28 February 2009

Sekolah Jepang di Surabaya




Tahun 2009 ini Surabaya Japanese School, yang juga disebut Sekolah Jepang Surabaya (SJS), genap berusia 30 tahun. Meski menggunakan kurikulum Jepang, para siswa juga belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Oleh ZULIA RAHMA dan ENDANG SP
Mahasiswa Bahasa Jepang Universitas Negeri Surabaya


“KONNICHIWA!"

Sapaan yang berarti 'selamat siang' itu diucapkan Kuniaki Nishi, kepala SJS, Jumat (13/2/2009). Guru yang ramah ini kemudian mengajak kami jalan-jalan keliling sekolah di Jalan Jetis Seraten, Ketintang, Surabaya, itu.

Kompleks SJS terlihat sangat bersih, rapi, dan terawat. Ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, semuanya kinclong. Ada lapangan sepakbola, lapangan olahraga indoor sekaligus aula serbaguna. Maka, tak heran, bocah-bocah cilik yang belajar di sini merasa nyaman dan betah.

Menurut Kuniaki Nishi, sekolah yang dia pimpin mengusung format sekolah ala Jepang pada umumnya. Sistem pembelajaran disesuaikan dengan ketentuan Kementerian Pendidikan Jepang yang disebut Kyouiku Kihonhou. Bahasa pengantar tentu saja bahasa Jepang.

“Siswa kami ajar untuk mandiri dan bertanggung jawab,” ujar pria yang berasal dari Kyushu ini.

Contoh: siswa harus membersihkan dan mempercantik kelas sendiri. Mereka juga harus menata barang-barang mereka dengan baik dan rapi. Semua tempat barang yang dibutuhkan siswa seperti rak buku, loker, tempat sepatu, tempat perabot kebersihan, dan sebagainya telah tersedia di kelas.

Bocah-bocah TK memulai aktivitas sekolahnya dari pukul 07.30 sampai 13.30. Siswa SD dari pukul 07.30 sampai 13.50. Sedangkan yang SMP mulai pukul 07.30 sampai 15.55. Waktu belajar memang relatif panjang. Karena itu, setiap hari siswa harus membawa bento alias bekal makanan untuk makan siang.

"Ketika istirahat, anak-anak itu makan bersama di kelas. Mereka dibimbing oleh guru," kata Kuniaki Nishi.

Saat ini jumlah keseluruhan siswa 47 orang dengan 13 guru. Anak-anak Jepang, termasuk yang campuran Indonesia-Jepang, tampak sangat senang bermain dan belajar di SJS. Menurut Kuniaki, sekolah ini juga memiliki berbagai kegiatan rutin seperti nakawai (menginap di sekolah untuk siswa kelas 1 sampai 4), ryokou (rekreasi), perlombaan, dan penyambutan siswa baru.

Lalu, ke mana lulusan SJS melanjutkan pendidikan? Karena banyak orangtua siswa yang campuran Jepang-Indonesia (orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia), mereka bisa melanjutkan ke SMA di Surabaya atau kota-kota lain di Indonesia. "Ada juga yang pulang ke Jepang," ungkap lulusan Universitas Keguruan Fukuoka ini.

Setiap Jumat siswa SJS belajar bahasa Indonesia. Anak-anak Jepang asli maupun peranakan ternyata cukup lancar berbahasa Indonesia. Mereka juga senang ketika diajak berbincang dalam bahasa Indonesia.

Yang menarik, para siswa juga belajar bahasa Jawa. Bahkan, aksara hanacaraka pun terlihat juga di ruang kelas. "Kami ingin agar anak-anak punya apresiasi terhadap kebudayaan Indonesia," pungkas Kuniaki Nishi. (*)

27 February 2009

Seminari Tinggi Ledalero - Flores



Oleh Ermalindus Sonbay

Tahun ini usia Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero yang terletak sekitar 10 kilometer dari Ibukota Kabupaten Sikka, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), genap 72 tahun. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang secara khusus mempersiapkan calon imam dan berdiri pada 20 Mei 1937, sekolah ini sering disebut-sebut sebagai matahari intelektual dari timur.

Gelar "matahari intelektual dari timur" memang bukan tanpa alasan. Sebagai sebuah kampus yang terletak di sebuah pulau dengan segala keterbatasannya, STFK Ledalero yang membuka cabang ilmu filsafat dan teologi ini, justru mampu mengimplementasikan dirinya sebagai "garam" dan "terang" dalam dunia pendidikan.

Mantan Rektor STFK Ledalero Pater Dr Philipus Tule, SVD dalam berbagai kesempatan mengatakan, dalam kurun waktu 23 tahun sejak tahun 1983, STFK Ledalero telah mengirimkan lulusannya sebanyak 300 orang ke 37 negara, di antaranya ke Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, Eropa, Australia, dan Rusia.

Perubahan besar juga terjadi untuk tenaga pengajar. Kalau sejak 1980-an, tenaga pengajar didominasi oleh dosen dari luar negeri (misionaris) , terutama dari Eropa, maka sekarang dari 44 dosen tetap (S-2/S-3), hanya tiga dosen dari luar negeri. Ketiga dosen dari luar negeri itu adalah Pater Dr George Kirchberger SVD dari Jerman, Pater Jozef Pieniazek SVD dari Polandia, serta Pater Dr John M Prior SVD asal Inggris.

STFK Ledalero mengembangkan sistem pendidikan yang mengarahkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan mandiri dalam berbagai hal. Suasana demokratis sangat terasa selama perkuliahan berlangsung. Perdebatan sengit sering terjadi antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa mengkritik dosen, dosen mengeritik mahasiswa, atau di antara sesama mahasiswa saling mengkritik, merupakan pemandangan biasa.

"Menariknya, tingkah laku kita saat kuliah, misalnya mengkritik habis-habisan teori yang sedang diajarkan sang dosen, tidak berpengaruh sama sekali dengan nilai akhir ujian. Tak ada dosen pendendam," kata Fabianus, alumnus STFK Ledalero yang kini bekerja sebagai dosen di salah satu kampus di Jakarta.

Kata Ledalero sendiri dari kata leda dalam bahasa Maumere berarti sandar, dan lero adalah matahari atau bukit. Ledalero adalah bukit sandaran matahari. Menurut Pater Tule, masyarakat sering menyebut demikian, sebab dimungkinkan jika dilihat dari Maumere, saat matahari terbenam, akan tampak seolah-olah matahari bersandar di bukit di kawasan lembaga pendidikan ini berada.

Dulu tempat ini dikenal angker. Masyarakat sekitar mengisahkan, tempat itu banyak setan. Masyarakat tak berani untuk menempati, sampai para misionaris datang dan tinggal di sana.

STFK Ledalero merupakan peningkatan dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, yang didirikan oleh Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), sebagai tindak lanjut dari ensiklik atau pesan tertulis Paus Benediktus XV pada tahun 1919.
Tahun 1935, kegiatan per kuliahan sudah berjalan dengan mahasiswa sebanyak 13 orang. Namun, pada 20 Mei 1937 barulah sekolah tinggi ini disahkan. Tanggal ini sekaligus dijadikan tanggal resmi berdirinya STFK Ledalero.

Rektor STFK Ledalero saat ini, Pater Dr Kondrat Kebung, SVD mengatakan, STFK Ledalero sebenarnya baru berusia 40 tahun, lebih muda 32 tahun dari Seminari Tinggi Santu Paulus induk semangnya. Pasalnya, baru tanggal 15 April 1969 para uskup Nusa Tenggara dan Regional SVD se-Indonesia membahas status Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Superior General SVD (pemimpin orde SVD di seluruh dunia), Pastor Musinsky dari Roma yang berkunjung ke Ledalero pada tanggal 5 November 1969, menyetujui usulan mengenai status sekolah tinggi. Ledalero menerima status terdaftar pada 18 Juni 1971 dan diakui Pemerintah RI pada 12 Januari 1976. Pada 22 Januari 1981 STFK Ledalero mendapat status disamakan untuk tingkat sarjana muda.

Karena itu, pada panca windunya, STFK Ledalero sudah menghasilkan ribuan lulusan yang bekerja di seantero jagat. Kebanyakan yang berkarya di Tanah Air adalah misionaris-misionar is awam (non-biarawan) , sedang yang bekerja di lima benua terbanyak adalah misionaris biarawan (klerikal dan non-klerikal) .

Hingga kini sudah ada puluhan uskup, 763 imam SVD, serta ribuan awam Gereja Katolik yang dibesarkan seminarium (persemaian) ini. Mahasiswa/inya pun mulai bervariasi, tidak hanya calon misionari SVD, ada juga calon imam projo (Pr) dari Seminari Tinggi Ritapiret, Scalabrinian, Carmel, Rogationis, Konggregasi Suster-suster SSpS, KFS, CSSS, Pasionis, serta mahasiswa awam (non-klerikal).

Selain itu beberapa imam konggregasi MSC, CSSR dan SDB juga pernah mengenyam pendidikan di tempat ini. "Kami tetap mengupayakan agar konsisten pada perkembangan teologi, filsafat, ilmu-ilmu sosial dan politik, bahasa, budaya serta pendekatan lain yang membantu pelayanan para misionaris dan juga lulusan awam lainnya," kata Rektor STFK Ledalero Dr. Konrad Kebung.

Ledalero kini memiliki sebuah perpustakaan terlengkap di Nusa Tenggara Timur, sebuah laboratorium komputer, lab bahasa, bengkel kreasi mahasiswa berupa sanggar lukis, tiga teater, sarana dan prasarana olahraga, serta gedung perkuliahan yang baru.

Pascagempa yang menghantam Flores pada 1992 dengan kekuatan 6,8 pada skala Richter, beberapa angkatan STFK Ledalero harus menghabiskan masa perkuliahan program strata satu dan pascasarjananya di barak-barak kuliah darurat. Gedung perkuliahan baru dengan dua blok berlantai dua (untuk S1 dan S2), baru mulai digunakan pada pertengahan 2001.

Sumber: Suara Pembaruan

24 February 2009

Surabaya City of Work - Howard Dick




Saya baru saja menerima kiriman buku tebal, 541 halaman, berjudul SURABAYA CITY OF WORK dari Prof. Andrew Weintraub Phd, dosen University of Pittsburgh, Amerika Serikat. Buku ini ditulis Prof. Howard Dick, dosen Univesity of Melbourne, Australia.

Terima kasih banyak, Andrew!

Andrew Weintraub, musikolog dan peneliti musik melayu-dangdut ini meski profesor doktor, tidak mau disapa Profesor Andrew, Mister Andrew, Pak Andrew, atau kata sandang apa pun. Dia minta cukup dipangil namanya saja.

"Panggil saya Andrew saja, biar lebih akrab," kata Andrew. Ah, ternyata orang Amerika begitu egaliternya sehingga tidak perlu ada diskriminasi berdasar usia, status sosial, jabatan, dan sebagainya. Salut!

Sahabat dari Amerika ini beberapa kali berdiskusi dengan saya melalui surat elektronik, kemudian ketemu di Surabaya. Andrew memang peneliti yang luar biasa!

Kembali ke buku Howard Dick. Sejarawan ini mengkaji secara komprehensif sejarah sosial-ekonomi Kota Surabaya pada 1900 sampai 2000. Rentang waktu 100 tahun. Tentu, ini membutuhkan kerja keras, dokumentasi, buku-buku, narasumber, serta ketekunan yang luar biasa. Syukurlah, Howard Dick berhasil menemukan segepok arsip tentang Surabaya pada era 1900-2000 di Belanda.

Luar biasa! Saya sendiri geleng-geleng kepala melihat etos peneliti Barat. Kalau sudah meminati sesuatu, riset, mereka lakukan habis-habisan. Dia tinggal di Surabaya selama berbulan-bulan. Wawancara banyak dengan penduduk, pengusaha, pejabat, pengusaha, dan semua yang terkait dengan penelitiannya. Semua data dicatat, diolah, sehingga menjadi potret Kota Surabaya.

Orang luar, apalagi akademisi Barat, kerap jauh lebih objektif dan jernih. Maka, buku SURABAYA CITY OF WORK ini boleh dikata merupakan potret perjalanan Surabaya selama satu abad. Bagaimana Surabaya pada abad ke-19, awal kemerdekaan, era repatriasi [pengembalian sisa-sisa Belanda] dan nasionalisasi perusahaan negara Hindia Belanda, Orde Lama, Orde Baru [1966-1998], Refomasi [1998 sampai sekarang]. Semua dibahas tuntas oleh Howard Dick. Data, ilustrasi, peta, foto... sangat berbicara.

Sekarang ini Surabaya dijuluki sebagai KOTA NOMOR ENAM di Indonesia. Nomor satu Jakarta. Nomor tiga? Jakarta lagi. Nomor empat? Jakarta. Nomor lima? Jakarta lagi. Surabaya nomor enam, bukan nomor dua! Pelesetan lama itu menggambarkan betapa Jakarta, ibukota republik, adalah segalanya di Republik Indonesia. Sebagian besar uang berputar di Jakarta. Pertumbuhan ekonomi terpusat di Jakarta.

Surabaya hanya kecipratan remah-remah Jakarta. Jangan lagi bicara luar Pulau Jawa, apalagi Indonesia Timur, yang sejak dulu tidak pernah masuk hitungan. Nah, Howard Dick membeberkan data sejarah bahwa tempo doeloe Surabaya itu kota terbesar di Jawa. Jakarta kalah jauh.

