28 January 2009

Fu Shuigen, Konjen Tiongkok di Surabaya



Setelah reformasi, perayaan tahun baru Imlek terasa semakin meriah dari tahun ke tahun. Hampir semua tempat hiburan, hotel, restoran, pusat perbelanjaan seakan berlomba merayakan pergantian tahun Tionghoa itu.

Kesemarakan Imlek di Surabaya juga dirasakan Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok di Surabaya Fu Shuigen. Saat diwawancarai di kantornya, Jumat (23/1/2009) siang, Mr Fu mengaku terkesan dengan tradisi Imlek di Indonesia serta kehidupan yang harmonis di tanah air. Berikut petikannya:

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Mr Fu, selamat tahun baru! Gong Xi Fa Cai!

Terima kasih. Saya juga menggunakan kesempatan yang baik ini untuk menyampaikan selamat tahun baru Imlek kepada warga Tionghoa di Surabaya dan semua sahabat di wilayah kerja saya, Jatim, Bali, NTT, NTB. Mudah-mudahan kita lebih sukses dan sejahtera di tahun baru, khususnya sukses mengatasi tantangan krisis ekonomi.

Saya juga berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada korban gempa bumi di Sichuan beberapa waktu lalu. Bantuan itu sangat berarti bagi mereka yang menjadi korban bencana alam.

Sudah berapa kali Anda mengikuti tahun baru Imlek di Surabaya? Dan apa komentar Anda?

Sudah tiga kali. Dan, yang menarik, ternyata orang-orang Tionghoa di sini cara merayakan tahun barunya justru lebih tradisional daripada kami di Tiongkok. Lebih asli di sini. Di Tiongkok sudah jauh lebih modern. Ini berarti orang-orang Tionghoa di sini mampu mempertahankan budaya leluhurnya, padahal mereka sudah tinggal selama ratusan tahun di sini.

Bisa disebutkan contoh?

Misalnya, sembahyangan kepada Dewa Dapur. Dapur-dapur di Tiongkok sekarang kan sudah modern semua. Tidak pakai tungku, kayu, dan perapian seperti dulu. Tentu saja, tradisi seperti ini mulai hilang di kota-kota di Tiongkok. Tapi di Surabaya semua ritual untuk perayaan Imlek yang tradisional masih dilakukan.

Bagaimana sebenarnya tradisi tahun baru Imlek itu?

Sederhananya, Imlek itu mengikuti kalender pertanian di Tiongkok. Sebab, selama ribuan tahun perekonomian Tiongkok itu bergantung pada pertanian. Selesai panen, para petani bergembira menyambut tahun yang baru. Mereka berharap semoga di tahun yang baru hasil panen semakin baik.

Jadi, Imlek ini selalu terkait erat dengan pertanian. Dan tanggal satu bulan satu, atau tahun baru, selalu menjadi momentum yang sangat penting. Kenapa? Setelah kerja keras selama satu tahun di berbagai daerah, petani-petani itu pulang ke kampung halaman masing-masing. Menemui orangtua, sanak saudara, keluarga... di kampung.

Selama dua minggu, tanggal 1 sampai 15 bulan baru, semua orang merayakan tahun baru bersama keluarga masing-masing.

Artinya, Anda akan pulang ke Tiongkok untuk merayakan Imlek?

Oh, tidak. Saya di sini saja. Saya sudah tiga kali ikut Imlek di sini. Hehehe...

Apa saja yang dilakukan saat tahun baru?

Pesta, makan malam bersama. Itu sangat penting. Juga pakai baju baru. Di Tiongkok ada berbagai suku, tapi tradisi memakai baju baru itu ada di mana-mana. Dan kebetulan warna merah disukai banyak orang karena terlihat lebih ceria. Ada juga pesta kembang api yang meriah, pintu-pintu ditempeli gambar Dewa Pintu. Menurut kepercayaan tradisional, ini untuk menjauhi gangguan hantu-hantu dan sebangsanya.

Setelah bertugas selama tiga tahun di sini, apa kesan Anda terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya?

Orang-orang Tionghoa itu sudah sangat lama tinggal di Indonesia. Mereka sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Tapi mereka juga ternyata mampu mempertahankan tradisi dan kebudayaan yang dibawa leluhurnya dari Tiongkok. Ini yang sangat berkesan bagi saya.

Saya tahu orang-orang Tionghoa itu sangat mencintai tanah air Indonesia karena tanah itulah yang memberi kehidupan kepada mereka. Menurut saya, bangsa Indonesia itu bangsa yang baik hati, sangat rajin, dan mudah untuk hidup rukun dengan siapa saja. Saya senang karena orang-orang Tionghoa bisa hidup dengan harmonis dengan suku-suku bangsa yang lain.

Apa kontribusi orang-orang Tionghoa dalam hubungan dengan Tiongkok?

Kontribusi mereka sangat besar, khususnya sebagai jembatan antara Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama itu sangat penting karena tidak ada negara di dunia yang bisa berdiri sendiri. Pemerintah Tiongkok selalu siap bekerja sama dengan siapa saja, termasuk dengan Indonesia. Dan orang-orang Tionghoa di Surabaya bisa berperan sebagai jembatan penghubung kedua negara.

Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan ekonomi Tiongkok maju pesat. Banyak orang Indonesia yang terkagum-kagum dengan kemajuan negara Anda. Bisa diungkapkan sedikit kiat-kiat yang dilakukan pemerintah Anda?

Begini. Perekonomian di Tiongkok itu berkembang secara ilmiah dan terencana. Ada kestabilan. Jadi, tidak bisa sangat cepat, kemudian mandek, cepat lagi, dan seterusnya. Pemerintah selalu membuat kebijakan secara ilmiah.

Investasi asing itu sangat penting. Maka, pemerintah membuat kebijakan yang membuat investor asing tertarik menanamkan modalnya di Tiongkok. Tapi, sebaliknya, pemerintah juga menciptakan iklim sedemikian rupa agar investor itu bisa untung.

Tiongkok itu punya penduduk yang sangat banyak. Dan itu berarti potensi pasarnya juga sangat besar. Sehingga, produk-produk yang dibuat bisa langsung diserap oleh pasar. Dan itu sangat membantu petumbuhan ekonomi. Kita juga melakukan training-training agar penduduk yang sangat banyak itu punya kemampuan menguasai teknologi. Kualitas sumber daya manusia ini penting karena penduduk yang banyak itu kan perlu makan, membeli pakaian, dan sebagainya.

Tiongkok juga gencar mengekspor barang-barang murah ke berbagai negara. Apakah kebijakan ini terus dipertahankan?

Kami akan mengurangi ekspor secara perlahan-lahan. Ekspor barang-barang murah itu tidak bisa dilakukan terus-menerus. Sekarang kami mengekspor barang-barang berteknologi tinggi, yang istimewa. Kami juga berusaha menaikkan impor agar ada keseimbangan antara ekspor dan impor. Intinya, kebijakan ini untuk menjaga stabilitas ekonomi di Tiongkok.


Suka Nasi Goreng Ikan AsinTIDAK terasa hampir tiga tahun Fu Shuigen bertugas sebagai konsul jenderal (konjen) Tiongkok di Surabaya. Dia merasa cocok dan makin betah tinggal di kota ini meskipun belum bisa berbahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

"Saya hanya bisa kata-kata sederhana seperti selamat pagi atau terima kasih," ujar Fu seraya tersenyum.

Maklum, sebagai diplomat, setiap hari Fu Shuigen selalu menggunakan bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Orang-orang Surabaya yang berurusan dengan Konjen Tiongkok di Jalan Mayjen Sungkono pun rata-rata bisa berbahasa Mandarin. Ini yang rupanya membuat kemampuan berbahasa Indonesia Mr Fu--sapaan akrabnya tidak berkembang.

Sejak ditempatkan di Surabaya pada 1996, Mr Fu tak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Termasuk dengan makanan-makanan yang ada di Surabaya. "Saya sangat suka makanan di sini. Cita rasanya pas. Jadi, saya bisa makan apa saja," ujar pria 58 tahun ini.

Namun, melalui penerjemahnya, Mr Fu menyebut beberapa makanan favoritnya di Surabaya. Ayam goreng, nasi goreng, daging sapi, dan kerupuk udang. "Kalau nasi goreng ikan asin itu hampir sama dengan di Tiongkok. Rasanya enak banget," ujar ayah satu anak itu. (Tiongkok memang mewajibkan warga negaranya hanya boleh mempunyai satu anak untuk menekan pertambahan penduduk).

Ketika berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Mr Fu tak lupa menjajal makanan setempat. Betapa terkejutnya dia menjumpai cabai rawit yang sangat pedas. "Wah, ukurannya kecil saja, tapi pedasnya minta ampun. Saya sampai gak tahan," cerita Fu Shui Gen.

Selain makanan-makanan favorit, Mr Fu tak lupa melakoni hobi lamanya: berenang. Jika ada waktu luang, misalnya libur akhir pekan, dia memanfaatkan kesempatan untuk berenang. "Dan itu tidak sulit karena di sekitar sini (Jalan Mayjen Sungkono) banyak kolam renang. Saya bisa berenang di mana saja," akunya.

FU SHUIGEN

Lahir: Zhang, Meizhen, 12 Maret 1950
Istri: Zhang Meizhen
Anak: Fu Qingna
Hobi: Berenang

Makanan Favorit: Nasi goreng.
Jabatan: Konjen Tiongkok di Surabaya
Alamat: Jalan Mayjen Sungkono Surabaya
Wilayah Tugas: Jawa Timur, Bali, NTB, NTT.
Mulai Bertugas:2006

26 January 2009

Tionghoa Dulu dan Sekarang



BOCAH TIONGHOA: 20 tahun lagi dia jadi juragan kaya.

Oleh DAHLAN ISKAN
Sumber: Jawa Pos 26 Januari 2009

Waktu itu belum ada negara yang disebut Indonesia, atau Malaysia, atau Singapura. Tiga negara itu masih jadi satu kesatuan wilayah ekonomi dan budaya. Kalau ada orang dari Tiongkok yang mau merantau ke wilayah itu, apa istilahnya?


Tentu tidak ada istilah "mau pergi ke Indonesia". Atau "mau pergi ke Malaysia". Mereka menyebutkan dengan satu istilah dalam bahasa Mandarin: xia nan yang. Artinya, kurang lebih, turun ke laut selatan.

Wilayah yang disebut "nan yang" itu bukan satu kesatuan dan bukan pula satu tempat tertentu. Kalau ditanya xia nan yang-nya ke mana? Barulah ditunjuk satu nama tempat yang lebih spesifik. Misalnya, akan ke Ji Gang (maksudnya Palembang). Mereka tidak tahu nama Palembang, tapi nama Ji Gang terkenalnya bukan main.

