22 January 2009

James Riady: Artha, Kama, Dharma



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Siapa tak kenal James T. Riady? Pengusaha dan bankir papan atas ini semakin hari semakin religius. Setelah sukses di dunia bisnis, dia ingin mengabdikan sisa hidupnya untuk pendidikan.


Di hadapan sekitar 800 hadirin, dalam sebuah seminar di Surabaya, James Tjahaja Riady tampak sangat fasih mengutip ayat-ayat kitab suci. Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, filsafat timur, dia kuasai. Dia juga membagikan pengalaman tentang perjalanan hidupnya sebagai businessman, bankir, dan menjadi orang yang bergelimang harta.

Namun, pada tahun 1990, ketika karirnya sedang berada di puncak, James mengaku mengalami kekosongan hidup. Dia mulai resah. Dia mempertanyakan apa makna kehidupan ini.

"Segala sesuatu kelihatannya sudah saya miliki, tapi hati saya kosong. Saya bahkan mengalami depresi, merasa tidak punya arti dan target hidup," ujar pendiri Sekolah Pelita Harapan, Sekolah Dian Harapan, dan Universitas Pelita Harapan itu.

Nah, di tengah kehampaan hidup itu, kehidupan pribadi James pun berantakan. Relasi dengan istri, anak-anak, kerabat, saudara, ikut berantakan. James berdiam diri, merenung. "Dari situ Tuhan membuka mata saya bahwa hidup itu bukan sekadar kerja, kerja, kerja," ujar James.

Menikah pada 1982 itu, sebagaimana orang Tionghoa umumnya, hari-hari James T. Riady diisi dengan kerja, kerja, kerja. Tak ada hari libur. Tak ada waktu untuk keluarga. Hasilnya memang dahsyat: karir bagus, uang berlimpah, reputasinya mencorong sampai ke dunia internasional. Tapi, ya itu tadi, ada krisis spiritualitas. Apa arti hidup ini?

James yang tadinya hanya Kristen statistik--tidak pernah berdoa, tidak pernah ke gereja, jadi Kristen untuk kepentingan administrasi kependudukan di KTP--mengaku mencoba-coba membuka Alkitab. Buku yang selama bertahun-tahun hanya menjadi pajangan belaka. Dia akhirnya mendapat sentuhan Tuhan melalui Amsal 18:10.

"The LORD is like a strong tower, where the righteous can go and be safe."

Tuhan itu ibarat menara yang kuat. Ke sanalah orang benar berlari, dan dia selamat.


Sejak itu James mengaku semakin dekat dengan Tuhan. Dia juga berusaha lebih dekat dengan istri dan empat anaknya. Hidup dekat dengan Tuhan, kata dia, adalah kunci sukses dalam rumah tangga.

"Sebagai suami, saya perlu mendengarkan suara istri saya sekalipun mungkin intonasinya tidak enak. Sebab, saya percaya bahwa istri bukan hanya penolong yang sepadan, tapi juga membawa suara Tuhan dalam kebenaran," tegasnya.

Setelah mengalami transformasi hidup, cara pandang James Riady terhadap bisnis pun berubah 180 derajat. Bisnis tidak lagi sekadar mengumpulkan uang dan harta berlimpah. Dia meminjam filosofi India tentang ARTHA, KAMA, dan DHARMA.

Pada usia muda orang bekerja mati-matian untuk mengejar ARTHA dan KAMA. Kama itu kenikmatan hidup, hiburan badani, termasuk seks. "Saya sendiri sudah merasakan ARTHA dan KAMA. Maka, sudah waktunya bagi saya untuk ber-DHARMA," terang pengusaha yang disebut-sebut dekat dengan elite politik di Amerika Serikat itu.

Singkat cerita, James Riady akhirnya menunaikan DHARMA-nya dengan merintis lembaga pendidikan. Sekolah Dian Harapan untuk anak-anak kelas bawah. Sekolah Pelita Harapan untuk kelas menengah. Universitas Pelita Harapan untuk kelas atas. Ada mekanisme subsidi silang di antara tiga lembaga pendidikan ini.

James sangat menekankan pentingnya pendidikan etika, moral, spritual di sekolah-sekolahnya. Kurikulumnya didesain sedemikian rupa agar para alumni bisa bermanfaat bagi masyarakat.

"Jangan sampai mereka menjadi ilmuwan yang anti-Tuhan," tegas James Riady.

