29 November 2008

Joris Misa Lato mengentas PSK




Joris Misa Lato ibarat pahlawan untuk anak-anak yang dilacurkan. Lelaki kelahiran Ende, Nusa Tenggara Timur, itu merupakan salah seorang motor evakuasi pelacur di bawah umur dari sejumlah lokalisasi di Surabaya. Salah satu obsesinya, mengubah Lokalisasi Dupak Bangunsari menjadi kampung permukiman warga.

SUMBER: Jawa Pos, Minggu, 23 November 2008

Bagaimana Anda melihat Lokalisasi Dupak Bangunsari dibanding lokalisasi lain di Surabaya?

Dupak memang berbeda, terutama jika dibanding Dolly dan lokalisasi lain. Sejak dulu, masyarakat di tempat itu menyatu dengan kehidupan para PSK. Segala aktivitas kelam berbaur dengan kehidupan sosial.

Seperti apa imbasnya?

Imbas PSK memang ada yang negatif dan ada yang positif. Kalau yang positif ya dari sisi ekonomi. Mereka yang punya warung jadi ramai. Yang negatif, sudah pasti. Kami menemukan ada remaja yang ternyata mengidap penyakit menular seksual. Nah, karena itu, kami tidak hanya bergerak mendekati PSK, tapi juga memberi pemahaman kepada masyarakat umum.

Apa yang Anda lakukan kepada PSK?

Kami berdialog dan mengajak mereka berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat umum. Itu dimaksudkan agar mereka memiliki kesadaran kritis terhadap diri dan kehidupannya. Kalau mereka mau ke arah itu, pasti akan melakukan tindakan yang menurut mereka sendiri perlu. Jadi, peran kami tidak mengarahkan mereka untuk begini dan begitu. Kami hanya memberikan pemahaman.

Pemahaman seperti apa?

Kami sampaikan kepada mereka segala konsekuensi dari pilihan hidup menjadi PSK. Mereka yang ingin bertahan harus tahu konsekuensi yang bakal dihadapi. Baik dari segi kesehatan maupun pandangan sosial. Begitu juga yang keluar. Intinya, PSK haru siap menerima pilihan hidup mereka ke depan.

Apakah tidak merasa kesulitan saat masuk ke komunitas PSK?

Memang, sangat sulit mendatangi mereka dan mengajak mereka dalam sebuah kegiatan. Mereka kan kebanyakan tidak mau hidupnya diatur-atur. Kami biasanya masuk dengan memanfaatkan isu HIV/AIDS. Jadi, acaranya soal penyuluhan HIV/AIDS, tapi isinya lain.

Bagaimana dengan masyarakat sekitar lokalisasi?

Beberapa warga memang rentan terpengaruh. Kalau mereka terkena penyakit menular seksual, imbasnya nanti pada anak-anak yang dilahirkan istri mereka. Sebab, bila tertular dari suami, penyakit tersebut akan memengaruhi kesehatan rahim.

Upaya yang dilakukan untuk warga?

Kami lebih fokus kepada pemuda. Apalagi, remaja di sini rentan masuk ke dalam kehidupan PSK. Indikasinya jelas. Kami menemukan beberapa pemuda yang terkena infeksi menular seksual. Bukan hanya itu, lingkungan di sini yang kurang ideal bisa membuat mereka terjerumus ke obat-obatan, miras, dan sebagainya.

Karena itulah, kami membangun posko hotline yang bisa digunakan para pemuda untuk berkumpul. Mau apa saja terserah. Mau membaca buku, mau main musik, bisa. Pokoknya, mereka lakukan apa saja, silakan. Daripada mereka bermain di luar yang rawan penyakit sosial.

Cukup tempat berkumpul saja?

Mereka juga kami rangsang untuk membuat kelompok atau komunitas pemuda. Mereka sendiri yang tahu kebutuhannya apa dan mereka yang menjalankan.

Komunitas apa saja itu?

Ada dua. Yaitu, Barsa, singkatan dari Barisan Remaja Bangunsari dan Keong.com, yaitu Kremil Young Community. Kegiatan mereka macam-macam. Ada pentas teater, aksi damai. Lewat teater itu, mereka banyak menyampaikan pesan kepada rekan-rekannya agar bisa menjaga diri. Selain itu, mereka bisa berperan mendidik warga lain melalui kegiatan-kegiatannya. Apalagi, mereka warga asli sini. Jadi, mereka pasti lebih memahami apa yang sesuai dengan masyarakat setempat.

Apakah upaya tersebut berhasil?

Ada seorang anak yang dilacurkan di sini dulu. Dia di sini sejak usia 15 tahun. Saat tiba di sini, dia menjadi primadona. Setiap hari melayani lebih dari sepuluh pelanggan. Bahkan, penghasilannya bisa mencapai Rp 500 ribu per hari biasa.

Kami lantas mendekati dia dan mengajak beraktivitas di Posko Hotline Dupak Bangunsari Gang VIII Nomor 15. Awalnya dia menolak. Namun, lama-kelamaan dia malah aktif ikut meramaikan posko.

Apakah tidak ada hambatan dalam pendekatan tersebut?

Jelas ada. Awalnya, saya mengajak dia berbincang secara rutin. Setelah lama saya dekati, saya kira kami sudah cukup dekat. Lantas saya tanya berapa uang yang sekarang sudah dia kumpulkan. Dia bilang Rp 27 juta dan ingin beli rumah. Saya tawari dia rumah di Gresik seharga Rp 21 juta. Dia langsung marah dan menyebut saya bajingan. Dia kira saya hendak menipu dengan menawarkan rumah tersebut.

Namun, kami terus berusaha mendekat. Kami tanamkan kepercayaan kepada dia bahwa kami tidak ingin mencelakakannya. Dia merelakan penghasilannya dan malah kini menjadi leader dalam menangani persoalan trafficking serta upaya pencegahan penyakit infeksi menular seksual.

Anda sudah melakukan beberapa evakuasi terhadap anak-anak yang dilacurkan dari beberapa lokalisasi. Di mana saja itu?

Dupak Bangunsari pernah, di Merauke, Batam, dan Malaysia.

Bagaimana Anda mengetahui ada anak yang dilacurkan di lokalisasi tersebut?

Di Merauke, misalnya. Dari jaringan informasi yang kami miliki, ada informasi seorang anak di bawah umur dilacurkan di sebuah rumah bordil. Kami lantas memburu kejelasan informasi di sana.

Ternyata, anak tersebut berasal dari Pasuruan. Usianya 15 tahun. Saat itu, ada seseorang yang menawari pekerjaan di Merauke. Katanya kerja di restoran. Gajinya bisa sampai Rp 2 juta per bulan. Dia mau saja. Ternyata, di sana dia dijual ke tempat pelacuran. Kami langsung bergerak mengevakuasi.

Bagaimana proses evakuasi yang dilakukan?

Dengan bantuan Yayasan Pemberdayaan Perempuan (YPP), kami menjemput dia bersama orang tuanya. Kami juga mempersiapkan berkas-berkas untuk menuntut calo yang menjual dia di rumah bordil tersebut. Bukti-bukti kami kuat. Calo tersebut akhirnya divonis lima tahun penjara dan diharuskan membayar denda Rp 150 juta. Mungkin itu adalah kasus hukum pertama yang mengadili tersangka trafficking.

Di tempat lain?

Kami pernah mendapat informasi dari sebuah lokalisasi di Batam tentang adanya empat anak dari Jatim yang dilacurkan di sebuah lokalisasi di sana. Anak-anak itu berasal dari sebuah desa di Madura. Jaringan di Batam tidak menyebutkan desa mana tepatnya. Nama anak-anak itu pun tidak akurat. Sebab, mereka di sana kan ganti-ganti nama.

Saya nekat pergi ke Madura. Di sana, saya mendapat informasi adanya desa yang anak-anaknya banyak keluar kampung untuk bekerja. Mencari nama orang tuanya di desa itu pun tidak mudah. Saya tidak mungkin mengatakan kepada mereka siapa yang anaknya menjadi korban trafficking. Terpaksa, saya harus menyamar menjadi calo atau trafficker. Ternyata malah ketemu.

Sebelum menjemput anak tersebut, saya persiapkan lingkungan dia di desa asalnya. Saya kondisikan masyarakatnya dengan bantuan tokoh setempat. Setelah itu, bersama orang tua dan dua anggota dewan, saya menjemput mereka di Batam.

Tidak ada kesulitan menjemput mereka?

Saya memang sempat khawatir proses evakuasi akan sulit. Sebab, untuk keluar dari lokalisasi, pasti sulit karena penjagaan preman. Setelah sampai di sana, ternyata para penjaganya orang keriting-keriting (masyarakat Indonesia Timur, Red). Saya langsung masuk dan tidak ada yang berani mencegah. Mereka malah sungkan.

Apakah banyak PSK yang akhirnya keluar dari lokalisasi?

Di Dupak Bangunsari sudah sangat banyak. Entah jumlahnya sampai berapa, saya tidak menghitung. Kami sempat mengalami booming PSK keluar. Sekitar 2001 sampai 2003 lah. Tapi, itu bukan berarti mereka keluar dari lokalisasi karena upaya kami. Mereka bisa keluar itu karena mereka mau bekerja sama dengan kami. Sebisa mungkin mereka keluar karena ada kemauan dari diri sendiri. (aga/fat)

Tentang Joris Misa Lato

Lahir: Ende, Nusa Tenggara Timur, 19 Maret 1966

Riwayat Pendidikan

- SDK Puu Kou 1973-1980
- SMPK Inemete 1980-1983
- SMAN Ende 1983-1986
- Universitas Merdeka Malang 1986-1991

Jabatan

- Staf Lapangan Hotline Surabaya 1991-2000
- Koordinator Program Hotline Surabaya 2000 sampai sekarang

27 November 2008

Tantowi Yahya - Pigi Jo Deng Dia




Tiga tahun lebih saya tidak sempat melihat langsung konser Tantowi Yahya secara langsung. Padahal, saya mengoleksi beberapa album penyanyi country yang awalnya merintis karier sebagai presenter Gita Remaja di TVRI pada 1990-an ini.

Tantowi berhasil "mengawetkan" lagu-lagu lama, juga lagu-lagu Indonesia Timur, dalam corak country. Karena itu, Bang Tantowi punya tempat khusus di hati kami, orang-orang Indonesia Timur. Termasuk yang sekarang tinggal di luar negeri.

"Saya di Belanda tiap hari musti putar itu Tantowi Yahya pe kaset/CD. Dia pe suara merdu," puji Pak Ang, bapak Indo-Manado yang saya temui di Surabaya bulan lalu.

Coba anda datang ke kafe atau pub di Surabaya, yang banyak dikunjungi orang Maluku, Manado, Papua, Timor... pasti lagu-lagu hit Tantowi muncul. Biasanya, lagu itu sudah dibawakan penyanyi daerah, kemudian dihitkan lagi oleh si Tantowi.

Saya sendiri hafal Balada Pelaut dan Pigi Jong Deng Dia (lagu Manado) berkat album Bang Tantowi. Blog ini pun beroleh banyak klik, ya, gara-gara ada lirik Balada Pelaut. "Siapa bilang pelaut mata keranjang...." Hehehe....

Rabu malam, 26 November 2008, Tantowi Yahya mangung di ITC Surabaya. Acaranya Paguyuban Tunanetra Santo Paulus Surabaya. Pak dr Kusuma, Bu Swandayani Djojo, Bu Lely, dan kawan-kawan bikin malam dana (charity night) untuk anak-anak para tunanetra.

"Kita mau kasih beasiswa untuk anak-anak yang orang tuanya tunanetra. Orang tua mereka tidak bisa kerja optimal, karena kekurangan fisik, sementara anak-anak itu kan harus sekolah. Ya, kita coba bantu," tutur Bu Swandayani mengenai paguyuban yang berulang tahun kelima itu.

Sebelumnya, Bu Swan dan kawan-kawan dari Paroki Gembala Yang Baik Surabaya, 11 tahun lalu, mengadakan persekutuan doa untuk jemaat tunanetra. Pesertanya banyak, dari berbagai daerah. "Gak cuma Katolik thok," sebut Bu Swan.

Setelah persekutuan ini jalan beberapa tahun, pada 2003 diresmikan Paguyuban Tunanetra Surabaya. Mereka cari dana dengan macam-macam cara. Salah satunya, ya, dengan mendatangkan Tantowi Yahya bersama The Old Friends serta komunitas penggemar country. "Tolong doakan, ya, semoga sukses," pinta Bu Swan yang ramah ini.

Kembali ke musik country Indonesia ala Tantowi Yahya. Didukung Maestro, perusahaan penyedia sound system terkemuka di Surabaya, sajian Tantowi dan kawan-kawan lamanya memang enak dinikmati. Hanya saja, malam itu suara Bang Tantowi kurang prima karena serak.

Entah flu atau terlalu banyak teriak. Jangan-jangan terlalu banyak kampanye pencalonannya sebagai anggota parlemen dari Partai Golkar. Hehehe... Untungnya, orang Jawa itu suka pakai kata ini, UNTUNG, Tantowi Yahya tetap semangat, ramah, hangat, menghibur para undangan.

Lagu-lagu nostalgia Barat dan dalam negeri. Mulai Patah Hati (Rahmat Kartolo), Andaikan (Harry Noerdi), Doa dan Restumu, Rek Ayo Rek, Tennese Waltz, Missisipi, Sioh Mama, hingga lagu gospel. Mungkin, karena sering ditanggap oleh pihak gereja, Tantowi Yahya akhir-akhir ini hafal beberapa lagu rohani. Biar lebih dekat dengan pengundang to!

Saya senang dengan lagu Manado yang di-country-kan oleh Tantowi Yahya. Macam Balada Pelaut, Pigi Jo Deng Dia, Nyanda Mo Balaeng. Maka, malam itu saya ikut bersuara dari belakang ketika Tantowi Yahya mengajak hadirin ramai-ramai menyanyikan lagu Manado.

