13 January 2009

Errol Jonathans dan Keluarga



Oleh Agnes Lyta Isdiana

Siapa tak kenal Errol Jonathans? Pria 50 tahun ini tak bisa lepas dari cerita sukses Radio Suara Surabaya, salah satu news radio terbaik di Indonesia. Setiap saat selain laporan reporter, masyarakat pun bebas menyampaikan laporan atau opini tentang apa saja.


Pola interaktif ini tak lepas dari ide cemerlang Errol Jonathans. Ketika radio-radio lain pada 1980-an masih asyik dengan pilihan pendengar, tangga lagu pop, sandiwara radio Brama Kumbara atau Mak Lampir, Errol mengusung konsep interaktif ke Radio Suara Surabaya.

Karena menjadi trend setter, radio ini lebih sukses ketimbang radio-radio pengikutnya. Di mana-mana epigon selalu kalah, bukan?

Nah, Pak Errol sendiri mengatakan, keberhasilan ini tak lepas dari dukungan istri tercinta, Bernadetta Nunung Parman (53). Nunung sungguh berperan dalam mengatasi masa-masa sulit pada awal pernikahan. Maklum, waktu itu Errol belum punya apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa.

Pindah-pindah rumah kontrakan, membesarkan anak, membangun keluarga dilakukan Nunung sambil memberi ruang bagi suami untuk berkarier di dunia jurnalistik. Pahit manisnya kehidupan, lika-liku perkawinan, membuat pasangan ini kompak luar dalam. Errol dan Nunung dikaruniai dua anak: Mattthieu Errol Jonathans (21) dan Damien Errol Jonathans (17).

''Saya bertemu dengan Nunung saat masih kuliah,'' cerita Errol Jonathans. Nunung disebutnya pemberani, suka bepergian sendiri ke luar kota. Mereka berpacaran selama lima tahun sebelum akhirnya dibawa Errol Jonathans ke altar pernikahan di gereja.

Errol Jonathans dan keluarga tergolong religius. Di sela-sela kesibukan mengurus Radio Suara Surabaya, mereka selalu berziarah ke tempat-tempat suci, termasuk yang di luar negeri. Errol pun sangat giat mendukung kegiatan-kegiatan gerejawi, khususnya yang dilakukan anak-anak muda.

''Saya siap diundang kapan saja kalau kalian merasa bahwa pendapat saya dibutuhkan,'' ujar Errol Jonathans dalam berbagai kesempatan.

Tak heran, dia kerap diminta menatar romo-romo atau umat Katolik yang bergerak di bidang media komunikasi. ''Bicara sama Pak Errol itu ibarat menimba sumur yang airnya tidak pernah habis. Ada-ada saja ide baru dan segar,'' kata Dewa Made, aktivis media komunikasi di Keuskupan Surabaya.

Errol bercerita, Nunung pernah 'nekat' berziarah sendirian ke Vatikan dan berjumpa Paus Yohanes Paulus II. Ini merupakan titik balik dalam kehidupan rohani Nunung. Kehidupan keluarga menjadi lebih baik. ''Saya merasa semakin dekat dengan Tuhan. Dan dilimpahi berkat yang melimpah,'' tutur Nunung.

Masalah terbesar yang dihadapi pasangan suami-istri ini tatkala kedua anak beranjak remaja. Kebersamaan dalam keluarga mulai luntur. Matthieu kuliah di Australia, sedangkan Damien sekolah di SMAK Dempo Malang. Apa boleh buat, mereka hanya bisa berkomunikasi via telepon, SMS, atau e-mail.

''Yah, anak-anak sekarang memang lebih dekat dengan teman-temannya ketimbang orang tua. Beda dengan anak-anak zaman dulu,'' kata pasutri yang diberkati pernikahannya pada 26 April 1986 oleh Uskup Surabaya Mgr. Aloysius Joseph Dibjokarjono (almarhum) itu.

Ada empat kunci sukses keluarga ini:

1. Saling menghargai.

2. Saling mencintai.

3. Saling mempercayai.

4. Dekat dengan Tuhan.

''Kadang saya cemburu dengan karier Pak Errol. Tapi saya juga bangga karena ini adalah buah dari ketekunannya selama sekian tahun bergelut dengan dunia media,'' pungkas Nunung.

No comments:

Post a Comment