25 January 2009

Imlek di Hong San Ko Tee



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Malam tahun baru Imlek alias Sin Cia 2560 berlangsung meriah di Hong San Ko Tee. Kelenteng di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya ini setelah reformasi memang tengah naik daun. Jemaatnya melimpah, terus bertambah dari waktu ke waktu.

Sejak Minggu (25/1/2009) petang tempat ibadah Tridharma ini sudah mulai terasa hidup. Satu per satu jemaat datang beribadah. Membawa lilin khas yang merah itu, kemudian keliling dari altar ke altar. Mereka tampak sangat antusias berdoa.

Ini juga menunjukkan bahwa orang Tionghoa sebenarnya sangat religius. Percaya pada hal-hal spiritual. "Malam tahun baru memang paling bagus dipakai untuk sembahyang. Kebetulan saya sering ke sini," ujar seorang jemaat kepada saya.

Sementara itu, Ibu Juliani Pudjiastuti, pemimpin Hong San Ko Tee, sudah mulai terlihat di kelentengnya bakda magrib. Meski duduk di kursi roda, ibu ini tampak selalu riang. Wajahnya sumringah, tersenyum ramah, menyambut kedatangan jemaat.

Saya pun menyalami Ibu Juliani dan mengucapkan selamat tahun baru. Gong Xi Fa Cai! "Jangan ke mana-mana lho. Nanti pukul 00:00, setelah sembahyangan, ada hiburan barongsai. Kemudian makan-makan seperti biasa," ujar Ibu Juliani Pudjiastuti.

Saya memang tak asing lagi dengan salah satu tokoh kelenteng di Surabaya. Biasanya, kalau ada hari-hari besar Tionghoa, apalagi Sin Cia, saya berusaha ke Kelenteng Cokro, nama populer Hong San Ko Tee. Dan Ibu Juliani Pudjiastuti adalah narasumber yang enak diajak bicara. Beda dengan beberapa tokoh kelenteng yang terkesan "tertutup" dan malas bicara.

Sambil asyik bicara dengan Ibu Juliani, muncul banyak sekali orang yang mengaku wartawan. Saya tidak kenal mereka. Ada yang mengaku dari media A, B, C, dan seterusnya. Mau meliput Sin Cia atau wawancara dengan pengurus kelenteng? Tidak jelas.

Saat saya bicara panjang lebar dengan Ibu Juliani Pudjiastuti, tak ada satu pun "wartawan" itu yang bertanya. Padahal, saya sudah minta Ibu Juliani untuk menjawab apa saja yang ditanyakan wartawan, tentu yang ada kaitannya dengan Imlek.

"Saya bicara dengan polisi dulu ya," ujar Juliani Pudjiastuti. Dan keduanya pun bicara cukup lama via telepon seluler.

Rupanya, Ibu Juliani punya feeling tidak enak terhadap orang-orang yang mengaku wartawan tadi. Eh, rupanya setelah menghubungi polisi, "wartawan-wartawan" itu langsung ke depan, meninggalkan kelenteng. Hehehe....

Menjelang pukul 00:00, seorang petugas mengajak jemaat untuk berkumpul di teras depan. Ibu Juliani Pudjiastuti duduk di tengah-tengah. Tak lama kemudian, lonceng pergantian tahun dibunyikan. Tahun tikus resmi berganti tahun kerbau!

Saya menyaksikan jemaat Hong San Ko Tee melakukan sembah bakti, bersyukur, selama 18 kali--kalau tidak salah. Semuanya larut dalam doa. "Intinya, kami meminta kepada Tuhan agar tahun baru ini kita semua diberi rezeki, kesehatan, dan keberuntungan. Semoga kita semua aman dan damai," kata Ibu Juliani Pudjiastuti.

Usai ritual khas kelenteng, dilanjutkan acara melekan bersama (tidak tidur). Tak baiklah orang Tionghoa tidur pada malam tahun baru. Tim barongsai mulai beraksi. "Ciamik soro!" kata orang Surabaya. Maklum, grup barongsai Hong San Ko Tee baru saja meraih juara ketiga kejuaraan barongsai se-Jawa Timur di ITC Mega Grosir.

Semua orang bergembira, tak hanya warga Tionghoa. Pengurus kelenteng sudah menyiapkan makanan yang bisa dinikmati semua pengunjung. Juga angpao bagi mereka yang berhak menerimanya. "Malam tahun baru itu saat yang paling bagus untuk menyambut rezeki. Makanya, saya gak akan tidur," ujar seorang ibu yang shari-hari ikut menjaga kelenteng tua itu.

Selamat tahun baru! Gong Xi Fa Cai!

3 comments: