13 January 2009

Mengapa Pemilu Tidak Menarik?



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com

Siapa pun yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) niscaya sangat sulit mengurus pemilihan umum (pemilu) kali ini. Persoalannya bukan sosialisasi, mekanisme pengadaan logistik, mencoblos atau mencontreng dan tetek-bengek urusan teknis.


Lantas apa?

Jawabannya jelas: terlalu banyak politisi kita yang BEJAT! Tidak punya komitmen untuk menciptakan demokrasi, apalagi memperhatikan rakyat. KEBEJATAN itu bisa dilihat dari banyaknya partai yang ikut pemilu 2009. Tiga puluh delapan partai!

Sejak dulu saya bermimpi jumlah partai di Indonesia cukup LIMA, paling banyak SEMBILAN. Harus di bawah dua digit.

Tanpa penyederhanaan partai--dengan cara demokratis, bukan cara Orde Baru, tentu saja--maka pemilu menjadi sangat tidak menarik. Di mana-mana rakyat malas dan apatis.

Saya sama sekali tidak tertarik datang mencoblos atau mencontreng di bilik suara kalau partainya 38 macam sekarang! Andai saja partainya hanya LIMA atau TUJUH, saya akan sangat antusias mendukung pemilihan anggota legislatif.

KEBEJATAN politisi Senayan memang sudah keterlaluan. Bayangkan, undang-undang yang dengan tegas memberikan kriteria kepada partai yang boleh ikut pemilu dibatalkan. Ini untuk memenuhi nafsu politik dan kuasa politisi-politisi itu.

Jika kebejatan-kebejatan ini masih tetap dipertahankan, ya, sampai kapan pun jumlah partai di Indonesia akan tetap buanyaaak gak karuan. Bukan tidak mungkin, pemilu lima tahun mendatang jumlah partai mencapai 236.

Kalaupun undang-undang lama masih dipakai, politisi-politisi itu tidak kurang akal. Mereka akan mengubah nama partai lama yang tidak lolos electoral threshold. Namanya cukup dipelesetkan saja agar mirip partai lama. Orang-orangnya, kantor, jaringan... ya tetap sama.

Tadi malam, saya melihat diskusi di TVRI tentang persoalan pemilu legislatif ini. Pakar-pakar, politisi, pengamat, semua menyalahkan KPU. Seakan-akan orang-orang KPU di pusat itu goblok-goblok, tidak paham jadwal waktu, kurang sosialisasi, dan sebagainya. Tidak ada satu pun yang menyinggung akar keruwetan politik kita: kebejatan politisi mengembangbiakkan partai menjadi 38.

Katakanlah satu partai punya 10 calon anggota legislatif (caleg), akan ada 380 nama caleg dan foto yang dipajang di surat suara. Bisa dibayangkan betapa besar dan ruwetnya surat suara. Ini baru DPR RI. Belum DPR provinsi, DPR kabupaten/kota, Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Tahun lalu saya begitu antusias menyaksikan siaran pemilu di Amerika Serikat. Bukan saja Barack Obama memang memukau, pernah tinggal dan sekolah di Jakarta, tapi juga karena prosesnya sangat sederhana. Hanya ada DUA partai yang berlaga. Mana partai pemerintah dan mana oposisi sangat jelas dan tegas. Politisi-politisi USA juga punya moral yang baik, tidak bejat kayak di sini.

Ah, Indonesia, negara paling ruwet dan malang!

10 comments:

  1. Sebenarnya di USA tidak hanya ada 2 partai. Ada partai-partai lainnya juga yang ikut berlaga di surat suara (ballot), misalnya partai Libertarian yang berasaskan kebebasan individu dan kebijakan fiskal yang seimbang. Ada juga calon-calon yang tidak berpartai, misalnya Joseph Lieberman, senator yang dulunya calon wapres dari Partai Demokrat tapi kemudian meninggalkan partainya karena perbedaan pendapat. Cuma, dalam penyelenggaraan debat atau forum bersama lainnya, panitia dapat menentukan policy untuk tidak mengundang partai2 yang terlalu kecil, untuk menghindari debat kusir. Media (koran dan televisi) pun dalam peliputannya memilih berita2 yang terkait dengan kandidat dari partai besar. Kan mereka juga harus mengejar oplag dan waktu siaran.

    Juga, moral politisi di USA tidak kalah bejatnya dengan di Indonesia. Gubernur New York yang bekas Jaksa Tinggi New York Elliot Spitzer ternyata membayar pelacur kelas tinggi, padahal dia menampilkan diri sebagai orang yang bermoral tinggi. Gubernur Illinois tertangkap basah sedang mau menjual kursi senat yang ditinggalkan Pak Obama untuk menjadi presiden, menahan dana yang sedianya untuk rumah sakit anak2 jika direksi rumah sakit tidak menyumbang dana kampanye, dan menekan manajemen koran Chicago Tribune untuk memecat wartawan dan redaktur yang menulis artikel2 kritis tentang pemerintahnya.

