20 January 2009

Tionghoa Sisi Lain



Siapa yang paling kaya di kota Anda? Siapa yang punya mal, plaza, hotel berbintang, real estat, deposito miliaran rupiah?

Jawabannya hampir pasti: orang Tionghoa. Mereka memang berhak kaya-raya karena punya ETOS kerja keras, ulet, pantang menyerah, pandai membaca peluang. Kerja pakai otak, bukan hanya pakai otot dan dengkul. Bikin jaringan ke mana-mana. Wawasan luas.

Bangsa yang hanya mengandalkan hidup sebagai petani, tukang kebun, pegawai negeri, guru, buruh, tentara, karyawan... tak akan pernah kaya. Kecuali, barangkali jadi anggota DPR di Indonesia, yang doyan korupsi dan nyolong uang rakyat.

"Kalau mau kaya, kalian harus jadi pengusaha. Buka usaha sendiri. Kalau kalian kerja ikut orang, sampai mati pun ekonomi kalian tidak akan mapan," demikian wejangan seorang pengusaha Tionghoa kaya kepada anak-anak penerima beasiswa di Restoran Koowlon Surabaya belum lama ini.

Hehehe.... Baba Tionghoa ini lagi nyindir ya? Celetukane sampeyan kok iso titis banget sih!

Saya kira bapak pengusaha ini benar. Karena menjadi pengusaha selama lima sampai tujuh generasi, orang Tionghoa di Surabaya pun kaya-raya. Hampir semua pusat perbelanjaan mewah, hotel mewah, restoran kelas atas, real estat mewah... milik Tionghoa. Saking kayanya, banyak orang yang bingung mau diapakan uangnya.

Sebaliknya, para buruh di Surabaya dan Sidoarjo masih terus unjuk rasa agar bayarannya dinaikkan menjadi minimal Rp 1 juta per bulan. "Orang kaya itu sekali makan bisa habis Rp 5 juta lho. Sampean paling sekali makan Rp 5.000," begitu gurauan populer di kampung pinggiran Surabaya.

Tapi benarkah semua orang Tionghoa di Surabaya/Sidoarjo kaya-raya?

Hmmm.... nanti dulu.

"Siapa bilang orang Cina itu semuanya kaya? Banyak banget wong Cino sing miskine gak karua-karuan. Aku sampek gak mentolo," ujar Mbak Siti.

Tiap minggu Mbak Siti membagi-bagikan sedekah kepada ratusan kaum miskin di Surabaya. Dan sebagian di antaranya TIONGHOA.

"Wong Cino iku kalau sudah miskin, miskinnya luarrrr biasa. Lebih parah ketimbang orang kita yang miskin," kata Mbak Siti. Orang KITA itu maksudnya Jawa, Madura, Sunda, Batak, Flores... atau istilah Orde Barunya: PRIBUMI.

Andrea Hirata dalam novel MARYAMAH KARPOV melukiskan kehidupan orang-orang Khek, Hokian, dan Tongsan (alias Tionghoa) di Pulau Belitong. Saya kutip tulisan Andrea di halaman 131 novel keempat tetralogi LASKAR PELANGI tersebut:

"Orang-orang Khek, Hokian, atau Tongsan di kampung kami adalah suku yang serius.... Orang-orang itu selalu berada di kutub-kutub EKSTREM. Jika kaya, kayanya tiada banding. Jika miskin, ibaratnya sampai makan tanah.

"Jika berwajah jelek, mohon maaf, wajahnya rata. Namun, jika cantik -- A Ling contohnya -- tatapannya mampu mencairkan tembaga.

"Begitu pula jika baik, demawan lebih dari siapa pun: memberi pada siapa saja tak pandang bulu, mulia sekali bak santo-santa. Di kampung kami beberapa konfusius Tionghoa tak sungkan menyumbang pada orang Melayu untuk membangun masjid.

"Bahkan, ada yang membangun sendiri masjid itu. Namun, jika sudah jahat, tak sekadar menggarong, tapi merekalah gembongnya."