Howard Dick menulis:

"At the beginning of the twentieth century, Surabaya was by population and volume of trade the foremost city of Java. A prosperous urban economy based on foreign trade and associated services had been sustained by decades of rapid development of plantation agriculture in the hinterland...."

Penduduk Surabaya saat itu 150.000, Jakarta 138.500, Semarang 96.700. Kemudian, kita tahu Jakarta berkembang menjadi kota raksasa dengan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Roda ekonomi Jakarta pun berputar kencang melampaui Surabaya. Prestasi Surabaya hanya sekadar romantisme masa lalu. Hanya catatan sejarah belaka.

Namun, Howard Dick mencatat Surabaya tidak tinggal diam. Pelan tapi pasti, kota pelabuhan ini terus bergerak dan kembali merebut perhatian kalangan investor. Surabaya, dengan kawasan penyangga Sidoarjo dan Gresik, juga menjadi kota industri. Urbanisasi pun berlangsung dengan leluasa. Sehingga, saat ini penduduk Surabaya sudah mencapai 5 juta, Sidoarjo 2 juta, Gresik 1,5 juta.

Meski Surabaya sudah padat penduduk, Howard Dick mengapresiasi kerja keras pemerintah kota, yang didukung teknokrat kampus, membenahi kampung-kampung. Ingat, Surabaya itu bukan kota modern yang didesain secara konseptual ala kota-kota besar di negara maju. Surabaya itu aglomerasi kampung. Kampung Improvement Project [KIP] di Surabaya dianggap sukses, sehingga menjadi model di Asia Tenggara.

Howard Dick memperlihatkan data dan foto tentang wajah Surabaya yang berubah sama sekali. Dari kampung becek, tidak terawat, sumber penyakit [kolera, disentri, tipus], menjadi kampung yang bersih dan rapi. Surabaya menjadi pelanggan penghargaan Adipura sejak 1980-an sampai sekarang.

Howard Dick menulis:

"Surabaya's record on kampung improvement was still much better than the national average " [halaman 191].

Di sela-sela catatan sejarah sosial-ekonomi yang padat, Howard Dick secara halus menyentil pola konsumsi dan gaya hidup orang kaya di Surabaya. Sejak zaman Belanda, tahun 1900, sampai hari ini, ya, sama saja. Dengan uang berlimpah, orang-orang kaya senantiasa mencari permukiman elite, eksklusif, yang jauh dari kampung.

Kalau zaman Hindia Belanda, kawasan Raya Darmo menjadi pilihan kaum beruang, kini pilihan jatuh ke real estat di pinggir kota. Kawasan supermahal dengan danau buatan, lapangan golf, sekolah internasional, mal khusus, dan fasilitas kelas satu lainnya. Howard Dick menulis di halaman 397:

"... they could buy a new site and build a modern dream home and indulge their own fantasies of being modern," tulis Howard Dick.

"They could live among their own group in a safe and secure environment well away from the pressures and threats f the crowded kampungs, no squatters, no street sellers, and no becak. Security kept out such intruders."

La Nosta TVRI Jawa Timur



Asyik juga menyaksikan secara langsung LA NOSTA di TVRI Jawa Timur [dulu TVRI Surabaya], Ahad (22/2/2009). Ini program musik nostalgia yang disiarkan secara langsung dari studio besar TVRI di Jalan Mayjen Sungkono Surabaya.

Acara macam ini selalu ramai. Bapak-bapak, ibu-ibu, om dan tante, juga beberapa anak muda, selalu memenuhi studio. Sebagian penonton ternyata bs-bos besar, pemilik pabrik, manajer atas... Singkatnya, mereka orang-orang penting di Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

"Rasanya jadi muda lagi. Seperti kembali ke 30-an tahun lalu ketika saya sama bapaknya anak-anak baru kenalan," ujar Tante Ratih dari Surabaya. "Lagu-lagu lama itu tidak akan lekang oleh zaman. Melodinya bertahan dari masa ke masa," timpal pengusaha Tionghoa yang lain lagi.

Seperti biasa, malam itu LA NOSTA diiringi Casino Band. Grup ini sejak 1970-an sudah malang melintang di berbagai tempat hiburan. Mereka tidak bikin album, tapi spesialis mengiringi penyanyi mana saja. Mau lagu macam apa, pop 50-an, 60-an, jazz, fusion, melayu, keroncong, campursari, disco... Casino Band tak kesulitan.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala, grup pimpinan Pak Juhari ini bisa menirukan lagu-lagu apa saja sesuai dengan aslinya. Intro, beat, sound, hingga cara menyanyi diusahakan sama persis. "Itu tuntutan band yang mengiringi berbagai karakter penyanyi," kata Pak Juhari.

Lantas, bagaimana Anda dan kawan-kawan harus menghafal ribuan judul lagu dari masa ke masa?

Bagi Juhari dan kawan-kawan, ini persoalan sederhana. Karena kerjanya main musik, ya, semuanya mengalir begitu saja. Koleksi lagu betambah dari tahun ke tahun. Dan, tanpa terasa, mereka bisa memainkannya dengan baik. Termasuk lagu-lagu band dan penyanyi zaman internet ini.

"Musik pop itu sederhana kok. Siapa saja bisa main," kata Pak Juhari.

Pak Slamet, 68 tahun, sudah 40 tahun bekerja sebagai advokat. Tukang bela perkara orang. Badannya gemuk, kelebihan lemak, tak ada potongan artis. Saya sempat heran kok berani-beraninya Pak Slamet mau menyanyi secara live di TVRI Jawa Timur? Nekat banget sih?

Tapi, setelah Pak Slamet membunyikan satu frase [kalimat lagu], saya terkagum-kagum dengan suaranya. Empuk, enak, tak kalah dengan penyanyi profesional. Pak Slamet membawakan lagu Rest Your Love on Me [Bee Gees]. Anak-anak kampung di Flores pada 1980-an lebih mengenal lagu ini dengan refrein:

"Kau dan aku bersama
mengarungi lautan
samudra cinta...."

Kalau tak salah, versi Indonesia lagu ini dipopulerkan Kembar Group [Alex dan Yakob]. Sudah minta izin Bee Gees dan penerbitnya apa belum ya? Yang pasti, sebelum 1985 Indonesia tidak mengenal apa yang disebut HAK CIPTA.

Lagu-lagu artis dunia yang populer direkam begitu saja, dijual secara terang-terangan, dan 'dilindungi' oleh negara. Kita, orang Indonesia, bahkan tidak tahu bahwa lagu-lagu atau karya musik itu pakai HAK CIPTA, royalti, dan sebagainya.

Berbeda dengan ZONA 80 di Metro TV, yang hanya menampilkan lagu-lagu populer pada 1980 hingga 1989, LA NOSTA ini tidak pakai batasan tahun. Pokoknya lagu tahun berapa saja, pokoknya lawas, ditampilkan. Dus, lebih banyak pilihan. Lebih banyak corak.

Selain Rest Your Love, malam itu ada lagu macam Killing Me Softly (dinyanyikan Asti), Mengapa Kau Menangis (Eddy Jackson, pakai baca, tidak hafal teks), Untuk Sebuah Nama (Shirley Olivia). Yang nyanyi memang penyanyi-penyanyi lokal, bahkan orang biasa yang hobi nyanyi. Ini penting karena setahu saya bujet TVRI Jatim memang pas-pasan. Hehehe....

UNTUK SEBUAH NAMA ini ciptaan Pance F. Pondaag, dipopulerkan Meriam Bellina. Sangat terkenal di Flores pada 1980-an hingga sekarang.

ku pejam mata ini
di kebisuan malam
oh, mimpi bawalah dia
dalam tidurku

untuk sebuah nama
rindu tak pernah pudar
oh mimpi di mana dia
dambaan hati

REFREIN

biarlah hanya di dalam mimpi
kita saling melepaskan rindu
biarlah hanya di dalam mimpi
kucumbui bayangan dirimu

kau satu segalanya bagiku
di antara berjuta di sana
kau saja belahan jiwa ini
tak ingin yang lain di sisiku

22 February 2009

Haris Supratno Rektor Universitas Negeri Surabaya



Gambaran nasib guru sebagai Oemar Bakri yang miskin dan hanya bisa membeli sepeda kumbang membuat Prof Dr H Haris Supratno prihatin. Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini betekad mencetak guru yang bermartabat dan mapan secara ekonomi.

Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Prof Haris Supratno di rumahnya, Kamis (19/2/2009).


Penulis: HOLIDAN dan ZULIA RAHMA
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Unesa
Magang di Radar Surabaya


IKIP Surabaya yang legendaris itu telah berubah menjadi Unesa? Bisa diceritakan proses perubahan dan implikasinya?

Oke. Pada 1980 sampai 1990 minat masyarakat untuk belajar di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Surabaya dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Puncaknya, 1997-1998, jumlah mahasiswa hanya sekitar 6.000. Anggapan generasi muda bahwa profesi guru tidak menjanjikan, seperti Oemar Bakri, telah melekat kuat di benak mereka. Dan itu tak lepas dari kenyataan yang ada saat itu.

Nah, mulai 1999, beberapa rektor IKIP negeri mengusulkan kepada Dirjen Pendidikan Tinggi agar IKIP diubah statusnya menjadi universitas. Gelombang pertama yang diubah adalah IKIP Surabaya, Malang, Jogjakarta, Medan, dan Jakarta. Kemudian, disusul IKIP-IKIP negeri lain pada gelombang kedua. Jadi, total IKIP Negeri yang berubah status menjadi universitas negeri ada 10.

Nama universitas disesuaikan dengan nama kota masing-masing. IKIP Negeri Surabaya menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) karena letaknya di Surabaya. IKIP Negeri Makassar menjadi Universitas Negeri Makassar. Dan seterusnya.

Apa perbedaan utama IKIP setelah menjadi universitas?

Nah, sejak 1999 itu Unesa juga mengalami perluasan mandat. Unesa tidak hanya menyelenggarakan program kependidikan, tetapi juga nonkependidikan. Contoh: Pendidikan Bahasa. Ada Sastra Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Sastra Indonesia. Begitu juga di Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), ada yang pendidikan, ada ilmu murni, ada yang terapan.

Sejak saat itulah minat masyarakat untuk kuliah di Unesa mengalami peningkatan yang luar biasa. Puncaknya pada 2008 lalu, peminat mencapai 22 ribu pendaftar. Sedangkan yang bisa diterima hanya 4.500 mahasiswa.

Apakah peningkatan peminat ini terjadi di semua jurusan?

Yang paling tajam di PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Pada jalur PMDK mencapai 5.000 pendatar untuk daya tampung yang hanya dua kelas. Belum lagi jalur SNM-PTN dan nonreguler. Sedangkan jurusan yang peminatnya tetap sedikit, bahkan menurun, adalah sejarah dan seni. Ini disebabkan anggapan masyarakat mengenai prospek pekerjaan untuk lulusannya yang kurang begitu menjanjikan.

Saya juga ingin tekankan bahwa bahwa meskipun IKIP Surabaya telah menjadi Unesa, kami tetap mempertahankan status sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Faktor apa yang menyebabkan peminat meningkat sangat tajam?

Menurut saya, ini terkait Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang secara eksplisit mengatur kesejahteraan guru dan dosen. Fasilitas dan tunjangan cukup banyak. Misalnya, tunjangan profesi, maslahat, cuti, dan lain-lain. UU ini mampu mengangkat citra, harkat, martabat, dan status sosial guru menjadi lebih tinggi. Tentu saja, untuk mendapatkan semua itu harus melalui sertifikasi terlebih dahulu.

Bagaimana dengan sarana dan prasarana di Unesa?

Sarana dan prasarana di Unesa dari tahun ke tahun semakin baik. Sejak 1999 ruang kuliah sudah berbasis OHP dan AC. Bahkan, sekarang sudah berbasis ICT.

Dulu, ada anggapan di masyarakat bahwa mahasiswa IKIP itu kebanyakan karena tidak diterima di universitas lain. Apakah masih demikian?

Salah. Sebab, dari dulu pendaftaran penerimaan mahasiswa baru itu dilaksanakan serentak si semua perguruan tinggi negeri. Lebih tepat, dulu, yang masuk ke IKIP itu kemampuannya di bawah mahasiswa perguruan tinggi lain yang sudah populer seperti ITS, Unair, atau UGM.

Sekarang, yang masuk Unesa umumnya lulusan SMA yang memang punya kemampuan. Bahkan, Unesa pun termasuk salah satu kampus favorit. Selain iming-iming prospek menjadi guru dengan gaji yang sangat menjanjikan, masyarakat juga sadar akan pentingnya tenaga pendidik harus memiliki keunggulan yang tinggi.

Apakah lulusan Unesa masih layak menjadi pendidik?

Jelas. Unesa memiliki komitmen untuk terus mencetak pendidik yang andal dan profesional. Unesa menghasilkan dua produk: tenaga pendidik dan scientist. Untuk program nonkependidikan, tidak menutup kemungkinan menjadi tenaga pendidik setelah lulus karena mereka juga dibekali dengan Akta Empat. Mahasiswa program kependidikan juga sudah dibekali dengan berbagai mata kuliah pedagogik semenjak semester pertama. Oleh karena itu, mereka sangat layak menjadi tenaga pendidik.

Apa usul Anda agar lulusan SMA yang bekualitas tertarik pada profesi guru?

