30 December 2008

Tahun Baru, Budaya Tandingan




Juru Tulis: Lambertus L. Hurek


Ada sebuah berita kecil, empat alinea, di KOMPAS. Seorang artis muda, Dominique Agisca Diyose, memilih merayakan Natal di Rawaseneng, Jawa Tengah. Tepatnya di pertapaan para abas, biarawan Trapis. Bukan main! Saya geleng-geleng kepala.

Orang Katolik di Jawa tentu tahu persis Rawaseneng itu. Apa saja kegiatannya, pola meditasi, senandung, hingga pola makan dan bercocok tanam. "Apa gak salah artis natalan di Rawaseneng?" batin saya.

Memilih bernatal sembari silentium, refleksi minim wicara, di Rawaseneng, jelas bukan pilihan orang kota sebesar Jakarta. Apalagi artis yang sedang naik daun. Rawaseneng itu pusat retret. Tempat umat bersemadi, berdoa dalam bisu. Berita ini ibarat angin segar ketika Natal di Jawa--kota-kota besar umumnya--dicitrakan sebagai pesta belanja, hura-hura, perayaan hedonistis.

Saya bersyukur karena si Dominique telah membuat budaya tandingan. Ini hanya sebuah arus kecil di tengah arus besar sekularisme modern yang sukses besar mengenyahkan makna spiritual Natal. "Kita perlu membuat sebanyak mungkin budaya tandingan. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri," kata kawan saya, penggila buku filsafat.

Habis Natal, disusul tahun baru. Ini pun identik dengan malam hura-hura. Saya tidak tahu sejak kapan orang-orang Jawa, tidak semua tentu, senang sekali menghabiskan malam pergantian tahun di jalan raya. Bawa terompet kertas, bikin ramai, keliling kota tanpa tujuan. Atau menyaksikan orkes dangdut yang penyanyi-penyanyinya overacting.

Seingat saya, di Pulau Flores, yang hampir semua penduduknya beragama Katolik, tidak ada tradisi menghabiskan malam tahun baru di jalan raya. Tidak ada tiup terompet. Tidak ada dangdut. Tidak ada konser musik. Tidak ada booking hotel.

Yang ada hanya kebaktian bersama--disebut ibadat sabda tanpa imam--doa rosario, renungan umum, lalu makan bersama. Makanannya pun sangat sederhana, khas desa. Saling mengucap "selamat tahun baru", apalagi pakai cium-ciuman, tidak dikenal di desa-desa Flores. Ndeso banget ya!

Saya bersyukur bahwa di Jawa Timur pun makin banyak orang yang memaknai malam tahun baru secara khusyuk. Tahun baru itu tahun Masehi (Kristen), tapi sudah menjadi milik dunia. Semua orang--apa pun agama, kepercayaan, budaya--bersatu untuk memberi kandungan makna.

Di kawasan Sidoarjo, misalnya, warga kampung bikin tirakatan. Berkumpul, berzikir, berdoa, mensyukuri tahun lama dan berharap semoga tahun baru membawa kebaikan bagi semua. Berserah total kepada Sang Pencipta. Selepas zikir, ya, makan bersama. Juga makan jajanan pasar, polo pendhem (ubi-ubian rebus), minum kopi, teh, sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Nonton televisi, khususnya Liga Ingris yang selalu heboh. Orang-orang kampung di Jawa Timur memang sangat gila bola. Biarpun siaran langsung pukul 02.00 atau 03.00, jika yang bertanding itu Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, Juventus... ya ditunggu sambil ngopi di pinggir jalan... plus main domino.

Suasana malam tahun baru ala kampung-kampung di Jawa Timur ini juga semacam budaya tandingan, counter culture. Pejabat-pejabat tinggi di Jakarta dan daerah pun saya dengar mengisi malam tahu baru dengan zikir. Bagus sekali! Teladan macam ini perlu terus dilakukan para pemimpin kita di pusat hingga kampung-kampung.

Saya bermimpi, suatu ketika tidak ada lagi orang Indonesia yang hura-hura di jalan raya, pesta terompet, booking hotel, bermewah-mewahan di hotel berbintang. Saya juga bermimpi stasiun-stasiun televisi tidak lagi menyiarkan program hiburan hura-hura, dengan artis-artis menor overacting, yang tidak ada gunanya.

Selamat Tahun Baru untuk semua!

Tuhan memberkati!

Shinta Devi Teliti Boen Bio



Tidak banyak anak muda--apalagi yang bukan Tionghoa--tertarik mendalami sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Surabaya. Shinta Devi, 28 tahun, mengupas eksistensi Boen Bio sejak era kolonial hingga Orde Baru.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
Juru Foto: Freddy Sukoco

Shinta Devi, lulusan ilmu sejarah Universitas Airlangga, menulis buku berjudul Boen Bio, Benteng Terakhir Umat Konghuchu. "Saya mencoba mengungkap masalah-masalah yang dihadapi umat Boen Bio dari tahun 1907 hingga 1967," ujar Shinta Devi yang saya hubungi via telepon.

Menurut Shinta, sejak dulu para tokoh Boen Bio, kelenteng ternama di Jalan Kapasan berjuang untuk mendapat pengakuan bahwa sesungguhnya Konghuchu merupakan sebuah agama. Dan perjuangan itu tidak gampang, khususnya pada awal Orde Baru. Rezim itu antara lain melarang aksara Tionghoa dan berbagai perayaan seperti Sin Cia dan Cap Go Meh.

Yang menarik, jemaat Boen Bio tetap saja melaksanakan peribadatan di kelentengnya. Bahkan, jumlah umat yang hadir semakin lama semakin banyak. Aparat pemerintah pun tak bisa berbuat banyak.

"Ini menunjukkan bahwa melarang orang untuk beribadah itu tidak pernah efektif. Larangan itu bertentangan dengan hak asasi manusia," kata wanita kelahiran Surabaya, 21 Maret 1980 itu.

Buku tentang Boen Bio karya Shinta Devi, yang diterbitkan JP Books, ternyata menjadi rujukan berbagai kalangan, mulai wartawan, penulis, peneliti, novelis, hingga masyarakat umum. Lan Fang, misalnya, menjadikan buku Shinta Devi sebagai salah satu referensi menulis novel Perempuan Kembang Jepun.

"Saya sendiri tidak menyangka kalau buku saya dijadikan rujukan dan bahan diskusi tentang sejarah etnis Tionghoa di Surabaya," papar Shinta Devi yang tengah menyelesaikan studi pascasarjana di Jogjakarta ini.

Bingky Irawan, tokoh Konghuchu, mengaku salut dan terharu dengan kerja keras Shinta Devi menggali sejarah etnis Tionghoa di Surabaya, khususnya eksistensi Boen Bio di Jalan Kapasan. Karya Shinta dinilai bisa membantu masyarakat memahami komunitas Konghuchu serta partisipasinya dalam sejarah republik ini.

"Yang buat saya terharu, Shinta Devi ini muslimah, orang Jawa, tapi bersusah payah meneliti Kelenteng Boen Bio," ujar Bingky Irawan.

Tajuk Natal Radar Surabaya



Oleh Lambertus L Hurek
Radar Surabaya, 25 Desember 2008

MAYORITAS orang Singapura jelas bukan Kristen. Namun, sejak November lalu negara kecil ini mengadakan Christmas Festival terbesar di Asia. Yah, orang Singapura memang doyan belanja. Dan momentum Natal sengaja dikemas sedemikian rupa untuk merangsang nafsu berbelanja manusia.

"Di negara lain, terutama Eropa, mungkin pusat-pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong menjadi sepi pada hari Natal. Orang berkumpul dengan keluarganya, merayakan Natal. Tidak begitu yang terjadi di Singapura. Semua pusat perbelanjaan penuh sesak oleh manusia, ya yang mau belanja, makan, atau sekadar jalan-jalan. Aneh tapi nyata. Wong ini hari raya keagamaan kok dirayakan di mal? Tapi begitulah Singapura," tulis Dyah, guru sebuah sekolah di Singapura.

Gambaran macam ini, saya kira, tak hanya di Singapura. Di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Denpasar pun sama. Sejak permulaan Desember berbagai pusat belanja berhias aksesoris Natal: pohon terang, Santa Claus, bintang, kandang, hingga lagu-lagu Natal. Orang dirangsang berbelanja sebanyak mungkin dengan embel-embel Christmas.

Sebaliknya, kalau kita tengok gereja-gereja atau katakanlah tempat ziarah, praktis tidak ada apa-apa. Paling hanya hiasan sekadarnya. Itu pun dibuat terburu-buru sehari dua hari menjelang misa malam Natal. Hari raya keagamaan kok dirayakan di mal?

Gugatan macam ini bukan barang baru. Sejak dulu umat manusia diingatkan akan bahaya konsumerisme dan hedonisme. Orang dirangsang terus-menerus berbelanja tanpa tahu kegunaannya. "Natal tidak ada hubungan dengan kesalehan. Natal memang identik dengan konsumsi. Belanja," tulis James E Combs (1993).

Mudah-mudahan refleksi malam Natal bisa menyadarkan umat kristiani akan makna Natal yang sejati. Bahwa Yesus lahir dalam kesederhanaan, di palungan binatang, disaksikan gembala-gembala miskin, yang kali pertama mengunjungi bayi Yesus.

"Pesan Injil sangat jelas. Yakni, Tuhan sungguh-sungguh solider dengan kaum miskin, demi pembebasan manusia dari kemiskinan," tulis Gustavo Gutierrez, teolog terkemuka.

Silakan berlibur ke mal, tapi jangan lupa palungan. Selamat Natal!

Andrew Weintraub pelopor dangdut Amerika

Andrew Weintraub nyanyi di Surabaya, 2008.


Dangdut, yang dulu dicibir sebagai musiknya kaum pinggiran, kini telah berkembang menjadi musik yang paling banyak penggemarnya di Indonesia. Sejumlah peneliti Barat bahkan secara khusus mempelajari dangdut. Prof Andrew N Weintraub PhD, profesor musik dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, termasuk peneliti Barat yang sangat serius mendalami musik dangdut.

Belum lama ini Andrew mendatangkan Rhoma Irama ke Amerika Serikat untuk konser di beberapa tempat. Berikut petikan wawancara khusus LAMBERTUS HUREK dengan Andrew N. Weintraub.


Profesor, apa pertimbangan Anda mengundang Rhoma Irama ke USA?

Tolong jangan panggil saya Profesor. Cukup Andrew saja biar lebih akrab (tersenyum). Saya mengundang Rhoma Irama karena dia memang raja dangdut. Rhoma itu ikon dangdut. Legenda hidup musik dangdut. Sehingga, menurut saya, dialah yang paling tepat bicara tentang musik dangdut dari tahun 1970-an sampai sekarang. Apalagi, Rhoma juga menjabat ketua PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia).

Selain konser, apa lagi kegiatan Rhoma Irama selama berada di kampus Anda?

Dia bicara dalam seminar tentang Islam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Rhoma Irama menjelaskan bagaimana kehidupan umat Islam, hubungannya dengan musik dangdut, serta isu terorisme. Rhoma menegaskan bahwa terorisme sama sekali tidak ada kaitan dengan Islam. Pernyataan Rhoma Irama ini penting, agar orang Amerika punya pandangan yang benar tentang Islam, khususnya orang Indonesia.

Saya sendiri cukup lama tinggal di Indonesia, sering ke Indonesia untuk penelitian, sehingga sedikit banyak tahu tentang umat Islam di Indonesia. Tapi akan berbeda kalau ang bicara itu seorang Rhoma Irama. Anda tahu Rhoma itu paling banyak berdakwah melalui musik dangdut. Dan itu membuat pesannya lebih mudah sampai ke masyarakat di desa-desa.

Anda rupanya tetarik dengan musik dangdut dan kebudayaan Indonesia.

Ya, saya juga punya band dangdut, namanya Dangdut Cowboys. Saya sebelumnya melakukan penelitian tentang kebudayaan Sunda, khususnya gamelan dan wayang golek. Dari situ saya tahu bahwa dangdut punya tempat khusus di masyarakat. Saya lihat langsung pertunjukan musik dangdut di mana-mana. Ramai sekali. Anak-anak sampai orang tua sangat antusias menikmati musik dangdut. Ini berarti musik dangdut sudah diterima di hampir semua kalangan masyarakat.

Lantas, Anda berdiskusi dengan Rhoma Irama?

