06 January 2009

Parangtritis yang Kian Sepi




Trauma akibat gempa bumi dahsyat pada 27 Mei 2006 rupanya sudah berlalu. Warga Parangtritis, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, menjalani hidup apa adanya. Suara debur ombak pantai selatan, ombak yang gulung-menggulung, mengiringi irama hidup mereka setiap hari.

Akhir Desember 2008 saya berkesempatan jalan-jalan ke pantai selatan tersebut. Dibandingkan suasana sebelum gempa, tempat wisata ini menurun drastis. Pengunjung tetap ada, tapi tidak ramai. Padahal, saat itu ada cuti Natal dan tahun baru.

Saya hanya melihat empat bus pariwisata dari Jawa Barat. Warung-warung di bibir pantai, yang menjual kelapa muda, makanan, minuman, suvenir--sangat sepi. "Mas, tolong beli. Dari tadi belum ada yang nyewa," pinta seorang pemilik kuda kepada saya.

Kuda itu dipakai untuk mengangkut wisatawan yang pesiar menikmati pantai Parangtritis. Saya menolak halus karena memang lebih suka jalan kaki di pagi yang cerah itu. Wisatawan lain pun "dirayu", tapi juga menolak naik kuda.

"Semuanya serba lesu. Mungkin krisis ekonomi itu membuat orang-orang berhemat. Tidak mau buang uang dengan berwisata," ujar Pak Slamet, pemilik salah satu stan makanan dan penginapan di Parangtritis. Logatnya Jawa medhok.

Sekitar 500 meter berjalan kaki, tampak perkampungan baru dengan rumah-rumah seragam. Berbeda dengan rumah-rumah lama yang tumbuh apa adanya. Itulah rumah-rumah bantuan pemerintah kepada korban gempa bumi Parangtritis. Sebagian besar sudah ditempati, bahkan sudah kumuh, sebagian lagi masih kosong.

Sementara itu, ratusan rumah darurat yang pernah mewarnai Parangtritis selama bertahun-tahun tidak ada lagi. Hancur disapu gempa bumi. Dan, karena mereka hampir semuanya pendatang, tak boleh lagi membangun gubuk-gubuk di tempat yang sama. Adapun penduduk setempat dibantu pemerintah, ya, dengan rumah-rumah seragam itu tadi.

Capek jalan kaki, sambil menikmati alun gelombang laut selatan, saya mampir ke salah satu stan makanan-minuman. Seorang perempuan gemuk, 50-an tahun, melayani saya. Sri namanya. Orangnya ramah, berbahasa halus (krama inggil), sehingga sulit bagi saya yang hanya bisa bahasa ngaka jawa timuran untuk mengimbangi. Jalan terbaik, ya, berbahasa Indonesia.

"Nasi kare ayam, kopi panas," pesan saya.

Dengan sigap Mbak Sri memenuhi permintaan saya. Rasanya biasa-biasa saja, tidak istimewa. Bedanya dengan di Surabaya/Sidoarjo, di Parangtritis (juga Jogjakarta umumnya) tersedia camilan yang manis-manis. Bahaya bagi penderita sakit gula!

Saya mengajak Mbak Sri bercakap-cakap, sekadar bahan untuk tulisan ringan. Keluhannya sama saja. Pantai Parangtritis, yang sebenarnya tak kalah jauh dengan Kuta di Bali ini, makin sepi pengunjung. Turis bisa dihitung dengan jari. Turis bule boleh dikata tidak ada lagi.

"Saya nggak tahu kenapa. Yang jelas, sekarang ini cari uang susah, Mas. Dulu, sebelum gempa 2006, kami sampai kewalahan melayani pengunjung," ujar Mbak Sri yang kelebihan berat badan itu.

Seperti umumnya tempat wisata, warga Parangtritis sejak dulu "berlomba" membuat penginapan supermurah (Rp 25.000-Rp 30.000), murah, hingga lumayan mahal. Penginapan itu jadi satu dengan rumah dan depot makanan-minuman.

Gara-gara krisis turis, para pemilik penginapan cenderung agresif. Setiap ada orang lewat diminta mampir makan, syukur-syukur menginap. "Murah kok. Anda bisa istirahat di sini, lalu menikmati pantai," ujar Pak Wardoyo, pemilik salah satu penginapan di Parangtritis.

Saya pun menerima tawaran Pak Wardoyo. Satu malam Rp 50.000. Kamar besar, kamar mandi ala hotel berbintang. Pakai AC. Tidak ada televisi karena memang tidak perlu. Kebersihan kamar sangat dijaga. Buktinya, saya menunggu hampir 40 menit agar petugas cleaning service membenahi kamar dulu.

"Insyaallah, tahun 2009 mendatang kunjungan wisatawan ke sini lebih baik. Tahun 2008 ini merosot tajam sekali entah kenapa," kata Pak Wardoyo.

Malam hari, sekitar pukul 20:00 WIB, saya jalan-jalan santai di pantai. Amboi, ternyata Parangtritis itu tak ubahnya kampung kecil di Indonesia Timur. Suasana sepi. Penerangan ala kadarnya. Bibir pantai benar-benar gelap. Tak ada orang yang menikmati suasana malam selain penduduk setempat, mungkin nelayan. Itu pun tak sampai lima orang.

Pantai Parangtritis memang bukan untuk wisata malam. Depot makanan di pinggir pantai hanya sebagian buka. Lainnya tutup. Dan itu membuat jalanan terlihat gelap dan (agak) mencekam. Jangan-jangan ada ular atau binatang berhaya lewat!

Saya pun tidak berani berjalan terlalu jauh karena jalan menuju perumahan baru sangat gelap. Sesekali ada warga yang melintas, tapi bukan wisatawan. "Ya, begini ini Parangtritis. Orang lihat pantai itu kalau siang hari. Malam-malam mau lihat apa?" ujar Mbak Sri, pemilik warung dan penginapan.

Setengah jam kemudian, sepasang remaja 20-an tahun berjalan berdua ke tempat gelap di pasir putih. Entah apa yang dilakukan di sana. Ihiiik, ihiik, ihiiik!

3 comments:

  1. moga2 tahun ini parangtritis bangkit lagi.

    ReplyDelete
  2. Wah iya ya, orang orang masih traume.

    Nah seharusnya ada ide dari pemerintah untuk membangun bell/sirene peringatan tsunami, jadi setidaknya orang yang main ke pinggir pantai tidak terlalu was-was.

    Bagaimana ?

    ReplyDelete
  3. INFORMASI yang di sampaikan sangat BAGUS dan MENARIK bagi PEMBACANYA. semoga tambah SUKSES dan JAYA selalu.

    087-860-534-593 (XL)

    027-4743-4961 (Flexi)

    http://homestayyogyakarta.com/

    ReplyDelete