Salah satunya, ya, laksanakan Undang-Undang Guru dan Dosen. Kalau itu dilaksanakan, insyaallah, kesejahteraan guru dan dosen menjadi lebih baik.

Bagaimana Anda melihat kondisi umum pendidikan kita sekarang ini?

Alhamdulillah, semakin hari semakin baik. Program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah mulai berhasil. Selain itu, aada pemerataan pendidikan di setiap daerah.

Saya juga melihat pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN/APBD di luar gaji guru. Ini sesuai dengan UUD 1945 yang sudah diamandemen. Kemudian ada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Hanya saja, kenyataannya, sekarang anggaran pendidikan yang 20 pesen tersebut termasuk juga gaji guru dan seluruh departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Misalnya, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Departemen Perhubungan, atau Departemen Pertahanan. Jatah tersebut jelas masih kurang mencukupi untuk kesejahteraan guru. (*)


Syariah Ditinggal, Pindah ke Sastra

Meski menjadi orang nomor satu di Unesa, Prof Dr Haris Supratno luwes bergaul dengan siapa saja. Bahkan, ayah dua anak ini lebih senang dipanggil Mas Haris ketimbang Profesor Haris. Dia juga mengaku tidak suka marah kepada siapa pun.

Alasannya, "Marah itu tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan, justru menambah masalah. Dengan marah, mental orang lain turun. Hanya capek yang kita peroleh. Orang juga tidak akan menyayangi dan menghormati kita," ujar Haris Supratno.

Lahir dari keluarga petani sederhana, Haris dididik dalam lingkungan yang religius. Orangtuanya menginginkan semua anak menguasai ilmu agama. Maka, Haris dibiasakan hidup di pondok pesantren. Ini berlangsung hingga kuliah di Fakultas Syariah Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

"Saya merasa lulus dari Fakultas Syariah, sulit mendapatkan pekerjaan. Sehingga, saya pindah ke Fakultas Sastra di Universitas Jember," ceritanya.

Apakah ini tidak melanggar keinginan orangtua agar agar anak-anak mendalami ilmu agama?

“Yah, boleh dikata saat itu saya mbalelo sama orangtua. Tapi saya akhirnya bisa meyakinkan orangtua bahwa ilmu agama akan pincang kalau tidak disertai ilmu dunia. Keduanya harus berimbang," kilahnya.

Haris gemar meneliti. Ketika mengambil S-3 di Unair, dia melakukan penelitian di Lombok, Nusa Tenggara Barat, selama lima tahun. Tidak heran, pangkat dan karirnya terus menanjak. Kini, selain memimpin Unesa, Haris masih juga disibukkan sebagai penguji program doktor di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, dan Unesa. (holidan/zulia)



HARIS SUPRATNO

Lahir : Salatiga, 28 Agustus 1955
Istri : Endah Sulistyowati
Anak : Dedi Rahman Priyanto, Risdyanto Permata Rahardjo
Hobi : membaca dan menulis

Pendidikan
1 SD dan MI Salatiga 1969
2 PGA Magelang 1975
3 Fakultas Syariah UII 1975-1976
4 Fak Sastra Indonesia Unej 1981
5 S-3 Universitas Airlangga 1995
6. Profesor di Unesa 2001

Riwayat Karir
1 1987-1989 Sekretaris Jurusan Bahasa Daerah Jawa Unesa
2 1996-1998 Pembantu Dekan I FBS Unesa
3 1999-2001 Pembantu Rektor I Unesa
4 2000-2001 Plh Rektor
5 2002-2006 Rektor Unesa periode I
6 2006-sekarang Rektor Unesa periode II
7 2009 Ketua umum SNM-PTN dan koordinator nasional pengawas UAN
8 Salah satu konseptor UU Guru dan Dosen serta penyusunan pedoman sertifikasi guru dan dosen.

20 February 2009

Bahasa Indonesia Makin NGINGGRIS



Kamis, 19 Februari 2009. Saya mampir ke dua tempat: sebuah gereja di Surabaya dan kantor Balai Bahasa. Yang terakhir ini berlokasi di kawasan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo.

Seperti biasa, saya membaca pengumuman yang ditempel di depan gereja besar itu. Aha, beberapa poster 100 persen pakai bahasa Inggris. Bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa, 0 persen. Apakah jemaat gereja itu ekspatriat atau orang asing? Atau, semuanya bisa berbahasa Inggris?

Pasti TIDAK. Saya tahu persis komposisi jemaat gereja itu. Di Surabaya, memang ada komunitas ekspatriat yang setiap Minggu bikin kebaktian dalam bahasa Inggris, tapi bukan di sini. Dan, yang jelas, pengumuman itu berisi undangan atau ajakan kepada umat gereja yang, sekali lagi, sebetulnya bukan pemakai English.

"Kok bisa ya pengumuman pakai bahasa Inggris? Apakah tidak bisa memakai bahasa Indonesia yang lebih lazim? Ada apa di balik ini semua? Sekadar bergaya, biar terkesan hebat, kosmopolit, keren....," begitu batin saya.

Pulang dari gereja ini, saya mampir ke Balai Bahasa. Masuk di halaman kita disambut tulisan AKU CINTA BAHASA INDONESIA, TIADA CELA BERBAHASA INDONESIA. Balai Bahasa--kepanjangan tangan Pusat Bahasa di Jakarta--memang getol mengampanyekan pentingnya bahasa Indonesia. Bahasa yang baik dan benar.

Okelah, silakan belajar bahasa asing sebanyak-banyaknya, tapi cintailah bahasa nasional. Bahasa Inggris sangat penting, sebagai bahasa internasional utama, tapi pakailah secara proporsional. Tahu tempat, sadar waktu, kapan harus digunakan.

Ketika saya mewawancarai duta besar atau konsul negara asing, ya, harus bebahasa Inggris. Menulis surat permohonan wawancara kepada konsul USA, Tiongkok, Filipina.... harus berbahasa Inggris. Berkomunikasi dengan profesor di Pittsburgh, USA, ya Inggris.

Tapi, ketika bicara dengan ibu-ibu paroki di Juanda, Pagesangan, Rungkut, Ngagel, Katedral... ya bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Bertemu orang Flores Timur, seyogyanya berbahasa Lamaholot. Prinsip dasar komunikasi inilah yan rupanya mulai diabaikan banyak orang Indonesia yang sok Inggris. Bahasanya gado-gado: Indonesia, Jawa, Inggris, dan entah apa lagi.

SOK INGGRIS atawa NINGGRIS, begitu istilah Remy Sylado, munsyi yang menurut saya paling istikamah dalam mengkaji bahasa Indonesia saat ini. Remy yang orang Manado itu menguasai secara aktif 20-an bahasa di dunia, termasuk Arab dan Tiongkok yang--kata orang sangat sulit--itu. Tapi perhatikan Pak Remy berbicara atau tulisan-tulisan beliau: tak ada kata-kata atau frase asing yang tidak perlu.

Remy Sylado menulis:

"NGINGGRIS adalah gejala suatu bangsa terjajah yang diliputi perasaan ragu, bimbang, dan tak punya konfidensi untuk berdiri sebagai bangsa berharkat dengan bahasa nasional, sehingga mereka merasa harus bercakap Indonesia dengan menyelang-nyelingkan kata-kata dan istilah, bahkan kalimat, bahasa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia."

Penyakit gila NGINGGRIS ini paling banyak menimpa kalangan pesohor yang tiap hari nongol di televisi. Bahasa Indonesia--lebih tepat Melayu Betawi--mereka benar-benar kacau. Campur-campur Inggris tak karuan. Tidak sadar bahwa mereka bicara di stasiun televisi nasional untuk penonton Indonesia.

Coba kalau disuruh berbahasa Inggris 100 persen... hmm... belum tentu bisa. NGINGGRIS hanya sekadar gaya hidup, simbol status sosial. "Yah, kayak other guest, saya feel good lah stay di sini karena manajemen hotel care banget and professional. Next time saya dan keluarga stay lagi lah," kata seorang artis mengenai pengalaman menginap di sebuah hotel.

Mengapa penyakit NGINGGRIS ini menimpa sebagian orang Indonesia? Menurut Remy Sylado dan pakar-pakar bahasa lainnya, gejala ini tak ada kaitan dengan kemampuan berbahasa banyak (poliglot) atau multilingual, tapi ibarat penyakit remaja puber: aneh-aneh, genit, kenes.

Di tengah gempuran globalisasi--dan Indonesia, seperti biasa, jadi pecundang--berusaha mengangkat 'martabatnya' dengan NGINGGRIS-NGINGGRISAN. Makin NGINGGRIS makin kerenlah dia, makin hebat, makin kota, bukan orang kampung yang bodoh dan terbelakang.

15 February 2009

Klab Jazz TVRI



SAKSOFONIS JAZZ: Arief Setiadi, saksofonis dan komposer jazz jempolan Indonesia.


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Televisi apa yang paling jelek? Kalau Anda lontarkan pertanyaan macam ini kepada 10 orang, misalnya, maka kemungkinan besar semua orang menjawab: TVRI. Televisi paling tua ini jelas kalah bersaing dengan TV-TV swasta. Kalah iklan.

Acara TVRI kurang seru. Artisnya kurang banyak, kurang bahenol, kurang muda... pokoknya serbakurang. "Hare gini lihat TVRI? Gila apa," tukas Santi, 20 tahun, di kawasan Aloha, Sidoarjo, kepada saya.

"Sorry lho ya, TVRI itu televisi paling jelek," kata gadis kemayu ini sambil memoncongkan bibirnya.

Saya tertegun, tapi bisa memahami mengapa Santi bersikap demikian. Sebagai anak gaul--doyan pacaran, tahun 2008 lalu dia punya tiga pacar, sekarang punya pacar baru lagi--TVRI yang formal jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan hiburan anak muda. Gosip artis tak ada di TVRI. Show band-band terkenal nyaris tak ada.

Apa pun kata orang, bagi saya, TVRI masih punya kelebihan. Jumat malam lalu, saya terpaku selama 90 menit di depan TVRI. Program KLAB JAZZ sangat apresiatif, dengan suguhan musik jazz yang bagus. Terima kasih, hare gini TVRI masih mau menayangkan secara langsung konser jazz Oelle Pattiselanno dan kawan-kawan.

Oelle pada gitar, Arief Setiadi (saksofon), Jeffry Tahalele (bas), Cendy Luntungan (drum). Grupnya Paman Oelle ini dipekuat tiga vokalis muda: Andien, Dira, Tata.

Tampil serbaakustik, para dedengkot jazz ini menawarkan warna bossanova yang teduh. Nyanyi tak perlu ngoyo, tak perlu sound system yang bikin kuping budhek, tapi banyak 'akrobat' akor yang wah. "Ciamik soro!" begitu kira-kira kata orang Tionghoa Surabaya.

Selain nomor instrumental karya Arief Setiadi--paman yang satu ini memang salah satu komposer jazz ulung di negeri Pancasila--KLAB JAZZ memainkan lagu-lagu pop-jazz standar. Nomor-nomor yang sangat lazim dibawakan di acara-acara jazz. Improvisasi para musisi, termasuk vokalis, terukur, tidak belebihan.

Sebut saja: Night in Tunissia, The Look of Love, Song for Maya (by ARief Setiadi), Santai (Arief Setiadi), The Way You Look Tonight, Cheek to Cheek, Over the Rainbow, No More Blues. Baik Dira, Tata, Andien, yang usinya masih di bawah 30 tahun, berusaha menyanyikan jazz dengan ekspresif. Mereka, insyaallah, akan menjadi vokalis matang kalau tetap menekuni musik ini.

Ingat, jazz itu ibarat anggur: makin tua makin ciamik! Beda dengan musik pop: makin tua [apalagi vokalis cewek] makin ditinggalkan!

Sayang sekali, sesi dialog yang disediakan presenter Happy Salma tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penonton di studio serta penelepon di rumah. Ada sih beberapa pertanyaan, tapi isinya meleset jauh dai jazz. "Hai Dira, ntar kita kontak-kontakan di facebook ya," kata seorang penelepon yang mengaku pemusik, tapi jelas-jelas tidak paham konteks acara. Kacau!

Menjawab pertanyaan pemusik muda di studio, Paman Oelle Pattisellano mengatakan, bermain jazz itu tidak perlu takut salah. Main, main, berlatih, kolaborasi, ngejam [jam session]... terus-menerus. Waktu jualah yang akan membentuk kematangan seseorang.

"Tidak perlu malu kalau kamu merasa kalau permainan grup kamu belum bagus. Kalau main terus, ya, lama-lama jadi bagus," ujar Paman Oelle yang tidak banyak bicara itu.

Durasi 90 menit untuk jazz! Ini luar biasa untuk televisi. Berapa banyak uang masuk kalau dipakai untuk memutar gosip artis pacaran, kawin, cerai, baku cakar, baku cium, baku selingkuh...? Untuk itu, apresiasi tinggi harus kita berikan kepada TVRI.

Semoga KLAB JAZZ ditayangkan secara rutin. Hidup TVRI!

INFORMASI
klabjazztvri@yahoo.com

Diskusi Tambang di Lembata



FOTO ANSEL DERI: Orang-orang kampung di Lembata.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Teman-teman asal Flores sering kumpul-kumpul di Kafe Katedral. Ini tempat strategis di Surabaya. Persis di samping Gereja Hati Kudus Yesus (HKY) alias Katedral yang terkenal itu. Minum kopi, sesekali jus duren [enak tapi mahal], atau membaca buku dan majalah-majalah rohani.

