01 February 2009

Orang Lembata Naik Haji



Haji Anwar Tadong (kanan).


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Baru-baru ini saya mendapat "tugas khusus"--melalui SMS dari pelosok Flores Timur--untuk menjemput para haji asal Lembata. Para tamu Allah ini tidak bisa langsung kembali ke kampung halaman karena kendala transportasi. Mereka harus tinggal beberapa malam di Wisma Haji Jalan Kranggan, Surabaya.

"Tolong Anda dampingi haji-haji asal Ile Ape. Soalnya, mereka belum pernah ke kota. Mereka akan bingung kalau tidak ada teman bicara. Apalagi, tahun ini ada Haji Tadong, masih keluarga dekat kita. Mamanya suku Hurek seperti kita," begitu pesan pendek dari Kristofora, adik kandung saya.

Namanya juga "perintah", tengah malam, sekitar pukul 20:00, saya mampir ke Wisma Haji Kranggan. Begitu masuk kompleks ini suasana Flores Timur sudah terasa. Orang-orang--hampir semuanya berbusana haji, baik laki-laki maupun perempuan--berbicara dalam bahasa daerah yang sangat saya kenal. Bahasa Lamaholot.

Suara haji-haji asal Lamahala, Kecamatan Adonara Timur, paling keras. Sangat khas. Lamahala itu kampung di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, yang penduduknya 100 persen Islam. Mereka bekeja sebagai pedagang, nelayan, dan pelaut. Jarang yang jadi petani.

"Kakak, haji-haji Lembata lewun teika teku nai? [Kak, haji-haji asal Lembata di mana?]," tanya saya kepada seorang hajah asal Lamahala.

"Ari, lali papa. Mo mala tepe... [Ari, di sana. Kamu jalan lewat sana...]," balasnya ramah sekali.

Benar saja. Saya pun langsung menjumpai haji-haji asal Lembata, kabupaten baru hasil pemekaran Flores Timur. Saya memeluk Haji Muhammad Tadong, haji asal kampung saya, sambil memperkenalkan diri. Rupanya, Pak Tadong ini kurang mengenal saya. "Mo, amam heku? [Bapakmu siapa?]," tanyanya.

Setelah saya bercerita singkat, menyebut identitas saya, orang tua saya, Pak Haji Anwar Tadong pun memeluk saya erat-erat. Haji-haji lain pun saya sambut hangat. Dan malam itu kami ngobrol santai dalam bahasa daerah. Pak Tadong, yang suka bicara, menceritakan pengalaman berhaji di tanah suci. Bagaimana dia harus menabung selama puluhan tahun sampai akhirnya bisa naik haji.

"Rukun Islam kelima ini berat sekali. Tapi, setelah menjalani, rasanya puas sekali. Alhamdulillah! Alhamdulillah! Alhamdulillah!" ujarnya berkali-kali.

Pak Tadong kemudian meminta teman-teman, yang muslim tentu saja, untuk mulai menabung agar suatu saat nanti bisa naik haji. "Kuncinya di NIAT. Kalau kalian punya niat, tawakal, insyaallah, bisa berhaji. Mulai sekarang kalian harus tanamkan niat itu," pesan Pak Tadong.

Wah, luar biasa orang kampung yang satu ini! Baru beberapa jam tiba di Bandara Juanda, setelah menunaikan ibadah haji, kata-katanya bijaksana amat. Kayak kiai-kiai senior di Jawa Timur. Tapi dia berkhotbah dalam bahasa Lamaholot dialek Ile Ape.

Pak Haji Tadong juga cerita bagaimana dia menangis tersedu-sedu gara-gara tersesat di Tanah Suci. "Mekkah pe atadiken aya-aya, ribun ratun... Ekan lae-lae, mela-mela.... Nepe ti tite sembeang di sare-sare...."

Mau tahu berapa jumlah haji asal kabupaten tempat asal saya?

Bukan ribuan seperti di Surabaya atau Sidoarjo. Bukan satu kelompok terbang (kloter), 450 jemaah, seperti haji bimbingan KBIH Mabruro di Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Tapi ENAM orang! Satu kabupaten hanya menghasilkan ENAM haji pada tahun 2008.

Enam haji asal Lembata itu: 3 dari Ile Ape (kampung saya), 1 dari Kedang, 2 dari Lewoleba. Yang Lewoleba ini aslinya dari Lamahala, cuma sudah lama menetap di Lembata. Ini merupakan rekor tersendiri karena selama bertahun-tahun belum pernah ada orang muslim Ile Ape yang naik haji.

Islam di Lembata memang minoritas sehingga wajar saja bahwa jumlah hajinya tidak sampai 10 orang. Sebab, pemerintah membuat kebijakan kuota per penduduk muslim.

Selain itu, "Sistem haji online ternyata membawa banyak masalah. Dan kita di Nusa Tenggara Timur jadi korban," kata Pak Sjamsir Alam, pendamping jemaah haji Kabupaten Lembata, kepada saya. Tahun 2008 jemaah haji asal provinsi NTT 439 orang.

