18 January 2009

Ikut Misa di Madura



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com


Minggu, 18 Januari 2009.

Saya baru saja ikut misa di sebuah gereja kecil di Telang, Kabupaten Bangkalan, Madura. Stasi Telang masuk Paroki Maria Fatima Bangkalan, sekitar tujuh kilometer dari Dermaga Kamal. Saya agak terlambat masuk.

Umat sedang duduk mendengarkan bacaan pertama. Saya hitung-hitung ada 35 jemaat, termasuk anak-anak kecil, yang ikut misa. Misa dipimpin Romo Eli Heriyanto, pastor Ordo Karmel, yang juga pemimpin Paroki Bangkalan. Romo Eli ini asli Jawa, logatnya pun kental Jawa.

Bagi saya, ikut misa di pelosok Jawa-Madura punya kenikmatan tersendiri. Mengapa? Saya benar-benar bisa membayangkan rasanya jadi kaum superminoritas. Penduduk Madura itu 99,99 persen Islam. Semuanya santri. Nah, yang nol koma nol nol sekian itulah superminoritas. Termasuk jemaat di Stasi Telang ini.

Saya perhatikan semuanya orang Jawa. Tidak ada Tionghoa, Flores pun tak. "Sebetulnya ada orang Flores, tapi hari ini dia tidak masuk. Mungkin dia misa di Surabaya atau berhalangan," ujar seorang bapak menjawab pertanyaan saya.

Di gereja mungil ini saya merasa lebih nyaman mengikuti ekaristi kudus. Tidak ada organ, piano, atau alat musik lain. Tidak pakai pengeras suara atau sound system. Umat menyanyi secara alamiah. Romo Eli pun bicara wajar saja, tapi suaranya terdengar jelas sampai di belakang.

Persis misa atau kebaktian di kampung-kampung Flores. Sangat berbeda dengan kebaktian-kebaktian ala karismatik di hotel-hotel mewah, convention hall, restoran.. yang hiruk-pikuk. Romo Eli pun berkhotbah secara tenang. Tidak ngoyo. Oh ya, Paroki Bangkalan ini masuk wilayah Keuskupan Malang, bukan Keuskupan Surabaya.

Hari ini nyanyian ordinarium menggunakan Misa Manado karya M. Rarun, 1974. Lagu-lagu misa ala Manado memang sangat populer di Indonesia, selain lagu-lagu bercorak etnis Flores. Bapa Kami pakai gregorian. Umat bernyanyi dengan antusias meskipun banyak yang suaranya fals. Tak apa-apa, Tuhan toh tak akan mempersoalkan suara bagus atas fals!

Menjadi minoritas di Madura, pulau muslim, ternyata ada enaknya juga. Setidaknya jemaat sangat kompak, saling kenal, saling berbagi, saling membantu. Di ujung misa, umat diminta urunan untuk seorang umat yang sedang dirawat di RS dr Soetomo Surabaya. Mereka juga berencana membesuk pasien tersebut.

"Kami di Madura itu sangat sedikit. Yah, harus saling memperhatikan," ujar Bapak Rafael Sugiyo.

Usai misa saya menemui Romo Eli Heriyanto O.Carm di sakristi. Pastor muda ini menyambut saya dengan antusias. "Saya mau jalan-jalan ke Sampang, sekalian melihat situasi menjelang pencoblosan ulang," kata saya.

"Wah, aman semua. Mudah-mudahan lancar dan pemilihan gubernur Jawa Timur tidak diulang lagi," kata Romo Eli.

BACA JUGA
Minoritas Katolik di Madura.

No comments:

Post a Comment