"Pigi jo deng dia. Pigi jo deng dia. Pigi jo sayang!"

"Karakter lagu-lagu Manado sangat dekat dengan karakter musik country. Ia mengedepankan kesderhanaan dan kejujuran. Tanpa banyak bumbu-bumbu, lagu-lagu Sulawesi Utara adalah country," begitu pengakuan Tantowi Yahya.

Okelah, Bang Tantowi, mari kita nyanyi sama-sama Papa, Mama, Om, Tante, Oma, Opa.

PIGI JO DENG DIA
By Ricky Pangkerego

Siapa yang nyanda mo sakit hati
Waktu trima tu undangan merah
Undangan for ngana kaweng
Kaweng dengan dia

Kiapa dang dulu ndak pernah bilang
Kalo kita dorang nyanda kase
Skarang ini so jadi bagini
Kita mo bilang apa

REFREIN

Adoh... kasiang
Sampe hati ngana sayang
Se ancor-ancor bagini kita pe hati

Adoh... kasiang
Nyanda sanggup lagi sayang
Pigi jo deng dia
Pigi jo deng dia
Pigi jo sayang


NYANDA MO BALAENG
By Demas Ohi

Lantaran ngana
Cuma dengar orang bacirita
Dorang nyanda kase, nyanda suka
Toang dua baku sayang

Biar bagini kita pe hati
Nyanda mo balaeng
Karna kita sayang, kita cinta
Cuma pa ngana

REFREIN

Jangan sayang lantaran itu
Torang dua mo bapisah
Inga kasiang pa kita
Jangan sampe bajalan sandiri
Biar jo torang dua
baku sayang, sampe dorang sadar sandiri.

PULANG JO
By Ricky Pangkerego

Makan batatas ubi kayu
Rubus di balanga
Colo dabu-dabu kapala ikan
Ikan roa

No napa sakarang hidup sandiri
di negri orang
so setenga mati cari makan
sandiri...

REFREIN

Pulang jo... pulang jo
So nyanda guna mo batahan
di perantauan

Pulang jo... pulang jo
Biar busu-busu itu kampung
sandiri...


BALADA PELAUT
By Ferry Pangalila

Sapa bilang pelaut mata keranjang
Kapal bastom lapas tali lapas cinta
Sapa bilang pelaut pamba tunangan
Jangan percaya mulut rica-rica

So balayar sampe so ka ujung dunya
Banya doi baroyal abis parcuma
Dorang bilang pelaut obral cinta
Dompet so kosong baru inga rumah

REFREIN

Mana jo ngana pe sumpa
Mana jo ngana pe cinta
So samua kita pe punya
Ngana so minta..

Kita bale ngana so laeng
Kita bale ngana so kaweng
Cikar kanan, vaya condios
Cari laeng

Sidharta Adhimulya alias Poo Tjian Sie



Sibuk berbisnis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di Jawa Timur. Sejak reformasi 1998, sudah puluhan organisasi yang diikuti Sidharta Adhimulya alias Poo Tjian Sie. Saat ini dia getol mengurus Kampoeng Ilmu, paguyuban pedagang buku dan majalah bekas di kawasan Jalan Semarang, Surabaya.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Bagaimana ceritanya Anda mengajak Hermawan Kartajaya merayakan ulang tahun ke-61 di Kampoeng Ilmu?

Awalnya, pada 26 September ada peringatan 59 tahun hubungan Indonesia-Tiongkok di Hotel Shangri-La. Di sela-sela acara saya sampaikan pada Hermawan tentang Kampoeng Ilmu. Dia tertarik dan malam itu juga kami ke sana. Pak Hermawan melihat bahwa Kampoeng Ilmu itu salah satu denyut nadi perekonomian di Surabaya.

Krisis global yang berimbah pada PHK ibarat rumput kering yang rawan terbakar. Kemudian pilkada, pemilu legislatif, dan pilpres membuat dana tersodot ke sana. Nah, kita di Surabaya perlu menciptakan sumur di mana wong cilik bisa mengembangkan diri. Pak Hermawan sangat antusias dengan Kampoeng Ilmu.

Kemudian, ulang tahun Hermawan Kartajaya diadakan di sana?

Itu wujud dukungan beliau pada Kampoeng Ilmu. Menurut dia, sekarang ini yang berlaku adalah new wave marketing. Kalau masa lalu marketing itu bersifat legacy atau vertikal. Dan itu pelan-pelan kita kembangkan di Kampoeng Ilmu.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda dan sejumlah warga Tionghoa terlibat aktif mengembangkan Kampoeng Ilmu?

Begini. Para PKL di Jalan Semarang, khususnya yang dekat Stasiun Pasar Turi, itu digusur oleh pemkot beberapa waktu lalu. Kebetulan ada teman kami, Hendy Prayogo, ternyata pelanggan buku-buku bekas di sana. Dari situ kami tergerak untuk ikut membantu agar pusat ilmu atau intelektualitas di Surabaya itu jangan sampai hilang. Teman-teman pengusaha Tionghoa bantu listrik, terpal, dan sebagainya. Kita tidak bisa jalan sendiri, tapi juga melibatkan teman-teman Dewan Kota, Dewan Pendidikan, aktivis dari berbagai organisasi.

Kampoeng Ilmu itu mau difokuskan ke mana?

Pak Hermawan Kartajaya sudah bilang positioning-nya jelas, yaitu ilmu dan pengetahuan. Itu tidak bisa dihilangkan meskipun Kampoeng Ilmu bakal dikembangkan lebih lanjut. Pemkot sendiri sudah menyatakan Kampoeng Ilmu akan dijadikan ikon wisata pendidikan. Dan itu, mudah-mudahan, bisa terwujud tahun depan.

Apa sudah ada dana pengembangan Kampoeng Ilmu?

Saya dengar di PAK (perubahan anggaran keuangan) ada alokasi dana Rp 2,5 miliar untuk tiga tempat. Yakni, pusat burung, pusat ikan, serta pusat buku dan majalah. Pusat buku dan majalah atau Kampoeng Ilmu ini kebagian dana paling besar.

Kehebatan Kampoeng Ilmu ini dia punya koleksi buku dan majalah bekas paling lengkap di Jawa Timur. Konsumennya dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Koleksi buku-buku yang tidak ada di tempat lain bisa ditemukan di sana. Para pedagang, saat ini ada 84 orang, sudah punya mekanisme internal seperti tukar tambah, barter, yang memungkinkan masyarakat mendapatkan buku-buku atau majalah yang diinginkan.

Selain pusat buku bekas, apa lagi yang akan dinikmati di Kampoeng Ilmu?

Yang jelas, dia akan menjadi ajang interaksi seni budaya dan pendidikan di Surabaya. Wi-Fi pasti masuk. Saya juga sudah usul agar ada pusat dolanan anak-anak. Kita ingin memunculkan berbagai hal yang berbau Surabaya. Dialek Surabaya kita lestarikan di sana.

Mengapa harus dolanan anak-anak?

Sebab, mainan modern seperti play station, internet, membuat orang semakin individualistis. Padahal, kita punya banyak sekali permainan tradisional yang sangat edukatif, melatih kerja sama, dan solidaritas antarsesama. Saya harapkan nanti minimal dua bulan sekali ada lomba. Misalnya, lomba main kelereng para eksekutif, agamawan, mahasiswa, wartawan.

Soal lain. Bagaimana ceritanya Anda dikenal sebagai 'juru bicara' para konglomerat Tionghoa di Jatim?

Saya pernah menjadi ketua harian Yayasan Bakti Persatuan selama 1,5 tahun. Yayasan ini dibentuk para pengusaha keturunan Tionghoa untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat yang membutuhkan. Tujuan utamanya, ya, menciptakan hubungan yang harmonis antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa. Saya juga pernah jadi sekretarisnya Pak Bambang Sujanto, tokoh PITI Jatim. Jadi, wajar saja kalau saya dianggap sebagai juru bicara para pengusaha Tionghoa.

Tapi di Yayasan Bakti Persatuan, saya itu ibarat air di bendungan raksasa. Sementara saya ini lebih suka menjadi air hujan. Air hujan itu bisa membasahi tanah yang kering, sawah, dan sebagainya. Ada risikonya tentu saja. Menjadi air hujan berarti siap menangung risiko dianggap orang yang kontroversial. Tapi, bagi saya, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. (*)


Energi Berlebih, Awet Membujang

MESKI usianya mendekati kepala lima, Sidharta Adhimulya masih awet membujang. Pria 47 tahun ini bahkan sangat menikmati statusnya single-nya. Sebab, dengan begitu dia bisa tetap menyalurkan hobi sejak remaja, yakni aktif di berbagai kegiatan sosial.


"Kalau saya punya istri, anak, belum tentu saya bisa terlibat dalam berbagai kegiatan seperti sekarang. Dibilang bujang lapuk, ya nggak apa-apa," ujar Sidharta Adhimulya lantas tertawa kecil.

Bakat sebagai aktivis mulai dirasakan Sidharta ketika sekolah di SMAK Sint Louis I Surabaya pada 1970-an. Dia selalu dipercaya sebagai ketua kelas di jurusan paspal (ilmu pasti dan alam). Karena bosan, Sidharta ingin diganti oleh temannya. "Tapi di kelas tiga saya terpilih lagi," kenangnya.

Dia kemudian melakukan diplomasi agar jabatan ketua kelas disandang orang lain. Maka, Sidharta menunjuk anak orang kaya yang terkenal paling nakal di kelasnya. "Kalau ada apa-apa, saya akan tanggung jawab," papar Sidharta bersemangat.

Pola macam ini pun dilakukan Sidharta Adhimulya dalam mengembangkan berbagai organisasi sosial budaya di Surabaya dan Jatim umumnya. Ketika organisasi sudah berkembang, dia segera memberikan tanggung jawab kepada orang lain yang punya potensi.

Sidharta sendiri mencari tantangan baru, dengan merintis atau aktif di kegiatan yang lain. Alasannya, "Saya harus menyalurkan energi saya berlebih di tempat yang tepat," tegasnya.

Satu prinsip yang dipegang teguh penggemar musik ini adalah ikhlas memberikan kepercayaan kepada orang lain. "Orang sebaiknya mundur ketika telah mencapai puncak prestasi," ujarnya.


SIDHARTA ADHIMULYA

Nama asli : Poo Tjian Sie
Lahir : Surabaya, 2 Maret 1961
Alamat : Nirwana Eksekutif Surabaya

Pendidikan :
SMAK Sint Louis I (lulus 1981)
Universitas Narotama (lulus 1986)
Pekerjaan : Kacab PT Duta Permai Wijaya

ORGANISASI
Forum Komunikasi Tionghoa Simpul Jatim
Sinergi untuk Multikultural dan Multipluralis
Forum Lintas Agama Jatim
Komunitas Tionghoa Peduli Demokrasi dan HAM
Jaringan Intelektual Tao Liberal Indonesia

25 November 2008

Siksik Sibatumanikkam, rap ala Batak




Tadi siang, saya mendengar siulan Pak Bambang, pelukis senior di Sidoarjo. Aha, lagu Batak yang tak asing lagi di telinga saya. Siksik Sibatumanikkam. Pak Bambang mengaku suka dengan lagu pendek dan sederhana itu.

Siksik sibatu manikkam
di parjoget sorma di gotam
dinama ngingani
sigambang karjula-jula
sigambang karjula-jula


"Lagu-lagu daerah Batak itu enak-enak. Hidup, dinamis. Cocok untuk mengiringi tarian," kata bekas wartawan itu.

Para aktivis paduan suara, khususnya paduan suara mahasiswa, sedikit banyak tentu pernah menjajal lagu Batak. Paling tidak untuk lomba vocal grup di kampusnya. Biasanya, panitia menjadikan lagu daerah sebagai lagu pilihan atau lagu wajib. Dan salah satu pilihan, ya, si Batumanikam ini.

Apa sebenarnya arti syair Siksik Sibatumanikkam? Pada 1990-an saya menanyakan ini kepada teman saya, Ferdy Sihotang, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember. "Saya sendiri tidak tahu. Kayaknya nggak ada artinya. Hanya sekadar lagu," kata Ferdy yang asli Batak itu.

Saya baru puas setelah membaca tulisan Bapak Nortier Simanungkalit. Dia "bapak paduan suara Indonesia", salah satu komponis lagu-lagu Batak paling berpengaruh di Indonesia. Pria kelahiran Tarutung 17 Desember 1929 ini raja himne, pencipta ratusan himne yang sering dinyanyikan anak-anak sekolah di tanah air. Juga perintis paduan suara mahasiswa di Indonesia.

Pak Kalit (N. Simanungkalit) bilang syair Siksik Sibatumanikkam itu "tidak begitu berarti". "Iramanya berulang-ulang menimbulkan kesan lucu. Lagu rap ini bisa didahului atau pun diakhiri dengan lagu padanan atau lagu rakyat jenaka Batak lainnya," tulis Simanungkalit.

Menurut Pak Kalit, sebelum kita mengenal musik rap dari Amerika Serikat yang baru muncul pada akhir 1970-an, sebenarnya orang Batak sudah kenal musik macam itu sejak permulaan abad ke-20. "Jadi, kalau mau jujur, musik rap itu berasal dari Batak," kata Hakim Tobing, penyanyi dan komposer musik Batak terkemuka, di kesempatan lain.

Bagi teman-teman aktivis paduan suara, nyanyian Siksik Sibatumanikkam ini sangat bagus buat latihan, khususnya sesi pemanasan. Suasana segar akan langsung terasa begitu lagu ini dibawakan sopran, alto, tenor, bas. Bisa nyanyi satu suara dulu (unisono), kemudian dua suara, tiga suara, empat suara.

Nada dasarnya harus berpindah-pindah, dari paling rendah hingga ke tinggi. Saking populernya Siksik Sibatumanikkam, saya melihat banyak grup paduan suara atau grup vokal yang sengaja memasukkan melodi Siksik Sibatumanikkam sebagai intro, interlude, atau coda.