Maklum, Ji Gang adalah salah kota terpenting yang harus didatangi misi Laksamana Cheng He (Cheng Ho). Ji Gang (artinya pelabuhan besar) memang jadi tempat tujuan utama siapa pun yang xia nan yang.

Kalau tidak ke Ji Gang, mereka memilih ke San Bao Long. Maksudnya: Semarang. Atau ke San Guo Yang, maksudnya Singkawang. Atau ke Ye Chen, maksudnya Jakarta. Atau Wan Long, maksudnya, Bandung. Mereka tidak tahu nama-nama kota di wilayah nan yang seperti nama yang dikenal sekarang. Semua kota dan tempat yang mereka tuju bernama Mandarin.

Gelombang xia nan yang itu sudah terjadi entah berapa ratus tahun lalu, bahkan ribu tahun lalu. Bahkan, saya tidak tahu mana nama yang digunakan lebih dulu: Palembang atau Ji Gang. Pontianak atau Kun Tian. Surabaya atau Si Shui. Banjarmasin atau Ma Chen.

Migrasi itu berlangsung terus, sehingga ada orang Tionghoa yang sudah ratusan tahun di wilayah nan yang, ada juga yang baru puluhan tahun. Waktu kedatangan mereka yang tidak sama itulah salah satu yang membedakan antara satu orang Tionghoa dan Tionghoa lainnya.

Maka, masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana. Lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang.

Yang disebut peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia. Sedangkan yang hollands spreken adalah yang -di mana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok..

Yang peranakan umumnya bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Mereka berbahasa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, dan bahasa di mana mereka tinggal. Mereka menyekolahkan anaknya juga tidak harus di sekolah Tionghoa.

Saya pernah menghadiri peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung di Hongkong yang diselenggarakan masyarakat Hongkong kelahiran Bandung. Meski sudah puluhan tahun bukan lagi WNI, tapi di pertemuan itu hampir semua bicara dalam bahasa Sunda.

Yang hollands spreken umumnya menjadi direktur dan manajer perusahaan besar yang waktu itu semuanya memang milik Belanda. Atau jadi pengacara, notaris, akuntan, dan profesi sejenis itu yang umumnya memang memerlukan keterampilan bahasa Belanda. Ini karena mereka harus melayani keperluan dalam sistem hukum yang berbahasa Belanda dengan aparatur yang juga orang Belanda.

Sedang yang totok, umumnya menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong. Lalu jadi pemilik bengkel kecil. Lama-kelamaan mereka inilah yang memiliki pabrik-pabrik.

Karena kesulitan berbahasa (Belanda, Indonesia, maupun bahasa daerah) golongan totok menjadi "tersingkir" dari pergaulan formal yang umumnya menggunakan tiga bahasa itu.

Sebagai golongan yang terpinggirkan, orang totok harus bekerja amat keras untuk bisa bertahan hidup. Pada mulanya mereka tidak bisa bekerja di pabrik karena tidak "nyambung" dengan bahasa di pabrik. Mereka juga tidak bisa bertani karena untuk bertani memerlukan hak atas tanah.

Mereka hanya bisa berdagang kelontong dari satu kampung ke kampung lain dan dari satu gang ke gang yang lain. Kalau toh mencari uang dari pabrik, bukan secara langsung namun hanya bisa berjualan di luar pagarnya: menunggu karyawan pabrik bubaran kerja.

Golongan peranakan lebih kaya, tapi status sosialnya masih kelas dua. Status sosial tertinggi adalah golongan hollands spreken. Sedangkan status sosial terendah adalah totok. Anak-anak golongan hollands spreken umumnya harus kawin dengan yang hollands spreken. Yang peranakan dengan peranakan. Demikian pula yang totok dengan totok.

"Kalau kamu kawin sama anak totok, nanti kamu makan pakai sumpit," kata-kata orang tua si hollands spreken. "Kalau kawin dengan peranakan, nanti kamu makan pakai tangan."

Sedangkan orang totok biasa menghalangi anaknya kawin dengan hollands spreken dengan kata-kata, "Kamu nanti jadi orang yang tidak tahu adat." Atau, "tidak mau lagi menghormati leluhur."

Yang hollands spreken umumnya menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa Belanda. Atau mengirim anak mereka ke Holland atau Jerman. Yang peranakan mengirim anaknya ke sekolah terdekat, termasuk tidak masalah kalau harus ke sekolah negeri. Yang totok menyekolahkan anaknya ke sekolah berbahasa Tionghoa. Semua itu terjadi dulu.

Bagaimana sekarang?

Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi ''tumbal'' untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal ''zaman baru'' bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama ''totok, peranakan, dan Hollands spreken'' sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. Kawin-mawin antartiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali.

Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren?

Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin?

Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti ''orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia''. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan ''nonpri'' atau ''cina''.

Saya sebagai ''juawa ren'' (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut ''cina'' tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina.

Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata ''cina''. Mengapa harus diubah-ubah?

Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa ''menyudutkan'' dan ''menghinakan''. Mereka akan selalu bilang bahwa ''kami tidak merasa seperti itu''. Atau, mereka akan mengatakan ''Ah, itu mengada-ada''. Bahkan, ada yang bilang, ''Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan''.

Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu. Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata ''cina'' bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk ''menyudutkan'' ras tersebut. Yakni, untuk ''mencina-cinakan'' mereka dalam konotasi yang semuanya jelek.

Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil ''cina'' juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan orang ''cina'' yang dulunya berasal dari luar wilayah itu? Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti ''cina''? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti?

Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: ''Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya''.

Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang ''cina'' yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa. Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil ''cina''. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil?

Mengapa kita harus memanggil ''si gendut'' untuk orang gemuk atau ''si botak'' terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan ''si kerbau'' meski dia memang terbukti bodoh?

Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima.

Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih ''women zhong guo ren''? Atau ''hua ren''? Atau ''Yin Ni Hua Ren''? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan ''guo nei''?

Kompetisi Paduan Suara Keuskupan Surabaya



Uskup Surabaya Mgr. Sutikno Wisaksono bersama sang juara umum dari Paroki Ngagel Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Minggu 25 Januari 2009.

Saya menyaksikan 24 paduan suara [selanjutnya saya sebut saja KOR, lebih singkat dan umum, bukan CHOIR yang bahasa Inggris yang kini lebih sering dipakai teman-teman yang sok English itu] tampil di Aula Universitas Katolik Widya Mandala, Jalan Dinoyo Surabaya. Ini kompetisi kor antarparoki se-Keuskupan Surabaya.

Keuskupan Surabaya punya 41 paroki. Maka, seharusnya ada 41 kor yang tampil. Lha, ke mana 17 paroki yang lain? "Saya juga tidak tahu. Mungkin tidak siap atau entah apa lah," kata Yulius Kristanto, ketua panitia.

Si Yulius ini bekas pentolan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Airlangga yang sangat getol mengembangkan paduan suara di gereja dan sekolah-sekolah. Sekarang Yulius dipercaya sebagai ketua komisi musik liturgi Keuskupan Surabaya.

Paroki-paroki yang absen, ironisnya, termasuk paroki-paroki besar di Surabaya dan Sidoarjo. Sebut saja Sakramen Mahakudus (Pagesangan), Redemptor Mundi (Dukuh Kupang Barat), Santo Paulus (Raya Juanda Sidoarjo), atau Marinus Yohanes (Kenjeran). Ironis karena paroki-paroki yang jauh dari Surabaya macam Rembang (Jawa Tengah), Tuban, Pare (Kediri) ikut serta.

Menyaksikan kompetisi kor gerejawi antarparoki ini tentu berbeda dengan konser paduan suara yang punya nama besar. Di sini ada muatan iman--bahwa menyanyi itu sama dengan berdoa dan memuji Tuhan--serta proses belajar. Anggota kor gereja umumnya orang biasa yang bukan ahli musik atau siswa kursus vokal.

Mereka kadang-kadang 'terpaksa' ikut kor karena memang tidak ada orang lagi. Sangat banyak kor yang baru terbentuk hanya beberapa minggu sebelum lomba. Setelah lomba, dan kalah, terus bubar? Hehehe.... Begitulah memang lika-liku kor gereja, khususnya Katolik, yang pakai prinsip: "asmuni", asal bunyi, pokoke iso berpartisipasi. Kalah menang nomer telu likur!

Yulius dan teman-teman panitia punya misi regenerasi dalam pesta paduan suara Katolik ini. Peserta harus di bawah 50 tahun. Itu pun dengan ketentuan 50:50 untuk usia 16-25 dan 26-50. Saya sangat setuju. Sebab, di lingkungan gereja terlalu banyak paduan suara yang didominasi manula, manusia usia lanjut.

Anak-anak muda seperti tidak direken, dianggap pupuk bawang dalam gereja. "Kita punya tujuan jangka panjang. Semakin banyak adik-adik yang berusia di bawah 25 tahun dilibatkan, mereka punya kesempatan lebih banyak untuk aktif di gereja," tegas Yulius.

Di Surabaya ini ada paduan suara terkenal, bukan Katolik, yang penyanyi sebagian besar di atas 50 tahun. Memang semangat sih masih ada, waktu luang banyak, tapi suara sudah tidak karuan. Manula-manula--ya, kita semua pun akan jadi manula kalau dikasih umur oleh Gusti Allah--pun tidak sedap dipandang.

Maka, saya sendiri lebih antusias menyaksikan konser paduan suara yang penyanyinya berusia di bawah 40 tahun. Contoh: paduan suara mahasiswa. Kalau paduan suara SMA rata-rata suara mereka masih belum matang.

Bagaimana penampilan 24 peserta lomba kor Keuskupan Surabaya ini?

Lumayanlah. Dibandingkan dengan kor-kor misa rutin tentu mereka jauh lebih siap. Mereka berusaha keras membawakan lagu liturgi klasik secara a capella. Komposisi polifonik ini tidak gampang sehingga jarang dicoba kor-kor gereja sekalipun. Latihan makan waktu lama, perlu penyanyi yang rada mutu, pelatih, dan banyak lagi faktor kesulitan.

Di sinilah, seperti biasa, kita dengan mudah melihat perbedaan mencolok antara kor-kor yang cukup terlatih dan kor-kor dadakan. Juga beda banget kor-kor dari Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) dengan kor-kor luar kota. Paduan suara dari "paroki desa" tampil pokoke muni, yang penting partisipasi, dan sangat kedodoran.

Saya kira ini bukan pemandangan yang bagus. Sistem sama rata ini mirip ujian nasional yang menyamakan begitu saja soal-soal unas di Jawa dengan anak-anak di pedalaman Papua atau Flores yang jelas-jelas sangat jomplang.

Yulius dan kawan-kawan seharusnya tidak boleh membiarkan kondisi macam ini berlarut-larut. Kor-kor di luar kota alias desa ini perlu mendapat pelatih yang bermutu dari kota. Termasuk Yulius sendirilah.

