuk jarak sangat pendek, dirasa sangat menyiksa. Manusia sudah terikat dengan mesin, entah itu sepeda motor atau mobil.

Karena itu, saya tidak heran melihat kereta api komuter Surabaya-Sidoarjo [Susi] yang gagal. KA Susi ini diresmikan Presiden Megawati pada 2004, kalau gak salah. Salah satu tujuannya: mengurangi orang yang ke mana-mana pakai sepeda motor. Sebab, macet dan ruwetnya jalan raya di Surabaya, ya, akibat jutaan motor dan mobil melintas setiap hari. Pemerintah resah. Keruwetan ini harus segera diatasi karena 15, 20, 30 tahun lalu kondisi akan sangat parah.

Tapi, ya itu tadi, masyarakat kita sudah bertahun-tahun terbiasa TIDAK menggunakan kaki. BUDAYA JALAN KAKI tidak ada lagi. Ini aneh juga karena orang Surabaya--yang berpenghasilan tinggi--terbiasa jalan-jalan di Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo, London... dan kota-kota besar lain. Pulang ke Surabaya, mereka bercerita panjang lebar tentang nikmatnya jalan kaki di luar negeri.

"Saya tiap hari jalan paling sedikit lima kilometer," ujar kenalan saya, Ismail, yang baru pulang dari Tiongkok.

"Kalau di Surabaya, masih jalan kaki juga?"

"Gak pernah. Repot kalau jalan kaki di sini."

"Apanya yang repot?"

"Banyaklah. Di Tiongkok pedestriannya luar biasa lebar. Yang jalan kaki juga banyak. Sementara di sini gak ada orang yang jalan kaki. Pokoknya, apa-apa yang baik dan sederhana di luar negeri, di Indonesia sering kali susah diterapkan.

"Kita bisa antre dengan tertib di Singapura, tapi di Surabaya kita rebutan gak karuan. Jadi, ini soal sistem dan budaya. Dan itu gak iso dibangun cuma dalam waktu satu dua tahun," urai kenalan saya itu panjang lebar.

Maka, saya agak cemas dengan pedestrian di Surabaya. Apakah akan dipakai untuk pejalan kaki, berkembang seperti di Singapura dan kota-kota di negara maju? Ataukah, kembali dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima karena memang tidak pernah dipakai?

Tanpa budaya jalan kaki, pedestrian atau apa pun namanya tidak akan berhasil. Dan itu berarti upaya pemerintah kota menggalakkan transportasi massal, sekaligus mengurangi kendaraan pribadi, tidak akan sukses juga. Ujung-ujungnya jalan raya di Surabaya akan macet cet-cet-cet-cet di masa depan.

9 comments:

  1. Maaf Cak nambahin dikit, kalau boleh dicontoh mungkin pedestrian di Jl. Kebon Sirih antara Gedung Bimantara sampai Jl. Thamrin, Jakarta Pusat. Kapan mampir di WARTEG KHARISMA
    1. Jl. Tebet Barat Dalam Raya No. 86 B, Jakarta Selatan.
    2. Jl. tebet Barat Dalam VII No. 5, Jakarta Selatan
    3. Jl. Kenari I No. 47, Jakarta Pusat

    ReplyDelete
  2. Soro cak kalau mlaku-mlaku nang Suroboyo, pasti keringeten, sumpek, dan kenek beluke bis kota sing ireng koyok alas kobong.

    ReplyDelete
  3. Mas Hurek, maaf ya saya termasuk yang alergi dengan sepeda motor karena punya pengalaman gak enak. Pertama, keserempet motor dijalur yang seharusnya tidak dia lewati. Saya nunggu angkot tiba2 datang motor dari arah berlawanan, padahal jalur satu arah! Gubraks..jatuhlah saya dengan sukses. Meski hanya lecet dan berdarah sedikit, si pengemudi dengan entengnya malah marah dan bertanya mata loe dimana? Duh kurang ajar banget! sudah dia yg salah masih bentak pula. Saya jawab elo yang gak punya mata dodol! Dah salah ngeyel lagi!!!

    Kejadian kedua, saya dijambret oleh pengendara bermotor yg berboncengan ketika saya sedang berada dalam bajaj dengan tujuan akan ke gereja.

    Ketiga, kakak perempuan saya tadi malam baru saja tertabrak motor yang muncul tiba2 dan tidak menyalakan lampu padahal sudah jam 7 malam! Kakak mendapat 8 jahitan pada bagian kepala sedang si pengemudi pura2 ikut kesakitan sehingga justru dia yang pertama ditolong warga.

    Rentetan peristiwa ini bikin saya benci dengan motor yang suka seenaknya nyalip sana sini, tidak mau memperlambat laju meski tau orang akan nyeberang di zebra cross! Juga banyak sekali anak2 dibawah umur yang belum pantas bawa motor dengan seenaknya ngebut2an seperti jalan punya nenek moyangnya.

    Saya mendukung gerakan jalan kaki, lebih baik berkeringat dan membakar kalori daripada naik si roda dua pembawa celaka itu.

    ReplyDelete
  4. Hm...mungkin mas RAK itu ada benarnya, kalau jalan kaki di Surabaya panas dan keringatan dan berdebu? hehe

    Saya baru dua kali ke Surabaya...yang terakhirpun sudah sekitar 6 tahun yang lalu. Yang saya ingat ttg Surabaya...(selain makanan yg enak) ya panasnya yg menyengat!