Yang penting, tetap semangat. Horas mejua-jua!

19 November 2008

10 bahasa di Flores





Orang Jawa Timur lebih suka berbahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia. Wajar karena bahasa Jawa adalah bahasa daerah terkuat dan paling komplet di Indonesia. Kata-kata yang tidak ada di bahasa Indonesia justru punya padanan berlimpah di bahasa Jawa. Grammar bahasa Jawa pun sempurna.

Karena itu, teman-teman di Jawa--yang suka bahasa ibu--selalu bikin analogi. "Bang, bahasa Floresnya 'namamu siapa' itu apa?" begitu pertanyaan yang sering saya dengar. Saya jawab: "Mo naranem heku."

Hehehe... Teman-teman itu tertawa ngakak karena lucu kedengarannya.

Mo = kamu.
Naran = nama.
Naranem = nama anda (kata milik orang kedua).
Heku = siapa.

Jadi, susunan kalimat dalam bahasa daerah Flores Timur--disebut bahasa Lamaholot--memang tidak umum untuk bahasa-bahasa besar di tanah air macam Jawa atau Melayu. Saya juga ingatkan bahwa pulau Flores plus Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata) punya banyak logat yang sangat berbeda. Satu kecamatan bisa 7-8 logat.

"Katanya, tiap kabupaten punya bahasa daerah sendiri? Orang Ngada tidak paham bahasa orang Manggarai dan seterusnya. Apa begitu?" tanya Pak Bambang, budayawan senior dari Sidoarjo.

"Benar sekali!" saya jawab.

Jangankan Ngada dan Manggarai yang memang berbeda kabupaten, dipisahkan gunung dan bukit-bukit, kami di Flores Timur dan Lembata (sebelum reformasi Lembata masuk kabupaten Flores Timur) pun sering kesulitan komunikasi. Orang Larantuka yang berbahasa Nagi--bahasa Melayu ala Larantuka--tidak (atau kurang) paham bahasa Lamaholot. Orang Solor sering sulit menangkap kata-kata saya (Lamaholot versi Ile Ape) meski sama-sama Lamaholotnya.

Bahasa Lamaholot versi Adonara, baik Barat maupun Timur, relatif dipahami semua orang Flores Timur karena dianggap standar. Orang-orang kampung saya yang "melarat" (artinya merantau) di Malaysia kalau pulang pasti berbahasa Lamaholot ala Adonara Timur. Nadanya tinggi, tekanannya jelas, dengan irama yang khas.

"Reu, go Tawau dai kete doi aya-aya di!" ujar si teman, Kopong, bangga. Maksudnya, pulang merantau dari Tawau, dia bawa uang banyak. "Doi nepe go kang tula lango muringen." (Uang itu mau saya pakai untuk membuat rumah baru).

"Kecongkakan" khas perantau Lamaholot yang menganggap Sandakan, Sabah, Kuching, Tawau di Malaysia Timur sebagai kampungnya sendiri. Hehehe.... Lantas, berapa banyak bahasa daerah di Pulau Flores dan kepulauan di sekitarnya?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab orang awam. Hanya ahli-ahli bahasa (linguistik) dan peneliti bahasa yang bisa. Juga para misionaris Societas Verbi Divini alias SVD yang sejak awal abad ke-19 masuk kampung keluar kampung di Pulau Flores. Hanya para misionaris yang punya mobilitas tinggi. Kalau orang biasa, saya jamin tidak bisa.

Sejatinya, riset tentang bahasa-bahasa di Flores sudah banyak. Namun, bahan-bahannya tersimpan rapi di Belanda. Orang Flores sendiri, karena baru keluar dari alam buta huruf, masih sedikit meneliti bahasa-bahasa di kampung. Beberapa nama yang patut disebut adalah Prof. Dr. Gorys Keraf (Universitas Indonesia), Dr. Inyo Yos Fernandez (Universitas Gadjah Mada), D.A. Kumanireng, A.N. Liliweri, M.M. Pareira. Saya berterima kasih kepada mereka semua.

Dari buku Dr. Inyo Yos Fernandez, saya akhirnya tahu bahwa Flores itu punya 10 bahasa. Bahasa-bahasa ini tidak sehomogen bahasa Jawa, tapi selalu ada variasi di sana-sini. Berikut bahasa-bahasa daerah yang dipakai penduduk Flores dan sekitarnya. Kita awali dari ujung timur.

1. BAHASA LAMAHOLOT

Digunakan sebagian besar penduduk Kabupaten Flores Timur dan Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata). Kami di kampung 100 persen bicara dalam bahasa ini. Susunan kalimatnya, seperti pengantar di atas, berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa sehingga anak-anak kampung macam saya awalnya kesulitan berbahasa Indonesia. Mengubah konstruksi kalimat bahasa Lamaholot ke bahasa Indonesia bukan pekerjaan gampang.

Maka, kalau Anda melihat di televisi orang-orang kampung Flores Timur sulit bicara dalam bahasa Indonesia, ya, begitulah kenyataannya. Memang paham sedikit-sedikit, tapi sulit lancar. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia sangat minim. Saya sendiri baru "agak lancar" bahasa Indonesia setelah sekolah di SMP Pankratio Larantuka.

Wilayah Lamaholot dikelilingi lautan. Kontak dengan dunia luar sangat lancar. Maka, sejak dulu orang-orang Lamaholot sudah biasa kedatangan orang-orang luar yang berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. "Kelebihan" lain: sejak zaman penjajahan Portugis, Larantuka menjadi kota utama di Flores Timur dan Kepulauan Solor.

Penduduk Larantuka berbahasa Melayu (atau bahasa Nagi) yang tak lain bahasa Melayu pasar. Ini "memaksa" orang-orang Lamaholot macam kami untuk berbahasa Indonesia meskipun tertatih-tatih. Sampai sekarang pun bahasa Indonesia (yang sudah kompleks) itu masih disebut bahasa Melayu oleh orang-orang kampung di Flores Timur dan Lembata.

"Mo ake koda mang melayuhn terus. Koda mang lohumen hae," begitu teguran khas adik saya ketika saya selalu bicara dalam bahasa Indonesia dengan orang-orang kampung. (Kamu jangan bicara dalam bahasa Indonesia terus. Pakailah bahasa Lamaholot!)

Memang, orang yang tiap hari berbahasa Lamaholot biasanya tidak suka berbahasa Indonesia. Sebaliknya, orang yang tiap hari berbahasa Indonesia atau Jawa kesulitan mengubah cara berpikir, morfologi, serta sintaksis ala bahasa Lamaholot. Beda, misalnya, dengan bahasa Jawa yang strukturnya sama 100 persen dengan bahasa Indonesia. Wajar saja kalau orang Jawa sangat lentur ketika berbahasa Indonesia.


2. BAHASA KEDANG

Digunakan penduduk Kecamatan Omesuri dan Buyasuri di Kabupaten Lembata. Orang Kedang ini ibarat orang Madura di Jawa Timur yang bahasanya berbeda total dengan bahasa Jawa. Meski sama-sama di Lembata, dikelilingi oleh mayoritas penduduk berbahasa Lamaholot, orang Kedang punya bahasa sendiri.

Bapak saya pernah jadi guru di Kedang sehingga saya sedikit banyak paham bahasa Kedang. Beda banget dengan bahasa Lamaholot. Karena itu, guru-guru bahasa di Larantuka sering menjadikan bahasa Kedang sebagai bahan guyonan. "Siapa di sini yang asalnya dari Kedang? Angkat tangan," kata Pak Aldo, guru saya di SMPK San Pankratio Larantuka dulu.

Ketika ada teman Kedang yang angkat tangan, suasana kelas pun riuh. "Pandita ne amo?" canda Pak Guru. Maksudnya, "Bapak mau pergi ke mana?"

Hehehe.... Acap kali kaum "minoritas" menjadi bahan guyonan orang-orang dominan macam Lamaholot karena dianggap aneh. Kok bahasa Kedang lain sendiri? Begitu yang selalu muncul di benar orang Flores Timur.

3. BAHASA NAGI (MELAYU LARANTUKA)

Digunakan di Kecamatan Larantuka, Wure, dan Konga. Sejenis bahasa Melayu pasar yang berkembang seiring masuknya warga Melayu ke Flores Timur. Digunakan sekitar 25.000 orang. Kata-katanya sama dengan bahasa Indonesia, tapi terpengaruh bahasa Lamaholot dan Portugis.

Meski pemakainya tak sebanyak Lamaholot, bahasa Nagi sangat populer dan mudah dipelajari siapa saja. Macam bahasa Indonesialah. Orang-orang Lamaholot pun tak kesulitan menangkap bahasa Nagi. Karena itu, sejak dulu bahasa Nagi menjadi lingua franca yang andal.

4. BAHASA SIKA

Digunakan di enam kecamatan di Kabupaten Sika, yakni Talibura, Kewapante, Bola, Maumere, Nita, dan Lela. Menurut beberapa peneliti, ada dua dialek yang dipakai penutur bahasa Sika. Dialek Sika Barat dan Dialek Krowe atau Kangae atau Tana Ai di Sika Timur.

Maumere sejak dulu menjadi kota penting di Flores bagian timur. Ini membuat orang Flores Timur daratan paham beberapa kalimat dasar bahasa Sikka. Biasanya, anak-anak muda Larantuka belajar bahasa Sika dari para sopir atau kernet bus-bus Maumere yang tiap hari datang ke Larantuka.

5. BAHASA PALUE

Digunakan sekitar 15.000 penduduk Pulau Palue. Pulau vulkanis (ada Gunung Rokatenda) ini lebih dekat dengan Kabupaten Ende, tapi masuk Kabupaten Sika. Tokoh Palue yang terkenal di Jawa Timur adalah Damianus Wera. Dia tabib tradisional yang tiap hari mengoperasi pasien dengan pisau cutter tanpa pembiusan apa pun. Damianus belakangan ini membina Sasana Rokatenda yang mulai berkibar di Jawa Timur.

6. BAHASA LIO

Digunakan di Kabupaten Ende dengan jumlah penutur hampir sama dengan bahasa Lamaholot, sekitar 215.00 penduduk. Ada enam kecamatan yang menggunakan bahasa Lio: Nangapanda, Ende, Ndona, Wolowaru, Maurole, dan Detusoko.

Sejumlah pengamat menganggap bahasa Ende sebagai bahasa tersendiri. Namun, ahli-ahli terkemuka macam Dr Inyo Fernandez dan Dr Gorys Keraf memasukkan bahasa Ende sebagai salah satu dialek dalam bahasa Lio. "Sebab, tingkat saling pengertian antara penutur bahasa Ende dan Lio sangat tinggi," tulis Dr Fernandez.

7. BAHASA NGADA

Digunakan di Kabupaten Ngada, Flores Barat. Penutur bahasa Ngada tersebar di tujuh kecamatan: Aimere, Golewa, Mauponggo, Nangaroro, Boawae, Bajawa, Aesesa. Seperti bahasa-bahasa lain di Flores, bahasa Ngada pun mengenal macam-macam dialek.

Pater Arndt SVD sejak 1930-an sudah melakukan penelitian mendalam tentang bahasa dan budaya Ngada. Pada 1933 pastor ini bahkan sudah menulis tata bahasa Ngada, kemudian kamus Ngada-Jerman pada 1961. Ini menunjukkan bahasa bahasa dan kebudayaan Ngada menjadi kajian penting ketika misionaris SVD merintis misi Katolik di Flores.

8. BAHASA REMBONG

Digunakan di Riung Tengah, Kabupaten Ngada bagian utara. Kawasan ini berbatasan dengan Manggarai dan pengguna bahasa Ngada. Jumlah penuturnya cukup banyak, 20 ribu orang. Di kawasan ini, pesisir utara, juga ada penutur BAHASA BAJO. Bahasa ini dipakai orang-orang suku Bajo, kaum nelayan yang biasanya berumah di atas laut.

9. BAHASA MANGGARAI

Bahasa paling banyak penuturnya di Flores. Sekitar 500.000 penutur bahasa ini tinggal di Kabupaten Manggarai, ujung barat Flores. Ada sembilan kecamatan: Lembor, Satarmese, Mbrong, Elar, Lambaleda, Ruteng, Cibal, Reo, Kuwus. Menurut Fernandez, bahasa Manggarai kurang menampakkan pengaruh luar karena penuturnya "lebih akrab ke dalam".

Pakar-pakar Barat juga sudah lama meneliti bahasa Manggarai. Sebut saja J.A.J. Verheijen yang menulis Kamus Manggarai-Indonesia pada 1967 dan Kamus Indonesia-Manggarai pada 1970. "Alam yang bergunung-gunung dengan sungai dan hutan yang belum disentuh tangan manusia turut berperan dalam membentuk dialek-dialek di Manggarai," kata Dr. Fernandez.

10. BAHASA KOMODO

Digunakan di pulau-pulau kecil yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Selain Pulau Komodo yang terkenal dengan buaya darat, varanus komodoensis, pengguna bahasa Komodo tinggal di Pulau Rinca. Berbatasan dengan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, bahasa ini terpengaruh bahasa Bima yang dipakai penduduk Pulau Sumbawa.

11 November 2008

Piet Wani SVD dan musik liturgi Katolik



Misa Dolo-Dolo (karya Mateus Wari Weruin), Misa Syukur (Martin Runi), Misa Piet Wani (karya Pater Piet Wani SVD), Misa Pustardos, Misa Senja (Martin Runi), Misa Henri Daros SVD, Misa Ferdy Levi, Misa Atlantika (AS Letor SVD), Misa Gaudens Gaudebo (Jan Riberu)... sangat disukai paduan suara gerejawi. Dan masih banyak nama lagi. Dan banyak pula partitur stensilan lagu-lagu yang beredar luas di kalangan aktivis paduan suara gerejawi.

Apakah karena pelatih dan anggota kor kebanyakan Flores? Pastornya asal Flores? Tidak juga. Kor-kor yang didominasi orang Jawa, Tionghoa, atau Tapanuli pun gemar lagu-lagu misa Flores.

