27 October 2008

Budi Prasetiadi, mural, Tiada Ruang Art Community




Mural di Surabaya memang belum semarak di Jogjakarta. Namun, kini kita bisa menikmati lukisan dinding itu di sejumlah sudut kota. Temanya fokus dan jelas. BUDI PRASETIADI adalah salah satu tokoh di balik Tiada Ruang Art Community, penggerak mural Surabaya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dengan Budi Prasetiadi, koordinator Tiada Ruang, di Gedung P, kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.



Bisa dijelaskan proses terbentuknya Tiada Ruang Art Community?

Komunitas itu muncul karena ada kegelisahan di antara saya, Mas Obed (Bima Wicandra), dan teman-teman di Desain Komunikasi UK Petra. Kita mau bikin apa? Masak, setiap hari hanya ngajar, memberi kuliah, pulang ke rumah, besoknya ngajar lagi, dan seterusnya. Lalu, sekitar tahun 2005 kami mencetuskan ide membuat mural yang murah. Waktu itu pakai tripleks. Para mahasiswa, dosen, dan karyawan dilibatkan dalam gerakan ini.

Mengapa tidak melukis langsung di tembok UK Petra?

Idealnya sih begitu. Tapi di universitas itu kan ada birokrasi, harus mengurus perizinan, dan pertimbangan-pertimbangan lain. Termasuk mempertimbangkan persepsi pihak luar seperti masyarakat sekitar serta pemerintah kota. Maka, kita coba dulu di tripleks. Lantas, kita bikin festival mural tahun 2006.

Festival mural itu di luar dugaan mendapat respons yang sangat bagus. Tidak hanya mahasiswa, dosen, dan karyawan Desain Komunikasi, tapi juga yang lain. Karya-karya yang dihasilkan banyak sekali, ratusan. Itu mau diapakan? Yah, dipamerkan. Tapi, karena baru proyek uji coba, lukisan di tripleks itu diarahkan ke dalam kompleks kampus. Padahal, mestinya kan diperlihatkan ke luar agar bisa disaksikan masyarakat yang melintas di Siwalankerto.

Ada ide memamerkan karya-karya itu di tempat umum?

Ada. Bahkan, kami sempat membawa 60 karya untuk dipamerkan di Balai Kota Surabaya. Wali Kota Bambang DH dan Wakil Wali Kota Arif Afandi sangat antusias dengan karya-karya tersebut. Bahkan, sempat tercetus ide agar suatu ketika kami bisa melakukan muralisasi di seluruh Surabaya. Kita sedang menunggu kapan ide itu direalisasikan.

Sejak itu komunitas Tiada Ruang terbentuk?

Yah, awalnya sih Tiada Ruang itu tidak ada mahasiswanya. Hanya sekitar 15 anggota saja. Kita ingin memberdayakan karyawan Petra yang memang punya potensi. Kita mulai bergerak keluar, uji coba, di jalan masuk Siwalankerto. Respons masyarakat cukup bagus. Dan itu semakin memotivasi kami untuk melakukan gerakan muralisasi di Surabaya.

Titik-titik mana saja yang sudah digarap oleh Tiada Ruang?

Awalnya di Siwalankerto, kemudian Ngagel dua kali, Wonokromo (dekat DTC), terakhir di Dinoyo. Kami sebetulnya sudah siap untuk bergerak lebih jauh lagi. Tapi memang selalu ada kendala karena Surabaya ini kan bukan Jogja. Belum ada persepsi yang sama.

Sebagai alumni ISI Jogja, apa perbedaan mencolok masyarakat Surabaya dengan Jogja?

Jogja itu sangat kondusif untuk gerakan street art seperti mural. Masyarakatnya sangat senang dan bisa menikmati kesenian itu. Beda dengan di sini. Orang Surabaya itu umumnya komersial. Agak susah diajak kerja sama untuk mural. Masak, kita mau melukis di temboknya malah dimintai uang. Mestinya para pelukis itu yang dikasih uang. Hehehe.... Tapi memang perlu waktu, kerja keras, agar mural bisa diterima di Surabaya.

Mungkin karena sekarang ini banyak perusahaan, khususnya seluler, yang membeli tembok untuk dilukis iklan.

Bisa jadi. Itu juga mural, tapi komersial. Kami di Tiada Ruang sudah komit agar komunitas ini benar-benar nonkomersial, nonpolitik, independen.

Lalu, bagaimana dengan gerakan di Jalan Dinoyo yang disponsor sebuah organisasi onderbouw partai politik?

Wah, terus terang, kami kecolongan saat itu. Awalnya ada teman yang mengajak kerja sama karena dulu pun pernah kerja bareng. Saya tidak punya kecurigaan apa-apa. Tapi, setelah di lapangan, kami kaget karena acara itu ditunggangi orang-orang politik. Saya juga kecewa karena cat maupun konsumsinya di bawah standar. Saya sendiri tidak pakai cat yang disiapkan panitia karena kualitasnya jelek.

Apa obsesi Tiada Ruang?

Kami masih menyimpan cita-cita untuk melakukan muralisasi Kota Surabaya. Kami ingin mural diapresiasi oleh seluruh masyarakat Surabaya. Jangan sampai tembok-tembok yang ada di ruang publik dikuasai oleh pesan-pesan konsumsi atau komersial. (*)


Mau Jadi Dosen asal Tetap Gondrong

Sebagai seniman, orang bebas, tak mudah bagi Budi Prasetiadi memulai karir sebagai dosen Universitas Kristen Petra. Dia tak ingin gaya hidupnya berubah hanya karena masuk kampus. Karena itu, sejak awal Budi tak segan-segan mematok syarat yang unik.


"Saya mau jadi dosen asal rambut saya jangan dipotong. Biarkan saya gondrong," kenang Budi Prasetiadi. Ternyata, syarat ini bisa diterima pihak UK Petra. Budi diberi kebebasan untuk menggembleng mahasiswa Desain Komunikasi dengan metodenya sendiri. Metode seniman.

Para mahasiswa lebih banyak berkarya, praktik, ketimbang dicekoki sekian banyak teori dari buku teks. "Makanya, saya lebih banyak berkutat di studio," ujar Budi lalu tertawa kecil.

Kehadiran Budi dan beberapa kawannya yang sama-sama berlatar seniman tak pelak memberi warna tersendiri di kampus UK Petra. Mereka sering bikin gebrakan dengan memamerkan karya-karya mahasiswa, dosen, maupun karyawan. Karena ruang ekspresi terbatas, mereka pun pameran di mana saja.

"Bagaimanapun kampus itu ada aturan main, birokrasi, dan sebagainya. Tapi kami berusaha menembus itu semua dengan kesenian. Dan, ternyata, banyak yang suka," ujarnya.

Penampilan Budi yang gondrong, polos, apa adanya, ala seniman kerap membuat sivitas akademika UK Petra sendiri salah sangka. Mereka mengira Budi Prasetiadi pelukis atau seniman yang sekadar bertamu di UK Petra. "Eh, tahunya dia itu dosen di sini. Soalnya, sosoknya lain sama sekali dengan dosen-dosen lain," komentar salah satu karyawan UK Petra asal Maluku.

