28 January 2009

Fu Shuigen, Konjen Tiongkok di Surabaya



Setelah reformasi, perayaan tahun baru Imlek terasa semakin meriah dari tahun ke tahun. Hampir semua tempat hiburan, hotel, restoran, pusat perbelanjaan seakan berlomba merayakan pergantian tahun Tionghoa itu.

Kesemarakan Imlek di Surabaya juga dirasakan Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok di Surabaya Fu Shuigen. Saat diwawancarai di kantornya, Jumat (23/1/2009) siang, Mr Fu mengaku terkesan dengan tradisi Imlek di Indonesia serta kehidupan yang harmonis di tanah air. Berikut petikannya:

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Mr Fu, selamat tahun baru! Gong Xi Fa Cai!

Terima kasih. Saya juga menggunakan kesempatan yang baik ini untuk menyampaikan selamat tahun baru Imlek kepada warga Tionghoa di Surabaya dan semua sahabat di wilayah kerja saya, Jatim, Bali, NTT, NTB. Mudah-mudahan kita lebih sukses dan sejahtera di tahun baru, khususnya sukses mengatasi tantangan krisis ekonomi.

Saya juga berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada korban gempa bumi di Sichuan beberapa waktu lalu. Bantuan itu sangat berarti bagi mereka yang menjadi korban bencana alam.

Sudah berapa kali Anda mengikuti tahun baru Imlek di Surabaya? Dan apa komentar Anda?

Sudah tiga kali. Dan, yang menarik, ternyata orang-orang Tionghoa di sini cara merayakan tahun barunya justru lebih tradisional daripada kami di Tiongkok. Lebih asli di sini. Di Tiongkok sudah jauh lebih modern. Ini berarti orang-orang Tionghoa di sini mampu mempertahankan budaya leluhurnya, padahal mereka sudah tinggal selama ratusan tahun di sini.

Bisa disebutkan contoh?

Misalnya, sembahyangan kepada Dewa Dapur. Dapur-dapur di Tiongkok sekarang kan sudah modern semua. Tidak pakai tungku, kayu, dan perapian seperti dulu. Tentu saja, tradisi seperti ini mulai hilang di kota-kota di Tiongkok. Tapi di Surabaya semua ritual untuk perayaan Imlek yang tradisional masih dilakukan.

Bagaimana sebenarnya tradisi tahun baru Imlek itu?

Sederhananya, Imlek itu mengikuti kalender pertanian di Tiongkok. Sebab, selama ribuan tahun perekonomian Tiongkok itu bergantung pada pertanian. Selesai panen, para petani bergembira menyambut tahun yang baru. Mereka berharap semoga di tahun yang baru hasil panen semakin baik.

Jadi, Imlek ini selalu terkait erat dengan pertanian. Dan tanggal satu bulan satu, atau tahun baru, selalu menjadi momentum yang sangat penting. Kenapa? Setelah kerja keras selama satu tahun di berbagai daerah, petani-petani itu pulang ke kampung halaman masing-masing. Menemui orangtua, sanak saudara, keluarga... di kampung.

Selama dua minggu, tanggal 1 sampai 15 bulan baru, semua orang merayakan tahun baru bersama keluarga masing-masing.

Artinya, Anda akan pulang ke Tiongkok untuk merayakan Imlek?

Oh, tidak. Saya di sini saja. Saya sudah tiga kali ikut Imlek di sini. Hehehe...

Apa saja yang dilakukan saat tahun baru?

Pesta, makan malam bersama. Itu sangat penting. Juga pakai baju baru. Di Tiongkok ada berbagai suku, tapi tradisi memakai baju baru itu ada di mana-mana. Dan kebetulan warna merah disukai banyak orang karena terlihat lebih ceria. Ada juga pesta kembang api yang meriah, pintu-pintu ditempeli gambar Dewa Pintu. Menurut kepercayaan tradisional, ini untuk menjauhi gangguan hantu-hantu dan sebangsanya.

Setelah bertugas selama tiga tahun di sini, apa kesan Anda terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya?

Orang-orang Tionghoa itu sudah sangat lama tinggal di Indonesia. Mereka sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Tapi mereka juga ternyata mampu mempertahankan tradisi dan kebudayaan yang dibawa leluhurnya dari Tiongkok. Ini yang sangat berkesan bagi saya.

Saya tahu orang-orang Tionghoa itu sangat mencintai tanah air Indonesia karena tanah itulah yang memberi kehidupan kepada mereka. Menurut saya, bangsa Indonesia itu bangsa yang baik hati, sangat rajin, dan mudah untuk hidup rukun dengan siapa saja. Saya senang karena orang-orang Tionghoa bisa hidup dengan harmonis dengan suku-suku bangsa yang lain.

Apa kontribusi orang-orang Tionghoa dalam hubungan dengan Tiongkok?

Kontribusi mereka sangat besar, khususnya sebagai jembatan antara Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama itu sangat penting karena tidak ada negara di dunia yang bisa berdiri sendiri. Pemerintah Tiongkok selalu siap bekerja sama dengan siapa saja, termasuk dengan Indonesia. Dan orang-orang Tionghoa di Surabaya bisa berperan sebagai jembatan penghubung kedua negara.

Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan ekonomi Tiongkok maju pesat. Banyak orang Indonesia yang terkagum-kagum dengan kemajuan negara Anda. Bisa diungkapkan sedikit kiat-kiat yang dilakukan pemerintah Anda?

Begini. Perekonomian di Tiongkok itu berkembang secara ilmiah dan terencana. Ada kestabilan. Jadi, tidak bisa sangat cepat, kemudian mandek, cepat lagi, dan seterusnya. Pemerintah selalu membuat kebijakan secara ilmiah.

Investasi asing itu sangat penting. Maka, pemerintah membuat kebijakan yang membuat investor asing tertarik menanamkan modalnya di Tiongkok. Tapi, sebaliknya, pemerintah juga menciptakan iklim sedemikian rupa agar investor itu bisa untung.

Tiongkok itu punya penduduk yang sangat banyak. Dan itu berarti potensi pasarnya juga sangat besar. Sehingga, produk-produk yang dibuat bisa langsung diserap oleh pasar. Dan itu sangat membantu petumbuhan ekonomi. Kita juga melakukan training-training agar penduduk yang sangat banyak itu punya kemampuan menguasai teknologi. Kualitas sumber daya manusia ini penting karena penduduk yang banyak itu kan perlu makan, membeli pakaian, dan sebagainya.

Tiongkok juga gencar mengekspor barang-barang murah ke berbagai negara. Apakah kebijakan ini terus dipertahankan?

Kami akan mengurangi ekspor secara perlahan-lahan. Ekspor barang-barang murah itu tidak bisa dilakukan terus-menerus. Sekarang kami mengekspor barang-barang berteknologi tinggi, yang istimewa. Kami juga berusaha menaikkan impor agar ada keseimbangan antara ekspor dan impor. Intinya, kebijakan ini untuk menjaga stabilitas ekonomi di Tiongkok.


Suka Nasi Goreng Ikan AsinTIDAK terasa hampir tiga tahun Fu Shuigen bertugas sebagai konsul jenderal (konjen) Tiongkok di Surabaya. Dia merasa cocok dan makin betah tinggal di kota ini meskipun belum bisa berbahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

"Saya hanya bisa kata-kata sederhana seperti selamat pagi atau terima kasih," ujar Fu seraya tersenyum.

Maklum, sebagai diplomat, setiap hari Fu Shuigen selalu menggunakan bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Orang-orang Surabaya yang berurusan dengan Konjen Tiongkok di Jalan Mayjen Sungkono pun rata-rata bisa berbahasa Mandarin. Ini yang rupanya membuat kemampuan berbahasa Indonesia Mr Fu--sapaan akrabnya tidak berkembang.

Sejak ditempatkan di Surabaya pada 1996, Mr Fu tak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Termasuk dengan makanan-makanan yang ada di Surabaya. "Saya sangat suka makanan di sini. Cita rasanya pas. Jadi, saya bisa makan apa saja," ujar pria 58 tahun ini.

Namun, melalui penerjemahnya, Mr Fu menyebut beberapa makanan favoritnya di Surabaya. Ayam goreng, nasi goreng, daging sapi, dan kerupuk udang. "Kalau nasi goreng ikan asin itu hampir sama dengan di Tiongkok. Rasanya enak banget," ujar ayah satu anak itu. (Tiongkok memang mewajibkan warga negaranya hanya boleh mempunyai satu anak untuk menekan pertambahan penduduk).

Ketika berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Mr Fu tak lupa menjajal makanan setempat. Betapa terkejutnya dia menjumpai cabai rawit yang sangat pedas. "Wah, ukurannya kecil saja, tapi pedasnya minta ampun. Saya sampai gak tahan," cerita Fu Shui Gen.

Selain makanan-makanan favorit, Mr Fu tak lupa melakoni hobi lamanya: berenang. Jika ada waktu luang, misalnya libur akhir pekan, dia memanfaatkan kesempatan untuk berenang. "Dan itu tidak sulit karena di sekitar sini (Jalan Mayjen Sungkono) banyak kolam renang. Saya bisa berenang di mana saja," akunya.

FU SHUIGEN

Lahir: Zhang, Meizhen, 12 Maret 1950
Istri: Zhang Meizhen
Anak: Fu Qingna
Hobi: Berenang

Makanan Favorit: Nasi goreng.
Jabatan: Konjen Tiongkok di Surabaya
Alamat: Jalan Mayjen Sungkono Surabaya
Wilayah Tugas: Jawa Timur, Bali, NTB, NTT.
Mulai Bertugas:2006

2 comments:

  1. Mas Hurek,

    Gong Xi Fa Cai!

    Saya baru tulis ttg Perayaan Tahun Baru Imlek di temapt saya. Silakan mampir...siapa tahu tertarik! :)

    ReplyDelete
  2. carilah ilmu sampai ke negeri cina. cina emang hebat.

    ReplyDelete