08 January 2009

Poliglot: Bisa Banyak Bahasa


Prof Dr Josef Glinka SVD poliglot yang menguasai delapan bahasa. Hebat banget Pater!

Oleh Djoko Pitono
dph_djoko@yahoo.com)


Majalah Financial Times belum lama ini menurunkan laporan korespondennya dari Brasil berkaitan dengan Ziad Fazah, seorang tokoh terkenal di negeri itu. Fazah menuturkan kepada Ed Hammond, koresponden media Inggris tersebut, bahwa ia pernah ditangkap oleh tentara Brasil dan agen-agen CIA pada 1973, saat Brasil masih di bawah kediktatoran militer.

Di markas militer, Fazah dinterogasi. Ia ditanya, mengapa dirinya yang berasal dari Lebanon fasih bahasa Rusia dan Mandarin? Rupanya Fazah yang saat itu berusia 20 tahun dicurigai sebagai mata-mata komunis.

‘’Saudara bekerja untuk siapa?’’ begitu tanya orang-orang yang menginterogasinya. Ziad Fazah pun menjawab, ‘’Saya tidak bekerja untuk siapa pun. Saya hanya sangat suka belajar bahasa-bahasa asing.’’

Ziad Fazah memang bukan agen mana pun, melainkan ‘’hanya’’ seorang guru bahasa asing di Rio de Janeiro. Tetapi ia punya keistimewaan. Menurut Guinness Book of World Records edisi Brasil, Fazah adalah The Greatest Living Polyglot alias orang paling jago bahasa yang masih hidup di jagat ini.

Ia menguasai ‘hanya’ 56 bahasa asing, 54 bahasa di antaranya telah dikuasainya pada usia 17 tahun. Termasuk di antaranya adalah bahasa Indonesia.

Poliglot-- bahasa Inggrisnya polyglot--berasal dari gabungan kata bahasa Latin polli yang berarti ‘banyak’ dan glotta yang berarti ‘lidah’ atau bahasa. Jadi, poliglot adalah seseorang yang jago dalam berbicara atau menulis dalam banyak bahasa. Para ahli menyebutkan, mereka yang menguasai enam atau lebih bahasa disebut superpolyglot atau hyperpolyglot.

Selama ini, jago-jago bahasa paling top seperti yang dicatat The Guiness Book of World Records adalah Kardinal Guiseppe Mezzofanti (1774-1849). Buku itu menyebutkan, Mezzofanti menguasai 26 atau 27 bahasa. Bagi para penggemar bahasa, ada info menarik. Buku biografi Mezzofanti yang ditulis pada 1855, The Life of Cardinal Mezzofanti, baru saja diterbitkan kembali dan Januari ini mulai beredar di Amerika.

Kita juga mengenal Prof Rasmus Christian Rask (1787-1832), Sir John Bowring (1792-1872), dan Dr Harrold Williams dari Selandia Baru (1876-1928) yang lancar menggunakan 58 bahasa.

Masih ada sederet lainnya, di antaranya George Henri Schmidt. Pria yang lahir di Strassbourg, Prancis, 28 Desember 1914, ini adalah Kepala Seksi Penerjemahan PBB 1965-1971. Di Brasil juga ada Dr Carlos do Amaral Freire, yang menguasai lebih dari 100 bahasa. Konon Ziad Fazah berteman dan sering bertemu Dr Freire.

Kok orang asing semua? Jangan dikira Indonesia tak punya. Meski tak masuk buku Guinnes, dunia tahu Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini. Bagi Sosrokartono, sinau basa sinau bangsa.

Belajar bahasa berarti belajar bangsa, belajar memahami budaya masyarakat, hal yang sangat penting untuk peningkatan saling pengertian antarbangsa, selain kepentingan ilmu pengetahuan, bisnis, dan sebagainya.

Alumnus Fakultas Sastra Universitas Leiden itu menguasai 26 bahasa, pernah menjadi koresponden surat kabar New York Herald (kini International Herald Tribune, IHT), juru bicara Sekutu (1918), penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa (Volken Bond), dan juga pernah menjadi atase di Kedubes Prancis di Den Haag (1921).

