02 January 2009

Tionghoa dan Kelenteng di Sidoarjo



Orang-orang Tionghoa yang memang punya bakat dagang kemudian membuka usaha di kawasan Jalan Gajah Mada dan Jalan Hang Tuah (nama sekarang). Makin lama makin banyak, sehingga kawasan Gajah Mada dan sekitarnya berkembang menjadi "pecinan" Sidoarjo. Pola permukiman etnis Tionghoa macam ini juga terjadi di kota-kota lain. Tidak direkayasa penguasa, apalagi pengembang, tapi semata-mata karena kesamaan nasib dan lahan usaha.

"Saya lahir dan besar di daerah sini. Kakek dan nenek saya juga lahir di sini, meninggal, dimakamkan di sini," cerita Bapak FX Sutikno kepada saya. Pak Tikno ini berdagang bunga di Jalan Gajah Mada Sidoarjo.

Sejak kecil rajin ke kelenteng, sekarang pun tetap ke kelenteng meskipun sudah lama menjadi Katolik. "Saya ini juga pengurus paroki lho. Kalau ada hari besar seperti Natal, Paskah, saya mesti ikut terlibat mempersiapkan bunga dan aksesoris di gereja," kata Pak Tikno yang selalu gembira itu.

Saudara, orang Tionghoa beragama Katolik di Jawa Timur memang masih banyak yang tetap "pigi sembahyang" di kelenteng-kelenteng, tapi juga rajin misa di gereja. Bukan hanya rajin, bahkan aktif di berbagai kegiatan paroki, jadi pengurus macam-macam. Ketua salah satu kelenteng terkenal di Surabaya justru ibu yang aktivis Katolik dan sangat dekat dengan pastor.

"Semua anak saya Katolik, sekolah di sekolah Katolik, saya juga Katolik. Tapi sekarang saya dipercaya mengurus kelenteng. Siapa lagi yang ngurus kalau bukan saya? Ini peninggalan leluhur kami," ujar sang ibu tersebut.

Kembali ke pecinan Sidoarjo. Berdirinya permukiman Tionghoa di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hang Tuah kemudian diikuti dengan pembangunan kelenteng pada 1869. Rumah ibadah Tionghoa di Jalan Hang Tuah ini bernama TJONG HOK KIONG.

Menurut Pak Tikno, dulu hampir semua orang Tionghoa menganut agama atau kepercayaan leluhurnya. Berdoa rutin di kelenteng, mengikuti perayaan-perayaan tradisi Tionghoa di kompleks kelenteng.

"Jadi, orang Tionghoa di Sidoarjo yang masuk agama Kristen (Katolik, Protestan, dan denominasi lain) itu belum lama. Orang tua saya saja masih menganut kepercayaan Tionghoa, orang kelenteng. Saya ikut Katolik karena sekolah di Katolik dan tahu kalau ajaran Katolik itu tidak melarang budaya leluhur. Saya merasa cocok," cerita Pak Tikno, 60-an tahun.

Setelah rezim Orde Baru berkuasa, akhir 1960-an, orang-orang Tionghoa di Indonesia menghadapi situasi pelik. Begitu pula dengan di Sidoarjo. Sekolah Tionghoa di Jalan Gajah Mada--tempat pendidikan anak-anak Tionghoa, pusat konservasi tradisi dan budaya Tionghoa--ditutup paksa.

Gedung itu dijadikan Madrasah Aliyah Negeri, pusat pendidikan Islam. Belakangan Madrasah pun pindah ke Jalan Jenggolo, sehingga gedung eks sekolah Tionghoa mangkrak sampai sekarang (2009).

"Saya kalau lihat bekas gedung sekolah saya itu sedih. Eman-eman, gedung kok tidak dipakai, dibiarkan telantar," kata Pak Tikno.

Gara-gara penutupan sekolah, mulailah anak-anak Tionghoa "terpaksa" ditampung di sekolah-sekolah kristiani (Katolik, Protestan) di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan kota besar lain. Lalu, karena ada kewajiban memeluk salah satu dari lima agama (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha), warga Tionghoa di Sidoarjo sebagian besar memilih Buddha (karena masih dekat dengan agama Tionghoa, apalagi ada aliran Tridharma) dan Nasrani, khususnya Katolik.

"Anak-anak sekolah umumnya ke Katolik. Kalau yang sepuh-sepuh, ya, tetap bertahan dengan kepercayaan leluhur. Di rumah ada altar sembahyang dan sebagainya. Jadi, kebudayaan Tionghoa itu tetap bertahan meskipun kita tidak bisa melakukan di luar rumah," tegas Pak Tikno.

KELENTENG TJONG HOK KIONG
Jalan Hang Tuah Sidoarjo




Satu-satunya rumah ibadat Tionghoa di dalam kota. Banyak dikunjungi orang Tionghoa dari berbagai daerah karena dipercaya punya kelebihan dalam hal pengobatan. Konon, orang-orang sakit berat bisa sembuh setelah berdoa di Tjong Hok Kiong.

