26 January 2009

Kompetisi Paduan Suara Keuskupan Surabaya



Uskup Surabaya Mgr. Sutikno Wisaksono bersama sang juara umum dari Paroki Ngagel Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Minggu 25 Januari 2009.

Saya menyaksikan 24 paduan suara [selanjutnya saya sebut saja KOR, lebih singkat dan umum, bukan CHOIR yang bahasa Inggris yang kini lebih sering dipakai teman-teman yang sok English itu] tampil di Aula Universitas Katolik Widya Mandala, Jalan Dinoyo Surabaya. Ini kompetisi kor antarparoki se-Keuskupan Surabaya.

Keuskupan Surabaya punya 41 paroki. Maka, seharusnya ada 41 kor yang tampil. Lha, ke mana 17 paroki yang lain? "Saya juga tidak tahu. Mungkin tidak siap atau entah apa lah," kata Yulius Kristanto, ketua panitia.

Si Yulius ini bekas pentolan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Airlangga yang sangat getol mengembangkan paduan suara di gereja dan sekolah-sekolah. Sekarang Yulius dipercaya sebagai ketua komisi musik liturgi Keuskupan Surabaya.

Paroki-paroki yang absen, ironisnya, termasuk paroki-paroki besar di Surabaya dan Sidoarjo. Sebut saja Sakramen Mahakudus (Pagesangan), Redemptor Mundi (Dukuh Kupang Barat), Santo Paulus (Raya Juanda Sidoarjo), atau Marinus Yohanes (Kenjeran). Ironis karena paroki-paroki yang jauh dari Surabaya macam Rembang (Jawa Tengah), Tuban, Pare (Kediri) ikut serta.

Menyaksikan kompetisi kor gerejawi antarparoki ini tentu berbeda dengan konser paduan suara yang punya nama besar. Di sini ada muatan iman--bahwa menyanyi itu sama dengan berdoa dan memuji Tuhan--serta proses belajar. Anggota kor gereja umumnya orang biasa yang bukan ahli musik atau siswa kursus vokal.

Mereka kadang-kadang 'terpaksa' ikut kor karena memang tidak ada orang lagi. Sangat banyak kor yang baru terbentuk hanya beberapa minggu sebelum lomba. Setelah lomba, dan kalah, terus bubar? Hehehe.... Begitulah memang lika-liku kor gereja, khususnya Katolik, yang pakai prinsip: "asmuni", asal bunyi, pokoke iso berpartisipasi. Kalah menang nomer telu likur!

Yulius dan teman-teman panitia punya misi regenerasi dalam pesta paduan suara Katolik ini. Peserta harus di bawah 50 tahun. Itu pun dengan ketentuan 50:50 untuk usia 16-25 dan 26-50. Saya sangat setuju. Sebab, di lingkungan gereja terlalu banyak paduan suara yang didominasi manula, manusia usia lanjut.

Anak-anak muda seperti tidak direken, dianggap pupuk bawang dalam gereja. "Kita punya tujuan jangka panjang. Semakin banyak adik-adik yang berusia di bawah 25 tahun dilibatkan, mereka punya kesempatan lebih banyak untuk aktif di gereja," tegas Yulius.

Di Surabaya ini ada paduan suara terkenal, bukan Katolik, yang penyanyi sebagian besar di atas 50 tahun. Memang semangat sih masih ada, waktu luang banyak, tapi suara sudah tidak karuan. Manula-manula--ya, kita semua pun akan jadi manula kalau dikasih umur oleh Gusti Allah--pun tidak sedap dipandang.

Maka, saya sendiri lebih antusias menyaksikan konser paduan suara yang penyanyinya berusia di bawah 40 tahun. Contoh: paduan suara mahasiswa. Kalau paduan suara SMA rata-rata suara mereka masih belum matang.

Bagaimana penampilan 24 peserta lomba kor Keuskupan Surabaya ini?

Lumayanlah. Dibandingkan dengan kor-kor misa rutin tentu mereka jauh lebih siap. Mereka berusaha keras membawakan lagu liturgi klasik secara a capella. Komposisi polifonik ini tidak gampang sehingga jarang dicoba kor-kor gereja sekalipun. Latihan makan waktu lama, perlu penyanyi yang rada mutu, pelatih, dan banyak lagi faktor kesulitan.