Sebelum lomba, panitia perlu melakukan semacam audisi kecil-kecilan untuk melihat standar kualitas kor-kor paroki. Apakah pantas ditandingkan dengan kor-kor kota yang dilatih pelatih kaliber nasional? Apakah kita tega membiarkan kor-kor desa, yang hanya berlatih tiga empat kali, itu pun anggotanya tidak lengkap, berkompetisi dengan kor-kor yang anggotanya sudah cukup profesional?

Saya menduga 17 paroki yang absen itu TAHU DIRI. Mereka tidak mau ikut lomba karena sudah bisa mengukur kekuatan dirinya, membaca peta kualitas kor-kor di Keuskupan Surabaya, dan merasa tak layak ikut. Tim sepakbola Indonesia, misalnya, tidak mungkin diikutkan dalam Olimpiade karena kita tahu dirilah. Begitu pula dengan kor-kor di gereja.

Begitulah. Selama lomba berlangsung perasaan saya campur-baur. Di satu sisi saya salut sama kor-kor yang tampil bagus, bisa membawakan lagu-lagu sulit, yang selama bertahun-tahun tidak saya dengar di gereja. "Paduan suara Katolik di Surabaya ternyata bisa nyanyi ya?" kata saya dalam hati.

Di sisi lain, saya tidak sampai hati melihat kor-kor bonek luar Surabaya Raya yang sudah pasti kedodoran. Syukurlah, teman-teman dari luar Surabaya Raya itu berjiwa besar dan bondo nekat. "Kami tahu bahwa peserta dari Surabaya itu hebat-hebat, ikut bina vokalia semua. Tapi kami mau ikut untuk berpartisipasi dan cari pengalaman," kata seorang teman asal Pare, Kediri.

Sudah saatnya kata-kata macam ini dihentikan. Ini kompetisi dengan standar nasional, Bung! Bukan ajang partisipasi atau nekat-nekatan. Mudah-mudahan, sekali lagi, Yulius dan kawan-kawan mau turun ke paroki-paroki desa untuk membenahi kualitas kor.

Saya tidak sampai hati melihat kor-kor desa tampil di panggung hanya bermodal nekat! Salam damai!



Teman-teman Paduan Suara Paroki Ngagel bersorak-sorai begitu diumumkan sebagai juara umum. Selamat!

HASIL LOMBA PADUAN SUARA KEUSKUPAN SURABAYA
Minggu, 25 Januari 2009

Juara Umum: Paroki Ngagel Surabaya
Dirigen Terbaik: Ike Maria Sinandang (Paroki Ngagel)

KATEGORI LITURGI KLASIK

1. Paroki Ngagel Surabaya
2. Paroki Wonokromo Surabaya
3. Paroki Sawahan Surabaya
4. Paroki Karangpilang Surabaya
5. Paroki Rungkut Surabaya
6. Paroki Kristus Raja Surabaya

KATEGORI LAGU MARIA

1. Paroki Ngagel Surabaya
2. Paroki Karangpilang Surabaya
3. Paroki Wonokromo Surabaya
4. Paroki Rungkut Surabaya
5. Paroki Sawahan Surabaya
6. Paroki Tropodo Sidoarjo

KATEGORI LITURGI INKULTURASI

1. Paroki Kristus Raja Surabaya
2. Paroki Karangpilang Surabaya
3. Paroki Ngagel Surabaya
4. Paroki Tropodo Sidoarjo
5. Paroki Rungkut Surabaya
6. Paroki Gresik




Paduan Suara Paroki Karangpilang: pelatih/dirigen Siprianus (asal Bajawa, Flores), juara 2 inkulturasi, juara 2 lagu Maria, juara 4 klasik. Hebat Bung Sipri!


DEWAN JURI

1. Yoseph Suryadi (Jakarta)
Manajer Twilite Chorus. Juri paduan suara tingkat nasional sejak 1978.

2. Albertus Wishnu (Jogjakarta)
Juara III Bintang Radio dan Televisi (BRTV) jenis seriosa tingkat nasional 1985. Pelatih paduan suara mahasiswa UGM Jogjakarta. Juri paduan suara sejak 2003.

3. Budi Susanto Yohanes (Malang)
Dirigen dan pendiri Gracioso Sonora. Paduan suara di Malang ini meraih berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional. Tahun 2008 Gracioso Sonora meraih medali perak Busan Choral Festival & Competition di Busan, Korea Selatan. Komposer paduan suara.




Paduan Suara Paroki Wonokromo: juara 2 klasik dan juara 3 lagu Maria.

LAGU-LAGU YANG DILOMBAKAN

Liturgi Klasik

1. O Sacrum Convivium karya Guiseppe Pitoni
2. Tantum Ergo karya Anton Bruckner
3. Oculi Omnium karya M. Haller.
4. O Sacrum Convivium karya L. Perosi
5. Salvum Fac Populum karya Heinrich Lemacher


Lagu Maria

1. Beata Virgo, karya William Byrd
2. Stabat Mater, karya Antonio Caldara
3. Vos Omnes, karya G.P. da Palestrina
4. Ave Maria, karya Moesman

Liturgi Inkulturasi

1. Kristus Beserta Kita, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Batak Karo.
2. Gusti Memberkati, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Jawa.
3. Bersoraklah Bagi Tuhan, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Banyuwangi.
4. Engkau Roti Hidup, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Surabaya.
5. Tuhan Pemurah, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Daya’Ngaju.
6. Nyanyian Syukur, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Flores-Sikka.
7. Marilah Kita Ke Rumah Tuhan, Arsm. Paul Widyawan. Gaya Bunaq-Timor.
8. Dari Hembusan Sabda-Mu (Finna Su Phing), Arsm. Paul Widyawan. Gaya Mandarin.

25 January 2009

Imlek di Hong San Ko Tee



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Malam tahun baru Imlek alias Sin Cia 2560 berlangsung meriah di Hong San Ko Tee. Kelenteng di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya ini setelah reformasi memang tengah naik daun. Jemaatnya melimpah, terus bertambah dari waktu ke waktu.

Sejak Minggu (25/1/2009) petang tempat ibadah Tridharma ini sudah mulai terasa hidup. Satu per satu jemaat datang beribadah. Membawa lilin khas yang merah itu, kemudian keliling dari altar ke altar. Mereka tampak sangat antusias berdoa.

Ini juga menunjukkan bahwa orang Tionghoa sebenarnya sangat religius. Percaya pada hal-hal spiritual. "Malam tahun baru memang paling bagus dipakai untuk sembahyang. Kebetulan saya sering ke sini," ujar seorang jemaat kepada saya.

Sementara itu, Ibu Juliani Pudjiastuti, pemimpin Hong San Ko Tee, sudah mulai terlihat di kelentengnya bakda magrib. Meski duduk di kursi roda, ibu ini tampak selalu riang. Wajahnya sumringah, tersenyum ramah, menyambut kedatangan jemaat.

Saya pun menyalami Ibu Juliani dan mengucapkan selamat tahun baru. Gong Xi Fa Cai! "Jangan ke mana-mana lho. Nanti pukul 00:00, setelah sembahyangan, ada hiburan barongsai. Kemudian makan-makan seperti biasa," ujar Ibu Juliani Pudjiastuti.

Saya memang tak asing lagi dengan salah satu tokoh kelenteng di Surabaya. Biasanya, kalau ada hari-hari besar Tionghoa, apalagi Sin Cia, saya berusaha ke Kelenteng Cokro, nama populer Hong San Ko Tee. Dan Ibu Juliani Pudjiastuti adalah narasumber yang enak diajak bicara. Beda dengan beberapa tokoh kelenteng yang terkesan "tertutup" dan malas bicara.

Sambil asyik bicara dengan Ibu Juliani, muncul banyak sekali orang yang mengaku wartawan. Saya tidak kenal mereka. Ada yang mengaku dari media A, B, C, dan seterusnya. Mau meliput Sin Cia atau wawancara dengan pengurus kelenteng? Tidak jelas.

Saat saya bicara panjang lebar dengan Ibu Juliani Pudjiastuti, tak ada satu pun "wartawan" itu yang bertanya. Padahal, saya sudah minta Ibu Juliani untuk menjawab apa saja yang ditanyakan wartawan, tentu yang ada kaitannya dengan Imlek.

"Saya bicara dengan polisi dulu ya," ujar Juliani Pudjiastuti. Dan keduanya pun bicara cukup lama via telepon seluler.

Rupanya, Ibu Juliani punya feeling tidak enak terhadap orang-orang yang mengaku wartawan tadi. Eh, rupanya setelah menghubungi polisi, "wartawan-wartawan" itu langsung ke depan, meninggalkan kelenteng. Hehehe....

Menjelang pukul 00:00, seorang petugas mengajak jemaat untuk berkumpul di teras depan. Ibu Juliani Pudjiastuti duduk di tengah-tengah. Tak lama kemudian, lonceng pergantian tahun dibunyikan. Tahun tikus resmi berganti tahun kerbau!

Saya menyaksikan jemaat Hong San Ko Tee melakukan sembah bakti, bersyukur, selama 18 kali--kalau tidak salah. Semuanya larut dalam doa. "Intinya, kami meminta kepada Tuhan agar tahun baru ini kita semua diberi rezeki, kesehatan, dan keberuntungan. Semoga kita semua aman dan damai," kata Ibu Juliani Pudjiastuti.

Usai ritual khas kelenteng, dilanjutkan acara melekan bersama (tidak tidur). Tak baiklah orang Tionghoa tidur pada malam tahun baru. Tim barongsai mulai beraksi. "Ciamik soro!" kata orang Surabaya. Maklum, grup barongsai Hong San Ko Tee baru saja meraih juara ketiga kejuaraan barongsai se-Jawa Timur di ITC Mega Grosir.

Semua orang bergembira, tak hanya warga Tionghoa. Pengurus kelenteng sudah menyiapkan makanan yang bisa dinikmati semua pengunjung. Juga angpao bagi mereka yang berhak menerimanya. "Malam tahun baru itu saat yang paling bagus untuk menyambut rezeki. Makanya, saya gak akan tidur," ujar seorang ibu yang shari-hari ikut menjaga kelenteng tua itu.

Selamat tahun baru! Gong Xi Fa Cai!

24 January 2009

Ratna Indraswari Ibrahim Rilis Pecinan Malang



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Menjelang tahun baru Imlek 2560, cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim merilis novel berjudul PECINAN KOTA MALANG. Novel 156 halaman ini menguraikan kehidupan orang-orang Tionghoa di kawasan pecinan Malang seperti Jalan Pasar Besar, Kota Lama, hingga Kayutangan.