Budi mengakui posisinya sebagai dosen memang punya plus minus tersendiri. Paling tidak, urusan nafkah sehari-hari sudah terpenuhi dari gaji bulanan. Namun, kekurangannya, dia tidak bisa produktif menghasilkan karya seperti seniman yang bukan dosen. "Tapi justru dengan begini, kami bisa mempertahankan Tiada Ruang Art Community sebagai komunitas seniman yang nonkomersial dan independen," tegasnya.


BUDI PRASETIADI

Tempat, Tanggal Lahir: Semarang, 28 Oktober 1966
Istri: Sri Lestari
Anak: Dimas Hafiz
Alamat: Bumi Citra Fajar, Sidoarjo

Pendidikan: Institut Seni Indonesia (Jogjakarta), Desain Komunikasi Sosial.
Aktivitas:
Dosen Desain Komunikasi UK Petra
Koordinator Tiada Ruang Art Community

Dansa di Bill Belle Garden Palace Surabaya



Mau belajar dansa suka-suka tanpa bayar? Datang saja ke Bill Belle di Hotel Garden Palace. Setiap malam pasangan suami-istri (atau kekasih) merajut kemesraan dengan berdansa sampai dini hari. Komunitas pedansa Bill Belle bahkan sudah bertahan puluhan tahun.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

JUMAT (24 Oktober 2008), pukul 23.20 WIB. Bill Belle di lantai dua Garden Palace yang tadinya sepi mulai ramai. Delapan pasang suami-istri plus enam pria tanpa pasangan nongkong sambil menikmati lagu-lagu nostalgia yang dibawakan Abouwhim Band. Seorang pria berkacamata, bertubuh subur, terlihat menggoyangkan kepala. Sesekali dia merespons pembicaraan istri serta dua wanita di sampingnya. Tertawanya lepas.

Tiba-tiba, band yang dimotori anak-anak Papua ini mengganti irama. Kristina, vokalias asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, melantunkan Send Me The Pillow. Suaranya merdu merayu. Tanpa banyak pikir, pria lansia itu menggandeng sang istri. Mereka pun berdansa. "Saya dan istri memang paling suka waltz. Orang kalau sudah kenal waltz, wah-wah, seperti kecanduan deh. Kalau nggak dansa, kaki ini rasanya gatal sekali," ujar pria itu kepada saya.

Pria 70-an tahun ini tak lain Buckley RJ Alling dan Jacqueline Toorop. Bahasa Indonesianya lancar, logatnya campuran Belanda dan Manado. Buckley warga negara Belanda, tinggal di kota Voorburg. "Saya liburan satu bulan di Surabaya. Kalau sudah ke Surabaya, saya harus mampir di sini. Itu kebiasaan saya sejak 1970-an," ujar Buckley RJ Alling lalu tertawa kecil. Jacqueline Toorop pun mengiayakan.

Tuan Buckley tidak membual. Beberapa pasutri yang baru datang ramai-ramai menyalami tamu khusus dari Belanda ini. Mereka mengucapkan selamat datang, selamat berdansa di Bill Belle. "Hampir semua orang yang ada di sini saya kenal. Mereka juga kenal saya. Kami kan sama-sama suka dansa," ujar Buckley.

Sebetulnya manajemen Garden Palace tak pernah membentuk komunitas dansa-dansi untuk para lansia. Pihak hotel hanya menyediakan Bill Belle sebagai lounge & bar layaknya hotel-hotel berbintang. Juga tiga band tetap yang menyuguhkan live music: Abouwhim Band, Royal Beat Band, dan Sepherd Band. Namun, entah bagaimana asal-muasalnya, terbentuk semacam komunitas penggemar dansa. Sebut saja Bill Belle Community.

"Kalau dibilang komunitas sih tidak ada. Wong tidak ada organisasi, tidak ada member, tidak ada pengurus. Kita ini datang secara spontan, cari hiburan, kebetulan sama-sama suka menyanyi dan dansa. Kalau ada lagu-lagu yang enak, ya, kita dansa," ujar Frans, pria berdarah Manado yang sudah 54 tahun tinggal di Surabaya.

Sejak kapan Frans menghabiskan malam di Bill Belle?

"Waduh, sudah lama sekali. Yang jelas, sudah 20 tahun lebih. Saya pertama kali ke sini itu waktu masih muda dan ganteng. Sampai usia begini (mendekati 60) saya masih tetap ke Bill Belle," ujar pria yang sangat doyan menyanyi besama Abouwhim Band itu. Frans memirip-miripkan suaranya macam Luois Amstrong, pemusik jazz kondang Afro-Amerika.

Bagi penggemar dansa-dansa, juga penikmat tempat hiburan malam umumnya, Bill Belle dianggap tempat hiburan paling aman. Kenapa? "Nggak ada purel yang harganya Rp 350 ribu itu. Hehehe.... Ini tempat hiburan keluarga. Yang dansa juga suami-istri, keluarga, atau teman sendiri. Orang tidak akan curiga kalau malam-malam kita ke Bill Belle," tukas pengusaha kayu itu.

Abouwhim Band, yang dipimpin Marten Korwa, terus menghadirkan musik di Bill Belle berkapasitas 70 orang itu. Yohana, vokalis asal Sangir, membawakan medley tiga lagu: Moon River, Around the World, dan Selamat Tinggal Sayang. Dua pasangan mendemonstraksikan kebolehannya berdansa. Gerakan kaki mereka lincah. Si perempuan seakan dibawa pasangannya melayang ke langit ketujuh. "Aku ini ya baru belajar, belum apa-apa. Di sini saya hanya menyalurkan hobi," ujar Ita yang mengaku belajar dansa di Balai Sahabat.

Gurunya, A Ming, malam itu hadir di Bill Belle. Instruktur dansa ini mengawasi dengan cermat detil-detil gerakan beberapa anak buahnya yang dinilai kurang sempurna. "Maklum, mereka pedansa amatir. Dansa karena hobi, bukan profesional. Tapi nggak apa-apa, kalau sering latihan, lama-lama gerakannya jadi bagus," kata A Ming kepada saya.

Menurut Frans, krisis ekonomi ternyata ikut mempengaruhi pasang-surut komunitas dansa di Bill Belle. Ketika krisis parah pada 1997, penggemar dansa yang menghabiskan malam lounge andalan Garden Palace ini menurun drastis. Ketika kondisi perekonomian membaik lagi, para penghobi dansa kembali ramai. “Sekarang krisis ekonomi datang lagi. Makanya, seperti Anda lihat sendiri okupansi Bill Belle sekarang tidak sampai 50 persen. Kalau dulu, wah, tiap malam penuh terus,” ujar Frans.


Komunitas dansa di Bill Belle, Hotel Garden Palace, tak bisa lepas dari live music. Para pemusik yang tampil di sini rata-rata sudah kawakan. Bertahun-tahun mereka ditanggap oleh manajemen hotel di Jalan Yos Sudarso Surabaya itu. Abouwhim Band merupakan salah satu band tetap di Bill Belle.