Salah satunya. Saya berusaha bertemu langsung dengan tokoh-tokoh dangdut di Indonesia. Saya ingin tahu lebih dalam tentang asal mula dangdut, perkembangannya, tokoh-tokohnya, hingga hubungannya dengan politik selama Orde Baru. Rhoma Irama pernah dilarang tampil di TVRI pada era Orde Baru karena pertimbangan politik. Ini sangat menarik bagi peneliti luar seperti saya.

Saya jadi semakin dekat dengan Rhoma Irama karena sering diskusi. Saya juga ikut tur keliling bersama Soneta Group di berbagai daerah di Jawa. Jadi, saya bisa melihat langsung bagaimana interaksi masyarakat dengan Rhoma Irama.

Pernah lihat pergelaran dangdut di Jawa Timur?

Sering. Oktober lalu (2008), ketika Rhoma Irama dengan Soneta Group tampil di daerah Mojokerto untuk mengisi kampanye salah satu calon gubernur. Ini juga menarik karena sejak dulu dangdut dipakai untuk memeriahkan kampanye politik.

Bagaimana dengan buku Anda yang mengupas perkembangan musik dangdut di Indonesia?

Sekarang masih dalam proses. Saya dapat banyak bahan baik hasil wawancara, rekaman kaset, CD, VCD, serta naskah-naskah lain selama saya berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Ini semua saya kaji dengan sebaik-baiknya agar buku ini bisa menjadi sumber referensi yang akurat. Sebab, rencananya, buku saya itu akan diedarkan di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika, Eropa, dan Asia. Tunggu saja, nanti saya kabarkan.

Anda juga sempat riset di Surabaya. Apa yang menarik dari Surabaya dan Jawa Timur umumnya?

Ya, karena Surabaya itu salah satu kota terpenting dalam perkembangan industri musik di Indonesia. Di sini ada Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang sangat populer pada 1950-an hingga 1970-an. Kemudian ada juga okes-orkes lain yang mewarnai musik melayu sebelum berubah nama jadi dangdut. Sampai sekarang pun Jawa Timur masih menjadi barometer musik dangdut. Di mana-mana ada orkes dangdut, penyanyi dangdut, hingga pub dangdut.

Karena itu, sejak awal saya memang menetapkan Surabaya sebagai salah satu tempat penelitian saya. Syukurlah, saya akhirnya bisa bertemu dengan personel OM Sinar Kemala yang masih hidup. Saya mendapat banyak informasi menarik dari mereka.

Anda melakukan wawancara langsung satu per satu?

Betul. Sebagai peneliti, saya harus bisa menggali informasi langsung dari sumber di lapangan. Tidak bisa hanya mengandalkan data sekunder. Awalnya, saya mengajak personel Sinar Kemala bicara bersama-sama dengan Rhoma Irama, tapi setelah itu saya gali lagi ke masing-masing personel di rumahnya. Rhoma Irama sangat berjasa mempertemukan saya dengan para sesepuh dangdut. Tapi, sebagai peneliti, saya harus netral dan objektif.

Ada kendala selama melakukan penelitian di Indonesia?

Ada, tapi relatif bisa diatasi. Indonesia sangat luas dan itu membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Untuk penelitian ini, saya harus ke Surabaya, Jakarta, Banjarmasin, Medan, Makassar. Cukup melelahkan. Kendala lain soal kultur. Hampir semua pedangdut perempuan tidak bisa diwawancarai seorang diri, tapi selalu didampingi suaminya. Ini membuat narasumber saya tidak bisa bicara apa adanya.

Omong-omong, bagaimana respons warga Amerika terhadap grup dangdut Anda?

Cukup memuaskan. Band kami masih sebatas main di depan pengunjung yang terbatas. Jadi, belum banyak orang Amerika yang menikmati musik dangdut. Tapi saya juga sudah publikasikan lewat YouTube, mudah-mudahan semakin banyak orang Amerika yang suka dangdut dan kebudayaan Indonesia.

Anda bisa menyanyikan lagu dangdut Rhoma Irama dengan baik. Belajar di mana sih?

Belajar sendiri. Saya pelajari rekaman-rekaman dangdut, tidak hanya Rhoma Irama, kemudian lihat langsung konser dangdut di daerah-daerah. Setelah itu saya coba mainkan dan ternyata bisa. Tapi tentu saja kami belum bisa bersaing dengan Soneta Group. Kami kan masih pemula. Hehehe....


Dangdut Cowboys ala Pittsburgh

ANDREW N. Weintraub bukan peneliti biasa. Dia seorang etnomusikolog yang cepat menguasai musik apa saja. Ketika melakukan penelitian di Jawa Barat, Andrew pun tertarik dengan gamelan Sunda. Dia lantas belajar pada sejumlah pemusik tradisional Sunda.

Setelah menguasai gamelan, Andrew menggelar pementasan keliling di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. "Saya hanya ingin memperkenalkan musik dan kebudayaan Indonesia di dunia internasional. Sebab, musik Indonesia itu sebenarnya unik dan sangat menarik," ujarnya.

Selama lima tahun melakukan riset di Bandung, Andrew akhirnya makin sadar bahwa sebagian besar orang Indonesia ternyata sangat suka musik dangdut. Khususnya Raden Haji Oma Irama alias Rhoma Irama. Lagi-lagi Andrew berusaha mendalami musik paling populer di tanah air itu.

"Saya semakin suka dangdut karena musiknya benar-benar unik. Hanya ada di Indonesia meskipun menggunakan banyak unsur India, Melayu, Arab, hingga Barat," kata pria yang hafal sebagian besar lagu karya Rhoma Irama itu.

Saking cintanya sama dangdut, ketika kembali ke kampusnya, University of Pittsburgh, Amerika Serikat, Andrew membentuk band dangdut. Tentu saja, dia lebih dulu memperkenalkan musik dangdut baik melalui rekaman maupun secara langsung. Maklum, Andrew sangat piawai memainkan berbagai alat musik, khususnya gitar. Suaranya pun bolehlah.

Nah, di bawah arahan Andrew, maka terbentuklah Dangdut Cowboys. Menurut dia, band ini membawakan dangdut ala koboi Amerika. Anggotanya, selain Andrew pada gitar dan vokal, adalah Kavin Paulraj (bas), Ben Rainey (gitar), dan Mike Witmore (kendang). Kostum mereka layaknya musisi country. "Saya kombinasikan musik dangdut dengan country serta irama Latin. Dan itu membuat band kami bisa diterima di Amerika," katanya bangga.

CV SINGKAT

Nama : ANDREW N. WEINTRAUB
Jabatan: Profesor Musik di University of Pittsburgh, USA.

Pendidikan:
Ph.D., University of California, Berkeley (1997)
M.A., University of Hawai`i (1990)
B.A., University of California, Santa Cruz (1985)
Hobi : Musik, travelling

Penelitian:

Musik tradisional Sunda, Jawa Barat.
Wayang golek di Jawa Barat.
Musik Asia Selatan.
Musik Dangdut.
Hubungan antara seni pertunjukan, budaya, dan politik di Indonesia selama Orde Baru, 1966-1998.

22 December 2008

Nasib Musik Seriosa Kini





Irama Desa karya almarhum Iskandar. Lagu seriosa sederhana yang diperkenalkan kepada anak-anak sekolah. Sering jadi lagu wajib/pilihan lomba seni suara di Flores.

Oleh Theo Sunu Widodo
Theo Sunu Widodo Guru SMP Stella Duce I Yogyakarta


Ingar-bingar dunia musik Indonesia sudah begitu menggila. Aneka jenis musik menyerbu telinga pendengarnya. Pop, rock, blues, jazz, campursari, dan dangdut menyeruak masuk ke gendang telinga pendengarnya. Sungguh pesat perkembangan musik di Indonesia. Namun, sayang, perkembangan itu justru secara tak langsung mematikan jenis musik lain, musik seriosa. Musik seni, yang kini nasibnya tak tentu.

Pada tahun 1960-an, tiga jenis musik digelar dalam Pemilihan Bintang Radio (kemudian Pemilihan Bintang Radio dan Televisi). Ketiga jenis musik itu, hiburan, keroncong, dan musik seriosa. Begitu pula dengan urutan jumlah peminat untuk menjadi peserta pemilihan bintang radio dan televisi. Hiburan di peringkat pertama, keroncong di tangga kedua, dan seriosa di urutan buncit.

Mengapa hal itu terjadi. Salah satu penyebabnya, kemungkinan besar adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam membawakan musik seriosa. Harus serius. Memang, jenis musik lainnya pun memerlukan keseriusan yang tinggi, tetapi musik seriosa lain.

Menurut Dailami Hasan, seorang guru vokal, yang kendati sudah pensiun masih sempat mengajar di ISI Yogyakarta jurusan vokal, musik seriosa dapatlah disebut musik seni. Kualitasnya tinggi. Apakah kalau sulit, berarti kualitasnya tinggi? Belum tentu juga. Namun, kalau kita melihat, komposisi musik seriosa biasanya menyajikan tantangan bagi penyanyinya.

Pertama, komposisi musik seriosa, yang konon "meniru" lieder-nya tokoh musik zaman klasik, Franz Schubert, antara musik dan syairnya menyatu padu. Dari intro sampai ekstro, digubah sebagai sebuah kesatuan. Interlude dipasang dengan sengaja, terencana, dan ada maknanya.

Kita mengenal tokoh-tokoh penggubah musik seriosa hanya beberapa gelintir. Bisa kita sebut, Cornel Simanjuntak, Binsar Sitompul, Mochtar Embut, AJ Soedjasmin, dan yang baru saja "surut", meninggal dunia, FX Soetopo. Lepas dari itu, bisa dibilang tak ada lagi generasi penerus dalam dunia penciptaan musik seriosa. Dengan penuh harap, kita menunggu hadirnya komponis musik seriosa.

Kalau kita menyimak musik seriosa, tampaklah umumnya, pemusik bekerja sama dengan penyair. Penyair-penyair yang karyanya "dicomot" untuk dijadikan nyanyian seriosa cukup banyak. Di antaranya: Sanusi Pane, Usmar Ismail, JE Tatengkeng, Chairil Anwar, dan WS Rendra. Mengapa begitu. Mungkin para pemusik "tahu diri" bahwa lahannya berbeda. Namun, mereka bisa bekerja sama.

Dan yang pasti, syair garapan penyair andal pasti terjamin kualitasnya. Memang ada komponis yang sekaligus membuat musik dan liriknya. Lalu mengalunlah, Aku, Cintaku Jauh di Pulau, Citra, Dewi Anggreini, dan Embun, menjadi wakil nomor andalan musik seriosa. Umumnya, tanda ekspresi, tempo, dan dinamika sudah lengkap tertulis dalam partitur. Ini memudahkan penyanyi menginterpretasikan musik seriosa.

Teknik pembawaannya pun tidak gampang. Misalnya dari segi pernapasan, musik seriosa menuntut pernapasan diafragma. Tak ketinggalan, teknik produksi suara yang khas. Misalnya, adanya vibrato yang tidak mengeruhkan kejelasan ucapan (artikulasi). Soal resonansi (penggemaan suara) dan sonoritas pun menjadi poin tersendiri dari musik seriosa. Simaklah ketika Pavarotti beraksi dengan suara emasnya.

Belum lagi tingkat kesulitan dalam hal interval, pitch (tinggi nada), dan durasi. Umumnya musik seriosa menurut istilah awam, notnya banyak yang salah. Karena (kalau ditulis dengan not angka) menggunakan garis yang menerjang not. Atau nada-nada kromatis.

Dari segi durasi, nilai nada, tak jarang musik seriosa menghadirkan not yang rengket, rapat, not sepertiga puluh dua. Misalnya, satu ketukan dipakai untuk empat atau lebih not. Belum lagi triol kecil dan triol besar. Semuanya menuntut keterampilan yang tinggi untuk dapat dengan cermat membunyikannya.

Mungkin itulah penyebab sedikit orang yang melirik ke musik seriosa. Bisa dibilang, penyanyi seriosa di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Taruhlah nama-nama Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, dan Linda Sitinjak.

Di Yogyakarta, dulu pernah beredar nama Suyudono Hr, suami istri Teddy Sutadhy dan Susanti Andari. Mereka pernah berkibar di zamannya. Kini hanya sedikit nama yang bisa disebut. Taruhlah nama Ariani SP dan Albert Wisnu.