Saat saya kontak per telepon, Ratna mengatakan, dia berusaha memotret kehidupan orang-orang Tionghoa di Malang, etos kerja, hingga hubungan mereka dengan penduduk setempat. Bahkan, Ratna mengangkat keseharian kaum peranakan Tionghoa yang sudah sangat luntur ketionghoannya.

"Saya ini kebetulan dulu tinggal di pecinan Kota Malang. Dan saya banyak bergaul dengan orang-orang Tionghoa. Nah, cerita-cerita yang saya dengar itulah yang saya angkat menjadi novel," ujar perempuan 59 tahun itu.

Ratna juga mengaku melakukan riset yang cukup mendalam tentang sejarah keberadaan orang Tionghoa di Malang dan kota-kota lain di Indonesia. Termasuk kontribusi orang Tionghoa dalam penyebaran agama Islam di tanah air. Hal ini, menurut Ratna, perlu diketahui oleh penduduk Indonesia yang bukan Tionghoa.

''Beberapa pendatang Tionghoa dulu menjadi ulama yang menyebarkan agama Islam. Jadi, kedatangan mereka ke Indonesia bukan semata-mata mencari pekerjaan, tetapi juga untuk syiar agama Islam,'' tegasnya.

Ratna juga membahas panjang lebar--melalui mulut para tokohnya--tentang kebijakan rezim Orde Baru (1966-1998) yang melarang semua ekspresi budaya Tionghoa, termasuk perayaan tahun baru Imlek. Orang Tionghoa juga kerap dijadikan kambing hitam jika ada persoalan di dalam negeri.

''Di sini kita harus fair dan melihat secara jernih. Bahwa bisnis pada zaman Orde Baru itu tidak lepas dari kekuasaan yang merugikan rakyat. Saya hanya mengingatkan bahwa siapa pun dia, Tionghoa atau bukan, tidak suka dengan paktik-praktik curang,'' tukasnya.

Dimuat Radar Surabaya edisi 27 Januari 2009

22 January 2009

James Riady: Artha, Kama, Dharma



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Siapa tak kenal James T. Riady? Pengusaha dan bankir papan atas ini semakin hari semakin religius. Setelah sukses di dunia bisnis, dia ingin mengabdikan sisa hidupnya untuk pendidikan.


Di hadapan sekitar 800 hadirin, dalam sebuah seminar di Surabaya, James Tjahaja Riady tampak sangat fasih mengutip ayat-ayat kitab suci. Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, filsafat timur, dia kuasai. Dia juga membagikan pengalaman tentang perjalanan hidupnya sebagai businessman, bankir, dan menjadi orang yang bergelimang harta.

Namun, pada tahun 1990, ketika karirnya sedang berada di puncak, James mengaku mengalami kekosongan hidup. Dia mulai resah. Dia mempertanyakan apa makna kehidupan ini.

"Segala sesuatu kelihatannya sudah saya miliki, tapi hati saya kosong. Saya bahkan mengalami depresi, merasa tidak punya arti dan target hidup," ujar pendiri Sekolah Pelita Harapan, Sekolah Dian Harapan, dan Universitas Pelita Harapan itu.

Nah, di tengah kehampaan hidup itu, kehidupan pribadi James pun berantakan. Relasi dengan istri, anak-anak, kerabat, saudara, ikut berantakan. James berdiam diri, merenung. "Dari situ Tuhan membuka mata saya bahwa hidup itu bukan sekadar kerja, kerja, kerja," ujar James.

Menikah pada 1982 itu, sebagaimana orang Tionghoa umumnya, hari-hari James T. Riady diisi dengan kerja, kerja, kerja. Tak ada hari libur. Tak ada waktu untuk keluarga. Hasilnya memang dahsyat: karir bagus, uang berlimpah, reputasinya mencorong sampai ke dunia internasional. Tapi, ya itu tadi, ada krisis spiritualitas. Apa arti hidup ini?

James yang tadinya hanya Kristen statistik--tidak pernah berdoa, tidak pernah ke gereja, jadi Kristen untuk kepentingan administrasi kependudukan di KTP--mengaku mencoba-coba membuka Alkitab. Buku yang selama bertahun-tahun hanya menjadi pajangan belaka. Dia akhirnya mendapat sentuhan Tuhan melalui Amsal 18:10.

"The LORD is like a strong tower, where the righteous can go and be safe."

Tuhan itu ibarat menara yang kuat. Ke sanalah orang benar berlari, dan dia selamat.


Sejak itu James mengaku semakin dekat dengan Tuhan. Dia juga berusaha lebih dekat dengan istri dan empat anaknya. Hidup dekat dengan Tuhan, kata dia, adalah kunci sukses dalam rumah tangga.

"Sebagai suami, saya perlu mendengarkan suara istri saya sekalipun mungkin intonasinya tidak enak. Sebab, saya percaya bahwa istri bukan hanya penolong yang sepadan, tapi juga membawa suara Tuhan dalam kebenaran," tegasnya.

Setelah mengalami transformasi hidup, cara pandang James Riady terhadap bisnis pun berubah 180 derajat. Bisnis tidak lagi sekadar mengumpulkan uang dan harta berlimpah. Dia meminjam filosofi India tentang ARTHA, KAMA, dan DHARMA.

Pada usia muda orang bekerja mati-matian untuk mengejar ARTHA dan KAMA. Kama itu kenikmatan hidup, hiburan badani, termasuk seks. "Saya sendiri sudah merasakan ARTHA dan KAMA. Maka, sudah waktunya bagi saya untuk ber-DHARMA," terang pengusaha yang disebut-sebut dekat dengan elite politik di Amerika Serikat itu.

Singkat cerita, James Riady akhirnya menunaikan DHARMA-nya dengan merintis lembaga pendidikan. Sekolah Dian Harapan untuk anak-anak kelas bawah. Sekolah Pelita Harapan untuk kelas menengah. Universitas Pelita Harapan untuk kelas atas. Ada mekanisme subsidi silang di antara tiga lembaga pendidikan ini.

James sangat menekankan pentingnya pendidikan etika, moral, spritual di sekolah-sekolahnya. Kurikulumnya didesain sedemikian rupa agar para alumni bisa bermanfaat bagi masyarakat.

"Jangan sampai mereka menjadi ilmuwan yang anti-Tuhan," tegas James Riady.

Kelenteng di Madura



Ibu Yuyun Kho, pengurus Kelenteng Eng An Bio, Bangkalan, yang juga pelukis spesialis figur dewa-dewi Tionghoa.


Saya baru saja jalan-jalan ke Madura, Minggu (18/1/2009). Pulau garam yang punya empat kabupaten ini (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) sebetulnya sangat dekat dengan Surabaya. Kira-kira empat kilometer. Tapi, karena dipisahkan oleh laut, Madura terkesan sangat jauh dari Surabaya.

Memang ada kapal feri yang lancar, tapi kebanyakan orang Jawa tidak tertarik jalan-jalan ke Madura. "Mau lihat apa? Hiburannya apa? Apa yang menarik? Tinggal di mana?" begitu antara lain alasan teman-teman di Surabaya yang "asing" dengan Madura.

Saya sengaja ke Madura karena Madura untuk melihat suasana menjelang pencoblosan ulang pemilihan gubernur Jawa Timur. Bangkalan dan Sampang diulang karena hasil pilgub putaran kedua dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Padahal, hasil di dua kabupaten ini sangat menentukan siapa pemenang pilgub.

Karena menjelang tahun baru Imlek, saya pun ingin melihat bagaimana orang Tionghoa mempersiapkan tahun kerbau. Sebab, kehadiran orang Tionghoa di Madura memang sudah berlangsung ratusan tahun. Kemungkinan tidak jauh sejarahnya dari kedatangan orang Tionghoa di Surabaya. Dan ini dibuktikan dengan usia kelenteng di Madura yang sudah ratusan tahun.

Di Pulau Madura ini ada tiga kelenteng, yakni di Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Selama bertahun-tahun orang Tionghoa hidup dan mencari nafkah dengan tenang di Madura. Ada memang sentimen rasial alias SARA, tapi tidak sampai menghancurkan bangunan kebersamaan.

Kasus SARA terakhir yang meletus di Madura terjadi beberapa tahun menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. Orang-orang tak dikenal menghancurkan beberapa tempat ibadat. Kelenteng Eng An Bio di Bangkalan ikut dirusak. Rumah ibadat orang Tionghoa itu pun hancur berantakan.

Meski begitu, hubungan antara orang Tionghoa dan penduduk Bangkalan relatif harmonis sampai sekarang. "Dulu, yang merusak kan orang-orang luar. Kalau sama orang-orang di sini baik-baik saja," kata beberapa warga Bangkalan kepada saya.

Berikut sedikit gambaran tentang tiga kelenteng yang ada di Pulau Madura.

1. KELENTENG ENG AN BIO
Jalan Panglima Sudirman 116 Bangkalan




Menjelang Imlek 2560, 26 Januari 2009, ini Eng An Bio terlihat lebih terawat. Bersih, luas, punya banyak ruang terbuka. Tidak sumpek. Ada dua aula besar--untuk ukuran Madura--di bagian belakang. Bisa dipakai buat petemuan, senam, dan sebagainya.

"Kami akan melakukan sembahyangan bersama tanggal 25 Januari 2009 malam. Itu sudah menjadi tradisi orang Tionghoa di sini setiap tahun," ujar Ibu Yuyun Kho, pengurus Eng An Bio. Ibu asal Salatiga ini sudah menjaga Eng An Bio selama 17 tahun.


Menurut Bu Yuyun, jemaat di kelenteng ini hanya sekitar 25 keluarga. Itu pun tidak semuanya beribadah di sini karena dekatnya jarak Bangkalan dan Surabaya. Bahkan, hampir semua pengusaha Tionghoa di Bangkalan punya rumah di Surabaya dan sekitarnya.

"Itu yang membuat kelenteng di Bangkalan ini tidak bisa ramai. Bangkalan itu kota kecil, ya, begini ini situasinya," jelas Bu Yuyun.

Generasi muda Tionghoa di Madura pun tak banyak melanjutkan tradisi leluhurnya seperti rajin ke kelenteng dan terlibat dalam perayaan tradisional Tionghoa. Ini juga akibat kebijakan rezim Orde Baru yang melarang semua yang berbau Tionghoa selama 30 tahun lebih.

Kelenteng Eng An Bio dipersembahkan (dijaga) oleh Dewa Bumi alias Hok Tek Cheng Sin.

Kelenteng Eng An Bio didirikan pada tahun 1805. Dulu, tanahnya merupakan hibah dari Kapiten Tan Kuang Pang. Dia pimpinan orang Tionghoa di Bangkalan pada masa penjajahan Belanda.

"Seiring perkembangannya, kelenteng kemudian dibangun oleh Ong Ki Chai, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Tridharma Indonesia," kata Gunawan Hidayat, ketua Yayasan Eng An Bio.