Kehadiran band serbabisa yang diperkuat beberapa pemusik Papua ini ini senantiasa ditunggu oleh para penggemar dansa-dansi. "Biasanya, kalau yang main Abouwhim pasti ramai. Om-om dan tante-tante kayaknya cocok banget sama Abouwhim," ujar seorang pelayan Bill Belle kepada saya.

Abouwhim Band tampil saban Senin, Rabu, dan Jumat. Coba datang ke lounge di lantai dua Garden Palace, Anda niscaya menemukan beberapa pasangan suami-istri (atau kekasih) yang siap melantai hingga larut malam. "Kami memang selalu melayani permintaan para tamu. Mau minta lagu apa saja kami siap. Meskipun basic Abouwhim itu reggae, semua jenis lagu kami bisa," ujar Edward David, pemain perkusi Abouwhim Band.

Sesuai segmen pasar 50 tahun ke atas, Abouwhim mula-mula memainkan lagu oldish untuk pemanasan. Lagu-lagu 1960-an dan 1970-an paling banyak disajikan. Juga lagu-lagu nostalgia Indonesia, termasuk musik pop daerah (Jawa, Sunda, Batak, Manado, Maluku, Papua). Abouwhim mengandalkan Marten Korwa sebagai vokalis utama sekaligus gitaris utama (lead guitar). Marten didampingi Kristina dan Yohana, dua nona manis, vokalis serbabisa.

"Kami juga selalu mengundang penunjung untuk menyanyi. Dan ternyata suara mereka bagus-bagus. Ini sangat membantu karena vokalis kami bisa istirahat sebentar," tukas Edward lalu tertawa kecil.

Kira-kira pukul 23.00 WIB, suasana mulai panas. Ketika sejumlah tamu, yang dikenal doyan dansa-dansi, sudah siap, Abouwhim Band kontan menyesuaikan musiknya dengan irama dansa. Menurut Edward, ada enam macam irama yang 'wajib' dihidangkan untuk pengunjung Bill Belle. Yakni, slow beat, slow rock, waltz, rumba, chacha, jive. "Kita buat variasi supaya orang tidak bosan," kata Edward yang bergabung bersama Abouwhim Band sejak 2000 di Bill Belle.

Ada pengalaman menarik selama mengiringi para pedansa? "Oh, banyak sekali. Setiap malam selalu menarik. Dan itu membuat kami bertahan main di sini sejak tahun 1999," tukas Edward.

Dia menyebut seorang om yang senang sekali berdansa sambil menggoyang-goyang gelas berisi minuman. Ketika musik makin hot, si om naik ke panggung penyanyi dan menyirami beberapa personel band dengan cairan itu. "Awalnya kami takut juga, tapi lama-lama jadi biasa. Enaknya, kalau sudah atraksi, dia bagi-bagi uang ke musisi. Hehehe...," tutur Edward.

23 October 2008

Ndherek Dewi Mariyah di Jawa



Tinggal di Jawa Timur berarti menjadi minoritas. Minoritas Katolik. Orang Kristen (semua gereja entah Protestan, Katolik, Pentakosta, Baptis, dan sebagainya) di sini tak sampai 2%. Bahkan, di banyak tempat hitungannya nol koma nol sekian. Karena umat Katolik sangat sedikit, ya, kita tidak pernah melihat kegiatan-kegiatan "berbau" Katolik di kampung-kampung.

Oktober ini bulan Maria. Bulan khusus buat jemaat Katolik meningkatkan berdevosi kepada Bunda Maria. Sampai hari ini saya tidak melihat kegiatan apa pun untuk mengisi bulan Maria. Doa rosario tak ada. Novena belum saya dengar. Ziarah memang ada, tapi itu selalu dikaitkan dengan ngelencer atau peziar. Ziarah ke Puhsarang atau Sendangsono atau Jogjakarta lebih kental nuansa jalan-jalannya.

Latihan nyanyi atau paduan suara lagu-lagu Maria? Mana ada. "Pokoknya, kita berdoa masing-masing saja. Mau doa rosario, novena, ziarah, ya, terserah. Sikon (situasi dan kondisi) di Jawa memang sangat beda dengan di kampung halaman. Yang penting kita tetap eling sama Tuhan," begitu pesan seorang satpam asal Flores.

Bapak ini beruntung kerja di gereja sehingga sedikit banyak suasana rohani selalu dapat. Beda dengan orang-orang Katolik yang tinggal di kampung-kampung. Kalau mau sedikit merasakan suasana rohani, ya, jalan-jalanlah ke gereja. Syukurlah, gereja Katolik di Surabaya Raya tergolong sangat banyak dan dekat-dekat. Saya bisa ke Paroki Paulus di Juanda, Salib Suci di Waru, Sakramen Mahakudus di Pagesangan, Maria Annuntiata Sidoarjo, Yohanes Pemandi di Wonokromo, atau Katedral di Surabaya.

Tadi saya mampir ke Katedral. Saya lihat banyak orang, sebagian besar anak muda 20-an tahun, berdoa rosario di Gua Maria. Selesai, datang lagi umat yang lain. Mereka rata-rata berpakaian kantor (kerja). Mereka dengan kesadaran sendiri datang untuk berdoa dan berdoa. Ini kelebihan orang Katolik di Jawa Timur yang minoritas mutlak. Yakni, kesadaran pribadi mereka untuk bergereja tinggi sekali tanpa harus "dipaksa" oleh lingkungan sosial macam di Flores yang mayoritas Katolik.

Orang yang tidak ikut misa di kampung, Flores Timur, bisa-bisa berurusan dengan orang banyak. Jadi buah bibir di mana-mana. Tidak terima komuni pun dibahas orang banyak, kenapa, sejak kapan, punya pelanggaran apa, macam-macamlah. Di sini, Jawa Timur, engkau tidak ke gereja selama tiga tahun pun terserah. Tidak ada yang gubris.

"Aku sudah lima tahun gak ke gereja lho. Gereja aku ada di hati," kata seorang teman, bekas aktivis organisasi mahasiswa Katolik. Teman yang satu ini sangat bangga karena bisa cetak rekor absen ke gereja selama bertahun-tahun.

Ada lagi Pak Bambang di Sidoarjo, seniman, yang "mogok" ke gereja selama belasan tahun. "Ikut misa itu capek. Apalagi kalau khotbahnya jelek," kata bapak seniman nyentrik ini. "Aku mau ke gereja atau tidak atau pindah agama, ya, urusanku dhewe. Agama itu urusan pribadi, hak asasi manusia," kata kenalan lain, orang Katolik juga.

Saking lamanya tidak ke gereja, doa-doa dasar macam Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya... dia sudah lupa. "Tapi Doa Tobat saya masih ingat. Soalnya, doa itu masih sering saya ucapkan. Mudah-mudahan suatu saat saya bertobat dan rajin lagi. Tuhan itu mencintai orang-orang berdoa. Tuhan itu selalu mencari domba-domba yang tersesat kayak aku," ujar kenalan lain, juga seniman, seperti tukang khotbah amatiran di persekutuan doa. Hehehe....

