22 January 2009

Kelenteng di Madura



Ibu Yuyun Kho, pengurus Kelenteng Eng An Bio, Bangkalan, yang juga pelukis spesialis figur dewa-dewi Tionghoa.


Saya baru saja jalan-jalan ke Madura, Minggu (18/1/2009). Pulau garam yang punya empat kabupaten ini (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) sebetulnya sangat dekat dengan Surabaya. Kira-kira empat kilometer. Tapi, karena dipisahkan oleh laut, Madura terkesan sangat jauh dari Surabaya.

Memang ada kapal feri yang lancar, tapi kebanyakan orang Jawa tidak tertarik jalan-jalan ke Madura. "Mau lihat apa? Hiburannya apa? Apa yang menarik? Tinggal di mana?" begitu antara lain alasan teman-teman di Surabaya yang "asing" dengan Madura.

Saya sengaja ke Madura karena Madura untuk melihat suasana menjelang pencoblosan ulang pemilihan gubernur Jawa Timur. Bangkalan dan Sampang diulang karena hasil pilgub putaran kedua dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Padahal, hasil di dua kabupaten ini sangat menentukan siapa pemenang pilgub.

Karena menjelang tahun baru Imlek, saya pun ingin melihat bagaimana orang Tionghoa mempersiapkan tahun kerbau. Sebab, kehadiran orang Tionghoa di Madura memang sudah berlangsung ratusan tahun. Kemungkinan tidak jauh sejarahnya dari kedatangan orang Tionghoa di Surabaya. Dan ini dibuktikan dengan usia kelenteng di Madura yang sudah ratusan tahun.

Di Pulau Madura ini ada tiga kelenteng, yakni di Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Selama bertahun-tahun orang Tionghoa hidup dan mencari nafkah dengan tenang di Madura. Ada memang sentimen rasial alias SARA, tapi tidak sampai menghancurkan bangunan kebersamaan.

Kasus SARA terakhir yang meletus di Madura terjadi beberapa tahun menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. Orang-orang tak dikenal menghancurkan beberapa tempat ibadat. Kelenteng Eng An Bio di Bangkalan ikut dirusak. Rumah ibadat orang Tionghoa itu pun hancur berantakan.

Meski begitu, hubungan antara orang Tionghoa dan penduduk Bangkalan relatif harmonis sampai sekarang. "Dulu, yang merusak kan orang-orang luar. Kalau sama orang-orang di sini baik-baik saja," kata beberapa warga Bangkalan kepada saya.

Berikut sedikit gambaran tentang tiga kelenteng yang ada di Pulau Madura.

1. KELENTENG ENG AN BIO
Jalan Panglima Sudirman 116 Bangkalan




Menjelang Imlek 2560, 26 Januari 2009, ini Eng An Bio terlihat lebih terawat. Bersih, luas, punya banyak ruang terbuka. Tidak sumpek. Ada dua aula besar--untuk ukuran Madura--di bagian belakang. Bisa dipakai buat petemuan, senam, dan sebagainya.

"Kami akan melakukan sembahyangan bersama tanggal 25 Januari 2009 malam. Itu sudah menjadi tradisi orang Tionghoa di sini setiap tahun," ujar Ibu Yuyun Kho, pengurus Eng An Bio. Ibu asal Salatiga ini sudah menjaga Eng An Bio selama 17 tahun.


Menurut Bu Yuyun, jemaat di kelenteng ini hanya sekitar 25 keluarga. Itu pun tidak semuanya beribadah di sini karena dekatnya jarak Bangkalan dan Surabaya. Bahkan, hampir semua pengusaha Tionghoa di Bangkalan punya rumah di Surabaya dan sekitarnya.

"Itu yang membuat kelenteng di Bangkalan ini tidak bisa ramai. Bangkalan itu kota kecil, ya, begini ini situasinya," jelas Bu Yuyun.

Generasi muda Tionghoa di Madura pun tak banyak melanjutkan tradisi leluhurnya seperti rajin ke kelenteng dan terlibat dalam perayaan tradisional Tionghoa. Ini juga akibat kebijakan rezim Orde Baru yang melarang semua yang berbau Tionghoa selama 30 tahun lebih.

Kelenteng Eng An Bio dipersembahkan (dijaga) oleh Dewa Bumi alias Hok Tek Cheng Sin.

Kelenteng Eng An Bio didirikan pada tahun 1805. Dulu, tanahnya merupakan hibah dari Kapiten Tan Kuang Pang. Dia pimpinan orang Tionghoa di Bangkalan pada masa penjajahan Belanda.

"Seiring perkembangannya, kelenteng kemudian dibangun oleh Ong Ki Chai, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Tridharma Indonesia," kata Gunawan Hidayat, ketua Yayasan Eng An Bio.

2. KELENTENG KWAN IM KIONG alias Vihara Avaloki Testavara
Pantai Talangsiring, Pamekasan






Kelenteng paling besar dan paling banyak dikunjungi di Madura. Dipersembahkan (dijaga) oleh Dewi Kwan Im. Orang-orang Madura lebih mengenal kelenteng ini sebagai vihara.

"Pengunjung bisa menginap dan makan minum di Kelenteng Pamekasan. Soalnya, mereka punya yayasan dan donatur yang kuat. Itui yang nggak ada http://www.blogger.com/img/blank.gifdi Bangkalan," kata Bu Yuyun, pengurus Kelenteng Eng An Bio di Bangkalan, kepada saya.

Yang menarik, kelenteng di Pamekasan ini juga menjadi pusat pelestarian kesenian tradisional Jawa seperti wayang kulit yang berusia 200 tahun lebih. Selalu ada pergelaran wayang kulit di kompleks kelenteng.

