19 January 2009

Dede Oetomo Bahas Tionghoa



Sebagai Tionghoa peranakan, Oen Tiong Hau--yang lebih dikenal dengan Dede Oetomo--tidak suka bicara tentang uang atau kekayaan. Dia justru lebih suka diskusi, terlibat kegiatan-kegiatan yang menantang, ketimbang berdagang. "Saya memang Tionghoa, tapi gak punya bakat dagang. Saya juga malas kalau diajak bicara soal dagang dan uang," tegasnya.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek


Menjelang tahun baru Imlek 2560 ini, kami menemui Dede Oetomo PhD di kediamannya, kawasan Citraland Surabaya. Dede Oetomo mengupas kehidupan orang Tionghoa di Indonesia selama 10 tahun reformasi. Berikut petikannya:

Anda tinggal sendiri di rumah ini?

Iya. Dan, menurut saya, ke depan semakin banyak orang Indonesia yang hidup sendiri kayak begini. Saya baru lima tahun di Citraland. Banyak hal yang bisa saya kerjakan di sini.

Kita bicara tentang Imlek. Bagaimana Anda melihat suasana perayaan yang makin semarak?

Menurut saya, sangat istimewa karena Imlek baru dinyatakan sebagai hari libur nasional pada 2002. Libur Nyepi dan Waisyak ditetapkan tahun 1983. Meskipun baru lima tahun, Imlek terkesan paling semarak, paling istimewa. Saya sih berharap, jangan sampai orang Tionghoa terlalu diistimewakan.

Mengapa?

Orang Tionghoa itu kan macam-macam. Dan tidak semua merayakan Imlek. Orang Tionghoa yang Protestan atau Bethany kan sangat banyak. Mereka tidak merayakan Imlek karena ajaran agamanya demikian. Kakek dan nenek saya saja berhenti merayakan Imlek pada tahun 1950-an.

Anda harus tahu bahwa orang Tionghoa itu sangat heterogen. Ada yang pernakan kayak saya, ada yang totok, bahasanya juga macam-macam. Mereka sudah hidup selama ratusan tahun di Indonesia. Saya sendiri generasi kelima. Kebudayaannya ya tidak akan sama dengan yang di Tiongkok sana.

Artinya, konsep nasionalisme yang lama tidak relevan lagi?

Sekarang ini dunia sudah berubah sedemikian pesat. Kewarganagaraan tidak lagi dilihat dari keturunan, darah, biologis. Yang jelas, orang dipengaruhi oleh kebudayaan di mana dia tinggal.

Jutaan orang Jawa yang bekerja dan tinggal selama bertahun-tahun di Malaysia itu apakah orang Malaysia? Apakah tetap orang Indonesia? Kita akan sulit menjawab. Yang jelas, mereka tetap membawa kultur Jawa, tapi juga dipengaruhi oleh bahasa dan kebudayaan Malaysia. Kalau mau jujur, sekarang ini kewarganegaraan itu hanya untuk kepentingan pajak atau uang. Hehehe....

Orang-orang Tionghoa di sini juga ikut demo anti-Soeharto, karena dia punya kepentingan yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain. Sebaliknya, Hu Jin Tao (perdana menteri Tiongkok, Red) mau ngapain aja, ya, orang Tionghoa Indonesia gak mau tahu. Gak urusan. Ketika rakyat Tibet diserang oleh tentara Tiongkok, saya sendiri membela rakyat Tibet. Saya dimaki-maki di internet. Ya, biarin aja. Sebab, saya gak punya urusan dengan Tiongkok.

Bagaimana dengan generasi muda Tionghoa sekarang?

Cara berpikir mereka lain sekali dengan generasi-generasi sebelumnya. Anak-anak muda itu sudah tidak peduli dengan identitas Tionghoanya. Bahkan, mereka umumnya sudah tidak bisa berbahasa Tionghoa dan tidak terlibat dalam kebudayaan Tionghoa.

Mereka justru ikut serta dalam industri musik, bikin band kayak Nidji, Ungu, dan sebagainya. Lunturnya identitas Tionghoa itu mulai terasa sejak 1970-an dan 1980-an. Dulu, kita seakan-akan bermusuhan dengan Tiongkok. Itu sebenarnya hanya efek dari perang dingin saja. Setelah perang dingin berakhir, ya, semuanya cair.

Rupanya Anda puas dengan hasil reformasi, khususnya dalam kaitan dengan Tionghoa?

Secara umum sudah benar. Kebebasan berpolitik, berekspresi, merayakan Imlek, lahirnya Undang-Undang Kewarganegaraan... sudah kita nikmati. Imlek bukan hanya dirayakan orang Tionghoa, tapi warga global. Dulu, yang begini ini tidak pernah kita bayangkan.