Saya sendiri, karena sudah larut dalam irama Jawa Timur, tidak kaget dengan "tradisi" umat Katolik di sini yang beda banget dengan Flores. Tradisi mereka, ya, tidak ada tradisi. Kalau di Flores setiap bulan Mei dan Oktober ada KONTAS GABUNGAN (doa rosario keliling) yang meriah, perarakan panji-panji Bunda Maria, menyanyi lagu-lagu Maria yang merdu dan syahdu, di sini NOL BESAR. Tradisi Katolik tidak ada karena, itu tadi, jumlah umat Katolik itu nol koma nol sekian persen.

Umat Katolik di Jawa Timur (Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang) terlalu sedikit untuk menciptakan tradisi. Tak apa-apa. Yang jelas, umat Katolik di Jawa punya himne Bunda Maria yang sudah berusia hampir 100 tahun. NDHEREK DEWI MARIYAH, judul lagu itu, selalu dinyanyikan pada setiap misa atau sembahyangan yang berkaitan dengan Bulan Maria atau devosi kepada Bunda Maria. Lagu ini mula-mula populer di desa-desa Jogjakarta dan Jawa Tengah pada awal masuknya kekatolikan.



NDHEREK DEWI MARIYAH
do=Bes, 4/4, Moderato

1. Ndherek Dewi Mariyah, temtu geng kang manah
boten yen kuwatosa, Ibu njangkung tansah
kanjeng ratu ing swarga, amba sumarah samya

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana

2. Nadyan manah getera, dipun godha setan
nanging batos engetnya, woten pitulungan
wit Sang Putri Mariyah, mangsa tega anilar

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana

3. Menggah saking apesnya, ngantos kelu setan
boten yen ta ngantosa, klantur babar pisan
ugeripun nyenyuwun, Ibu tansah tetulung

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana


Sumber lagu:
KIDUNG ADI Nomor 440, Pusat Musik Liturgi Jogjakarta, 1983.

21 October 2008

Cewek korban kawin kontrak



Namanya sebut saja Wulan. Wajah manis layaknya perempuan Jawa pedesaan. Usia 28, anak satu. Wulan sekarang merintis usaha kecil-kecilan, bisnis kecantikan, di Surabaya. Luwes, ramah, cepat akrab. Bahasa Inggrisnya bagus. Padahal, logat Jawanya medhok.

"Aku pernah kerja di Singapura, jadi babu. Ngurus anaknya orang. Di Singapura, bahasa Inggris aku bagus banget. Sekarang kurang lancar, wong jarang dipakai," papar Wulan kepada saya di sebuah kedai kopi Surabaya.

Suara musik hidup dari band spesialis lagu-lagu lawas mewarnai percakapan kami. Dia mengaku sering bersantai di kafe atau pub malam hari untuk refreshing. Kebetulan dia suka menyanyi meski suaranya berantakan. Nyanyi, kata dia, bisa mengusir kepenatan jiwa dan raga. "Daripada aku stres, mending enjoy aja. Toh, semua orang punya masalah sendiri-sendiri."

Kamu bilang punya anak satu. Bapaknya siapa?

"Hehehe... aku dah tebak kamu bakal nanya itu. Bapaknya aku, ibunya aku. Aku single parent," kata Wulan tetap sumringah.

Bosan menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Singapura, cewek Nganjuk itu balik ke tanah air. Konsumsi jalan terus, pendapatan tidak ada. Tak lama kemudian tabungannya ludes.

"Aku terpaksa kerja di sebuah kafe di Surabaya. Kerjaan aku sederhana aja: menemani tamu, ngobrol, ambil minuman.... Kayak gitulah. Hehehe..."

Pada suatu malam Wulan bertemu pria Singapura, 40-an tahun. Omong punya omong, ternyata mereka cocok. Nyambung. Wulan bisa berbahasa Inggris, pernah kerja di Singapura, gayanya tidak ndeso.

Mister Lee, sebut saja begitu, ekspatriat kaya, tapi kesepian. Dia punya projek di Indonesia, uang banyak, tapi tak ada istri. Kalau sekadar membeli cewek nakal sih gampang saja. Tapi Mr Lee bosan begituan.

"Dia ajak aku kawin," cerita Wulan.

"Oh ya, kawin? Nikah resmi?"

"Kawin KONTRAK. Maksudnya, selama dia di Indonesia aku jadi istrinya. Tapi, kalau sudah selesai projeknya, ya, dia pulang. Hubungan selesai," tutur Wulan.

Saya geleng-geleng kepala mendengar cerita ini. Di surat kabar Surabaya cerita macam begini, kawin kontrak, sering dibahas. Tapi baru sekarang saya mendengar langsung dari mulut salah satu pelakunya. Wuedaan tenan!!!

Tuan Lee pun mengontrak rumah di kawasan strategis. Tidak mewah, tapi di atas rata-ratalah. Wulan tinggal di situ. Tugas utama Wulan, ya, seperti istri atau ibu rumah tangga biasa. Menemani "suami" jalan-jalan, nongkrong di kafe, memasak sekali-sekali.

"Aku jalanin aja. Aku tahu juga kok risikonya kawin kontrak, tapi mau gimana lagi," katanya dengan bahasa Betawi logat Jawa Timur.

Wulan mengaku asyik-asyik aja menemani sang suami profesional Singapura itu. Semua kebutuhan terpenuhi. Mr Lee yang kesepian sayang padanya. Dan, hasilnya, mereka punya anak laki-laki. "Wajahnya campuran Cina dan Jawa. Manis kayak mamanya. Hehehe."

Wulan juga mengaku tidak pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Jangankan main tangan, menurut dia, kata-kata kasar tak pernah keluar dari mulut Mr Lee. "Orang Singapura itu kayak orang Barat. Sopan banget dan gentlement. Aku juga sayang banget sama dia."

Kontrak Mr Lee di Indonesia habis. Maka, kontrak perkawinannya dengan Wulan pun tamat. Mr Lee tak mau membawa Wulan dan anaknya ke Singapura. Bisa perang sama istri sah di negaranya. Wulan sendiri pun enggan ke negara tetangga itu.

"Sekarang cerita kami sudah selesai. Saya jadi single parent. Mantan suami saya pulang, tapi masih kontak-kontakan via hape."

Sebelum pulang, Wulan meminta Mr Lee agar membeli rumah kontrakan itu. Buat tempat tinggal dan anak semata wayang mereka. No problem! Minta dana untuk modal usaha pun dituruti.

"Kami berpisah baik-baik kok. Pengalaman hidupku asyik, tapi juga pahit. Kami sudah cocok, hidup bersama hampir dua tahun, tapi statusnya tetap KAWIN KONTRAK. Kebahagiaan itu tidak bisa panjang," kenang lulusan sekolah menengah atas ini.