Guru vokal seriosa pun jarang, sebut saja, "Eyang" Dailami Hasan dan Moordiana. Kursus-kursus vokal pun kiblatnya ke musik hiburan, meski juga tidak selalu "ringan". Mengapa? Karena tren dan selera pasar menuntut begitu. Begitu banyak orang yang ingin menjadi penyanyi pop. AFI, KDI, Indonesian Idol daya tariknya begitu kuat. Tak mengherankan, sedikit yang ingin menjadi penyanyi seriosa.

Padahal, dasar-dasar bernyanyi musik seriosa bisa menjadi dasar bagi teknik menyanyi jenis-jenis yang lain. Dari teknik menyanyi seriosa, kita bisa "melebar", eksplorasi ke jenis musik yang lain. Tengok saja, almarhumah Pranawingrum Katamsi yang memberi dasar menyanyi seriosa kepada anak laki-lakinya yang penyanyi rock. Di samping mewariskan bakatnya kepada anak perempuannya, Aning Katamsi, untuk terus menggelutinya.

Lalu, bagaimana kita harus menyikapi hal ini. Utamanya mereka pandhemen musik seriosa. Ya, karena nasib musik seriosa tak menentu. Karena selera pasar dan perjalanan waktu, musik seriosa harus kita hidupkan lagi. Sayang bila musik seni musik seriosa sampai ditinggalkan orang dan tinggal kenangan. Komunitas musik seriosa harus berbenah diri untuk "membangun" kembali musik seriosa agar musik seriosa dikenal, disayang, dan dicinta kembali oleh masyarakat.

Komunitas musik seriosa harus memperkenalkan musik seriosa kepada khalayak secara lebih intensif, dengan pementasan-pementasan musik seriosa yang rutin digelar. Mengadakan lomba penciptaan musik seriosa dan menggelar lomba menyanyi seriosa merupakan dua langkah strategis untuk membangkitkan kembali musik seriosa.

Praktisi, penikmat, dan akademisi harus berjuang bersama- sama "membangkitkan kembali" musik seriosa yang bisa dibilang mati suri.

Ya, kita harus memaklumi bahwa selera musikal adalah masalah pribadi. Kita tidak dapat memaksakan selera kita terhadap orang lain. Akan tetapi, fanatik terhadap salah satu jenis musik pun bukan tindakan yang bijaksana. Akan lebih baik kalau kita mampu membuka hati dan telinga kita untuk jenis-jenis musik lain.

Musik sifatnya auditif. Jadi, yang disapa adalah telinga kita. Karenanya, mari kita memekakan-bukan memekakkan-telinga kita untuk mendengarkan berbagai jenis musik. Kita mencoba melihat, menyimak, merasakan, dan menghayati aneka jenis musik. Menjadi orang yang musikal. Itulah cita-cita kita bersama. Maka, terimalah ajakan penulis, marilah kita terbuka pula terhadap musik seriosa.

Seriosa Natal F.X. Soetopo




Lagu-lagu Natal selalu enak dan abadi. Melodinya bagus-bagus. Contoh: ADESTE FIDELES yang di Indonesia dikenal dengan HAI, MARI BERHIMPUN. Sederhana, tapi luar biasa merdunya. Juga SILENT NIGHT yang diindonesiakan dengan MALAM KUDUS.

Sayang sekali, hampir semua lagu Natal populer berasal dari Barat sana. Sudah banyak sebetulnya komposer tanah air yang menulis lagu Natal ala Indonesia. Tapi jarang yang ngetop. Beda, misalnya, dengan lagu-lagu Paskah populer banyak ditulis orang kita sendiri.

Guru-guru kampung di pelosok Pulau Flores--yang hanya berbekal pendidikan SGA (Sekolah Guru A), SGB (Sekolah Guru B), KPG (Kursus Pendidikan Guru), atau SPG (Sekolah Pendidikan Guru)--banyak menghasilkan lagu-lagu Paskah populer. Ini bisa disimak pada liturgi pekan suci di gereja-gereja Katolik. Saya tidak tahu kenapa komposisi Natal sulit populer.

Bapak F.X. Soetopo (almarhum) komposer musik klasik Indonesia yang sangat populer. Aktivis paduan suara, peserta bintang radio dan televisi, penyuka musik seriosa, tentu tak asing dengan pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 26 April 1937, ini. Pak Soetopo kali pertama menulis lagu ketika usianya baru 14 tahun.

Bakat musiknya memang luar biasa. F.X. Soetopo semakin matang ketika belajar musik di Sekolah Menengah Musik Indonesia, Akademi Musik, kemudian Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Dia memperdalam ilmu musiknya di beberapa musisi Barat macam Willy Piel, Bodmer, dan G. Kenney. Pria yang meninggal pada 2006 ini juga menciptakan Himne Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

F.X. Soetopo menulis banyak sekali komposisi vokal klasik ala Indonesia yang kita kenal dengan SERIOSA. Sebut saja CINTAKU JAUH DI PULAU (dari puisi Chairil Anwar), LEBUR, PUISI RUMAH BAMBU, BUKIT HITAM, TRAGEDI '65, BALADA PERJALANAN, KABUT, GERSANG, BALADA BERINGIN, NATALKU KE-9. Jarang ada komposer anak negeri yang menulis lagu Natal bergaya seriosa. Setahu saya, ya, hanya F.X. Soetopo.

Nah, menjelang Natal ini tak ada salahnya kalau kita bersama belajar membawakan lagu karya F.X. Soetopo: NATALKU KE-9. Berbeda dengan lagu-lagu seriosa umumnya, melodi lagu ini sangat sederhana. Tidak ada satu pun nada kromatis yang menyulitkan penyanyi pemula. Ambitus atau rentang nada pun standar, bisa dibawakan siapa saja.

Yang paling penting, tentu saja, ekspresi atau penghayatan. Nyanyian dibawakan dengan tenang dan ekspresif: ANDANTE ESPRESSIVO. Selamat mencoba!!!

21 December 2008

Romo Eko Budi Susilo




Menjelang Natal ini, kesibukan Romo Yosef Eko Budi Susilo luar biasa. Setiap hari kepala Paroki hati Kudus Yesus (HKY) alias Katedral Surabaya ini harus mengikuti bakti sosial Natal di berbagai tempat. Belum lagi menangani urusan pastoral rutin di gereja dengan 6.000 lebih jemaat ini.

"Gereja HKY ini unik karena setiap hari mesti ada mantenan. Dan yang mantenan di sini berasal dari mana-mana, bahkan dari luar Jawa Timur," ujar Romo Eko.

Nah, sambil mendengar lagu-lagu pernikahan yang dilantunkan Eliata Choir, tim Radar Surabaya menemui Romo Eko Budi Susilo di ruang tamu Gereja HKY. Berikut petikannya.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
Juru Foto: Agung Rahmadiansyah


Natal sudah dekat. Apa saja yang dilakukan Paroki HKY untuk menyambut hari istimewa ini?

Seperti biasa, ada dua macam kegiatan. Pertama, perayaan ekaristi (misa) dan, kedua, aksi sosial. Aksi sosial berupa pemberian bantuan sembako sudah dilakukan Kamis lalu. Ada sekitar 200 keluarga kurang mampu yang dapat bantuan. Aksi sosial juga dilakukan umat di enam wilayah paroki kami.

Adapun misa malam Natal nanti akan dilaksanakan tiga kali: pukul 18.00, 21.00, dan 24.00. Petugas-petugas misa, paduan suara, petugas keamanan internal, perlengkapan, sudah kita siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan aman dan lancar.

Apakah ada semacam pengamanan khusus di lingkungan gereja seperti tahun-tahun lalu?

Iya. Kami berkerja sama dengan Dinas Perhubungan, Polres Surabaya Selatan, Polsek Tegalsari, Pramuka untuk menjaga keamanan selama misa malam Natal. Nanti polisi akan membuka posko khusus di depan gereja. Teman-teman dari Banser NU pun sudah menyatakan keinginan untuk ikut berpartisipasi.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, barang bawaan umat memang akan diperiksa. Apalagi, kita tahu, Amrozi cs kan baru saja dieksekusi. Yah, kita diminta untuk waspada, tapi tidak perlu terlalu khawatir. Wajar-wajar sajalah.

Apa poin penting dalam pesan Natal tahun ini?

Poinnya, berdamailah dengan semua orang. Umat Katolik diajak untuk berdialog dengan semua orang, solidaritas dengan sesama warga negara, khususnya mereka-mereka yang kurang beruntung. Kita tidak bisa menutup mata bahwa sekarang ini masih banyak saudara-saudara kita yang menderita, buruh yang menjadi korban PHK, dan jangan lupa korban lumpur Lapindo. Natal tidak akan ada artinya tanpa solidaritas dengan sesama.

Tahun 2009 ini kan tahun politik. Ada pemilu legislatif, kemudian pemilihan presiden. Sebagai ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Surabaya, apa ada imbauan khusus kepada umat Kristen, khususnya Katolik?

Kita mengimbau umat untuk menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai golput karena akan merugikan kita semua. Semua warga negara harus berpartisipasi dengan menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab.

Tapi kalau melihat pilkada di mana-mana, termasuk pilgub Jatim, golput justru makin banyak.

Betul. Dan itu karena kejenuhan masyarakat setelah melihat tidak ada perubahan. Harga-harga bahan pokok naik, BBM juga naik, meski sekarang turun, tapi tidak banyak menolong masyarakat. Padahal, biaya politik untuk pemilihan itu luar biasa mahalnya.

Pilgub Jatim putaran pertama habis Rp 600 miliar, putaran kedua Rp 257 miliar. Kemudian pilgub ulang di Madura ini saya dengar Rp 15 miliar. Lha, sementara kehidupan mayoritas rakyat kita masih senen-kemis. Ini yang bikin orang mulai apatis dengan politik. Apalagi sekarang ada bisnis politik, industri demokrasi, atau politik dagang sapi.

Ada umat yang jauh lebih tua dari saya mengatakan, kondisi sekarang justru lebih susah ketimbang zaman Jepang. Antre elpiji, antre minyak tanah, di mana-mana. Ini tidak bisa dibiarkan.

Bukankah hal-hal itulah yang mendorong orang menjadi golput?

Tapi golput bukan pilihan yang baik. Kita berprinsip minus mallum saja. Yakni, memilih yang baik dari yang buruk-buruk itu. Sebab, kita ingin makin lama ada perbaikan dalam dunia politik di negara ini. Politik itu sebetulnya baik. Tujuannya bonum commune, kesejahteraan bersama. Tapi, karena kualitas moral politisi kita masih seperti itu, ya, akhirnya politik menjadi tidak menarik di Indonesia. Orang jadi malas dengan politik.

Lantas, apa yang bisa dilakukan para caleg-caleg baru setelah terpilih nanti?

Berpolitiklah secara baik. Politik itu ada etikanya. Harus ada idealisme untuk memperbaiki nasib rakyat. Jangan lagi ada setoran-setoran untuk menggedok undang-undang. Sekarang setelah KPK beraksi, kita akhirnya tahu bahwa sejak dulu ternyata BI (Bank Indonesia) suka menggelontorkan uang miliaran rupiah ke parlemen.

Kita hanya ingatkan para wakil rakyat: ojo gelem disuap. Anggota dewan bikinlah kaukus lintas fraksi. Di situ mereka bisa bersama-sama, yang punya idealisme, melakukan sesuatu yang konkret untuk bonum commune.

Apakah ada semacam 'arahan' untuk memilih partai tertentu kepada umat Katolik pada pemilu mendatang?

Tidak ada. Kita hanya memberikan beberapa kriteria seperti berwawasan kebangsaan, mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, negara kesatuan Republik Indonesia, membela kemajemukan. Yang tak kalah penting, partai atau caleg itu harus berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Maka, kita ingin semua caleg punya komitmen seperti itu. Kalau itu tidak dilakukan, rakyat akan semakin jenuh dan apatis.

Selama ini Anda selalu memimpin paroki besar, tapi bisa sangat aktif dalam berbagai organisasi, termasuk lintas agama. Bagaimana ceritanya?

Kebetulan sejak kecil saya memang sangat suka berorganisasi. Mulai SD ikut Pramuka, kemudian ngurus OSIS, pernah jadi ketua senat mahasiswa di Akademi Kateketik. Di STFT (Sekolah Tinggi Widya Sasana) Malang, saya juga jadi pengurus senat mahasiswa, sebagai humas.
Nah, pengalaman berorganisasi itu membuat saya bisa mengenal banyak orang dari berbagai kalangan. Dan, itu saya lakukan sampai sekarang. Yang penting bisa membagi waktu, sehingga tugas utama sebagai pastor paroki tidak terbengkelai.

