04 January 2009

Sutoto Yakobus, bos Citraland



Sutoto Yakobus, bos Citraland, bersama istri, Lusiana. Pak Sutoto saat ini jadi ketua Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya.


Dua puluhan tahun lalu Surabaya Barat dikenal sebagai kawasan gersang dan tidak produktif di Kota Surabaya. Hampir tidak ada yang membayangkan bahwa kawasan itu bakal menjadi permukiman elit yang mentereng dan asri. Sutoto Yakobus, direktur utama Ciputra Group, ikut berjasa 'menyulap' lahan gersang itu.

Berikut petikan wawancara khusus Sunardi Sutanto dari Radar Surabaya dengan Sutoto Yakobus di markas Ciputra Group, kawasan CitraLand, Surabaya.

Bagaimana sebenarnya kiat Anda dalam mengembangkan Ciputra Group di Surabaya Barat mengingat dahulu kawasan itu tidak dilirik pengembang lain?

Kiatnya sebetulnya sederhana saja. Kalau ingin sukses, kita harus punya pemikiran dan konsep yang berbeda dengan orang lain. Dulu tidak ada orang yang membayangkan bahwa Surabaya Barat bisa berubah seperti sekarang. Tapi kami sejak awal optimistis untuk mengembangkan kawasan itu.

Maka, konsep kami memang beda. Dan itulah yang mendorong kesuksesan Ciputra Group dalam mengembangkan bisnis properti di Surabaya Barat.

Saat itu, tahun 1980-an, konsep hunian di tengah kota sedang berkembang di Surabaya. Kami tidak ikut-ikutan ke tengah kota, tapi mencoba mencari kemungkinan lain. Ke pinggiran kota, Surabaya Barat. Kami ingin menciptakan perumahan yang asri dan modern di sudut kota.

Dan konsep Ciputra memang terbukti sukses.

Itulah yang bisa kita saksikan sekarang. Awalnya, Surabaya Barat memang sepi, tidak menarik. Tapi sekarang sudah menjadi hunian termodern dan termegah di Kota Surabaya. Ini membuktikan bahwa keputusan yang terukur, yang dilaksanakan dengan keberanian, akan menuai hasil yang optimal.

Karena mengembangkan lahan di pinggir kota, kawasan yang tadinya tidak terawat, kami punya lahan yang sangat luas. Dan itu membuat CitraLand bisa dengan leluasa mengembangkan konsep hunian. Kami juga bisa melengkapinya dengan berbagai fasilitas yang bisa dinikmati penghuni maupun masyarakat umum.

Lantas, mengapa menggunakan konsep pengembangan mengadopsi Singapura?

Begini. Konsep pembangunan perumahan ala Singapura kami nilai cocok dengan situasi di Surabaya Barat. Developer di Singapura itu terkenal dengan pengembangan perumahan yang hijau, asri, teratur, modern, tapi dengan perawatan minimalis. Konsep itu justru lebih sederhana sehingga memudahkan perawatan. Dan itu cocok dengan kondisi masyarakat perkotaan.

Alasan lain: kami memilih konsep Singapura karena secara geografis relatif dekat dengan Surabaya. Terbang ke Surabaya kan hanya beberapa jam saja dari Surabaya. Orang Surabaya banyak yang berlibur, berwisata, atau berbeanja di sana, sehingga sudah familier dengan Singapura. Kita juga memiliki kesamaan kultur dan iklim. Itu memudahkan kita untuk mengadopsinya di sini.

Kabarnya Anda sangat gila kerja, bahkan tidak sempat libur.

Hehehehe.... Memang, dulu saya bekerja sangat keras. Nggak kenal yang namanya hari libur. Tanggal merah, hari-hari besar keagamaan, pun saya tetap kerja. Apalagi, ketika masih muda saya rajin mencari uang sebanyak-banyaknya. Saya punya ambisi besar untuk sukses dalam karir.

Sebelum di Surabaya, saya dipercaya marketing manager di Citra Garden Jakarta. Setahun kemudian pindah ke Mal Ciputra Semarang, lalu pada 1994 pindah ke Surabaya. Dan sampai sekarang saya di Surabaya.

Apakah karir Anda berjalan mulus-mulus saja?

Oh tidak. Orang sering salah sangka seakan-akan sukses yang diraih seseorang itu datang begitu saja. Tidak pernah ada sukses instan. Apa yang saya alami bersama Ciputra Group itu penuh tantangan dan berliku-liku. Proses pembebasan lahan di Surabaya Barat itu tidak seperti membalikkan telapak tangan.

Ada-ada saja masalah datang silih berganti, kadang menyenangkan dan bikin pusing kepala. Itulah hidup. Namun, saya punya resep bahwa bekerja dan berdoa itu harus dilakukan secara seimbang. Kalau menghadapi masalah, kita perlu menyelesaikan dengan cara yang kreatif, berani, dan terukur.

Kita harus berani mengambil keputusan, tapi harus selalu terukur. Ini memang gampang diucapkan, namun sulit dilaksanakan dalam pekerjaan di lapangan. Kenapa? Me-manage sumber daya manusia itu butuh kreativitas dan seni tesendiri. Kita berhadapan dengan makhluk hidup, bukan benda mati.

Bagaimana konsep manajemen yang Anda terapkan selama ini?

Saya menggunakan pendekatan manajemen Barat standar profesional dalam bekerja dan sistem kesejahteraan karyawan. Tapi saya juga menggunakan manajemen timur, terutama berkaitan dengan hubungan antarpersonal, pengendalian mutu, dan strategi marketing dengan model Tzun-Tse.

