14 January 2009

Dahlan Iskan Menegakkan Akal Sehat


Wartawan Indonesia rata-rata menulis tiga sampai lima berita per hari. Tapi adakah tulisan-tulisan itu digemari, ditunggu-tunggu, pembaca? Saya pastikan hampir tidak ada.

Apalagi kalau berita itu hasil kloning, minta-minta dari sesama wartawan, atau copy-paste dari internet. Tak akan ada nilai lebih bagi siapa pun. ''Sekarang ini tulisan wartawan kita hancur-hancuran. Gak ada yang kena dibaca,'' kritik beberapa seniman dalam beberapa kali diskusi di Balai Pemuda Surabaya.

Dahlan Iskan, wartawan senior, chairman Grup Jawa Pos, bukanlah tipe wartawan ecek-ecek itu. Tulisan-tulisannya selalu ditunggu pembaca. Apa saja yang ditulis Pak Dahlan--membahas masalah kecil sampai luar biasa besar macam kasus Bernie di USA--selalu menarik. Lebih tepatnya: sangat, sangat, sangat menarik.

Ibarat pendekar Tiongkok, Dahlan Iskan itu sudah menguasai semua jurus silat dengan sempurna. Tak sekadar menguasai, Pak Bos asal desa pelosok di Magetan ini bisa menciptakan jurus-jurus baru kapan saja dia kehendaki. Dan selalu menarik diikuti.

''Saya itu langganan koran Jawa Pos, tapi jarang baca sampai selesai. Saya hanya punya waktu tujuh menit karena sibuk. Tapi, kalau ada tulisan Dahlan Iskan, saya pasti baca sampai tuntas,'' kata seorang dokter senior kepada saya.

Kata-kata macam ini sering saya dengar dari banyak orang. Akhirnya, saya merenung sendiri: ada apa dengan wartawan-wartawan sekarang yang perkakasnya canggih-canggih itu? Laptop, kamera canggih, perekam digital, komputer pentium sekian, internet... dan aneka kemudahan lain.

Setiap kali saya membimbing mahasiswa-mahasiswa yang magang reporter, saya juga selalu minta agar mereka belajar dari tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Bahkan, buku-buku kumpulan tulisan Pak Dahlan yang diterbitkan JP Books selalu saya jadikan kado untuk mahasiswa-mahasiswa magang di Radar Surabaya.

''Saya tidak perlu kasih teori macam-macam tentang cara menulis berita. Anda cukup baca dan belajar dari tulisan Pak Dahlan Iskan,'' ujar saya kepada Rima Maduwati dan Nur Aini Wahidah, dua mahasiswa UPN Veteran, yang baru-baru ini menjadi 'anak asuh' saya di Radar Surabaya.

Nah, buku MENEGAKKAN AKAL SEHAT, terbitan JP Books Surabaya, 2008, untuk kesekian kalinya memperlihatkan kejeniusan Dahlan Iskan. Ini kumpulan catatan ringan Dahlan Iskan yang dimuat di Radar Surabaya pada Maret-April 2008 lalu.

Sesuai dengan tema, Akal Sehat, Pak Dahlan mengangkat cerita-cerita sederhana yang terjadi (hampir) tiap hari di masyarakat. Melawan akal sehat, tapi kita menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Misal: pesawat yang sering telat, antrean yang kacau di Bandara Juanda (dan bandara-bandara lain di Indonesia), budaya suap wasit di sepakbola, bahan bakar minyak, pidato yang bikin ngantuk, Adam Air, hingga kereta peluru Tiongkok.

''Akal sehat yang tidak pernah digunakan lama-lama akan mati juga. Lalu, lama-lama sesuatu yang tidak masuk akal sehat dikira sudah sehat. Lama-lama lagi, orang yang berakal sehat menjadi kelihatan aneh sendirian...,'' tulis Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan memang pendekar akal sehat. Namun, sebagai orang Jawa Timur, dia juga bersikap realistis. Sing waras ngalah! Selama menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Pak Dahlan tidak mau menerima gaji. Alasannya:

''... karena MPR saat itu memang tidak perlu melakukan kerja apa-apa, kecuali lima tahun sekali memilih presiden. Itu pun sudah tinggal bekerja sekali saja, yakni membuka mulut untuk berteriak SETUJU'' (halaman 54).

Tapi, suatu ketika, ada orang datang ke kantor menawarkan jasa untuk mengambil gaji rapelan anggota MPR selama lima tahun. Orang itu, tulis Pak Dahlan, mengiba-iba, pakai alasan kemanusiaan segala. Padahal, motif aslinya, ya, ingin dapat komisi.

''Maka, kali ini akal sehat saya kalah. Akal sehat bahwa orang yang tidak bekerja tidak boleh menerima gaji kalah dengan rasa iba melihat persoalan hidup manusia. Saya minta maaf kepada akal sehat saya," tulis Dahlan Iskan.



Anda ingin memiliki buku MENEGAKKAN AKAL SEHAT?

Hubungi JP Books
Jalan Karah Agung 45 Surabaya
Telepon (031) 828 9999 psw. 156
Faksimili (031) 828 1004

2 comments:

  1. Nah itu dia Mas Hurek,
    Yang namanya akal sehat atawa common sense itu udah mulai jadi barang langka ya di bumi tempat kita berpijak ini, ap ajangan2 saya termasuk salah satunya ya yg hihihi...kehilangan akal sehat yg rumusnya wajib...Well, life is learning kata Tuan Mister... Nice 2 read this post mas Hurek, (moga2 Mas bisa semakin menitiskan semangat Pak Dahlan Iskan dalam tulisan2 ngana ya...

    E v a n

    ReplyDelete
  2. Salam dari rakyat yang terlanjut ikut hilang akal sehat karena susah menggunakan akal sehat di negeri yang penuh ironi ini.

    Oh ya Cak, aku juga minta ijin telah mencatut foto bos sampeyan, Dahlan Iskan, di blog saya.

    Kebetulan dia tetangga sekampung saya. Sebagai tetangga tentunya saya kenal sekali dia, tapi dia tidak kenal saya he he he...

    ReplyDelete