Ada juga aktivis senior macam Paman Ansfridus yang suka bicara politik. Maklum, Ansfridus yang asli Ngada, Flores Barat, ini identik dengan Pemuda Katolik. Selama puluhan tahun Ansfridus menjabat ketua umum DPD Pemuda Katolik Jawa Timur. Seperti Pak Harto, Paman Ansfridus sulit diganti siapa pun.

"Semua tergantung saya. Kalau saya tidak mau diganti, mau apa?" kata sang paman yang dosen Universitas Darma Cendika, juga pelatih paduan suara. "Siapa yang berani gusur saya?" tantangnya.

Paman Ansfridus selalu membuat suasana diskusi warung kopi ini hidup. Dia tahu gosip politik tingkat tinggi, isu-isu panas di gereja, hingga peta politik di NTT. Maklum, sejak 1980-an Ansfridus Leko sudah aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga partai kepala banteng ini pecah menjadi PDI Perjuangan serta partai-partai nasionalis lain.

Nasib Ansfridus tak secerah teman-temannya yan sudah jadi bupati, wali kota, menteri, gubernur, fungsionaris partai besar.... Dia tetap saja di Pemuda Katolik. Beberapa kali ikut caleg, tapi kandas terus. "Hidup itu sudah ada yang atur. Yang paling penting kan bahagia. Buat apa jadi pejabat, tapi setelah itu masuk penjara?" kata Paman Ansfridus.

Nah, belum lama ini cangkrukan warung kopi Katedral diisi topik serius: Rencana Tambang di Kabupaten Lembata. Kabupaten di kampung halaman saya ini hasil pemekaran Kabupaten Flores Timur. Bupatinya, Andreas Duli Manuk, kebetulan juga sama-sama satu kampung dengan saya di Kecamatan Ile Ape "yang terkenal" itu. Hehehe....

Dan isu tambang ini sudah lama bikin panas situasi politik di Lembata. Pejabat, khususnya bupati, DPRD, tokoh masyarakat, tokoh gereja, media massa... selama bertahun-tahun terlibat polemik ihwal tambang mineral di Lembata. Diskusi panjang lebar tanpa ada titik temu. Yang ada justru titik pisah. Lembata, pulau yang tidak luas, itu pecah gara-gara tambang.

"Hubungan keluarga yang dulu baik-baik saja sekarang jadi renggang gara-gara tambang. Bahkan, orang tidak baku omong karena yang satu protambang yang lain menolak tambang," ujar teman asal Lembata.

Kabarnya, aksi unjuk rasa menentang tambang mineral masih berlanjut tidak saja di Lembata, tapi juga di Kupang, bahkan Jakarta. "Kuat mana: pro atau antitambang?" tanya saya.

"Silakan tanya langsung orang Lembata di mana saja. Saya pastikan, hampir semua menolak tambang. Yang ngotot ada pertambangan itu kan cuma bupati dan kroni-kroninya, termasuk sebagian besar wakil rakyat," kata sang teman.

"Lha, kalau mayoritas rakyat menolak tambang, kenapa kok dipaksakan?"

"Nah, itu dia! Itu yang kita orang tidak mengerti le. Kita orang ini tidak tau le!" kata si arek Lembata dengan bahasa Indonesia logat Lewoleba. Belasan tahun tinggal di Jawa Timur ternyata tidak bisa mengubah logat kampungnya. Juga kebiasaan minum tuak, arak, dan makan belawar. Hehehe....

Obrolan santai ini makin serius ketika ada pastor senior keluar dari toko buku. Namanya Pastor Frans Pora SVD, asal Kalikasa, Kebupaten Lembata. "Pater, kita minum kopi dulu. Ini ada omong-omong tentang pertambangan di Lembata. Pater kan lebih tahu kondisi di kampung," kata saya kepada pastor yang sedang berobat di RKZ Surabaya itu.

"Rencana tambang itu bikin kisruh. Dan Saudara Lambertus Hurek harus ikut bertanggung jawab," kata Pastor Frans Pora. "Soalnya, si Lambertus ini kan satu daerah dengan Bupati Andreas Duli. Hehehe...," sambung Pastor Frans Pora. Semua orang tertawa ngakak.

Lalu, pembicaraan makin serius. Pastor Frans kemudian menceritakan perkembangan terakhir di Lembata, termasuk sikap pater-pater SVD yang sangat kritis. Intinya, para rohaniwan perintis Gereja Katolik di Lembata ini khawatir masa depan Pulau Lembata jika tambang itu benar-benar dibuka. Bisa dibayangkan dalam tempo 20, 40, 60... 100 tahun mendatang. Apakah Lembata masih ada?

"Kita tidak usah jauh-jauh pigi ke Freeport di Papua. Cukup ke Manggarai saja. Kalau pejabat atau anggota dewan lihat kondisi di Reo, dia akan pikir 100 kali mau buka tambang di Lembata. kita harus berpikir jangka panjang," kata salah satu pastor asli Lembata angkatan perintis ini. Suaranya tegas, sangat serius.

Menurut Pastor Frans Pora, isu tambang di Lembata sudah lama menjadi bahan pembicaraan di kalangan para rohaniwan di Keuskupan Larantuka, bahkan di seluruh NTT. Sudah menjadi isu nasional. Tapi, rupanya, semangat untuk menggali mineral di bumi Lembata tetap saja membara.

Paman Ansfridus kemudian membuat catatan singkat. Banyak sekali usulan sang politikus Pemuda Katolik Jawa Timur itu. Pastor Frans tersenyum membaca tulisan tangan Ansfridus. "Usulan macam ini sih sudah sering ditawarkan orang, tapi belum ada hasil," katanya.

"Mohon maaf, saya pamit dulu. Ada acara di Soverdi," kata Pastor Frans.

Obrolan warung kopi pun bubar. Tidak ada kesimpulan. Dan pasti tidak ada efeknya bagi penguasa dan politisi di Lembata. Namanya saja diskusi wong cilik di warung kopi.

Romo Soetanto SJ - Paduan Suara Ascensio





"Jangan sepelekan paduan suara anak. Suara anak-anak, yang dilatih dengan baik dan benar, tak ubahnya suara malaikat."

Begitu antara lain pesan para guru Sekolah Minggu di gereja Katolik dan Protestan.

Sayang, di Indonesia, belum banyak orang yang menaruh perhatian serius pada paduan suara anak. Bicara paduan suara alias kor alias choir hampir pasti bicara SATB: sopran, alto, tenor, bas. Dan itu berarti paduan suara orang dewasa.

Kalaupun ada paduan suara anak, biasanya ya cuma ada di sekolah dasar (SD). Itu pun dengan latihan sekadarnya. Vokal anak tidak dibentuk dengan baik. Apalagi, guru-guru SD kita tidak semuanya paham seni suara. Tidak semuanya bisa membaca notasi angka atau notasi balok.

Karena itu, kita di Indonesia jarang sekali menikmati paduan suara anak. Di Surabaya, misalnya, belum ada konser paduan suara anak. Sebab, memang tidak ada paduan suara anak yang dibina secara serius. Syukurlah, kita punya seorang pastor bernama Antonius Soetanta SJ.

Romo yang lahir di Semarang, 23 Agustus 1938, ini sejak 1980-an sampai sekarang membina paduan suara anak di kawasan Tanjungpriok, Jakarta. Namanya Paduan Suara ASCENSIO. Romo Soetanta, sapaan akrab Pastor A. Soetanto SJ, melatih, menulis lagu, bikin aransemen, orkestrasi, dan mengurus berbagai keperluan ASCENSIO.

"ASCENSIO itu tempat anak-anak saling belajar. Yang lebih senior mengajar adik-adiknya, sehingga regenerasi bisa berlangsung setiap saat," ujar romo yang belajar musik vokal di Utrecht, Belanda, 1973-77, itu.

Pulang dari Belanda, Romo Soetanta prihatin melihat para pembina paduan suara yang cenderung mengabaikan anak-anak. Belum ada paduan suara anak di Jakarta yang layak dipanggungkan. Ironisnya, itu terjadi di lingkungan gereja yang nota bene hampir setiap hari ada latihan paduan suara.

Namun, pastor yesuit ini tak hanya menggerutu. Dia menciptakan lagu-lagu rohani anak-anak dalam berbagai gaya. Tak hanya berdasar tangga nada mayor dan minor, tapi juga tangga nada yang lain. Biramanya pun tak hanya yang lazim dikenal seperti 2/4, 3/4, 4/4, 6/8, tapi juga yang agak janggal seperti 5/4 dan irama bebas (tanpa birama).

"Saya ingin agar anak-anak dan remaja kita diperkaya dengan apresiasi musik baik tangga nada maupun irama dan birama," ujar Romo Soetanta.

Lagu-lagu karyanya kemudian dimuat di majalah HIDUP, sehingga pada 1980-an hingga 1990-an nama Romo Soetanto dikenal di kalangan umat Katolik seluruh Indonesia. Guru-guru SD di daerah saya, Flores Timur, yang langganan HIDUP, dulu banyak menggunakan lagu-lagu A. Soetanto SJ sebagai bahan ajar.

Nah, kumpulan lagu rohani anak-anak karya Romo Soetanto itu kemudian dibukukan oleh Yamuger (Yayasan Musik Gereja) Jakarta. Judulnya HO... HO... HO... HOSANA. Seluruhnya ada 73 lagu.

"Saya ingin membantu guru-guru agama atau katekis yang kesulitan mencari lagu yang cocok untuk anak-anak," kata pastor yang juga menciptakan banyak lagu misa untuk buku PUJI SYUKUR dan MADAH BAKTI itu.

Kerja keras, ketekunan, dan kesabaran Romo Soetanta akhirnya berbuah manis. Paduan Suara Anak ASCENSIO sudah punya nama di seluruh Indonesia, paling tidak di lingkungan Katoliklah. Anak-anak dari Paroki Xaverius, Tanjungpriok, Jakarta, itu sudah bisa keliling ke berbagai daerah untuk memperdengarkan suara nan merdu.

Konser ASCENSIO di Surabaya beberapa waktu lalu beroleh sambutan meriah. Begitu juga konser di Jogjakarta dan kota-kota lain di Jawa. "Aha, ternyata suara anak-anak itu sangat merdu. Polos, tidak neka-neka, lebih murni. Pantas saja kalau kor anak-anak Wina, Austria, punya reputasi luar biasa di seluruh dunia," ujar seorang kawan, bekas aktivis paduan suara.

Suara anak-anak ASCENSIO pun bisa kita nikmati melalui kaset dan CD yang sudah beredar luas di lingkungan gereja. Pertanyaannya: apakah sudah ada kader-kader guru musik vokal pengganti Romo Soetanta yang sudah berusia 70 tahun? Mengapa kita tidak tergerak untuk mengangkat potensi anak-anak?

Romo Soetanta, terima kasih!

PADUAN SUARA ASCENSIO
e-mail: psascensio@yahoo.com
Gereja St. Fransiskus Xaverius Tanjungpriok Jakarta.

14 February 2009

Keroncong di Santa Maria



Singgih Sanjaya (ISI Jogja) mencoba variasi keroncong dengan saksofon saat seminar musik keroncong di SMPK Santa Maria Surabaya. Ciamik soro!


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Dari sekian banyak musik yang berkembang di tanah air, nasib keroncong, sesuai dengan namanya, benar-benar keroncong. Memprihatinkan! Musik yang pernah berjaya sebelum kemerdekaan hingga 1980-an ini sekarang mati suri. Di televisi tidak ada lagi, kecuali kadang-kadang di TVRI.

Kota Surabaya, yang dulu dikenal sebagai pabrik musisi keroncong, saat ini pun sulit menemukan orkes keroncong. Ada sih bapak-bapak dan ibu-ibu yang tetap main keroncong, tapi hampir semuanya berusia lanjut, di atas 60 tahun. Itu pun sekadar klangenan, sama sekali tidak mampu memberikan pendapatan kepada para musisi.

Maka, sejak lama saya memperkirakan, keroncong akan habis pada 10 tahun mendatang kalau tidak ada upaya regenerasi atau revitalisasi. Dan itu berarti kita, bangsa Indonesia, kehilangan sebuah genre musik yang mengalir, tenang, legato, dengan perpaduan harmoni Barat dan Timur itu.

Syukurlah, di Surabaya ini ada SMP Santa Maria. Sekolah Katolik milik suster-suster Ursulin ini ternyata ikut prihatin dengan kondisi keroncong yang sekarat. Boleh sekarat, tapi jangan sampai mati! Sekolah Santa Maria justru mengajarkan keroncong dalam kurikulum sekolah itu. Mereka juga bikin konser, mengundang para buaya keroncong, dan terus mengasah wawasan para pelajar.

Kusdinarto, guru SMP Santa Maria, mengatakan bahwa satu-satunya cara sekolah menyelamatkan musik keroncong adalah memasukkan keroncong ke dalam kurikulum sekolah sejak 2008. Ini agar para siswa terbiasa mendengarkan dan memainkan musik keroncong. Dus, anak muda punya alternatif musik selain industri pop yang terus menggelontor musik pop, dangdut, rock, disco, R&B, dan sebagainya.

“Selama ini musik keroncong hanya dinikmati oleh orang tua,” kata Pak Kus.