"Lagu-lagu Flores enak-enak dan sederhana. Semua umat bisa menguasai dengan cepat," ujar Frans, umat Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya.

Sebagai orang Flores, kami yang di Jawa tentu bangga dengan kenyataan ini. Ikut misa di gereja ibarat berada di rumah sendiri. Itu juga yang bikin orang Flores punya ikatan sangat kuat dengan Gereja Katolik. Sangat sulit pindah gereja--misalnya protestan, pentakosta, atau karismatik--karena sudah pasti karakter Floresnya tidak ada di gereja-gereja itu.

"Saya baru bikin rekaman lagu-lagu rohani. Beberapa karya almarhum Pater Piet Wani SVD masuk di saya punya album. Saya ingin mengenang beliau sebagai komponis musik liturgi yang luar biasa asal NTT. Kebetulan Pater Piet itu saya punya guru vokal," ujar Pietche Ranitoa, penyanyi rohani asal Ngada, Flores Barat, kepada saya.

Pater Piet Wani SVD. Lagu-lagu misa karyanya memang sangat populer di Flores sejak 1970-an sampai hari ini. Dia termasuk salah satu komposer yang sangat produktif menciptakan lagu-lagu liturgi untuk kebutuhan umat Katolik di NTT. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mendorong inkulturasi di seluruh dunia. Orang Flores yang mayoritas Katolik ikut dalam arus inkulturasi ini. Maka, Piet Wani, pastor yang seniman itu pun melahirkan karya-karya musik liturgi yang berbobot.

Saya pribadi--dan orang Flores Timur umumnya--paling terkesan dengan WARTAKANLAH, lagu yang dimuat buku EXULTATE Nomor 64.

"Wartakanlah, hai bangsa-bangsa kabar gembira.
Maklumkanlah ke pulau-pulau yang jauh.
Aleluia... Alleluia
Sabda Tuhan bagi manusia...


Lagu ini, yang diaransemen sendiri oleh Pater Piet Wani SVD, menjadi lagu wajib lomba paduan suara antarsekolah, stasi, hingga paroki di Flores Timur. Saya jamin (hampir) semua orang Flores menguasai lagu ini dengan baik. Di Jawa Timur pun sangat populer. Bagian solo yang ada dua ayat itu sangat melodius. Kesempatan bagi penyanyi sopran (suara satu) dan alto (suara dua) untuk pamer suara. Praktik yang sangat umum di kampung-kampung Flores Timur dan Lembata.

Pater Piet Wani SVD meninggal dunia di Kupang pada 2006 dalam usia 52 tahun. Di hari-hari terakhirnya, almarhum juga tetap membina musik liturgi sekaligus mengajar di Universitas Widya Mandira, Kupang. "Pater Piet Wani itu komponis besar yang pernah dimiliki Flores," kenang Pietche, orang Bajawa, bekas murid almarhum Piet Wani.

Menurut Pietche, Piet Wani dipercaya Takhta Suci Vatikan sebagai salah satu anggota Tim 100 penyelia musik liturgi internasional. Tugasnya, antara lain, mengembangkan musik liturgi Katolik di gereja-gereja sejagat. Inkulturasi musik terus didorong, dikembangkan, namun tetap memperhatikan pakem liturgi Roma.

"Saya selalu ingat dia punya pesan. Kunci musik litugi ada tiga: Komponis yang menciptakan nyanyian bermutu. Dirigen yang mumpuni. Pemain sekaligus penyanyi. Tiga unsur ini mutlak ada dalam pelayanan musik liturgi di gereja," papar Pietche.

Dia memuji Pater Piet Wani sebagai organis gerejawi asal Flores yang sulit dicari tandingannya. "Kalau Pater Piet Wani main organ, aiiii... gereja bisa runtuh. Dia main sepuluh jari dengan sentuhan seni tingkat tinggi. Dia itu maestro musica sacra. Di Jawa sih banyak pemain organ, tapi apa ada yang masuk maestro musica sacra?" tegas Pietche dengan gayanya yang meledak-ledak.

Dalam berbagai lokakarya musik liturgi di Flores, Pater Piet Wani SVD menyampaikan beberapa kriteria sebuah lagu diterima sebagai lagu geejawi (liturgi).

SATU: Jika dinyanyikan dalam bahasa apa pun, tanpa dimengerti, umat merasa tersentuh.

DUA: Syair harus sejalan dengan Alkitab dan ajaran gereja. Punya misi mewartakan sabda Tuhan.

TIGA: Jika lagu dinyanyikan, umat terpecah, misalnya hanya orang Flores yang menyanyi, maka lagu itu tak layak gereja.

Salah satu lagu karya Piet Wani SVD yang sangat populer di gereja-gereja Katolik Indonesia adalah NYANYIKANLAH HALELUYA (buku EXULTATE Nomor 180). Lagu ini, kata Pietche, pernah "dipamerkan" Piet Wani di hadapan umat Katolik non-Indonesia yang tentu tidak paham bahasa Indonesia. Dia main organ, 10 jari, sambil menyanyi:

"Di kala sinar cahaya merekah
Pujilah Tuhan Allahmu
Di kala redup mentari hidupmu
Arahkanlah hatimu pada-Nya


Hasilnya? "Semua orang suka. Mereka meresapi lagu itu meskipun tidak mengerti artinya apa," sebut Pietche.

Teman saya yang satu ini memang sering memuji-muji Pater Piet Wani dalam berbagai kesempatan. Dan itu wajar karena Pietche berutang budi dan ilmu pada almarhum. Tapi, yang jelas, karya-karya Piet Wani memang diterima umat Katolik di seluruh Indonesia, sehingga dinyanyikan terus sampai sekarang.

Ars longa, vita brevis!
Seni itu panjang, sementara hidup itu pendek.

Tarian NTT di Festival Cak Durasim '08



Sebuah kejutan bagi kita, orang Nusatenggara Timur, di Jawa Timur. Tarian asal NTT ditampilkan sebagai pembuka Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, Senin malam, 10 November 2008. Festival tahunan ini berkelas nasional. Grup-grup tari dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri macam Malaysia atau Suriname, pernah ditampilkan.

Tapi NTT? Rasanya baru kali ini. Dan itu wajar karena semua orang tahu bahwa kesenian Flores, Sumba, Timor, Alor, sejatinya kesenian massal. Dibawakan ramai-ramai. Berbeda, misalnya, dengan tarian Jawa yang masuk kategori high culture, budaya tinggi. Kesenian NTT, menurut saya, tak pernah didesain sebagai "budaya tinggi".

"Tarian Jawa adalah tarian pertunjukan, dibawakan penari terlatih, dengan ekspresi yang hanya mungkin berkat keterampilan yang harus diperoleh dengan latihan lama," tulis Karl Edmund Prier SJ, direktur Pusat Musik Litugi di Jogjakarta. Romo Prier, komponis yang getol mempromosikan inkulturasi liturgi ini, berkali-kali melakukan riset dan lokakarya di NTT. Dia tahu persis kesenian dan kebudayaan NTT.

Karena itu, sejak dulu saya tidak pernah dengar ada sanggar tari di Flores. Tarian-tarian kampung macam oha, hedung, hamang, tari perang, likurai... dibawakan spontan saja. Tidak pakai latihan karena memang gerakan-gerakannya tak perlu latihan. Siapa saja silakan gabung. Ngawur sekalipun tidak apa-apa. Tarian NTT--yang bukan high culture tadi--memang ekspresi spontan dari masyarakat agraris yang jauh dari dunia sanggar.

Maka, saya salut dengan teman-teman koreografer yang malam itu menghadirkan tarian Njara Humba Matamba Savana di Surabaya. Mereka Paulina Samosir, Eldy Angi, Widyawati, Floribertus Fonna. Nama-namanya saja jelas kurang "berbau" NTT. Mereka alumni Institut Seni Indonesia, Jogjakarta, yang memang terbiasa dengan seni pertunjukan.

Savana atau sabana identik dengan Pulau Sumba. Ribuan kuda liar yang bergerak bebas di padang rumput luas. Bahan-bahan dasar dari kampung kemudian diolah Paulina dan kawan-kawan menjadi tarian yang kira-kira layak dihadirkan di festival nasional sekelas Cak Durasim. Persiapan hanya dua bulan. "Ini baru pertama kali kami pentaskan di panggung," cerita Flori.

Karakter kesenian yang massal, bukan high culture, tetap kental dalam garapan para seniman akademis alumni ISI itu. Para penari--pakai sarung tenun motif Sumba, ada gambar kuda--tampak trengginas, liar, energetik. Namun, para "kuda jantan" ini bisa bikin harmoni dan keindahan di panggung. Syukurlah, penonton festival paling tidak punya gambaran tentang orang NTT dan kebudayaannya melalui Tari Njara Humba Matamba Savana.

"Sangat sulit mengajak anak-anak muda NTT di kota untuk belajar dan mencintai kesenian daerah," ujar Flori.

Taman Budaya NTT selama lima tahun masuk keluar sekolah untuk mengajak para pelajar dan mahasiswa untuk ikut latihan tari-menari. Tapi hasilnya sangat sedikit. Hampir tidak ada yang mau karena kesenian tradisional dianggap old school, ndeso.

Jangankan tarian, orang-orang NTT yang makan sekolah atau kuliah di Kupang, misalnya, cenderung "lupa" bahasa dan kebudayaan daerahnya. Tiap hari bicara bahasa Melayu Kupang meskipun logatnya tetap saja kampung. Mana mau mereka menggali kebudayaan nenek moyangnya?

Terima kasih buat Paulina Samsir (orang Batak), Widyawati (orang Jawa), serta teman-teman koreografer yang telah berhasil mengangkat alam dan manusia NTT ke panggung Festival Cak Durasim 2008. Kami tunggu karya-karya kalian yang lain.

09 November 2008

Didit Hape pahlawan anak negeri di Surabaya



Sudah sembilan tahun Didit Hari Purnomo alias Didit Hape bergelut dengan ratusan, bahkan ribuan 'anak negeri' di Surabaya. Selama itu pula Didik aktif mempopulerkjan istilah 'anak negeri' sebagai pengganti 'anak jalanan'.

"Sebutan anak jalanan itu melanggar konstitusi. Kalau ada pegawai negeri yang hidupnya dibiayai negara, mengapa tidak ada anak negeri?" ujar Didit seraya mengutip pasal 34 UUD 1945.

Sayang, sampai hari ini anak-anak telantar belum bisa disantuni negara. Alih-alih dipelihara dan dididik, anak-anak negeri itu kerap menjadi korban razia aparat. Toh, Didit Hape tak berputus asa. Bersama Sanggar Alang-Alang yang dibentuknya pada 16 April 1999, Didit tetap antusias mengentaskan anak-anak negeri yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang keluarga itu.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dengan Didit Hape di rumahnya, kawasan Dukuh Pakis Surabaya, Sabtu 8 November 2008.

Apa masih aktif di TVRI?

Saya sudah pensiun sejak 14 September lalu. Jadi, sekarang saya konsentrasi untuk mengurus anak-anak negeri di Sangar Alang-Alang. Kami punya beberapa program lagi yang perlu dikembangkan. Alhamdulillah, saya baru saja dapat undangan dari (Penjabat) Gubernur Jawa Timur untuk menghadiri acara penyerahan Anugerah Pahlawan. Saya salah satu yang dipilih. Pahlawan tanpa senjata. Hehehe....

Sekarang berapa jumlah anak-anak negeri di Alang-Alang?

178 anak. Mereka datang dari berbagai daerah di Jatim, bahkan luar Jatim. Kita tetap mendampingi mereka dengan program khas Alang-Alang sampai usia 17 tahun. Pada usia 18 mereka harus keluar untuk menata hidup masing-masing. Lulus dari Alang-Alang, anak-anak itu tidak dapat ijazah, tapi kecakapan hidup. Mereka juga dibekali dengan etika, estetika, dan agama.

Selain pembinaan anak-anak negeri yang sudah tersistem selama sembilan tahun, apa ada program baru?

Ada. Namanya PAUD: pendidikan anak usia dini. PAUD ini kita kombinasikan dengan BOT: bimbingan orang tua. PAUD bukan play group, tapi taman kanak-kanak. Istri dan anak saya (Budha Ersa dan Wuri Pramesti) yang turun langsung menangani PAUD.

Mengapa Anda merasa perlu membuat TK?

Begini. Sekarang ini di mana-mana muncul banyak keluhan dari masyarakat karena biaya masuk TK itu ternyata lebih mahal ketimbang masuk SD. Keluarga miskin jelas tidak punya biaya. Untuk makan sehari-hari saja susah. Lha, kalau anak-anak tidak bisa masuk TK biasanya sulit diterima di SD. Akhirnya, anak-anak itu keleleran di terminal, lampu merah, dan sebagainya.

Kalau kita tidak antisipasi, ya jumlah anak negeri tidak akan pernah turun. Makanya, saya membuat TK gratis untuk anak-anak miskin di sekitar Alang-Alang.

Sistem pendidikannya sama dengan TK biasa?

Lain. Mereka sekolah sore hari, pukul 15.00 sampai magrib. Pertemuan dua kali seminggu di Sanggar Alang-Alang. Dan orang tua harus ikut belajar bersama anaknya. Ini penting agar sejak dini anak-anak mendapat kasih sayang orang tua. Kita ingatkan bahwa anak itu bukan hanya manusia kecil, tapi titipan Tuhan yang harus disayangi.

Bagaimana respons warga?

Oh, antusias sekali. Sekarang ada 40 anak dan ibunya yang belajar di PAUD. Alhamdulillah, hasilnya cukup bagus. Alumni PAUD bisa diterima di berbagai SD. Tidak ketinggalan dengan anak-anak yang sekolah di TK biasa. Bahkan, SD Sawunggaling V selalu menampung anak-anak kami.

Bagaimana pula dengan Sekolah Perawan (Perempuan Rawan)?