Lantas, kedekatan dengan kiai-kiai seperti KH Hasyim Muzadi?

Kasus pembakaran gereja-gereja di Situbondo pada 1996 ternyata membawa hikmah. Kita semua tak hanya prihatin, tapi justru bisa bekerja sama lebih erat. Saya bersama Pak Hasyim dan tooh-tokoh agama lain selalu ke mana-mana, bisa berkomunikasi dengan cepat dan efektif. Kalau ada apa-apa di Jatim, kita cukup kirim SMS, dan setelah itu bisa kumpul bareng-bareng.

Kerukunan antarumat beragama di Jatim bahkan menjadi contoh di tingkat nasional. Beberapa daerah seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, datang ke sini untuk studi banding. Mereka heran kok para pemuka agama di Jatim bisa guyub, rukun, bisa bekerja sama. Imej yang baik ini harus kita pertahankan.

Ada juga yang mengkritik banyaknya tokoh agama yang terjun ke politik. Atau, misalnya, menjadi tim sukses calon di pilkada.

Benar dan akibatnya agamawan itu tidak netral lagi. Kalau saya masuk PDIP, otomatis saya tidak bisa objektif. Bagaimana dengan umat yang berada di Golkar, Demokrat, PAN, atau partai lain? Maka, Gereja Katolik secara tegas melarang romo-romo masuk politik praktis. Kita belajar dari pengalaman sejarah masa lalu. Kekuatan seorang rohaniwan itu bukan kekuatan politik atau senjata, melainkan kekuatan moral. (*)


Diluruk Panitia Pembangunan Gereja

DI tengah kesibukannya sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus (Katedral), Surabaya, dan seabrek aktivitas lintas agama, Romo Eko Budi Susilo tak pernah bosan menuangkan ide-idenya dalam tulisan. Maklum, sejak kecil rohaniwan kelahiran Solo, 4 Juni 1961, ini suka menulis dan berorganisasi.

Romo Eko-lah yang mendirikan beberapa media di lingkungan keuskupan dan paroki di Surabaya. Belum lagi diminta mengisi kolom agama di surat kabar umum. "Saya itu kalau ada uneg-uneg mesti saya salurkan lewat tulisan. Setelah menulis hati ini rasanya plong," ujarnya.

Sebagai orang Jawa tulen, asli Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, Romo Eko juga terbiasa menyampaikan gagasan dalam bahasa Jawa. Tulisan-tulisannya ringan, sarat humor, tapi kadang-kadang nyelekit. Dia tak segan-segan mengkritik umat Katolik yang terobsesi dengan bangunan gereja yang elit, mewah, dihiasai lukisan mahal, hingga sampai mengimpor aksesoris segala. Padahal, di daerah-daerah umat sangat sulit mencari dana hanya sekadar untuk merenovasi gereja.

Akibatnya, "Saya pernah diluruk sekelompok panitia pembangunan gereja karena tulisan saya membuat mereka kebakaran jenggot. Padahal, maksud saya bukan untuk 'membakar jenggot' mereka. Itu hanya uneg-uneg saya setelah melihat persoalan-persoalan yang muncul di sekitar gereja," ujar Romo Eko seraya tersenyum.

Hasil kegemaran menulis ini telah membuahkan empat buku. Yakni, Terampil Berorganisasi (terbit 1999), Hubungan Negara dan Gereja (2002), Menuju Keselarasan Lingkungan (2003), serta Lapindo Beauty Spa (2007). Tulisan-tulisannya memang punya penggemar tersendiri. "Saya juga masih mengisi kolom tetap di majalah Warta Algonz meskipun saya sudah tidak bertugas di Algonz (Paroki Aloysius Gonzaga, Jalan Satelit Surabaya, Red). Nanti akan saya bukukan lagi," kata romo yang suka menulis menjelang deadline itu.




YOSEF EKO BUDI SUSILO

Lahir: Karanganyar, Solo, 4 Juni 1961.
Alamat: Gereja Katedral, Jalan Polisi Istimewa Surabaya.
Pendidikan : Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang.
Ditahbiskan: 12 Juni 1990

Jabatan:
Pastor Paroki HKY Surabaya.
Komisi Kerasulan Awam, Keuskupan Surabaya.
Ketua Yayasan Lembaga Karya Dharma
Pemimpin Umum Media Keuskupan
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jatim
Pengurus Forum Lintas Agama
Pengurus Mekar Budaya Jatim

Pewawancara:
Lambertus Hurek, Sunardi Sutanto, Anita Surya, Karina Witantri, Umi Roschicoh, Agung Rahmadiansyah (foto).

18 December 2008

Kelenteng di Surabaya

Surabaya, seperti juga kota-kota besar lain di Indonesia, sejak ratusan tahun lalu didatangi komunitas Tionghoa. Tidak jelas tanggal persisnya. Namun, para sejarawan sepakat bahwa sejak Kerajaan Majapahit orang Tionghoa sudah masuk ke Surabaya.

Gelombang pertama kira-kira pada abad ke-14, orang Tionghoa beragama Islam. Pada 1450 Bon Swie Hoo mendirikan komunitas muslim di kawasan Ampel. Lantas, orang-orang Tionghoa ini datang secara begelombang hingga 1930-an. Mereka berasal dari empat suku: Hok Kian, Hakka (Khek), Teo Chiu, dan Kwong Fu (Kanton).

Orang-orang Tionghoa ini mendiami lokasi strategis. Lokasi yang sekarang disebut pecinan atawa China Town. Tentu saja, orang-orang Tionghoa ini membawa serta adat-istiadat, agama, serta kebudayaannya. Rumah ibadah Tionghoa--kita kenal dengan nama kelenteng (ada juga yang menulis "klenteng")--pun didirikan di Surabaya.

Berikut daftar kelenteng di Kota Surabaya. Kelenteng-kelenteng ini menjadi saksi kehadiran penduduk Tionghoa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Dus, sangat tidak tepat jika masih ada orang yang memberikan label "nonpribumi" untuk penduduk keturunan Tionghoa.

1. HOK AN KIONG, Jalan Coklat (dulu Tepekong Straat)



Kelenteng paling tua di Surabaya, didirikan pada 1830 oleh Hok Kian Kong Tik, perkumpulan orang Tionghoa asal Hok Kian. Mula-mula kelenteng ini tempat menginap sementara orang yang baru datang dari Tiongkok. Lama-kelamaan dirasa perlu ada kelenteng bagi mereka untuk beribadah.

Tukang-tukang didatangkan langsung dari Tiongkok, juga bahan-bahan bangunan. Saat ini HOK AN KIONG dikelola oleh Yayasan Sukhaloka. "Setiap hari selalu ramai orang sembahyang atau sekadar berkunjung. Yang penelitian pun banyak," kata M. Halim, penjaga kelenteng.

Ramal-meramal ala Tiongkok pun ada di sini. Sembahyang rutin setiap tanggal 1 dan 15 Imlek selalu ramai.

2. HONG TIK HIAN, Jalan Dukuh.



Disebut juga Kelenteng Dukuh karena berlokasi di Jalan Dukuh, tak jauh dari kampung Arab. Sebelum 1899 sudah ada. Tanggal pasti berdirinya tidak diketahui.

HONG TIK HIAN sangat terkenal karena mampu melestarikan tradisi wayang potehi. Setiap hari ada pergelaran wayang potehi empat kali sehari nonstop. Bahkan, selama Orde Baru--ketika tradisi budaya Tionghoa dibredel--wayang potehi tetap eksis.

Yang menarik, dalang-dalang potehi semuanya orang Jawa seperti Sukar Mudjiono [foto di atas] atau Eddy Sutrisno. "Kami main wayang potehi karena sejak kecil sudah main di lingkungan kelenteng," kata Mas Mudjiono.

Salah satu tokoh Tridharma, Ong Kok Kiong, yang mengelola HONG TIK HIAN.


3. BOEN BIO, Jalan Kapasan.



Dibangun 1906, diresmikan 1907. Mulanya bernama BOEN TJHIANG SOE berlokasi di Kapasan Dalam. Atas saran Kang Yu Wei yang datang ke Surabaya pada 1904, kelenteng khusus Konghuchu ini dipindahkan ke Jalan Kapasan.

BOEN BIO terkenal karena menjadi pusat perjuangan umat Konghuchu pada masa Orde Baru agar diakui sebagai agama resmi. Setelah Orde Baru tumbang, Konghuchu kembali diakui sebagai agama keenam.

Pada era revolusi, BOEN BIO juga menjadi tempat pengungsian penduduk. Konon, pernah ada bom yang dijatuhkan di dekat kelenteng, tapi tidak jadi meledak. Aktivitas BOEN BIO selalu padat sejak dulu. Mulai sekolah minggu, kebaktian Minggu (anak dan dewasa), akupunktur, hingga bakti sosial.

4. PAK KIK BIO, Jalan Jagalan.



Disebut juga Kelenteng Jagalan. Mulai dibangun pada 8 April 1951 dan diresmikan pada 17 Juni 1952. PAK KIK BIO didirikan sebagai perluasan bisnis warga Tionghoa di pecinan.

Tadinya tanah milik Gan Ban Kiem yang rumahnya terbakar. Gan menghibahkan tanahnya kepada Pak Kik Bio Hian Thian Siang Tee, yayasan Konghuchu, untuk mendirikan kelenteng. Seperti BOEN BIO, Kelenteng PAK KIK BIO juga selalu ramai setiap Ahad.

5. SAM POO TAY DJHIEN, Jalan Demak.



Orang Surabaya lebih mengenal kelenteng ini sebagai MBAH RATU. Tadinya di Prapatkurung, kemudian direlokasi ke Jalan Demak. Kelenteng ini menarik karena menyimpan kayu dari perahu Laksamana Sam Poo Tay Djhien (alias Cheng Hoo?).

Laksamana terkenal ini oleh orang Jawa dijuluki Mbah Ratu. Sinkretisme Tionghoa dan Kejawen sangat kental. Maka, jangan heran kalau banyak orang Jawa datang ke MBAH RATU untuk berdoa, khususnya pada malam Jumat Kliwon. Macam-macam saja ujud atau permintaan pengunjung.

Sering digelar wayang kulit (purwa) semalam suntuk. "Tapi sekarang ini sudah lama gak ada wayangan. Mungkin karena ekonomi sedang sulit," ujar salah satu penjaga MBAH RATU kepada saya.

Yang juga disukai dari MBAH RATU adalah ramalan alias ciam sie. Ada konter khusus di sebelah kiri. Pengunjung bisa minta karcis untuk "ditelaah" si dukun Tionghoa. Percaya atau tidak, terserah Anda!


6. SANGGAR AGUNG, Pantai Ria Kenjeran.



Menarik karena lokasinya di laut, kalau air pasang. Ada patung besar Dewi Kwan Im dan ukiran-ukiran Tionghoa yang bagus. Satu kompleks dengan Pantai Ria Kenjeran, objek wisata pantai Surabaya. Banyak sekali fasilitas pariwisata yang sangat menarik.

Mula-mula ada kelenteng di Kenjeran bernama KWAN IM BIO (kalau tak salah). Kemudian pengusaha Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, pemilik Pantai Ria dan Hotel Pasar Besar, mengembangkannya menjadi SANGGAR AGUNG.

Kelenteng ini sangat tekenal, selain lokasinya strategis, juga karena sering menggelar even-even besar. Beberapa kali ada pemecahan rekor nasional Muri (Museum Rekor Indonesia) di SANGGAR AGUNG. Pak Soetiadji juga melengkapi kompleks ini dengan membangun rupang Buddha Empat Muka.


7. HONG SAN KO TEE, Jalan Cokroaminoto.



Lokasinya di tengah kota, dekat Jalan Raya Darmo. Tadinya kelenteng kecil, tapi berkembang pesat karena banyak jemaat yang datang beribadah. Pengelola kelenteng, Juliani Pudjiastuti, juga bekerja keras mengurus HONG SAN KO TEE.

"Ngurus kelenteng itu gak gampang lho. Tapi ini amanah yang harus saya laksanakan," ujar Ibu Juliani kepada saya. Dia duduk di kursi roda, tapi semangatnya luar biasa.

Setelah reformasi, HONG SAN KO TEE padat aktivitas mulai pembagian bahan pokok, buka puasa bersama, pengobatan alternatif, hingga lelang benda suci. HONG SAN KO TEE sering masuk koran karena pengurusnya, khususnya Ibu Juliani, sangat dekat dan terbuka dengan wartawan.

