29 December 2009

Suster Linda ke Tiongkok



Sesuai dengan keinginannya, Suster Anastasia Birgitta Lindawati akhirnya diutus melakukan misi pelayanan di Tiongkok. Biarawati Katolik kelahiran Jombang ini bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Maryknol di New York, Amerika Serikat.

Sr Dolores, juru bicara Maryknoll, menjelaskan, upacara pelepasan Linda—sapaan akrab Sr Anastasia Lindawati--bersama dua suster lain sudah dilakukan pada pertengahan Desember silam di New York. “Mereka menerima tugas ini dengan senang hati,” tulis Dolores dalam surat elektroniknya.

Lulusan S-2 Universitas Narotama Surabaya ini meninggalkan bisnisnya di Jakarta dan Surabaya untuk menjadi biarawati. Tak tanggung-ranggung, Linda memilih Kongregasi Maryknoll yang berbasis di Amerika Serikat.

"Saya pertama kali mengenal Maryknoll dari Romo Agustinus Surianto di Bogor. Saya juga sempat bertemu Romo Ridwan Amo, yang pernah diajar Sr. Dorothy McGowan, MM di Bandung. Romo Ridwan inilah yang merekomendasikan Maryknoll kepada saya," tutur

Linda yang menyelesaikan studi S-1 di Institut Pertanian Bogor pada 1993 ini.
Dia kemudian mengorek informasi tentang BiarawatiMaryknoll melalui situs www.maryknollsisters.org dan mempelajari karya-karya pelayanan mereka di berbagai negara. "Saya tertarik karena merasa cocok. Ini semua merupakan panggilan Tuhan yang sangat istimewa untuk saya," katanya.

Karir Linda terbilang cepat. Setelah mengucapkan kaul pertama di New York pada 9 Agustus 2009, Linda bersama dua suster yang lain mengikuti program formasi di Chicago dan kuliah lanjutan di Catholic Theological Union. Di sela kesibukan, mereka mengadakan pelayanan sosial di rumah sakit serta komunitas Tionghoa-Amerika.

Ketika diminta memilih medan pelayanan, Linda tanpa ragu-ragu menunjuk Tiongkok. Sebagai perempuan keturunan Tionghoa, dia merasa tak asing lagi dengan bahasa dan budaya masyarakat negara berpenduduk 1,3 miliar itu.

Selamat bertugas Linda!

24 December 2009

Joss Wibisono Mengulas Edjaan Suwandi



Bung Lambertus Hurek jang budiman,

Salam dari Amsterdam jang serba putih, karena ditutupi saldju berat. Ini untuk pertama kalinja sedjak 1995 pada pertengahan bulan Desember sudah turun saldju. Selama ini, mungkin akibat bumi jang memanas, saldju biasanja baru turun bulan Maret, mendjelang achir musim dingin. Mungkin untuk menghormati KTT Iklim di Kopenhagen, saldju sekarang sudah turun.

Untunglah Anda bukan warga XXX. Seandainja Anda mampu, saja akan tetap mendesak supaja Anda tidak beli rumah di sana. Itu akan sangat memuakkan. Kentara sekali, warga XXX itu tidak bisa membedakan antara ekslusivitas dengan hal2 jang memuakkan itu.

Djelas dalam soal bahasa kita punja keprihatinan jang sama. Dalam kesempatan ini saja ingin menulis mengapa saja lebih senang dengan Edjaan Suwandi. Sudah saja katakan bahwa edjaan itu lebih nasionalis.

Pertama, sebagai koreksi terhadap edjaan Van Ophuijsen, edjaan Suwandi ingin mendjauh dari hal-hal jang ke-belanda2an. Tetapi edjaan ini djuga tahu tidak bisa sepenuhnja lepas dari pengaruh asing, karena itu jang ditempuh adalah mentjari keseimbangan antara jang asing dan jang Indonesia. Djadi tidak sepenuhnja anti asing dan tidak sepenuhnja fanatik pada jang Indonesia.

Inilah nasionalisme jang menarik bagi saja. Bukan nasionalisme jang pitjik, karena anti asing dan meng-unggul2kan jang Indonesia, tetapi nasionalisme jang djuga menghargai pentingnja pengaruh asing.

EYD menurut saja tidak begitu. Pertama, EYD, sedjalan dengan Malaysia sebagai mitranja, memihak bahasa Inggris. Ini berbahaja, karena dengan begitu Indonesia akan melupakan asal-usul edjaan bahasanja jang adalah edjaan Belanda. Pasti tidak banjak orang Indonesia jang tahu kenapa di Malaysia mereka punja Parti Keadilan dan kita punja Partai Demokrat.

Dan begitu EYD diberlakukan, kawula muda tidak tertarik lagi pada batjaan2 zaman dulu, batjaan2 jang bernilai sedjarah. Di sinilah makna EYD jang sebenarnja: menutup gerbang sedjarah dari pemilik sedjarah itu sendiri, apalagi kawula mudanja. Dan itu menurut saja sengadja dilakukan oleh orde baru harto.

Sebagai penguasa mutlak dan se-wenang2 harto merasa harus menguasai pikiran orang. Dan tidak ada tjara lain dalam menguasai pikiran itu ketjuali menguasai bahasa. Kenapa? Karena orang berpikir dalam bahasa. Begitu bahasa dikuasai maka pikiran orangpun djuga akan terkuasai.

Menguasai bahasa bukan hanja mengeluarkan kosa kata jang diharuskan oleh penguasa (zaman harto Pembangunan, Pantjasila, UUD 45 dan taik kutjing lainnja), tetapi djuga melalui edjaan jang diwadjibkannja.

EYD itu bisa sadja akan diberlakukan tanpa perduli harto pegang kuwasa atow tidak. Maklum wektu itu sudah ada kerdjasama di bidang bahasa antara Indonesia dan Malaysia. Tetapi, djustru dengan keluarnja EYD inilah jang dimanfaatkan oleh harto orde baru. EYD itu laksana buah jang turun dari sorgaloka untuk dipakai melanggengkan kekuasaan mereka.

Dalam surat elektronik ini saja sertakan versi pertama tulisan saja tentang hal ini. Saja tidak pernah mengirimkannja ke mana2, karena tahu pasti tidak akan dimuat. Ini djuga tjuma upaja pertama saja menuliskan keprihatinan itu.

Kembali ke soal generasi muda jang oleh EYD makin dibuat buta sedjarah, di sini saja akan berpaling kepada nama jang sempat anda sebut pada email Anda, itulah Benedict Anderson. Saja kaget sekaligus kagum Anda mengutip nama guru dan sahabat saja jang satu ini. Dalam naskah tulisannja tentang Suharto (diterbitkan oleh New Left Review http://www.newleftreview.org/?view=2714) Anderson memakai satu istilah jang sangat menarik: historical lobotomy.

Saja tidak tahu apa bahasa Indonesianja jang tepat. Tetapi ini kurang lebih berarti kehampaan, djadi maksudnja generasi muda Indonesia (produk orde baru) menderita apa jang disebut kehampaan sedjarah. Itu antara lain disebabkan oleh bahasa dan edjaan tadi. Sajang ketika tulisan itu terbit di New Left Review, istilah historical lobotomy tidak digunakan lagi.

Sebagai orang jang sedikit banjak mengikuti pikiran Benedict Anderson, saja tidak setudju dengan pernjataan Anda bahwa "Benedict Anderson yang di USA itu malah kampanye kembali ke ejaan Belanda ala Tuan Van Ophuijsen berikut bahasa Melayu tempo doeloe yang lazim dipakai di Indonesia Timur itu".

Tidak, bukan begitu. Anderson sepenuhnja sadar betapa Van Ophuijsen djuga memperkosa bahasa Melajoe supaja bisa menenangkan orang2 di Hindia Belanda dalam kekuasaan kolonial. Satu tjontoh sadja, sebuah pantun dari zaman dulu:

Kaloek toewan djalan dahoeloe
Tjaharikan saja daoen kambodja
Kaloek toewan mati dahoeloe
Nantikan saja di pintoe soewarga


Apa makna kata toewan di atas?

Tidak lain adalah "Anda" untuk zaman sekarang. Tetapi, toewan sekarang sudah setara dengan kata meneer dalam bahasa Belanda atau mister dalam bahasa Inggris. Padahal dulu tidak. Maka bukan sadja Van Ophuijsen sudah merubah makna kata toewan, ia djuga sudah memberikan djenis kelamin kepada kata itu.

Djadi ada aspek gendernja. Padahal dulu tidak. Dulu toewan bisa dipakai untuk menjebut seorang pria maupun seorang wanita. Sekarang sudah tidak mungkin lagi.

Itulah salah satu ulah djahat jang dibikin oleh Van Ophuijsen, dan saja tahu pasti, Ben Anderson sadar akan hal ini. Makanja tidak mungkin dia mengusulkan dipakai kembali edjaan Belanda kurang adjar itu. Jang diusulkannja adalah edjaan Suwandi.

Anda djuga bisa bertanja kepada salah satu muridnja Ben Anderson. Dia tinggal di Surabaja, itulah Dédé Oetomo. Silahkan tanja pada dia soal apakah Ben Anderson memang pro edjaan Van Ophuijsen.

Demikian dulu tjorat-tjoret saja. Moga2 anda tidak enggan membatjanja, apalagi karena di bagian achir rasanja saja sudah berchotbah. Terima kasih atas perhatian anda. Senang bisa berkorespondensi dengan Anda.


Salam,

Joss Wibisono
Radio Nederland Seksi Indonesia

Gamelan Hampir Mati di Djawa


Tadi saja baru lihat di koran KOMPAS edisi Djawa Timur ada gambar orang Amerika Serikat lagi mendalang. Dia pakai pakaian adat Djawa lajaknya dalang2 wajang kulit biasa. Tidak ada tjerita lebih djauh di koran. Tapi saja bisa membajangkan Tuan Amerika itu bisa mendalang dengan baik. Standarlah!

Seperti biasa, saja lalu bandingkan dengan anak2 muda zaman sekarang di Surabaja, Sidoardjo, Gresik. Saja djuga perhatikan atjara2 di televisi. Mana ada jang suka wajang kulit? Mana ada program kesenian tradisional di televisi? Tak usah djadi dalang, karena itu sulit dan butuh latihan lamaaaa... dan bakat jang sangat besar. Tjukup djadi penikmat sadja deh!

Wow, sangat sedikit orang2 muda jang suka nonton wajang kulit dengan sinden2 jang aju dan kadang2 genit. "Orang Djawa sudah hilang kedjawaannja," berkata Pak Harjadji, pelukis senior jang masih suka kesenian tradisional.

"Orang Djawa tinggal tiga," kata Ibu Siti Rijati, pelukis tua djuga, jang saya adjak omong2 di rumahnya, Ngagel Djaja Selatan Surabaja. "Dulu orang2 Djawa banyak di kompleks perumahan ini, sekarang tinggal tiga. Dulu orang Djawa suka gamelan, wajang kulit... sekarang nggak gitu lagi."

Musik gamelan adalah musik jang indah. Begitu antara lain tulisan Djoko Pitono, wartawan senior, pengamat bahasa dan kebudajaan di Radar Surabaja edisi 15 November 2009. Begitu bagusnja musik gamelan--bagi jang suka tentu sadja--orang bisa menikmati musik ala Djawa ini ber-djam2 lamanja. Semalam suntuk duduk manis untuk mendengar musik plus melirik tante2 sinden berolah suara.

Bahkan, sedjak dulu orang2 Barat jang punja tradisi musik berbeda ikut senang dengan gamelan. Mereka bahkan beladjar, menekuni, dan akhirnya mahir main musik Djawa. Djoko Pitono menjebut nama George McTurnan Kahin (1918-2000), ahli politik dari Amerika Serikat. Tuan Kahin ini sangat piawai dalam studi Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Nah, beliau ini ikut mempopulerkan gamelan dan wajang kulit di kampusnya, Universitas Cornell di Amerika sana.

Bahwa sekarang sudah mulai muncul orang2 Amerika jang bisa main gamelan, djadi dalang, itu antara lain berkat djasa almarhum George Kahin. Barangkali di telinga orang2 Barat jang modern itu, gamelan ibarat musik dari surga, musiknja para dewa. Eksotis. Beda dengan musik klasik Barat, jazz, rock, pop, soul, hip-hop... jang disebarkan secara masif di seluruh dunia. Musik hiburan ala Barat jang sekarang bikin mabuk anak2 muda di seluruh dunia ini.

Jah, mau bilang apa lagi? Dunia memang sudah berubah luar biasa. Musik gamelan jang katanja indah dan eksotik itu sudah hampir musnah. Anak2 muda di Djawa sudah kurang berminat. Bahkan, tidak punja apresiasi sedikit pun pada kesenian adilihung warisan nenek mojangnja.

Djoko Pitono menulis:

"Banjak orang Djawa sendiri jang asing dengan gamelan. Bahkan, ada orang Djawa jang mengharamkannja. Tidak sedikit anak2 muda Djawa jang seolah antipati dengan musik gamelan. Telinga mereka tak mau menerima musik tradisional ini...."

22 December 2009

Rudi Isbandi Bikin Museum



Minggu (20/12/2009) merupakan hari yang sangat istimewa buat Rudi Isbandi (73), bahkan buat dunia seni rupa Jawa Timur. Museum Rudi Isbandi di Jalan Karangwismo I/10 Surabaya diresmikan. Museum seni rupa yang menempati dua lantai itu dibuka untuk masyarakat umum hingga 2 Januari 2010.