Wah, perkembangannya luar biasa. Kita launching tanggal 21 April 2006, sekarang sudah 500 lebih peserta. Mereka perempuan-perempuan rawan, khususnya pekerja rumah tangga. Wuri yang langsung jadi koordinator di lapangan. Kita punya dua unit mobile school untuk memberikan bimbingan dan pendampingan kepada para PRT.

Di luar dugaan, program ini mendapat penghargaan dari Korea Selatan. Hadiahnya antara lain berupa uang, dan itu dipakai membeli mobil untuk pengembangan program ini. Ternyata, Tuhan itu punya cara yang sangat halus untuk membantu kami. Alhamdulillah.

Dukungan Pemkot Surabaya bagaimana?

Kami dapat support yang besar dari PKK. Ibu Dyah Katarina sangat mendukung sehingga kami dapat akses untuk mendatangi berbagai perumahan di Surabaya. Bagaimanapun juga support dari Ibu Dyah sangat membantu perkembangan program bimbingan belajar anak ‘perawan’. Beberapa waktu lalu Ibu Dyah mendapat Alang-Alang Award. Ini penghargaan khusus untuk orang-orang yang sangat mendukung program-program Alang-Alang.

Dengan begitu, apakah ancaman trafficking di Surabaya sudah berkurang?

Kita tidak boleh lengah sedikit pun karena trafiicking itu tetap ada. Saya baru baca di koran kasus penjualan perempuan masih marak. Apa yang kami lakukan ini hanya sekadar usaha kecil untuk mengurangi traficking. Ini harus menjadi gerakan bersama semua warga kota dan pemerintah. Sebab, trafficking itu punya jaringan yang sangat kuat dan sistematis.

Bagaimana perasaan Anda mendampingi anak-anak negeri selama hampir 10 tahun?

Sangat bahagia. Sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Saat Lebaran yang lalu, setelah salat Id, rumah saya penuh dengan anak-anak saya dari berbagai kota di Jatim. Pagi, siang, malam penuh orang. Ada yang bawa istri, anak, seakan-akan mau melapor kepada saya keluarga bahwa mereka sekarang sudah berhasil. Kalau dulu mengamen di terminal, bus, stasiun... sekarang sudah kerja di tempat lain, bisa membina rumah tangga.

Saya juga merasa sangat haru, meneteskan air mata, ketika Siti dan Dayat, lolos Idola Cilik sampai tingkat nasional. Padahal, saingannya dari sekolah musik atau sanggar seni yang hebat-hebat. Kok anak Alang-Alang yang lolos? Saya sampai tidak bisa bicara ketika diwawancara sama reporter RCTI. Saya hanya bisa berterima kasih dan minta maaf sama Allah. Ini pelajaran kesekian yang saya peroleh setelah membina Alang-Alang.


Apresiasi NHK Jepang

Sebelum bergelut dengan 'anak negeri' alias anak jalanan, Didit Hape banyak dikenal di Jawa Timur sebagai pengasuh Rona-Rona di TVRI Surabaya. Program berdurasi 30 menit ini menarik karena berbeda dengan format acara TVRI pada era 1980-an yang cenderung kaku dan formal.


"Saya ini kan orang yang gak suka formal-formalan. Hobi saya itu bertualang ke mana-mana. Saya banyak menemukan hal-hal menarik dan itu mau saya tayangkan di televisi," cerita Didit Hape.

Reporter kawakan ini ingin agar televisi satu-satunya di Indonesia itu menyajikan program features yang bagus seperti televisi di luar negeri. Berita-berita tentang orang biasa, hal-hal unik, yang tidak formal.

"Saya kemudian menyampaikan masukan kepada pimpinan pemberitaan di TVRI. Tapi mula-mula responsnya kurang baik. Wartawan-wartawan lain pun menganggap program saya itu tidak lumrah," kenangnya.

Meski begitu, dia tetap bertualang ke tempat-tempat di Jawa Timur, kadang-kadang luar Jawa Timur, untuk bikin liputan khas. Setelah lobi kanan-kiri, akhirnya liputan Didit mulai ditayangkan di TVRI Surabaya. Nama programnya Rona-Rona. "Saya sajikan hal-hal aneh dan menarik," tutur suami Budha Ersa ini.

Sejak itulah penonton televisi bisa menikmati liputan khas Didit Hape. Binatang aneh, koleksi-koleksi antik, upacara tradisional, budaya lokal, hingga orang-orang sakti. Singkatnya, hal-hal yang tidak umum dan luar biasa. Rona-Rona ternyata disukai penonton. Bahkan, televisi Jepang NHK pada 1992 mengundang Didit ke Osaka karena tertarik dengan Rona-Rona.

"Jadi, apresiasi pertama justru datang dari orang Jepang. Kalau nggak ada Rona-Rona nggak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Jepang. Mana mungkin TVRI mau membiayai?" tutur Didit lalu tertawa kecil.

Setelah diundang NHK, petinggi TVRI akhirnya mendukung penuh Rona-Rona. Didit diberi kebebasan dan fasilitas untuk membuat liputan sebanyak-banyaknya dan semenarik mungkin. Awalnya, tayang setiap bulan, tapi karena diminati pemirsa, Rona-Rona tayang setiap pekan. "Saya sampai kewalahan."

Selama 10 tahun lebih Rona-Rona menemani pemirsa setia di Jawa Timur. Didit mengaku mendapat ribuan surat dari masyarakat terkait Rona-Rona. Ada kritik, informasi, saran, dan sebagainya. Didit bahkan dianggap 'orang pinter' atau dukun sakti. Suatu ketika ada orang di Surabaya yang rumahnya didatangi tiga ular besar.

"Pemilik rumah itu datang ke saya. Padahal, saya nggak bisa ngatasi ular. Hehehe," cerita Didit Hape.

Pada awal 1996, Didit Hape fokus pada anak-anak jalanan. Rona-Rona pun meredup. Tayangan masih ada, tapi tidak serutin dulu. "Sekarang program Rona-Rona diteruskan TVRI nasional," katanya.


DIDIT HARI PURNOMO

Lahir : Lumajang, 14 September 1952
Istri: Budha Ersa
Anak: Ramadhani Wuri Pramesti dan Dea Ari
Pendidikan: Akademi Wartawan Surabaya
Karir: Reporter/Produser TVRI Surabaya, Pekerja Sosial

Penghargaan

Program televisi populer versi NHK
Gubernur Jatim
Pahlawan Jatim
Korea Selatan untuk Sekolah Perawan

05 November 2008

Selamat jalan Romo Haryanto



Romo Julius Haryanto CM, mantan Administrator Keuskupan Surabaya, meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Hari Kamis, 6 November 2008, jenazah pastor senior asal Wlingi, Blitar, itu dimakamkan di Puhsarang, Kediri.

Oleh LAMBERTUS HUREK
hurek2001[at]yahoo.com

Sekitar 2.000 umat Katolik kemarin mengikuti misa requiem untuk mendiang Romo Haryanto di Gereja Kristus Raja, Jalan Residen Sudirman Surabaya. Dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, misa ini juga diikuti puluhan pastor serta biarawati dari berbagai kota di Jawa Timur.

“Romo Haryanto memang punya relasi sangat luas di Jawa Timur, bahkan di seluruh Indonesia. Bahkan, sebagian besar romo yang sekarang bertugas di Jawa Timur itu mantan muridnya,” ujar Pastor Paroki Katedral Surabaya Romo Yosef Eko Budi Susilo kepada Radar Surabaya usai misa requiem.

Romo Haryanto meninggal dunia di RS Adi Husada Surabaya karena komplikasi penyakit dalam. Di usia senja, rohaniwan yang ramah dan murah senyum itu juga terserang kanker pankreas. Nah, ketika warga Jawa Timur ramai-ramai datang ke tempat pemungutan suara, Selasa (4/11/2008), Romo Haryanto menghembuskan napas terakhir.

“Kita percaya bahwa semua ini merupakan rencana Tuhan. Semoga amal baik dan jasa-jasanya selama menggembala umat di Keuskupan Surabaya diterima oleh Tuhan,” ujar Romo Eko yang juga ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya ini.

Setelah disemayamkan selama dua malam, pagi ini kembali digelar misa requiem di Gereja Kristus Raja. Usai misa, sekitar pukul 09.30, jenazah Romo Haryanto dibawa ke Musoleum Pieta di Puhsarang, Kediri, untuk dimakamkan. Musoleum adalah tempat pemakaman para rohaniwan Keuskupan Surabaya yang dirintis Mgr Johanes Hadiwikarta (almarhum). “Beliau dimakamkan di Puhsarang biar umat lebih mudah berziarah ke sana,” papar Romo Eko Budi Susilo.

Bagi umat Katolik di Jawa Timur, Romo Haryanto adalah figur pastor yang paling komplet. Pria kelahiran Blitar, 12 April 1933, itu pernah menduduki semua jabatan penting di Keuskupan Surabaya. Mulai dari pastor pembantu, kepala paroki, guru seminari menengah, dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, vikaris jenderal, hingga administrator keuskupan.

Posisi sebagai administrator--semacam pejabat sementara uskup--dipegang Romo Haryanto setelah Mgr Hadiwikarta wafat pada 13 Desember 2003. Tugas berat ini diemban hingga 29 Juni 2007 ketika Mgr Sutikno Wisaksono ditahbiskan di Lapangan Bumimoro. “Jadi, selama 3,5 tahun almarhum menduduki posisi kunci di Keuskupan Surabaya. Kita benar-benar kehilangan seorang gembala yang bisa ngemong dan rendah hati,” ucap Romo Eko.

Sejumlah umat yang ditemui Radar Surabaya mengaku sangat kehilangan Romo Haryanto. Mereka menilai figur almarhum sangat sulit ditemui di masa sekarang. “Romo Haryanto itu pastor yang sangat terbuka dan mau mendengar curhat kita kapan saja. Figurnya benar-benar kebapakan,” ujar Sugianto, umat Katolik asal Kenjeran. (*)

RIWAYAT HIDUP

Romo Julius Haryanto CM lahir di Wlingi, Blitar, 12 April 1933, dari pasangan suami-istri Claudius Hardjosoedarso dan Roberta Sri Mardijah. Keduanya guru sekaligus katekis lulusan Sekolah Romo van Lith di Muntilan dan Mendut. Tahun 1936 dipermandikan di Gereja Santo Yusuf Blitar oleh Romo Anton Bartiasen CM.


Setelah lulus SMP di Blitar, masuk Seminari Menengah pada 1949 di Ganjuran, Jogjakarta. Julius Haryanto salah satu dari delapan siswa pelopor Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Keuskupan Surabaya, yang diantar oleh Romo Dwidjosoesastro CM ke rumah Provinsialat Kongregasi misi di Jalan Kepanjen 9 Surabaya (seminari pertama). Julius Haryanto harus melewati garis demarkasi Indonesia dan Belanda.

Pada 1953 menjalani pendidikan di Seminari Tinggi Rembang. Masuk novisiat CM di Heiden, Panningen, Belanda, 1957. Kemudian pindah ke Amerika Serikat. Ditahbiskan sebagai imam pada 5 Mei 1960 di Saint Louis, Perryville, Amerika Serikat.

Setelah itu Julius Haryanto CM langsung ditugaskan studi lanjut teologi dan kitab suci di Universitas Gregoriana dan Biblicum di Roma sampai 1964. Beliau salah satu romo CM dan Ordo Carmel yang aktif merintis Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang, yang rapat-rapat pendiriannya dilakukan pada 1968-1970.

Para imam alumni STFT Widya Sasana berasal dari berbagai kongregasi dan tarekat religius dan keuskupan di Indonesia. Bahkan, mereka menjadi misionaris di seluruh penjuru dunia.

TUGAS PERUTUSAN

1968-1970 : Dosen Seminari Tinggi Kediri dan pastor pembantu di Kediri.
1970-1973 : Rektor pertama dan dosen kitab suci STFT Widya Sasana Malang.
1971-1972 : Sekretaris Uskup Surabaya.
1974-1976 : Pejabat rektor AKI Madiun.


1977-1988 : Pastor Paroki Langsep, Malang.
1977-1987 : Sekretaris Uskup Malang.
1990-1991 : Dosen STFT Papua.
1993-1995 : Pengurus Persekutuan Usahawan Katolik.

1994-1999 : Konfesor Misionaris Claris Surabaya dan Madiun.
1994-1999 : Pastor Paroki Ngagel, Surabaya.
1995-1996 : Vikep Regio I Surabaya.
1994-2004 : Vikjen Keuskupan Surabaya.

1997-2007 : Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci.
1999-2007 : Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun.
2004-2007 : Administrator Keuskupan Surabaya.
2007-2008 : Pastor Pembantu Paroki Kristus Raja Surabaya.

19 Oktober 2008
Menerima Sakramen Perminyakan dari Romo Marto Kusumo CM.

4 November 2008
Wafat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya.

6 November 2008
Dimakamkan di Musoleum Pieta, Puhsarang, Kediri.

04 November 2008

Khofifah sang penakluk



Khofifah Indar Parawansa sejak Maret 2008 lalu sibuk bukan main. Nyaris tak ada waktu luang untuk rekreasi atau sekadar bersantai ria. Arek Surabaya asli ini harus keliling ke 38 kabupaten di Jawa Timur terkait dengan pencalonannya sebagai gubernur Jatim periode 2008-2013.

"Sekarang ponsel saya masih error nih. Sering nggak muncul nama, hanya nomornya tok," kata Khofifah Indar Parawansa kepada kami.

Yah, sejak dicalonkan sebagai gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 oleh Koalisi Jatim Bangkit, ponsel Nokia seri E-90 miliknya tidak berfungsi dengan baik.

Maklum, arus masuk pesan singkat (SMS) terlalu banyak. Sehari sedikitnya ada 1.200 SMS. Padahal, biasanya paling banter hanya 120 pesan. Belum lagi frekuensi telepon keluar yang juga tinggi. "Banyak teman yang komplain kenapa aku gak bisa dihubungi," katanya.