Kini, Wulan fokus mengasuh anak tunggalnya. Tiap hari dibiasakan bicara dalam bahasa Inggris ala Singapura. Dengan modal dari mantan "suaminya", Wulan membuka usaha kecil-kecilan yang mulai berlaba. Dia tak perlu pusing memikirkan besok makan apa seperti masa-masa sulit jadi pekerja di kafe malam dulu.

Bagaimana reaksi tetangga dengan status kamu?

"Status opo? Apa urusan tetangga dan orang lain dengan aku? Toh, aku gak pernah menyusahkan orang lain, gak pernah minta apa-apa sama orang lain. Alhamdulillah, aku tinggal di perumahan yang sangat menghargai privasi. Ingat, semua manusia itu makhluk lemah, tidak luput dari dosa. Yang penting, kita bangkit dan melihat ke depan. Jangan lihat ke belakang," tegas Wulan mirip tukang khotbah amatiran.

Ada rencana menikah beneran?

"Tidak ada. Aku sekarang mikirin anak aku yang masih TK. Aku ingin anak aku bisa lebih baik dari aku yang hanya bisa jadi babu di negeri orang."

Band nostalgia masih terus mengalunkan musik-musik lawas. Seorang bapak, 50-an tahun, suara besar, mengambil mikrofon dan menyanyi. Lagunya KUCARI JALAN TERBAIK, ciptaan Pance Pondaag.

Lagu ini paling digandrungi pasutri yang rumah tangganya kacau karena salah satu pihak selingkuh.

Sepanjang kita masih terus begini
Tak akan pernah ada damai besenandung
Kemesraan antara kita berdua
Sesungguhnya keterpaksaan saja

Senyum dan tawa hanya di bibir saja
S'bagai pelengkap sempurnanya sandiwara
Berawal dari manisnya kasih sayang
Perlahan kita hanyut dan terjatuh....

ABOUWHIM, band Papua di Surabaya


Edward David, pemain perkusi Abouwhim Band.

Teman-teman Papua, juga Maluku dan Flores, dikaruniai suara bagus, tapi jarang populer. Di Indonesia sekarang penyanyi populer, terkenal, kaya, tidak perlu suara bagus. Fals sedikit, sengau, kemayu, tra apa-apa. Pokoke promosi gencar, kaset/CD/VCD laku, sering nongol di televisi, ngetop se-Indonesia.

Yah, musik pop Indonesia kini beda jauh dengan sebelum era 1980-an. Zaman itu penyanyi-penyanyi lebih dinilai suara daripada penampilan. Sebut saja Black Brothers, Bob Tutupoly, Utha Likumahuwa, Ida Laila, Rhoma Irama, Yopie Latul, Harvey Malaiholo. Sejak 2000-an penyanyi-penyanyi asal Indonesia Timur--yang kulitnya gelap, ikal keriting, tidak kemayu--mulai tersisih. Tuntutan industri musik memang sulit dilawan.

Tapi, jangan khawatir, Bung! Kalau teman datang ke Surabaya, ingin santai di kafe atau pub, masih banyaklah orang-orang Indonesia Timur bermusik. Sumbang suara bagus untuk hibur kita orang. Selasa malam, 21 Oktober 2008, beta menikmati musik di Bill Belle, Hotel Garden Palace Surabaya. Ini tempat favorit bapak-bapak dan ibu-ibu 50+ melepas penat.

Mereka suka nyanyi dan dansa-dansi. Dansa macam apa saja dorang bisa. Juara dansa pun kadang-kadang gabung di sini. Bagi orang Indonesia Timur, Bill Belle ini cocok karena karakter musiknya memang pas dengan kesukaan orang-orang timur. Pop 70-an, 60-an, lagu-lagu merdu The Beatles, Daniel Sahuleka, Pance Pondaag, A. Riyanto, hingga lagu-lagu Manado, Ambon, Papua. Anda minta lagu apa saja pasti dilayani pemain band.

Sambil minum kopi, beta bicara santai dengan Edward David, orang Papua. Dia pemain perkusi ABOUWHIM BAND. Nama band agak aneh, pakai bahasa Papua, artinya burung kuning. "Beta dan teman-teman kebanyakan dari Papua. Kami sudah lama main di sini, tiga kali seminggu," ujar teman baru ini. Sepintas kelihatan sangar, tapi halus sekali dia punya tutur kata dan sangat sopan. Pesan moral: Jangan menilai orang dari kulit luar.

ABOUWHIM BAND dipimpin Marten Korwa, asli Papua. Dia rangkap gitar utama dan vokalis utama. Tenang banget kalau dia nyanyi. Beta sangat tekesan dengan dia punya suara yang bening, merdu, dengan teknik vokal bagus. Jeje (Jawa) petik bas. Bagus (Jawa) gitar pengiring. Micky (Jawa) tiup saksofon. Penyanyi perempuan dua orang: Kristina dan Yohana.

"Sebetulnya ada lagi beberapa teman Papua, tapi kebetulan mereka sedang absen," kata Bung Edward David yang mengaku aktif pelayanan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jemaat Manyar, Surabaya.

Sebagai band hotel, ABOUWHIM BAND dituntut bisa mengiringi lagu-lagu macam apa saja. Mulai yang tua, tua sekali, baru, baru sekali, lagu gereja, lagu islami, hingga lagu daerah. Apa pun permintaan pengunjung Bill Belle sedapat mungkin dipenuhi. "Kita orang ini kerja, cari makan, di musik. Makanya, harus profesional, belajar terus," tegas Edward.

Reputasi ABOUWHIM BAND sebagai grup pengiring lagu-lagu nostalgia sudah tak diragukan lagi di Surabaya. Kalau ada artis-artis lama (1990-an, 1980-an) konser di Surabaya, panitia suka mengajak ABOUWHIM BAND. "Kami sudah pernah mengiringi Mus Mujiono, Benny Panjaitan, Meriam Bellina, Utha Likumahuwa. Belum lama ini mengiringi Joy Tobing," cerita Edward bangga.

Menurut rekan ini, mengiringi artis papan atas Jakarta sekalipun tidak sulit. Sebab, lagu-lagu sang artis sudah dikenal orang. Biasanya, dua minggu sebelum konser, manajemen artis atau artis bersangkutan mengirim daftar lagu. Nada dasar apa, irama macam apa, versi apa... sudah jelas. ABOUWHIM BAND kemudian berlatih untuk menangkap suasana yang diinginkan si artis.

"Kitorang tra pernah latihan. Paling hanya cek sound saja sebelum konser. Artis-artis ibukota itu kan profesional, kami juga profesional. Sama-sama enak lah," kata Edward.

Beta lihat para personel band ini selalu ceria, gembira, tak pernah sedih. Rupanya Bung Edward sangat menikmati pekerjaan sebagai pemusik?