2. KELENTENG KWAN IM KIONG alias Vihara Avaloki Testavara
Pantai Talangsiring, Pamekasan






Kelenteng paling besar dan paling banyak dikunjungi di Madura. Dipersembahkan (dijaga) oleh Dewi Kwan Im. Orang-orang Madura lebih mengenal kelenteng ini sebagai vihara.

"Pengunjung bisa menginap dan makan minum di Kelenteng Pamekasan. Soalnya, mereka punya yayasan dan donatur yang kuat. Itui yang nggak ada http://www.blogger.com/img/blank.gifdi Bangkalan," kata Bu Yuyun, pengurus Kelenteng Eng An Bio di Bangkalan, kepada saya.

Yang menarik, kelenteng di Pamekasan ini juga menjadi pusat pelestarian kesenian tradisional Jawa seperti wayang kulit yang berusia 200 tahun lebih. Selalu ada pergelaran wayang kulit di kompleks kelenteng.

Cerita lengkap Kwan Ik Kiong Pamekasan baca di SINI.


3. KELENTENG PAO SIAN LIAN KONG
Desa Pabien, Sumenep




Terletak di Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, berjarak 2,8 kilometer dari pusat kota dan 2,5 km dari Terminal Arya Wiraraja. Awalnya didirikan di Kalianget, lalu berpindah ke Marengan, kemudian menetap di Pabian.

Menurut salah satu pengelolanya, Seng Jaya Manggala, Pao Sian Lian Kong dibangun sekitar 160 tahun lalu. Ini didasarkan pada tulisan kayu berbahasa Mandarin yang ada di atas salah satu pintu masuk ruang utama Klenteng. Pada 1963, kelenteng ini direnovasi hingga tampak seperti sekarang ini.

Tempat pemujaan urutan I berada di teras, memasuki ruang utama menuju tempat sembahyang secara berurutan (2, 3, 4) untuk melakukan pemujaan, penghormatan kepada para dewa. Adapun nama-nama dewa menurut urutannya adalah: Thian Sian Seng Bo (Dewa Penolong di Laut), Kun Tek Tjun Ong (Dewa Penolong), Hok Tik Tjing Sin (Dewa Bumi).

Kemudian masuk ke dalam ruang tengah untuk melakukan pemujaan lagi dengan menempati nomor sesuai dengan agama. Agama Buddha menuju tempat No 5-6, Tao menuju tempat No 7, Konghuchu memasuki ruang samping melalui ruang tengah, No 8. Terakhir, memasuki Pagoda Dewi Kwan In, yaitu No 9, yang terletak di bagian belakang kelenteng.

Pada Juli 2008 penginapan ini tidak dapat menampung umat yang datang dari luar kota saking banyaknya. Kelenteng buka pukul 06.00 sampai 21.00 WIB.

21 January 2009

Pidato Presiden Barack Obama




Barack Obama has been sworn in as the 44th US president. Here is his inauguration speech in full.


Source: BBC NEWS


My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and co-operation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms.

At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we, the people, have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

Serious challenges
That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land - a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America - they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

Nation of 'risk-takers'
We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted - for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things - some celebrated but more often men and women obscure in their labour, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and travelled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and ploughed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.

'Remaking America'
Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions - that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act - not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.

Restoring trust
Now, there are some who question the scale of our ambitions - who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them - that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply.

The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works - whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account - to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day - because only then can we restore the vital trust between a people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control - that a nation cannot prosper long when it favours only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our gross domestic product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart - not out of charity, but because it is the surest route to our common good.

'Ready to lead'
As for our common defence, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.

Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with the sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.

We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort - even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the spectre of a warming planet. We will not apologise for our way of life, nor will we waver in its defence, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.

'Era of peace'
For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus - and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West - know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.

'Duties'
As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honour them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment - a moment that will define a generation - it is precisely this spirit that must inhabit us all.

For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends - honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism - these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths.

What is required of us now is a new era of responsibility - a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.

'Gift of freedom'
This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence - the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed - why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than 60 years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have travelled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:

"Let it be told to the future world... that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."

America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.

Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

20 January 2009

Tionghoa Sisi Lain



Siapa yang paling kaya di kota Anda? Siapa yang punya mal, plaza, hotel berbintang, real estat, deposito miliaran rupiah?

Jawabannya hampir pasti: orang Tionghoa. Mereka memang berhak kaya-raya karena punya ETOS kerja keras, ulet, pantang menyerah, pandai membaca peluang. Kerja pakai otak, bukan hanya pakai otot dan dengkul. Bikin jaringan ke mana-mana. Wawasan luas.

Bangsa yang hanya mengandalkan hidup sebagai petani, tukang kebun, pegawai negeri, guru, buruh, tentara, karyawan... tak akan pernah kaya. Kecuali, barangkali jadi anggota DPR di Indonesia, yang doyan korupsi dan nyolong uang rakyat.

"Kalau mau kaya, kalian harus jadi pengusaha. Buka usaha sendiri. Kalau kalian kerja ikut orang, sampai mati pun ekonomi kalian tidak akan mapan," demikian wejangan seorang pengusaha Tionghoa kaya kepada anak-anak penerima beasiswa di Restoran Koowlon Surabaya belum lama ini.

Hehehe.... Baba Tionghoa ini lagi nyindir ya? Celetukane sampeyan kok iso titis banget sih!

Saya kira bapak pengusaha ini benar. Karena menjadi pengusaha selama lima sampai tujuh generasi, orang Tionghoa di Surabaya pun kaya-raya. Hampir semua pusat perbelanjaan mewah, hotel mewah, restoran kelas atas, real estat mewah... milik Tionghoa. Saking kayanya, banyak orang yang bingung mau diapakan uangnya.

Sebaliknya, para buruh di Surabaya dan Sidoarjo masih terus unjuk rasa agar bayarannya dinaikkan menjadi minimal Rp 1 juta per bulan. "Orang kaya itu sekali makan bisa habis Rp 5 juta lho. Sampean paling sekali makan Rp 5.000," begitu gurauan populer di kampung pinggiran Surabaya.

Tapi benarkah semua orang Tionghoa di Surabaya/Sidoarjo kaya-raya?

Hmmm.... nanti dulu.

"Siapa bilang orang Cina itu semuanya kaya? Banyak banget wong Cino sing miskine gak karua-karuan. Aku sampek gak mentolo," ujar Mbak Siti.

Tiap minggu Mbak Siti membagi-bagikan sedekah kepada ratusan kaum miskin di Surabaya. Dan sebagian di antaranya TIONGHOA.

"Wong Cino iku kalau sudah miskin, miskinnya luarrrr biasa. Lebih parah ketimbang orang kita yang miskin," kata Mbak Siti. Orang KITA itu maksudnya Jawa, Madura, Sunda, Batak, Flores... atau istilah Orde Barunya: PRIBUMI.

Andrea Hirata dalam novel MARYAMAH KARPOV melukiskan kehidupan orang-orang Khek, Hokian, dan Tongsan (alias Tionghoa) di Pulau Belitong. Saya kutip tulisan Andrea di halaman 131 novel keempat tetralogi LASKAR PELANGI tersebut:

"Orang-orang Khek, Hokian, atau Tongsan di kampung kami adalah suku yang serius.... Orang-orang itu selalu berada di kutub-kutub EKSTREM. Jika kaya, kayanya tiada banding. Jika miskin, ibaratnya sampai makan tanah.

"Jika berwajah jelek, mohon maaf, wajahnya rata. Namun, jika cantik -- A Ling contohnya -- tatapannya mampu mencairkan tembaga.

"Begitu pula jika baik, demawan lebih dari siapa pun: memberi pada siapa saja tak pandang bulu, mulia sekali bak santo-santa. Di kampung kami beberapa konfusius Tionghoa tak sungkan menyumbang pada orang Melayu untuk membangun masjid.

"Bahkan, ada yang membangun sendiri masjid itu. Namun, jika sudah jahat, tak sekadar menggarong, tapi merekalah gembongnya."


MAKAN TANAH.

Deskripsi Andrea Hirata memang selalu hiperbolis, tapi kalau mau jujur, begitulah kondisi orang-orang Tionghoa. Tidak hanya di Belitong, tapi juga di Jawa Timur. Ada kutub-kutub ekstrem yang luar biasa. Kalau tidak kaya sekali, ya, miskin sampai harus MAKAN TANAH.

Saya beberapa kali mengikuti acara pembagian sedekah mingguan di Jalan Pahlawan Surabaya. Amboi, kondisi Tionghoa-Tionghoa miskin ini memang jauh lebih mengenaskan. Wajahnya lesu.

Mata sayu. Sulit bicara. Frustrasi. Bahkan, ada yang ingin mati saja karena merasa sudah tak ada gunanya lagi hidup di dunia.

"Lho, Sampean kan Tionghoa kok ikut-ikutan ngemis?" pancing saya.

"Aku ini gak punya apa-apa. Kalau punya ya aku gak akan ngemis. Wong ngemis itu malu lho. Tapi kalau gak ngemis, mau makan apa? Mangan watu ta?" balas perempuan 50-an tahun yang mengaku bernama Xiao.

Ibu ini punya satu anak remaja, tinggal di kawasan Jalan Kenjeran. Suaminya minggat, kawin dengan perempuan lain. Tak ada nafkah lahir batin untuk Ibu Xiao. "Rumah saya mau ambruk. Aku gak punya apa-apa untuk benerin. Itu pun bukan rumah saya, tapi milik orang. Sewaktu-waktu saya bisa diusir," keluh ibu ini, masih berusaha tersenyum.

Ibu Xiao masih lumayan, mau bicara meskipun sangat emosional. Macam orang marah. Tionghoa-Tionghoa miskin yang lain kontan naik darah ketika saya ajak wawancara.

"Wis, gak usah wawancara-wawancara. Saiki aku perlu uang, perlu makan. Wawancara iku gak ono gunane. Aku gak butuh difoto, gak butuh masuk koran. Wartawan iku gak ono gunane!" ujar seorang bapak 70-an tahun, Tionghoa kurus kering.

Nah, menjelang tahun baru Imlek 2560 ini sejumlah pengusaha memberikan bingkisan untuk 247 anak-anak Tionghoa miskin. Panitia Imlek di ITC Mega Grosir mengadakan survei di kampung-kampung Tionghoa untuk menemukan orang-orang Hokian, Khek, Tongsan, dan entah apa lagi yang masuk GAKIN, keluarga miskin.

Dari sini banyak orang Tionghoa, yang tidak miskin, terkaget-kaget, melihat kenyataan di lapangan. Ternyata, keluarga Tionghoa miskin di Surabaya tidak sedikit. Ada keluarga yang tinggal di satu kamar petak sangat sempit. Ayah, ibu, anak... sesak-sesakkan di kamar itu. Fasilitas air minum, listrik... seadanya.