"Ini sekaligus merayakan 51 tahun pernikahan kami dan ulang tahun saya yang jatuh pada 2 Januari," ujar Rudi Isbandi kepada Radar Surabaya di kediamannya yang kini 'disulap' menjadi Museum Rudi Isbandi kemarin.

Didampingi sang istri tercinta, Sunarti Rudi, wawancara ini berlangsung gayeng sembari menikmati pisang goreng kesukaan sang seniman. Berikut petikan obrolan santai Radar Surabaya dengan Rudi Isbandi dan istrinya, Sunarti.


Oleh LAMBERTUS HUREK
Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 Desember 2009

Sejak kapan Anda punya ide membangun museum ini?

Rudi: Oh, sudah lama sekali. Sejak 50 tahun lalu saya sudah punya mimpi untuk mendirikan sebuah museum seni rupa. Tapi untuk mewujudkan mimpi itu memang tidak mudah. Saya harus melangkah pelan-pelan, bertahap, jatuh bangun, dan baru sekarang ini terwujud.

Sunarti: Waktu saya masih jadi guru SD, kemudian mengajar di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Red), kemudian saya pensiun, ide itu jalan terus.

Persiapan apa saja yang Anda lakukan?

Rudi: Nah, karena sejak dulu sudah punya mimpi, maka saya selalu berusaha menyimpan karya-karya yang menandai proses kreatif saya pada kurun waktu tertentu. Kepada teman-teman pelukis, saya juga sering mengajak agar menyisihkan minimal satu karya terbaiknya dalam setahun. Janganlah semua karya jatuh ke tangan orang lain (kolektor). Anda harus mengoleksi juga. Suatu saat nanti karya-karya itu bisa disimpan di museum pribadi agar bisa diapresiasi masyarakat banyak.

Rupanya, Museum Rudi Isbandi ini merupakan museum seni rupa pertama di Surabaya, bahkan Jawa Timur, yang digagas dan dikelola sendiri oleh pelukisnya?

Rudi: Bisa jadi. Setahu saya di Jogja ada Museum Affandi. Di Bandung ada museum Popo Iskandar. Tapi kalau di Jawa Timur kayaknya belum ada museum seni rupa.

Museum ini dibuka untuk umum atau terbatas untuk kalangan tertentu?

Rudi: Terbuka untuk masyarakat umum, khususnya untuk pendidikan dan kesenian. Selain apresiasi seni rupa karya-karya saya, di sini bisa diadakan acara-acara kesenian seperti baca puisi, teater, lomba lukis, dan sebagainya. Singkatnya, semua kegiatan yang ada hubungannya dengan pendidikan dan kesenian.

Siapa yang mendesain?

Rudi: Saya. Saya sendiri yang gambar, bikin semua detail-detailnya. Tapi, karena saya bukan arsitektur, saya harus minta bantuan arsitek untuk membantu mewujudkan impian lama saya.

Sunarti: Sempat nemu beberapa kontraktor, tapi biayanya terlalu mahal. Selangit. Dan, terus terang saja, ini sempat membuat kami putus asa. Apa mungkin kami bisa membangun museum? Akhirnya, rencana itu terpendam hingga bertahun-tahun.

Lantas, ketemu sponsor atau semacam penyandang dana?

Sunarti: Nah, kebetulan saya ini suka lagu-lagu nostalgia di Radio Merdeka FM. Para penggemar biasanya setiap hari saling mengirim salam atau menyapa di udara. Bu Rudi yang disebut-sebut di Radio Merdeka itu ya saya. Dari situ saya berkenalan dengan Bapak Ferry Wong yang juga sangat senang dengan tembang-tembang oldies. Pak Ferry ini punya toko bahan bangunan.

Suatu ketika, saya cerita kalau kami ingin mendirikan museum di Karangwismo. Nah, Nanda Ferry ini langsung memberikan respons positif. Ternyata, Nanda Ferry punya adik ipar, namanya Hendra Lou, seorang kontraktor. Orangnya ke sini dan dia merasa terharu. Dia bilang, "Saya akan menolong, tapi Ibu harus bersabar."

Singkat cerita, Museum Rudi Isbandi akhirnya terwujud.

Rudi: Ya, begitulah, dia (Sunarti) memang dikirim Tuhan untuk mewujudkan mimpi saya sebagai seniman yang besar. Sebaliknya, saya juga selalu mendorong dia agar berhasil dalam karirnya sebagai pendidik. Mula-mula dia hanya seorang guru SD, kemudian studi di PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), hingga menjadi dosen di IKIP Surabaya. Kemudian studi lagi sampai magister (S-2) dan pensiun.

Karya-karya Anda kan sangat banyak. Nah, yang disimpan di museum ini yang seperti apa?

Rudi: Karya-karya yang menandai perjalanan saya sebagai seorang seniman. Karya tahun 1952, ketika saya masih berusia 15 tahun, ada empat biji. Tahun 1954 dua biji. Tahun 1956 dua biji. Tahun 1958 satu biji. Kemudian karya-karya tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, hingga 2009. Total ada sekitar 150 karya seni rupa yang bisa dinikmati di museum.

Jadi, di museum ini masyarakat bisa mengetahui perjalanan seorang Rudi Isbandi sejak remaja belasan tahun hingga sekarang. Dari pelukis yang tadinya tidak punya nama, sama sekali tidak dikenal, hingga menjadi pelukis yang dikenal luas di komunitas seni rupa.

Wah, ternyata Anda bisa menyimpan lukisan-lukisan era 1950-an.

Rudi: Banyak juga yang disimpan oleh keluarga. Saya kemudian menukar lukisan-lukisan lama itu dengan lukisan yang baru. Eh, mereka malah senang dengan lukisan-lukisan saya yang baru. Hehehe....

Dari koleksi-koleksi di museum ini terlihat sekali kalau gaya atau aliran yang Anda tekuni selama lima dekade ini berubah-ubah.

Rudi: Ya. Perubahan dalam hidup memang tidak pernah saya tolak. Saya tidak pernah ngecat rambut supaya kelihatan muda. Saya biarkan begitu saja, apa adanya. Dan justru saya lebih senang dengan tampang saya yang sekarang ketimbang ketimbang tampang saya yang dulu.

Begitu juga dengan karya-karya saya. Mulai yang naturalis, realis, ekspresif, kubisme, instalasi, dan sebagainya. Saya ini orang yang sangat keras. Orang lain tidak bisa mengubah prinsip saya.

Sunarti: Pernah ada kolektor yang datang ke sini untuk minta dibuatkan lukisan. Berapa pun harganya akan dibayar. Uang banyak sudah di depan mata. Tapi Bapak nggak mau buat. Padahal, dalam waktu lima menit saja lukisan itu sudah jadi.

Rudi: Saya memang tidak suka orang yang suka menipu. Saya punya feeling kalau orang itu nggak beres. Maka, saya tidak boleh memberikan lukisan pada orang itu. Sebab, konsep saya bukan jualan lukisan. Saya ingin idealis. Mengutamakan kualitas daripada komersial.

Rata-rata berapa lama Anda menekuni gaya tertentu?

Rudi: Itu gak tentu. Ada yang dua tahun. Selama 37 tahun saya menekuni abstrak nonfiguratif mulai tahun 1967 sampai 2000. Maka, orang Indonesia selama ini mengenal Rudi Isbandi dengan gaya itu. Padahal, sejak tahun 2000 saya berubah lagi ke mixed media. Saya manfaatkan apa saja yang ada di sekitar kita. Mur, baut, cermin, onderdil sepeda, jerohan radio-tape, kaleng bekas, guntingan koran, dan sebagainya. Saya tidak bisa menolak perubahan.

Setelah punya museum, apakah Anda masih terus berkarya?

Rudi: Saya bahkan sudah punya konsep untuk 10 tahun ke depan, 2010 sampai 2020. Saya tidak akan membuat lagi karya seni yang segiempat, tapi yang digantung. (Rudi Isbandi kemudian menunjuk sangkar burung di depan pintu museumnya.)

Kurungan itu ibarat sebuah penjara. Banyak orang yang punya keluarga, punya rumah tangga, tapi merasa terpenjara. Mereka tidak punya kebebasan dan kebahagiaan. (*)




Tetap Berpacaran hingga Usia Senja


BERBEDA dengan kebanyakan seniman yang senang berkelana, berlama-lama meninggalkan rumah, bahkan sering 'lupa rumah', Rudi Isbandi sebagai 'pria rumahan'. Dia tak selalu kembali ke rumah kecuali berada jauh di luar kota.

Dia akan resah jika tidak berada di rumahnya di Karangwismo I/10 Surabaya.
"Sebab, saya ini tidak bisa jauh dari Sunarti, istri saya. Dan dia juga tidak mungkin bisa jauh dari saya. Kami berdua memang saling membutuhkan," ujar Rudi Isbandi sembari memeluk mesra sang istri.

Kemesraan antara Rudi Isbandi dan Sunarti memang selalu terlihat di berbagai tempat. Dua sejoli ini ibaratnya terus 'berpacaran' hingga lansia. Bahkan, kini, setelah Sunarti pensiun sebagai dosen Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya), kehidupan Rudi Isbandi jauh lebih berwarna. Maklum, setiap hari dia ditemani istri tercinta sembari menikmati lagu-lagu nostalgia.

"Kebetulan kami berdua ini sama-sama suka lagu-lagu nostalgia. Jadi, hidup ini rasanya senang dan indah terus," ujar Bu Rudi, sapaan akrab Sunarti Rudi di kalangan penggemar tembang lawas, khususnya lagu-lagu Barat, di Radio Merdeka FM. "Pak Rudi itu senang banget sama Dean Martin. Hehehe...."

Apa resep pasutri Rudi-Sunarti yang bukan saja mempertahankan rumah tangga, tapi juga merawat kemesraan hingga usia kepala tujuh?

Rudi kontan menuding telunjuknya ke atas. Dia hanya ingin mengatakan, kebahagiaan berkeluarga ini semata-mata karena anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. "Saya berkali-kali bilang, dia (Sunarti) itu memang sengaja dikirim Tuhan untuk mendampingi saya," ujar Rudi disambut senyum sang istri.

Selain itu, ketika masih berpacaran, Rudi dan Sunarti mengaku sudah membicarakan secara panjang lebar konsep hidup rumah tangga yang akan dibangun. "Jadi, nggak sekadar pacaran, bermesraan thok. Kami sejak awal sudah punya konsep sebelum resmi menjadi suami-istri," kata ayah dua anak dan kakek dua cucu ini.

Waktu itu Rudi seniman pemula, sementara Sunarti yang lulusan SGB menjadi guru sekolah dasar. Sudah tentu mereka harus hidup sangat sederhana. Nah, konsep yang disepakati Rudi dan Sunarti kira-kira begini. Hidup berumah tangga itu ibarat dua orang yang pergi memancing di sungai.

"Kita tidak akan membicarakan ikan yang didapat itu dari pancing yang mana. Yang penting, ikan itu kita nikmati bersama-sama. Kalau nggak dapat ikan, ya, kita pindah ke sungai yang lain," kata Rudi.

"Kalau dapatnya banyak, ya, disimpan, ditabung. Sewaktu-waktu bisa digunakan," timpal Sunarti.

Konsep 'memancing ikan di sungai' ini ternyata diterapkan betul oleh Rudi dan Sunarti. Sebagai guru, mulai guru SD hingga dosen Unesa, pancing milik Sunarti praktis selalu 'kena' karena ada gaji tetap setiap bulan. Adapun pancing seorang pelukis sering kali sulit ditebak. Kadang mendapat ikan besar, tapi kadang pula tidak mendapat apa-apa dalam waktu lama.

"Pernah selama lima tahun penuh pancingnya Pak Rudi nggak dapat apa-apa," ujar Sunarti sambil tersenyum. "Makanya, saya bersyukur punya istri seperti dia. Saya masih bisa makan sambil tetap berkarya sebagai seniman. Dan itu yang membuat idealisme dan konsistensi saya di bidang kesenian tetap terjaga sampai sekarang," tegas Rudi.

Rupanya, diam-diam, kemesraan dan kebahagiaan Rudi-Sunarti dipantau oleh aparat pemerintah. Melalui seleksi yang ketat, pasutri Rudi-Sunarti mendapat penghargaan sebagai keluarga harmonis teladan oleh Gubernur Jawa Timur Wahono.

Bukan itu saja. Ketika konsep keluarga berencana (KB) dengan dua anak masih belum populer di tanah air, Rudi dan istri sudah berkomitmen untuk hanya punya dua anak. Kembali keduanya dianugerahi penghargaan KB Lestari Tingkat Nasional. (rek)


BIOGRAFI


Nama : Rudi Isbandi
Lahir : Jogjakarta, 2 Januari 1937
Istri : Sunarti Rudi
Anak : Totok Rudi Ananto (alm) dan Titik Ratih
Pekerjaan : Pelukis, direktur Museum Rudi Isbandi
Alamat : Jalan Karangwismo I/10 Surabaya

Pendidikan :
SMA Institut Indonesia, Jogjakarta
Sanggar Affandi, Jogjakarta, 1954.