MAKAN TANAH.

Deskripsi Andrea Hirata memang selalu hiperbolis, tapi kalau mau jujur, begitulah kondisi orang-orang Tionghoa. Tidak hanya di Belitong, tapi juga di Jawa Timur. Ada kutub-kutub ekstrem yang luar biasa. Kalau tidak kaya sekali, ya, miskin sampai harus MAKAN TANAH.

Saya beberapa kali mengikuti acara pembagian sedekah mingguan di Jalan Pahlawan Surabaya. Amboi, kondisi Tionghoa-Tionghoa miskin ini memang jauh lebih mengenaskan. Wajahnya lesu.

Mata sayu. Sulit bicara. Frustrasi. Bahkan, ada yang ingin mati saja karena merasa sudah tak ada gunanya lagi hidup di dunia.

"Lho, Sampean kan Tionghoa kok ikut-ikutan ngemis?" pancing saya.

"Aku ini gak punya apa-apa. Kalau punya ya aku gak akan ngemis. Wong ngemis itu malu lho. Tapi kalau gak ngemis, mau makan apa? Mangan watu ta?" balas perempuan 50-an tahun yang mengaku bernama Xiao.

Ibu ini punya satu anak remaja, tinggal di kawasan Jalan Kenjeran. Suaminya minggat, kawin dengan perempuan lain. Tak ada nafkah lahir batin untuk Ibu Xiao. "Rumah saya mau ambruk. Aku gak punya apa-apa untuk benerin. Itu pun bukan rumah saya, tapi milik orang. Sewaktu-waktu saya bisa diusir," keluh ibu ini, masih berusaha tersenyum.

Ibu Xiao masih lumayan, mau bicara meskipun sangat emosional. Macam orang marah. Tionghoa-Tionghoa miskin yang lain kontan naik darah ketika saya ajak wawancara.

"Wis, gak usah wawancara-wawancara. Saiki aku perlu uang, perlu makan. Wawancara iku gak ono gunane. Aku gak butuh difoto, gak butuh masuk koran. Wartawan iku gak ono gunane!" ujar seorang bapak 70-an tahun, Tionghoa kurus kering.

Nah, menjelang tahun baru Imlek 2560 ini sejumlah pengusaha memberikan bingkisan untuk 247 anak-anak Tionghoa miskin. Panitia Imlek di ITC Mega Grosir mengadakan survei di kampung-kampung Tionghoa untuk menemukan orang-orang Hokian, Khek, Tongsan, dan entah apa lagi yang masuk GAKIN, keluarga miskin.

Dari sini banyak orang Tionghoa, yang tidak miskin, terkaget-kaget, melihat kenyataan di lapangan. Ternyata, keluarga Tionghoa miskin di Surabaya tidak sedikit. Ada keluarga yang tinggal di satu kamar petak sangat sempit. Ayah, ibu, anak... sesak-sesakkan di kamar itu. Fasilitas air minum, listrik... seadanya.

Ada lagi yang puasa tiap hari karena tak punya uang untuk membeli makanan. "Imlek tahun ini makin membuka mata kami bahwa saudara-saudara kami, sesama Tionghoa, yang miskin itu masih banyak," kata seorang pengusaha Tionghoa kaya.

Baru tahu ya?

13 comments:

  1. Kenapa sifat mau kerja keras, ulet, pantang menyerah, dan berjiwa pengusaha itu kebanyakan dimiliki orang Tionghoa?
    Bagaimana dengan 'orang KITA'?

    Mungkin ada hubungannya dengan sejarah nenek moyang mereka yang datang ke tanah 'Nanyang' ini beratus2 tahun lalu. Kan mereka datang dg tekad memperbaiki hidup mereka dan generasi berikutnya! :)

    Jaman susah begini, sifat spt di atas itu makin penting ya mas, terutama ketika lowongan kerja makin sulit, mungkin juga mulai ada PHK.