Berbeda dengan orang Tionghoa yang cenderung tertutup, Bu Juli murah senyum dan mau menjawab pertanyaan kami. "Saya ingin agar HONG SAN KO TEE ini dekat dengan siapa saja. Kita ini sama-sama orang Indonesia kok," kata Bu Juli.


8. JUN CIN KIUNG, Jalan Ir. Anwari 9.



Saya baru saja bincang-bincang dengan Ibu Xiao Cao Ing alias Sartika, 71 tahun. Sejak 1985 dia menjaga JUN CIN KIUNG. "Usianya sudah setengah abad lebih," kata Ibu Sartika dengan logat Betawinya.

Tak jauh dari HONG SAN KO TEE, Kelenteng JUN CIN KIUNG ini lebih kecil, dan lebih sepi, ketimbang kelenteng-kelenteng lain di Surabaya. Ini karena JUN CIN KIUNG hampir tidak pernah bikin even-even besar. "Kami gak punya sponsor," kata Ibu Sartika.

Meski begitu, Ibu Sartika tetap setia merawat rumah ibadah Tionghoa ini. Menyiapkan buah-buahan, menyapu lantai, membersihkan segala sesuatunya, hingga menerima tamu. Setiap hari dia berdoa seorang diri pada pukul 04.00 dan 00.00.

"Itu jam berdoa yang paling baik. Kamu coba di rumahlah, kalau yakin, permintaan kita didengarkan sama Tuhan," pesan Bu Sartika yang menerima saya dengan ramah. Sie-sie! Kamsiah!

9. KELENTENG GUNUNG KAWI, Jalan Dinoyo.



SUGIANTO (32) dan ibunya tampak khusyuk melakukan ritual ala kejawen. Bau kemenyam sangat menyengat, di samping semerbak hoshua yang harum. Suasana di lantai dua yang temaram cocok bagi jemaat yang ingin mengasah spiritualitasnya.

"Saya sejak kecil sudah biasa ritual di sini," ujar Sugianto kepada saya. Dia mengaku tidak tahu persis usia kelenteng yang berlokasi di samping sungai ini. Namun, dia memastikan sudah lebih dari setengah abad.

"Setahu saya kelenteng ini sudah ada sejak ibu pemilik rumah ini masih kecil," papar alumnus Fakultas Universitas Ekonomi Universitas Kristen Petra tersebut. Sang ibu yang dimaksud berusia 80-an tahun. Sayang, saya tak bisa meminta keterangan dari dia karena usianya yang lanjut.

Seperti di kelenteng-kelenteng lain, Kelenteng Gunung Kawi--begitu nama populernya--diisi dengan beberapa altar. Ada rupang (patung) dewa-dewa Tionghoa seperti Dewa Kwan Kong atau Dewi Kwan Im. Bedanya, ada ruangan khusus untuk ritual kejawen. Ruangannya dibungkus dengan kain merah.

"Itu tempatnya Eyang Jugo. Beliau itu sangat dihormati baik oleh orang Tionghoa maupun Jawa. Ruangannya sengaja dipisahkan karena bagaimanapun juga aliran kejawen kan beda sama aliran Tionghoa," jelas Sugianto lalu tersenyum.

Menurut dia, ritual di ruangan Eyang Jugo itu pada prinsipnya sama dengan di Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Bahkan, pengurus kelenteng menyediakan alat-alat ritual bermerek Gunung Kawi.

"Sama dengan di Gunung Kawi, di sini biasanya ramai pada setiap malam Jumat Legi dan malam Jumat Kliwon. Yah, sesuai dengan kepercayaan tradisional Jawalah," tukas Sugianto.

10. KELENTENG SIDOTOPO
Jalan Sidotopo Wetan Baru I/33




Tidak banyak orang Surabaya, termasuk warga Tionghoa, yang tahu lokasinya. Maklum, jauh di dalam gang, kurang strategis. Didirikan 1969, kelenteng ini tergolong sepi jemaat. Saat saya datang ke sana, 30 Desember 2008, tidak ada aktivitas ritual. Aroma harum lilin Tionghoa alias hosyua pun tak terhidu.

Namun, Bapak Hendra Alim, pemilik kelenteng ini, aktif melayani pengobatan alternatif. Dia memang sinshe terkenal di kawasan Sidotopo. Kecuali akhir pekan dan hari libur, Pak Hendra bekerja sosial membantu sesama yang sakit.

"Maaf, saya tidak bisa melayani Anda karena pasien saya hari ini banyak banget. Kapan-kapan saja," kata Pak Hendra kepada saya. Memang ada 20-an pasien yang antre di ruang tunggu.

11. KELENTENG TAO
Jalan Dinoyo 19




Saya mampir ke kelenteng ini pada 6 Januari 2009. Nur Hidayat, 37 tahun, penjaga kelenteng selama 26 tahun, menyambut saya dengan ramah. Banyak material bangunan berserakan di tempat ibadah Tionghoa ini.

"Sedang direnovasi, Mas. Kebetulan ada sumbangan dana dari donatur yang peduli," kata Nur Hidayat.

Sepeninggal Lie Djong Ping, sinshe sekaligus ketua kelenteng, rumah ibadah ini sepi pengunjung. Dulu, ketika masih hidup, Pak Lie sangat aktif melayani masyarakat yang menginginkan kesembuhan dengan pengobatan ala Tiongkok.

"Tapi tanggal 1 dan 15 Imlek masih ada saja orang yang ke sini meskipun sangat sedikit," kata Nur Hidayat. Bersama istri, Sudarminingsih, serta tiga anaknya, Nur Hidayat yang muslim tetap setia merawat Kelenteng Dinoyo. Entah sampai kapan.

BACA JUGA
Kelenteng dan Tionghoa di Sidoarjo.

17 December 2008

Jazz Natal Diana Krall





Sangat lama saya tidak menulis jazz di blog ini. Yah, apa yang mau ditulis? Musik macam satu ini makin tenggelam di Indonesia. Industri musik semakin tidak memberi ruang pada jazz.

Regenerasi jazz, dikutip beberapa media, bagus, muncul sejumlah nama musisi muda, tapi menurut saya masih harus kerja keras sebelum benar-benar disebut pemusik jazz. Jazz itu perlu jiwa, soul. Harus merasuk, jadi napas kehidupan, si musisi.

Jazz di Indonesia stagnan. Jalan di tempat. Maka, saya selalu terkagum-kagum dengan usaha Ireng Maulana atau Peter F. Gontha yang masih rutin bikin festival jazz di Jakarta. Kabarnya, festival jazz selalu padat penonton dan punya greget.

Tapi, ketika kita lihat televisi, jazz benar-benar nihil. Sekarang setiap hari televisi-televisi kita hanya menanyangkan band-band industri pop yang lagi populer. Atau, yang belum populer, tapi didorong habis-habisan agar ngetop. Musik popnya seragam, sulit dibedakan satu sama lain. Tidak ada ruang untuk jazz.

Selasa 16 Desember 2008. Saya mampir ke Aquarius, toko kaset/CD terkenal, di Jalan dr Soetomo Surabaya. Mau lihat-lihat rekaman jazz, siapa tahu ada yang baru. Lama sekali saya tidak ke Aquarius. Wow, betapa mengejutkan, selama hampir satu jam hanya ada dua pengunjung: saya dan satu laki-laki 50-an tahun.

Padahal, dulu Aquarius ramai banget kayak pasar. Saya pun tersadar bahwa pola konsumsi musik saat ini sudah berbeda dengan beberapa bulan atau tahun lalu. Era digital murni. Orang dengar musik via ponsel. Tidak perlu beli kaset/CD, cukup mengunduh di internet atau saling berbagi via ponsel. Buat apa keluar uang untuk beli CD yang Rp 70 ribu atawa Rp 50 ribu itu?

"Aku minta lagu-lagu sama temen. Tiap hari aku dikirim 10 lagu," kata Vivin, 20 tahun, gadis Madiun yang maniak musik pop-rock. Tiap hari ponselnya disetel musik, musik, dan musik. Ponsel malah jarang dipakai untuk bicara atau kirim pesan pendek (SMS).

"Asyik banget, aku dah punya koleksi ratusan lagu. Baru-baru dan bagus-bagus lho," kata Vivin bangga. Ketika dikunjungi temannya, objek pembicaraan mereka ya tak jauh dari berbagi-bagi musik via ponsel.

Mungkin faktor ini yang menyebabkan Aquarius sepi. Toko-toko kaset/CD lain pun lengang. Saya bertambah kaget karena konter khusus jazz/blues tak ada lagi di Aquarius. Satu konter panjang itu kini dijadikan satu: Musik Indonesia. Semua jenis musik dicampur di rak itu.

Kaset/CD jazz benar-benar langka. Padahal, enam bulan lalu konter itu relatif komplet. Lumayanlah untuk melayani selera penggemar jazz/blues di Jawa Timur. "Kebetulan kami lagi bikin penataan baru," ujar si penjaga konter Aquarius.

Syukurlah, di konter itu saya masih menemukan album Natal Diana Krall. Judulnya CHRISTMAS SONGS featuring the Clayton/Hamilton Jazz Orchestra. Bergaun hijau, Diana duduk di kursi malas, melirik ke samping. Rambut pirangnya tergerai. Santai banget.

Rekaman ini produksi lama sebenarnya, 2005. Cuma saya memang belum punya. Paling sekali-sekali mendengar di komputer milik teman. Yang jelas, punya sendiri jauh lebih bagus ketimbang hanya menguping entah ke mana. Rekaman Natal Diana Krall ini rupanya tinggal satu. Kalau saya tidak cepat-cepat membeli, wah, lewatlah.

Ada 12 lagu Natal populer di album Diana Krall. "Dedicated to the memory of Adella Krall, Jean Marsh and Rosemary Clooney who taught me the joy of Christmas," tulis Diana Krall di sampul album.

Bagi orang Eropa atau Amerika, Natal memang selalu menjadi momen keluarga yang spesial. Di tengah lilitan salju yang dingin, Natal senantiasa dirayakan segenap anggota keluarga. Dan lagu-lagu Natal senantiasa dinyanyikan, setidaknya didengarkan, ramai-ramai. Natal bukan lagi urusan ibadat atau misa di gereja, tapi pesta keluarga.

Ini penting dipahami mengapa lagu-lagu Natal terkenal bukanlah lagu liturgi. Tapi cerita-cerita sederhana seputar salju, dongeng Santa Claus, keceriaan anak-anak main lonceng-lncengan alias jingle bells, pohon terang, malam tahun baru... dan semacamnya.

Nah, 12 lagu di album Diana Krall benar-benar murni lagu tentang suasana Natal keluarga di Barat sana, bukan lagu liturgi. Tak ada kutipan kitab suci, wejangan romo, atau doktrin gereja di sini.

Jingle Bells. Let It Snow. The Christmas Song. Winter Wonderland. I'll Be Home For Christmas. Christmas Time Is Here. Santa Claus Is Coming To Town. Have Yourself A Merry Little Christmas. White Christmas. What Are You Doing New Year's Eve. Sleigh Ride. Count Your Blessings Instead Of Sheep.

Saya yakin semua orang Indonesia, apalagi yang Kristen, tak asing dengan sebagian besar lagu ini. Tapi, yang membedakan, Diana Krall (vokal, piano) menyajikan dengan cara Diana Krall. Dengan iringan akustik, khas Diana, napas jazz sangat kental di sini.

Suara kontrabas yang tebal sangat ngejes. Instrumen tiup ciamik. Diana yang menyanyi tak kehilangan sentuhan pada piano. Orkestra jazz senantiasa mengingatkan kita pada musik jazz di era swing.

Di Indonesia musik macam ini pernah dihadirkan Indra Lesmana di album Rumah Ketujuh. Kapan ya bikin album kayak itu lagi Mas Indra? Jarang lho ada pemusik idealis macam Indra Lesmana yang masih mau-maunya merilis album yang berbeda dengan "selera pasar".

Diana Krall memang piawai membuai pendengar. Setelah dua nomor lincah, Jingle Bells dan Let It Snow, kita dibius dengan nomor yang sangat membuai The Christmas Song. Bas akustik menonjol, piano nan lebut, drum latar belakang. Diana Krall menyanyi dengan gayanya yang khas.

Ya, tidak sama dengan vokalis jazz kulit hitam, yang tebal, pakai scat singing, Diana Krall menyanyi dengan cara biasa. Macam orang berdendang di kamar atau kamar mandi.