Di sinilah, seperti biasa, kita dengan mudah melihat perbedaan mencolok antara kor-kor yang cukup terlatih dan kor-kor dadakan. Juga beda banget kor-kor dari Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) dengan kor-kor luar kota. Paduan suara dari "paroki desa" tampil pokoke muni, yang penting partisipasi, dan sangat kedodoran.

Saya kira ini bukan pemandangan yang bagus. Sistem sama rata ini mirip ujian nasional yang menyamakan begitu saja soal-soal unas di Jawa dengan anak-anak di pedalaman Papua atau Flores yang jelas-jelas sangat jomplang.

Yulius dan kawan-kawan seharusnya tidak boleh membiarkan kondisi macam ini berlarut-larut. Kor-kor di luar kota alias desa ini perlu mendapat pelatih yang bermutu dari kota. Termasuk Yulius sendirilah.

Sebelum lomba, panitia perlu melakukan semacam audisi kecil-kecilan untuk melihat standar kualitas kor-kor paroki. Apakah pantas ditandingkan dengan kor-kor kota yang dilatih pelatih kaliber nasional? Apakah kita tega membiarkan kor-kor desa, yang hanya berlatih tiga empat kali, itu pun anggotanya tidak lengkap, berkompetisi dengan kor-kor yang anggotanya sudah cukup profesional?

Saya menduga 17 paroki yang absen itu TAHU DIRI. Mereka tidak mau ikut lomba karena sudah bisa mengukur kekuatan dirinya, membaca peta kualitas kor-kor di Keuskupan Surabaya, dan merasa tak layak ikut. Tim sepakbola Indonesia, misalnya, tidak mungkin diikutkan dalam Olimpiade karena kita tahu dirilah. Begitu pula dengan kor-kor di gereja.

Begitulah. Selama lomba berlangsung perasaan saya campur-baur. Di satu sisi saya salut sama kor-kor yang tampil bagus, bisa membawakan lagu-lagu sulit, yang selama bertahun-tahun tidak saya dengar di gereja. "Paduan suara Katolik di Surabaya ternyata bisa nyanyi ya?" kata saya dalam hati.

Di sisi lain, saya tidak sampai hati melihat kor-kor bonek luar Surabaya Raya yang sudah pasti kedodoran. Syukurlah, teman-teman dari luar Surabaya Raya itu berjiwa besar dan bondo nekat. "Kami tahu bahwa peserta dari Surabaya itu hebat-hebat, ikut bina vokalia semua. Tapi kami mau ikut untuk berpartisipasi dan cari pengalaman," kata seorang teman asal Pare, Kediri.

Sudah saatnya kata-kata macam ini dihentikan. Ini kompetisi dengan standar nasional, Bung! Bukan ajang partisipasi atau nekat-nekatan. Mudah-mudahan, sekali lagi, Yulius dan kawan-kawan mau turun ke paroki-paroki desa untuk membenahi kualitas kor.

Saya tidak sampai hati melihat kor-kor desa tampil di panggung hanya bermodal nekat! Salam damai!



Teman-teman Paduan Suara Paroki Ngagel bersorak-sorai begitu diumumkan sebagai juara umum. Selamat!

HASIL LOMBA PADUAN SUARA KEUSKUPAN SURABAYA
Minggu, 25 Januari 2009

Juara Umum: Paroki Ngagel Surabaya
Dirigen Terbaik: Ike Maria Sinandang (Paroki Ngagel)

KATEGORI LITURGI KLASIK

1. Paroki Ngagel Surabaya
2. Paroki Wonokromo Surabaya
3. Paroki Sawahan Surabaya
4. Paroki Karangpilang Surabaya
5. Paroki Rungkut Surabaya
6. Paroki Kristus Raja Surabaya

KATEGORI LAGU MARIA

1. Paroki Ngagel Surabaya
2. Paroki Karangpilang Surabaya
3. Paroki Wonokromo Surabaya
4. Paroki Rungkut Surabaya
5. Paroki Sawahan Surabaya
6. Paroki Tropodo Sidoarjo