    Pemerintah di sini juga bolak balik menggenjot SME (small medium enterprise) mereka, bolak balik diberi uluran bantuan baik konseling maupun dana... spy pemerintah juga turut teringankan ya...kalau rakyatnya bisa usaha cari uang sendiri :) Pinterrrr....

    ReplyDelete
  2. Yah suatu kontradiktif yang jarang kita sadari. kita terlalu sering melihat dan menjadi cemburu pada kelebihan mereka tanpa kita sendiri menyadari bagaimana kerja keras mereka untuk menjadi sukses.
    Artikel yang sangat bagus. sangat membangkitkan inspirasi bahwa hidup ini bukan sekedar peluang tapi bagaimana kita menentukan pilihan hidup kita. mau jadi apa kita. mau bekerja sekeras apa kita.
    Kita terlalu sering meratapi nasib kita yang kurang beruntung tanpa mau berusaha bangkit. tanpa kita sadari gak ada keberuntungan yang datang tiba-2.
    Thanks buat artikel ini, thanks buat yg dah nulis artikel ini. artikel ini sederhana tapi maknanya dalam. mengingatkan saya di umur yang dah 35 th ini mau jadi seperti apa gw, mau jadi seperti apa anak-2 gw ntar 10 th lagi.
    Thanks Bro, GBU

    ReplyDelete
  3. WahWah, terima kasih banyak atas tambahan refleksi dari Mbak Dyah di Singapura dan Bung John. Pesan utama memang bagaimana kita memetik hal-hal yang baik dari orang lain, sebagai modal kita bersama di Indonesia.

    Kalau MEREKA bisa, mengapa KITA tidak? Sangat menarik kalau kita mendalami sejarah orang-orang Tionghoa yang terdiaspora ke mana-mana. Salam dan doa dari saya.

    ReplyDelete
  4. Mas Hurek, di daerah Glodok juga ada beberapa sopir angkot keturunan Cina. Di Singapore saya sering melihat amah2 yang kerjanya mengambili kaleng2 bekas minuman sambil menenteng plastik transparan besar. Untungnya disana sampahnya tidak dibuang sembarangan, jadi ngambilnya juga enak. Intinya kemiskinan bisa menimpa siapa saja, kadang bukan karena malas..tetapi banyak orang tidak beruntung memperoleh pekerjaan dengan upah yang layak. Cerita model Liem Swie Liong dijaman sekarang ini sudah tidak mungkin terjadi, kecuali mau digelandang oleh KPK )

    ReplyDelete
  5. Dua paragraf pertama yang anda tulis ialah kontras antara yang disebut kaum Mercurian dan kaum Apollonian oleh Yuri Slezkine, profesor sejarah di Berkeley. Lihat wawancaranya di http://www.alumni.berkeley.edu/Alumni/Cal_Monthly/November_2004/QA-_A_conversation_with_Yuri_Slezkine.asp

    Hoakiau di Asia Tenggara, Yahudi di Eropa dan USA, India di Afrika/Fiji, Jawa di Suriname, semuanya "terpaksa" menjadi kaum Mercurian yang mengandalkan otak, wawasan, dan jaringan global.

    Di abad ke-21 ini, orang yang ingin maju secara ekonomi dan sosial harus menjadi lebih "Yahudi", lebih "Tionghoa" dalam segala arti positifnya.

    ReplyDelete
  6. ini bukti bahwa org miskin itu ada di mana2, gak hanya pribumi tapi juga org cina byk yang miskin...

    ReplyDelete
  7. bung, miskin atau kaya bukan karna ras bung, tergantung sifat pribadi dan keinginan yang keras untuk mendapatkan uang, bukan karna dia cina atau yg kalian sebut CINO jadi menganggap dy banyak kaya. kebanyakan PRIBUMI mengangap cina itu KAYA n PELIT, mrk sebenarnya bukan PELIT, mrk hanya berusaha menabung dan mengatur keuangan mrk jadi bisa memperbaiki hidup dengan membuka usaha. itu yang saya pelajari dari semangat n tekad orang CINA atau yang kalian sebut CINO PELIT

    ReplyDelete
  8. tambahan, saya harap title postingan ini di ubah karna terlalu memojokkan, seakan senang trnyata ada tionghoa yang miskin

    ReplyDelete
  9. Baik. Judul postingan sudah diubah. Saya hanya mengutip kata2 Andrea Hirata yang secara gamblang menggambarkan kontras kehidupan orang Tionghoa di kampung halamannya, Belitong.