Pengurus kelenteng ini, pengusaha terkenal Sidoarjo, pada era Orde Baru juga dipercaya menangani proses naturalisasi warga Tionghoa. Juga dilibatkan dalam Bakom PKB (Badan Komunikasi Persatuan dan Kesatuan bangsa), lembaga bentukan TNI dan rezim Orde Baru, yang menganut prinsip asimilasi. Ganti nama, ganti agama, ditangani Bakom PKB.

Jangan heran, sebagian besar orang Tionghoa di Sidoarjo sudah lama mengunakan nama-nama Jawa. Contohnya: Fransiskus Xaverius Sutikno. "Yah, kita orang ikut aturan saja. Disuruh ganti nama, ya, kita manut, milih agama, ya, kita orang jadi Katolik. Hidup itu mengalir saja," kata Pak Tikno.

Kelenteng Tjong Hok Kiong tak asing lagi dengan warga Sidoarjo dalam kota yang berkultur santri. Ada beberapa pesantren di dalam kota. Perayaan terbesar setiap tahun adalah Hari Jadi Mak Cok (Yang Mulia Mahco Thian Siang Seng). Mak Cok ini kalau tidak salah lahir 1.048 tahun yang lalu. Mak Cok tokoh sangat penting di kalangan Tionghoa.

Saya beberapa kali mengikuti pesta rakyat atau pasar malam yang sangat meriah. Wayang kulit, wayang potehi, pasar murah, topeng monyet, dan sebagainya. Adapun atraksi budaya Tionghoa digelar di dalam gedung olahraga yang sangat besar untuk ukuran Sidoarjo.

Yayasan kelenteng ini juga membina olahraga bola basket. Pemain-pemain basket pelajar terbaik di Jawa Timur kebanyakan berasal dari sini. Maka, tak usah heran kalau siswa SMA Kristen Petra Sidoarjo sangat berprestasi di Deteksi Basketball League, kompetisi basket pelajar terbesar di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Yang menarik, kelenteng ini ikut melestarikan kesenian wayang potehi pada masa-masa sulit Orde Baru. Ki Subur dalang sekaligus ketua grup wayang titi Fuk Hou An. "Saya dan semua kru orang Jawa. Kami mau menekuni wayang potehi karena suka. Sejak kecil kami biasa main-main di Kelenteng Dukuh, Surabaya, sehingga tidak asing lagi," kata Ki Subur alias Sugijo Waluyo kepada saya.

KELENTENG TENG SWI BIO
Jalan Raya Krian




Usia kelenteng ini pun cukup tua, hampir sama dengan Tjong Hok Kiong. Ini karena sejak dulu Krian, yang tak jauh dari Surabaya, sekitar delapan kilometer, menjadi pilihan orang Tionghoa untuk membuka usaha. Volume perdagangan di Krian bahkan lebih tinggi daripada kota-kota kabupaten lain di Jawa Timur.

Para pemuka Tionghoa tempo doeloe kemudian membangun rumah ibadat di pinggir sungai kecil. Bangunannya tidak sebesar di Sidoarjo karena lahan yang ada terlalu sempit. Kelenteng pun dikembangkan ke atas, vertikal.

Tidak ada perayaan khusus, selain sembahyang biasa pada tanggal 1 dan 15 kalender Tionghoa. Jarak Krian dan Surabaya yang sangat dekat, sekarang bahkan menyatu, membuat orang-orang Tionghoa memilih ke kelenteng-kelenteng besar di Surabaya. Bahkan, ke Malang, Tuban, hingga Semarang.

Liem Lie Ing, pengurus kelenteng, mengatakan, saat ini selain sembahyang rutin, juga diadakan arisan dua kali seminggu. Di aula yang cukup luas, warga Tionghoa Krian juga berlatih karaoke lagu-lagu Mandarin. "Tiap malam Minggu mesti ramai karena banyak umat yang datang kumpul-kumpul di sini," ujar Pak Liem.

Pada acara sembahyang rebutan, biasanya pengurus kelenteng mengundang grup wayang potehi dari Surabaya, Sidoarjo, atau Mojokerto.

VIHARA DHARMA BHAKTI
Pondok Jati X/8 Sidoarjo




Rumah ibadat Tionghoa terbaru yang dirintis Bapak Nugroho Dhamma Mangala (Njoo Tiong Hoo) di rumahnya, Pondok Jati. Ayah Pak Nugroho--Njoo Kiem Tjai--dulu juru kunci atau penjaga Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo, hingga tutup usia pada 78 tahun. Pak Nugroho yang terbiasa membantu sang ayah di kelenteng melanjutkan perjuangan ayahnya.

Meski memakai bendera "vihara", Pak Nugroho tetap memimpin aneka ritual trafisi Tionghoa di sini. Dia juga mendirikan grup barongsai pertama di Sidoarjo. "Saya ingin di Sidoarjo ada sebuah pusat kegiatan Buddhis. Di situ semua warga boleh melakukan kegiatan bersama entah itu kesenian atau olahraga," kata Pak Nugroho alias Tiong Hoo kepada saya.

No comments:

Post a Comment