24 January 2009

Ratna Indraswari Ibrahim Rilis Pecinan Malang



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Menjelang tahun baru Imlek 2560, cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim merilis novel berjudul PECINAN KOTA MALANG. Novel 156 halaman ini menguraikan kehidupan orang-orang Tionghoa di kawasan pecinan Malang seperti Jalan Pasar Besar, Kota Lama, hingga Kayutangan.

Saat saya kontak per telepon, Ratna mengatakan, dia berusaha memotret kehidupan orang-orang Tionghoa di Malang, etos kerja, hingga hubungan mereka dengan penduduk setempat. Bahkan, Ratna mengangkat keseharian kaum peranakan Tionghoa yang sudah sangat luntur ketionghoannya.

"Saya ini kebetulan dulu tinggal di pecinan Kota Malang. Dan saya banyak bergaul dengan orang-orang Tionghoa. Nah, cerita-cerita yang saya dengar itulah yang saya angkat menjadi novel," ujar perempuan 59 tahun itu.

Ratna juga mengaku melakukan riset yang cukup mendalam tentang sejarah keberadaan orang Tionghoa di Malang dan kota-kota lain di Indonesia. Termasuk kontribusi orang Tionghoa dalam penyebaran agama Islam di tanah air. Hal ini, menurut Ratna, perlu diketahui oleh penduduk Indonesia yang bukan Tionghoa.

''Beberapa pendatang Tionghoa dulu menjadi ulama yang menyebarkan agama Islam. Jadi, kedatangan mereka ke Indonesia bukan semata-mata mencari pekerjaan, tetapi juga untuk syiar agama Islam,'' tegasnya.

Ratna juga membahas panjang lebar--melalui mulut para tokohnya--tentang kebijakan rezim Orde Baru (1966-1998) yang melarang semua ekspresi budaya Tionghoa, termasuk perayaan tahun baru Imlek. Orang Tionghoa juga kerap dijadikan kambing hitam jika ada persoalan di dalam negeri.

''Di sini kita harus fair dan melihat secara jernih. Bahwa bisnis pada zaman Orde Baru itu tidak lepas dari kekuasaan yang merugikan rakyat. Saya hanya mengingatkan bahwa siapa pun dia, Tionghoa atau bukan, tidak suka dengan paktik-praktik curang,'' tukasnya.

Dimuat Radar Surabaya edisi 27 Januari 2009

1 comment:

  1. mas, nomorku sekarang 08813578829, jangan ke nomor lama ya :D

    ReplyDelete