    Sayang sekali, Anda tidak bersedia mencantumkan identitas. Sehingga diskusi yang mestinya menarik menjadi tidak elok. Salam.

    ReplyDelete
  10. artikel ini bagus dan menggugah. memotivasi org untuk buka usaha sendiri, jangan hanya jadi karyawan....

    wahid

    ReplyDelete
  11. Halo Bapak Lambertus Hurek, hati Bapak baik ingin memberi solusi keluar dari krisis dari kemiskinan. Hasil survey kota secara makro kita tidak kekurangan modal usaha, bahkan banyak sumber yang mau memberi bantuan modal. Justru pekerjaan atau proyek yang tidak ada. Masalahnya setelah modal ada di tangan apakah bisa berkelanjutan memberi manfaat? Apakah bisa memberi kontribusi kepada semua pihak? Sumber berita kebanyakan hanya pemandangan umum sedangkan yang dibutuhkan praktek kerja nyata pelayanan. Negara-negara maju mempunyai proyek jangka menengah dan panjang yang bisa menampung banyak angkatan kerja baru. Meliputi tingkat operasional hingga perencana masa depan. Di sisi lain angkatan kerja lama tidak mudah merelakan posisinya kepada angkatan kerja baru mengingat tempat yang disediakan lebih kecil dari jumlah angkatan kerja baru. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang memperkecil penyerapan angkatan kerja baru. Orang yang bermodal kebingungan mengembangkan modalnya di Indonesia dan sebaliknya orang yang membutuhkan modal kebingungan untuk mendapatkannya. Tekanan pemikiran globalisasi ikut mewarnai pendidikan kita. Kemajuan saat ini sudah bergerak ke segala arah dari mulai pertanian dan teknologinya sampai teknologi telekomunikasi dan antariksa. Tetapi lagi-lagi kendala ada pada pemerataan distribusi dan identifikasi kependudukan. Bisa Bapak bayangkan di kota orang yang bisa mendapat penghasilan ratusan juta per bulan tetapi di pedalaman desa ada yang tidak mendapat penghasilan sama sekali. Secara akal sehat harus ada institusi atau lembaga yang menjembatani pemerataan penghasilan bagi orang miskin. Contoh konkret seperti: panti asuhan, jompo, cacat, yayasan pelatihan kerja dan badan amil zakat bahkan badan penyaluran kredit seperti koperasi.
    Saat ini yang menjadi pokok pemikiran adalah mencarikan pekerjaan atau proyek baru bagi angkatan kerja baru, demikian Bapak dan mudah-mudahan ini dapat bermanfaat dan melegakan hati semua pihak, terima kasih.