"Hehehe... Itulah musisi. Susah senang orang tidak tahu. Tapi beta lebih senang karena bisa menghibur orang lain. Tuhan sudah kasih kami talenta musik, bisa nyanyi, maka sekarang kitorang kembalikan itu kepada sesama," kata Edward yang bergabung di ABOUWHIM BAND sejak 1999. Dan sejak 2000 mereka main bareng di Bill Belle.

Rekan Edward juga cerita banyak pengalaman lucu, sekaligus pahit, sebagai pemusik di tempat hiburan malam. Ada seorang bapak yang "gila" minta ampun. Minum mabuk di pub lantas bikin ulah. Dia suka berputar-putar, menggoda sesama pengunjung dan pemusik. Semua pemain musik diguyur minuman keras itu. Karena sudah biasa disiram minuman beralkohol, personel ABOUWHIM BAND pun main terus.

"Setelah itu dia bagi-bagi uang. Bapak itu memang gila," kata Edward lantas tertawa kecil.

Edward sendiri pun pernah "gila". Suatu ketika dia menenggak minuman keras sampai mabuk berat. Hilang keseimbangan, Edward teler di kamarnya. Padahal, ABOUWHIM BAND akan segera main di sebuah tempat hiburan. "Setelah sadar, waduh, kebablasan. Saya kemudian diskors. Tidak boleh main, tidak dapat uang sama sekali. Sekarang beta jera begituan," tegas Bung Edward.

KONTAK PERSON
Edward Daniel (ABOUWHIM BAND)
081 331 727 321

TOA pengeras suara favorit wong ndeso



Pengeras suara TOA di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo, dekat perbatasan Kota Surabaya. TOA tua ini tetap berfungsi.


Anda sudah membaca novel LASKAR PELANGI? Aha, Andrea Hirata, sang pengarang asal Belitong, beberapa kali menceritakan soal TOA di kampung halamannya. Saya tertawa geli membaca deskripsi Andrea tentang pengeras suara antik itu.

Dulu, saya mengira TOA hanya ada di kampung-kampung pelosok di Indonesia Timur macam Flores, Maluku, atau Papua. Setelah membaca LASKAR PELANGI, sadarlah saya bahwa TOA itu ternyata ada di mana-mana di seluruh Indonesia. Orang-orang desa paling paham fungsi TOA dalam kehidupan sehari-hari. Sulit membayangkan sebuah desa tanpa TOA.

Hidup di desa itu serba kurang. Tak ada uang untuk membeli sound system dengan power besar. Kalaupun bisa beli, dengan dana urunan dari para perantau di Malaysia, tenaga listrik dari mana? Listrik desa baru dikenal akhir-akhir ini saja. Dayanya hanya sekadar untuk satu dua neon plus seterika. Itu pun sering jeglek karena dayanya 'amat sangat' minim.

Sebelum 2000-an, pengeras suara model kerucut (orang Flores Timur bilang NOME) itu bak barang mewah di pelosok Flores Timur. Semacam status simbol. Hanya perantau kawakan dari Malaysia yang bisa membeli TOA untuk sound system di rumah. Ketika pulang kampung, dia tak lupa membawa TOA. Diletakkan di atas tiang bambu (makin tinggi makin baik), si tuan rumah memutar lagu-lagu dangdut atau pop yang baru dibawa dari Malaysia. Paling banyak Rhoma Irama, Ida Laila, Muchsin Alatas, Elvy Sukaesih, Camelia Malik, dan sejenisnya.

Apa warga terganggu dengan musik yang disebarluaskan lewat TOA? Sama sekali tidak. Orang-orang desa justru senang bisa menikmati lagu-lagu "baru" (sebetulnya lagu lama) yang hampir tak pernah didengar di kampung. Anggap saja sedekah musik. TOA sekaligus mewartakan bahwa si A sudah pulang setelah kerja delapan tahun di Sabah. Si B balik kampung membawa istri orang Melayu, punya tiga anak, dan sudah pindah agama.

Anak-anak paling senang jika suatu senja ada bebunyian musik dari TOA. Dasar anak-anak, mereka datang ke rumah empunya TOA. Syukur-syukur dapat hadiah baju, celana, permen, atau oleh-oleh khas Malaysia. Tidak dapat pun tak mengapa. Bukankah bunyi TOA itu saja sudah merupakan hiburan yang asyik?

"Adik, kamu tolong pigi baterai. Batunya sudah swak (lemah)," begitu kata si perantau yang baru balik kampung.

Anak-anak senang pigi beli baterai karena nanti malam pasti ada pesta khusus semalam suntuk. Joget dan dansa sampai pagi. Pakai pengeras suara TOA buatan Malaysia. Elok nian, Pak Cik!

Pesta musik TOA--plus minum TUAK dan makan enak sampai kenyang--ini tidak berlangsung lama. Listrik tak ada, bolak-balik beli batu (baterai), ya uang dari Malaysia cepat habis. Tidak ada pendapatan, hanya konsumsi thok! Maka, si TOA yang tadi dikibar tinggi-tinggi di tiang bambu harus diturunkan. Disimpan saja di gudang. Tapi, jangan khawatir, TOA tersebut akan sangat berfungsi jika ada hajatan atau pesta di kampung.

Penduduk desa di pelosok Flores Timur tidak punya sound system canggih yang bisa disewa macam di Surabaya atau Sidoarjo yang dayanya ribuan watt. Uang sewa dari mana? Gensetnya mana? Maka, TOA-TOA milik eks perantau (mungkin orannya sudah balik lagi ke Malaysia Timur) dipinjam. Ada satudua orang keberatan, tapi umumnya bersedia. TOA-TOA dikumpulkan di lapangan kampung, tempat pesta. Agar lebih mantap suaranya, operator tidak pakai baterai, tapi aki.

Bagaimana dengan kaset-kaset? Hehehe... Lagi-lagi harus pinjam di para bekas perantau yang punya TOA. "Hati-hati, pitanya jangam sampai rusak. Kaset ini tidak ada di Indonesia. Adanya hanya di Malaysia," pesan seorang pemilik TOA. Pinjam sana-sini, kaset yang terkumpul cukup banyak.

Apa jadinya bila lebih dari 10 TOA dibunyikan bersama-sama? Heboh. Ramai tidak karuan. Suara musik terdengar bisa sampai radius 10 kilometer. Tapi TOA tetap TOA, suaranya asal keras. Musikalitasnya tidak ada. Bas nyaris tak terdengar. Keindahan aransemen musik sama sekali tidak muncul di TOA. Tapi orang-orang desa bisa menikmati musik dari TOA, berjoget, bergembira, tak beranjak sampai pagi.

Berkat TOA pulalah, saya bisa mengenal lagu-lagu lama Rhoma Irama, Ida Laila, Orkes Melayu Awara, Muchsin-Sandora, Mus Mulyadi, Iis Sugianto, Obbie Messakh, Inggrid Fernandez. "Sampai sekarang TOA masih ada di kampung. TOA itu sangat awet. Daya yang dipakai tidak besar, tapi bisa bikin rame pesta," ujar seorang teman yang baru kembali dari Flores.

Bagaimana dengan TOA di Jawa Timur?

