15 January 2009

Mengapa Pemilu pada Kamis Putih?



Perarakan Semana Santa di Larantuka, Flores Timur. FOTO: Majalah HIDUP.

Oleh Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com



Selain tidak menarik karena terlalu banyak kontestan (38 partai), banyak politisi bejat (busuk), jadwal pemilu 2009 ini tidak mempertimbangkan kepentingan umat Kristen, khususnya Katolik. Khususnya lagi di Nusa Tenggara Timur, khususnya lagi di Pulau Flores.

Mengapa? Pemilu dijadwalkan berlangsung 9 April 2009, hari Kamis. Dalam kalender liturgi Katolik sedunia, Kamis itu sangat penting. KAMIS PUTIH namanya. Hari ini umat wajib mengikuti misa untuk mengenang perjamuan terakhir (the last supper) Yesus Kristus sebelum menjalani jalan salib hingga kematian.

KAMIS PUTIH disusul JUMAT AGUNG, esok harinya, diakhiri dengan SABTU SUCI (orang Larantuka, ibukota Flores Timur bilang SABTU SANTO) atau MALAM PASKAH. Tiga hari suci alias TRIDUUM ini, di Flores, diakhiri dengan perayaan ekaristi Paskah yang sangat meriah. Lagu-lagu paduan suara gerejawi terbaik di Flores selalu lahir dari perayaan PEKAN SUCI sejak tahun 1950-an.

KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU SUCI merupakan hari raya keagamaan terbesar di Gereja Katolik, khususnya di Nusatenggara Timur (NTT). Bukan NATAL yang hanya ekaristi biasa, tanpa perayaan fisi yang meriah.

Orang Larantuka, ibukota Flores Timur, bahkan sejak zaman Portugis, abad ke-16, punya tradisi SEMANA SANTA yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Di Larantuka, PEKAN SUCI Paskah ini bahkan sudah dimulai sejak hari Rabu. Namanya RABU TREWA. Mulai hari itu tak ada keramaian atau pesta pora. Semua orang, Katolik tentu, diminta banyak berdoa, merenungkan misteri penebusan Kristus di atas kayu salib. Umat juga mempersiapkan upacara perarakan massal, diikuti ribuan orang, atau juga disebut PERSISAAN.

Karena pekan suci Paskah sangat penting di Flores, NTT umumnya, maka sejak dulu masyarakat NTT mengenal libur Paskah. Biasanya dimulai hari Rabu, bahkan Senin. Semua kantor pemerintah dan swasta memang diliburkan. Jadi, provinsi NTT yang penduduknya sekitar lima juta itu punya tradisi liburan sendiri. Juga ada tradisi libur Natal Kedua untuk memperingati martir Santo Stefanus.

Mengapa libur Paskah selama 7-10 hari ini sangat penting di Flores Timur, kampung halaman saya?

Sebab, sejak agama Katolik masuk ke Flores pada abad ke-16 oleh misionaris Portugis, kemudian dituntaskan misionaris Belanda (kongregasi SVD) pada abad ke-19, penduduk punya tradisi mengikuti perayaan ekaristi PEKAN SUCI di kampung lain.

Setiap tahun pastor paroki dan dewan paroki menetapkan sebuah kampung, yang punya gereja besar plus lapangan bola, sebagai tuan rumah PEKAN SUCI. Tuan rumah digilir setiap tahun. Contoh: di Kecamatan Ile Ape yang punya 15 desa menetapkan PEKAN SUCI dipusatkan di Gereja Lewotolok. Desa Lewotolok dan dua desa terdekat, Bungamuda dan Waowala, menjadi penerima tamu alias tuan rumah.

Nah, pada Kamis pagi seluruh penduduk dari 15 desa [sekarang jumlah desa kemungkinan bertambah] ramai-ramai berjalan kaki ke Lewotolok. Mereka akan tinggal selama tiga hari di Lewotolok. Ditampung di rumah-rumah penduduk, makan, mandi.. semuanya ditanggung tuan rumah. Juga membawa bekal sedikit berupa ikan kering, jagung titi, beras, dan sebagainya.

Lantas, mengapa pemilu atau pencoblosan tahun ini dilaksanakan pada KAMIS PUTIH?

Ketika ribuan orang NTT sedang ramai-ramai ke desa lain atau mengurus PEKAN SUCI? Ketika ribuan orang Katolik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan luar negeri, rame-rame datang ke Larantuka untuk ziarah SEMANA SANTA pada Jumat Agung?

Yah, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Pemilu 9 April 2009 niscaya tak akan bisa diubah lagi. Mau tak mau, suka tak suka, harus dilaksanakan. Bagaimana dengan umat Kristen yang sedang konsentrasi dengan PEKAN SUCI?

"Gak ngurus! Siapa suruh jadi minoritas??? Orang minoritas, ya, harus selalu kalah dan ngalah. Mayoritas kok dilawan? Kalau divoting, ya, si minoritas pasti kalah," kata teman saya, Fransiskus, aktivis gereja asal Flores Barat.

Saya yakin Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun pemerintah tidak punya niat untuk merusak suasana PEKAN SUCI hanya karena orang Kristen itu wong cilik, minoritas ecek-ecek. Mungkin KPU kesulitan mencari jadwal yang pas mengingat sejak dulu pemilu selalu digelar pada pekan pertama bulan April. Dan... paling mungkin KPU tidak tahu bahwa 9 April 2009 itu KAMIS PUTIH.