Bung Hatta dalam memoirnya (1981) mengungkapkan dengan jelas pengalamannya ketika melancong bersama Dahlan Abdullah pada musim liburan Desember 1921 di Wina.

‘’Dia dipandang sangat cerdas, bahkan mungkin seorang jenius... Sosrokartono tidak hanya menguasai beberapa bahasa daerah di Indonesia, bahasa-bahasa modern Eropa, dan Yunani serta Latin, tetapi juga bisa bahasa-bahasa Basque.

Ia pernah bekerja sebagai interpreter dalam bahasa itu. Ia menjadi koresponden surat kabar Amerika New York Herald setelah Perang Dunia I dengan gaji 1.250 dollar per bulan. Sehingga ia bisa hidup seperti miliuner di Wina. Ia bergaul dengan kaum ningrat, banyak di antaranya sekarang miskin, dengan para anggota kabinet dan diplomat. Ia akrab dengan sejumlah wanita ningrat (baroness).’’

Selain Sosrokartono, para bapak bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Hussein Djajaningrat, Poerwadarminta, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, Purbatjaraka, dan Sutan Takdir Alisjahbana, juga layak disebut jago bahasa meski ‘hanya’ menguasai kurang dari 10 bahasa.

Indonesia juga punya Prof Dr A Gianto SJ, lulusan UI dan Harvard, yang kini menjadi pengajar di Pontifical Biblical Institute di Roma, Italia. Prof Gianto (57) menguasai 16 bahasa, termasuk bahasa kuno Akkadia, salah satu bahasa kuno yang sudah mati sejak 2600 tahun yang lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya bertemu dan melakukan kontak-kontak dengan sejumlah poliglot, sebagian di antaranya kini telah meninggal. Mereka antara lain Adji Wibowo alias Hadjiwibowo (menguasai 19 bahasa), Pater Pieniazek di Maumere, Flores (juga 16 bahasa), Dr Azari di Surabaya (13), Henriette Marianne Katoppo (12), Herpinus Simanjuntak (9).

Kemudian, Prof Dr Josef Glinka (8), Prof Dr Oei Bang Liang (8), Pikor Stanislaw (7), Dr M. Fudoli Zaini (6 bahasa), Jerome Stubert (6), Prof Dr Puruhito (6), Prof Dr Marsetio Donoseputro (5), Prof Dr Rubini Suryaatmadja (6), Prof Dr Mohammad Nuh (5) dan lain-lain.

Pater Pieniazek, menurut rekannya di Surabaya, Prof Dr Josef Glinka, memang istimewa dalam penguasaan bahasa asing. ‘’Ia orang luar biasa, menguasai 16 bahasa. Hampir semua bahasa Eropa ia kuasai,’’ kata Prof Glinka.

Belum lama ini, saya bertemu Adji Wibowo di Jakarta. Laki-laki yang kini berusia 87 tahun itu adalah sarjana ekonomi dan juga lulusan Akademi Militer Den Helder di Belanda. Pernah jadi Dirut dan Komisaris PT Unilever. Bahasa asing terakhir yang ia pelajari adalah bahasa Thailand.

Apa makna bahasa-bahasa asing bagi Anda? ‘’Bahasa-bahasa adalah mozaik kehidupan yang warna-warni,’’ kata Hadjiwibowo.

10 comments:

  1. Anda kan juga menguasai beberapa bahasa di Flores, selain bahasa Indonesia, bahasa Jawa Surabaya, dan bahasa Inggris.

    ReplyDelete
  2. menarik banget tulisan ini. makin merangsang aku utk belajar bhs asing, khususnya mandarin.

    sinta

    ReplyDelete
  3. bung, ada kiat belajar bhs laen dari bhs ibu kita???