Ada lagi yang puasa tiap hari karena tak punya uang untuk membeli makanan. "Imlek tahun ini makin membuka mata kami bahwa saudara-saudara kami, sesama Tionghoa, yang miskin itu masih banyak," kata seorang pengusaha Tionghoa kaya.

Baru tahu ya?

19 January 2009

Dede Oetomo Bahas Tionghoa



Sebagai Tionghoa peranakan, Oen Tiong Hau--yang lebih dikenal dengan Dede Oetomo--tidak suka bicara tentang uang atau kekayaan. Dia justru lebih suka diskusi, terlibat kegiatan-kegiatan yang menantang, ketimbang berdagang. "Saya memang Tionghoa, tapi gak punya bakat dagang. Saya juga malas kalau diajak bicara soal dagang dan uang," tegasnya.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek


Menjelang tahun baru Imlek 2560 ini, kami menemui Dede Oetomo PhD di kediamannya, kawasan Citraland Surabaya. Dede Oetomo mengupas kehidupan orang Tionghoa di Indonesia selama 10 tahun reformasi. Berikut petikannya:

Anda tinggal sendiri di rumah ini?

Iya. Dan, menurut saya, ke depan semakin banyak orang Indonesia yang hidup sendiri kayak begini. Saya baru lima tahun di Citraland. Banyak hal yang bisa saya kerjakan di sini.

Kita bicara tentang Imlek. Bagaimana Anda melihat suasana perayaan yang makin semarak?

Menurut saya, sangat istimewa karena Imlek baru dinyatakan sebagai hari libur nasional pada 2002. Libur Nyepi dan Waisyak ditetapkan tahun 1983. Meskipun baru lima tahun, Imlek terkesan paling semarak, paling istimewa. Saya sih berharap, jangan sampai orang Tionghoa terlalu diistimewakan.

Mengapa?

Orang Tionghoa itu kan macam-macam. Dan tidak semua merayakan Imlek. Orang Tionghoa yang Protestan atau Bethany kan sangat banyak. Mereka tidak merayakan Imlek karena ajaran agamanya demikian. Kakek dan nenek saya saja berhenti merayakan Imlek pada tahun 1950-an.

Anda harus tahu bahwa orang Tionghoa itu sangat heterogen. Ada yang pernakan kayak saya, ada yang totok, bahasanya juga macam-macam. Mereka sudah hidup selama ratusan tahun di Indonesia. Saya sendiri generasi kelima. Kebudayaannya ya tidak akan sama dengan yang di Tiongkok sana.

Artinya, konsep nasionalisme yang lama tidak relevan lagi?

Sekarang ini dunia sudah berubah sedemikian pesat. Kewarganagaraan tidak lagi dilihat dari keturunan, darah, biologis. Yang jelas, orang dipengaruhi oleh kebudayaan di mana dia tinggal.

Jutaan orang Jawa yang bekerja dan tinggal selama bertahun-tahun di Malaysia itu apakah orang Malaysia? Apakah tetap orang Indonesia? Kita akan sulit menjawab. Yang jelas, mereka tetap membawa kultur Jawa, tapi juga dipengaruhi oleh bahasa dan kebudayaan Malaysia. Kalau mau jujur, sekarang ini kewarganegaraan itu hanya untuk kepentingan pajak atau uang. Hehehe....

Orang-orang Tionghoa di sini juga ikut demo anti-Soeharto, karena dia punya kepentingan yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain. Sebaliknya, Hu Jin Tao (perdana menteri Tiongkok, Red) mau ngapain aja, ya, orang Tionghoa Indonesia gak mau tahu. Gak urusan. Ketika rakyat Tibet diserang oleh tentara Tiongkok, saya sendiri membela rakyat Tibet. Saya dimaki-maki di internet. Ya, biarin aja. Sebab, saya gak punya urusan dengan Tiongkok.

Bagaimana dengan generasi muda Tionghoa sekarang?

Cara berpikir mereka lain sekali dengan generasi-generasi sebelumnya. Anak-anak muda itu sudah tidak peduli dengan identitas Tionghoanya. Bahkan, mereka umumnya sudah tidak bisa berbahasa Tionghoa dan tidak terlibat dalam kebudayaan Tionghoa.

Mereka justru ikut serta dalam industri musik, bikin band kayak Nidji, Ungu, dan sebagainya. Lunturnya identitas Tionghoa itu mulai terasa sejak 1970-an dan 1980-an. Dulu, kita seakan-akan bermusuhan dengan Tiongkok. Itu sebenarnya hanya efek dari perang dingin saja. Setelah perang dingin berakhir, ya, semuanya cair.

Rupanya Anda puas dengan hasil reformasi, khususnya dalam kaitan dengan Tionghoa?

Secara umum sudah benar. Kebebasan berpolitik, berekspresi, merayakan Imlek, lahirnya Undang-Undang Kewarganegaraan... sudah kita nikmati. Imlek bukan hanya dirayakan orang Tionghoa, tapi warga global. Dulu, yang begini ini tidak pernah kita bayangkan.

Saya selalu membandingkan demokrasi di Indonesia dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Kita jauh lebih maju meskipun tentu saja masih ada kekurangan. Tinggal kita memperbaiki dan terus melakukan pengawalan. Saya juga senang karena sekarang semakin banyak orang Tionghoa yang jadi caleg. Memang kalau ingin memperbaiki kehidupan politik, ya, mau tidak mau orang Tionghoa harus masuk dalam sistem politik. Dan peluang untuk itu sangat terbuka.

Bagaimana dengan kesenjangan ekonomi? Selama ini dianggap salah satu faktor yang memicu konflik SARA di tanah air?

Secara alamiah akan terjadi keseimbangan jika semua warga negara, apa pun latar belakangnya, diberi kesempatan yang sama. Kalau dulu orang terkaya di Indonesia selalu Liem Sioe Liong, sekarang digeser oleh Aburizal Bakrie dengan Grup Bakrie-nya. Orang-orang Jawa, Madura, Batak, Sunda... sekarang pun ramai-ramai bermain di sekuritas. Padahal, itu dulu mainannya orang-orang Tionghoa.

Yang membuat kesenjangan sosial itu kan Soeharto yang memberikan fasilitas istimewa kepada Liem Sioe Liong dan teman-temannya. Siapa pun dia, kalau dikasih fasilitas, ya akan kaya-raya. Karena itu, saya tidak pernah bangga dengan orang Tionghoa yang kaya karena fasilitas. Saya lebih menghargai orang Tionghoa yang punya ide dan kemudian memperjuangkan idenya itu. Stereotype bahwa orang Tionghoa itu economic animal harus ditinggalkan.


Andalkan Jaringan Gay dan PSK

TAK banyak orang Tionghoa yang berani 'main politik' selama era Orde Baru. Salah satu dari yang sedikit itu Oen Tiong Hauw alias Dede Oetomo. Sebagai dosen Universitas Airlangga dan aktivis prodemokrasi, Dede sangat aktif mengikuti diskusi dan kegiatan untuk mendelegitimasi pemerintahan Soeharto.

"Sebab, Orde Baru itu totaliter, antidemokrasi," kata Dede Oetomo. Digoyang terus-menerus, khususnya pada era 1990-an, rezim Orde Baru pun ambruk. Datanglah era reformasi yang ditandai kebebasan politik sejak 1998.

Dede yang tadinya sudah aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD) akhirnya didorong teman-temannya masuk ke dalam sistem. Peluang itu diperoleh pada 2004. Dia ikut mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tentu saja, Dede mengandalkan jaringan yang sudah dibina selama bertahun-tahun seperti PRD (dan onderbouw-nya), organisasi transgender, LSM, hingga aktivis pembela pekerja seks.

Maka, menjelang Pemilu 2004 poster wajah Dede Oetomo banyak dijumpai di berbagai lokalisasi. Hasilnya lumayan. "Saya mendapat 235 ibu suara. Tidak cukup untuk ke Senayan karena harus bisa dapat jutaan," kenang Dede lalu tertawa kecil.

Mengapa pada Pemilu 2009 ini Dede Oetomo enggan maju lagi? Menurut dia, situasi 2004 sangat berbeda dengan 2009. Lima tahun lalu dia punya banyak waktu luang, sehingga masih sempat melakukan kerja politik. Kalaupun ada pekerjaan, bisa ditinggalkan atau didelegasikan kepada teman-temannya.

"Sekarang ini, meskipun sudah tidak mengajar di Airlangga, pekerjaan saya justru bertumpuk-tumpuk. Dan itu tidak bisa ditinggalkan," kata pria 55 tahun ini.

Selain itu, berdasar pengalaman teman-temannya, untuk masuk ke parlemen itu perlu dukungan dana yang sangat kuat. Bisa ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. "Saya tidak menyebut money politics. Tapi ini merupakan dampak nyata dari politik palementer yang berlaku sekarang," tegasnya.



DEDE OETOMO

Nama Tionghoa: Oen Tiong Hauw
Lahir: Pasuruan, 6 Desember 1953

Pendidikan:
SD Adisucipto Pasuruan
SMP Adisucipto Pasuruan
SMA Frateran Surabaya
IKIP Malang
IKIP Surabaya
Cornell University, USA

Pekerjaan:
Dosen Universitas Airlangga (mantan)
Peneliti freelance
Pokja Komisi Penanggulangan AIDS
Pendiri dan Penasihat GAYa Nusantara

DIMUAT Radar Surabaya edisi Minggu 18 Januari 2009

18 January 2009

Ikut Misa di Madura



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com


Minggu, 18 Januari 2009.

Saya baru saja ikut misa di sebuah gereja kecil di Telang, Kabupaten Bangkalan, Madura. Stasi Telang masuk Paroki Maria Fatima Bangkalan, sekitar tujuh kilometer dari Dermaga Kamal. Saya agak terlambat masuk.

Umat sedang duduk mendengarkan bacaan pertama. Saya hitung-hitung ada 35 jemaat, termasuk anak-anak kecil, yang ikut misa. Misa dipimpin Romo Eli Heriyanto, pastor Ordo Karmel, yang juga pemimpin Paroki Bangkalan. Romo Eli ini asli Jawa, logatnya pun kental Jawa.

Bagi saya, ikut misa di pelosok Jawa-Madura punya kenikmatan tersendiri. Mengapa? Saya benar-benar bisa membayangkan rasanya jadi kaum superminoritas. Penduduk Madura itu 99,99 persen Islam. Semuanya santri. Nah, yang nol koma nol nol sekian itulah superminoritas. Termasuk jemaat di Stasi Telang ini.

Saya perhatikan semuanya orang Jawa. Tidak ada Tionghoa, Flores pun tak. "Sebetulnya ada orang Flores, tapi hari ini dia tidak masuk. Mungkin dia misa di Surabaya atau berhalangan," ujar seorang bapak menjawab pertanyaan saya.