Karya : sekitar 2.000 karya seni rupa dalam berbagai gaya dan isme.
Penghargaan :

Presiden RI Soeharto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Jatim
Menteri Luar Negeri RI
Pemerintah Mesir
Keluarga Harmonis (Menko Kesra), 1980
KB Lestari Teladan Tingkat Nasional, 1987
Peniti Emas dari Presiden Soeharto
Satya Lencana Kemanusiaan dari Presiden Megawati

Moto : Selalu belajar dari orang-orang sukses dan orang-orang yang gagal.

Jamas Keris Pusaka



Bulan Suro sangat penting bagi wong Jowo yang menghayati “kejawaannya”. Maklum, orang Jawa itu tidak semuanya suka budayanya sendiri. Terlalu banyak orang Jawa menilai budayanya sebagai "berbau klenik, takhayul, gaib, mistik, supranatural".

Maka, tahun baru Jawa, 1 Suro, di Surabaya dan Sidoarjo--yang "kejawaannya" kurang kental--kurang meriah. Beda dengan di Jogjakarta, Surakarta, atau daerah-daerah di Jawa Timur bagian barat alias kulonan. Salah satu ritual wajib suroan adalah jamas pusaka dan kirab pusaka.

"Itu tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan," kata Syafii Prawirosedono, pelukis wayang asal Blitar, kepada saya.

Cak Syafii tergolong sibuk selama bulan Suro. Dia menjamas benda-benda pusakanya sendiri dan menjamas benda-benda pusaka, khususnya keris, milik orang lain. Keliling Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain demi melestarikan budaya Jawa yang makin tergerus budaya Barat.

Cak Syafii bahkan pernah diundang ke Singapura oleh Haji Raja Sadam. Orang Melayu-Singapura ini punya koleksi lebih dari 2.000 keris. Pak Raja kerap memburu keris-keris terbaik di berbagai daerah di Jawa.

"Selama dua bulan saya mengidentifikasi keris-keris koleksi beliau. Pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," ceritanya.

Selain Cak Syafii, Eyang Thalib Prasojo di Sidoarjo juga sibuk membersihkan [menjamas] benda-benda pusakanya setiap Suro. Kemarin, saat mampir ke Sanggar Akar Rumput di tepi Kali Pucang, Sidoarjo, seniman patung dan sketsa ini lagi sibuk membersihkan begitu banyak keris. Pusaka-pusaka itu kemudian dijejer di sanggar yang juga ruang pamer karya seninya.

Indah sekali. Kita bisa menikmati karya-karya wayang suket khas Eyang Thalib, kemudian keris-keris aneka rupa yang jarang dikeluarkan. "Ini memang tradisi yang selalu kami pelihara dari tahun ke tahun," kata si Eyang.

18 December 2009

Barbra Streisand - Natal yang Sejuk




Di Indonesia akhir-akhir ini terlalu banyak lagu pop yang nge-beat. Meledak-ledak mengajak orang meloncat. Suasana tegang terus dari awal sampai akhir. Lagu-lagu tenang, santai, ringan macam Ermy Kullit pada era 1980-an dan 1990-an tak ada lagi.

Band-band baru banyak, sehingga kita tak mampu menghafal atau sekadar mengenal satu dua lagunya, tapi musik begitu seragam. Bikin capek!

Kasus yang sama terjadi di lingkungan gereja. Lagu-lagu rohani dalam beberapa tahun terakhir 100 persen sama dengan lagu-lagu pop biasa. Hanya beda di syair. Suasana kebaktian kebangunan rohani kayak konser musik pop. Capek deh!

Ini yang bikin saya malas ikut apa yang disebut KKR, kebaktian kebangunan rohani. Bikin capek! Kita diajak jingkrak-jingkrak melulu. Apa bedanya KKR dengan konser musik pop atau rock di stadion?

Maka, menjelang Natal ini saya suka memutar album Natal yang tenang, santai, tidak meledak-ledak. Khawatir tambah stres. Albumnya BARBRA STREISAND bertajuk Christmas Memories kali ini paling sering saya putar. Pas dengan selera saya yang semakin menjauhi "musik ngak-ngik-ngok" -- meminjam istilah Bung Karno.

Ada 10 lagu di album Natal BARBRA STREISAND yang digarap tahun 2001.

I'll Be Home for Christmas.
A Christmas Love Song.
What are You Doing New Year's Eve.
I Remember. Snowbound.
It Must been The Mistletoe.

Christmas Lullaby.
Christmas Mem'ries.
Grown Up Christmas List.
Ave Maria. Closer.
One God.


Dibalut orkestra dan paduan suara di beberapa nomor, album BARBRA STREISAND ini lebih mengajak kita untuk merenung, refleksi, memaknai kehadiran Sang Immanuel di Hari Natal. Bukan jingkrak-jingkrak atau pesta hura-hura di klub malam.

Simak petikan syair lagu ONE GOD ciptaan Ervin Drake dan Jimmy Shirl:

"Many the ways all of us pray to One God
Many the paths winding their way to One God
Brothers and sisters... there were no strangers
After the work was done"


BARBRA STREISAND menulis catatan pendek untuk lagu ONE GOD ini. Menurut dia, tak peduli bagaimana caramu berdoa, apa pun agama, apa pun keyakinanmu. CINTA adalah fondasi semua agama.

"Itu yang selalu saya yakini," tegas BARBRA STREISAND.

16 December 2009

Soenatha Tanjung: Rocker Jadi Pendeta



Tokoh terakhir yang ditunggu-tunggu pada pemakaman almarhum Ucok Harahap, pendiri dan vokalis AKA Group, di Kebraon Tegal, Karangpilang, Surabaya, Kamis (3/12/2009) lalu, adalah Soenata Tanjung. Keluarga besar Ucok belum bersedia memasukkan jasad Ucok ke liang lahat sebelum Soenata datang.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Maklum, Soenata Tanjung (64) merupakan salah satu sahabat dekat Ucok, selain Sjech Abidin dan Arthur Kaunang, yang memperkuat AKA Group. Empat sekawan ini boleh dikata merupakan peletak dasar atau pelopor musik rock di Indonesia dengan atraksi panggung yang garang dan teatrikal.

Namun, berbeda dengan Ucok yang tetap rocker hingga akhir hayatnya, Soenata Tanjung memilih meninggalkan sama sekali dunia yang pernah melambungkan namanya sebagai “dewa gitar” era 1970-an dan 1980-an itu. Soenata melakukan apa yang disebut metanoia atau perubahan yang sangat drastis dalam hidupnya.

“Sekarang kegiatan saya setiap hari, ya, pelayanan, pelayanan, dan pelayanan. Saya hanya ingin melayani Tuhan di usia saya yang sudah tidak muda lagi,” ujar Soenata Tanjung yang ditemui Radar Surabaya di kantor Gereja Bethany Indonesia, Jl Manyarrejo II Surabaya.

Yah. Soenata Tanjung kini bukan lagi rocker, melainkan pendeta. Pendeta Joshua Soenata Tanjung! Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Soenata Tanjung.

Apakah teman-teman dan penggemar Anda tahu kalau Anda sudah jadi pendeta di Bethany?

Ada yang tahu, tapi banyak juga yang belum tahu. Mereka mengira saya masih main rock, menekuni musik sekuler, seperti dulu. Padahal, saya sudah lama meninggalkan dunia saya yang lama itu. Memang, sampai sekarang saya masih main musik, tapi musiknya untuk Tuhan. Pelayanan rohani melalui musiklah.

Sejak kapan Anda mulai berpikir untuk meninggalkan musik rock?

Ceritanya agak panjang. Dan itu saya percaya sebagai cara Tuhan dalam memproses saya sebagai hamba-Nya. Tahun 1987, ketika manggung bersama SAS (Soenata, Arthur Kaunang, Sjech Abidin, Red), saya kesetrum di atas panggung. Saya sudah main gitar elektrik sejak 1960-an, tapi tidak pernah mengalami hal seperti itu. Gitar saya tiba-tiba korslet dan membawa muatan listrik sangat tinggi.

Sejak itu tangan kiri saya lumpuh. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Saya putus asa. Hopeless. Bayangkan, selama 20 tahun lebih saya main musik bersama Arista Birawa, AKA, kemudian SAS dari panggung ke panggung, punya ribuan bahkan jutaan penggemar, tiba-tiba tidak bisa main musik lagi. Saya mau kerja apa dengan tangan kiri yang lumpuh? Ini benar-benar sebuah pukulan bukan hanya buat saya, tapi juga SAS. Sebab, SAS yang sedang populer masih punya kontrak untuk membuat beberapa album lagi.

Lantas, apa yang Anda lakukan?

Ya, nggak bisa apa-apa. Saya hanya bisa diam dalam keadaan hopeless. Nah, di saat itulah datang rombongan jemaat dari gereja yang mendoakan saya. Mereka meyakinkan saya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meskipun dokter sudah angkat tangan, kalau kita percaya sama Tuhan, suatu saat akan sembuh. Mereka mendoakan saya dan memberi penghiburan untuk saya.

Berarti sejak dulu Anda sudah religius ya?

Oh, tidak! Saya ini istilahnya orang Kristen KTP. Saya nggak pernah berdoa, nggak pernah ke gereja karena macam-macam alasan. Sibuk, tidak ada waktu, bahkan saya nyaris tidak pernah melibatkan Tuhan dalam aktivitas hidup saya. Toh, tanpa berdoa dan ke gereja, saya bisa jadi pemain band yang populer?

Baru setelah mengalami kelumpuhan itu, saya disadarkan oleh Tuhan. Bahwa saya tidak boleh lagi mengandalkan kekuatan sendiri. Sejak itulah saya mulai ingat Tuhan. Saya mulai belajar berdoa. Saya bilang, Tuhan, kalau nanti saya sembuh dengan kuasa-Mu, saya berjanji untuk melayani Tuhan secara full time.

Anda kemudian ikut pelayanan di Gereja Bethany?

Kebetulan sejak 1980-an saya sudah kenal Pendeta Alex (Dr Abraham Alex Tanuseputra, pendiri dan pastor senior Gereja Bethany, Red) karena beliau itu juga punya latar belakang sebenarnya musisi. Pendeta Alex dulu punya band bernama Jesus People sebagai pemain trompet. Jadi, saya memang kenal beliau.

Dari situ saya mulai dilibatkan dalam pelayanan-pelayanan. Meskipun tangan kiri saya masih lumpuh, saya ikut pelayanan di sejumlah tempat. Saya hanya bisa duduk saja sambil mencoba-coba main musik rohani, tapi masih terasa sangat berat. Puji Tuhan, doa saya dan sahabat-sahabat saya terkabul. Saya mendapat mukjizat. Tangan kiri saya akhirnya bisa digerakkan.

Apa langsung sembuh seketika?

Secara tidak sadar, saya merasa kok tangan saya bisa digerakkan. Kembali normal. Saya coba main gitar, eh, masih bisa.

Anda kemudian menunaikan janji Anda sebagai pelayan rohani di gereja?

Yah. Saya akhirnya sadar bahwa saya telah diproses oleh Tuhan untuk melayani Dia secara total. Sebelum itu, karena masih ada kontrak dengan SAS, saya masih sempat terlibat dalam pembuatan album. Sementara itu, pelayanan di gereja jalan terus. Tahun 1993 saya full timer di Bethany. Saya tidak lagi terlibat dalam urusan musik sekuler.

Masih dengar lagu-lagu AKA/SAS atau band-band idola Anda?

Saya lepas semua. Itu semua masa lalu. Saya sudah lahir baru menjadi manusia yang baru. Bukan Soenata Tanjung yang lama. Saya hanya mendengar lagu-lagu rohani, ikut membimbing pemusik-pemusik di Bethany. Beda sekali dengan di band sekuler macam AKA atau SAS dulu.

Apa perbedaan mencolok yang Anda rasakan?

Dulu, saya tidak pernah melibatkan Tuhan. Saya merasa seakan-akan sudah hebat banget, main musik dan dielu-elukan di mana-mana. Padahal, semua kebanggaan yang pernah saya rasakan itu semu belaka. Sekarang, karena Tuhan ikut campur tangan, hidup menjadi lebih santai dan ringan. Selalu ada sukacita dan damai sejahtera.

Orang awam sering melihat pemain band atau artis terkenal punya uang banyak dan hidupnya sangat nyaman.

Betul. Kalau sedang di atas angin, uangnya si artis memang banyak banget. Bertumpuk-tumpuk. Tapi, seperti yang pernah saya alami dulu, uang yang banyak itu tidak menjadi berkat. Hehehe.... Kenapa? Uang itu dipakai untuk berfoya-foya, beli miras, obat-obatan terlarang (narkoba), dan hal-hal yang tidak baik.

Nah, karena uangnya tidak jadi berkat, maka hidupnya tidak bisa tenang. Tidak bisa bahagia. Ini berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang. Uangnya jauh dibandingkan ketika saya masih ngetop. Tapi saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Selalu ada campur tangan Tuhan dalam hidup ini.

Wah, rupanya Anda sudah mantap menjadi pendeta?

Puji Tuhan. Saya memang sudah bertekad melayani Dia selama saya masih mampu. Apalagi, sekarang saya diberi kepercayaan untuk memberikan pelayanan di gereja-gereja tidak hanya di Surabaya, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Kebetulan Bethany ini kan punya banyak cabang di berbagai kota.

Masih sering kontak-kontakan dengan eks teman-teman di AKA/SAS?

Masih, meskipun kami punya kesibukan masing-masing. Arthur juga sekarang aktif dalam pelayanan di Jakarta. Sjech Abidin punya kegiatan sendiri. Sementara Ucok, sebelum meninggal, kami juga masih berkomunikasi.