    ReplyDelete
  4. Wah, saya bukan poliglot lah. Orang-orang kampung di Flores Timur macam saya memang "dipaksa keadaan" untuk harus menguasai lebih dari dua bahasa daerah. Sebab, kita menghadapi orang-orang dari kecamatan lain yang bahasanya beda. Di ibukota kabupaten bahasanya lain lagi. Pigi (pergi) ke Kupang, ibukota provinsi, lain lagi.

    Orang-orang kota tidak mungkin berbahasa daerah, sehingga orang-orang pedalaman harus belajar bahasa kota (Melayu, Indonesia, Inggris).

    Di Malang, waktu SMA, saya kembali "dipaksa" berbahasa Jawa karena teman-teman jarang berbahasa Indonesia kecuali dalam suasana formal. Sehingga, kita cepat bisa meskipun awalnya jadi bahan tertawaan. Mula-mula kata-kata jorok, umpatan, diajarkan sekadar pemasanan atau gojlokan.

    Di Jember, saya kembali "dipaksa" berbahasa Madura karena orang-orang kampung di kawasan Universitas Jember 97 persen berbahasa Madura. Yah, harus pontang-panting, tapi lekas sekali memahami.

    Kesimpulan: Situasi yang "memaksa" sangat bagus untuk belajar bahasa lain. Tukang-tukang pijat di pantai Kuta, Bali, juga "dipaksa" keadaan agar bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Jatu bangunnya awalnya, tapi lama-lama bisa.

    Orang Indonesia yang kerja atau studi di luar negeri juga "dipaksa" menguasai bahasa asing. Cepat bisa karena didukung oleh lingkungan masyarakat.

    Kita di Indonesia rata-rata belajar bahasa Inggris sejak SMP sampai SMA atau perguruan tinggi, tapi tidak efektif karena jarang dipakai untuk komunikasi. Lingkungan yang "memaksa" nyaris tidak ada.

    ReplyDelete
  5. Mas...ini nulis komentar kedua ya...yg sebelum ini kok gagal ya?

    "Belajar bahasa berarti belajar bangsa, belajar memahami budaya masyarakat". Setuju sekali dg kutipan di atas. Saya selalu menekankan hal itu di kelas2 saya...keduanya tidak bisa dipisahkan.

    Bahasa Mandarin saya masih 0 kecil saja nih dari dulu walau sedikit byk juga belajar cara hidup dan pandangan hidup orang2 di sini. Sepertinya harus lebih bersemangat dan pasang target ya!

    mas Hurek sekarang lagi belajar bahasa apa ya? :)

    ReplyDelete
  6. Mbah Dyah, matur suwun sudah baca dan komen di sini. Saya sih ingin banget belajar Mandarin biar bisa lancar kayak Mbah Dyah di Singapura. Juga mau nyambung lagi bahasa Belanda saya yang terputus.

    Selamat mengajar arek-arek Singapura.

    ReplyDelete
  7. wah, matur suwun pada anda yang telah membaca tulisan saya. terima kasih, danke, thank you. terutama om hurek yang telah memajang tulisan saya di blognya. sorry saya gaptek polll.

    djoko pitono

    ReplyDelete
  8. salut sama pak joko pitono yg menulis artikel ini. selama ini saya ikuti tulisan2 beliau di jawa pos, bagus banget, referensinya lengkap, luar biasa. moga2 tetap menulis meskipun sudah gak di sby pot.

    agustinus wahyudi

    ReplyDelete
  9. tulisan ini bikin aq bener2 kepengen belajar bhs asing, selain english. tq.

    ReplyDelete
  10. Terima kasih atas respons teman-teman. Juga mas Joko Pitono.

    Sekadar diketahui, Mas Joko ini mantan redaktur senior surat kabar Surabaya Post yang juga peminat bahasa-bahasa. Ia poliglot dan sangat gandrung membaca dan menulis buku.

    Dalam berbagai kesempatan Mas Joko memberi motivasi kepada wartawan-wartawan muda untuk banyak membaca, membaca, membaca.... kemudian menulis, menulis, menulis. Bagi Mas Joko, buku itu modal paling berharga dalam hidup. Bukan uang atau harta benda.

    ReplyDelete