12 January 2009

PUTRI CINA novel ciamik Sindhunata




"Ya, begitulah Gurdo Paksi dan Giok Tien telah menjadi sepasang kupu-kupu. Itulah mereka, anak Cina dan Jawa, yang cintanya tak terpisah, menjadi sepasang kupu-kupu yang amat indah.

Cinta memang tak mengenal perpisahan. Kemiskinan dan kekayaan tak pernah memisahkan Sam Pek dan Eng Tay. Cinta Giok Tien dan Gurdo Paksi pun tak pernah bisa dipisahkan kendati mereka adalah Cina dan Jawa. Sampai mati pun mereka tetap berdua, terbang menjadi sepasang kupu-kupu."


Kutipan di halaman 299 ini, saya kira, menjadi kesimpulan novel PUTRI CINA yang ditulis Romo Gabriel Possenti Sindhunata SJ. Novel ini bukan hanya menarik, tapi berisi renungan filosofis dan budaya yang sangat kaya. Mirip novel sebelumnya, ANAK BAJANG MENGIRING ANGIN, yang juga luar biasa.

Sindhunata, dengan pengetahuan dan risetnya yang mendalam, berhasil membuat saya tak beranjak dari novel setebal 302 halaman ini sampai tuntas. Sangat jarang saya begitu gandrung pada novel sehingga bertekad menyelesaikannya dengan sekali baca.

Sindhunata, yang kebetulan peranakan Tionghoa, rupanya ingin menjadikan novel PUTRI CINA sebagai "curhat" kaum Tionghoa. Kaum minoritas yang sudah ratusan tahun hidup, menetap di tanah air, tapi masih juga dianggap "orang lain".

"... mengapa tanah Jawa seakan tak boleh dianggap tanah airnya? Dan orang-orang di Jawa tetap mengasingkannya?" begitu antara lain gerundelan Romo Sindhunata, pastor, wartawan, penulis, budayawan, yang lahir di Batu, Malang, 12 Mei 1952, ini.

Sindhunata mengambil nama kerajaan fiktif, Medang Kemulan Baru (kemudian berubah menjadi Medang Kemulan) untuk mengeksplorasi pergumulan Giok Tien alias Putri Cina. Begitu banyak intrik politik yang seakan-akan mengingatkan kita pada era Orde Lama, Orde Baru, hingga menjelang kejatuhan Orde Baru.

Bagaimana kaumnya Putri Cina dijadikan kambing hitam, tumbal, dalam perebutan kekuasaan. Giok Tien, pemain ketoprak paling jempolan di Malang, akhirnya menjadi incaran banyak laki-laki... Jawa. Dua komandan tentara pun ikut berebut. Dan akhirnya Giok Tien menjadi istri Gurdo Paksi.

Sebagai istri senapati kerajaan tak membuat Putri Cina aman dan damai. Dua saudara kandungnya--Giok Hong dan Giok Hwa--dibunuh oleh manusia bertopeng. Begitu pula kerumunan rakyat membakar toko-toko, rumah-rumah, milik kaumnya Giok Tien. Perkosaan massal dilakukan terhadap kaumnya Putri Cina.

Putri Cina sendiri nyaris diperkosa oleh Joyo Sumengah, saingat berat Gurdo Paksi sejak masih sama-sama bertugas di Malang. Lolos dari tangan Joyo Sumengah, Putri Cina lias Giok Tien akhirnya diperkosa dan dirusak martabatnya oleh Prabu Amurco Sabdo, orang nomor satu di Kerajaan Medang Kemulan.

Gurdo Paksi memergoki perbuatan bejat sang raja. Namun, intrik di lapisan elite kerajaan makin panas... gara-gara memperebutkan Putri Cina yang sudah jadi istri Gurdo Paksi, jenderal asal Jawa.

Amurco Sabdo pun lengser keprabon, diganti orang kepercayaannya. Namun, Joyo Sumengah diam-diam bersama anak buahnya menghabisi pasangan suami-istri Cina-Jawa yang sedang nyekar di makam Giok Hong dan Giok Hwa. Giok Tien meninggal lebih dulu terkena anak panah, disusul Gurdo Paksi.

Keduanya menjadi sepasang kupu-kupu. Sindhunata menulis:

"Tak kelihatan lagi mana yang Cina mana yang Jawa. Kupu-kupu itu bukan kupu-kupu Cina atau kupu-kupu Jawa. Kupu-kupu itu adalah kupu-kupu cinta yang mempersatukan mereka berdua: Cina dan Jawa."

Anda menyesal jika tidak membaca novel terbaru Sindhunata ini!

1 comment:

  1. untuk filmnya bisa donlod disini..

    http://offside-belajar.blogspot.com/2012/06/sampek-engtay-lovers-leung-juk.html

    ReplyDelete