    Mungkin bedanya ialah, di sini kontrol publik dan proses hukum dapat berjalan sebagaimanapun pelannya, dan rakyat di sini sangat awas akan hak pengawasan tersebut.

    ReplyDelete
  2. Jangan pesimis lah,
    Kata Para politisi Indonesia, memang sudah waktunya Politisi-politisi USA belajar dari kita yang sudah merasa matang penerapan demokrasinya.

    ReplyDelete
  3. Makanya jangan percaya politisi dimana saja sama janji2 gombal bohong terus........... sekolah gratis, rumah sakit gratis, toilet gratis etc ...... muak dah

    ReplyDelete
  4. Demokrasi Indonesia ngaco!!! Udah bagus2 cuma 2 partai + 1 GOLKAR kok malah ngeyel bikin puluhan partai...

    Justru keinginan sekumpulan orang yang mengatakan sebagai "PAHLAWAN REFORMASI" lah yang mengembalikan Republik ini kembali ke demokrasi jaman Flinstone (baca: jaman batu)

    Saya lebih setuju dengan konsep 3 PARTAI yang terdiri dari 1 Partai Agamis, 1 Partai Nasionalis, 1 Partai Reformis/Pembaharuan/Kekaryaan.

    ReplyDelete
  5. @^ USA belajar dari Indo, mimpi kali ye... macam belajar ke kucing

    ReplyDelete
  6. Walaa...dr dulu sampe sekarang..sampe dunia kiamat pun Indonesia tidak akan pernah MAJU!!
    Prnah kan dgr kalo mau jadi karyawan,jadilah karyawan di luar negeri, tapi untuk menjadi seorang entrepreneur haruslah di Indonesia!!
    Karena apa?? Sistem di Indonesia cuma keliatannya aja kokoh bak tembok,tp dgn sedikit sentuhan amplop(uang panas) tembok pun bagaikan selembar kain.
    Makanya banyak pengusaha2 asing yang sangat senang berbisnis di Indonesia,wong hukumnya bisa dibeli,tinggal mslah targer pasar aja.

    Coba kita renungkan sejenak,kenapa bisa begini??
    Semua kalangan atas pasti sudah paham dan mengerti betul. Hanya pura-pura tidak tahu aja,asalkan bisa menumpuk kekayaan ya sah-sah saja.

    -Kim-

    ReplyDelete
  7. tambahan:
    bayangkan... kalo satu Partai dapat bantuan dana dari pemerintah masing2 satu M, berapa duit tuh uang dibuang-buang hanya untuk ngurusin Partai

    ReplyDelete
  8. Beda negara beda sistem.
    Kalau rakyat Indonesia memang sukanya seperti itu...

    Ya...
    mau diapa.

    Biarlah rakyat "menderita" yang penting para elit "bahagia".

    ReplyDelete
  9. Bung Wens alias cinajawaamrik di USA, terima kasih atas komentar dan pencerahannya. Saya ingin tekankan bahwa di USA partai utama tetap DUA dan pemilihan menjadi simpel, cepat, efektif. Sistem presidensial juga jalan.

    Multipartai ekstrem yang berlaku di RI sekarang memang payah. Sangat memprihatinkan. Sementara masukan dari perguruan tinggi, pakar2, media massa, LSM, untuk memperbaiki sistem ibarat angin lalu. Politisi kita jalan dengan iramanya sendiri.

    Terima kasih yang besar juga saya sampaikan kepada kawan-kawan komentator lain.

    Saya memang gregetan saat bikin catatan ringan ini. Soalnya, hampir tiap hari saya ketemu caleg2 di Surabaya dan Sidoarjo yang visi politiknya tak jelas. Jadi caleg itu kayak BERJUDI: siapa tahu nasib baik, bisa mengubah kesejahteraan, punya uang banyak, rumah, mobil, dan sebagainya. Sangat pragmatis. Ideologi dan idealisme politik, berbuat baik demi kemaslahatan publik.

    Merdeka!!!!

    ReplyDelete
  10. yang lelas aku lagi ngumpulin pemuda2 yang nggak banyak omong untuk membuat BARISAN PEMUDA REVOLUSI:::::(BPR)ada yang mau daftar? silahkan mendaftar di sekertariat panitia persiapan hari kiamat...!!!!fucking shit politik...bullshit ....silet mencret...jancookkkk....politik jancookkk.....presidene dancookkk...pejabate jancookkk....REVOLUSIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

    ReplyDelete