Tadi saya melintas di jalan raya kawasan Sidoarjo. Saya berpapasan dengan mobil pikap berjalan lambat. Di atasnya dipasang... hehehe TOA warna putih. "Bapak, Ibu... amal jariyah Anda sangat dibutuhkan untuk perbaikan masjid," begitu teriak juru bicara yang disebarluaskan lewat TOA.

Hehehe.... Saya berhenti sejenak memperhatikan TOA tua yang fungsinya sangat berbeda dengan di pelosok Flores Timur. "TOA itu punya siapa, Mas?" tanya saya.

Si jubir bilang milik sebuah masjid di pelosok Kabupaten Pasuruan. Memang, TOA-TOA banyak dipakai di masjid untuk pengeras suara. Azan atau panggilan salat diperkeras dengan TOA. Ada masjid yang hanya memasang satu TOA, tapi ada juga yang empat, lima, bahkan delapan TOA. Pengumuman orang meninggal dunia pun pakai TOA. Pengumuman orang hilang atau kesasar di terminal atau stasiun pakai TOA.

"Panggilan untuk Saudara John, ditunggu keluarganya di dekat ruang informasi," bunyi pengumuman di Gapura Surya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Saya cek pengeras suaranya, hehehe.... ternyata pakai TOA juga.

Saya langsung teringat suara Rhoma Irama yang pernah saya dengar lewat TOA di kampung:

"ku rela menjadi pesuruhmu
karena aku ingin padamu.
tanpa gaji pun tiada mengapa
asalkan nona hmm-hmmm padaku..."


Hidup TOA!

18 October 2008

Paduan suara independen di Keuskupan Surabaya

Selain paduan suara lingkungan atau wilayah, di lingkungan Gereja Katolik tumbuh banyak paduan suara independen. Disebut independen karena kor-kor ini tak terikat lingkungan, wilayah, atau paroki. Biasanya, digerakkan oleh aktivis paduan suara mahasiswa, musisi, sekolah musik, atau kelompok orang Katolik yang punya visi-misi sama.

Saya menilai kinerja paduan suara independen ini umumnya jauh lebih bagus ketimbang paduan suara reguler di lingkungan atau paroki. Kenapa? Anggota kor independen berbakat, suka nyanyi, semangat, anggotanya rata-rata muda. Pelatih, dirigen, pemusik kor independen pun pastilah mereka-mereka yang mengerti musik (klasik), tahu bagaimana mengangkat mutu paduan suara.

"Kita kecewa sama kor-kor di lingkungan atau wilayah yang gak maju-maju. Makanya, aku ikut paduan suara independen," ujar seorang teman, bekas aktivis paduan suara mahasiswa. Beberapa pembaca blog ini pun menulis komentar di saya punya artikel tentang betapa buruknya paduan suara reguler di lingkungan, wilayah, paroki.

Paduan suara independen itu tumbuh sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi meski kebanyakan dirigen atau pelatih saling kenal. Mereka saling bersaing, juga 'membajak' anggota, meskipun tujuannya sama: memuji dan memuliakan Tuhan. Paduan suara gerejawi tidak pernah diarahkan untuk mencari tepuk tangan manusia. Tapi ya banyak teman saya, aktivis paduan suara, yang sangat suka tepuk tangan dan puja-puji umat. "Rasanya gimana gitu. Kita jadi tambah semangat," ujar teman saya.

Belum lama ini, puji Tuhan, para pembina paduan suara independen di Keuskupan Surabaya mengadakan pertemuan konsolidasi. Yang hadir 75 paduan suara. Ini angka yang menggembirakan. Pertanda bahwa paduan suara ternyata tumbuh subur di Keuskupan Surabaya. Kalau ditambah paduan suara dari 41 paroki yang ada, wilayah, lingkungan, wah bisa ratusan deh. Tapi bagaimana kualitasnya?

Ehmmm... sudah menjadi rahasia umum bahwa mutu paduan suara di Keuskupan Surabaya sangat jomplang. Ada yang luar biasa, standar internasional, tapi banyak yang memprihatinkan. Saya sering melihat kor mingguan di gereja yang tidak jelas pembagian suara sopran, alto, tenor, bas. Ada yang tenornya cuma satu, bas dua, alto empat, sopran 10. Ada yang tidak punya bas dan alto.

Dirigen sekadar melambai-lambaikan tangan, tidak paham ketukan, mana arsis mana tesis, mana birama 4/4, 2/2, 3/4, 6/8. Pokoke gawat banget!

Pokoke gak karu-karuan, Cak! Mangkane, aku setuju banget ono pertemuan kayak ngene, Cak!

Menurut AJ Tjahjoanggoro, dedengkot paduan suara di Surabaya, sekaligus penggagas pertemuan paduan suara independen, ke depan kor-kor ini akan digembleng dalam program jangka pendek, menengah, panjang. Juga digagas perlunya dapur musik liturgi di Surabaya macam Pusat Musik Liturgi di Jogjakarta. Dan, yang terpenting, pemahaman kor-kor independen tentang hakikat musik liturgi dalam Gereja Katolik.

"Perlu pemahaman yang benar tentang kaidah-kaidah musik liturgi," kata Bung Tjahjo.

Yang menggembirakan, saat ini ada semangat di kalangan teman-teman paduan suara Katolik untuk menggali dan mempelajari lagu-lagu gregorian. Ini juga sejalan dengan minat Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono yang besar terhadap tradisi-tradisi Katolik lama macam bahasa Latin dan Misa Gregorian. Pada 30 Mei 2008 Monsinyur juga meresmikan Schola Cantorum Surabaiaensis. Paduan suara ini diharapkan menjadi motor penggerak tradisi gregorian di Keuskupan Surabaya.

"Kita ingin semua anggota paduan suara punya semangat AMARE CANTARE, cinta menyanyi," ujar Bung Tjahjo.

KONTAK PERSON
Yulius Kristanto (Komisi Liturgi)
081 653 1917, 031 602 381 07
yuliuskristantomulit@yahoo.co.id

http://tradisikatolik.blogspot.com/

16 October 2008

Eddy Samson ketua de Indo Club Surabaya



Mau belajar bahasa Belanda secara cuma-cuma? Datang saja ke rumah Eddy Emanuel Samson. Hampir setiap hari rumah tua di Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya ini didatangi para opa, oma, om, dan tante yang ber-Hollands Spreken. Sebagai ketua de Indo Club Surabaya, Eddy Samson memang ‘mewajibkan’ para anggotanya untuk bicara dalam bahasa Belanda.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

“Bahasa apa pun kalau tidak dipakai lama-lama mati. Biar bahasa Belandanya pasaran, bengkok-bengkok, tidak apa-apa. Yang penting, jangan sampai bahasa ini hilang dari Surabaya dan Indonesia umumnya,” kata Eddy Samson.

Bagaimana komunitas Indo di Surabaya?