Ini juga menunjukkan bahwa sebagian orang Indonesia memang masih asing dengan tradisi-tradisi kristiani. Termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu profesor doktor yang duduk di KPU pusat.

BACA JUGA
Semana Santa, Pekan Suci di Larantuka, Flores Timur.

13 comments:

  1. Mungkin kebanyakan lihat tanggal mudah di kalender kale.... (soalnya masih mahasiswa nich)

    Memang sebelumnya pada tahun lalu sempat diributkan tentang hari H yang jatuh di hari minggu sehingga diundurkan ke hari Kamis. Namun ketika surfing di internet baru saya tahu kalau tanggal 9 April itu Kamis putih.... yang merupakan hari detik2 menjelang penangkapan Yesus untuk disalibkan.

    Makasih untuk beritanya...

    ReplyDelete
  2. Iya Bung Erick...
    Jadwal 9 April 2009 itu sebetulnya hasil revisi setelah jadwal lama diprotes sebagian umat Kristen karena bersamaan dengan hari Minggu. Ternyata, opsi baru, 9 April, jatuh pada Kamis Putih, yang juga hari besar gerejawi.

    Saya kira, politisi Kristen dan pengurus KWI/PGI kurang tanggap. Seharusnya sejak awal kasih masukan ke KPU. Yah, mudah-mudahan kasus ini menjadi bahan pelajaran bersama. Ambil hikmahnya saja.

    ReplyDelete
  3. hehehe...itu artinya kita boleh abstain! lagian siapa sih kandidat yang layak dipilih? lihat poster2 caleg yang merusak pohon2, nempel di sembarang tempat saja sudah sebal duluan. Jangan salahkan beta kalau tidak memilih :)

    ReplyDelete
  4. Hehehe...

    Saya sudah bisa tebak pilihan Mbak Elyani: memilih untuk tidak memilih. Dan itu sah2 saja. Yah, politisi2 kita memang gak mutu, makin gak tau diri, negap, tapi omong kosong semua.

    Tapi mau gimana lagi? Itulah Indonesia. Sudah gitu jadwal coblosan pas Pekan Suci, hari yang lebih raya ketimbang hari Minggu.

    Susahlah kita orang kampung di Flores sana. GBU.

    ReplyDelete
  5. KPU Akan Bahas Usulan Pergeseran Waktu Pemilu. Katanya lagi dicari jalan terbaik. mari kita sama-sama bredoa semoga para wakil rakyat kita bisa cepat mendapatkan jalan terbaik itu..!!

    ReplyDelete
  6. memang sebaiknya tgl itu diundur sedikit aja. tapi aq heran, kok bisa kecolongan gitu ya????

    ReplyDelete
  7. kunjungi blog saya bro
    www.indotvcable.blogspot.com
    saya juga dari Ile ape menetap di Batam

    ReplyDelete
  8. saya dari Ilepae dan sekarang menetap di Batam
    mungkin kita bisa sharing informasi dari lewo tanah
    blog saya: www.indotvcable.blogspot.com

    ReplyDelete
  9. Itulah kita, minoritas jadinya seperti ini. Tapi dari berita yang terakir saya baca (kompas), beberapa tokoh agama akan berangkat ke Jakarta untuk pembicaraan lebih lanjut dengan KPU Pusat.
    Moga adfa jalan keluarnya.
    So buat K'Bernie, makasih untuk blogmu. Aku tertarik banget, karena bisa tau info Nagi.maklum sekarang lagi jauh dari Indonesia n terlebih lagi jauh dari Nagi.
    Sukses bro....

    ReplyDelete
  10. Andrea: salam jumpa, mo aku lewun? Mo kerja te Batam lelaten kae? Salam untuk kaka ari teti Batam.

    No Carvallo dari Nagi:
    Terima kasih no so singgah di kita pung blog. Memang orang2 KPU Pusat dan politisi2 di Jawa te tau kalo di kita pun tempat ada semana santa, persisaan, rabu trewa, kamis putih, jumat agung, sabtu santo, dan sebagainya.

    KPU NTT, pemda di Flores, pemda NTT, so kasih tau, tapi rupanya dorang te bisa mengerti. te apa2lah, yang penting kitorang iko semana santa seperti biasa.... Salam.

    ReplyDelete
  11. Pada dasarnya kaum minoritas spt kita memang selalu dirugikan. Pihak-pihak yang terkait cman bisa ngomong klo ada toleransi dan kesetaraan antar umat beragama. Tp apa kenyataannya untuk membangun satu paroki z susah banget untuk dpt izin tp mereka suka-suka dengan atau tanpa izin bisa membangun. Faccia

    ReplyDelete
  12. Saya bukan orang Timor,
    tetapi saya Kristen,
    saya calon pendeta,
    bingung saya menjawab itu..
    tetapi lebih baik tidak memilih,,,
    orang2 di KPU cuman nyari duit ga ada hubungan apalagi mikir soal2 hari besar, toleransi segal mereka ga mengerti walo Doktor ditempel2...

    ReplyDelete