Sebelum Ucok meninggal dunia, saya, Arthur, dan Sjech membesuk Ucok di Menanggal. Kondisinya memang parah, harus pakai alat bantu pernapasan (respirator). Ini semacam reuni empat personel AKA setelah bertahun-tahun tidak ketemu. Tapi suasananya prihatin karena kondisi Ucok kayak gitu.

Melihat kedatangan kami bertiga, Ucok tiba-tiba mendapat semangat hidup. Dia sangat senang. Dia langsung jalan ke keyboard-nya dan memainkan lagu Badai Bulan Desember yang dia ciptakan. Kami akhirnya main musik dan menyanyi bersama. Sangat mengharukan. Sekitar tiga minggu kemudian Ucok meninggal duna. (Soenata memperlihatkan rekaman adegan tersebut kepada Radar Surabaya.)

Apa yang paling berkesan dari almarhum Ucok?

Dia itu tidak pernah susah dan baik sama teman. Kalau sedang bersama Ucok, kita merasa senang terus. (*)


'Ditemukan' Ucok di THR


MESKI ayahnya, Samuel Tanjung, seorang pemain biola, Soenatha Tanjung mengaku belajar musik secara otodidak. Dia sama sekali tidak ikut kursus atau sekolah musik seperti kebanyakan anak-anak keturunan Tionghoa saat ini.

"Saya waktu kecil dulu tinggal di Bondowoso. Mana ada kursus musik di sana?" ujar Soenatha Tanjung kepada Radar Surabaya. Namun, dasar-dasar musik yang diperoleh dari sang ayah ikut mempengaruhi minat Soenatha dalam bidang musik.

Ketika keluarga Samuel Tanjung hijrah ke Surabaya, Soentha kecil pun tentu saja ikut. Mereka kemudian tinggal di sebuah rumah sederhana di kawasan Blauran. Sejak itu minat Soenatha terhadap musik kian tebal. Soenatha mulai membeli buku-buku musik dan belajar sendiri.

"Jadi, saya ini sebetulnya otodidak. Guru saya, ya, buku-buku itu," aku ayah empat anak dan kakek satu cucu ini.

Soenatha beruntung karena pada saat itu dia memperoleh sejumlah buku musik bermutu terbitan luar negeri. Salah satunya dari Berkeley, Amerika Serikat. "Saya ikuti, saya pelajari pelan-pelan, dan akhirnya bisa main," kenangnya.

Soenatha baru benar-benar 'belajar main gitar' ketika bergabung dengan Arista Birawa, band terkenal di Surabaya pada 1960-an pimpinan seniman serbabisa Mus Muljadi.

Di grup yang biasa manggung di Taman Hiburan Rakyat (THR) ini, Soenatha dan kawan-kawan biasa mengiringi penyanyi kondang saat itu seperti Lilis Suryani, Tety Kadi, atau Mus Muljadi sendiri. Karena manggung hampir setiap hari, lama-kelamaan Soenatha tumbuh sebagai satah satu gitaris top di Kota Surabaya masa itu.

Permainan gitar Soenatha ternyata menarik perhatian Ucok Harahap, putra sulung Ismail Harahap, bos Apotek Kaliasin, salah satu dari tiga apotek di Surabaya pada 1960-an. Berbasa-basi sejenak, Ucok mengajak Soenatha bersama-sama membuat band baru. Band yang tidak sekadar bermain untuk mengiringi penyanyi-penyanyi lain, tapi menawarkan musik yang berbeda. Apalagi, rezim Orde Lama yang dulu melarang musik rock dan sejenisnya baru saja tumbang.

Soenatha pun setuju dengan tawaran Andalas Datoe Oloan Harahap, nama lengkap Ucok. Selain mendapatkan Soenata, Ucok juga berhasil merekrut Sjech Abidin (gitaris) dan Arthur Kaunang. Arthur yang awalnya hanya berbekal pengalaman sbagai pemain piano dan keyboard 'dipaksa' Ucok untuk belajar main gitar bas. Sebab, band baru ini memang belum punya pemain bassist. Dasar anak berbakat, dalam waktu singkat Arthur mampu bermain bas dengan tangan kiri.

Singkat cerita, Ucok Harahap akhirnya secara resmi mengumumkan berdirinya band baru di Surabaya. Namanya AKA, singkatan dari Apotek Kaliasin. Selain menghasilkan sekitar 15 album rekaman, AKA menjadi band paling fenomenal gara-gara aksi panggung Ucok yang nyentrik dan gila-gilaan. Misalnya, bergelantung di tali, kepala di bawah kaki di atas, masuk peti mati, serta atraksi-atraksi mendebarkan lainnya.

Meroketnya popularitas AKA membuat nama para personelnya pun ikut melambung. Soenatha Tanjung yang tadinya hanya dikenal sebagai gitars top Surabaya, atau Jawa Timur, kini disebut-sebut sebagai salah satu dewa gitar tanah air. Sayang, Ucok Harahap meninggalkan band yang dibentuknya dari nol itu. AKA bubar.

Sempat vakum selama setahun, tiga personel yang ditinggal Ucok membentuk band baru. "Manajernya, ya, Ismail Harahap, bapaknya Ucok. Bahkan, beliau yang memberi nama SAS, sesuai singkatan nama kami bertiga. Sonatha, Arthur, Sjech Abidin. Jadi, hubungan kami dengan Ucok dan keluarganya itu sangat baik. Seperti keluarga sendiri," katanya.

Berbeda dengan AKA, SAS Group merujuk pada ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Juga terpengaruh Led Zeppelin dan Deep Purple yang sangat mendunia saat itu. "Di SAS ini kami bertiga bisa menyanyi dan kerja samanya jadi lebih gampang. Dan itu membuat kami bisa produktif di panggung maupun rekaman," tuturnya.

Soenatha perlahan-lahan meninggalkan musik rock, yang disebutnya 'musik sekuler', setelah kesetrum listrik di atas panggung pada 1987. Tangan kirinya lumpuh total. Sejak itu dia mendapat pelayanan rohani dari rombongan gereja. "Saya berekad untuk melayani Tuhan," katanya.

Namun, karena kotrak sudah ditandatangani, setelah sembuh, Soenatha masih sempat memperkuat SAS dan merilis album Metal Baja. Setelah itu, Soenatha meninggalkan musik sekuler secara total. "Saya lebih mantap berada di jalan Tuhan," tegasnya. (rek)

SOENATHA TANJUNG

Nama lengkap : Joshua Soenatha Tanjung
Lahir : Bondowoso, 16 Desember 1945
Istri : Elsye S Yansen
Anak : Maria Silvana Tanjung, Elizabeth Tanjung, Steven Tanjung, Victor Tanjung
Pendidikan : SMAK St Louis Surabaya, Sekolah Teologia Bethany
Pekerjaan: Pendeta di Gereja Bethany Surabaya
Alamat : Jalan Manyarrejo II Surabaya
Hobi : gitar


KARIR MUSIK
- Arista Birawa bersama Mus Muljadi cs, sejak 1964
- AKA bersama Ucok Harahap, Arthur Kaunang, dan Sjech Abidin, sejak 1967
- SAS bersama Arthur Kaunang dan Sjech Abidin, sejak 1975
- Music director Gereja Bethany, sejak 1993

14 December 2009

Wartawan Mati Muda

Makin banyak saja wartawan yang mati muda. Usia teman-teman yang menghadap Tuhan ini umumnya belum 50, bahkan belum 40. Bahkan, di bawah 30.

“Kalau sudah takdir, mau bagaimana lagi?” berkata orang bijak.

Lukmanul Hakim dari Republika meninggal ketika sedang meliput SEA Games di Laos. Vincentia Hanni (Kompas) meninggal karena kanker. Kemudian Yan Arsil (RRI) dan Agus Sofyan (Jurnal Nasional) juga berpulang. Mereka meninggal dalam pekan ini. Selamat jalan, Kawan!

Kita belum cek daftar wartawan yang berpulang dari berbagai daerah di tanah air. Lukmanul Hakim cs yang meninggal hampir bersamaan ini masuk kategori meninggal secara wajar. Karena penyakit, kelelahan, dan sebagainya.

Yang lebih tragis, ada juga teman wartawan yang meninggal secara tidak wajar. “Dihabisi” gara-gara berita yang ditulis di koran atau disiarkan di radio atau televisi. Contohnya: Prabawangsa dari Radar Bali.

Sidang kasus pembunuhan Bung Praba ini sudah berlangsung cukup lama, tapi kasusnya belum juga jelas. Bagaimanapun juga aparat penegak hukum harus benar-benar serius karena kasus ini mendapat perhatian kalangan media di Indonesia. Kita tak ingin kasus pembunuhan wartawan berulang dan berulang lagi.

Atmakusumah Astraatmadja, wartawan senior, guru wartawan, dan mantan ketua Dewan Pers, dalam setiap kesempatan selalu mengimbau wartawan-wartawan muda agar selalu menjaga kesehatan. Makan makanan bergizi. Banyak-banyak minum bir... eh air putih. Istirahat cukup. Relaks. Jangan lupa olahraga.

“Polusi dan tingkat stres wartawan sekarang jauh lebih parah ketimbang zaman saya dulu,” kata Pak Atmakusumah yang diulangi lagi di harian Kompas edisi 14 Desember 2009. “Ini membuat banyak wartawan sekarang meninggal di usia relatif muda.”

Pak Joko Hadiputranto, wartawan senior di Surabaya, sejak dulu prihatin dengan kesehatan wartawan. Setiap bertemu wartawan--entah reporter magang, wartawan muda, senior, hingga sangat senior--Joko selalu bertanya tentang kesehatan dan riwayat penyakit. Pertanyaan-pertanyaan Mas Joko antara lain:

“Selama satu tahun ini kamu sakit berapa kali? Sakit apa? Sudah ke dokter? Bagaimana hasil check-up terakhir? Tidurmu enak nggak? Istri dan anak-anakmu sehat nggak? Sekolahnya bagaimana?”

Hasil survei kecil-kecilan Pak Joko di Surabaya ini mengejutkan. Sebagian besar wartawan ternyata punya riwayat penyakit baik yang kecil, sedang, hingga gawat. Asam urat, ginjal, diabetes, lever, sulit tidur, hingga yang berat-berat macam stroke dan serangan jantung.

“Kalian wartawan yang masih muda-muda jaga kesehatan baik-baik. Ingat, senior-senior Anda, pensiunan wartawan, banyak yang bergelut dengan komplikasi penyakit,” kata Pak Joko.

Bahasa dan Nasionalisme

Plong rasanya membaca tulisan Joss Wibisono di rubrik BAHASA majalah TEMPO edisi 13 Desember 2009. Unek-unek saya selama ini langsung dijawab Pak Joss, penyiar Radio Nederland di Hilversum, Belanda, itu.

Sejak dulu saya gemar Ranesi [Radio Nederland Seksi Indonesia), sehingga saya bisa mengikuti jalan pikiran Joss Wibisono.

Pak Joss sudah puluhan tahun tinggal di Eropa. Bahasa Indonesianya bagus, beliau juga fasih beberapa bahasa di Eropa. Tapi, lewat tulisan di TEMPO, Joss Wibisono mengungkapkan kegundahannya melihat perkembangan bahasa Indonesia mutakhir. Bahasa yang makin dijejali istilah atau frase bahasa Inggris. Comot sana-sini asal gaya biar terkesan keren dan modern.

Joss Wibisono menulis:

“Dengan sengaja dan serakah orang Indonesia memasukkan bahasa Inggris ke dalam bahasanya. Bahkan, untuk menyebut tempat-tempat asing, kita harus tunduk pada bahasa itu [bahasa Inggris].”

Joss memberikan beberapa contoh. Kalau kita sudah punya sebutan WINA, ibukota Austria, kenapa harus VIENNA. JENEWA, kenapa harus GENEVA. Orang Wina sendiri menyebut nama kotanya dengan WIEN. Orang JENEWA sendiri menyebut kotanya dengan GENEVE [baca: ZHENEV].

Telepon genggam kita sebut HP, singkatan HANDPHONE, padahal orang Inggris dan Amerika Serikat menyebutnya MOBILE PHONE atau CELLULAR PHONE.

Teman-teman di gereja sekarang tidak lagi menyebut PADUAN SUARA atau KOR [dari KOOR, bahasa Belanda], tapi CHOIR. Gereja Santo Paulus disebut Saint Paul Church.

DIRIGEN disebut CONDUCTOR. Penyanyi disebut SINGER. Tema konser Natal bukan lagi KEMULIAAN KEPADA ALLAH DI SURGA, tapi sudah berubah menjadi GLORY TO GOD IN THE HIGHEST.

Wah, wah...

Lama-lama Alkitab berbahasa Indonesia yang sudah mengakar di tanah air sejak 1930-an harus ditarik dan diganti HOLY BIBLE dari American Bible Society.

Sejumlah pengumuman yang saya baca di Gereja Katolik, khususnya yang dibuat anak-anak muda, menggunakan bahasa gado-gado: Inggris, Indonesia, Jawa, Betawi. SINGAPURA disebut SINGAPORE. Di Surabaya ada perumahan yang menyebut dirinya THE SINGAPORE OF SURABAYA.

“Nggilani,” kata teman saya di kawasan Aloha.