7 comments:

  1. Menarik sekali tulisan Mas Hurek tentang Pak James Riady. Saya termasuk salah satu penganut Kristen statistik, artinya ke gereja kalau hari besar saja (napas), sehari-hari jarang berdoa...kecuali sedang mentok banget dan pingin curhat ke Tuhan. Duh kurang ajar banget ya Mas, datang kalau ada maunya saja. Pengalaman seperti Pak James ini sangat menarik buat saya, meski dalam hati saya juga ingin tau apakah Pak James ini juga rajin menyambangi gereja2 kecil yang ada di daerah dimana para hamba Tuhan disana betul2 bekerja bukan untuk diliput media massa. Maaf saja ya kalau saya sering agak sinis dengan penampilan pendeta yang tubuhnya tambun dengan jas keluaran designer, kursi kulit yang megah dan cincin bertabur batu permata sebesar jengkol ... lalu berbicara dengan menggebu-gebu dan mengajak orang untuk meletakkan tangan pada layar kaca untuk didoakan bersama. Bukan anti kemapanan ya Mas...cuma kok gak sinkron amat dengan penampilan Yesus yang selalu digambarkan sebagai sosok sederhana. Hal2 kecil begini sering membuat saya malas berkunjung ke rumah Tuhan.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih mbak Elyani sudah membaca dan berkomentar, dan berbagi pengalaman. Saya kira, religiositas seseorang tidak diukur dengan sering tidaknya ke gereja. Apa yang Mbak Elyani lakukan selama ini, insyaallah, berkenal di mata Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Nice site you have here..
    Thanks for the info..I'll use this a lot

    ReplyDelete
  4. Bagaimana komentar anda? Apa perlu ayat Alkitab untuk nyogok?

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemilik Grup Lippo James T. Riady dan Lippo Bank California setuju membayar denda masing-masing sebesar 10 ribu dolar AS dan 8,6 juta dolar AS atas keterlibatannya dalam kasus pemberian dana ilegal dalam kampanye Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) pada 1992 dan 1996. Kesepakatan itu dibuat bersama Departemen Kehakiman AS, seperti dinyatakan kuasa hukum James Riady, Abbe D. Lowell dalam siaran pers yang diterima TEMPO Interaktif di Jakarta, Jumat (12/1) malam

    ReplyDelete
  5. Terima kasih kepada Bang Hurek untuk tulisannya tentang James Riady. Ketika 6 bulan lalu saya jalan2 ke Mall di Jakarta Barat, ada seorang muda yang ingin
    menawarkan Apartemen kepada saya, sambil memberi sehelai prospek tentang Apartement tsb. Ketika teman saya mengetahui bahwa Group Lippo, James Riady, yang
    membangun gedung2 itu, teman saya berbisik kepada saya, ojo dituku, wong kuwi lek dino senin sampai sabtu ngotoki nasabah, nek dino minggu ngapusi Gusti Allah.

    ReplyDelete
  6. hehehe... sing jelas, gusti allah ora sare!

    ReplyDelete
  7. Maaf Bung Hurek, artikel anda diatas, kali ini tidak saya baca sampai habis, sebab setelah membaca beberapa bait, perut saya menjadi mual, harus langsung lari ke-WC, supaya tidak kecirit.
    Koq ada manusia yang munafiknya seperti itu.
    Amit-amit, Astagafirullah ! Pokoknya didunia ini, tidak pernah ada seorang bankir yang bisa dikategorikan sebagai manusia yang baik, yang berachlak, yang beretika dan bermoral.
    Sialnya kita membutuhkan Bank.
    Thay-kong ( kakek-buyut ) saya 100 tahun lalu juga seorang bankir, karena bertobat, untuk menebus dosanya, dia di Hindia-Belanda aktif menyumbang, mendirikan beberapa Sekolah THHK. Kecuali itu di Tiongkok dia mendirikan Rumah Sakit untuk rakyat jelata, yang dipimpin oleh seorang dokter Inggris. Dia juga mendirikan Sekolah untuk anak2 kampungnya. Sekolah itu pertamanya di Tiongkok yang menganjurkan anak2 wanita juga harus menuntut ilmu. Bahasa asing yang diajarkan disekolah adalah bahasa Melayu, bukan Inggris atau Belanda. Untuk mengajar itu, dia merekrut Hoa-kiao2 hindia-belanda. Dia juga membangun sebuah Kelenteng yang sangat bagus.
    Bedanya Thay-kong saya tidak pernah bertujuan mencari keuntungan dari yayasannya itu, bahkan harus menyuntikkan uang selalu.
    Waktu Mao Tze-dong masih hidup, semua kekayaan kita disita negara. Sekarang setelah reformasi ala Deng Xiao-ping, sebagian kecil dikembalikan kepada keluarga kami. Sekarang oleh pemerintah
    kabupaten Quanzhou, Thay-kong di-elu2 sebagai pahlawan, didirikan prasasti, dinobatkan sebagai Hoa-kiao yang Ai-guo.
    Begitulah sejarah, sebentar lu jadi kontra-revolusioner yang diganyang, sebentar lagi lu dijadikan pahlawan. Sejarah selalu dibuat oleh yang berkuasa.

    ReplyDelete