Di gereja mungil ini saya merasa lebih nyaman mengikuti ekaristi kudus. Tidak ada organ, piano, atau alat musik lain. Tidak pakai pengeras suara atau sound system. Umat menyanyi secara alamiah. Romo Eli pun bicara wajar saja, tapi suaranya terdengar jelas sampai di belakang.

Persis misa atau kebaktian di kampung-kampung Flores. Sangat berbeda dengan kebaktian-kebaktian ala karismatik di hotel-hotel mewah, convention hall, restoran.. yang hiruk-pikuk. Romo Eli pun berkhotbah secara tenang. Tidak ngoyo. Oh ya, Paroki Bangkalan ini masuk wilayah Keuskupan Malang, bukan Keuskupan Surabaya.

Hari ini nyanyian ordinarium menggunakan Misa Manado karya M. Rarun, 1974. Lagu-lagu misa ala Manado memang sangat populer di Indonesia, selain lagu-lagu bercorak etnis Flores. Bapa Kami pakai gregorian. Umat bernyanyi dengan antusias meskipun banyak yang suaranya fals. Tak apa-apa, Tuhan toh tak akan mempersoalkan suara bagus atas fals!

Menjadi minoritas di Madura, pulau muslim, ternyata ada enaknya juga. Setidaknya jemaat sangat kompak, saling kenal, saling berbagi, saling membantu. Di ujung misa, umat diminta urunan untuk seorang umat yang sedang dirawat di RS dr Soetomo Surabaya. Mereka juga berencana membesuk pasien tersebut.

"Kami di Madura itu sangat sedikit. Yah, harus saling memperhatikan," ujar Bapak Rafael Sugiyo.

Usai misa saya menemui Romo Eli Heriyanto O.Carm di sakristi. Pastor muda ini menyambut saya dengan antusias. "Saya mau jalan-jalan ke Sampang, sekalian melihat situasi menjelang pencoblosan ulang," kata saya.

"Wah, aman semua. Mudah-mudahan lancar dan pemilihan gubernur Jawa Timur tidak diulang lagi," kata Romo Eli.

BACA JUGA
Minoritas Katolik di Madura.

15 January 2009

Mengapa Pemilu pada Kamis Putih?



Perarakan Semana Santa di Larantuka, Flores Timur. FOTO: Majalah HIDUP.

Oleh Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com



Selain tidak menarik karena terlalu banyak kontestan (38 partai), banyak politisi bejat (busuk), jadwal pemilu 2009 ini tidak mempertimbangkan kepentingan umat Kristen, khususnya Katolik. Khususnya lagi di Nusa Tenggara Timur, khususnya lagi di Pulau Flores.

Mengapa? Pemilu dijadwalkan berlangsung 9 April 2009, hari Kamis. Dalam kalender liturgi Katolik sedunia, Kamis itu sangat penting. KAMIS PUTIH namanya. Hari ini umat wajib mengikuti misa untuk mengenang perjamuan terakhir (the last supper) Yesus Kristus sebelum menjalani jalan salib hingga kematian.

KAMIS PUTIH disusul JUMAT AGUNG, esok harinya, diakhiri dengan SABTU SUCI (orang Larantuka, ibukota Flores Timur bilang SABTU SANTO) atau MALAM PASKAH. Tiga hari suci alias TRIDUUM ini, di Flores, diakhiri dengan perayaan ekaristi Paskah yang sangat meriah. Lagu-lagu paduan suara gerejawi terbaik di Flores selalu lahir dari perayaan PEKAN SUCI sejak tahun 1950-an.

KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU SUCI merupakan hari raya keagamaan terbesar di Gereja Katolik, khususnya di Nusatenggara Timur (NTT). Bukan NATAL yang hanya ekaristi biasa, tanpa perayaan fisi yang meriah.

Orang Larantuka, ibukota Flores Timur, bahkan sejak zaman Portugis, abad ke-16, punya tradisi SEMANA SANTA yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Di Larantuka, PEKAN SUCI Paskah ini bahkan sudah dimulai sejak hari Rabu. Namanya RABU TREWA. Mulai hari itu tak ada keramaian atau pesta pora. Semua orang, Katolik tentu, diminta banyak berdoa, merenungkan misteri penebusan Kristus di atas kayu salib. Umat juga mempersiapkan upacara perarakan massal, diikuti ribuan orang, atau juga disebut PERSISAAN.

Karena pekan suci Paskah sangat penting di Flores, NTT umumnya, maka sejak dulu masyarakat NTT mengenal libur Paskah. Biasanya dimulai hari Rabu, bahkan Senin. Semua kantor pemerintah dan swasta memang diliburkan. Jadi, provinsi NTT yang penduduknya sekitar lima juta itu punya tradisi liburan sendiri. Juga ada tradisi libur Natal Kedua untuk memperingati martir Santo Stefanus.

Mengapa libur Paskah selama 7-10 hari ini sangat penting di Flores Timur, kampung halaman saya?

Sebab, sejak agama Katolik masuk ke Flores pada abad ke-16 oleh misionaris Portugis, kemudian dituntaskan misionaris Belanda (kongregasi SVD) pada abad ke-19, penduduk punya tradisi mengikuti perayaan ekaristi PEKAN SUCI di kampung lain.

Setiap tahun pastor paroki dan dewan paroki menetapkan sebuah kampung, yang punya gereja besar plus lapangan bola, sebagai tuan rumah PEKAN SUCI. Tuan rumah digilir setiap tahun. Contoh: di Kecamatan Ile Ape yang punya 15 desa menetapkan PEKAN SUCI dipusatkan di Gereja Lewotolok. Desa Lewotolok dan dua desa terdekat, Bungamuda dan Waowala, menjadi penerima tamu alias tuan rumah.

Nah, pada Kamis pagi seluruh penduduk dari 15 desa [sekarang jumlah desa kemungkinan bertambah] ramai-ramai berjalan kaki ke Lewotolok. Mereka akan tinggal selama tiga hari di Lewotolok. Ditampung di rumah-rumah penduduk, makan, mandi.. semuanya ditanggung tuan rumah. Juga membawa bekal sedikit berupa ikan kering, jagung titi, beras, dan sebagainya.

Lantas, mengapa pemilu atau pencoblosan tahun ini dilaksanakan pada KAMIS PUTIH?

Ketika ribuan orang NTT sedang ramai-ramai ke desa lain atau mengurus PEKAN SUCI? Ketika ribuan orang Katolik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan luar negeri, rame-rame datang ke Larantuka untuk ziarah SEMANA SANTA pada Jumat Agung?

Yah, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Pemilu 9 April 2009 niscaya tak akan bisa diubah lagi. Mau tak mau, suka tak suka, harus dilaksanakan. Bagaimana dengan umat Kristen yang sedang konsentrasi dengan PEKAN SUCI?

"Gak ngurus! Siapa suruh jadi minoritas??? Orang minoritas, ya, harus selalu kalah dan ngalah. Mayoritas kok dilawan? Kalau divoting, ya, si minoritas pasti kalah," kata teman saya, Fransiskus, aktivis gereja asal Flores Barat.

Saya yakin Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun pemerintah tidak punya niat untuk merusak suasana PEKAN SUCI hanya karena orang Kristen itu wong cilik, minoritas ecek-ecek. Mungkin KPU kesulitan mencari jadwal yang pas mengingat sejak dulu pemilu selalu digelar pada pekan pertama bulan April. Dan... paling mungkin KPU tidak tahu bahwa 9 April 2009 itu KAMIS PUTIH.

Ini juga menunjukkan bahwa sebagian orang Indonesia memang masih asing dengan tradisi-tradisi kristiani. Termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu profesor doktor yang duduk di KPU pusat.

BACA JUGA
Semana Santa, Pekan Suci di Larantuka, Flores Timur.

14 January 2009

Diet Golongan Darah O versi Adamo



Hari ini berat badan saya 75 kilogram, tinggi masih tetap 170 cm. Menurut rumus umum, berat badan ideal saya tentulah 63 kg. Artinya, saya sudah kelebihan berat badan sekitar 10 kg.

Saya pun bertekad menurunkan berat badan dengan olahraga dan... coba-coba diet. Pada awal tahun 2009 saya membeli buku DIET SEHAT GOLONGAN DARAH O (darah saya memang O) karangan Dr. Peter J. D'Adamo. Buku ini kabarnya laris manis, best seller, diterbitkan di Indonesia oleh Kelompok Gramedia.

Apa yang menarik dari diet golongan darah versi Peter J. D'Adamo?

Dokter asal USA ini membongkar habis semua teori diet yang kita kenal. Paling tidak untuk golongan darah O. Bagaimana tidak? Kami, yang bergolongan O, diminta untuk makan DAGING sebanyak-banyaknya. Makanan hewani hendaknya jadi menu utama.

"Golongan darah O berkembang baik dengan protein hewani," tulis Peter J. D'Adamo. "Semakin berat pekerjaan dan olahraga Anda, semakin tinggi pula protein hewani yang harus Anda makan," tambahnya.

Wah, saya langsung ragu-ragu dengan teori Peter J. D'Adamo. Sebab, selama ini para pakar kesehatan dan gizi menganggap daging sebagai penyebab kenaikan berat badan, sumber macam-macam penyakit. Para vegetarian punya seribu satu teori untuk menolak daging. Kata pakar-pakar kita, daging itu penyumbang lemak jahat dalam tubuh.

Kok kami, golongan darah O, disuruh melahap daging manasuka?

"Peter J. D'Adamo iku dokter gendeng. Orang disuruh makan daging sebanyak-banyaknya itu gak masuk akal. Teorinya nyeleneh," ujar Sutanto, teman Tionghoa Buddhis yang vegetarian.

"Jangan diikuti diet golongan darah kayak gitu. Ntar badan sampean tambah melar, gak akan bisa kurus," tambah sang teman sambil tertawa-tawa.

Dia berkeras bahwa vegetarian itu paling bagus untuk manusia. Dia juga sok tahu dengan mengutip Perjanjian Lama, khususnya Kitab Kejadian. "Untuk makananmu Kuberikan kepadamu segala jenis tumbuhan yang menghasilkan biji-bijian dan buah-buahan," Kejadian 1:29.

Teman lain, jemaat Gereja Advent Hari Ketujuh, yang memang menganut ajaran vegetarian, pun menentang keras teori Peter J. D'Adamo. Dia juga bersikeras bahwa daging merupakan makanan paling buruk untuk manusia. "Segera tinggalkan daging," tegasnya.

Kembali ke diet golongan darah O. Peter J. D'Adamo melarang konsumsi segala jenis makanan berbahan gandum atau terigu. Roti, mi, jajanan yang hampir semuanya dari terigu, harus ditolak. Kenapa?