Mengapa orang Indonesia makin “serakah” memasukkan bahasa Inggris mentah-mentah ke dalam bahasanya?

Joss Wibisono menyebutnya sebagai krisis nasionalisme. “Nasionalisme kita sekarang cuma tinggal soal wilayah, bukan keindonesiaan kita yang lain, terutama bahasa,” tulis Joss Wibisono.

Nah!

Musik dan Nasionalisme

Oleh Musafir Isfanhari
Komposer, Pemerhati Musik, dosen Universitas Negeri Surabaya

Adakah hubungan antara seni (musik) dengan perasaan nasionalisme atau perasaan patriotisme? Untuk menjawabnya, mari kita simak peristiwa yang belum lama ini terjadi.

Perasaan kita sebagai bangsa terinjak-injak, tercabik-cabik, harga diri kita dilecehkan karena seni milik nenek moyang kita Reog Ponorogo diklaim dan dihaki oleh Malaysia sebagai budaya warisan nenek moyang mereka. Bahkan, cerita terjadinya reog itu pun dibikin dan disesuaikan dengan legenda yang ada di sana.

Belum lagi kesal kita terhapus, Malaysia bikin ulah lagi. Lagu Rasa Sayange, lagu yang sering kita nyanyikan ketika kita jadi Pramuka dulu, tiba-tiba diakui sebagai milik mereka. Sungguh sakit perasaan kebangsaan kita melihat itu semua. Gelombang demontrasi di Jakarta maupun di tempat tempat lain di Indonesia terjadi terus-menerus memprotes hal tersebut.

Padahal, kalau mau jujur, kita sendiri kurang merawat/memelihara (pinjam istilah Jawa: kurang nguri-uri) budaya kita yang adiluhung itu. Kita tak pernah serius menjaga kekayaan budaya kita. Kita sering sepelekan dan anggap enteng tanpa perhatian. Kita baru kaget, lalu terbengong-bengong, kemudian marah-marah ketika orang lain memanfatkannya.

Memang, kalau kita amati lebih dalam, ada benang merah yang menyambung antara seni dan nasionalisme. Berikut ini, cerita (walau hanya dalam film) adegan final pertandingan sepak bola. Karena final, maka di tribun kehormatan wali kota dan pejabat pemerintah datang menyaksikan. Di samping tribun kehormatan telah siap pula korps musik yang akan memainkan lagu-lagu mars penambah semangat pertandingan.

Namun, hawa final telah merusak sportivitas, sehingga di pertandingan itu sering terjadi pelanggaran yang pada akhir terjadilah tawur massal. Suporter turun ke lapangan. Pemain berhadapan dengan pemain. Suporter dengan suporter. Suasana kacau. Petugas keamanan tak mampu lagi mengatasi emosi yang meluap.

Dalam kondisi yang tak terkendali itu, wali kota lari ke arah korps musik sambil berteriak-teriak: “Lagu kebangsaan! Lagu kebangsaan!” Dan korps musik pun memainkan lagu kebangsaan.

Cerita selanjutnya, begitu lagu kebangsaan terdengar, semua orang tegak berdiri menghormat lagu kebangsaan tersebut. Emosi menurun, rasa persatuan dan kesatuan di antara sesama nation meluluhkan dan melunakkan emosi, sehingga keadaan bisa teratasi.

Kalau menyimak cerita bola di atas, rasanya memang benar ada benang merahnya. Cuma, bagaimana mengurai benang merah yang menyambung antara musik dan nasionalisme? Ini dia penjelasannya:

Musik adalah bahasa bunyi. Jadi, ketika seseorang bermain musik, artinya dia sedang menyampaikan perasaan lewat bunyi. Perasaan itu bisa bermacam-macam: bisa sedih karena patah hati, jatuh cinta, benci, rindu, memuja Tuhan, cinta tanah air, dan sebagainya.

Jadi, ketika pemusik memainkan lagunya, sementara penontonnya ribut sendiri, sama sekali tak merespons dan tak hirau pada bunyi yang dihadirkan, artinya pemusik itu gagal mengekspresikan perasaannya. Pertanyaannya kemudian adalah: kenapa dia gagal mengekspresikan? Karena pemusik tersebut tidak mengenal dengan baik karakter bunyi.

Ada empat karakter bunyi, yaitu pitch (tinggi rendah bunyi); durasi (panjang pendek bunyi); intensitas bunyi (tingkatan keras lemah suara), dan tone colour (pilihan warna bunyi yang berbeda beda).

Dengan memahami keempat karakter bunyi tersebut, sang pemusik akan dapat memilh pola ritme, pola melodi, dinamika keras lemah, dan warna bunyi yang pas dan tepat untuk mengekspresikan perasaannya. Pemusik “masa kini” (kontemporer) bahkan sudah tak merasa cukup dengan tone colour yang ada pada alat musik konvensional. Karenanya, mereka mencari warna warni bunyi yang baru untuk lebih bisa mengekspresikan gejolak perasaannya yang tak tertampung dialat musik konvensional tadi.

Nasionalisme adalah paham kebangsaan. Khusus nasionalisme Indonesia, jiwanya ada pada penghormatan kepada perbedaan. Bangsa Indonesia sadar betul akan multietnik, multikultur, multiagama, multilingual yang ada di Indonesia. Sehingga penghargaan kepada kebhinekaan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, warna kulit, asal usul, dan lain-lain menjadi prinsip hidup bangsa Indonesia.

Bung Karno punya rumusan yang lebih mencakup: Kita mendirikan dan membangun negara “semua buat semua”.

Menghubungkan dan mencari benang merah antara MUSIK dengan NASIONALISME/PATRIOTISME, menurut saya, adalah bagaimana meningkatkan semangat nasionalisme/patriotisme melalui ciptaan ciptaan musik. Atau, bagaimana sebuah ciptaan musik dapat mengobarkan semangat nasionalisme/patriotisme.

Sebagai perumpamaan adalah lagu HALO-HALO BANDUNG. Setelah Bandung dibumihanguskan oleh pejuang, api berkobar di mana mana. Jadilah Bandung lautan api. Suasana ini yang mengilhami Ismail Marzuki menulis lagu tersebut. Pola ritme yang menghentak dan melodi yang sedikit demi sedikit merambat naik menuju klimaks inilah membakar semangat patriotik para pejuang.

Cerita selanjutnya bisa kita baca di buku-buku sejarah perjuangan bagaimana pejuang bangkit untuk merebut kembali kota Bandung dari tangan penjajah.

Contoh yang lain: lagu INDONESIA RAYA. Banyak yang mengkritik Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan yang terlalu panjang. Yang lain menyebutkan lagu dengan ambitus (wilayah suara) yang terlalu luas.

Yang paling menyentuh adalah bahwa lagu Indonesia Raya hampir 100 persen sama dengan lagu Pinda-Pinda Lekka-Lekka di Negeri Belanda dan Boola-Boola di Amerika Serikat (Amir Pasaribu: Analisis Musik Indonesia, halaman 55, penerbit PT Panca Simpati Jakarta 1986).

Tetapi, terlepas dari “kekurangannya”, Indonesia Raya terbukti mampu membakar semangat nasionalisme/patriotisme rakyat Indonesia sejak lagu itu dikumandangkan. Indonesia Raya juga telah dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia.

Masih tentang Indonesia Raya. Tahun 1953 Koesbini (komponis) membawa persoalan Indonesia Raya yang mirip dengan Lekka-Lekka kehadapan Presiden Soekarno. Bung Karno meradang. Koesbini disemprot: “Hey Koes! Kamu seniman yang tidak punya kesadaran politik. Apa yang sudah diterima secara politis, jangan dipersoalkan secara estetis!”

Bung Karno sadar betul, Indonesia Raya telah mampu menimbulkan semangat nasionalisme dan patriotisme pada bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jadi, tidak perlu dipersoalkan lagi. Dilematis memang. Sebagai seniman, Koesbini tentu ingin dan berhak mengkritisi sebuah karya seni, namun tuntutan politik nasional membuat Koesbini terpaksa meredam semangat kritisnya. Apa boleh buat....

Tapi peristiwa ini makin menyadarkan kita bahwa memang ada kaitan musik dengan asionalisme. Di tahun 1960-an Bung Karno mengirim Koes Bersaudara (grup musik paling top saat itu) ke dalam bui karena lagu-lagunya dianggap tidak mencerminkan semangat nasionalisme.

Namun, ketika Koes Bersaudara berganti menjadi Koes Plus justru lagu-lagunya sangat nasionalistis.Tengok saja lagu Kolam Susu atau Nusantara I, Nusantara II, Nusantara III, Nusantara IV. Selain lagunya bagus, pesan syairnya bagus.

Terakhir pengalaman pribadi saya. Tahun 1995 saya tergabung dalam tim Paduan Suara Jawa Timur ke International Youth Chorus Festival di Jepang. Rombongan berangkat tanggal 16 Agustus, sampai di Osaka tanggal 17 Agustus. Baru disadari bahwa hari itu adalah hari Kemerdekaan RI. Keputusan segera diambil, kami akan adakan upacara sendiri.

Jadilah sebuah upacara kenegaraan HUT kemerdekaan RI diselenggarakan di lobi Hotel Grand Osaka dengan sangat sederhana. Tiang benderanya menggunakan tripod, benderanya kecil saja, karena cuma itu yang kami punya. Namun, terasa paling khidmat sepanjang sejarah hidup saya.

Yang paling mengharukan adalah ketika kami harus menyanyikan Indonesia Raya. Semua menangis. Perasaan kebangsaan kami (sekitar 20 orang) menebal. Sesuatu yang barangkali tak pernah terjadi sebelumnya.

Jadi, memang ada sambungan antara musik dan nasionalisme. (*)

13 December 2009

Natal Koes Plus 1973



Tak lengkap kalau menjelang Natal ini kita tak memutar lagu-lagu Natal. Apalagi, saya lihat sejumlah pusat belanja di Surabaya semarak, meriah dengan aneka hiasan khas Natal. Pohon terang, Santa Claus, cemara, palungan, bintang, salju, dan sebagainya.

Menjelang Desember juga selalu ada artis yang merilis album Natal. Album, penyanyi, aransemen musiknya sih baru, tapi lagu-lagunya itu-itu saja. Memang ada juga lagu-lagu baru, bahkan jenis campursari atau keroncong. Tapi bisa dipastikan akan kalah pasaran dibandingkan lagu-lagu tradisional Natal, yang dari Eropa-Amerika.

Kidung-kidung Natal yang disukai senantiasa berkisar pada White Christmas, Jingle Bells, Silent Night, Adeste Fideles (di Indonesia: Hari Mari Berhimpun), Joy to The World, Little Town, Sleigh Ride, Little Drummer Boy, The Christmas Song. Komposisi lagu-lagu Natal lama memang sederhana, pas, dan enak.

Tahun ini saya tidak lagi menambah koleksi album Natal. Buat apa? Koleksiku sudah terlalu banyak. Artis-artis top Barat punya, yang klasik ada, paduan suara ada, campursari ada, jazz pun ada. Musik Natal versi jazz termasuk yang saya suka.

“Ritual” memutar lagu-lagu Natal tetap kulsayakan. Kali ini, setelah membongkar-bongkar koleksi, saya menemukan “Natal Bersama Koes Plus 1973” [12 lagu] dan “Natal Bersama Broery 1973” [10 lagu]. Kebetulan dua hari lalu Yon Koeswoyo, vokalis Koes Plus, manggung di JTV Surabaya. Pas!

Koes Plus band besar, sangat populer di tanah air ada 1970-an dan awal 1980-an. Musiknya tidak ruwet, gaya nyanyinya pun sederhana saja. Bahkan, Yon Koeswoyo menyanyi ala pengamen-pengamen di Terminal Purabaya Surabaya. Suaranya banter, tapi cempreng. Toh, tetap enak dinikmati.

Yon membawakan delapan lagu: Kidung Saya, Bahagia Dunia, Telah Lahir di Bumi, Menuju ke Bethlehem, Juru Selamat Dunia, Penebus Tiba, Malam Suci.
Tony Koeswoyo (kini almarhum), pemimpin arranger utama Koes Plus, membawakan lagu Dengarlah Malaikat Menyanyi, Malam Kudus, Mari Berhimpun. Satu lagu lagi, judulnya Lagu Natal, dibawakan Yok Koeswoyo.

Kata orang-orang lama, album Natal Koes Plus pada awal 1970-an ini sukses di pasaran. Bahkan, saudara-saudara kita yang bukan Kristen pun mengoleksinya. Ini bisa dibaca di internet karena setahu saya, penggemar Koes Plus punya laman bagus di dunia maya. Pokoknya, semua yang berbau Koes Plus dinikmati.

Selain musik Natal versi Koes Plus enak dinikmati, bagi saya, yang menarik adalah suasana kebersamaan para pemusik [juga masyarakat] Indonesia pada 1970-an. Sangat terbuka, toleran, punya kebersamaan, rukun dan damai. Personel Koes Plus yang beragama Islam begitu ringannya membawakan lagu-lagu Natal. Begitu juga sejumlah penyanyi solo dan grup band lainnya.

Mirip dengan Trie Utami sekarang. Penyanyi berbadan mungil ini kerap tampil bersama seniman-seniman lain dalam konser Natal di berbagai kota. Trie bahkan membawakan lagu Malam Kudus dengan sangat baik.