Saya selalu membandingkan demokrasi di Indonesia dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Kita jauh lebih maju meskipun tentu saja masih ada kekurangan. Tinggal kita memperbaiki dan terus melakukan pengawalan. Saya juga senang karena sekarang semakin banyak orang Tionghoa yang jadi caleg. Memang kalau ingin memperbaiki kehidupan politik, ya, mau tidak mau orang Tionghoa harus masuk dalam sistem politik. Dan peluang untuk itu sangat terbuka.

Bagaimana dengan kesenjangan ekonomi? Selama ini dianggap salah satu faktor yang memicu konflik SARA di tanah air?

Secara alamiah akan terjadi keseimbangan jika semua warga negara, apa pun latar belakangnya, diberi kesempatan yang sama. Kalau dulu orang terkaya di Indonesia selalu Liem Sioe Liong, sekarang digeser oleh Aburizal Bakrie dengan Grup Bakrie-nya. Orang-orang Jawa, Madura, Batak, Sunda... sekarang pun ramai-ramai bermain di sekuritas. Padahal, itu dulu mainannya orang-orang Tionghoa.

Yang membuat kesenjangan sosial itu kan Soeharto yang memberikan fasilitas istimewa kepada Liem Sioe Liong dan teman-temannya. Siapa pun dia, kalau dikasih fasilitas, ya akan kaya-raya. Karena itu, saya tidak pernah bangga dengan orang Tionghoa yang kaya karena fasilitas. Saya lebih menghargai orang Tionghoa yang punya ide dan kemudian memperjuangkan idenya itu. Stereotype bahwa orang Tionghoa itu economic animal harus ditinggalkan.


Andalkan Jaringan Gay dan PSK

TAK banyak orang Tionghoa yang berani 'main politik' selama era Orde Baru. Salah satu dari yang sedikit itu Oen Tiong Hauw alias Dede Oetomo. Sebagai dosen Universitas Airlangga dan aktivis prodemokrasi, Dede sangat aktif mengikuti diskusi dan kegiatan untuk mendelegitimasi pemerintahan Soeharto.

"Sebab, Orde Baru itu totaliter, antidemokrasi," kata Dede Oetomo. Digoyang terus-menerus, khususnya pada era 1990-an, rezim Orde Baru pun ambruk. Datanglah era reformasi yang ditandai kebebasan politik sejak 1998.

Dede yang tadinya sudah aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD) akhirnya didorong teman-temannya masuk ke dalam sistem. Peluang itu diperoleh pada 2004. Dia ikut mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tentu saja, Dede mengandalkan jaringan yang sudah dibina selama bertahun-tahun seperti PRD (dan onderbouw-nya), organisasi transgender, LSM, hingga aktivis pembela pekerja seks.

Maka, menjelang Pemilu 2004 poster wajah Dede Oetomo banyak dijumpai di berbagai lokalisasi. Hasilnya lumayan. "Saya mendapat 235 ibu suara. Tidak cukup untuk ke Senayan karena harus bisa dapat jutaan," kenang Dede lalu tertawa kecil.

Mengapa pada Pemilu 2009 ini Dede Oetomo enggan maju lagi? Menurut dia, situasi 2004 sangat berbeda dengan 2009. Lima tahun lalu dia punya banyak waktu luang, sehingga masih sempat melakukan kerja politik. Kalaupun ada pekerjaan, bisa ditinggalkan atau didelegasikan kepada teman-temannya.

"Sekarang ini, meskipun sudah tidak mengajar di Airlangga, pekerjaan saya justru bertumpuk-tumpuk. Dan itu tidak bisa ditinggalkan," kata pria 55 tahun ini.

Selain itu, berdasar pengalaman teman-temannya, untuk masuk ke parlemen itu perlu dukungan dana yang sangat kuat. Bisa ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. "Saya tidak menyebut money politics. Tapi ini merupakan dampak nyata dari politik palementer yang berlaku sekarang," tegasnya.



DEDE OETOMO

Nama Tionghoa: Oen Tiong Hauw
Lahir: Pasuruan, 6 Desember 1953

Pendidikan:
SD Adisucipto Pasuruan
SMP Adisucipto Pasuruan
SMA Frateran Surabaya
IKIP Malang
IKIP Surabaya
Cornell University, USA

Pekerjaan:
Dosen Universitas Airlangga (mantan)
Peneliti freelance
Pokja Komisi Penanggulangan AIDS
Pendiri dan Penasihat GAYa Nusantara

DIMUAT Radar Surabaya edisi Minggu 18 Januari 2009

1 comment:

  1. Kalau sekarang mah tidak perlu lagi dibedakan, masih pikirin ini?.. kita kesulitan menghadapi krisis.. makasih artikelnya..
    http://standarpenilaian.blogspot.com/

    ReplyDelete