Menurut dia, SMP Santa Maria sangat serius mempelajari musik keroncong yang disebut-sebut sebagai salah satu aset budaya bangsa Indonesia. Siswa-siswa dibimbing oleh guru seni musik. “Kami juga mendatangkan ahli-ahli keroncong,” kata Pak Kus.

Persoalannya memang tidak sederhana. Kenapa? Di Surabaya ini ada ratusan, bahkan ribuan, guru musik klasik--apalagi pop dan dangdut yang tidak perlu guru--sementara guru keroncong sangat-sangat sedikit. Padahal, orkes keroncong itu harus ada sedikitnya tujuh macam alat musik seperti flute, biola, cak, cuk, cello, gitar, bas.

Teknik vokal keroncong yang pakai cengkok khas--dan ini lebih mudah dikuasai orang Jawa ketimbang luar Jawa seperti Flores atau Batak--pun tidak mudah diajarkan. Tapi bagaimanapun juga kerja keras Santa Maria ini layak diapresiasi.

La la la la la.....
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la.... oooo..
Laju sekali ke Surabaya

Tanjung Perak kapale kobong
Monggo pinara kamare kosong

George Guan dari Yunan

>
Pekan lalu, 6-7 Februari 2009, untuk kesekian kalinya, duta kesenian Tiongkok mengunjungi Surabaya. Salah satu di antaranya George Guan. Sehari-hari dia bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Provinsi Yunan, Tiongkok Selatan.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"My name is George Guan, not George Bush!" ujar George Guan saat berbincang dengan saya di ballroom Hotel V3 Surabaya, Jalan Tambakbayan.

George adalah salah satu dari 28 duta kesenian Yunan, Tiongkok Selatan, yang ikut memeriahkan perayaan Imlek Bersama Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia. Dibandingkan teman-temannya, George terbilang paling komunikatif. Ini tak lepas dari kemampuan bahasa Inggrisnya yang di atas rata-rata. Kalau teman-temannya sibuk berbahasa Mandarin, George cukup 'pede' berkomunikasi dengan warga Surabaya dalam bahasa Inggris.

"Saya kebetulan mengajar bahasa Inggris di Yunan. Saya memang guru, tapi jangan dikira kemampuan bahasa Inggris saya sudah bagus. Saya masih terus belajar dan belajar. Maklum, bahasa Inggris itu sangat sulit untuk kebanyakan orang Tiongkok," katanya.

Menurut suami Tian Mei ini, sebelum berangkat ke Indonesia, mereka sudah pernah tampil di tiga negara, yakni Prancis, Swiss, dan Malaysia. Karena itu, anggota rombongan berusaha belajar percakapan dalam bahasa Inggris sederhana. "Paling tidak bisa bilang good moning, good afternoon, atau good evening. Tapi, ya, tetap saja teman-teman itu kesulitan," ujar George yang beragama Kristen.

"Oha ya, di Tiongkok itu ada banyak agama. Saya sendiri Kristen, ada teman yang Islam, Buddha, Tao, dan banyak juga yang tidak punya agama. Tidak ada kewajiban untuk memeluk agama. Yang penting, kami bisa menjadi warga negara yang baik," tegas George Guan.

Ketika tiba di Surabaya, George Guan dan kawan-kawan merasa seperti di kampung halaman sendiri. Pasalnya, panitia dari Yayasan HM Cheng Hoo ternyata sangat lancar berbahasa Mandarin. "Jadi, saya tidak perlu menjadi juru bicara atau penerjemah. Tapi, sayang sekali, saya dan teman-teman belum bisa berbahasa Indonesia," ujar pria yang berlatih menari dua kali seminggu ini.

George juga dengan bangga menceritakan dua anak laki-lakinya: Xian Guan dan Yun Guan. "Mengapa dua anak? Saya dengar pemerintah Tiongkok melarang warganya punya lebih dari satu anak?" tanya saya.

"Saya beruntung sudah punya dua anak sebelum ada larangan itu. So, I'm a lucky man. Hehehehe," jawabnya enteng.

Dunia kesenian di Tiongkok ternyata tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Seniman tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan kesenian.

Jangan dikira 28 seniman asal Provinsi Yunan, Tiongkok, yang mengisi perayaan Imlek Bersama di Surabaya pekan lalu adalah seniman murni. Mereka ternyata hanya orang-orang biasa yang kebetulan punya hobi menari dan menyanyi. Mereka baru berlatih serius beberapa bulan ketika hendak berangkat ke luar negeri, termasuk Indonesia.

"Terus terang saja, kami ini punya pekerjaan pokok masing-masing. Ada yang buka toko, pegawai kantoran, guru, petani, pengusaha, dan sebagainya. Kalau tidak kerja, ya, nggak mungkin bisa hidup," ujar George Guan.

George Guan sendiri, selain berdagang, juga membuka kursus bahasa Inggris. Ini karena masyarakat Yunan, khususnya anak-anak muda, mulai tertarik mempelajari bahasa internasional tersebut. Mereka merasa bahwa berbahasa Mandarin saja tidak akan cukup.

"Rombongan kami pernah ke Eropa, yakni Prancis dan Swiss. Di sana bahasa Inggris menjadi sangat penting karena hampir tidak ada orang yang bisa berbahasa Mandarin. Lain dengan di Surabaya, orang-orang Tionghoa banyak yang menguasai bahasa Mandarin."

Kalau semua seniman sibuk dengan pekerjaannya, lantas bagaimana mempersiapkan atraksi kesenian ke luar negeri? Menurut George, awalnya memang tidak gampang. Sebab, ada saja anggota yang absen karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

"Yah, kami berlatih dengan anggota yang ada. Dan lama-lama terseleksi dengan sendirinya," bebernya.

Nah, 28 seniman yang ke Surabaya ini pun sebenarnya hasil seleksi alam juga. Mereka kemudian berlatih dua kali seminggu sebelum berangkat ke Surabaya. Untungnya, kata George, enam jenis tarian tradisional Yunan yang dipentaskan itu sudah sangat lazim di kawasan Tiongkok selatan itu. "Jadi, kami hanya tinggal mengatur koreografi, bloking panggung, dan membuat sedikit variasi saja," katanya.

Dan, agar semakin diterima audiens, tim kesenian Tiongkok tak lupa menyertakan beberapa lagu yang dianggap sangat populer di negara tujuan. Di Indonesia, misalnya, grup asal Yunan ini membawakan lagu Bengawan Solo, Butet, serta Ayo Mama. Melodinya sama, hanya liriknya berbahasa Mandarin.

"Saya suka sekali lagu-lagu Indonesia, khususnya Ayo Mama," aku George Guan, lantas menyenandungkan lagu rakyat Maluku itu.

Menurut George, duta kesenian yang datang ke Surabaya kemarin bukanlah grup yang paling hebat di Yunan, tapi punya rekam jejak cukup bagus di kawasan Tiongkok Selatan. Masih ada puluhan grup yang lebih berprestasi di provinsinya.

"Maka, kami sangat bersyukur bisa dikirim ke Indonesia. Kalau nggak ikut grup ini, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah jalan-jalan ke Surabaya. Ini pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya," pungkasnya.

09 February 2009

Mengapa Banyak Koran Baru




Oleh DAHLAN ISKAN
Sumber: Jawa Pos 9 Februari 2009

Di zaman bikin surat kabar atau majalah tidak perlu izin apa pun seperti sekarang ini, apa sajakah motif seseorang menerbitkan surat kabar atau majalah? Coba kita inventarisasi kemungkinan-kemungkinan motif di baliknya:

1. Idealisme (menegakkan keadilan, kebenaran, membela si lemah, menyuarakan kepentingan umum, menegakkan demokrasi, dan sebagainya).

2. Bisnis (mengharapkan bisa menjadi lembaga bisnis, kecil maupun besar).

3. Politik (sebagai alat membela dan memperjuangkan aliran politik).

4. Agama (untuk menyiarkan ajaran agama).

5. Kepentingan sesaat (ingin dekat penguasa atau ingin jadi penguasa, mulai bupati/wali kota, gubernur, dan seterusnya).

6. Coba-coba.

7. Digoda/''dihasut'' orang lain (terutama oleh para mantan wartawan).

8. Menyalurkan hobi.

9. Belum ada pekerjaan lain (umumnya dilakukan oleh anak orang kaya yang baru pulang sekolah dari luar negeri).

10. Ngobyek (untuk mencari penghidupan kecil-kecilan dengan asumsi akan ada saja orang yang takut kepada pers dan karena itu bisa diminta/diperas uangnya. Termasuk di kelompok ini adalah pers sebagai alat untuk mencari proyek).

Mungkin masih ada motif yang lain, namun mungkin hanya gabungan di antara yang 10 itu. Misalnya, gabungan antara idealisme dengan bisnis. Secara idealisme tercapai, secara bisnis juga amat menguntungkan. Atau idealisme dengan pemerasan. Idealisme penerbitnya adalah memberantas korupsi di muka bumi Indonesia, jalan yang ditempuh adalah memeras para koruptor.

Tapi kalau saya amati, sumber terbesar yang menyebabkan munculnya banyak sekali surat kabar atau majalah baru adalah kalangan wartawan. Kira-kira bisa kita kelompokkan seperti ini:

1. Wartawan idealis. Yakni wartawan yang merasa idealismenya tidak tersalurkan di surat kabar tempatnya bekerja. Dia atau mereka merasa policy surat kabar/majalah tempatnya bekerja terlalu komersial yang lebih mementingkan aspek bisnis. Atau pemilik surat kabar/majalah sering memanfaatkan korannya untuk mencari obyekan bisnis atau jabatan politik untuk keuntungan pribadi sang pemilik. Wartawan jenis ini, setelah merasa mendapat nama kemudian memilih keluar, menjadi investor atau mencari investor untuk mendirikan media baru.

2. Wartawan yang merasa sudah pintar. Wartawan jenis ini merasa dirinya sudah sangat pintar melebihi si pemilik media tempatnya bekerja, atau melebihi pemimpin redaksinya. Dia merasa dirinya hebat sekali. Lalu merasa sudah semestinya menjadi pemimpin. Mereka lalu mencari-cari investor.

3. Wartawan yang tidak puas karena sistem kerja dan sistem penggajian di tempat asalnya. Di antara mereka ada yang memang benar-benar diperlakukan tidak adil oleh perusahaannya. Tapi, ada juga yang sebenarnya dia sendiri saja yang merasa diperlakukan tidak adil. Tipe wartawan seperti ini umumnya berusaha pindah dulu ke media lain, tapi tidak jarang juga (karena media lain sudah penuh), langsung mencari investor untuk membuat media baru.

4. Wartawan ingin maju. Yakni wartawan yang benar-benar memang ingin maju, dan merasa dirinya mampu. Lalu, setelah mendapat pengalaman cukup di tempatnya bekerja, dia mencoba membuat media sendiri.

5. Wartawan yang pensiun. Setelah lama jadi wartawan, lalu pensiun, maka rasa rindunya akan dunia pers tidak akan tertanggungkan. Mereka ini juga merasa sangat mampu dan terutama merasa sangat berpengalaman. Mereka ini umumnya juga lantas mencari investor dengan mengandalkan pengalamannya itu.

6. Wartawan yang di-PHK. Mereka ini jumlahnya tidak sedikit dan keinginannya untuk tetap bekerja di pers sangat besar. Maka mereka pun akan cari investor untuk membuat media sendiri.

7. Calon wartawan yang sudah magang di media dan kemudian tidak bisa bekerja di media itu. Lalu mencari investor juga.

8. Wartawan percobaan, yakni mereka yang mula-mula direkrut oleh sebuah media, tapi kemudian tidak lulus masa percobaan terakhir. Mereka ini telanjur merasa jadi wartawan dan merasa menjadi orang pers. Maka mereka ini juga bisa cari investor.

Jadi, kalau selama ini banyak orang pers yang ngedumel mengapa begitu banyak orang yang tidak tahu pers tiba-tiba masuk ke bisnis pers, sebenarnya banyak di antara mereka sendiri mulanya tidak ada minat masuk ke pers sama sekali. Mereka umumnya ''hanya'' sumber berita yang pernah dikenal si wartawan, kemudian diincar untuk jadi investor.

Tentu si investor sendiri sebenarnya lebih banyak menjadi ''korban'' rayuan atau ''hasutan'' para wartawan di atas. Tentu ada juga beberapa di antaranya yang akhirnya menikmati sebutan sebagai orang pers atau raja pers. Bahkan, anak istri mereka yang semula tidak ada yang tahu apa itu pers, tiba-tiba menjadi pemimpin umum atau pemimpin redaksi.

Mengapa banyak investor yang berhasil dirayu atau ''dihasut'' oleh para wartawan atau mantan wartawan?

1. Umumnya mereka tidak tahu sama sekali realitas dunia pers. Mereka umumnya hanya pembaca koran yang di dalam benaknya sering mengagumi orang koran.

2. Mereka punya uang atau punya aset (kantor/gedung/mesin/komputer) yang bisa dimanfaatkan sehingga kelihatannya hanya memanfaatkan aset yang sudah ada.

3. Mereka umumnya merasa punya network yang akan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan koran/majalahnya.

4. Mereka umumnya mengerti manajemen sehingga merasa kemampuan manajemennya akan cukup untuk mengatasi manajemen koran/majalah.

5. Mereka umumnya hanya merasa lemah di redaksional dan kini bagian yang lemah itu sudah diisi oleh orang yang merayunya.