Yah, seniman sejati memang selalu mampu menembus tembok-tembok teologis, doktrinal, dan dogma-dogma kaku yang sering membuat sesama manusia, sesama anak bangsa, saling menaruh curiga dan syak wasangka. Betapa indah jalinan kebersamaan dalam kesenian.

Meski membawakan lagu-lagu Natal dengan penuh penghayatan, semua personel Koes Plus toh tetap muslim yang taat. Trie Utami beristikamah sebagai muslimah yang baik. Nah, nuansa kebersamaan seperti dicontohkan Koes Plus pada era 1970-an itu rupanya pelan-pelan mulai surut.

Ironis!

10 December 2009

Menyoal Jiplak-Menjiplak Lagu



Oleh M. ISFANHARI
Komposer, Dosen Universitas Negeri Surabaya


Dulu, ada lagu Barat dinyanyikan oleh Elvis Presley berjudul “Can't Help Fallin in Love with You” (CHFLY). Kemudian lagu itu dipopulerkan kembali oleh Julio Iglesias. Lagu tersebut pantas terkenal, selain lagunya memang indah, pesan syairnya juga indah, penyanyinya pun bagus. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu yang abadi dikenang selamanya.

Di Indonesia lagu tersebut juga dikenal sepanjang masa, bahkan menjadi lebih terkenal karena sebaris melodinya (satu motive) persis sama dengan bagian lagu Indonesia BAGIMU NEGRI (BN). Bagian akhir dari lagu CHFLY yang bunyi syairnya “Fallin in Love With You” sering diplesetkan menjadi “Jiwa Raga Kami”. (Bagian akhir dari lagu BN). Motive adalah rangkaian nada–nada yang terkelompok sekitar dua birama/bar.

Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menjiplak?

Koesbini pencipta BN atau pencipta CHFLY? BN ditulis Koesbini tahun 1944, sementara CHFLY sekitar akhir tahun 1950-an atau awal 1960-an. Kalau melihat fakta ini tentu bukan Koesbini yang menjiplak. Tapi BN apa juga beredar di Amerika Serikat negerinya Elvis Presley, sehingga mengilhami penciptaan CHFLY?

Saya berkeyakinan kesamaan lagu antara BN dan CHFLY adalah hanya kesamaan ide. Peristiwa itu memang mungkin dan bisa saja terjadi. Jadi dalam kasus ini tidak ada yang menjiplak.

Lalu seperti apa yang dikategorikan menjiplak itu?

Berikut ini saya kutipkan perumusan penjiplakan yang dibuat oleh Indonesian Composers and Arragers Assosiation:

1. Motif dan karakter sama dengan motif dan karakter komposisi musik/lagu yang sudah ada, dan/atau:

2. Temanya sama dengan tema komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan, dan /atau:

3. Struktur melodinya mengandung lebih dari 10% secara berturut-turut melodi asli komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan dan atau:

4. Mempunyai kesamaan lebih dari 10% jumlah ruas secara berturut turut dari komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan, dan/atau:

5. Liriknya lebih 10% secara berturut turut sama dengan lirik komposisi musik/lagu yang sudah ada.

Kelima rumusan tadi sama sekali tak menampung dan tak mentoleransi “kesamaan ide” seperti yang saya contohkan di atas, yaitu antara lagu BN dengan CHFLY. Saya pribadi kurang setuju dengan rumusan tadi.

Menurut pendapat saya, ada empat macam peristiwa yang bisa terjadi sehingga mengakibatkan sebuah ciptaan bisa sama.

Yang pertama adalah “kesamaan ide”. Contohnya kasus BN dengan CHFLY itu tadi. Contoh yang lain adalah lagu Dari Sabang Sampai Merauke (DSSM); frase pertamanya mempunyai kesamaan dengan Frase pertama dari lagu Marseille/Marseillaise (lagu kebangsaan Prancis).

Pada frase pertama DSSM--yang syairnya “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau pulau”--95% sama dengan Marseille. Perbedaannya hanya pada akhir frase. Di DSSM progresi chordnya I - V – I, sedangkan di Marseille progresi chordnya II – V – I. Lagu Marseille diciptakan oleh Claude Joseph Rouget de Lisle pada 1892 tentu jauh lebih tua dari DSSM yang ditulis oleh Soeraryo di awal kemerdekaan.

Tapi apa Soeraryo menjiplak dari lagu tersebut? Perlu ada kajian yang lebih dalam. Saya pribadi meyakini hal tersebut sebagai “kesamaan ide” belaka. Kasus lain “kesamaan ide” adalah Lagu SEPHIA dari Sheila on Seven dengan lagu BEGADANG-nya Rhoma Irama. Perhatikan syair “Slamat Tidur Kekasih Gelapku…..” bandingkan dengan “Begadang Jangan Begadang …”

Kedua bagian dari lagu tersebut mempunyai karakter yang sama.

Yang kedua, “terilhami oleh sebuah ciptaan yang lebih dulu ada”. Contoh kasusnya, lagu SURAT UNDANGAN (SU) ciptaan Yules Fiole dengan I’ll Be There (IBT) yang dinyanyikan Michael Jackson. Kedua lagu tersebut mempunyai progresi chord yang sama dan pola melodi yang sama pula. Awam pun segera bisa tahu dan merasakan kesamaan pada kedua lagu tersebut.

Jadi, apakah IBT menjiplak SU?

Kalau dilihat saat diciptakan, SU lebih dulu tercipta, yaitu di awal tahun 1960-an, sementara IBT diciptakan di awal tahun 1970-an. Persoalannya kemudian adalah apakah pencipta IBT pernah mendengar lagu SU? Ini mengingat penciptaan IBT di Amerika Serikat, sementara SU diciptakan di Indonesia dan pada saat itu komunikasi lewat dunia maya tak segencar saat ini, atau malahan belum dikenal.

Jawabannya kemudian:

Jauh sebelum terciptanya kedua lagu tersebut adalah Carl Czerny (1791--1857), komponis dan pianis berkebangsaan Austria, yang banyak membuat nomor-nomor untuk studi piano. Salah satunya adalah Studi Piano Czerny Opus 299 Nomor 7 yang ternyata baik progresi chord maupun melodinya sangat mirip dengan lagu SU dan IBT tadi.

Buku-buku Studi piano Czerny tersebar keseluruh dunia (termasuk Indonesia) dan menjadi acuan murid–murid piano sampai sekarang.

Saya menduga kedua pencipta lagu SU dan IBT pernah belajar buku-buku studi piano Carl Czerny tersebut. Pola melodi dari Czerny yang indah itu tampaknya mengendap dalam ingatan alam bawah sadar mereka, yang kemudian muncul dan menjadi lagu SU dan IBT. Bahkan, kalau kita amati dan rasakan lebih jauh lagu SAAT TERAKHIR-nya ST 12 atau MUNAJAT CINTAnya Dhani Dewa pun terinspirasi dari sana.

Lalu, coba amati lagu O INANI KEKE (lagu daerah Minahasa) bandingkan dengan pola melodi IBU KITA KARTINI (WR Soepratman). Kita akan mendapati enam birama yang mempunyai kemiripan melodi satu sama lain. (Tambahan informasi: dalam satu bait terdapat umumnya delapan birama)

Ada banyak kasus-kasus semacam itu. Contoh: lagu anak anak “Bangun-bangun hari sudah siang....” sangat mirip dengan lagu JOYOUS FARMER (HAPPY FARMER) ciptaan komponis Jerman zaman romantik Robert Schumann (1810-1856). Begitu pula SONATINE Hob XVI no 35 ciptaan Franz Joseph Haydn (1732-1809) mempunyai kemiripan dengan lagu anak “Di puncak pohon kayu yang rindang dua burung bersenang-senang...."

Mirip dengan kasus IBT dan SU adalah kasus lagu dangdut, SMS. Beberapa tahun yang lalu terkenal di masyarakat lagu SMS (Short Massage Service). "Bang SMS siapa dirinya...." Lagu tersebut kemudian menjadi polemik di kalangan musisi dangdut karena dianggap mirip, bahkan sama dengan lagu India yang lebih dulu ada.

Saya tertarik mengikuti polemik itu. Dan ketika saya putar lagu SMS ternyata SMS sama persis dengan Symphony Nomor 9-nya Beethoven (Ode to the Joy: Alle Menschen werder Bruder). Nah, kalau mengingat simfoni tersebut ditulis oleh Beethoven tahun 1824 pasti baik SMS maupun si India itu terinspirasi dari Beethoven.
Yang ketiga: ada unsur kesengajaan mengganti syair lagu yang sudah ada dengan syair yang baru.

Contoh: Tahun 1950-an di kalangan musisi Indonesia ada semangat memperkenalkan lagu-lagu daerah ke tingkat nasional. Ada Oslan Husein yang memperkenalkan lagu-lagu Sumatra Barat, Grup Rindang Banua memperkenalkan lagu-lagu Kalimantan, Onny Suryono lagu Jawa, Mus DS yang memperkenalkan lagu Sunda, Djajadi Djamain memperkenalkan lagu-lagu daerah Makasar.

Salah satu lagu daerah yang terkenal waktu itu adalah lagu berbahasa Sunda berjudul PANON HIDEUNG (Mata Hitam). Lagu tersebut bagus, aransemen musiknya digarap dengan bagus juga. Dan mejadi hit waktu itu. Tapi kemudian diketahui lagu tersebut bukan ditulis oleh komponis Indonesia, karena sebelum 1936 sudah ada lagu tersebut dan sudah disiarkan oleh Radio NIROM yang dinyanyikan dalam bahasa aslinya Tsigana (Zigeuner/Gipsi), berjudul lagunya OTCI CHORNIA (yang artinya juga sama : Mata Hitam).

Dan ternyata lagu OTCI CHORNIA banyak diterjemakan dalam versi bahasa-bahasa yang bermacam macam. Di Jerman judul lagunya SCHWARZE AUGEN (mata hitam) juga di negara-negara berbahasa Inggris dengan judul BLACK EYES.
Contoh lain: lagu SEPATU KACA yang dinyanyikan Ira Maya Sopha diambil dari lagu Amerika Latin LA CUCARACHA. Yang lain lagi lagu KOPI DANGDUT ternyata diambil dari lagu latin MOLIENDO CAFE.

Yang keempat: kesamaan progressive chord.

Pengertiannya adalah pergerakan/putaran chord (istilah Mus Mualim: circle chord) yang sama persis antara satu lagu dengan lagu yang lain, walau melodi bisa berbeda. Contoh yang umum pergerakan chord I - VIm - F - G, pergerakan semacam itu banyak dipakai oleh komposer dalam mencipta lagunya. Tetapi karena progresi chord semacam itu sudah lazim dipakai, maka semuanya menjadi wajar dan terbiasa.

Contoh lain: lagu LOVE STORY dari Francis Lay progressive chord-nya sama dengan ROMI DAN JULIE-nya Idris Sardi. Ada sekitar delapan birama dari kedua lagu tersebut mempunyai kesamaan chord.

KESIMPULAN:

Tidak semua lagu/komposisi yang mempunyai kesamaan melodi atau chord sebagai menjiplak. Tidak semudah itu memvonis sebuah ciptaan sebagai jiplakan. Perlu dicari asal muasal penciptaan.

Perlu penelitian lebih jauh, kajian yang lebih mendalam “siapa menjiplak siapa, siapa menjiplak apa”. Sebab, begitu seorang komponis dicap sebagai penjiplak, maka nama dan harga dirinya akan jatuh, tak dihormati lagi. Meminjam istilah para politisi: “akan terjadi character assasination”.


SELAMAT MENCIPTA.

09 December 2009

Ucok AKA dan Wanita



Ucok AKA Harahap dikenal sebagai pencinta wanita. Hingga akhir hidupnya, Kamis (3/12/2009), Ucok menikah sembilan kali dan dianugerahi delapan anak dan 14 cucu.

Oleh LAMBERTUS HUREK



SEBELUM jasad Ucok AKA Harahap dimasukkan ke liang lahat, kemarin, Sri Hartini angkat bicara sebagai wakil keluarga almarhum. Dengan suara terisak, Sri berterima kasih atas kesediaan ratusan pelayat mengantar Ucok ke tempat peristirahatan terakhir.

"Saya, istri almarhum Andalas, juga mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan almarhum semasa hidupnya," kata Sri Hartini.

Notaris yang tinggal di kawasan Menanggal ini merupakan wanita kesembilan dalam hidup Ucok. Sri-lah yang setia menemani Ucok pada saat-saat kritis hingga meninggal dunia. Sri sendiri baru dinikahi pada 14 Mei 2009. Dus, usia pernikahan mereka belum sampai enam bulan.

Sebelum tinggal seatap dengan Sri Hartini, Ucok pernah menikah siri dengan Endang Titiek Rachmawati di kawasan Gunung Klotok, Kediri. Karena dianggap kumpul kebo, warga setempat pernah menggerebek pasangan Endang dan Ucok. "Waktu itu kami memang nikah siri. Secara agama sah, tapi belum diurus ke KUA," kata Endang.

Perempuan asli Kediri ini menambahkan, dia dan Ucok pernah berencana meresmikan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) pada 7 Juli 2007. Tanggal istimewa. Namun, ketika tinggal di Surabaya, Ucok 'dibelokan' ke pangkuan wanita lain. Makin lama makin lengket, sehingga Endang pun terlempar dari pusaran cinta Ucok. Beberapa saat kemudian Endang terkaget-kaget karena Ucok sudah menjadi milik Raden Ayu Sri Hartini.