KATEGORI LITURGI INKULTURASI

1. Paroki Kristus Raja Surabaya
2. Paroki Karangpilang Surabaya
3. Paroki Ngagel Surabaya
4. Paroki Tropodo Sidoarjo
5. Paroki Rungkut Surabaya
6. Paroki Gresik




Paduan Suara Paroki Karangpilang: pelatih/dirigen Siprianus (asal Bajawa, Flores), juara 2 inkulturasi, juara 2 lagu Maria, juara 4 klasik. Hebat Bung Sipri!


DEWAN JURI

1. Yoseph Suryadi (Jakarta)
Manajer Twilite Chorus. Juri paduan suara tingkat nasional sejak 1978.

2. Albertus Wishnu (Jogjakarta)
Juara III Bintang Radio dan Televisi (BRTV) jenis seriosa tingkat nasional 1985. Pelatih paduan suara mahasiswa UGM Jogjakarta. Juri paduan suara sejak 2003.

3. Budi Susanto Yohanes (Malang)
Dirigen dan pendiri Gracioso Sonora. Paduan suara di Malang ini meraih berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional. Tahun 2008 Gracioso Sonora meraih medali perak Busan Choral Festival & Competition di Busan, Korea Selatan. Komposer paduan suara.




Paduan Suara Paroki Wonokromo: juara 2 klasik dan juara 3 lagu Maria.

LAGU-LAGU YANG DILOMBAKAN

Liturgi Klasik

1. O Sacrum Convivium karya Guiseppe Pitoni
2. Tantum Ergo karya Anton Bruckner
3. Oculi Omnium karya M. Haller.
4. O Sacrum Convivium karya L. Perosi
5. Salvum Fac Populum karya Heinrich Lemacher


Lagu Maria

1. Beata Virgo, karya William Byrd
2. Stabat Mater, karya Antonio Caldara
3. Vos Omnes, karya G.P. da Palestrina
4. Ave Maria, karya Moesman

Liturgi Inkulturasi

1. Kristus Beserta Kita, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Batak Karo.
2. Gusti Memberkati, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Jawa.
3. Bersoraklah Bagi Tuhan, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Banyuwangi.
4. Engkau Roti Hidup, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Surabaya.
5. Tuhan Pemurah, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Daya’Ngaju.
6. Nyanyian Syukur, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Flores-Sikka.
7. Marilah Kita Ke Rumah Tuhan, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Bunaq-Timor.
8. Dari Hembusan Sabda-Mu (Finna Su Phing), Arsm. Paul Widyawan. Gaya Mandarin.

17 comments:

  1. Setujuuu... Kompetisi ini terasa 'njegleg' sekali. Seharusnya panitia juga mempertimbangkan layak atau tidaknya paroki desa ditandingkan dengan Paroki Surabaya. Atau mungkin ada penghargaan atau juara khusus untuk paroki luar Surabaya. Jadi menambah semangat, karena untuk mengikuti kompetisi ini dari luar kota Sby membutuhkan dana yang tidak sedikit lho... Kalo seperti ini dijamin tahun2 berikutnya pada malas ikut paling yang menang juga dari Surabaya. Ya... yang kemarin kami anggap buat pengalaman

    ReplyDelete
  2. moga2 tulisan ini jadi bahan introspeksi tidak hanya di keuskupan sby, tapi juga di tempat2 laen. lomba paduan suara memang selalu njomplang. GBU.

    ReplyDelete
  3. kor2 bonek hehehe.... kalo mo jujur, emang byk yg bonek mas Hurek. tapi yg penting kan ada usaha ytk maju. kalah menang nomer 23. hehehe... thanks atas ulasannya.

    freddy

    ReplyDelete
  4. Bang Hurek,
    Fotonya ngagel kurang banyak ... tampilin yg lain dung hehehehe :-)
    Tapi bagaimanapun,saya salut dan bangga banget dengan peserta dari luar surabaya. Mereka begitu antusias, meskipun banyak kekurangan.