Sebagai pimpinan perusahaan, saya harus kreatif dalam menentukan strategi bisnis, inovatif dalam mengembangkan produk baru, serta pintar dalam menangkap peluang bisnis. Kalau saya meyakini plan ini baik, maka saya akan lakukan dengan sepenuh hati untuk meraih kesuksesan.

Dan, yang terpenting, kita harus punya banyak relasi dalam bisnis. Saya buktikan sendiri selama menangani Ciputra Group. Teman-teman selalu membantu saya ketika ada kesulitan. Oleh karena itu, kita harus supel dan mau bergaul dengan siapa saja.

Anda juga dikenal sebagai pengusaha yang religius. Di sela-sela kesibukan bisnis, Anda masih bisa aktif di paroki, bahkan baru saja dipercaya sebagai ketua Paguyuban Tulang Rusuk Keuskupan Surabaya.

Yah, seperti saya katakan tadi, bekerja dan berdoa itu harus berjalan seimbang. Kita tidak bisa hanya bekerja melulu dan melupakan Tuhan. Justru kegiatan rohani itu menjadi inspirasi dan memperkaya batin kita dalam bekerja. Saya juga menerapkan ajaran cinta kasih dalam berhubungan dengan relasi bisnis maupun karyawan.

Contohnya: kalau kamu dicurangi oleh orang, janganlah kamu membalas mencurangi orang tersebut. Pergunakanlah pendekatan kasih sayang untuk menyadarkan orang tersebut kembali ke jalan yang benar. Juga dalam berkomunikasi dengan karyawan harus ada keseimbangan antara menerapkan prinsip perusahaan dengan kasih kemanusiaan agar tercipta hubungan saling menguntungkan. Karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik. (*)

Masih Sempat Urus 'Tulang Rusuk'

ORA et labora. Berdoa dan bekerja. Prinsip ini selalu diterapkan Sutoto Yakobus (47) dalam kehidupan sehari-hari. Meski sibuk berbisnis, mengurus Ciputra Group, dia selalu meluangkan waktu untuk Tuhan.

“Tiap hari Minggu saya bersama keluarga ikut misa di Gereja Santo Yakobus, CitraLand. Setiap malam kami juga berkumpul di rumah untuk berdoa bersama,” kata suami Lusiana Setiani ini kepada Radar Surabaya.

Sutoto ternyata bukan jemaat paroki biasa. Belum lama ini dia dilantik Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono sebagai ketua Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya. Paguyuban ini menghimpun pasangan suami-istri alumni Retret Tulang Rusuk.

"Setiap tahun ada retret yang diadakan oleh Romo Yusuf Halim SVD. Intinya, bagaimana suami-istri bisa mengembangkan komunikasi dan kebesamaan di dalam keluarga. Sebab, bagaimanapun juga tantangan bagi keluarga-keluarga pada zaman sekarang tidak ringan," jelasnya.

Nah, agar retret atau pembinaan rohani itu tidak terputus begitu saja, para alumni membentuk paguyuban yang terus berkembang sampai sekarang. Jumlah anggotanya sudah ribuan orang tersebar di berbagai kabupaten/kota Jawa Timur. Selama tiga tahun masa pelayanannya, 2008-2011, Sutoto menyatakan ingin melakukan sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya bagi pembinaan iman di dalam keluarga.

"Kita juga akan berusaha membantu pengadaan fasilitas-fasilitas ibadat di gereja-gereja, khususnya di pedesaan. Sebab, kehidupan doa itu sangat penting di dalam rumah tangga," katanya.

Sutoto sendiri mengaku mendidik tiga anaknya dengan memperhatikan komunikasi serta kasih sayang. Ibarat memelihara burung merpati, kalau dipegang terlalu kencang, mati, tapi kalau dibiarkan, terbang lepas. "Jadi, mendidik-anak itu perlu dijaga keseimbangan. Sebab, anak sekarang beda dengan dulu," pungkasnya.



SUTOTO YAKOBUS

Lahir: Semarang, 24 Juli 1961
Istri: Lusiana Setiani
Anak: Nitya (17), Nadya (13), Abi (11)

Pendidikan:
SDK Bernardus Semarang
SMPK Domenico Savio
SMAK Kolose Loyola
UGM Jogjakarta
LPPM Jakarta

Organisasi
Ketua Percasi Jatim (2003-2007)
Ketua DPD REI Jatim (2005-2008)
Ketua Paguyuban Tulang Rusuk (2008-2011)


Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu, 4 Januari 2009

2 comments:

  1. Saya lama sekali mengenal Pak Totok, namun baru kali ini mengetahui pandangan dan profilnya. Sebagai seorang profesional memang beliau patut diteladani. Kesuksesan perumahan Citra Raya tidak lepas dari sentuhan tangan kreatifnya. Saya ingin sekali bertatap muka dengan beliau namun sayang sampai saat ini belum berhasil karena kesibukannya yang sangat padat.

    ReplyDelete
  2. saya penghuni citraland surabaya, harus diakui bahwa tinggal di citraland cukup nyaman. saya punya sedikit ganjalan, mungkin lewat tulisan ini pak sutoto bisa membantu menyelesaikan masalah saya. saya sudah menempati perumahan di citraland sejak 2006 dan saya membeli langsung ke citraland. tapi sampai sekarang imb dan sertifikat nya kok belum keluar ya?

    ReplyDelete