"Saya ini manusia biasa yang punya perasaan. Kok semuanya bisa begini?" ujar Endang dengan nada tinggi. Meski punya ganjalan di hati, kemarin Endang tetap datang memberikan penghormatan terakhir kepada Ucok. "Bagaimanapun juga Bang Ucok pernah menjadi bagian dalam hidup saya," katanya.

Mengapa Ucok AKA begitu mudah jatuh dalam pelukan wanita meski sudah punya istri dan anak? Rupanya, kebiasaan ini bisa dilacak ketika popularitasnya sedang melambung pada era 1970-an dan 1980-an.

"Aku mulai dikerubungi wanita. Kaum perempuan dari berbagai usia itu selalu memburuku setiap kali usai tampil. Yang membuat aku ketar-ketir, para wanita yang mendatangiku tidak terbatas pada wanita single saja. Banyak yang masih berstatus istri orang, ibu rumah tangga, janda muda maupun perawan kasep," tutur Ucok.

Di antara ratusan wanita itu, salah satu penggemar berusia lebih dari 60 tahun. Wanita sepuh itu mengiba-iba minta dinikahi. "Gila nggak? Aku jadi tersenyum geli jika mengingat hal itu," kenangnya.

Apa yang dilakukan para wanita jika sudah bertemu dengannya?

Ucok pun bicara blak-blakan. "Mereka itu tidak saja mencium dan memelukku, tetapi lebih dari itu. Tidak sedikit wanita yang secara sukarela menyerahkan dirinya kepadaku. Wah, bulu kudukku sampai merinding," katanya.

Melihat Ucok selalu dirubung wanita-wanita cantik, tiga personel AKA yang lain (Arthur Kaunang, Soenata Tanjung, Sjech Abidin) hanya bisa geleng-gelegn kepala. "Rupanya, saya ini punya sensualitas dan jadi ikon laki-laki waktu itu," katanya.

Salah satu wanita yang berhasil memikat hati Ucok adalah Nur Aini Latjeno alias Nani. Gadis berdarah Manado ini kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah keluarga Ucok. Melihat Ucok hebat bermain musik, keluarga Latjeno meminta Ucok menjadi guru les piano Nani.

Seringnya bertemu akhirnya lupa daratan. Ayah Ucok, Ismail Harahap, marah besar. Ucok diminta menikahi Nani secara resmi pada 1968. "Kalau tidak salah ingat, kami resmi menikah di rumah Nani di Lawang. Jangan ditanya apakah aku mencintai Nani atau tidak. Aku dan Nani akhirnya benar-benar menjadi suami-istri yang sah.

Saat menikahi Nani, ibunda Ucok tengah berada di Belanda ke tempat kakak kembarannya, sekaligus menengok tiga anak kandungnya. Kedua orang tua Ucok memang kerap mondar-mandir Surabaya-Belanda secara bergantian.

"Nah, ketika mendengar aku resmi menikahi Nani, Mami marah luar biasa hingga kepulangannya ke Indonesia dipercepat. Sesampai di Surabaya, Mami tidak langsung ke rumah, melainkan ke apotek. Saking emosinya, Mami sempat melempar kursi ke arah Papiku. Untungnya tidak kena. Aku jadi takut. Benar-benar takut."

Awalnya, Ucok tidak tahu mengapa mamanya tidak merestui pernikahan yang sudah terjadi. Namun, dari pertengkaran itu, akhirnya ketahuan kalau Nani ternyata keluarga dekat dari pihak ibunya.

"Mami kemudian mengurung diri di kamar tidur. Makan dikirim, begitu juga minum dan keperluan lain. Tampaknya Mami sangat kecewa dengan ulahku," kata Ucok suatu ketika.




KE-9 dan KE-8: Sri dan Endang, istri dan mantan istri Ucok, menambur bunga di pusara Ucok.

Semasa jaya, almarhum Ucok dikelilingi begitu banyak wanita cantik. Namun, hanya satu yang benar-benar menjadi belahan jiwanya. Dialah Farida Yasmin, anak jenderal yang pernah menjadi aktris top tahun 1970-an.


PERNIKAHAN pertama Ucok AKA Harahap dengan Nur Aini Latjeno alias Nani, tetangga yang juga masih tergolong kerabatnya, membuahkan empat anak. Tahun itu juga, 1968, lahir putra pertama Ucok yang dinamai Iskandar Muda Iswanda. Berikutnya, berturut-turut lahir tiga anak: Mohammad Mirza Iswar (1969), Sutan Mahayudin (1970), dan Amelia Sila Rosa (1971).

Di usia 30-an awal itu, Ucok makin gila main musik. Baik Nani maupun empat anak yang masih kecil-kecil praktis tidak diperhatikan. Hari-hari Ucok dihabiskan di studio. "Pagi, siang, malam, saya habiskan di studio musikku di Surabaya. Ke rumah Nani di Lawang hanya sebatas mengambil baju atau barang lainnya," cerita Andalus Datoe Oloan Harahap, nama asli Ucok AKA Harahap, suatu ketika.

Mudah ditebak, rumah tangga Ucok dan Nani pun goyang. Apalagi, menurut Ucok, keduanya punya perbedaan yang sangat prinsip. Sulit ketemu. Nani menginginkan suaminya punya pekerjaan tetap, orang kantoran, sementara Ucok adalah seniman yang sedang tergila-gila dengan musik.

"Yah, terpaksa aku tinggalkan empat anak dan istriku demi musik. Aku lebih memilih AKA daripada keluargaku," tegasnya.

Semakin menjauh dari Nani, karir musik Ucok memang melambung pesat. AKA Group yang sempat gonta-ganti personel akhirnya menemukan karakter setelah Arthur Kaunang bergabung. Arthur yang semula hanya piawai bermain piano dan keyboards dipaksa Ucok untuk berlatih gitar bas. "Jadi, saya yang ajar Arthur main gitar dan bas," katanya.

Grup AKA (singkatan dari Apotek Kaliasin, nama apotek milik Ismail Harahap, ayah Ucok) kian berkibar setelah meluncurkan album Reflections pada 1971, kemudian Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side of Suez War (1974), Shake (1975), Mr Bulldog (1976), Pucukku Mati (1977), BAdai Bulan Desember (1978), AKA Pop Melayu, AKA Pop Jawa, dan AKA Kasidah.

Album Crazy Joe dan Badai Bulan Desember mendapat respons paling hebat. Album ketiga dan album kesembilan itu meledak di pasaran. Angka penjualannya mencapai satu juta kaset. Angka penjualan semacam itu, apalagi jenis rock, dipastikan sulit diulangi grup musik zaman sekarang.

Selain dikerubuti perempuan-perempuan cantik, pada 1973 AKA ditanggap oleh seorang pejabat bea cukai berpangkat brigadir jenderal TNI, Pak Alex, di rumah dinasnya, Jalan Diponegoro Surabaya. Ucok sendiri sebetulnya tidak suka main di rumah loji.

Baginya, grup musik cadas dengan aksi teatrikal dan nyentrik macam AKA harus main di stadion atau lapangan terbuka. Namun, karena berkali-kali diminta Pak Jenderal, akhirnya Ucok bersama AKA-nya mau main juga.

Pejabat bea cukai itu punya enam anak. Empat perempuan dan dua lelaki. Mereka adalah si sulung Farida, Yoyong, Debby, Sandra, Ninis, dan Ipung. Anak-anak Pak Jenderal ternyata sangat gandrung musik cadas ala AKA, terutama gaya panggung Ucok yang nyeleneh. Mereka bahkan hafal lagu-lagu AKA.

Konser di rumah jenderal ini tak pernah dilupakan Ucok. Bahkan, beberapa bulan sebelum meninggalnya, dia masih ingat semua detil cerita. Maklum, di sinilah dia berkenalan dengan Yasmin Juniarti Farida alias Farida yang kemudian mewarnai perjalanan hidupnya. Farida, yang juga guru karate di Batalyon 513, ini didekati Ucok perlahan-lahan melalui berbagai trik. Akhirnya, putri Brigjen Alex yang masih polos itu jatuh dalam pelukan Ucok.

"Cinta membutakan mata kami berdua. Farida tak peduli lagi meskipun aku telah beranak dan beristri. Kami lantas seperti tak bisa dipisahkan lagi. Besarnya cinta inilah yang menjadikan aku lupa daratan," paparnya.

Gara-gara cinta setengah mati pada Farida, Ucok mulai menduakan AKA. Grup musik yang sudah besar, mapan, dan dikenal luas di tanah air. Berkali-kali Ucok mangkir dari rekaman yang sudah ditandatangani kontraknya. Ucok, sang vokalis dan pemain keyboard, tak mau tahu nasib AKA. "Yang ada di otakku waktu itu hanya Farida, Farida, dan Farida," paparnya.

Cinta back street Ucok dan Farida mendapat tentangan keras dari keluarga Alex. Sang jenderal tak ingin punya mantu seniman musik yang masa depannya tidak jelas. Farida pun dilarang keluar rumah loji di Jl Diponegoro. Setiap gerak-geriknya dibatasi. "Dia tidak boleh keluar rumah, apalagi sampai menemuiku."

Meski demikian, Ucok tetap nekat mengunjungi rumah Farida. Alasannya macam-macam. Bertemu adiknya, menyampaikan titipan, atau alasan-alasan lain yang direkayasa. Sampai akhirnya Ucok dilarang berkunjung ke rumah sang jenderal.

Namanya juga anak muda, larangan ini tak membuat Ucok-Farida kehilangan akal. Farida kerap lari dari rumah hanya sekadar bertemu dengan arjunanya. Bahkan, menurut Ucok, Farida pernah nekat lompat dari jendela kamarnya hanya agar bisa menemui Ucok di sebuah tempat.



FARIDA SEGALANYA: Lia, putri Farida-Ucok, mengunjungi Ucok saat dirawat di RS Darmo Surabaya.

Dari sekian banyak wanita yang pernah mendampinginya, bagi Ucok AKA Harahap (almarhum), Yasmin Juniarti Farida adalah segalanya. Putri mantan jenderal Orde Baru ini mendampingi Ucok dalam suka dan duka hingga mencapai puncak popularitas.

HUBUNGAN asmara antara Ucok AKA Harahap dan Yasmin Juniarti Farida ditolak keras keluarga Brigjen Alex, kepala bea cukai di Surabaya, pada era 70-an. Maklum, Farida masih gadis 20 tahun, sementara Ucok yang berusia 31 tahun masih terikat pernikahan dengan Nur Aini Latjeno alias Nani di Lawang.

Orangtua Ucok, yang sebelumnya kecewa dengan ulah nekat Ucok menikahi Nani, kerabat mereka sendiri, tak ingin dibuat kecewa kembali. Maka, diam-diam, kedua sejoli ini sepakat kabur dari rumah di Surabaya. Ucok yakin nama besar sebagai vokalis dan leader AKA Group bisa membuatnya survive di Jakarta.

"Cinta itu tak pernah kenal logika. Dengan mobil Suzuki Frontee keluaran 1974, aku dan Farida berkelana dari kota ke kota. Selama tiga hari tiga malam, kami menikmati hidup berdua kayak cerita sinetron remaja sekarang," tutur Ucok beberapa waktu lalu.

Lama-kelamaan uang mereka habis. Apa boleh buat, mobil milik ayahnya, Ismail Harahap, itu dijual untuk membayar sewa losmen di Jakarta. Harganya Rp 20 juta. Hanya bertahan 14 bulan, uang hasil penjualan mobil itu pun ludes. Maka, mulailah Ucok dan Farida hidup menggelandang selama tujuh bulan di Stasiun Gambir, gerbong kosong, hingga gudang mangkrak.

Sementara koran-koran ramai memberitakan kasus "Ucok AKA melarikan anak jenderal". "Aku benar-benar merasakan besarnya cinta Farida. Saking besar cintanya, hingga Farida rela hidup sengsara. Terpisah dari orang tua. Terpisah dari keluarga dan terpisah dari kenikmatan yang seharusnya dinikmati sebagai anak pejabat Orde Baru. Farida juga tidak menuntut macam-macam. Kami hanya menikah modin alias siri," tutur Ucok.

Pada pengujung 1974, Ucok bertemu dengan rombongan artis yang baru saja turun dari kereta api Bandung-Jakarta di Gambir. Salah satunya Ali Shahab, sutradara terkenal saat itu.

"Ucok AKA? Apa kabar kau? Ngapain di stasiun?" sapa Ali sambil menjabat erat tangan Ucok. "Aku lagi nunggu kereta ke Jawa, Bang," jawabnya berpura-pura.

Ali Shahab kaget melihat Farida, istri Ucok, yang berparas ayu. Tipe perempuan berwajah Indo yang ramai mengisi film nasional era 70-an. Singkat cerita, Ali kemudian mengajak Farida main film.
Sejak itulah Farida, anak jenderal dan guru karate di Surabaya itu, mulai memasuki dunia film. Bermula dari film Ciuman Beracun, nama Farida Yasmin melambung sebagai bintang film yang diperhitungkan. Setelah itu Farida tampil di film-film berjudul bombastis seperti Lonceng Maut dan Ranjang Siang Ranjang Malam.