6. Mereka tergiur oleh rayuan/"hasutan" dari para wartawan itu karena biasanya si wartawan membawa alasan yang sangat menarik.

Alasan apa saja yang dipakai wartawan untuk merayu investor?

1. Koran/majalah adalah bisnis yang menarik, bisa untung secara cepat, bisa membuat investor terkenal, gengsi investor naik dan akan bisa dekat dengan orang-orang penting (tidak jarang si investor kemudian memang minta tolong si wartawan untuk mendekati pihak-pihak yang diincar).

2. Akan mudah mencari pelanggan karena isinya akan dibuat sedemikian rupa menariknya (umumnya disertai dengan penilaian si wartawan akan jeleknya mutu jurnalistik koran-koran yang ada, terutama di tempatnya bekerja dulu).

3. Akan mudah mencari iklan, karena iklan ini sangat menggiurkan. Lalu menyebut berapa penghasilan iklan koran seperti Kompas atau Jawa Pos. Si investor pun mulai mabuk dan membayangkan akan bisa mendapatkan sebagian dari kue besar itu.

4. Perayu berjanji kerja sekeras-kerasnya. Mereka ini ada yang dulu memang pekerja keras, tapi ada juga yang dulu pun tidak pernah mau bekerja keras.

5. Kalau si wartawan dulu bekerja di koran yang maju, dia akan mengatakan kepada investor bahwa dialah yang membuat koran itu dulu maju.

6. Kalau si wartawan dari koran yang tidak maju, dia akan mengatakan kepada investor bahwa manajemennya tidak bagus dan selalu menolak ide-ide yang diperjuangkannya.

7. Biasanya juga menawarkan tim yang sudah jadi dan dipromosikan sebagai tim yang kuat dan andal. Kalau tim itu dibentuk dari koran yang akan disaingi, akan disebutkanlah bahwa ''kita'' akan gampang merebut pasarnya karena tim andalannya sudah hilang.

Banyaknya koran/majalah baru dalam kurun sembilan tahun terakhir ini adalah satu kenyataan yang sah. Namun, banyaknya koran/majalah baru tersebut juga akan membuat semakin banyak eks-wartawan. Artinya, juga akan semakin banyak memproduksi para perayu ulung. Dan akhirnya masih akan banyak sekali investor yang diincar. Memang banyak sekali investor yang sudah mulai ''insaf'', tapi masih akan lebih banyak lagi investor yang menyediakan diri untuk ''tergoda''.

Sebagai ketua umum SPS atau Serikat Penerbit Surat Kabar (Majalah) yang baru saja terpilih, saya lagi mikir-mikir: apakah apa pun motif surat kabar/majalah itu didirikan semua harus dibina? Mulai kongres yang akan datang, pemilik suara di kongres tidak lagi hanya pengurus cabang-cabang SPS.

Pemilik suara di kongres adalah para penerbit itu semua! Dengan demikian, kongres SPS yang akan datang akan sangat seru! Pertengahan tahun ini SPS mengadakan jambore atau konvensi penerbit. Kalau seluruh penerbit, apa pun motifnya, hadir di jambore itu, begitu pulalah gambarannya Kongres SPS yang akan datang!

Masa Depan Koran di Indonesia



Oleh DAHLAN ISKAN


PEMBACA koran naik drastis di Amerika Serikat, tapi pembeli koran turun drastis. Demikian juga ''pemirsa laptop'' naik drastis dan pemirsa tv turun drastis. Untuk kali pertama dalam sejarah media, pelantikan Barack Obama sebagai presiden ke-44 AS pada 21 Januari lalu lebih banyak ditonton lewat laptop daripada lewat pesawat televisi.


Naiknya pembaca koran lewat internet dan meningkatnya pemirsa laptop untuk peristiwa besar telah menyusutkan pendapatan iklan kedua jenis media itu. Belum ada usul bagaimana mengatasi ancaman terhadap televisi itu, tapi mulai ada wacana agar perusahaan koran yang mengalami kesulitan keuangan akibat krisis global ini juga di-bailout oleh pemerintah AS. Apalagi, di AS amat terkenal kredo ''lebih baik tidak ada pemerintah daripada tidak ada koran". Kalau perusahaan mobil saja di-bailout, mengapa pilar demokrasi ini tidak.

Perkembangan lain, TV lokal di AS kini mulai bisa mengalahkan jaringan nasional -khususnya untuk tv berita. Ini karena berita yang nasional-nasional akan menjadi garapan empuk jaringan internet yang dengan lebih mudah ditonton di laptop. Sedangkan naiknya pembaca koran secara elektronik menimbulkan kesulitan besar: pembaca membayar bukan kepada perusahaan koran, melainkan ke provider internet.

Perusahaan koran belum menemukan cara yang memadai untuk mendapatkan penghasilan dari hasil perubahan cara baca itu. Memang berita koran -terutama dari koran yang reputasinya baik- lebih dipercaya daripada sumber yang bukan dari koran, tapi tetap saja pengguna internet telanjur terbiasa sejak awal dulu bahwa sesuatu yang di internet itu gratis. Padahal, untuk mendapatkan kepercayaan bahwa ''berita koran itu lebih bisa dipercaya" memerlukan biaya.

Kelak, kalau semua pembaca koran tidak mau membayar ongkos untuk melahirkan ''berita koran lebih dipercaya" itu? Dari sinilah awalnya mengapa ada wacana bailout untuk surat kabar. Bahkan, sudah ada yang mewacanakan bahwa surat kabar itu kelak dianggap saja sama dengan rumah sakit atau universitas: universitasnya demokrasi dan rumah sakitnya demokrasi. Atau, mungkin mirip rumah sakit yang sekaligus teaching university. Koran bisa seperti RS Tjiptomangunkusumo atau RS dr Sutomo.

Belum ditemukannya bagaimana cara ''membayar" itu antara lain karena selama ini memang tidak pernah dipikirkan. Kalau toh terpikirkan, barulah yang caranya juga tradisional: siapa yang mengakses koran harus berlangganan. Ini tidak efektif karena psikologi isi internet itu gratis. Baru sekarang ini, sekarang ini, bingung. Yakni, setelah terjadi krisis finansial global yang ternyata juga melanda perusahaan surat kabar AS.

Grup surat kabar terkemuka di dunia Chicago Tribune sudah menyatakan bangkrut. Bisa dibayangkan nasib koran yang lebih lemah. The New York Times yang begitu hebat, sedang di ambang jurang yang sama. Utangnya yang hampir jatuh tempo mendekati Rp 40 triliun, sedangkan dana yang siap baru Rp 4 triliun. The New York Times mengalami krisis dana cash yang luar biasa besar.

Mengapa selama ini tidak dipikirkan cara yang ampuh untuk menghubungkan agar pemanfaatan isi koran lewat internet itu bisa menghasilkan pendapatan bagi perusahaan koran? Jawabnya jelas: perusahaan koran sudah seperti perusahaan pada umumnya: "mabuk" pasar modal.

Perusahaan koran berlomba mengumumkan semakin tingginya angka hit terhadap koran mereka. Kian banyak orang mengklik kian bangga -meski itu mencerminkan semakin dijauhinya koran edisi cetak mereka. Dengan menggalakkan edisi on line, perusahaan koran itu sebenarnya sudah mendorong agar pembaca meninggalkan edisi cetak. Bertahun-tahun dorongan itu dilakukan dan hasilnya sangat ''baik": kian banyak orang yang pindah ke on line. Baik menurut ukuran ekonomi saat itu.

Dengan tingginya angka hit sebuah koran, performance mereka di pasar modal semakin baik. Harga sahamnya pun naik drastis. Kenaikan harga saham setiap tahun inilah yang dikejar. Mengejar kenaikan harga saham melalui peningkatan hit di on line lebih mudah daripada memperbesar sirkulasi surat kabar. Usaha memperbesar sirkulasi koran secara tradisional sangatlah sulit: pelaksananya bukan hanya harus pintar, tapi juga harus bekerja keras. Termasuk bekerja keras mengeluarkan keringat di pasar sejak pukul 03.00.

Dari segi pemasaran, perusahaan koran tidak ada bedanya dengan tukang sayur: sudah harus ada di pasar sejak sebelum subuh. Sedangkan meningkatkan ''sirkulasi" koran lewat on line meski juga harus pintar, tapi lebih mudah: bisa dikerjakan di ruang AC dengan tidak harus bercucuran keringat. Kalau bisa meningkatkan harga saham dengan cara mudah, mengapa harus melakukannya dengan cara susah payah? Toh, sistem ekonomi pasar di AS saat itu memungkinkan berkembangnya ekonomi yang tidak perlu riil seperti itu dengan penuh gairah.

Itulah gairah yang ''memabukkan". Maka, ketika tiba-tiba terjadi krisis keuangan dan hal-hal yang tidak riil tidak bisa lagi dijual, bangunan megah itu ternyata seperti rumah-rumahan dari styrofoam: terbang terbawa angin ribut. Ketahuanlah bahwa jumlah pembaca koran yang naik terus itu sebenarnya diikuti dengan turunnya oplah. Iklan pun merosot drastis. Pengguna on line sudah telanjur dibiasakan tidak membayar. Harga saham koran seperti New York Time terjun bebas: kini sudah mendekati kategori junk bond.

Di Indonesia belum ada koran raksasa yang mengalami kesulitan -karena selama ini mereka itu sebenarnya memang belum pernah benar-benar jadi raksasa. Belum ada koran raksasa yang terjun ke pasar modal. Baru ada tiga koran yang masuk bursa: TEMPO, Republika dan -melalui induk perusahaannya- Seputar Indonesia. Performa harga saham dua koran pertama tidak pernah tinggi -dan karena itu tidak bisa anjlok.

Sedangkan performa koran ketiga sulit dinilai karena yang masuk bursa bukan koran itu sendiri, melainkan induknya.

Boleh dikata, belum ada perusahaan koran di Indonesia yang "mabuk" pasar modal. Sudah ada memang yang baru ingin mau ''mabuk", tapi sudah keburu ada krisis: Jawa Pos. Jawa Pos sudah lama mempersiapkan diri masuk pasar modal, tapi selalu ditunda karena ragu-ragu akibat baik-buruknya.

Koran di Indonesia juga masih punya waktu kira-kira lima tahun untuk menghadapi ancaman on line itu. Mengapa lima tahun? Jawabnya ini: akhir tahun depan pembangunan Palapa Ring tahap pertama selesai. Yakni, penanaman jaringan fiber optic sejauh 3.000 km di banyak kota di Indonesia.

Dengan jaringan fiber optic yang demikian luas, koridor untuk on line sangat leluasa. Akses internet akan mengalami percepatan yang menggila. Apalagi, kalau Palapa Ring sudah terbangun sempurna lima tahun lagi. "Jalan tol" di bawah tanah itu akan jauh meninggalkan kelancaran jalan tol yang di atas tanah.

Lima tahun ke depan ini adalah tahap yang amat menentukan bagi koran di Indonesia. Maju atau mati. Karena itu, Hari Pers Nasional yang diperingati hari ini menyisakan pertanyaan besar: bagaimana wartawan bisa tetap hidup bersama korannya. Wartawan akan terus hidup, tapi akankah dia kerja gratisan untuk pembacanya di on line?

Jangan-jangan itulah saatnya yang disebut era wartawan perjuangan, yakni wartawan yang berjuang menegakkan keadilan, kebenaran dan demokrasi, membela yang tertindas, membongkar kejahatan termasuk korupsi, dan melakukan kontrol sosial yang kuat -tanpa jelas siapa yang harus memberi gaji setiap bulan. Kalau itu terjadi, itulah baru yang disebut "wartawan perjuangan" yang murni.

Selain sebagai Chairman Jawa Pos Group, Dahlan Iskan adalah ketua umum SPS Pusat (Serikat Penerbit Surat Kabar). Catatan ini menyambut Hari Pers Nasional 2009 yang diperingati hari ini, 9 Februari 2009.

Sumber: Jawa Pos 9 Februari 2009

08 February 2009

Tionghoa Dewasa dalam 10 Tahun


Oleh DAHLAN ISKAN
Sumber: Jawa Pos 8 Februari 2009


ADA perkembangan yang sangat menarik dari banyaknya rombongan kesenian yang datang ke Indonesia setiap tahun (termasuk di sekitar Hari Raya Imlek sampai Cap Go Meh tahun ini). Ada perubahan pandangan yang sangat besar dari kalangan Tionghoa sendiri atas kedatangan mereka itu.

Pandangan apa yang berubah antara kedatangan mereka 10 tahun yang lalu dan sekarang ini?

Saya mencatat dengan teliti sudah terjadi perubahan persepsi yang luar biasa. Termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Juga di mata yin ni pen di ren. Sampai 9-8-7 tahun yang lalu, kedatangan rombongan kesenian dari Tiongkok itu masih selalu dianggap hebat, bahkan setengah ajaib.

Tariannya selalu dipuja sebagai liao bu qi. Kostum dan penarinya selalu dinilai hen piao liang! Dan akrobatnya hen lihai! Pujian di tahun-tahun pertama reformasi itu tidak salah, terutama barangkali karena sudah puluhan tahun tidak melihat kesenian yang demikian -lantaran dilarang selama lebih dari 30 tahun.

Begitu seringnya kedatangan rombongan kesenian itu dan begitu dipujanya di sini, sampai-sampai ada sebagian golongan Tionghoa sendiri mengkhawatirkan: apakah ini baik? Terutama untuk pengembangan jati diri Tionghoa Indonesia?