    Padahal kalau dipikir-pikir, di sini pun sebenarnya panas lho...tengah hari bisa sampai 34C. Tapi mungkin krn angin semilir dan udara yg relatif lebih bersih, dan hehe....tidak terjebak macet, makanya saya (hampir) tidak pernah mengeluh.

    Kalau saya lagi mudik ke Jakartapun, ke mana2 saya harus naik kendaraan, apalagi dulu sewaktu anak masih kecil. Bisa bayangkan bawa "kereta bayi" jalan di pedestrian kota Jakarta??? Duuuh...

    Selain itu, desain tata kota dan prasarana yg baik dan menyeluruh serta lengkap u semua warganya (dari bayi hingga lansia) juga salah satu aspek yg perlu diperhatikan dan dibenahi. Tidak mudah dan tidak murah ya mas.... :)

    ReplyDelete
  5. Terima kasih atas tanggapan teman-teman: RAK Mantap (Surabaya/Gresik), Cak Mulyawan (Jakarta), Mbak Dyah (Singapura), Mbak Elyana (Jakarta). Memang tidak gampang menghidupkan sistem transportasi umum di Surabaya.

    Sudah kompleks bin ruwet buangeeet! Tapi kalau tidak ada terobosan, maka 20-25 tahun mendatang, jalan raya macet gak karuan. Matur suwun banget!!!

    ReplyDelete
  6. iya yah, saya sendiri pengen jalan kaki juga, yah sekedar biar badan sehat dikitlah,,

    tapi itu hanya keinginan saja,, gak pernah ada realitanya..

    Kalo ke kampus jalan kaki?? wah naek motor aja udah telat banget dateng ke kampusnya apalagi jalan kaki.

    Harusnya selain membangun pedestarian pemkot juga perlu mensosialisasikan pedestarian- pedestarian yang ada di Surabaya lebih getol lagi.

    Atau Hidup tanpa kendaraan bermotor, sehari atau beberapa jam. Yah itung-itung mengurangfi kemacetan. Tapi repot juga, kalau jalan yang satu sepi. Pasti ada jalan yang menjadi alternatif jadi ikutan macet.

    Repot juga yah,,

    ReplyDelete
  7. Dari dulu saya doyan jalan kaki. Sampai tukang2 becak dekat rumah saya sinis karena selalu tak mau ditawari naik. Walhasil setelah di sini, tak kaget jika jalan kaki beberapa kilometer sehari. ira

    ReplyDelete
  8. Kalau saya memang penggemar berat jalan kaki,,
    - waktu SD saya suka jalan kaki waktu pulang sekolah 30 menit..
    - waktu SMP saya suka jalan kaki juga 20 menit dari sekolah - rumah
    - waktu SMA saya juga suka jalan kaki, tapi cuma dari sekolah sampai tempat les sekitar 15 menit.
    - waktu kuliah saya suka jalan kaki dari kampus sampai rumah sekitar 1 jam
    - sampai sekarang sudah kerja pun, dari rumah - kantor saya jalan kaki selama 30 menit,,

    tapi sekarang saya sedih, karena trotoar di kota saya (Bandar Lampung) saat ini dibongkar (hampir semua), khususnya trotoar di jalan2 yg sering saya lewati, pembongkaran trotoar itu dimaksudkan untuk pelebaran jalan,,
    jadi hilanglah harapan saya untuk bisa jalan kaki lagi..

    ReplyDelete
  9. Jadi pejalan kaki fisik dan instingnya harus melebihi atlet olimpiade! Setiap ada jalan masuk kerumah atau bangunan pasti bikin pejalan harus turun naik trotoar syukur2 dibikin miring seperti atap rumah walaupun mesti keluarin jurus keseimbangan para pesenam. Dan baru jalan 10meter kita mesti niru pelari lintas alam, loncat kiri-kanan-nyerong 20derajat (krn ada lubang atau gundukan)..eh baru aja mau rileks…batal !! Didepan kita mesti jalan merambat sambil jinjit ala ballerina, plus tahan nafas biar perut mengecil. Trotoarnya sih cukup lebar tapi cuma sisa 20 senti krn di”curi” toko atau kaki 5 atau ada pohon super gede (klu ini sih gpp, soalnya bikin adem..).

    Selain itu, pejalan kaki investasinya besar dan teknologi kedokteran belum ada euy. Pejalan kaki kan harus punya 7 pasang mata agar sampai tujuan dengan utuh. 2 pasang mata untuk liat kiri-kanan krn banyak kendaraan males ngerem WALAU kita nyebrang di zebra cross (dan pastinya sih takut kesrempet n dijambret juga). Terus 2pasang lagi di depan-belakang, ini karena takut disruduk kendaraan. Hhhm dah 4 pasang yah, berarti kurang 3pasang lagi. Oh ya, buat lihat atas-bawah (takut kejedot plang-plang atau nyemplung ke lubang/ kesandung gundukan).. dan 1 pasang terakhir untuk liat arah biar gak kebablasan atau nyasar.. Kalau bisa nikmatin pemandangan, itu pasti karena kantor-kantor lagi pada cuti bersama !!

    Intinya sih, budaya jalan pasti akan tumbuh kalau memang pemerintah niat untuk bikin pedestrian.. Buktinya (eh katanya), banyak masyarakat yang datang ke tempat car free day…

    ReplyDelete