02 January 2009

Kamisan Pak Narain Masih Berlanjut




Sudah satu tahun lebih NARAINDAS TIKAMDAS SAKHRANI alias Narain, rohaniwan Hindu serta pedagang buku keturunan India, meninggal dunia. Namun, aksi sosial pembagian sembako dan uang receh untuk kaum miskin setiap Kamis masih berlanjut sampai sekarang.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Sekitar pukul 07.00, Kamis kemarin, gang sempit di Jalan Bubutan V Surabaya mulai didatangi laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berjalan kaki. Masuk ke dalam gang, mereka langsung duduk di sisi kiri dan kanan sambil ngobrol ringan. Maklum, mereka umumnya sudah saling kenal.

"Tiap Kamis, kami mesti kumpul di sini. Ya, hafal muka teman-teman ini," ujar Misri, yang mengaku tinggal tak jauh dari Jalan Pahlawan. Setiap hari perempuan 62 tahun ini bekerja sebagai pengemis di jalanan. "Dapatnya nggak tentu. Sepuluh ribu saja sudah bagus," cerita Misri kepada beta.

Mendekati pukul 08.00 gang sepanjang 200-an meter itu sudah penuh manusia. Status mereka sama dengan Misri: pengemis, gelandangan, atau pengangguran. Usai menikmati susu segar, yang sudah disiapkan, mereka menunggu acara pembagian rezeki Kamisan dari tuan rumah.

Lantas, sesuai jadwal, Suci bersama Kasiatin membagi-bagikan biskuit kepada para tetamu di gang. Masing-masing mendapat lima keping bulat. Semuanya duduk manis, tidak ada yang berebut, layaknya pembagian sembako di tempat lain.

Setelah biskuit, para duafa itu menerima beras, sabun colek, mi instan, serta uang receh. Rata-rata mendapat Rp 500. "Mereka semua sudah tahu bakal dapat jatah seperti ini. Jadi, nggak akan ada yang berebut. Khusus untuk beberapa orang kami beri Rp 2.000 karena kebutuhannya lebih banyak," ujar Suci.

Acara baksos Kamisan ini dirintis mendiang Narain sejak 1948. Mula-mula diadakan Jumat pagi, tapi diajukan ke Kamis agar para penerima sedekah itu bisa menunaikan salat Jumat. Pada 25 Mei 2007 Narain meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.

Nah, sebelumnya Narain berpesan kepada Suci dan Kasiatin untuk melanjutkan tradisi amal kasih tersebut. Lantas, apakah dana dari para donatur masih mengalir lancar seperti ketika Narain masih hidup? Suci terdiam sejenak.

"Sekarang nggak kayak Tuan Narain masih hidup," ujar Suci yang sejak 1986 bekerja di rumah Narain di Jalan Pahlawan 17-19.

Syukurlah, masih ada saja orang yang menyisihkan sedikit rezekinya untuk para fakir miskin. Suci menyebut dua nama yang sangat mendukung misi kemanusiaan Narain ini: Raden Panji Haji Muhammad Noer (mantan gubernur Jatim) dan S Supoyo. Pak Noer memberi sumbangan uang setiap bulan.

"Jumlahnya nggak perlu saya sebutlah. Kalau Pak Supoyo setiap minggu. Sumbangan mereka berdua sangat membantu kami untuk meneruskan karya Tuan Narain," ujarnya.

Tak gampang bagi Suci dan kawan-kawan mempertahankan tradisi mulia ini. Donasi terus berkurang, sementara jumlah penerima sedekah tetap, bahkan naik. "Tapi kami akan jalan terus. Entah sampai kapan," kata perempuan asal Trenggalek ini.

Yang membuatnya gundah, sampai sekarang masih banyak pihak yang salah mengerti. Seakan-akan almarhum Narain adalah orang kaya-raya, tempat meminta uang. Karena itu, Suci mengaku sempat takut bila didatangi wartawan.

"Soalnya, setelah dimuat di koran, biasanya banyak sekali surat ke sini minta sumbangan. Lha, untuk memberi sedekah setiap Kamis saja kami sudah kesulitan," ujar Suci seraya tersenyum getir.

Mudah-mudahan setelah dimuat di koran, dan di blog ini, banyak donatur tergerak menyumbang dana atau barang ke alamat rumah almarhum Pak Narian. Bukan malah meminta sumbangan dari Mbak Suci dan Mbak Kasiatin. Duite sopo, Rek!

No comments:

Post a Comment