Konser Natal SSO diganggu hujan

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek



Hujan deras, banjir di sana-sini, angin kencang, mewarnai konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di Hotel Shangri-La. Rupanya cuaca buruk ikut mempengaruhi konser orkestra pimpinan Solomon Tong itu. Jadwal konser yang biasanya tepat waktu sedikit bergeser.

"Pa Tong itu disiplin, selalu on time. Tapi kali ini kayaknya beliau menyadari cuaca kurang baik," ujar Eddy Pattinasarane kepada saya.

Pak Eddy, ketua Badan Musyawarah Antargereja, malam itu ikut menjadi salah satu penampil. Dia membawakan lagu O Holy Night (Adolphe Adam) berduet dengan Pauline Poegoeh. (Pak Eddy sempat keseleo, mau masuk sebelum waktunya.)

Beberapa penerima tamu tak bisa menjelaskan mengapa hingga menjelang pukul 19.00 pintu belum juga dibuka. "Kita tunggu instruksi dari Pak Tong. Siapa tahu sebentar lagi hujan berhenti," kata salah satu kenalan saya.

Yah, berbeda dengan konser-konser sebelumnya, antusiasme pengunjung terasa merosot. Biasanya, kursi-kursi undangan penuh sesak. Termasuk jajaran orang-orang penting alias VIP, di bagian tengah. Saya, biasanya, selalu tidak dapat tempat duduk, hanya berdiri selama konser berlangsung.

Pada konser Kemerdekaan, Agustus 2008, misalnya, saya sempat "diminta berdiri" karena menduduki kursi guru-guru dan pelajar sekolah negeri yang ikut mengisi acara. "Maaf, tempat itu sudah ada orangnya," ujar gadis penerima tamu.

Tapi, Senin malam kemarin banyak tempat duduk yang kosong. Saya pun bebas memilih duduk di mana saja. Saya pilih dekat para pemusik Tionghoa, Dung Fang Min Yue Tuan, di bagian paling kanan. Kebetulan saya sudah kenal beberapa pemusik dan pelatih seperti Lydia Lie, Welly Sunjaya, William, atau si cilik Pauline. Duduk dekat orang yang kita kenal memang lebih aman secara psikologi.

Hingga konser dimulai, ruangan belum juga penuh. Anggota senior paduan suara yang berada di dekat pintu masuk, tak jauh dari tempat duduk saya, tampak emosional. "Yo ope Rek, kok undangane kok koyok ngene? Endi sing liyane?" kata bapak berbadan subur itu.

Konser pun dimulai. Sementara perlahan-lahan undangan masuk secara bergelombang. Setiap satu komposisi selesai, pintu memang dibuka untuk memberi kesempatan penonton masuk dan keluar. Pemandangan macam ini terlihat sepanjang konser berlangsung.

Padahal, dulu, setahu saya Pak Tong dan panitia konser SSO sangat ketat. Siapa pun dia, kalau terlambat, ya, lewat. Toh, di dalam sudah penuh penonton. "Puji Tuhan, akhirnya sebagian besar kursi undangan terisi meskipun tidak maksimal," ujar seorang panitia penuh syukur.

Awalnya, saya sendiri khawatir, konser ke-57 SSO ini tidak sukses penonton. Itu bisa-bisa mengurangi kepercayaan diri Pak Tong karena selama ini dia mengklaim punya sedikitnya 4.000 komunitas penggemar SSO. Setiap kali konser sedikitnya seribu orang hadir.

"Kita tidak pernah khawatir kekurangan penonton karena kita punya kiat khusus," ujar Pak Tong kepada saya dan beberapa kawan beberapa hari sebelum konser.

Bagaimana konser itu sendiri? Masuknya penonton secara bergelombang jelas mempengaruhi suasana. Keheningan, konsentrasi, menikmati musik klasik sedikit banyak terganggu. Apalagi, masih banyak orang--khususnya anak-anak muda dan anak kecil--yang bicara sendiri. Ada juga anak balita yang menangis.

Syukurlah, para pemusik berusaha memberikan yang terbaik. Daniel Chandra, violinis 23 tahun, tampil menawan sebagai solis Fantasie Ballet Op. 10. Kemudian soprano Pauline Poegoeh, yang juga guru vokal klasik, memperlihatkan kematangan teknik olah vokalnya. Pauline pun rupanya ikut "menyelamatkan" lima muridnya--yang semuanya istri pengusaha--di nomor Amigos Para Siempre.

"Ini komposisi sulit untuk ukuran penyanyi amatir. Ibu-ibu bisa nyanyi kayak begitu sudah sangat bagus," kata salah satu pemusik orkestra Tionghoa kepada saya.

Pak Solomon Tong sendiri tetap semangat di usia 69 tahun. Gerakan tangannya tegas, aba-abanya jelas. Semangat Pak Tong ikut menular pada paduan suara. Meskipun berintikan personel senior, Surabaya Oratorio Society punya power bagus.

Hanya saja, kita tidak bisa menangkap syair-syair lagu dengan jelas. Apakah itu bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Mandarin... tidak terang. Saya kira, ini juga persoalan sound system kita yang memang masih sulit meng-cover paduan suara dan orkestra simfoni.

"Saya minta semua berdiri dan saya undang Anda ikut menyanyi," pinta Pak Tong menjelang akhir konser.

Yah, Hallelujah, petikan opera The Messijah, karya GF Handel. Komposisi koral favorit jemaat kristiani ini menjadi penutup Christmas Concert SSO 2008.

Acara dilanjutkan dengan pembagian karangan bunga untuk para pengisi konser. Ballroom Hotel Shangri-La sudah lengang. Hujan pun sudah lama reda.

15 December 2008

Suparto Brata begawan sastra Jawa



"Saya ingin bahagia selamanya. Jadi, saya tidak akan berhenti mengarang cerita."

Begitu kredo Suparto Brata, pria kelahiran Surabaya, 76 tahun silam. Di usia senja ini, Suparto tetap konsisten membaca dan menulis setiap hari.

Suparto Brata juga dikenal sebagai pengarang sastra Jawa yang sukar dicari tandingannya. Ini terbukti dari tiga Hadiah Rancage (2000, 2001, 2005) yang diraihnya, selain segepok penghargaan lain.

Berikut petikan percakapan wartawan Radar Surabaya dengan Suparto Brata di rumahnya, Rungkut Asri III/12, Jumat (12/12/2008).

Juru Tulis: LAMBERTUS L. HUREK

Apa saja kegiatan rutin Bapak setiap hari?

Jam 03.00 saya sudah duduk di depan komputer, mengetik, sampai jam 06.00. Kemudian saya jalan-jalan keliling perumahan ini selama setengah jam. Minum teh, sekadar sarapan, lantas baca buku. Kenapa begitu? Karena yang dibaca mesti ada dan yang ditulis juga mesti ada. Dulu saya selalu menyisihkan Rp 100 ribu per bulan untuk membeli buku-buku. Sekarang masih tetap beli buku, kadang-kadang dikasih teman-teman.

Usia Bapak sudah mendekati 80, tapi tetap produktif menulis.

Saya bersyukur diberi tiga hadiah istimewa oleh Allah. Pertama, saya masih sehat untuk melakukan pekerjaan saya sebagai pengarang. Kedua, saya diberi kesempatan untuk memilih karena saya sekarang bebas. Ketiga, saya masih diberi kesempatan memilih dan membaca buku-buku.

Bapak juga sering menekankan agar anak-anak sekolah dibiasakan membaca dan menulis buku. Ada alasan khusus?

Begini. Membaca dan menulis itu bukan kodrat manusia. Beda dengan melihat dan mendengar. Anak tiga tahun menonton televisi sudah mengerti artinya dan bisa menikmati. Tapi untuk menikmati buku, ya, harus belajar dulu.

Sama dengan mengendarai mobil atau main piano. Untuk bisa mengendarai mobil, cukup latihan beberapa minggu saja. Nah, untuk menggunakan dan menikmati buku dibutuhkan pembelajaran membaca dan menulis. Pelatihan terus-menerus, sehingga menjadi budaya.

Budaya membaca dan menulis itu yang belum ada di sini.

Orang Indonesia memang tidak punya budaya membaca buku. Kita bukan masyarakat pembaca. Di Belanda, misalnya, 100 persen orang dewasa punya budaya membaca dan menulis buku. Bahkan, bukan hanya dalam bahasa Belanda, tapi juga fasih berbicara dan menulis dalam bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Prancis, Jerman.

Lalu, bagaimana membangun budaya membaca itu?

Di sekolah. Sejak masuk SD hingga SMA, 12 tahun, sekolah-sekolah seharusnya melatih budaya membaca dan menulis. Ini yang tidak aa dalam sistem pendidikan kita. Ujian nasional (unas), meskipun bodoh, siswa bisa lulus karena bisa ditolong orang lain, misalnya cari bocoran soal.

Sistem ini mengajarkan anak-anak untuk tidak usah bisa membaca dan menulis. Coba kalau soal unas harus dengan menulis proses hingga hasilnya, maka kebocoran tidak mungkin terjadi. Tanpa membaca dan menulis buku, ya, sama dengan anak tiga tahun yang hanya bisa menonton televisi.

Total sudah berapa buku yang Bapak tulis?

(Suparto mengajak kami ke kamar kerjanya. Suparto membuka lemari yang penuh buku. Meja kerjanya pun penuh buku). Kurang lebih 130 buku. Karya pertama saya, Tak Ada Nasi Lain, ditulis tahun 1958. Tadinya tulisan saya selalu ditolak media massa. Saya tidak tahu kenapa. Tapi tahun 1958 itu saya justru terpilih sebagai juara pertama sayembara menulis cerita bersambung di majalah Panjebar Semangat (PS).

Waktu itu oplah PS mencapai 80 ribu eksemplar, jauh di atas media berbahasa Indonesia. Itu juga yang mendorong saya menulis cerita dalam bahasa Jawa karena bisa dibaca banyak orang. Apalagi, saya lebih senang menulis panjang ketimbang cerita-cerita pendek.

Apakah sebagian besar karya Bapak berbahasa Jawa?

Tidak juga. Yang bahasa Jawa sebetulnya hanya 40-an. Masih lebih banyak yang bahasa Indonesia. Bagi saya, menulis dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia sama saja. Yang pasti, saya menulis secara merdeka, bukan pesanan.

Saya ingin karya saya dibaca masyarakat. Buat apa laku, tapi cara pemasarannya tidak benar? (Suparto menceritakan sistem pemasaran salah satu pengarang yang memanfaatkan jalur birokrasi. Bisa kembali modal, tapi sebenarnya tidak dibaca banyak orang).

Dan tidak mudah menjual buku, apalagi bahasa Jawa, dalam kondisi sekarang?

Yah, harus berjuang. Jangan merengek dan menangisi nasib sastra Jawa. Itu dikatakan para pejuang sastra Jawa seperti Esmiet (alm) dan Suripan Sadi Hutomo (alm). Penerbitan buku sastra Jawa itu harus dimodali sendiri oleh pengarang atau simpatisan. Sayang, simpati dari instansi tidak ada. Sedangkan orang kaya hanya ingin kekayaannya bertambah, sedangkan penerbitan buku bahasa Jawa tidak menjanjikan keuntungannya.

Akhirnya, Bapak membiayai sendiri penerbitan buku bahasa Jawa?

Ya, saya biayai sendiri, saya terbitkan sendiri. Saya tidak mau jualan lewat wali kota atau gubernur. Buat apa? Modalnya kembali, tapi tidak sampai ke pembaca. Biasanya, buku dicetak 1.000 eksemplar. Kita yang tanggung 500 eksemplar, sisanya dari teman-teman penerbit.

Jadi, harus ada idealisme untuk melestarikan sastra dan bahasa Jawa?

Bahasa daerah akan lenyap dilindas globalisasi. Bahasa Jawa kalau hanya lisan saja akan cepat berubah, rusak, luntur, dan akhirnya lenyap. Karena itu, buku berbahasa Jawa harus ada. Bahasa Jawa harus ditulis dan ditulis lagi, diabadikan dalam buku, agar dibaca pada waktu sekarang dan yang akan datang. (*)

Tegiur Kho Ping Hoo

SUPARTO Brata tak keberatan disebut perajin sastra. Tak beda dengan pekerjaan yang ditekuni perajin ukiran kayu Jepara atau pemahat batu arca Muntilan. Karena itu, arek Surabaya ini bisa menulis apa saja, termasuk cerita silat.

