06 January 2009

Inkulturasi Jawa Katolik di Ganjuran, Jogjakarta




Sudah sering saya mendengar cerita tentang inkulturasi liturgi yang luar biasa di Ganjuran, Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Saya juga punya kaset gending rohani TYAS DALEM yang dimainkan karawitan Paroki Hati Kudus Yesus Ganjuran. Tapi, terus terang, saya belum sekalipun ikut perayaan ekaristi di Ganjuran.

Maka, ketika ada kesempatan, saya pun memutuskan untuk ikut misa malam Natal, 24 Desember 2008, di Ganjuran. Ternyata, gereja ini memang sangat terkenal. Beberapa orang Jogja yang saya tanya menyatakan tahu lokasinya.

"Itu gereja yang sangat njawani," ujar Mbak Endang, pedagang di kawasan Parangtritis. "Pakai ojek, ya, sekitar 15-20 menit saja," kata si mbak yang ramah ini. Endang kemudian mengontak saudaranya untuk mengantar saya ke Gereja HKY Ganjuran.

Misa dimulai pukul 17.00 tepat. Tiba 10 menit lebih awal membuat saya bisa melihat-lihat suasana gereja dan persiapan umat. Bukan main. Gerejanya dari bambu--darurat, karena pada 27 Mei 2006 jadi korban gempa. Tanpa dinding. Semua umat duduk lesehan. Menghadap altar di samping Candi Hati Kudus yang terkenal itu.

Karena misa malam Natal sangat ramai, 4.000-an orang, umat menggelar tikar di samping kiri, kanan, depan, belakang gereja. Suasana guyub ala pedesaan. Umat saling bertegur sapa, salaman, bertukar cerita ringan. Saya juga melihat banyak turis dan awak media yang meliput misa istimewa ini. Sementara itu, musik gamelan lamat-lamat mengiringi jemaat yang berdoa secara pribadi.

Ketika misa dimulai, saya semakin sadar bahwa Paroki Ganjuran ini benar-benar melakukan inkulturasi yan luar biasa. Semua serba Jawa. Busana Jawa, bahasa Jawa, musik Jawa... dan seterusnya serba Jawa. Inkulturasi bukan sekadar tempelan atau setengah hati, seperti sering terlihat di sejumlah gereja. Umat Ganjuran benar-benar menghayati iman Katolik sebagai orang Jawa.

"Misa malam Natal di Ganjuran itu paling mantap dibandingkan dengan gereja-gereja lain di Jogjakarta. Rasanya lebih masuk, mengena," kata Sudarto, umat Paroki Promasan, Kabupaten Kulonprogo, kepada saya. Pak Darto mengaku selalu berusaha ke Ganjuran bila tidak ada kesibukan di Promasan.

Namanya juga inkulturasi Jawa, jangan harap ada lagu MALAM KUDUS atau HAI MARI BERHIMPUN seperti di gereja-gereja lain. Memang ada ING RATRI (artinya sama dengan MALAM KUDUS), tapi versi gending Jawa. Lagu karya Budi Santosa ini memakai tangga nada pelog enem. Pokoknya, Jawa habis deh!

Setelah "waosan Injil suci angitane Santo Lukas 2:1-14", Romo E.M. Martasudjita mempersilakan umat menikmati sajian KETOPRAK. Ceritanya sih sama dengan di gereja-gereja lain, tentang Yusuf dan Maria yang tidak mendapat penginapan di Bethlehem. Padahal, Maria segera akan melahirkan bayi pertamanya.

Cerita biasa ini diolah sedemikian rupa oleh anak-anak muda Ganjuran menjadi ketoprak yang memikat. Tidak kalah dengan grup kesenian profesional yang sering muncul di televisi. Umat kerap dibuat tertawa ngakak oleh seniman-seniman mudika itu.

"Sekarang ini zamannya orang-orang suka pamer. Di jalan-jalan ada caleg-caleg yang pamer wajah. Ngakunya bisa menyejahterakan rakyat, turunkan harga, dan macam-macam," kata Romo Martasudjita dalam khotbah berbahasa Jawa.

Asyik sekali menikmati khotbah pastor muda asli Jogjakarta ini. Banyak sentilan-sentilan yang jenaka, tapi tajam. Dia memang benar-benar memahami siapa jemaat yang mendengarkan khotbahnya. Salut!

Tak terasa sudah dua jam lebih misa malam Natal berlangsung. Tidak terasa karena semua bagian ekaristi ala Jawa ini sungguh mengena. Padahal, misa di gereja-gereja lain--di Jawa Timur, misalnya--tidak pernah lebih dari 90 menit. 90 menit sudah termasuk sangat lama dan membosankan.

Paduan Suara Paroki Ganjuran, yang sangat fasih gending-gending Jawa itu, mengiringi jalannya komuni. Nyanyinya tidak ngoyo. Biasa-biasa saja, tapi penuh penghayatan. Ditambah pengumuman, sambutan singkat Romo Martasudjita, plus salam-salaman, misa malam Natal di Gereja Ganjuran berlangsung selama 180 menit alias tiga jam. Saya kira, ini rekor misa yang sulit dipecahkan gereja-gereja di Jawa Timur.

Rangkaian ekaristi pun tuntas. Tapi saya melihat masih banyak umat yang datang ke pelataran Candi Hati Kudus untuk berdoa. Langit yang cerah, angin sepoi-sepoi, membuat suasana malam kudus di Jogjakarta ini sungguh berkesan.

Berkah Dalem!



7 comments:

  1. Saya sebagai umat paroki Ganjuran merasa senang karena ada liputan tentang misa natal yang unik dengan menampilkan drama natal yang dikemas dalam kesenian ketoprak.Terima kasih atas reportnya,karena gerejaku telah dipublikasikan.

    ReplyDelete
  2. ganjuran memang terkenal banget mas.

    ReplyDelete
  3. saya sebagai mudika ganjuran mengucapkan terima kasih telah menuliskan cerita yang sangat bagus mengenai misa natal di gereja ganjuran...aditya (www.make-simple.info)

    ReplyDelete
  4. Terima kasih kembali. Ganjuran memang seng ada lawan!

    Berkah Dalem!

    ReplyDelete
  5. "Barangsiapa yang ingin hidup awet muda, bahagia di dunia ini, kurangi tidur, banyakin ngopi... ha ha ha... I love you full..." -- MBAH SURIP.

    ReplyDelete
  6. misa di ganjuran jam berapa dan hari apa aja?thx sebelumnya.

    ReplyDelete