    Kalo bisa kategori peniliannya ditambah, gak terbatas tema liturgis aja, misalnya kategori lagu "bebas". Hal ini untuk memberi peluang bagi tim terutama dari daerah, yg secara vokal kurang bagus, tapi koreografinya bagus2 (terutama dari Blitar) rancak dan apik.

    Terimakasih dan salam kenal Bang Hurek,
    God Bless Us :-)

    robert
    ngagel :-)

    ReplyDelete
  5. Terima kasih atas komentar kawan2.

    Mbak Indri Hapsarie di Rembang. Saya salut sama teman2 Rembang, paroki paling jauh, yang mau ikut lomba paduan suara meskipun sudah tahu hasilnya seperti apa. Semangat itu perlu dicontoh kawan2 lain, khususnya di Surabaya, khususnya di paroki saya yang gak ikut.

    Robertus Hari, selamat untuk kemenangan Ngagel. Mudah2an terus dijaga paduan suara yang sudah baik itu.

    Freddy, memang sudah sejak puluhan tahun lalu lomba2 paduan suara itu kontroversial. Banyak yang mempertanyakan manfaatnya. Para pembaca blog ini, khususnya yang tinggal di luar negeri, berpendapat lomba itu tidak banyak manfaat. Setelah dapat pemenang, lalu apa?

    Belum lagi kualitas yang jomplang, dan itu terjadi di mana2. Maka, menurut saya, tugas komisi liturgi adalah membenahi kor2 di daerah, tidak hanya asyik di Surabaya Raya. Selama jurang mutu ini belum diperbaiki, maka kompetisi kor kayak kemarin hanya sedikit manfaatnya.

    ReplyDelete
  6. kok 100 paul widyawan sih? emangnya gak ada lagu inkulturasi yg lain?

    ReplyDelete
  7. yg jelas, lomba paduan suara itu menelan biaya sangat besaaar.

    ReplyDelete
  8. Salam mas hurek

    Kalau saya ga setuju dengan pendapat bahwa lomba ga banyak manfaat..Menurut saya lomba akan memberikan gairah yang lebih untuk anggota kor, dan itu yang harus dimanfaatkan oleh pengurus kor maupun sie musik paroki untuk menjaga gairah tersebut untuk pelayanan di gereja..Saya pribadi menilai lomba itu tidak semata2 soal menang ato kalah, tetapi lebih melihat kepada proses dan semangat untuk memuji Tuhan dengan sebaik-baiknya..

    Setuju banget untuk PR dari komlit membina kor daerah..Meskipun memang sangat berat..Karena menjadikan kor memiliki kualitas vokal yang baik adalah sebuah proses juga..Tidak bisa hanya dengan beberapa kali pertemuan mampu menyulap kualitas kor menjadi baik..Menurut saya untuk menjadi kor yang berkualitas vokal baik, menyanyi harus menjadi "habit" dari setiap anggota..Kalau tidak y bakalan percuma karena vokal yang baik hanya bisa didapat dengan berlatih terus menerus..

    Berkah Dalem

    Asta

    ReplyDelete
  9. Mengapa Paul Widyawan? Itu urusan panitia, khususnya Yulius Kristanto. Setahu saya Bung Yulius ini pengagum Paul Widyawan, dedengkot Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja. Kebetulan PML sangat aktif mengadakan lokakarya komposisi di daerah2, kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku.

    Paul Widyawan memang dari dulu punya banyak "murid" yang tersebar di seluruh Indonesia. Anda bisa baca tulisan saya di blog ini:

    http://hurek.blogspot.com/2007/09/paul-widyawan-dedngkot-paduan-suara.html

    Asta, terima kasih atas masukan anda tentang manfaat lomba paduan suara. Mudah2an saja semua kor sepulang lomba--kalah atau menang--tetap semangat memuji Tuhan, tetap solid.

    Pekerjaa rumah untuk direnungkan:

    Apakah kor inti yang ikut lomba ini nanti kembali ke wilayah/lingkungan, menjadi penggerak paduan suara wilayah/lingkungan?

    Apakah kor inti yang ikut lomba ini tetap solid, tetap berlatih, lebih rajin lagi, meskipun tidak ada lomba?