Ketika cerita silat ala Kho Ping Hoo booming pada 1970-an dan 1980-an, Suparto mengirim naskah karyanya ke CV Gema, Solo, penerbit yang dikelola Kho Ping Hoo. Buku saku kaya Suparto yang diterbitkan Kho Ping Hoo antara lain Patriot-Patriot Kasmaran dan Lintang Panjer Sore.

"Saya dapat honor Rp 600 tiap naskah. Kho Ping Hoo juga minta saya menulis cerita silat dalam bahasa Indonesia. Dia berjanji menerbitkan dan mengedarkannya," cerita Suparto Brata seraya tersenyum.

Tergiur janji Kho Ping Hoo, setiap bulan dia mengirim dua naskah cerita silat ke Solo. Tebalnya 40 sampai 50 halaman ketik folio. Begitu naskah diterima, Kho Ping Hoo kirim honor Rp 600. Nominal cukup besar pada masa itu. "Sebagai gambaran, harga besar cuma Rp 30 per kilogram," kenangnya.

Sayang, kerja sama dengan raja cerita silat Indonesia itu tidak bisa bertahan lama. Pasalnya, Kho Ping Hoo tak kunjung menerbitkan naskah-naskah Suparto. "Saya nggak mau makan gaji buta. Maka, hubungan saya dengan Kho Ping Hoo beakhir," katanya.

Suparto kemudian sempat beralih profesi menjadi pedagang kapuk. Masuk kampung ke kampung mencari kapuk dalam jumlah besar, kemudian memasarkannya ke Bandung. "Saya pernah kirim kapuk tiga truk beriringan yang saya kawal sendiri ke Bandung," ungkap Suparto.

Usaha kapuk tak bertahan lama karena Suparto tidak tega meninggalkan anak-istri berlama-lama. (*)



SUPARTO BRATA

Lahir : Surabaya, 27 Februari 1932
Istri : Rara Ariyati (almarhumah)
Anak : Tatit Merapi Brata, Teratai Ayuningtyas, Neo Semeru Brata, Tenno Singgalang Brata.
Alamat: Rungkut Asri III/12 Surabaya.
Website : http://supartobrata.com

Pendidikan:
Sekolah Rakyat 4 Probolinggo
SMPN 2 Kepanjen, Surabaya
SMAK Sint Louis I Surabaya

Karir :
Pegawai Telegraf (1952-1960)
Pegawai PDN Djaja Bhakti (1960-1967)
Wartawan freelance (1968-1988)
Pegawai Pemkot Surabaya (1971-1988)
Pengarang merdeka (1988-sekarang)

Penghargaan:
Gubernur Sularso 1993
Hadiah Rancage 2000
Hadiah Rancage 2001
Hadiah Rancage 2005
Gubernur Imam Utomo 2002
The SEA Write Award 2007, Bangkok.

Pewawancara: Hurek, Sunardi, Anita, Karina, Umi Rosichah, Agung (fotografer).
Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 14 Desember 2008

Lagu Natal Koes Plus 1973



Menjelang Natal macam begini, kita perlu putar lagu-lagu Natal. Bak sayur tiada garam jika Desember tanpa melodi-melodi manis khas Natal. Sejak dulu memang ada semacam "kewajiban" untuk membeli kaset (sekarang CD/VCD/DVD) bertema Natal untuk memberi warna bagi hari besar kristiani ini.

Di Flores--Nusatenggara Timur umumnya--semua bemo atau angkutan umum berlomba-lomba memutar lagu Natal. Lagunya ya itu-itu saja: Malam Kudus, Hai Mari Berhimpun, O Bethlehem, Joy to the World, Jingle Bells, Hark! The Herald Angles Sing, Christmas Song, Bintang Cemerlang... Artisnya macam-macam dengan gaya yang juga macam-macam.

Hebat benar, setiap tahun diputar, tapi orang tak jua bosan. Ada penyanyi yang coba memperkenalkan lagu-lagu Natal versi baru. Tapi ya sulit laku karena lagu-lagu Natal lama sudah terlalu legendaris. Sulit dibayangkan lagu Malam Kudus disingkirkan dari misa malam Natal. Bisa geger tuh!

Saya sendiri pun kolektor kaset Natal yang setia. Tiap Desember selalu ada anggaran khusus untuk membeli kaset/CD Natal baru. Ada yang corak pop, jazz, klasik, paduan suara, karawitan jawa, hingga instrumentalia.

"Tahun ini beli yang macam apa ya?" batin saya.

Soalnya, hampir semua Natal dari artis-artis terkenal (Indonesia dan mancanegara) saya punya. Eh, ketika mampir di Toko Immanuel, Jalan Kombes Duryat, saya langsung terpikat dengan Koes Plus. Ini band pop legendaris Indonesia.

Sampul gelap, ada tulisan The Legend of Christmas KOES PLUS. Kaset lama, produksi 1973, ini diterbitkan PT Remaco Jakarta, salah satu pelopor bisnis musik di Indonesia. Lantas, diproduksi ulang oleh Yobel Record Jakarta. Tentu saja, saya langsung membeli kaset Natal ala Koes Plus tersebut.

Koes Plus (sebelumnya Koes Bersaudara) dinobatkan sebagai salah satu band IMMORTAL tanah air versi majalah Rolling Stone. Ada kebanggaan tersendiri bisa mengoleksi rekaman band besar macam Koes Plus.

Bagaimana kualitasnya? Yah... macam lagu-lagu pop Koes Plus lain lah. Enak didengar sambil menunggu datangnya malam kudus pada 25 Desember mendatang.

Ada 19 lagu di album ini.

SISI A

1. Halleluyah
2. Malam yang Sunyi
3. Hari Natal
4. Kasih Sayang
5. Penebus Telah Datang
6. Aku MilikMu
7. Penebus Dosa
8. Merayakan Natal Suci
9. Natal yang Abadi
10. Menuju ke Bethlehem

SISI B

1. Lahir Putra Maria
2. Bahagia Dunia
3. Dengarlah Malaikat Bernyanyi
4. Telah Lahir di Bumi
5. Semua Bergembira
6. Juru Selamat Dunia
7. Penebus Tiba
8. Malam Suci
9. Malam Kudus

Vokalis: Tony Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo.

14 December 2008

125 bahaya gula putih





Source: Lick the Sugar Habit by Nancy Appleton.

1. Sugar can suppress the immune system
2. Sugar upsets the mineral relationships in the body
3 Sugar can cause hyperactivity, anxiety, difficulty concentrating, and crankiness in children
4. Sugar can produce a significant rise in triglycerides
5. Sugar contributes to the reduction of defense against bacterial infection (infectious diseases)
6. Sugar causes a loss of tissue elasticity and function; the more sugar you eat the more elasticity and function you loose
7. Sugar reduces high density lipoproteins
8. Sugar leads to chromium deficiency
9. Sugar leads to cancer of the breast, ovaries, prostrate, and rectum
10. Sugar can increase fasting levels of glucose

11. Sugar causes copper deficiency
12. Sugar interferes with absorption of calcium and magnesium
13. Sugar can weaken eyesight
14. Sugar raises the level of neurotransmitters: dopamine. serotonin, and nor-epinephrine
15. Sugar can cause hypoglycemia
16. Sugar can produce an acidic digestive tract
17. Sugar can cause a rapid rise of adrenaline levels in children
18. Sugar malabsorption is frequent in patients with functional bowel disease
19. Sugar can cause premature aging
20. Sugar can lead to alcoholism

21. Sugar can cause tooth decay
22. Sugar contributes to obesity
23. High intake of sugar increases the risk of Crohn s disease and ulcerative colitis
24. Sugar can cause changes frequently found in a person with gastric or duodenal ulcers
25. Sugar can cause arthritis
26. Sugar can cause asthma
27. Sugar greatly assists the uncontrolled growth of Candida Albicans (yeast infections)
28. Sugar can cause gallstones
29. Sugar can cause heart disease
30. Sugar can cause appendicitis

31. Sugar can cause multiple sclerosis
32. Sugar can cause hemorrhoids
33. Sugar can cause varicose veins
34. Sugar can elevate glucose and insulin responses in oral contraceptive users
35. Sugar can lead to periodontal disease
36. Sugar can contribute to osteoporosis
37. Sugar contributes to saliva acidity
38. Sugar can cause a decrease in insulin sensitivity
39. Sugar can lower the amount of vitamin E in the blood
40. Sugar can decrease growth hormone

41. Sugar can increase cholesterol
42. Sugar can increase the systolic blood pressure
43. Sugar can cause drowsiness and decreased activity in children
44. High sugar intake increases advanced glycation end products (AGEs)(Sugar bound non enzymatically to protein)
45. Sugar can interfere with the absorption of protein
46. Sugar causes food allergies
47. Sugar can contribute to diabetes
48. Sugar can cause toxemia during pregnancy
49. Sugar can contribute to eczema in children
50. Sugar can cause cardiovascular disease

51. Sugar can impair the structure of DNA
52. Sugar can change the structure of protein
53. Sugar can make our skin age by changing the structure of collagen
54. Sugar can cause cataracts
55. Sugar can cause emphysema
56. Sugar can cause atherosclerosis
57. Sugar can promote an elevation of low density lipoproteins (LDL)
58. High sugar intake can impair the physiological homeostasis of many systems in the body
59. Sugar lowers the enzymes' ability to function
60. Sugar intake is higher in people with Parkinson’s disease

61. Sugar can cause a permanent altering of the way the proteins act in the body
62. Sugar can increase the size of the liver, by making the liver cells divide
63. Sugar can increase the amount of liver fat
64. Sugar can increase kidney size and produce pathological changes in the kidney
65. Sugar can damage the pancreas
66. Sugar can increase the body's fluid retention
67. Sugar is enemy # 1 of the bowel movement
68. Sugar can cause myopia (nearsightedness)
69. Sugar can compromise the lining of the capillaries
70. Sugar can make the tendons more brittle

71. Sugar can cause headaches, including migraine
72. Sugar plays a role in pancreatic cancer in women
73. Sugar can adversely affect school children's grades and cause learning disorders
74. Sugar can cause an increase in delta, alpha, and theta brain waves
75. Sugar can cause depression
76. Sugar increases the risk of gastric cancer
77. Sugar can cause dyspepsia (indigestion)
78. Sugar can increase your risk of getting gout
79. Sugar can increase the levels of glucose in an oral glucose tolerance test over the ingestion of complex carbohydrates
80. Sugar can increase the insulin responses in humans consuming high-sugar diets compared to low-sugar diets

81. Highly refined sugar diet reduces learning capacity
82. Sugar can cause less effective functioning of two blood proteins, albumin, and lipoproteins, which may reduce the body's ability to handle fat and cholesterol
83. Sugar can contribute to Alzheimer's disease
84. Sugar can cause platelet adhesiveness 85 Sugar can cause hormonal imbalance; some hormones become underactive and others become overactive
86. Sugar can lead to the formation of kidney stones
87. Sugar can lead the hypothalamus to become highly sensitive to a large variety of stimuli
89. Sugar can lead to dizziness
90. Diets high in sugar can cause free radicals and oxidative stress

91. High sucrose diets of subjects with peripheral vascular disease significantly increases platelet adhesion
92. High sugar diet can lead to biliary tract cancer
93. Sugar feeds cancer
94. High sugar consumption of pregnant adolescents is associated with a twofold increased risk for delivering a small-for-gestational-age (SGA) infant
95. High sugar consumption can lead to substantial decrease in gestation duration among adolescents
96. Sugar slows food's travel time through the gastrointestinal tract
97. Sugar increases the concentration of bile acids in stools and bacterial enzymes in the colon
98. Sugar increases estradiol (the most potent form of naturally occurring estrogen) in men
99. Sugar combines and destroys phosphatase, an enzyme, which makes the process of digestion more difficult
100. Sugar can be a risk factor of gallbladder cancer

101. Sugar is an addictive substance
102. Sugar can be intoxicating, similar to alcohol
103. Sugar can exacerbate PMS
104. Sugar given to premature babies can affect the amount of carbon dioxide they produce
105. Increase in sugar intake can increase emotional instability
106. The body changes sugar into 2 to 5 times more fat in the bloodstream than it does starch
107. The rapid absorption of sugar promotes excessive food Intake in obese subjects
108. Sugar can worsen the symptoms of children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
109. Sugar adversely affects urinary electrolyte composition
110. Sugar can slow down the ability of the adrenal glands to function

111. Sugar has the potential of inducing abnormal metabolic processes in a normal healthy individual and to promote chronic degenerative diseases
112. I.Vs (intravenous feedings) of sugar water can cut off oxygen to the brain
113. High sucrose intake could be an important risk factor in lung cancer
114. Sugar increases the risk of polio
115. High sugar intake can cause epileptic seizures
116. Sugar causes high blood pressure in obese people
117. In Intensive Care Units: Limiting sugar saves lives
118. Sugar may induce cell death
119. Sugar may impair the physiological homeostasis of many systems in living organisms
120 In juvenile rehabilitation camps, when children were put on a low sugar diet, there was a 44% drop in antisocial behavior

121. Sugar can cause gastric cancer
122. Sugar dehydrates newborns
123. Sugar can cause gum disease
124. Sugar increases the estradiol in young men
125. Sugar can cause low birth weight babies

11 December 2008

Andjar Any - Yen Ing Tawang Ana Lintang



Notasi Yen Ing Tawang Ana Lintang (Andjar Any). Langgam Jawa ini perlu diimprovisasi oleh penyanyi. Teks atau notasi hanya patokan saja.