Cerita lengkap Kwan Ik Kiong Pamekasan baca di SINI.


3. KELENTENG PAO SIAN LIAN KONG
Desa Pabien, Sumenep




Terletak di Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, berjarak 2,8 kilometer dari pusat kota dan 2,5 km dari Terminal Arya Wiraraja. Awalnya didirikan di Kalianget, lalu berpindah ke Marengan, kemudian menetap di Pabian.

Menurut salah satu pengelolanya, Seng Jaya Manggala, Pao Sian Lian Kong dibangun sekitar 160 tahun lalu. Ini didasarkan pada tulisan kayu berbahasa Mandarin yang ada di atas salah satu pintu masuk ruang utama Klenteng. Pada 1963, kelenteng ini direnovasi hingga tampak seperti sekarang ini.

Tempat pemujaan urutan I berada di teras, memasuki ruang utama menuju tempat sembahyang secara berurutan (2, 3, 4) untuk melakukan pemujaan, penghormatan kepada para dewa. Adapun nama-nama dewa menurut urutannya adalah: Thian Sian Seng Bo (Dewa Penolong di Laut), Kun Tek Tjun Ong (Dewa Penolong), Hok Tik Tjing Sin (Dewa Bumi).

Kemudian masuk ke dalam ruang tengah untuk melakukan pemujaan lagi dengan menempati nomor sesuai dengan agama. Agama Buddha menuju tempat No 5-6, Tao menuju tempat No 7, Konghuchu memasuki ruang samping melalui ruang tengah, No 8. Terakhir, memasuki Pagoda Dewi Kwan In, yaitu No 9, yang terletak di bagian belakang kelenteng.

Pada Juli 2008 penginapan ini tidak dapat menampung umat yang datang dari luar kota saking banyaknya. Kelenteng buka pukul 06.00 sampai 21.00 WIB.

12 comments:

  1. suwun informasi sampean. ternyata di madura juga ada klenteng.

    ReplyDelete
  2. Wau....bagus ya. saya belum pernah kesana dan bermaksud hendak kesan klau ada waktu dan kesempatan. Kalau anda da wktu main ya ke blog saya www.edijarot.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. saya sudah 2 kali ke klenteng Bangkalan dan lebih dari 2 kali ke Vihara Pamekasan. Hati terasa damai bila berkunjung ke sana. Ayo yang lain juga ke sana dooong. Pertengahan Agsts'09 saya juga akan berkunjung ke sana lagi beserta rombongan orang SEKAMPUNG Ibu Yuyun...

    ReplyDelete
  4. tolong kasih saya rute menuju vihara terbesar di madura, dari arah jembatan suro - madu trims

    ReplyDelete
  5. blm bisa kasih rute, krn 14 agt ini saya baru kesana. Kapan mau ke vihara????? tq

    ReplyDelete
  6. Dari Suramadu, terus sampe notok, belok kanan kalo mau ke klenteng pamekasan, belok kiri kalo mau ke klenteng Eng An Bio...

    ReplyDelete
  7. Hari Sabtu 15/8/09, setelah dari Pamekasan, kami langsung meluncur ke Eng An Bio - Bangkalan, karena kami tiba lebih awal dari waktu yang kami sampaikan ke ibu Yuyun, kami menikmati waktu yang ada dengan melihat-lihat, bincang2 dan berkaraoke ria.

    Hampir semua anggota rombongan BERDECAK KAGUM melihat keadaan Eng An Bio, yang dari luar hanya kelihatan SATU SPACE KECIL, ternyata WOOOW di dalamnya, bersih...

    Setelah selesai makan siang, tanpa sungkan kamipun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke surabaya.

    Baju kaus yang bu Yuyun pakai dalam foto di atas adalah baju seragam klenteng kota kelahiran bu Yuyun.... (Sayapun bangga & senang dengan itu).

    Kepada 'TEMAN2' yang belum pernah singgah ke sana, saya sarankan untuk singgah juga....

    Salam manis & semoga sehat selalu untuk semuanya. MERDEKA !!!!

    ReplyDelete
  8. Sesuai 'JANJI SAYA SBLMNYA' disini saya sampaikan info perjalanan ke kelenteng di Madura :

    1. Vihara AVALOKITESWARA (Pamekasan).
    Dari jembt.Suramadu LURUS, notok, belok kanan ke arah Sampang/Pamekasan. Dari Pamekasan ke ARAH SUMENEP di Km.14 belok kanan (ADA RAMBU/PENUNJUKnya).

    2. ENG AN BIO - Bangkalan.
    Dari jembtn.Suramadu LURUS,notok, belok kiri. Sampai di Bangkalan, klenteng ada di pusat kota (pasar Lama). Sebelah kelenten ada ALFAMART.

    Semoga info saya dapat membantu.

    ReplyDelete
  9. ada yang tau gak nomor2 yang bisa saya hubungi tentang eng an bio ini?

    ReplyDelete
  10. vihara avalokitesvara pamekasan
    no tlp 0324 326426
    0324 326347

    ReplyDelete
  11. Klenteng di Madura itu tidak aneh. Kakek nenek saya yang dari Madura justeru adalah keturunan Tionghoa. Mereka berjasa telah membantu pembangunan Kesultanan Sumenep. Mereka juga turut berjuang pada tahun 1945 dan ada yang gugur sebagai pahlawan. Misalnya nama jalan raya Abu Bakar, di Sumenep, itu dia seorang keturunan Tionghoa juga. Terimakasih atas informasi mengenai klentengnya.

    ReplyDelete