    Betul, teman yang anonim, lomba kor itu makan biaya banyak. Katakanlah kostum per orang Rp 200.000 (yang murahanlah), maka 30 peserta habis Rp 6 juta. Ditambah lain-lain bisa tandas Rp 10-20 juta.

    Untuk paroki2 daerah macam Pare, Wlingi, Rembang, Cepu... uang segini jelas tidak sedikit. Terima kasih atas tanggapan semuanya. Berkah Dalem.

    ReplyDelete
  10. kupikir sebutannya bukan kor tapi koor. itu kalau pake istilah peninggalan belanda. kalau pake istilah indonesia ya paduan suara.
    btw trims atas liputannya.
    doni - ngagel

    ReplyDelete
  11. Mas Doni di Ngagel,

    Terima kasih atas respons Anda. Istilah yang baku memang KOR, bukan KOOR. Silakan periksa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2003, halaman 594.

    Kata KOOR itu memang berasal dari bahasa Belanda. Dulu banyak dipakai pater-pater asal Belanda, khususnya di Flores, dan menjadi salah kaprah sampai sekarang. Berdasar aturan transliterasi, vokal rangkap O dalam bahasa Belanda diserap hanya satu O. Contoh: KANTOOR menjadi KANTOR.

    Kata KOR ini juga sudah lama, sejak 1970-an, dipakai Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta. Silakan Anda periksa buku-buku partitur terbitan PML, termasuk Madah Bakti. Sejak dulu tidak pernah dipakai KOOR (dengan dua O).

    Istilah PADUAN SUARA memang sudah umum, sinonim dengan KOR. Tapi menurut saya terlalu panjang karena menggunakan 12 karakter. Sedangkan KOR cukup tiga karaker saja. Lebih hemat, bukan?

    Kesimpulan: bicara soal bahasa itu ada dasarnya, bukan sekadar “KUPIKIR”... Terima kasih.

    ReplyDelete
  12. yah... lomba itu ada manfaatnya asal ada follow up. temen2 anggota kor harus mau mengembangkan di paroki masing2. gbu.

    ReplyDelete
  13. Titip buat panitia ya mas... ini sekedar usul aja.. lain kali kalo ada kompetisi seperti ini baiknya tiap peserta dievaluasi kekurangannya (mungkin memakan waktu lama ya..) Sehingga kita tahu dan bisa memperbaiki kekurangan kita. Jadi meski kita nggak menang tapi pulang membawa ilmu dan puas. Atau... ada kelanjutan setelah kompetisi ini. Pelatihan gratis bagi peserta mungkin... di Regio masing-masing tentunya (biar ngirit biaya).

    ReplyDelete
  14. waduh mbak indri, tetap semangatlah. jangan putus asa meskipun belum dapet nomer. kalo mbak indri patah semangat, kasihan temen2 laen di rembang. GBU.

    tony, surabaya

    ReplyDelete
  15. selamat sukses bagi yg menang, khususnya ngagel, dan jangan putus asa untuk teman2 dr paroki lain yg belum beruntung. maju terus!!!!

    ReplyDelete
  16. Bisa di bayangkan seandainya acara tersebut digelar di Keuskupan Agung Samarinda mungkin yang ikut hanya dari Balikpapan atw Tenggarong az dan termasuk Samarinda. Lha wong yang satu tanah az kyak Surabaya pesertanya cuman segitu apalagi di kalimantan timur yang transportasi daratnya susah banget.
    salam faccia.
    mhk-rh1cy@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  17. Hai Faccia, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Memang lomba paduan suara di gereja selalu ada kendala transportasi dan sebagainya. Sejak dulu ya demikianlah.

    Kita mesti melihat kondisi lokal, pertimbangkan untung-rugi, tujuan akhir, dll sebelum bikin lomba. Yang paling penting itu motivasi atau niat. Banyak paroki di dalam kota Surabaya saja tidak ikut lomba, tentu bukan karena transportasi. Yang begini ini yang harus dievaluasi panitia atau Komisi Musik Liturgi Keuskupan. Salam damai.

    ReplyDelete