"Produk gandum merupakan penyebab utama dari penambahan berat badan orang bergolongan darah O. Metabolisme yang tidak efisien menyebabkan makanan lebih lambat diubah menjadi energi dan akhirnya tersimpan sebagai lemak," tulis Peter J. D'Adamo, halaman 28.

Kalau yang ini, gandum, saya bisa menerima. Paling tidak saya tidak boleh lagi cangkrukan sambil makan mi buatan Mas Arif di kawasan Bandara Juanda (hampir) setiap malam. Jajan-jajan macam roti, kue-kue, cokelat... wajib disetop. Saya setuju!!!

Tapi ada lagi yang menurut saya kntroversial. Yakni, larangan makan JAGUNG baik jagung muda, nasi jagung, tepung jagung, dan semua makanan berbahan jagung. Apa tidak salah ini Peter J. D'Adamo?

Saya menolak teori larangan makan JAGUNG. Kenapa? Bukankah orang-orang di kampung halaman saya, Flores Timur, masih banyak yang mengandalkan jagung sebagai makanan pokok? Sebagian penduduk Madura juga makan jagung. Warga Bondowoso di pedalaman kayak Curahdamai, tempat saya KKN dulu, makan jagung pula.

Orang-orang desa di Flores bahkan jarang makan nasi (beras). Toh, badan mereka ramping-ramping, kurus, nyaris seperti manusia kurang gizi. Orang Flores pasti ada yang berdarah O macam saya dan ribuan orang lain. Maka, berdasarkan teori akal sehatnya Dahlan Iskan, bos Grup Jawa Pos, saya menolak pantangan jagung sebagaimana diajarkan Peter J. D'Adamo. Tidak masuk akal!

Larangan minum kopi saya terima. Larangan mengonsumsi kelapa, hehehe, saya tolak. Sebab, saya kebetulan punya kebun kelapa meski tidak luas di kampung halaman.

Begitulah. Kalau mau jujur, masalah berat badan di kota-kota, menurut saya, tidak ada hubungan dengan makan gandum, makan jagung, minum kopi, makan/minum kelapa... sebagaimana diteorikan Peter J. D'Adamo. badan kita jadi gemuk karena kurang olah gerak.

Kelebihan kalori karena pembakaran kalori sangat sedikit. Kita makan terlalu banyak, hanya untuk memuaskan selera. Beda dengan orang-orang kampung di Trawas, Pujon, Trenggalek, Kalibawang, atau Flores yang tidak pernah risau dengan berat badannya.

"Peter J. D'Adamo iku dokter gendeng," kata teman saya.

Dahlan Iskan Menegakkan Akal Sehat


Wartawan Indonesia rata-rata menulis tiga sampai lima berita per hari. Tapi adakah tulisan-tulisan itu digemari, ditunggu-tunggu, pembaca? Saya pastikan hampir tidak ada.

Apalagi kalau berita itu hasil kloning, minta-minta dari sesama wartawan, atau copy-paste dari internet. Tak akan ada nilai lebih bagi siapa pun. ''Sekarang ini tulisan wartawan kita hancur-hancuran. Gak ada yang kena dibaca,'' kritik beberapa seniman dalam beberapa kali diskusi di Balai Pemuda Surabaya.

Dahlan Iskan, wartawan senior, chairman Grup Jawa Pos, bukanlah tipe wartawan ecek-ecek itu. Tulisan-tulisannya selalu ditunggu pembaca. Apa saja yang ditulis Pak Dahlan--membahas masalah kecil sampai luar biasa besar macam kasus Bernie di USA--selalu menarik. Lebih tepatnya: sangat, sangat, sangat menarik.

Ibarat pendekar Tiongkok, Dahlan Iskan itu sudah menguasai semua jurus silat dengan sempurna. Tak sekadar menguasai, Pak Bos asal desa pelosok di Magetan ini bisa menciptakan jurus-jurus baru kapan saja dia kehendaki. Dan selalu menarik diikuti.

''Saya itu langganan koran Jawa Pos, tapi jarang baca sampai selesai. Saya hanya punya waktu tujuh menit karena sibuk. Tapi, kalau ada tulisan Dahlan Iskan, saya pasti baca sampai tuntas,'' kata seorang dokter senior kepada saya.

Kata-kata macam ini sering saya dengar dari banyak orang. Akhirnya, saya merenung sendiri: ada apa dengan wartawan-wartawan sekarang yang perkakasnya canggih-canggih itu? Laptop, kamera canggih, perekam digital, komputer pentium sekian, internet... dan aneka kemudahan lain.

Setiap kali saya membimbing mahasiswa-mahasiswa yang magang reporter, saya juga selalu minta agar mereka belajar dari tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Bahkan, buku-buku kumpulan tulisan Pak Dahlan yang diterbitkan JP Books selalu saya jadikan kado untuk mahasiswa-mahasiswa magang di Radar Surabaya.

''Saya tidak perlu kasih teori macam-macam tentang cara menulis berita. Anda cukup baca dan belajar dari tulisan Pak Dahlan Iskan,'' ujar saya kepada Rima Maduwati dan Nur Aini Wahidah, dua mahasiswa UPN Veteran, yang baru-baru ini menjadi 'anak asuh' saya di Radar Surabaya.

Nah, buku MENEGAKKAN AKAL SEHAT, terbitan JP Books Surabaya, 2008, untuk kesekian kalinya memperlihatkan kejeniusan Dahlan Iskan. Ini kumpulan catatan ringan Dahlan Iskan yang dimuat di Radar Surabaya pada Maret-April 2008 lalu.

Sesuai dengan tema, Akal Sehat, Pak Dahlan mengangkat cerita-cerita sederhana yang terjadi (hampir) tiap hari di masyarakat. Melawan akal sehat, tapi kita menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Misal: pesawat yang sering telat, antrean yang kacau di Bandara Juanda (dan bandara-bandara lain di Indonesia), budaya suap wasit di sepakbola, bahan bakar minyak, pidato yang bikin ngantuk, Adam Air, hingga kereta peluru Tiongkok.

''Akal sehat yang tidak pernah digunakan lama-lama akan mati juga. Lalu, lama-lama sesuatu yang tidak masuk akal sehat dikira sudah sehat. Lama-lama lagi, orang yang berakal sehat menjadi kelihatan aneh sendirian...,'' tulis Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan memang pendekar akal sehat. Namun, sebagai orang Jawa Timur, dia juga bersikap realistis. Sing waras ngalah! Selama menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Pak Dahlan tidak mau menerima gaji. Alasannya:

''... karena MPR saat itu memang tidak perlu melakukan kerja apa-apa, kecuali lima tahun sekali memilih presiden. Itu pun sudah tinggal bekerja sekali saja, yakni membuka mulut untuk berteriak SETUJU'' (halaman 54).

Tapi, suatu ketika, ada orang datang ke kantor menawarkan jasa untuk mengambil gaji rapelan anggota MPR selama lima tahun. Orang itu, tulis Pak Dahlan, mengiba-iba, pakai alasan kemanusiaan segala. Padahal, motif aslinya, ya, ingin dapat komisi.

''Maka, kali ini akal sehat saya kalah. Akal sehat bahwa orang yang tidak bekerja tidak boleh menerima gaji kalah dengan rasa iba melihat persoalan hidup manusia. Saya minta maaf kepada akal sehat saya," tulis Dahlan Iskan.



Anda ingin memiliki buku MENEGAKKAN AKAL SEHAT?

Hubungi JP Books
Jalan Karah Agung 45 Surabaya
Telepon (031) 828 9999 psw. 156
Faksimili (031) 828 1004

13 January 2009

Mengapa Pemilu Tidak Menarik?



Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
hurek2001[at]yahoo.com

Siapa pun yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) niscaya sangat sulit mengurus pemilihan umum (pemilu) kali ini. Persoalannya bukan sosialisasi, mekanisme pengadaan logistik, mencoblos atau mencontreng dan tetek-bengek urusan teknis.


Lantas apa?

Jawabannya jelas: terlalu banyak politisi kita yang BEJAT! Tidak punya komitmen untuk menciptakan demokrasi, apalagi memperhatikan rakyat. KEBEJATAN itu bisa dilihat dari banyaknya partai yang ikut pemilu 2009. Tiga puluh delapan partai!

Sejak dulu saya bermimpi jumlah partai di Indonesia cukup LIMA, paling banyak SEMBILAN. Harus di bawah dua digit.

Tanpa penyederhanaan partai--dengan cara demokratis, bukan cara Orde Baru, tentu saja--maka pemilu menjadi sangat tidak menarik. Di mana-mana rakyat malas dan apatis.

Saya sama sekali tidak tertarik datang mencoblos atau mencontreng di bilik suara kalau partainya 38 macam sekarang! Andai saja partainya hanya LIMA atau TUJUH, saya akan sangat antusias mendukung pemilihan anggota legislatif.

KEBEJATAN politisi Senayan memang sudah keterlaluan. Bayangkan, undang-undang yang dengan tegas memberikan kriteria kepada partai yang boleh ikut pemilu dibatalkan. Ini untuk memenuhi nafsu politik dan kuasa politisi-politisi itu.

Jika kebejatan-kebejatan ini masih tetap dipertahankan, ya, sampai kapan pun jumlah partai di Indonesia akan tetap buanyaaak gak karuan. Bukan tidak mungkin, pemilu lima tahun mendatang jumlah partai mencapai 236.

Kalaupun undang-undang lama masih dipakai, politisi-politisi itu tidak kurang akal. Mereka akan mengubah nama partai lama yang tidak lolos electoral threshold. Namanya cukup dipelesetkan saja agar mirip partai lama. Orang-orangnya, kantor, jaringan... ya tetap sama.

Tadi malam, saya melihat diskusi di TVRI tentang persoalan pemilu legislatif ini. Pakar-pakar, politisi, pengamat, semua menyalahkan KPU. Seakan-akan orang-orang KPU di pusat itu goblok-goblok, tidak paham jadwal waktu, kurang sosialisasi, dan sebagainya. Tidak ada satu pun yang menyinggung akar keruwetan politik kita: kebejatan politisi mengembangbiakkan partai menjadi 38.

Katakanlah satu partai punya 10 calon anggota legislatif (caleg), akan ada 380 nama caleg dan foto yang dipajang di surat suara. Bisa dibayangkan betapa besar dan ruwetnya surat suara. Ini baru DPR RI. Belum DPR provinsi, DPR kabupaten/kota, Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Tahun lalu saya begitu antusias menyaksikan siaran pemilu di Amerika Serikat. Bukan saja Barack Obama memang memukau, pernah tinggal dan sekolah di Jakarta, tapi juga karena prosesnya sangat sederhana. Hanya ada DUA partai yang berlaga. Mana partai pemerintah dan mana oposisi sangat jelas dan tegas. Politisi-politisi USA juga punya moral yang baik, tidak bejat kayak di sini.

Ah, Indonesia, negara paling ruwet dan malang!