Untunglah ada demokrasi. Pertanyaan seperti itu hanya berkembang sebatas sebagai renungan yang ternyata kelak membuahkan hasil yang lebih fundamental. Di zaman demokrasi ini tidak ada lagi orang yang bisa memaksakan kehendak. Kalau saja kekhawatiran seperti itu muncul di zaman prademokrasi, buntutnya pasti represif: larang! Jangan diberi izin! Kecam! Dampak dari represi itu bisa panjang, terutama secara psikologis. Termasuk dalam upaya membangun rasa kebangsaan Indonesia.

Ternyata tanpa dilarang, tanpa dihambat, tanpa dikecam, terjadi proses pendewasaan yang luar biasa cepatnya di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Kini, sepuluh tahun kemudian, setiap ada rombongan kesenian dari Tiongkok, masyarakat Tionghoa sendiri sudah amat kritis: penampilan mereka bukan lagi dipandang dari segi emosional, tapi sudah dinilai dengan penilaian sangat rasional.

Bahkan, kian lama kian banyak yang menilai ''grup tari kita sendiri sebenarnya lebih baik dari yang datang itu". Komentar kritis seperti ini tidak pernah saya dengar 10 tahun yang lalu, atau bahkan lima tahun yang lalu. Semuanya, ketika itu, serba memuji: jelek dipuji, baik dikagumi.

Memang di kalangan masyarakat Tionghoa Indonesia juga banyak muncul grup tari yang hebat-hebat. Kursus-kursus tari, mulai balet sampai tradisional, mulai Barat sampai tari Timur, bermunculan. Memang motifnya banyak yang komersial, tapi pengaruh kebudayaannya tetap besar.

Lama-lama kelompok tari dari Indonesia itu (dari Jakarta, Surabaya, Bandung, dan seterusnya) juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dorongan orang tua di keluarga Tionghoa, agar anak-anaknya les tari, sama besarnya dengan dorongan orang tua agar anak mereka les piano atau matematika. Grup tari seperti Marlupi Dance Group, Senapati, Wijayakusuma, yang semuanya dimiliki tokoh Tionghoa, benar-benar liao bu qi. Bahkan, prestasinya sampai ke tingkat internasional. Demikian juga kelompok tari di Jakarta, seperti Marlupi Dance Academy, Na Marina, Pelangi, Luzy, semua hebat-hebat.

Marlupi yang di Surabaya memiliki 14 cabang, lima tahun lalu ekspansi ke Jakarta dan selama lima tahun ini saja sudah membuka 15 cabang di Jakarta. Wanita yang kini berumur 70 tahun dan selalu mengajak saya bicara dalam bahasa Mandarin ini, melahirkan anak-anak yang juga sangat hebat di bidang tari sehingga regenerasi di kelompok Marlupi kelihatannya tidak akan ada masalah -bahkan lebih seru lagi.

Kini persaingan mutu tari antara delegasi dari Tiongkok yang sering datang ke Indonesia dengan mutu tari yang dari Indonesia sendiri sudah tidak bisa dibedakan. Penari Indonesia bisa tampil sebaik atau lebih baik daripada penari Tiongkok -termasuk dalam tari tradisional Tiongkok sekalipun.

Dulu, ada kesan bahwa kostum penari dari Tiongkok masih lebih wah: lebih gemerlap, lebih mahal, lebih bervariasi, dan lebih jreng. Tapi, kini grup-grup tari dari Indoensia juga sudah berani ''belanja" kostum. Benar-benar tidak ada bedanya lagi.

Dari kenyataan itu saya menyimpulkan telah terjadi pendewasaan yang luar biasa dalam dua hal: rasionalitas dan kualitas. Kini yang rasional sudah mulai mengalahkan yang emosional. Belum sepenuhnya tapi sudah besar perubahannya itu. Kini kualitas mulai mengalahkan rasa rendah diri. Perkembangan ini mungkin jarang yang mencatatnya, tapi saya memperhatikannya sungguh-sungguh, bahkan dari amat dekat.

Kalau saja, 10 tahun lalu yang dilakukan adalah main larang, main kecam, dan main represif, barangkali sampai sekarang pun tingkat kedewasaan setinggi itu belum akan tumbuh. Bahkan, mungkin, malah jadi api di dalam sekam.

Kini setiap ada rombongan kesenian yang datang dari Tiongkok, kita menyambutnya dengan lebih wajar sebagai kunjungan persahabatan dan pertukaran kebudayaan dari dua bangsa yang punya hubungan kebudayaan dan hubungan emosional yang sangat erat. Tidak ada lagi kesan yang tidak sejajar.

Saya pribadi punya pengalaman traumatis. Ketika secara resmi pertunjukan kesenian yang berbau Tiongkok masih dilarang pada 1980-an, saya sudah berani menyelenggarakan pertunjukan akrobat dari Wuhan. Lengkap dengan grup musik tradisionalnya yang amat besar. Banyak yang meragukan apakah pentas itu bisa terlaksana. Nyatanya bisa, meski harus dengan urusan amat panjang.

Yang juga belum banyak diketahui adalah di bidang pertunjukan barongsai. Kini Indonesia sudah memiliki 18 juri tingkat internasional. Ketika saya menjadi ketua umum barongsai Indonesia pertama kalinya 8 tahun lalu, tidak satu pun kita memiliki juri. Akibatnya, setiap pertandingan selalu ricuh. Hubungan antarklub tegang. Akhirnya kita harus selalu mendatangkan juri dari luar negeri. Kini, kita sudah bisa ''ekspor" juri barongsai. Setiap pertandingan besar di luar negeri, juri kita diminta ke sana.

Demikian juga kini kita sudah bisa membuat barongsasi sendiri. Padahal, dulu kita selalu impor. Kalau tidak dari Tiongkok, juga dari Malaysia. Kini, di Jawa Tengah sudah ada dua orang yang mengkhususkan diri membuat barongsasi. Sebulan rata-rata bisa membuat 25 set: mulai kepala sampai sepatunya. Bahkan, perajin barongsai kita, sudah mampu membuat kepala barongsasi yang beratnya hanya 1,2 kg!

Saya masih ingat, delapan tahun lalu, kepala barongsai di Pontianak masih sangat berat: 6 kg. Lama-lama beratnya turun menjadi 5 kg, lalu 4 kg, dan kini sudah seringan 1,2 kg. Perajin sudah bisa menggunakan kulit bambu khusus yang ada di Jawa yang meski disayat amat tipis tetap amat kuat. Tidak lama lagi, pastilah kita bisa mengekspor barongsai.

Dalam jangka panjang sebaiknya Indonesia juga menciptakan sistem pertandingan internasional yang lebih menarik. Saya sudah melontarkan ini di kalangan intern masyarakat barongsai Indonesia. Terutama setelah saya tahu bahwa sistem pertandingan yang sekarang ini ternyata ciptaan Malaysia, salah satu guru barongsai kita.

Menurut penilaian kita, sistem yang sekarang sudah sangat atraktif, tapi jalannya pertandingan sangat lambat. Penggunaan tonggak yang tinggi-tinggi dan berat itu (berat tonggak tersebut sampai 2 ton), menyulitkan praktik pengaturannya. Memang menegangkan, tapi setiap peserta memerlukan waktu persiapan yang lama.

Setiap grup harus membawa sendiri tonggak mereka. Juga harus menggunakan tonggak sendiri (karena tonggak itulah yang biasa digunakan saat berlatih sehingga bisa mengurangi tingkat bahayanya). Akibatnya, jarak penampilan satu peserta dengan peserta pertandingan berikutnya perlu waktu sampai hampir 20 menit.

Penonton pun bosan menunggu persiapan yang begitu lama. Saya sendiri belum punya ide seharusnya yang bagaimana. Tapi, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa sistem ini tidak bisa membuat pertandingan barongsai banyak ditonton orang.

Namun, dengan semua dinamika itu, sungguh tidak terkirakan bahwa masyarakat Tionghoa Indonesia bisa mencapai tahap kedewasaan sehebat ini hanya dalam waktu 10 tahun! (*)

Provinsi Flores? Hikmah Kisruh Tapanuli



JALAN RAYA DI FLORES: Hancur berantakan. Sejak dulu tidak diperhatikan pemerintah daerah dan politisi. Rakyat dibiarkan sengsara. FOTO: Nolan Lasar.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Berapa jumlah provinsi di Indonesia? Saya pastikan, banyak orang tidak tahu. Beda dengan era Orde Baru yang 27. Anak-anak SD sampai mahasiswa sampai orang dewasa sangat hafal angka keramat ini: dua puluh tujuh!


Provinsi ke-27 itu Timor Timur. Setelah Timtim lepas, menjadi negara Timor Leste, jumlah provinsi bukannya berkurang, tapi justru bertambah-tambah. "Jadi, kita sebenarnya tidak rugi dengan lepasnya Timtim. Wong provinsinya tambah banyak," seloroh beberapa teman.

"Kalau begitu, ya, kita biarkan saja satu dua provinsi lain merdeka, biar provinsi di Indonesia tambah banyak," kata yang lain. Hush.... jangan keras-keras. Nanti dikira mendorong separatisme!!!!

Kalau tidak salah, saat ini provinsi di Indonesia ada 33. Dan jumlah ini boleh jadi akan segera berganti dari bulan ke bulan. Sia-sialah kita menghafal angka, menghafal nama-nama menteri, karena toh cepat sekali berganti. Ini ciri khas era reformasi yang repotnasi itu.

Setelah kasus unjuk rasa menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli--lepas dari Sumatera Utara--mengakibatkan kematian ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Aziz Angkat, isu pemekaran wilayah mulai dibicarakan lagi. Para politisi, presiden, pengamat, bicara panjang lebar di koran tentang MORATORIUM pemekaran wilayah.

"Moratorium iku panganan opo to?" komentar Cak Dul di warung kopi Aloha Gedangan, Sidoarjo.

Kita ambil hikmah tragedi Abdul Aziz Angkat di Medan. Mudah-mudahan para elite politik mulai berpikir 100 kali apakah sebuah kota, kabupaten, provinsi perlu dimekarkan. Untung ruginya apa? Ada hubungan tidak dengan kemakmuran rakyat di daerah, khususnya luar Jawa? Manfaat dan mudaratnya apa?

Yang jelas, dalam sebagian besar pertemuan informal dengan teman-teman dari luar Jawa, khususnya NTT (Nusa Tenggara Timur), isu pemekaran wilayah ini sangat sering dibahas. NTT yang ketika saya SD sampai kuliah hanya punya 12 kabupaten [semua orang NTT hafal], kini bertambah terus-menerus. Kalau tidak salah, sekali lagi kemungkinan salah sangat besar karena politisi NTT doyan pemekaran, sekarang ada 20 kabupaten.

Kabupaten Kupang, kalau tak salah, menjadi dua kabupaten plus satu kota. Flores Timur beranak Lembata. Ngada beranak Nagekeo. Melihat tren ini, bukan tak mungkin dalam lima tahun ke depan akan ada empat atau lima kabupaten baru, khususnya di Flores. "Sebab, Flores memang sedang diperjuangkan jadi provinsi. Lepas dari NTT," kata teman yang doyan politik dan hidup dari kerja politik.

Flores jadi provinsi baru? Begitulah topik yang gencar dibahas politisi Flobamora [Flores, Sumba, Timor, Alor]--nama populer Provinsi NTT--dalam 10 tahun terakhir. Semangat untuk 'memerdekakan' Flores dari NTT sangat gencar. Lobi sana sini, diskusi sana sini, menulis sana sini... demi mengegolkan Flores.

Dan langkah pertama adalah dengan memecah kabupaten-kabupaten di Pulau Flores dan sekitarnya. Maka, Flores yang sejak dulu hanya punya LIMA kabupaten, sekarang mekar menjadi delapan hingga 10 kabupaten. Saya sendiri, meski concern dengan isu-isu Flores, tidak tertarik dengan pemekaran yang terbukti kurang berdampak pada kesejahteraan rakyat. "Malah tambah ruwet. Sekarang ini sudah banyak tokoh yang ingin agar kabupaten hasil pemekaran dikembalikan saja ke kabupaten induk," begitu kata beberapa aktivis NTT dalam diskusi di Surabaya beberapa waktu lalu.

Yang jelas, penambahan kabupaten/provinsi sangat disukai politisi. Mengapa? Lapangan kerja untuk mereka bertambah signifikan. Anggota DPRD cukup banyak. Pegawai kabupaten, dinas-dinas, proyek sana-sini... bertambah.

Itu peluang emas untuk memasukkan keluarga dan kroni ke lingkaran elit daerah. Raja-raja kecil bisa dengan leluasa 'unjuk kekayaan' meski duitnya berasal dari APBD.

Kini, setelah kasus Provinsi Tapanuli [rencana] yang tragis di Medan, apakah masih relevan bicara Provinsi Flores? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para politisi ramai-ramai menyatakan MORATORIUM. Tapi, menurut saya, nafsu berkuasa, nafsu memecah belah kabupaten, kota, provinsi tidak akan ada matinya. Akal bulus tetap jalan.