Mantan pemain hoki dan penggemar sepakbola ini mengaku masih ada 700-an pesan di HP-nya yang belum terbaca. Padahal, Khofifah punya dua asisten yang bertugas khusus untuk membuka dan membaca SMS. Lalu, pesan-pesan dicatat di buku secara manual. Setelah ada waktu senggang, Khofifah baru membacanya.

"Nggak apa-apa lah. Anggap saja ini sebagai dinamika hidup," kata perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1945 itu.

Jemurwonosari, Jemurngawinan, dan Wonokromo. Di tiga kampung di Surabaya itulah Khofifah Indar Parawansa menghabiskan masa kecil hingga remajanya. "SD di Jemur Ngawinan, SMP dan SMA di Wonokromo, kuliah di Unair," cerita Khofifah.

Menurut ibu empat anak ini, masa kecilnya tak ada yang istimewa. Sama dengan anak-anak lain. Hanya saja, Khofifah cilik itu ternyata perempuan pemberani. Bayangkan, setiap pulang sekolah dia bersama teman-teman laki-laki terjun ke sungai di Jemur. Mencari kerang air tawar.

"Waktu itu sungai yang ada di Surabaya masih bagus, sehingga banyak kerang. Sekarang kerang seperti itu harganya sangat mahal," kenang Khofifah.

Orangtuanya, Haji Achmad Ra'i dan Hajah Rochmah--keduanya sudah almarhum--tidak melarang Khofifah pergi bermain-main di sungai. Syaratnya: saat sore menjelang magrib harus sudah berada di rumah untuk mengaji. Iklim tempat tinggalnya memang sangat mendukung untuk menjalankan ibadah. Bahkan, ketika berada di bangku kelas empat sekolah dasar, Khofifah sudah berkumpul dengan para ibu-ibu tibaan. Dia dipercaya sebagai bendahara.

"Dari sanalah saya diajarin oleh ibu saya untuk mengelola keuangan, bagaimana agar uang itu bisa dibelikan alat-alat pendukung seperti piring dan tikar," kenang Khofifah.

Pada tahun 1970-an, masih sangat jarang orang yang punya televisi. Satu-satunya warga yang punya televisi adalah dosen IAIN Sunan Ampel. Khofifah tak absen menonton Dunia dalam Berita di TVRI pada pukul 21.00 WIB. Tuti Aditama menjadi pembaca berita favoritnya.

Khofifah pun ingin seperti Tuti Aditama. Perempuan pintar, yang tahu perkembangan dunia. "Waktu itu yang ada di pikiran saya, Tuti itu hebat, bisa tahu begitu banyak peristiwa-peristiwa di dunia," kata Khofifah.

Menginjak bangku kuliah, Khofifah dikenal di kampungnya sebagai anak perempuan yang ugal-ugalan. Ini karena dia suka mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kenapa? "Soalnya, saya ingin menjadi pembalap," kata Khofifah lalu tertawa kecil. Keinginan itu bahkan diwujudkan dengan mendatangi seorang pembalap mobil.

Lalu, dia melihat-lihat aktivitas si pembalap serta kendaraannya. Namun, niatnya menjadi pembalap batal setelah tahu kalau mobil balapan itu dibuang begitu saja sehabis dipakai. "Kalau saya jadi pembalap, pakai uangnya siapa?" katanya.

Naluri tomboinya muncul lagi setelah dia bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) di Universitas Airlangga. Hampir semua gunung di Jawa Timur--dari Gukung Klotok, Kelud, Semeru--telah ditaklukkannya. Dia juga punya kesan mendalam yang sampai sekarang tak terlupakan. Apa itu?

Ketika mendaki Gunung Semeru, dia berusaha potong kompas. Hebatnya, dia selalu berjalan di depan meninggalkan kelompoknya. Hingga di suatu tempat, dia bertemu dengan 'makhluk asing' bersosok tinggi, putih, rambut panjang, tak pakai baju, hanya bagian kemaluannya yang ditutupi plastik. Tangan kirinya menggenggam celurit.

"Saya gemetar, takut. Untung, rombongan kelompok saya cepat datang," katanya.

Di tengah perjalanan, dia pun bertemu dengan harimau bersama anak-anaknya. Khofifah sempat terdiam. Pelan-dia pelan melangkah mundur menjauhi binatang buas itu. Bermalam di Ranu Gembolo, Khofifah tidur di sebuah gubuk.

Sebelumnya dia telah diwanti-wanti, kalau subuh, pintu gubuk jangan dibuka. Walaupun terdengar desisan atau auman. "Itu harimau atau ular. Benar saja, ketika subuh saya dengar suara itu. Mereka mengendus bau manusia, tapi nggak apa-apa, mereka menyingkir saat matahari terbit," katanya.

Pengalaman sering bertemu ular atau harimau di hutan-hutan ini membuat mentalnya semakin kuat. Di ranah politik, Khofifah pun tak gentar bertemu banyak 'ular' dan 'harimau'.

"Jadi, saya sudah biasa dengan manuver-manuver politik. Wong saya sering ketemu macan," katanya lalu tertawa kecil.

Di bangku kuliah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga dia dipercaya sebagai ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Surabaya. Khofifah menjadi perempuan pertama yang menjadi orang nomor satu di PMII.

Di sela-sela kesibukannya, Khofifah juga rajin menghadiri diskusi kebangsaan yang diisi oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. "Waktu itu saya gak tahu Gus Dur itu siapa. Yang jelas, saya nilai dia pintar," katanya.

Perempuan cerdas dan berani ini kemudian terjun ke ranah politik. Pada 1992 dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Partai Persatuan Pembangunan. Ketua PPP Jatim Sulaiman Fadli kala itu dinilai sangat berjasa mengangkat karir politiknya ke tingkat nasional. Istri Sulaiman menjadi guru kepribadian Khofifah. Maklum, kendati sudah menjadi calon anggota parlemen di Senayan, Jakarta, Khofifah masih kurang pandai berdandan.

"Saya diberi tahu kalau sudah jadi anggota dewan pakai sandal yang haknya minimal lima senti. Warna baju minimal dua macam," kata Khofifah.

Kenapa harus haknya tinggi? "Agar jalannya bisa pelan dan diatur. Toh, saya tetap saja jalan cepat karena kebiasaan mendaki gunung itu," katanya.

BACA JUGA
Empat calon gubernur Jawa Timur 2008-2013.

03 November 2008

Pater Martin Bishu SVD penasihat presiden Paraguay

Oleh AHMAD YUNUS

Seorang pastor dari Flores bicara tentang keterlibatannya dalam gerakan politik di Paraguay. Sebuah pergulatan memerangi kemiskinan dan ketidakadilan.


Kaca matanya menggantung. Seperti hendak meloncat dari ujung batang hidungnya yang bulat. Badannya gemuk. Ia memakai kemeja katun putih berlengan panjang. Ia baru saja bangun dari tempat tidurnya.


Ruangan di Biara Santo Yosef terasa dingin. Lorongnya sedikit gelap. Sunyi sekali. Tak jauh dari biara, terdengar sesekali suara bunyi lonceng dari Kathedral Cristo Regi, Jalan Kathedral, Ende, Flores. Seekor anjing tertidur lelap di bawah pohon yang daunnya rindang.

“Saya sudah baca bukunya…apa nama judulnya?…jurnalisme?” kata Martin Bishu mengernyitkan dahi.

“Antologi Jurnalisme Sastrawi,” kata saya mengingatkan.

“Ya. Jurnalisme Sastrawi. Saya suka tulisannya Chik Rini. Alfian soal serdadu…soal perdagangan senjata…ngeri,ya,” katanya. Suaranya pelan.

Ia membakar rokok kretek. Anjing berwarna coklat itu bangun dan mendekat. Menyapa, tuannya. Dan mendengar percakapan sore itu, 27 Mei 2008. Di sudut belakang gedung biara yang teduh itu.

Dua minggu sebelumnya saya memberinya hadiah. Sebuah buku kumpulan tulisan dari beberapa wartawan yang menulis secara mendalam dan memikat. Dari liputan soal Acheh, soal terorisme hingga musik. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pantau pada Oktober 2005 silam.

Martin Bishu tengah menghabiskan waktu liburan di tanah kelahiranya, Pulau Flores. Ia berasal dari Bajawa. Sebuah kota kecil yang terletak di sebelah bagian barat Ende. Sudah 14 tahun ia bekerja sebagai misionaris di Paraguay, Amerika Selatan. Sebuah negara kecil yang ikut memberi warna dan meramaikan gejolak politik di kawasan Amerika Selatan.

Beberapa tahun terakhir ini politik di Amerika Selatan menjadi perhatian dunia. Mereka adalah Hugo Chavez yang melakukan nasionalisasi perusahaan minyak di Venezuela, Evo Moralez di Bolivia dan terakhir lengsernya presiden Kuba, Fidel Castro. Kehadiran mereka memberikan nuansa politik dunia lain. Ketika publik hanya mendapatkan tontonan dari kekonyolan politik Amerika dalam menyerang Irak maupun kemunculan terorisme abad 21.

Martin Bishu melihat bagaimana perkembangan Paraguay secara dekat. Bahkan, ia tergerak dan ikut terlibat dalam gejolak politik di Paraguay itu. Politik Paraguay pada dekade tahun 1990 tak ubahnya seperti gejolak yang terjadi di Indonesia. Memasuki masa transformasi dari kebengisan rezim sebelumnya yang otoriter, diktator dan menindas.

Paraguay menjalani kehidupan politik dan sosial yang melelahkan sekaligus getir pada masa rezim Jenderal Alfredo Stroessner. Jenderal ini memerintah Paraguay dalam kurun waktu panjang dari tahun 1954 hingga 1989.

“Ia berkuasa hampir 35 tahun. Ada usaha-usaha transisi yang bagus. Tapi rejim diktator begitu sistematis, sehingga kebudayaan dan cara berpirkir yang komprehensif tidak ada. Pada masa itu kelas-kelas menengah dikebiri. Dibunuh. Dibuang. Dia mengeliminasi kreativitas intelektual supaya menghindari diri dari gejolak politik. Caranya seperti rejim Soeharto,” katanya.

Ia mengingatkan pada seorang mantan sosok presiden Indonesia, Soeharto yang memimpin selama 32 tahun. Soeharto meninggal dunia awal tahun 2008 di Jakarta karena terserang berbagai penyakit kronis. Selama masa kepemimpinannya ia melakukan banyak kekerasan untuk menghentikan gejolak politik yang tidak suka dengan kebijakannya.

Ia membangun militer dan melonggarkannya untuk terlibat dalam bisnis. Soeharto melumpuhkan warga dan oposisinya dengan cara otoriter, dingin dan mengakibatkan tindakan kejahatan hak asasi manusia yang tidak sedikit. Dari gejolak politik di Acheh, Irian Jaya-Kini, Papua-hingga Timor-timur dan kini menjadi negara berdaulat setelah referendum tahun 1999.

“Segala struktur yang berlawanan mesti diubah atau dieliminasi secara paksa. Bisa lewat undang-undang atau melalui jalan kekerasan. Bahkan lebih kejam daripada Indonesia. Zaman Orde Baru kita masih diming-iming kebebasan semu. Tidak terang-terangan. Di sana terang-terangan. Langsung dibunuh atau dipotong kepala kamu. Sebuah rezim kekerasan otoriter bukan hanya sistematis, tapi menjurus sarkastis. Itu sarkasme kekuasaan,” katanya.

MARTIN Bishu menginjakkan kakinya di Paraguay pada tahun 1994. Ia seorang pastor dari Serikat Sabda Allah atau SVD. Sebuah ordo dari Gereja Katolik yang lahir pada 1875.

Pesawat yang ia tumpangi mendarat di Bandara Ceilo Pettirosi. Di atas langit, tidak tampak Paraguay. Apalagi terlihat gedung-gedung yang menjulang tinggi seperti di layaknya kota besar macam, Jakarta. Pohon-pohon terlihat hijau dan menutupi sebagian besar kawasan Paraguay. Termasuk gedung-gedung perkantorannya.

Paraguay tidak mengalami restorasi perwajahan hebat era tahun 1970an. Ketika di sebagian besar negara lain, termasuk Indonesia-Jakarta- mengalami pembangunan hebat. Akibat suburnya pertumbuhan ekonomi dalam skema kapitalisme dunia. Termasuk diuntungkan oleh perdagangan minyak dunia.

Sebelum berangkat ke Paraguay, ia bertemu dengan seorang uskup asal Paraguay. Namanya, Fernando Lugo. Lengkapnya, Fernando Armindo Lugo Mendez. Lahir 30 Mei 1949 di San Pedro del Parana. Perawakannya gagah. Pertemuan itu pada tahun 1993.

“Kamu mau bantu di keuskupan saya?,” kata Fernando Lugo

“Kalau mau berjuang, kamu harus pergi dan hidup di Paraguay dengan saya,” katanya.

Lugo bercerita bahwa ia mengenal dekat orang Indonesia ketika belajar agama di Roma, Italia. Tidak banyak perbedaan antara orang Paraguay dengan Indonesia. Namun, orang Paraguay lebih ekspresif dan spontan. Urusan bahasa itu nomor dua, katanya. Tapi, ia minta agar Bishu mau bekerja di kampung-kampung.

Marthin Bishu tak habis pikir tawaran itu datang dari seorang uskup asal Paraguay. Mengapa ia harus meninggalkan kampungnya di Bajawa, Pulau Flores yang nasibnya juga sama-sama miskin. Miskin di belahan negara manapun tetap sama konotasinya.

Ia belajar Bahasa Spanyol. Bahasa ini menjadi bahasa nasional di banyak negara Amerika Selatan. Termasuk mempelajari bahasa nasional kedua Paraguay, Guarani. Setahun pertama ia habiskan waktunya untuk melihat kondisi kehidupan kampung-kampung di Paraguay.

