20 February 2009

Bahasa Indonesia Makin NGINGGRIS



Kamis, 19 Februari 2009. Saya mampir ke dua tempat: sebuah gereja di Surabaya dan kantor Balai Bahasa. Yang terakhir ini berlokasi di kawasan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo.

Seperti biasa, saya membaca pengumuman yang ditempel di depan gereja besar itu. Aha, beberapa poster 100 persen pakai bahasa Inggris. Bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa, 0 persen. Apakah jemaat gereja itu ekspatriat atau orang asing? Atau, semuanya bisa berbahasa Inggris?

Pasti TIDAK. Saya tahu persis komposisi jemaat gereja itu. Di Surabaya, memang ada komunitas ekspatriat yang setiap Minggu bikin kebaktian dalam bahasa Inggris, tapi bukan di sini. Dan, yang jelas, pengumuman itu berisi undangan atau ajakan kepada umat gereja yang, sekali lagi, sebetulnya bukan pemakai English.

"Kok bisa ya pengumuman pakai bahasa Inggris? Apakah tidak bisa memakai bahasa Indonesia yang lebih lazim? Ada apa di balik ini semua? Sekadar bergaya, biar terkesan hebat, kosmopolit, keren....," begitu batin saya.

Pulang dari gereja ini, saya mampir ke Balai Bahasa. Masuk di halaman kita disambut tulisan AKU CINTA BAHASA INDONESIA, TIADA CELA BERBAHASA INDONESIA. Balai Bahasa--kepanjangan tangan Pusat Bahasa di Jakarta--memang getol mengampanyekan pentingnya bahasa Indonesia. Bahasa yang baik dan benar.

Okelah, silakan belajar bahasa asing sebanyak-banyaknya, tapi cintailah bahasa nasional. Bahasa Inggris sangat penting, sebagai bahasa internasional utama, tapi pakailah secara proporsional. Tahu tempat, sadar waktu, kapan harus digunakan.

Ketika saya mewawancarai duta besar atau konsul negara asing, ya, harus bebahasa Inggris. Menulis surat permohonan wawancara kepada konsul USA, Tiongkok, Filipina.... harus berbahasa Inggris. Berkomunikasi dengan profesor di Pittsburgh, USA, ya Inggris.

Tapi, ketika bicara dengan ibu-ibu paroki di Juanda, Pagesangan, Rungkut, Ngagel, Katedral... ya bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Bertemu orang Flores Timur, seyogyanya berbahasa Lamaholot. Prinsip dasar komunikasi inilah yan rupanya mulai diabaikan banyak orang Indonesia yang sok Inggris. Bahasanya gado-gado: Indonesia, Jawa, Inggris, dan entah apa lagi.

SOK INGGRIS atawa NINGGRIS, begitu istilah Remy Sylado, munsyi yang menurut saya paling istikamah dalam mengkaji bahasa Indonesia saat ini. Remy yang orang Manado itu menguasai secara aktif 20-an bahasa di dunia, termasuk Arab dan Tiongkok yang--kata orang sangat sulit--itu. Tapi perhatikan Pak Remy berbicara atau tulisan-tulisan beliau: tak ada kata-kata atau frase asing yang tidak perlu.

Remy Sylado menulis:

"NGINGGRIS adalah gejala suatu bangsa terjajah yang diliputi perasaan ragu, bimbang, dan tak punya konfidensi untuk berdiri sebagai bangsa berharkat dengan bahasa nasional, sehingga mereka merasa harus bercakap Indonesia dengan menyelang-nyelingkan kata-kata dan istilah, bahkan kalimat, bahasa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia."

Penyakit gila NGINGGRIS ini paling banyak menimpa kalangan pesohor yang tiap hari nongol di televisi. Bahasa Indonesia--lebih tepat Melayu Betawi--mereka benar-benar kacau. Campur-campur Inggris tak karuan. Tidak sadar bahwa mereka bicara di stasiun televisi nasional untuk penonton Indonesia.

Coba kalau disuruh berbahasa Inggris 100 persen... hmm... belum tentu bisa. NGINGGRIS hanya sekadar gaya hidup, simbol status sosial. "Yah, kayak other guest, saya feel good lah stay di sini karena manajemen hotel care banget and professional. Next time saya dan keluarga stay lagi lah," kata seorang artis mengenai pengalaman menginap di sebuah hotel.

Mengapa penyakit NGINGGRIS ini menimpa sebagian orang Indonesia? Menurut Remy Sylado dan pakar-pakar bahasa lainnya, gejala ini tak ada kaitan dengan kemampuan berbahasa banyak (poliglot) atau multilingual, tapi ibarat penyakit remaja puber: aneh-aneh, genit, kenes.

Di tengah gempuran globalisasi--dan Indonesia, seperti biasa, jadi pecundang--berusaha mengangkat 'martabatnya' dengan NGINGGRIS-NGINGGRISAN. Makin NGINGGRIS makin kerenlah dia, makin hebat, makin kota, bukan orang kampung yang bodoh dan terbelakang.

6 comments:

  1. gimana ya?
    jadi merasa terpukul saat ini, saya seorang pecinta nginggris soalnya...

    parah-parah-parah
    :)

    ReplyDelete
  2. salam kenal..
    Aku juga terkadang Nginggris nih, bukan apa apa, kadang aku suka susah mengungkapkan dalam bahasa Indonesia apa yang ada dalam otak ini, bukan sombong juga, atau mau bergenit atau apa lagi lah, tapi timbul dengan sendirinya.
    Menuntut berfikir 2 kali untuk menggunakan bahasa Indonesia yang benar,
    Salut buat pak REMI SYLADO yang bisa 20 bahasa dan bisa memilah milahnya,
    sekali lagi salam kenal

    ReplyDelete
  3. Coba di cek di blog ini, nginggris-nya udah bener belum ya

    ReplyDelete
  4. begini. bhs indonesia n org indonesia memang paling luwes shg pengaruh bhs lain sangat2 besar, apalagi bhs inggris. keluwesan itu yg menyebabkan bhs terkesan gado2.. dan itulah "kelebihan" bhs indonesia.
    tapi memang kita perlu bijaksana n tetap kontrol agar gak kebablasan. suka gak suka bhs inggris emang paling unggul n paling berpengaruh ketimbang bhs mana pun di dunia.
    bhs itu berkembang sesuai situasi masyarakat. cara berbahasa mencerminkan masyarakat itu sendiri.

    salam kenal.
    alfred

    ReplyDelete
  5. Yang paling penting adalah tahu kapan menggunakan bahasa apa secara tepat. Sama juga seperti sopan santun dan tata krama...musti lihat lawan bicara dan situasi dan tempat nya.

    Betul mas? :)

    Maaf jarang mampir nih, lagi sibuuk dengan urusan domestik dan kerjaan.

    ReplyDelete
  6. Saya sangat suka dengan tulisan yang berkenaan dengan bahasa, semacam 'pembinaan Bahasa Indonesia' di berbagai media. Maaf ya, suka gatel telinga kalo dengar bahasa gado-gado(Nginggris yang keterlaluan) apalagi baca sur-el (e-mail) resmi di kantor.
    Saya mulai dengan diri sendiri, kalo membuat surat berbahasa Indonesia ya murni pakai istilah Indonesia semua. Sedapat mungkin kita cari padanan Indonesia kalo harus mengungkapkan istilah dari bahasa asing.
    Gak sulit kok, kalo terbiasa dan sering buka kamus.
    'Aku cinta kaidah bahasa/ber-bahasa Indonesia yang benar dan baik'

    ReplyDelete