Sekarang memang benar moratorium. Tapi itu bukan karena sadar bahwa pemecahan daerah otonomi itu terlalu banyak mudarat, melainkan karena sebentar lagi, ada pemilihan umum legislatif, kemudian pemilihan presiden, dan seterusnya. Setelah pemilu, pemecahan wilayah akan terjadi dan terjadi lagi. Dan itu berarti, siapa tahu, Indonesia akan menjadi 40, 50, bahkan 60 provinsi. Dan NTT yang kecil dan melarat itu bukan tak mungkin menjadi 30 provinsi.

Salut kepada warga Jawa Timur, khususnya teman-teman di Pulau Madura, yang sama sekali tidak tertarik membuat provinsi baru. Padahal, kalau mau jujur, potensi, luas, dan jumlah penduduk Jawa Timur jauuuuuh lebih banyak ketimbang NTT, Sulawesi Utara, atau Sumatera Utara.

"Sing waras ngalah!" kata orang Jawa Timur.

"Orang sehat sebaiknya mengalah saja!"

05 February 2009

Budaya Jalan Kaki Sudah Hilang



Jalan raya di kawasan Wonokromo, Surabaya, ini macet gak karuan. Ini karena semua orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor dan mobil pribadi. Tak ada ruang bagi pejalan kaki dan sepeda pancal.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Sejak tahun 2008 pemerintah kota Surabaya mulai peduli dengan pejalan kaki. Langkah awalnya, membangun pedestrian atawa jaklur khusus untuk para pejalan kaki. Kalau dulu disebut trotoar. Pak Bambang DH (wali kota) dan Pak Arif Afandi (wakil wali kota) sangat getol menyukseskan pedestrian.

Belum lama ini saya ikut mendengar paparan Pak Bambang tentang program-program unggulannya di Kota Surabaya. Dan salah satunya, ya, pedestrian. Sekarang kita bisa menyaksikan pedestrian di pusat kota: Panglima Sudirman, Basuki Rachmat, Tunjungan, Urip Sumoharjo, Embong Malang, dan jalan-jalan utama lainnya.

Sayang sekali, berdasar pengamatan saya [mudah-mudahan saya salah], belum banyak orang yang memanfaatkan pedestrian. Saya sengaja berjalan kaki di beberapa jalur pedestrian Surabaya. Ternyata, tidak sampai 10 orang yang saya temui. Saya pun menjadi orang aneh sendirian.

Mengapa pedestrian yang sudah bagus itu--mirip di luar negerilah--tidak dipakai? Jawabnya jelas: BUDAYA JALAN KAKI alias walking habit sudah lama hilang di Surabaya. Juga di kota-kota lain.

Serbuan sepeda motor Jepang sejak 1970-an, kemudian mobil, mengakibatkan kepemilikan kendaraan pribadi yang luar biasa. Dan setiap tahun jumlah motor dan mobil pasti meningkat, sementara lebar dan panjang jalan raya tetap sama.

Saya tinggal di kawasan Aloha, Gedangan, pinggiran Surabaya. Praktis, semua orang menggunakan kendaraan pribadi. Ada tetangga saya yang punya delapan motor, dua mobil. Ada yang 12 motor. Ada yang satu atau dua motor. Karena itu, ke mana-mana orang menggunakan mesin alias motor untuk bergerak.

Dua kaki tidak lagi berfungsi untuk berjalan meskipun sekadar membeli minyak goreng atau sabun di tetangga sebelah. Banyak teman saya yang memakai sepeda motor hanya untuk membeli air galonan yang jaraknya hanya terpaut lima rumah. Mengapa tidak jalan kaki saja? "Wah, capek deh. Enakan naik motor," kata si Robby, karyawan swasta.

Saya juga suka memperhatikan jalan umum di kawasan Aloha, mulai Bangah, Sawotratap, hingga Pepelegi. Ternyata, tidak orang yang jalan kaki. Jalan penuh sepeda motor. Kendaraan umum, yang warna hijau itu, ada, tapi sangat sedikit. Nah, untuk ke jalan raya yang hanya sekitar 400-500 meter, tak ada orang yang mau jalan kaki. "Capek, ntar keringatan," kata Sarah, karyawan di Surabaya.

Dia memilih naik becak, Rp 5.000 sampai Rp 10.000, sekali jalan. Tarif becak memang sangat lentur, tergantung negosiasi dan kenal-mengenal. Orang baru menjadi makanan empuk tukang becak di Surabaya dan Sidoarjo.

Ada lagi fenomena lain, betapa budaya jalan kaki sudah menghilang sama sekali. Saya kasih contoh si Rusmanto yang parkir di Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso. Hotel ini sangat dekat dengan Plaza Surabaya alias Delta. Ketika hendak ke Delta, apa yang dia lakukan? Aha, bukannya jalan kaki yang hanya 5-7 menit, Rusmanto mampir ke parkir, naik motor ke plasa itu. Masuk ke arel parkir, bayar, dan menikmati pusat belanja di tengah kota itu.

Di Delta muncul pikiran untuk jalan-jalan ke Tunjungan Plaza. Jaraknya pun sebetulnya tak jauh dari Plaza Surabaya. Maka, Rusmanto cepat-cepat ke parkiran, bawa sepeda motor ke Plaza Tunjungan. Kalau di Singapura, Malaysia, dan kota-kota beradab lainnya, perilaku maam ini tentu sangat aneh. Tapi di Surabaya, ya, demikianlah. JALAN KAKI, meski untuk jarak sangat pendek, dirasa sangat menyiksa. Manusia sudah terikat dengan mesin, entah itu sepeda motor atau mobil.

Karena itu, saya tidak heran melihat kereta api komuter Surabaya-Sidoarjo [Susi] yang gagal. KA Susi ini diresmikan Presiden Megawati pada 2004, kalau gak salah. Salah satu tujuannya: mengurangi orang yang ke mana-mana pakai sepeda motor. Sebab, macet dan ruwetnya jalan raya di Surabaya, ya, akibat jutaan motor dan mobil melintas setiap hari. Pemerintah resah. Keruwetan ini harus segera diatasi karena 15, 20, 30 tahun lalu kondisi akan sangat parah.

Tapi, ya itu tadi, masyarakat kita sudah bertahun-tahun terbiasa TIDAK menggunakan kaki. BUDAYA JALAN KAKI tidak ada lagi. Ini aneh juga karena orang Surabaya--yang berpenghasilan tinggi--terbiasa jalan-jalan di Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo, London... dan kota-kota besar lain. Pulang ke Surabaya, mereka bercerita panjang lebar tentang nikmatnya jalan kaki di luar negeri.

"Saya tiap hari jalan paling sedikit lima kilometer," ujar kenalan saya, Ismail, yang baru pulang dari Tiongkok.

"Kalau di Surabaya, masih jalan kaki juga?"

"Gak pernah. Repot kalau jalan kaki di sini."

"Apanya yang repot?"

"Banyaklah. Di Tiongkok pedestriannya luar biasa lebar. Yang jalan kaki juga banyak. Sementara di sini gak ada orang yang jalan kaki. Pokoknya, apa-apa yang baik dan sederhana di luar negeri, di Indonesia sering kali susah diterapkan.

"Kita bisa antre dengan tertib di Singapura, tapi di Surabaya kita rebutan gak karuan. Jadi, ini soal sistem dan budaya. Dan itu gak iso dibangun cuma dalam waktu satu dua tahun," urai kenalan saya itu panjang lebar.

Maka, saya agak cemas dengan pedestrian di Surabaya. Apakah akan dipakai untuk pejalan kaki, berkembang seperti di Singapura dan kota-kota di negara maju? Ataukah, kembali dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima karena memang tidak pernah dipakai?

Tanpa budaya jalan kaki, pedestrian atau apa pun namanya tidak akan berhasil. Dan itu berarti upaya pemerintah kota menggalakkan transportasi massal, sekaligus mengurangi kendaraan pribadi, tidak akan sukses juga. Ujung-ujungnya jalan raya di Surabaya akan macet cet-cet-cet-cet di masa depan.

04 February 2009

Pedestrian di Surabaya



SURABAYA MACET: Budaya jalan kaki hilang, sehingga tiap hari Surabaya macet. Pemerintah kota sejak tahun 2008 mulai membangun jalur khusus perjalan kaki untuk mengurangi kemacetan dan membiasakan warga menggunakan kendaraan umum. Yang paling sulit itu sebetulnya membangun BUDAYA JALAN KAKI. Kalau bikin pedestrian sih gampang... kalau ada duit.

Oleh Arif Afandi
Wakil Wali Kota Surabaya
Mantan Pemimpin Redaksi JAWA POS

Panambahan ruas pedestrian di Jalan Raya Darmo Surabaya memicu protes para pengguna jalan. Mereka menyesalkan keputusan tersebut karena dianggap mempersempit hak kendaraan bermotor. Mereka khawatir, dengan sempitnya jalan, maka ruas jalan yang selama ini sudah padat itu akan makin macet di masa mendatang.


Pembangunan sarana untuk pejalan kaki di salah satu jalan protokol tersebut memang memakan 60 sentimeter ruas jalan. Kelak, pedestrianya akan lebih lebar dibanding yang ada sekarang. Di beberapa tempat, juga dilakukan hal yang sama. Bahkan, di ujung bawah Embong Malang harus menabrak tembok cagar budaya. Untung, bangunan cagar budaya itu masuk klasifikasi C sehingga bisa dibongkar.

Terus membangun sarana untuk mempernyaman pejalan kaki memang sudah menjadi kebijakan. Setiap tahun akan terus ditambah ruas pedestriannya. Standar kualitasnya pun juga ditingkatkan. Sehingga kelak pedestrian akan menjadi bagian arsitektur kota. Ia tidak hanya berfungsi membuat pejalan kaki nyaman. Tapi juga memperindah sudut pandang.

Lantas bagaimana dengan berkurangnya hak pengguna kendaraan? Ini resiko yang tak bisa dihindarkan. Harus diakui, berapa pun lebar jalan tidak akan pernah kecukupan. Apalagi dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang rata-rata hampir 12 persen setiap tahunnya. Makin lama, tentu jalan makin sesak. Sekarang mungkin belum begitu padat. Tapi bagaimana dengan lima tahun mendatang?

Namun, keputusan harus dipilih. Menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki atau pengguna kendaraan? Kota masa depan yang nyaman bukan karena padatnya kendaraan. Harus ada strategi untuk mengurangi jumlahnya. Di beberapa kota besar, malah sepeda motor mulai dilarang. Tujuannya agar tidak terlalu banyak menghasilkan gas buang yang merusak lingkungan.

Karena itu, memilih prioritas untuk pejalan kaki merupakan kebijakan yang tepat untuk masa depan. Tentu, harus ada kebijakan ikutan untuk memperkuat pilihan ini. Misalnya, sudah saatnya dibangun sistem transportasi kota. Sebuah sistem yang ‘’memaksa’’ orang tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke tempat kerja. Sebuah sistem transportasi kota yang juga menjanjikan kenyamanan untuk para penumpangnya.

Sejak sepuluh tahun berjalan, memang belum ada perkembangan sistem transportasi kota secara signifikan. Bahkan tidak ada penambahan jalur yang bisa mengurai kebutuhan penumpang. Padahal, kota berkembang dengan pesatnya. Apalagi ada dua kampus di sana. ITS di timur, Unesa di barat. Meski, kawasan timur dan barat tumbuh cepat, belum ada trayek baru bus kota untuk melayani mereka.

Tidak hanya itu. Tata kota juga perlu penataan ulang. Tumbuhnya kendaraan bermotor terkait dengan pertumbuhan kota yang masih bersifat horisontal. Perumahan di perkotaan masih cenderung landed alias mendatar. Butuh lahan luas karenanya. Jarak antar wilayah menjadi melebar. Ketika kota tumbuh, lahan makin mahal. Kelas menengah ke bawah tak bisa punya rumah di tengah kota. Mereka makin minggir dan untuk bekerja sepeda motor jadi pilihan.

Bayangkan jika perumahan tumbuh ke atas. Kebutuhan lahan makin efesien. Tata kota menjadi sistem blok. Para pekerja tidak harus ke luar kota untuk mendapatkan tempat tinggal. Mereka bisa memiliki rumah di apartemen tengah kota. Tentu bukan apartemen mewah seperti yang berkembang sekarang. Karena jarak tempat tinggal dan kerja tidak berjauhan, mereka cukup dengan jalan. Pedestrian akhirnya menjadi sangat signifikan.

Jadi, pedestrian ini adalah bagian strategi awal untuk menciptakan kota masa depan yang nyaman dan ramah lingkungan. Dalam jangka waktu lima belas tahun ke depan, harus terus dibangun sistem transportasi kota yang murah dan nyaman. Juga sistem perumahan yang memungkinkan para pekerja tinggal di tengah kota. Bukan di pinggiran sehingga mereka harus membeli sepeda motor untuk ke tempat kerja.

Singkatnya harus ada kebijakan ikutan setelah membangun pedestrian. Kebijakan baru mengenai sistem transportasi kota, tata kota baru yang bersifat vertikal, dan infrastruktur yang memperhitungkan perkembangan kota jangka panjang. Ini semua yang telah dan sedang dipersiapkan dalam bentuk perencanaan maupun kebijakan.



PEDESTRIAN DI SINGAPURA: Lebar, nyaman, teduh, terawat... dan ditunjang BUDAYA JALAN KAKI. Kita di Surabaya harus belajar banyak dari negara-negara maju. Ojo studi banding thok, ngelencer thok nang Singapura, Eropa, Amerika, tapi hasile gak jelas! (Lambertus Hurek)