Sementara itu, Ucok yang kribo dan berwajah sangar ditawari peran antagonis oleh Ali Shahab. Jika Farida sebagai pemain utamanya diberi honor pertama Rp 500 ribu, Ucok yang hanya kebagian peran pembantu dibayar Rp 700 ribu. Jumlah yang sangat besar pada era 70-an. Sejak itulah Ucok dan Farida bisa mengontrak rumah di Kebayoran Baru. Biaya kontrak 'hanya' Rp 150 ribu per tahun.

Di rumah itu, Sutan Kharisma Harahap, buah cinta Ucok-Farida, lahir pada 22 Juli 1976. Anak ini dipanggil Richie karena Ucok sedang tergila-gila dengan Richie Blacmore, vokalis Deep Purple. Belum genap tujuh bulan dari kelahiran Richie, perut Farida kembali berisi.

Anak kedua Farida pun lahir dengan selamat. Ucok memberi nama Sutra Kharmelia Harahap. "Lia ini sangat cantik. Melihat wajah cantiknya, aku ingat akan mamaku di Surabaya."

Ketika masih menikmati kebahagiaan dengan lahirnya Richie dan Lia, dan sukses di film, tiba-tiba datang berita duka dari Lawang. Ibunda Ucok, Fransina Frederika Mahieu, meninggal dunia.
Tragisnya, wanita berdarah Prancis itu meninggal dunia dalam posisi duduk di kursi goyang. "Mami membaca koran terbitan 1978. Isinya, buronan Ucok AKA sembunyi di Stasiun Gambir. Mungkin beliau kaget putra yang dibanggakan ternyata seorang buronan," kenang Ucok.

Ketika Ucok AKA Harahap tengah menikmati kebahagiaan bersama Farida Yasmin dan dua anak mereka (Richie dan Lia) di Lawang, tiba-tiba datang keluarga Farida. Mereka meminta agar Farida dibawa ke rumah Brigjen Alex Ciptadi, ayah Farida, di Jakarta.

FIRASAT buruk Ucok akhirnya terbukti. Farida Yasmin, istri sirinya, yang diorbitkan menjadi bintang film sukses era 1970-an, tak pernah kembali. Hilang bak ditelan bumi. Ucok makin terpukul karena ayah kandungnya, Ismail Harahap, pemilik Apotek Kaliasin di Surabaya itu, pun meninggal dunia.

Berbagai usaha dilakukan untuk menemukan Farida, tapi hasilnya nol besar. "Aku benar-benar hancur. Tak ada lagi semangat hidup. Tak ada gairah untuk menatap hari esok. Yang ada hanya kedukaan, nestapa, dan entah apa lagi. Hidupku sudah tidak ada artinya apa-apa lagi," aku Ucok AKA seperti dikutip Siti Nasyiah dalam buku biografi Ucok yang akan segera terbit.

Suatu ketika aktor dan sutradara Ratno Timoer memberinya alamat dukun tua di pedalaman Kalimantan. Pemeran utama Si Buta dari Goa Hantu itu menyuruh Ucok menemui dukun tersebut. "Dia itu spesialis mencari orang-orang hilang," ucap Ratno.

Kemudian ada teman lain, namanya Hendra Cipta, menyarankan Ucok pergi ke daerah Banten. Di sana konon ada kiai yang bisa dimintai tolong berbagai macam keperluan. Ucok akhirnya memilih ke Banten dibanding Kalimantan.

Oleh kiai di Banten, Ucok diminta melakukan ritual jalan kaki dari Banten hingga Banyuwangi. Ini agar bisa bertemu dengan Farida serta dua anaknya. Bayangkan, betapa jauh jarak yang harus ditempuh dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa itu. "Aku juga tidak diperbolehkan naik kendaraan apa pun," kenangnya.

Sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Grogol, Ucok semakin hancur begitu mendengar kabar Yasmin Yuniarti Farida, istrinya, kawin lagi dengan pengusaha kaya. Karena jalan normal sudah tak efektif, dia menjalankan tirakat menyendiri di makam Sunan Gunung Jati. Di situ dia mengaku didatangi wanita cantik yang mirip Farida.

Si gadis belia itu memperkenalkan diri sebagai Imlah. "Aku pikir ini hanya mimpi atau khayalan. Eh, nggak tahunya aku benar-benar bertemu dengan gadis itu," ujar Ucok suatu ketika. Perkenalan dengan Imlah berlangsung pada 3 Februari 1984. Gadis itu ternyata anak Kiai Zakaria Satria dari Cirebon.

Tidak lama setelah perkenalan ajaib itu, Ucok melamar dan menikahi Imlah di depan orang tuanya secara resmi. Waktu itu Ucok berusia 44 tahun, sedangkan Imlah 29 tahun. Kiai Zakaria meminta Ucok bersama istrinya Imlah kembali ke pondok pesantren milik sang kiai. "Aku yang biasa hidup mengembara, jadi terarah di pesantren. Hidupku berada di tengah ratusan santri."

Sayang, masalah baru timbul ketika keduanya tinggal seatap. Pandangan dan gaya hidup mereka bertolak belakang. Imlah tidak suka dengan berbagai atribut rocker yang biasa dikenakan Ucok atau poster-poster musisi rock yang dipajang di kamar. Nah, semua atribut rocker itu diturunkan dan dibuang Imlah yang santri itu.

"Akhirnya, aku sadar kalau kami memang tidak bisa bersatu. Aku pamit baik-baik dan berpisah. Rumah tanggaku dengan Imlah hanya berjalan enam bulan saja," ujar Ucok.

Lepas dari lingkungan keluarga Kiai Zakaria, Ucok kembali menjadi rocker yang nyentrik. Hanya bedanya, Ucok yang sekarang telah dibekali ilmu agama dan terbiasa tirakatan. Tawaran show kembali datang meskipun AKA sudah bubar. Tiga rekannya di AKA--Sjech Abidin, Soenata Tanjung, dan Arthur Kaunang--sudah membentuk SAS Group yang ternyata sukses besar.

Maka, kali ini Ucok bekerja sama dengan promotor musik asal Bandung, Joe Jauhari. Ucok diperkenalkan dengan Sri Lea, gadis manis yang tak lain adik Joe Jauhari. Kebetulan Sri Lea ini juga pemain gitar. Ucok kemudian membentuk band baru bernama Passport. "Kami mendapat kontrak main di Malaysia," katanya.

Orang tua Sri Lea kelabakan lantaran anak gadisnya dibawa ke sejumlah kota di Malaysia untuk konser rock. Maka, Ucok yang berstatus 'duda' diminta segera menikahi Sri Lea di Bandung. "Yah, aku kemudian menikah resmi dengan Sri Lea tahun 1986," sambungnya.

Lagi-lagi, Ucok gagal membina rumah tangga. Pasangan suami-istri sesama musisi rock ini bertahan dua tahun. Mereka bercerai pada 1988. "Aku dan Sri Lea tidak ada kecocokan lagi," ucapnya enteng.



TURUN RANJANG: Liezty (kiri), mantan adik ipar Ucok, yang dinikahi Ucok selama 10 tahun. Intan Mutiara (kanan), anak Ucok.

Usai bercerai dengan Sri Lea di Bandung pada 1988, Ucok AKA Harahap melanjutkan petualangannya ke Jogjakarta. Dia mendapat job show di Rumah Makan Yashinoki selama tiga bulan bersama Sweet Opinion Group.

BIASANYA, setelah tampil rumah makan Jepang itu, Ucok Harahap (kini almarhum, Red) bersama teman-temannya bersantai di Malioboro. Ketika asyik menikmati nasi gudeg dan kopi tubruk, suatu ketika, seorang wanita cantik menggelayut manja di pundaknya. Rupanya, perempuan itu digoda oleh beberapa laki-laki iseng.

Si nona sengaja mendekati Ucok untuk mencari perlindungan. "Yang bikin aku kaget, dia memanggil aku dengan Papa. Habis ini kita ke mana, Pa?’’ kenang Ucok Harahap. "Ya, aku bilang, terserah Mama saja deh."

Diplomasi halus ala pendiri AKA Group ini memang efektif. Keduanya kemudian berkenalan di hotel. Wanita cantik itu kemudian diketahui bernama Lisa Widiarti, asal Semarang. Sebagai model alias peragawati, prestasi si rambut panjang ini seabrek. Di ataranya, Ratu Kebaya Semarang dan Ratu Kebaya Jogja.

Singkat cerita, Lisa pun dinikahi secara resmi. Sempat diperkenalkan pada ayahnya, Ismail Harahap, di Lawang, pasutri ini kemudian hidup bersama selama dua tahun. Kembali ke Jogja, Lisa aktif lagi di berbagai acara fashion show. Ucok sibuk bermusik, Lisa sibuk di atas catwalk.

Lama-kelamaan Ucok mendapat informasi miring bahwa istri barunya itu punya PIL, pria idaman lain. Menjadi simpanan pejabat mapan. Tak percaya begitu saja, diam-diam Ucok membuntuti si Ratu Kebaya itu.
"Astagfirullah, ternyata istriku lagi check-in di sebuah hotel dengan seorang pejabat dari Jakarta," tutur Ucok.

Sakit hati, Ucok akhirnya memutus hubungan pernikahan dengan Lisa dan balik ke Lawang untuk menemani ayahnya yang sakit keras. Sebelumnya, adik kandung Ucok bernama Abdurahman Harahap alias Maneke meninggal dunia. Liezty, istri Maneke, yang selama ini merawat ayahnya di usia senja pun menjadi janda.

Hubungan Listy dengan mertuanya, Ismail Harahap, ayah kandung Ucok dan Maneke (alm), sudah ibarat anak kandung saja. Karena itu, meski ditinggal mati suaminya, ayah Ucok meminta Liezty agar tidak pulang ke rumah orang tuanya di Jember. Boleh pulang sebentar, tapi setelah itu kembali lagi ke Lawang.

Melihat Ucok dan Liezty sama-sama sendiri, Ismail bolak-balik 'menitipkan' Liezty kepada Ucok. Awalnya, Ucok mengaku tidak paham maksud ayahnya. Nah, sebelum menghembuskan napas terakhir, 1994, Ismail meminta agar semua anaknya berkumpul di Lawang. Saat itulah Ismail Harahap secara resmi menikahkan Liezty dan Ucok.

‘’Ucok, wanita-wanitamu sangat banyak. Tapi, tolong, yang satu ini jaga dan rawat dia dengan baik karena dia wanita luar biasa,’’ ujar ayah Ucok, pemilik Apotek Kaliasin Surabaya yang terkenal pada era 1960-an dan 1970-an itu. Sejak itu, Liezty resmi menjadi istri Ucok AKA. Istilahnya, turun ranjang.

Ucok mengaku hubungannya dengan Liezty, yang juga mantan adik iparnya itu, ibarat kakak dan adik. Tak ada setrum cinta yang menggebu-gebu ala Yasmin Yuniarti Farida dulu. Meski begitu, bertepatan dengan perayaan Indonesia Emas, 1995, Liezty melahirkan anak Ucok. Namanya Emas Indonesia Putra.
Saat pemakaman almarhum Ucok AKA di Kebraon, Karangpilang, Surabaya, 3 November lalu, Liezty datang membawa serta Emas yang baru berusia 14 tahun.

Awalnya, teman-teman dekat maupun para wartawan musik mengira Liezty merupakan wanita spesial terakhir dalam hidup Ucok. Maklum, usia Ucok sudah mendekati 70 tahun dan hubungannya dengan Liezty sangat dekat. Mereka bahkan bisa hidup bersama selama 10 tahun lebih. Bandingkan dengan istri-istri sebelumnya yang hanya bertahan beberapa bulan.

Namun, Ucok tetaplah rocker sejati yang senang mengembara ke mana-mana. Ditinggalkannya kota Lawang yang sejuk dan pindah ke kaki Gunung Klotok di Kediri. Di sana dia mendirikan kafe dan menjadi guru musik untuk anak-anak muda.

"Sebelum kafe berdiri, aku ternyata bertemu Endang Titik Rachmawati Agustina. Dia bersedia mengurus aku di masa tua ini," kenangnya. Maka, wanita paruh baya dari keluarga CB Band Kediri itu dinikahi secara siri pada 27 April 2007.

Lagi-lagi, Endang ternyata bukan wanita terakhir. Setelah kafe itu bubar, karena sering dipersoalkan warga dan lawan bisnis, Ucok bersama Endang pindah lagi ke Surabaya. Mereka tinggal di rumah kakak Agus, teman setia Ucok selama di Gunung Klotok, di kawasan Pagesangan. Ucok pun membuka sekolah musik di situ.

Dari sinilah Ucok mengenal Sri Hartini, ibu kos, yang tak lain kakak kandung Agus. Ketika Ucok sakit, Sri mengantar pentolan AKA itu ke rumah sakit. Nah, di dalam mobil Sri, Ucok yang berusia 69 tahun melamar Sri Hartini menjadi istrinya. Mereka menikah secara resmi pada 14 Mei 2009. Endang Titik yang dari Kediri itu pun tersingkir.

Di saat-saat terakhir hidupnya, praktis Sri Hartinilah yang merawat Ucok dengan setia. Ketika diopname di RS Darmo sejak 20 November 2009 karena kanker paru-paru stadium lanjut, Endang berada di samping Ucok.

"Saya menikah dengan Bang Andalas (nama asli Ucok) sebagai bagian dari ibadah saya. Saya ikhlas tanpa pamrih. Sebagai istri yang sah, saya harus melayani Bang Andalas sampai akhir," kata Sri. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 4-8 Desember 2009