Gara-gara sistem yang kacau itu, jumlah haji Lembata menurun sangat tajam. Tahun 2007 tercatat 34 orang. Sekarang ini sudah ada 43 orang di daftar tunggu.

"Mudah-mudahan jatah dari Lembata tahun 2009 lebih banyak lagi. Bagaimanapun juga umat Islam di daerah kita punya hak yang sama untuk berhaji," ujar Pak Sjamsir yang berasal dari Sulawesi Selatan itu.

Pertemuan dengan enam haji Lembata di Wisma Haji Jalan Kranggan sangat berkesan. Banyak hal menarik, cerita-cerita kecil, yang bisa menggugah kenangan saya tentang kampung halaman. Mereka pun bertekad menjadi haji mabrur, haji yang bermasalahat bagi orang banyak.

Esoknya, rombongan haji menumpang pesawat Batavia Air tujuan Kupang. Dari Kupang naik kapal laut ke Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata. "Sesuai rencana, kami akan diterima secara resmi oleh Bapak Bupati Andreas Duli Manuk," kata Pak Sjamsir, ayahanda dr. Rahmi Sjam, dokter puskesmas di Lewoleba.

Dua hari kemudian saya mendapat SMS dari kampung. Isinya: rombongan haji disambut dengan tarian tradisional, diarak keliling kampung. Seluruh rakyat, yang nota bene sebagian besar beragama Katolik, menggelar pesta meriah.

"Kame pia poro sapi tou... hode Haji Tadong. Soka sikan pia lewotanah," begitu bunyi SMS adik saya, Kristofora.

Bahasa Indonesianya:

"Kami di sini menyembelih satu ekor sapi, menyambut Haji Tadong. Ada tari-tarian tradisional."

6 comments:

  1. Sesuatu yang benar2 bikin kami terharu atas perjuangan dan toleransi yang begitu apik dalam kehidupan masyarakat Lembata, semoga menjadi contoh bagi seluruh masyarakat Indonesia, krn perjuangan itu akan berhasil karena doa kita bersama.

    ReplyDelete
  2. aku juga org flores timur. menarik membaca cerita ini. salam dompet, ake lupang lewotanah.

    wens

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Sallma dan bapaknya, Mas Mulyawan, di Jakarta. Teman lama satu kos-kosan di Wisma Munawir, kampus Tegalboto, Jember.

    Saya ucapkan selamat kepada Mas Mulyawan yang baru saja naik haji: Haji Mulyawan! Juga sukses sebagai pengusaha depot di Jakarta. Saya tidak begitu kaget karena sejak di Jember Mas Mul pinter sekali masak, oseng-oseng, dan segala macam. Saya juga belajar ngetim dan buat oseng-oseng dari Sampeyan. Hehehe...

    Gak nyangka, setelah 10 tahun lebih kita bisa ketemu lewat internet. Salam juga buat teman-teman yang lucu-lucu... juga Mbing (Bambang Wijanarko) yang ngajari saya memahami musik jazz. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya dan kasih komentar.

    Bernie, konco lawas
    Dekat Bandara Juanda
    Kota Lumpur, Sidoarjo

    ReplyDelete
  4. Ama Lambert,
    Saya sangat bangga dengan tulisan ama.Kita berbaahiah karna akhirnya ada haji asal Ile Ape. Ama ada cerita yang menarik dari Rm Anton Prakum, asal Lebala (yang kampng sebelanya mayoritas Ilsma dan yang sebelahnya Mayoritas Katolik - tapoi tak ada pernah kekacaun) waktu diterima di kampung setelah pentahbisannya jadi Imam Katholik, dia disambut pertama di Mesjid...menurut tua-tua adat..dia berketuruna dari daerah yang beragama Islam.. Jadi ada rama tamah khusus di Mesjid sebelum beranjak ke Gereja. Yang sangat terharu lagu pesta pentahbisan itu tidak hanya bagi orang Katholik tapi semua orang malah yang mengurus bagia belakan(seksi Masak adalah yang beragama Islam) supaya daging-daging jangan tercampur-campur...
    Membaca tulisan ama, saya mengingat cerita ini...mungkin kita perlu angkat semua cerita bagus seperti ini agar memperkuat hidup hormat antar agama.ok reu

    frans kupang ujan - Manila Philippines

    ReplyDelete
  5. Ama Frans,

    Begitulah sedikit cerita kecil dari Surabaya. Bagaimana orang-orang kampung yang polos, lugu, sederhana, itu akhirnya bisa naik haji. Dan mereka bahagia.

    Salam damai.

    ReplyDelete
  6. salam bang

    saya haris, penggemar setia blog abang walau baru aja ketemu bulan juli 2010, satu malam sudah habisa ya baca semuanya

    benar2 suara nusantara
    mudah2an bisa diterbitkan dalam sebuah buku kelak ya bang kayak buku kakak linda yang di aceh itu

    boleh tahu alamat fb nya bang


    wassalam

    ReplyDelete