Jagading kabudayan Jawa kelangan paraga sing mumpuni ing babagan kasusatran lan langgam Jawa. KRT Andjar Any Singanagara, 72, wis kapundhut dening Gusti Kang Akarya Jagad dhek 13 November 2008.

Ing Rumah Sakit PKU Muhammadyah Surakarta iku pengarang lagu-lagu Jawa kondang iku tinimbalan seda. "Aku rumangsa kelangan...," komentare Waljinah.

Penyanyi Walang Kekek iki kang kasil mumbul jenenge lumantar lagu "Yen In Tawang Ana Lintang" lan "Jangkrik Genggong" karyane swargi iku. "Nyidham Sari" mujudake karyane Pak Andjar--dinyanyikake Manthous--kang meh saben uwong apal lirike.

Langgam "Yen Ing Tawang Ana Lintang" ditulis dening Andjar Any nalika taun 1964. Manut sawijining panemu, dheweke wektu semana nganakake eksperimen kanthi nglarasake musik keroncong lan alat musik tradisional gamelan sing sateruse dikenal minangka langgam jawa.

Jenis musik langgam nduweni ciri wanci sing mirunggan amarga katambahan instrumen siter, kendang (sing kata-kata bisa digenteni nganggo modifikasi cello), saron, lan kawiwitan nganggo bawa minangka buka. Pungkasane 1970-an langgam mekar dadi musik campursari.

"Yen Ing Tawang" diripta dening Pak Andjar amarga dheweke lan garwane (Niek Priyatni) ngarep-arep duwe anak wadon. Apa sing digegadhang sabanjure kinabulan kaparingan momongan putra-putri nomer papat lan nomer lima Yuenda Maya Sari, 44, lan Ayusmara Chandra Sari, 41. Sadurunge wus kagungan putra kakung cacah telu, Andriyono Kilat Adhi, 49, Dewanto Bayu Adhi, 46.

Lagu-lagu karyane satemene sawijining cathetan mungguh lelakoning urip Andjar Any. Kejaba nulis lagu sing jenis alusen cakapane, dheweke uga nulis lagu sing isine kritik sosial kayata "Jangkrik Genggong". Malah minangka mantan wartawan, dheweke ora kari gawe lagu kanthi judhul "Wartawan dan Koran".

Jalaran saking akehe lagu-lagu karyane, udakara 1.400 judhul, dheweke cinathet ing Museum Rekor Indonesia (Muri) minangka komponis musik keroncong (langgam) sing paling produktif. Malah taun 1970-an dheweke uga gawe lagu anak-anak judhule "Sang Kodok" dinyanyikake dening Joan Tanamal.

Ora mungkin kuwi sing bisa diajeni dening pribadi Andjar Any, lumantar lagune dheweke uga nyebarake rasa toleransi. Umpamane lumantar lagu kasidah Jawa "Amin, Amin" sing ditembangake S. Bekti. Uga ngarang lagu-lagu kristiani (Natal) "Haleluya, Wengi Adi".

Lair ing Ponorogo 3 Maret 1936, cilikane digegulang dening tledhek jeneng Lasiah saka Purwantoro, Wonogiri. Lulus SMA 1956. Tau kuliah ong taun ing Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang. Andjar Any kalebu wong sing seneng ngudi kejawen.

Saka prakara mau, dheweke banjur pracaya lan gondhelan marang bab sing magepokan karo filsafat urip mistis-religius lan tata kramaning urip sing njunjung dhuwur moral lan drajate urip. Kabeh iku mau dadi talange sawenihing bab karo Gusti, sakabehing prakara sing asipat rohani, mistis, magis kanthi ngurmati marang leluhur lan kekuatan sing ora kasat mripat. Amarga kabeh iku mau, Andjar Any seneng lelaku, tirakat, lan jiarah ing paleremane para leluhur.

Ing jagad kasusastraan Jawa, Andjar Any kalebu pengarang sastra Jawa angkatan 1950-an bebarengan karo Esmiet, Susilomurti, Trim Sutejo, Muryalelana, Sudharma Kd, lsp. Dheweke nulis crita cekak, novel, lan guritan. Anggitane sing awujud buku crita detektif ing antarane "Geger Panaraga", "Sri Klana Sewandana", "Diburu Prawan Ayu", lan "Pecut Samandiman".

Taun 1970-an kejaba dadi pengarang sastra Jawa lan penulis lagu, Andjar Any uga kalebu tokoh sing ngembani mingguan Dharma Nyata berbarengan karo N. Sakdani Darmapamujo, Arswendo Atmowiloto, Nursahid Purnomo. Mula ya wus samesthine yen Andjar Any nampa penghargaan sastra Rancage 1998. Dheweke uga dadi kolumnis koran Pos Kita, Solo.

Uga nulis nganggo basa Indonesia, upamane Peristiwa Tujuh Hari, Bung Karno Siapa yang Punya, Menyingkap Serat Wedhatama, Raden Ngabehi Ronggowarsito Apa yang Terjadi? Buku sing disebut keri dhewe iku kalebu buku sing kawentar lan akeh dirujuk dening para sarjana sastra.

Pribadi binuka Andjar Any cinathet mulya ing sejarah kabudayan Jawa. "Pak Andjar Any iku bintang," komentare Ki Mantep Sudharsono.

Saiki, ing tawang wis ora ana lintang maneh! Selamat jalan Pak Andjar Any!

(Dhanu Priyo Prabowo, JAYA BAYA Minggu II Desember 2008)

09 December 2008

Orkes musik Tionghoa Surabaya

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek



Asyik juga melihat langsung latihan orkes musik Mandarin. Saya, meski sudah lama aktif mengikuti kegiatan masyarakat Tionghoa di Surabaya, baru kali ini beroleh kesempatan menyaksikan bagaimana proses latihan musik oriental itu.

Joko Haryono (Liang Jang Aoo), ketua Yayasan PH Nusantara, yang memungkinkan ini semua. Selama latihan--dua jam lebih--saya dan dua mahasiswa magang UPN Veteran (Rima Maduwati Putri dan Nur Aini Wahidah) bahkan selalu ditemani Pak Joko. Juga Ibu Linda Chandriani, direktur Little Sun, sekolah Tionghoa di samping Plaza Surabaya.

Minggu, 7 Desember 2008, siang itu saya melihat ada 14 pemain. Lima perempuan, sembilan laki-laki. Ada Pauline Soengkono, 8 tahun, sekolah di SD Ellyon kelas 3. William 10 tahun, sekolah di SD Cinta Kasih. Ada remaja, mahasiswa, dan pemusik senior.

"Dulu pemain kami sampai 30 orang. Tapi banyak yang mrotol karena kuliah di luar negeri, sibuk kerja, dan sebagainya," jelas Welly Sunjaya, pemusik senior, sekaligus instruktur.

"Beginilah kesulitan mengembangkan musik tradisional Tionghoa di Surabaya. Peminatnya masih sangat sedikit. Eh, setelah sudah bisa main, mentas beberapa kali, mereka kuliah dan sebagainya. Jadi, kita harus mulai mendidik pemain baru, dari nol," tambah Lydia Lie, juga pemusik senior plus pelatih.

Siang itu latihan berlangsung serius, tapi menyenangkan. Oriental Traditional Music Group Surabaya--nama resmi grup ini--mempersiapkan empat lagu untuk konser Natal bersama Surabaya Symphony Orchestra, 15 Desember 2008. Dua nomor Natal: Silent Night dan Jingle Bells. Kemudian dua nomor Mandarin: Gong Wu (kisah tentang pemanah) serta Xing Fu Nian (tahun bahagia).

Ke-14 pemain, termasuk si kecil Pauline, sudah menguasai instrumennya dengan baik. Hanya saja, beberapa pemain yang kurang pas intonasinya. Ini membuat Lydia harus bicara agak keras.

"Erlhu itu pegang suara dua, mi fa mi do... Makanya, jangan keras-keras. Suara utama yang harus menonjol," ujar Lydia saat latihan Silent Night alias Malam Kudus.

Perubahan suasana dari Malam Kudus yang agung, khidmat, ke Jingle Bells yang riang pun belum pas. Dan itu sangat disadari oleh Lydia, Welly, dan beberapa pemain senior. "Saya langsung betulkan begitu ada yang kedengaran nggak enak. Lebih baik dibetulkan sekarang daripada keterusan," tukas Mbak Lydia, pianis yang suka bicara ceplas-ceplos itu.

Si kecil Pauline, pemain simbal (da ba) tak luput dari koreksi. Pukulannya terlalu keras, bikin kaget. Harusnya dua bilah logam itu digeser. "Anak-anak kecil memang kita mulai dari latihan ritme, irama. Kalau sudah menguasai irama, yang lain-lain itu gampang," jelas Welly, pemusik asal Malang.

Setiap hari Minggu, Welly harus ke Surabaya untuk melatih anak-anak muda memainkan musik tradisional Tionghoa. Pemusik lain pun datang dari beberapa kota macam Purwokerto, Solo, Salatiga, dan Jakarta. Dirigennya Yudi Sutanto (Tan Yu Ming) asal Purwokerto.

Mereka rela ke Surabaya hanya karena CINTA musik dan budaya Tionghoa. Mereka tak ingin musik tradisional Tionghoa itu punah. "Kalau kita tidak lestarikan, siapa lagi yang bisa kita harap?" timpal Joko Haryono alias Liang Jang Aoo.

Pak Joko ini kebetulan semasa sekolah di Chung Chung--sekolah Tionghoa terkenal di Surabaya--sangat hobi musik. Setelah reformasi, dia bertekad menghidupkan kembali seni budaya Tionghoa yang dibredel selama tiga dekade oleh rezim Orde Baru.

"Kita benar-benar mulai dari nol. Semua alat musik terpaksa impor karena stok di dalam negeri sudah tidak ada. Dan minat anak-anak muda juga tidak ada. Bayangkan, 30 tahun lebih kesenian Tionghoa mati," kata Pak Joko.

Instrumentasi orkes Tionghoa ini cukup lengkap. Ada suling (sheng) yang suaranya eksotik. Ketika membawakan melodi pokok, suara sheng bisa menembus bunyi-bunyian lain. Suling ini ada tiga macam.

Kemudian Mbak Lydia pegang yang jin. Ini sejenis sitar 148 senar, dimainkan dengan cara dipukul. Suaranya berat. Kemudian yan jin (dua orang). Ku cen, sejenis harpa, yang disebut-sebut instrumen paling asli Tiongkok.

Instrumen gesek erlhu ada tiga macam: chong hu (alto), kao hu (sopran), pan hu (sopranino). Alat petik bernama liu jin. Muk yi alat pukul dan simbas (da ba) dimainkan Pauline. Ling instrumen nonmelodis yang dimainkan si kecil William. Tak ketinggalan gendang besar semacam timpani alias da gau.

Dengan instrumentasi yang komplet, sebenarnya orkes Tionghoa ini bisa memainkan lagu apa saja dengan baik. Tidak lagi terbatas pada nada-nada pentatonik yang selama ini dikenal. "Musik ini pada dasarnya universal dan saling terkait," kata Lydia Lie.

Jangan heran, sebagian besar pemain orkes ini sebelumnya sudah belajar musik klasik Barat, khususnya piano. Ketika pindah ke musik oriental, mereka sama sekali tidak kesulitan.

"Kita ingin agar musik Tionghoa juga dimainkan orang Jawa, Batak, Madura, Flores, dan sebagainya. Jangan hanya orang Tionghoa saja," harap Pak Joko.