    ReplyDelete
  12. Apakabar Bapak Lambertus Hurek? Menyentuh kata kaya dan kata miskin, ada hal yang jauh lebih utama. Indonesia dikenal sebagai negara kaya, meski di dalamnya banyak kemiskinan. Siapapun tahu keunggulan katulistiwa, potensi alam yang tidak habis meski banyak perampasan kekayaan. Mengapa harus iri terhadap orang lain? Padahal diantara orang yang tidak mau berbagi masih ada pemerintah yang mengatur. Alangkah indahnya bila kita mengganti hati yang "merasa tidak cukup" dengan "mau melestarikan". Bila punya sepasang sapi jadikanlah sapi ini bisa didapatkan oleh semua orang, bila punya sepasang ikan jadikanlah ikan ini bisa didapat oleh semua orang, bila punya sebungkus benih padi atau kedelai jadikanlah benih ini bisa didapatkan oleh semua orang. Bukankah ini suatu proyek yang dapat mengangkat kesejahteraan semua orang? Kalau Anda bisa menikmati susu, bisakah Anda membuat semua orang bisa menikmati susu. Tentu saja bukan membagi-bagi dengan gratis karena hal itu akan menjadi tidak baik tetapi melalui suatu mekanisme pemeliharaan, pengembangan, dan pendistribusian. Sedangkan dilain pihak berfungsinya pelatihan kerja, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kualitas hidup pengusaha dan pekerja. Ini baru soal hewan ternak dan benih. Masih ada yang lain seperti Anda punya sebuah handphone, duplikasikanlah sehingga semua orang bisa menggunakan handphone, Anda punya satu sepeda, duplikasikanlah supaya semua orang bisa menggunakan sepeda. Gagasan sederhana ini tidak remeh dengan pemikiran yang cemerlang. Hanya orang-orang yang rakus dan tamak saja menyebabkan kepunahan dan kesia-siaan. Banyak usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri dan semua orang termasuk lingkungan hidup. Salam damai.

    ReplyDelete
  13. Bung Hurek, ketika masih mahasiswa di Eropa, saya mulai semester ke 6 mendapat beasiswa dari
    pemerintah, karena untung bisa lulus ujian2 secara cepat. Sebelumnya saya mendapat biaya hidup dari engkoh2-saya, yang sudah bekerja. Pada tahun kuliah terachir hanya tinggal 4 ujian, saya kira pasti bisa tamat, sebab itu saya tidak mengajukan permohonan untuk memperpanjang beasiswa. Lacurnya didua ujian saya tidak lulus, harus mengulang. Saya pergi ke kementerian perguruan tinggi, untuk minta perpanjangan beasiswa. Ternyata sudah terlambat, semua anggaran sudah habis. Pegawai disana berkata, mengapa kamu sebelumnya tidak memohon, menurut hasil2 ujianmu, pasti kamu dapat beasiswa. Saya jawab, gua kira pasti tamat achir semester ini.
    Apa daya tidak punya uang ? Tidak berani minta lagi kepada engkoh, dasar cina, pasti aku akan dimaki habis2-an. Kollega2-ku di Universitas ada kira2 25 mahasiswa Cina-Indonesia, dan hanya dua orang yang pribumi Indonesia. Saya tidak berani minta makan malam kepada teman2 Cina, sebab saya tahu, setelah 3 kali makan gratis, pasti aku akan diusir dan dirasani ke-mana2. Saya datang keteman pribumi asal Bukittinggi, pemeluk agama Islam, tiap malam saya diberi makan gratis selama 3 bulan. Tidak ada seorangpun yang tahu, bahwa saya ngemis makan kepadanya. Tidak pernah saya merasa, bahwa dia merasa sebal, begitu tulus dan ichlas. Setelah lulus harus Promosi dan membayar ongkos ijasah. Jenis kertas ijasah ada 3 macam. Paling murah dari kertas biasa, lalu setengah pergament dan termahal dari pergament.
    Ya, saya pinjam uang kepada siorang Minang untuk membayar ijasah. Dia tanya, lu mau beli yang jenis apa ? Yang mahal dong, untuk hasil jerih payah selama 13 semester. Tentu saja semua utang sudah saya bayar dengan gaji bulan pertama. Saya kadang tidak tahu, ijasah itu ada dimana, 38 tahun tidak pernah saya lihat.
    Orang Cina memang lebih keras hati terhadap orang miskin. Mungkin alasannya, karena mereka asalnya juga sangat miskin, dan harus membanting tulang untuk menjadi kaya. Orang pribumi Indonesia lebih mau membagi rejeki, walaupun mereka miskin, masih mau memberi sedekah kepada yang lebih miskin.
    Laki pribumi masih bersedia membantu mertua atau iparnya. Orang Cina ?????????

    ReplyDelete