Ia melihat nasib kehidupan di perkampungan buruk. Air minum untuk kebutuhan sehari-hari sama-sama digunakan untuk keperluan peternakan. Tempat penampungan air juga menjadi sarang jentik nyamuk dan cacing-cacing.

Kemiskinan di perkampungan Paraguay pelik. Anak-anak menjadi buruh sebagai penjaga dan pemberi pakan di peternakan sapi. Para petani bukan menjadi pemilik lahan yang bisa mengatur dan bercocok tanam apapun sekehendak hatinya.

Buruh-buruh yang bekerja di perkotaan juga nasibnya tak jauh malangnya dari para petani. Tinggal dalam gubuk-gubuk reyot. Sementara birokrat, kalangan tentara dan pengusaha dalam kondisi yang nyaman dan mapan.

Paraguay menjadi lahan basah untuk bisnis obat-obatan terlarang. Dari coccaine, heroin hingga ganja. Perdagangan perempuan dan anak hingga perdagangan gelap barang-barang komoditas sehari-hari. Mulai dari pakaian hingga rokok kretek merk Gudang Garam dari Indonesia. Barang-barang ilegal ini melalui Taiwan dan masuk ke Kolombia maupun Chile dengan harga yang relatif murah karena bebas pajak.

Kebijakan pemerintah juga tidak berpihak pada rakyat. Salahsatunya masalah kebijakan pertanian. Pemerintah Paraguay tak belajar banyak pada kegagalan pertanian dengan metode Revolusi Hijau yang pernah dikembangkan oleh negara-negara agraris lainnya di dunia.

Revolusi Hijau dalam pertanian meninggalkan residu kimia yang ternyata memperburuk kondisi lahan pertanian. Termasuk mempunyai implikasi buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Paraguay mendongkrak hasil kedelainya dengan benih-benih transgenik dengan mekanisasi. Ratusan unik traktor mengeruk tanah dan menggantikan tenaga manusia. Paraguay hendak melakukan efisiensi produksi dan memangkas ongkos tenaga manusia yang jauh lebih mahal. Akibatnya, ribuan pengangguran terjadi di Paraguay.

Sebuah lembaga internasional yang bermarkas di Berlin, Jerman, Transparansi Internasional menempatkan Paraguay pada tahun 2005 sebagai negara terkorup peringkat kedua di dunia setelah Haiti. Saat ini penduduk Paraguay sebanyak 6 juta jiwa dengan angka kemiskinan sebanyak 33 persen. Dengan pendapatan setiap hari kurang dari $ 2 dollar.

Dari perjalanan ke kampung-kampung itu ia mengerti maksud perjuangan oleh Fernando Lugo. Tak sedikit umatnya bercerita tentang pembunuhan hingga penculikan yang pernah dilakukan oleh rezim Jenderal Alfredo Stroessner.

“Ini tidak bisa ditolerir. Saya berkenalan dengan sekelompok yang ekstrem. Dan mereka mau melawan rezim dengan mengangkat senjata. Tapi kemudian diredam dengan kegiatan pastoral. Perlawan senjata itu tidak boleh,” katanya.

Fernando Lugo mengingatkan agar semua imamnya berangkat dari penderitaan umat sebagai titik tolak pewartaan gereja. Ia hendak memberi daya bahwa aktivitas gereja tak cukup hanya disibukkan dengan kegiatan liturgi atau sakramen lainnya seperti misa, misalnya.

“Baptiskan orang, oke. Tapi setelah dibaptiskan itu orang jangan sampai mati, apa artinya baptis anak kecil yang busung lapar? Jangan sampai terlambat. Mereka yang kaya makan semua yang ada,” kata Bishu.

Kegelisahan Fernando Lugo terhadap penindasan dan kemiskinan bukan muncul begitu saja. Jauh-jauh hari gereja-gereja di Amerika Selatan telah melahirkan banyak para imam, pastor dan uskup yang revolusioner dan progresif. Mereka gerah dan tidak betah melihat kesenjangan, penindasan dan ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat, bangsa dan negaranya. Mereka mengambil sikap; melawan!.

“Kamu mau berpihak pada siapa. Saya tidak bisa memaksa kamu,” kata Fernando Lugo kepada Martin Bishu.

Juni tahun 1999 ia tengah membaptis orang di Paroki Saint Blas, Kecamatan Guajewi. Ia bersama pastor lainnya bekerja di Kampung Lusbeja. Ketika membaptis terlihat air penuh dengan cacing dan kotor. Pastor meminta agar mengganti air yang bersih. Namun Martin tidak menemukan air bersih tersebut. Setelah upacara pembaptisan selesai, Martin ingat pada hidangan makanan sebelumnya. Sup dan segelas kopi.

“Jangan-jangan dari air itu. Sejak itu saya merasa ditantang. Saya mau berada dibarisan uskup,” katanya.

NAMUN perjuangan ini memancing reaksi keras dari kalangan konservatif Kristen Katolik yang bermarkas di Vatikan, Roma. Mereka adalah kalangan yang mempertahankan tradisi gereja, mendukung otoritas hirarkis dan ortodoksi doktrinal gereja.


Robert Mirsel menulis artikel yang cukup panjang dan rinci mengenai fenomena gerakan dan polemik ini di kalangan gereja Katolik. Dalam artikelnya yang berjudul Teologi Pembebasan: Antara Refleksi Imam dan Gerakan Sosial dalam Jurnal Ledalero, terbitan Desember 2007 mengatakan kalangan konservatif ini cenderung memandang persoalan sosial sebagai masalah personal dan bukannya struktural.

Peran paling cocok bagi Gereja Katolik adalah menjalankan cintakasih konvensional dan hanya memberikan tuntunan moral bagi masyarakat. Kelompok konservatif ini menolak analisis sosial ala Marxis bahkan dianggap berbahaya dan tidak sejalan dengan iman Kristiani.

Revitalisasi peranan Gereja Katolik di Amerika Selatan tumbuh pada dekade tahun 1930-an hingga 1980-an. Ketika politik dan kondisi sosial di Amerika Selatan jatuh ke tangan-tangan rezim yang menindas dan otoriter. Gereja Katolik hendak menuntut dan melakukan perubahan terhadap sistem-sistem yang menindas terhadap masyarakat.

Kondisi politik dunia juga memasuki tahap baru yang dikenal dengan istilah Perang Dingin antara kekuatan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketegangan ini berdampak pada negara-negara lainnya yang tengah bergeliat akibat perang dunia kedua. Pilihannya hanya ada dua: mengikuti Amerika Serikat atau pilih Uni Soviet. Blok-blok ini menguat seiring ideologis yang ditawarkan. Demokrasi atau Komunisme.

Para uskup tahu betul kondisi ini juga berdampak langsung terhadap kawasan Amerika Selatan. Apalagi Kuba-negara kecil di ujung Amerika Selatan-baru saja merayakan kemenangan revolusinya untuk mendepak diktator Fulgencio Batista pada tahun 1959. Kuba kemudian dipegang oleh seorang tentara revolusioner, Fidel Castro selama 49 tahun lamanya. Dan bisa berdampak terhadap orang-orang Katolik.

Tahun 1968 para uskup Amerika Selatan mengadakan konferensi internasional di Medellin. Sikapnya jelas. Gereja hendak menawarkan sebuah teologi baru; Teologi Pembebasan. Sebagai salahsatu gerakan alternatif sosial yang berbasis komunitas agama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi maupun politik. Tujuannya, pembebasan bagi kaum tertindas yang mengalami kemalangan sosial.

Para pengusung Teologi Pembebasan pun lahir dari ide dan gagasan para pastor yang progresif tersebut. Diantaranya Gustavo Gutierrez, Clodovis Boff. Keduanya tidak hanya mengurai kerumitan sosial melalui aksi dan pikiran. Namun menjadi agen-agen pembaharuan yang bekerja bersama dengan kaum miskin. Gutierrez bekerja di kawasan kumuh di Rimac kota Lima, Peru. Sementara Boff menghabiskan waktunya di hutan pedalaman Amazon, Brazil bersama suku-suku terasing.

Robert Mirsel salahsatu dosen yang mengajar studi filsafat Ledalero di Maumere, Pulau Flores. Ia juga aktif sebagai peneliti di Pusat Penelitian Candraditya. Mirsel sendiri lulusan Catholic University of America dan mempelajari soal sosiologi.

“Akhirnya, Teologi Pembebasan mengadung utopia, yakni tentang Manusia baru dan Masyarakat Baru. Tujuannya Teologi Pembebasan adalah sebuah panggilan untuk membebaskan (masyarakat manusia) dari eksploitasi dan menciptakan “manusia baru” dan “masyarakat baru”, dimana tidak ada lagi kemiskinan yang menyengsarakan, egoisme, korupsi dan penindasan,” tulisanya dalam Jurnal Ledalero tersebut.

Beberapa dokumen gereja menjadi pijakan gerakan ini. Diantaranya Ensiklik “Quadragesimo Anno” atau Empat Puluh Tahun “Revorum Novarum” yang dikeluarkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1931 dan membicarakan masalah eksploitasi ekonomi dan kritik soal kapitalisme liberal, “Mater et Magistra” atau Bunda dan Pengajar tahun 1961. “Pacem in Terris” atau Damai di Bumi tahun 1963 yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes XXIII hingga Vatikan II tahun 1962 - 1965.

Gerakan pengusung Teologi Pembebasan juga semakin tangguh dengan kehadiran organisasi yang lebih rapi. Misalnya, Helder Camara dan manuel Larrain yang mengorganisir dan memperluas Konferensi Nasional para Uskup Brazil atau CNBB dan Konferensi Para uskup se-Amerika Latin atau CELAM.

Dukungan lain dari organisasi gereja lainnya seperti Kaum Kristiani untuk Sosialisme tahun 1970 dan memunculkan jurnal-jurnal serius macam Svir di Meksiko, Puebla di Brazil, Iglesia Nueva di Kolombia dan Contacto di Peru.

Dekade tahun 1980an Vatikan melakukan sejumlah investigasi terhadap gerakan dan pengusung Teologi Pembebasan tersebut. Khususnya terhadap Gustavo Gutieerrez dan Leonardo Boff. Keduanya telah diselidiki sejak tahun 1976 dan 1980.

Kardinal Joseph Ratzinger seorang kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman dari Vatikan mencatat soal hasil investigasi tersebut. Dan menyatakan bahwa gerakan Teologi Pembebasan merupakan ancaman fundamental terhadap iman gereja. Para uskup yang progresif kemudian digantikan oleh uskup dari kalangan konservatif. Dekade tahun 1980an membuat gerakan Teologi Pembebasan ini menjadi redup dan berada di titik nadir. Habis?

TEOLOGI pembebasan seperti akar rumput. Ia bisa menjalar ke mana saja. Vatikan luput bahwa kebijakan tersebut hanya mencabut rumputnya. Namun akarnya tidak. Di sisi lain kalangan konservatif yang menawarkan rekonsiliasi sebagai alternatif menyelesaikan konflik mengalami kebuntuan seiring refresi militer yang terus meningkat. Dan penderitaan serta penindasan semakin merajalela dan dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian yang berarti.

Akar-akar rumput ini tumbuh dengan sendirinya. Pengalaman dan perjuangan membuatnya lebih berdaya untuk membangun jejaring basis-basis yang lebih kuat dan rapi. Perlawanan terhadap kondisi ini tidak hanya muncul di dalam gerakan gereja itu sendiri. Namun menjalar ke luar dari basis gereja.

Mulai dari kalangan petani hingga buruh yang mengorganisir sendiri dan menyatakan perang terhadap penindasan dan kemiskinan. Sementara gereja masih dalam intervensi lembaga doktrinal Vatikan. Teolog-teolog macam Leonardo Boff dan Gustavo frustasi akibat pengekangan tersebut.

“Segala pemikiran dogmatis itu ada di Vatikan. Tapi di Amerika latin tidak. Kami tahu umat, kami harus hidup bersama dengan umat. Jadi penderitaan di sana mempengaruhi cara orang mempercayai Tuhan. Penderitaan dan pengalaman itu mencari solusi, refleksi membentuk kerangka Sosialisme, Marxisme, bukan hanya berteologi. Analisis dan metode berpikir mengarah pada option atau keberpihakan,” kata Bishu sambil tak henti-hentinya membakar rokok kreteknya.

Bishu bekerja di bawah Keuskupan Fernando Lugo. Bathinnya bergolak melihat kemiskinan di Paraguay. Ia melihat kemiskinan lebih jauh. Menurutnya kemiskinan bukan karena faktor alam atau kebetulan.

Ada kondisi struktural yang menciptakan orang menjadi miskin. Kondisi ini semakin parah ketika masa transisi dari rezim diktator ke tahap reformasi yang sama sekali masih mentah. Kemiskinan ini akibat dari penerapan model ekonomi neoliberalisme yang akut.

“Kami dari gereja melihat itu sebagai penyebab kemiskinan. Kemiskinan struktural dengan model neoliberal. Dan visiblehead-nya pasar bebas,” katanya.

Pasar bebas adalah suatu sistem ekonomi yang berlaku sesuai prinsip penawaran dan permintaan. Sistem ini tanpa melibatkan pemerintah untuk terlibat dalam mengatur pasar. Hanya kalangan swasta maupun perorangan yang kuat yang akan menguasai pasar dan distribusi barang.

Pasar bebas dinilai akan membabat para pelaku usaha maupun produsen yang masih tergolong lemah. Selain itu, pasar bebas juga akan mendorong terjadinya privatisasi terhadap semua bentuk pelayanan publik yang selama ini dikuasai oleh negara.

Negara-negara kuat terus mengkampanyekan sistem ekonomi pasar bebas ini. Dan ini berlangsung juga di Benua Amerika. Di mana Amerika Serikat dan Kanada menjadi dua negara paling agresif dalam mendorong penerapan pasar bebas tersebut.

“Tidak mungkin kita menjual tomat ke Amerika Serikat yang kondisi higienisnya tidak bisa dipenuhi. Masa kita mesti bergabung dalam pasar bebas dengan pesaing yang tidak ada saingannya. Gereja protes. Ini tidak bisa, ” katanya.

Gerakan sosial dan gereja mengambil inisiatif untuk melawan kampanye pasar bebas tersebut. Mereka membuat blok-blok diskusi antar negara di kawasan Amerika Selatan. Fernando Lugo ikut dalam barisan depan menentang model pasar bebas tersebut. Ia melihat model tersebut hanya membuat perekonomian lokal sekarat. Ia bersama gerakan sosial lainnya membuat referendum di hampir semua negara Amerika Selatan. Hasilnya menolak penerapan pasar bebas tersebut.

Beberapa aktivis maupun kelompok pemerhati pasar bebas dan Bank Dunia terus mengkampanyekan isu eksploitasi ekonomi dan tenaga kerja ini. Perlawanan ini dikenal dengan istilah sweatshop.

Gereja di bawah Fernando Lugo menjadi sebentuk wajah lain. Di mana gereja menjadi basis untuk mengusung dan melawan kemiskinan dan penindasan. Gereja harus bersikap dan tidak bisa membiarkan kaum miskin menjadi lebih banyak. Sementara golongan mapan semakin kaya. Ia juga mengajak kalangan pastor dan imam lainnya untuk tidak berjarak dengan kehidupan umatnya.

“Bila ada hal yang paling menyakitkan saya, maka itu adalah ketidakadilan dan terutama ketidakadilan sosial,” kata Lugo.

Fernando Lugo adalah arsitektur perubahan Paraguay. Ia menjadi antithesis terhadap dominasi kekuasaan politik Paraguay di bawah Partai Colorado. Partai yang menguasai cukup panjang menemani rezim Jenderal Alfredo Stroessner.

Benih-benih pemberontakan Lugo datang ketika ia bekerja sebagai seorang guru. Ia menolak menjadi anggota Partai Colorado. Ketika Colorado menjadi satu-satunya partai wajib bagi setiap guru.

Ia memilih untuk mengajar di perkampungan yang terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Lantas ia bergabung dengan SVD di Encarnacion dan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universidad de Nuestra Segnora de Asuncion dalam studi agama.

Pada tahun 1977 hingga 1982 ia bekerja sebagai misionaris dengan suku-suku asli di Bolivar, Ekuador. Di sana ia bertemu dengan uskup Leonidas yang memberinya inspirasi untuk membantu dan membela orang miskin. Intelektualnya semakin tajam ketika meneruskan pendidikannya di Roma pada tahun 1982 dan mempelajari ajaran sosial gereja.

Lantas pada 5 Maret 1994, Lugo menjadi seorang uskup di San Pedro. Ini adalah kawasan cadas dan merupakan wilayah termiskin di Paraguay. Lugo tak sendirian. Ia terus memompa dan mengasah kesadaran para imamnya. Salah satunya, Pastor Martin Bishu yang datang jauh-jauh dari Bajawa, Pulau Flores. Termasuk membangun jaringan dengan sayap-sayap gerakan lain yang menginginkan perubahan di Paraguay.

Aktivitasnya itu menuai kritik dari kalangan gereja dari kelompok konservatif. Bahkan Vatikan memberikan teguran. Bahwa pernyataan dan gerakan politik dari Lugo sudah melanggar Hukum Kanon Gereja Katolik. Vatikan meminta agar dirinya menarik diri dari aktivitas politik. Lugo bersikap, ia menghormati sikap Vatikan termasuk kalangan konservatif yang menegurnya.

Ia melakukan pembelaan. Ia mengakui bahwa dirinya terlibat dalam politik praksis. Namun dirinya membantah bahwa dia memiliki partai untuk mendapatkan kekuasaan politik. Vatikan pun memberikan suspensi dan melarang Lugo untuk menjalankan ritual seperti misa maupun sakramen lainnya. Fernando Lugo kemudian memberikan pernyataan publik pada tanggal 25 Desember 2005. Ia mundur dari keuskupan.

“Saya bilang kau keluar saja dengan alasan kesehatan. Kami minta dia keluar dari uskup. Tidak usah tipu-tipu. Sekarang sudah jadi warga biasa,” kata Bishu sambil tertawa.

Fernando Lugo tidak punya beban untuk mengurusi kegiatan gereja. Ia mulai menghimpun dan mengonsolidasikan internal gerakan politik dan sosialnya. Pemerintah mulai mengetahui gerakan bawah tanah Fernando Lugo.

Ratusan pemimpin komunitas basis di perkampungan-perkampungan sudah mulai diciduk oleh aparat. Namun tindakan dari aparat tersebut tidak menciutkan nyali-nyali kelompok Lugo. Bahkan membakar semangat kaum miskin, petani dan buruh untuk bersatu.

Komunitas basis terus melakukan pemberdayaan dan membangun kesadaran politik. Baik melalui kelompok-kelompok diskusi hingga koperasi. Gerakan tersebut muncul dengan sendirinya tanpa campur tangan bantuan dari luar negeri. Komunitas basis mulai membangun sarana-sarana publik seperti rumah sakit sederhana dan rumah makan untuk kaum miskin.

“Umat sudah menyiapkan diri. Kaum tertindas itu harga dirinya harus diangkat dalam lingkup apapun. Baru bisa mengekspresikan diri. Berarti harus ke luar dari lingkungan,” katanya.

Lugo dan Bishu sadar ternyata gerakan pemberdayaan tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang besar untuk melakukan perubahan di Paraguay. Bagaimanapun, melakukan reformasi butuh peluru yang besar. Dan tidak cukup dengan mendirikan koperasi maupun menghimpun kekuatan melalui kelompok-kelompok diskusi kecil.

“Kita tidak menyembuhkan penyebab miskinnya, semakin banyak mengumpulkan dana semakin banyak jumlah orang miskin yang minta. Semakin memberi makan banyak semakin banyak pula orang yang lapar,” katanya.

Lugo berpikir keras. Ia mencari tahu akar dari persoalan penyakit kemiskinan tersebut. Perdebatan pun terjadi. Kesimpulannya, penyakit kemiskinan itu adalah neoliberalisme. Dan korupsi struktural membuat kaum miskin semakin terpuruk. Sistem birokrasi Paraguay membuat orang menjadi korup dan rakus.

Lugo show off di jalanan. Dan membawa bendera Alianza Patriotica para el cambio atau Aliansi Patriotik untuk Perubahan. Ribuan massa melakukan aksi demonstrasi dengan menutup kawasan jalan tol. Alun-alun kota menjadi pusat episentrum aksi untuk menyatakan perang terhadap kemiskinan dan korupsi. Aksi ini terus mendapatkan dukungan dari warga Paraguay. Dari kalangan pelajar dan partai oposisi.

Aksi ini mengundang perhatian media nasional maupun internasional. Jantung ibu kota Paraguay, Asuncion lumpuh. Jalanan macet total. Mereka melakukan aksi dengan cara jalan kaki selama empat hari. Dengan membawa atribut demonstrasi dan menyatakan perang terhadap kemiskinan dan korupsi. Massa aksi ini diikuti hampir 80 ribu. Pemerintah tahu bahwa Lugo ada dibelakang aksi ini. Pemerintah juga menuduh dirinya sebagai dalang terjadinya kerusuhan ambil paksa lahan-lahan dari tuan tanah.

“Di paroki saya ajak umat bagaimana berdemonstrasi, membuat pamplet, propaganda, membuat latihan untuk bertahan diri, tapi selalu kami minta agar perjuangan mereka jangan mengarah ke anarkis,” kata Bishu. Menurutnya, aksi unjuk gigi ini untuk menunjukkan people power dan cinta kasih. Namun, aksi ini jangan sampai berbuntut panjang dengan aksi kekerasan. Apalagi mati konyol karena kepentingan.

Pemerintah gerah dengan aksi tersebut. Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengatur segala bentuk ekspresi publik. Sedikitnya undang-undang ini telah menyeret 30 ribu para pemimpin basis ke dalam penjara. Gerakan aksi mundur untuk menghindari kekerasan dan intimidasi. Dua tahun lamanya gerakan ini bertahan dan mengumpulkan kekuatan di komunitas basis-basis. Namun, aksi ini sesekali muncul jika momen politik tengah stabil.

Lugo berpendapat bahwa hukum formal di Paraguay sangat koruptif. Ia mendesak reformasi di tubuh Mahkamah Agung untuk menyelamatkan konstitusi Paraguay. Ia mengatakan dasar ideologi aksi tersebut adalah tengah-kiri. Namun haluannya berhilir pada sosialisme.

Dia berpendapat konsep ideologi kiri maupun kanan sudah usang. Pemerintahan, menurutnya, harus berdiri di atas kepentingan ideologis apapun. Lugo melihat pertumbuhan China sebagai bentuk pelajaran penting untuk meletakkan dasar Paraguay ke depan.

“Dia menjadi jembatan dari dua ekstrem ini. Artinya ada hal-hal baik dari neoliberalisme maupun sosialisme. Dan keduanya butuh pencernaan ulang. Ada sistem yang baik dari sana. Bangun sistem yang baru itu menjadi tantangan yang sulit bagi dia,” katanya.

Suatu malam ia dan Lugo kedatangan seorang intelejen dari Spanyol. Intelejen tersebut bekerja untuk tiga negara, Uruguay, Argentina dan Paraguay. Dan menanyakan bagaimana Lugo akan membawa Paraguay ke depan? Intelejen itu curiga bahwa Paraguay akan berkiblat kepada Venezuela dan Bolivia. Dan mengambil kebijakan yang cukup ekstrem terhadap pembangunan ekonominya.

Lugo menilai Venezuela dan Bolivia menerapkan konsep sosialisme sempurna. Konsep itu bisa diterapkan di kedua negara tersebut mengingat latarbelakang kondisi etnik dan agamanya tidak terpolarisasi. Namun konsep tersebut kurang cocok dengan kondisi budaya, sosial dan politik Paraguay.

Ia melihat perjuangan Evo Morales kental dengan perjuangan etnis Indian yang menjadi mayoritas di Bolivia. Kebijakan estrem melakukan nasionalisasi perusahaan minyak ala Hugo Chavez juga bisa menjadi bumerang bagi Venezuela.

Ia melihat China menjadi negara yang cocok menjadi panutan Paraguay. China sudah menanggalkan konsep ekonomi komunisnya. Namun merayap dengan halus menjadi sebuah raksasa ekonomi baru. Ia merasa demokrasi China ke depan akan jauh lebih kuat ketimbang di Amerika Selatan maupun negara pengusung demokrasi lainnya.

SAAT ini Fernando Lugo berdiri di bawah bendera Aliansi Patriotik untuk Perubahan yang menggabungkan sekitar 14 aliansi partai oposan. Aliansi ini menjadi motor penggerak untuk mengantarkan dirinya mengikuti pemilihan umum presiden Paraguay. Dukungan lain juga datang dari warga-warga kaum miskin dan buruh yang meminta dirinya menjadi seorang pemimpin Paraguay berikutnya.

Hasilnya, pemilihan umum presiden tersebut membaptisnya menjadi seorang presiden Paraguay dengan mengalahkan calon lainnya dari Partai Colorado maupun dari calon militer. Ia mendapatkan dukungan suara sebanyak 41 persen. Rencananya pelantikan dirinya berlangsung pada Agustus 2008 nanti. Evo Morales menyambut gembira atas hasil kemenangan suara yang diraih oleh Fernando Lugo. Beberapa presiden lain di Amerika Selatan juga menyatakan hal yang sama.

“Tapi kami tidak berpretensi dia isa membuat mukjizat. Kami hanya mau dia bisa menjadi agen transisi yang sebenarnya. Melaksanakan kewajiban presiden tidak mudah,” kata Bishu mengingatkan.

Lugo, menurutnya, harus menjaga agar aliansi itu tidak pecah. Ia mengingatkan kasus yang terjadi di Haiti. Presidennya terpilih secara demokratis dan tergolong presiden yang baik. Namun, justru orang-orang sendiri merobek dan mendongkelnya dari dalam untuk mencari kepentingan politik sendiri.

“Ada yang mengatakan Lugo tertarik dan mengajak Anda untuk menjadi penasehat presidennya. Apa betul?,” kata saya.

Martin Bishu tersenyum. Namun, ia bilang bahwa dirinya adalah warga negara asing. Dan tidak mungkin memangku jabatan sebagai penasehat presiden Paraguay. Namun, ia tetap menjadi sahabat Fernando Lugo. Dan akan memberikan masukan maupun kritikan terhadap kebijakan pemerintahan di bawah Fernando Lugo. Ia menemukan pengalaman dan pelajaran menarik. Apalagi bisa bersentuhan langsung dengan perjuangan masyarakat Paraguay dalam memerangi kemiskinan dan korupsi.

Kemiskinan dan korupsi menjangkit negara-negara miskin. Termasuk Indonesia. Korupsi dan kemiskinan juga menjadi penyakit kronis dan mewabah. Dari Jakarta, Acheh, Papua hingga Ende di Pulau Flores ini. Wajah kemiskinan maupun korupsi sama. Wajah pemerintahan yang otoriter dan menindas juga sama.

Dua bulan sudah ia melepas lelah di Pulau Flores ini. Ia melihat Flores masih dengan wajah yang sama. Tidak jauh berbeda dengan 14 tahun yang lalu. Namun kondisi masyarakatnya semakin terpuruk. Ia jengah mendengar korupsi yang terjadi di Flores hingga kampungnya sendiri di Ngara, Bajawa. Anak-anak kecil kekurangan gizi. Birokrasi menjadi elit dan membiarkan kelaparan berlangsung di masyarakat.

“Semangat perubahan kita itu sangat terpolarisasi oleh etnis dan religius. Apa pun yang angkat ke permukaan selalu isu itu. Itu menjadi empuk bagi penjilat atau penguasa. Indonesia bisa mendapatkan kemerdekaan tahap kedua kalau kita bebas dari kungkungan etnis dan religius. Untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Kita belum merdeka,” katanya lirih.