Kondisinya cukup memprihatinkan. Rata-rata usia orang Indo--maksudnya berdarah campuran Indonesia dan Belanda, jadi bukan negara-negara Eropa lain--sudah berumur. Kehidupan ekonominya pun tidak semuanya baik. Mereka terpencar di mana-mana. Nyaris tidak ada komunikasi satu sama lain.

Sama-sama Indo, mengapa tidak bisa berkomunikasi?

Asal tahu saja, orang Indo ini kan punya pengalaman sejarah yang tidak enak. Ketika ada masalah Irian Barat, perang antara Indonesia dan Belanda, tahun 1960-an, posisi orang Indo ini serba salah. Sebab, dia punya dua macam darah, yaitu Belanda dan Indonesia. Saya sendiri campuran Belanda (bapak) dan Indonesia (mama). Situasinya semakin sulit dengan pengusiran orang-orang Belanda pada tahun 1962. Kondisi ini membuat orang-orang Indo yang bertahan di tanah air, termasuk Surabaya, tiarap. Nah, komunitas Indo yang ada sekarang itu sedikit banyak masih ingat situasi tahun 1960-an.

Lantas, bagaimana Anda bisa mengumpulkan para Indo yang tersebar di mana-mana?

Wah, ceritanya panjang. Tahun 1994 saya buku Soerabaja: Beeld van Een Stad terbit di Belanda. Ternyata, buku ini tersebar sangat luas. Saya kebetulan menjadi pemandu sekaligus narasumber utama buku yang diterbitkan oleh Asia Maior itu. Orang-orang Indo di Belanda atau yang punya keluarga di Surabaya membaca buku itu. Sejak itu mereka berdatangan ke Surabaya untuk melihat keluarganya atau sekadar nostalgia.

Puji Tuhan, salah satu orang Belanda yang datang ke rumah saya adalah Ruud von Faber. Dia ini anaknya GH von Faber, sejarawan yang menulis tiga buku master piece Surabaya, yakni Oud Soerabaia (terbit 1926), Nieuw Soerabaia (1931), dan Erwerd Een Staad Geboren (1953). Von Faber ini meninggal tahun 1955 dan dimakamkan di Kembang Kuning.

Kedatangan putra von Faber dan orang-orang Belanda lain didengar orang-orang Indo di Surabaya?

Iya. Mula-mula beberapa orang, kemudian makin banyak. Saya dan Ibu Elkana Jonathan Olivier di YPKIB (Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda) kemudian berusaha menghubungi teman-teman Indo. Mereka gethuk tular, menghubungi temannya lagi, dan seterusnya. Ibu Elkana pindah ke Tiongkok, akhirnya saya jalan bersama teman-teman yang berminat. Kami, sesama Indo, akhirnya bisa ketemu. Yang dulu masih muda-muda, cantik, ganteng, sekarang sudah pada uzur. Saya dulu juga, kata orang, ganteng. Hehehe....

Lalu, kapan de Indo Club mulai eksis?

Tahun 2007 sudah jalan, tapi masih informal. Sering ada pertemuan di sini (rumah Eddy Samson, Red). Baru tahun 2008 kami adakan dua kali pertemuan resmi. Pertama, 11 Mei 2008, sangat mengejutkan karena yang hadir dua kali lipat dari perkiraan. Sekitar 90 orang. Pertemuan kedua, 31 Agustus 2008, lebih hebat lagi. Yang hadir tercatat 226 orang. Pantia sampai kewalahan karena meja yang dipesan ternyata kurang. Tapi bagaimanapun juga ini perkembangan yang sangat menggembirakan bagi de Indo Club Surabaya.

Saya dengar de Indo Club mewajibkan anggotanya berbahasa Belanda dalam setiap pertemuan?

Benar. Itu memang salah satu tujuan klub ini. Kita ingin melestarikan bahasa Belanda kepada masyarakat luas. Teman-teman Indo ini kan sejak kecil diajari bahasa Belanda, berbicara dalam bahasa Belanda, di rumah. Tapi, karena tidak ada teman bicara, jarang praktik, ya, lama-lama kaku dan lupa. Setelah ada de Indo Club, bahasa yang tadinya hampir mati jadi hidup lagi. Bahasa Belanda ini penting karena banyak sekali dokumen sejarah kita yang ditulis dalam bahasa Belanda. Bagaimana kita bisa mempelajari kalau kita tidak tahu bahasanya?

Apakah semua anggota de Indo Club berdarah campuran Indonesia-Belanda?

Tidak. Dari 226 anggota itu, hanya sekitar 30 persen yang Indo tulen. Yang 70 persen itu teman-teman yang biasa berbahasa Belanda, ikut menghayati kultur Indo, dan simpatisan. Kita memang sengaja membuka diri agar klub ini bisa lebih berkembang. Semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia kan semakin baik.

Bagaimana dengan Indo generasi ketiga? Sebab, saya melihat Anda dan para aktivis senior itu semuanya generasi kedua.

Wah, ini memang persoalan krusial di kalangan komunitas Indo. Terus terang saja, generasi ketiga ini tidak tertarik dengan bahasa Belanda dan kebudayaan Indo. Bahkan, anak saya pun tidak bisa berbahasa Belanda. Makanya, ini menjadi pe-er yang sangat berat bagi kami di de Indo Club.

Ensiklopedia Berjalan
Meski bukan ahi sejarawan, EDDY EMANUEL SAMSON sangat cinta sejarah. Apalagi, sebagai pria berdarah campuran Belanda- Manado, dia terbiasa membaca buku-buku berbahasa Belanda sejak kecil. Sang ayah, Johannes Alexander Samson (almarhum), memang mewajibkan anak-anaknya untuk berbahasa Belanda di rumah.

Maka, Eddy pun menguasai cerita-cerita tentang Surabaya masa lalu. Kondisi Surabaya sebelum kemerdekaan, pascakemerdekaan, hingga sekarang. “Bapak saya itu punya banyak dokumentasi. Dan itu saya koleksi karena suatu saat pasti digunakan,” tutur pria yang tetap energetik di usia senja ini.

Eddy Samson kemudian dipercaya sebagai narasumber utama buku berjudul Soerabaja: Beeld van Een Stad. Buku ini didominasi foto-foto masa lalu Surabaya yang dikoleksi Eddy dari berbagai sumber. Tiga buku karya von Vaber menjadi referensi utama. “Jasa mendiang von Faber itu sangat besar bagi kita di Surabaya. Berkat karya-karyanya, kita jadi tahu banyak tentang perkembangan Kota Surabaya,” kata ayah empat anak dari dua istri ini. Eddy menikah dua kali karena istri pertama, Diana, yang memberinya dua anak, meninggal dunia.

Nah, setelah buku Soerabaja: Beeld van Een Stad beredar, nama orang kampung Asem Mulya ini pun melejit. Orang-orang Belanda, khususnya yang punya pertalian darah dengan Indonesia, selalu mencari Eddy ketika berkunjung ke Indonesia. Mereka menganggap Eddy Samson sebagai ensiklopedia hidup tentang Surabaya di era Hindia Belanda. “Rumah saya ini selalu didatangi orang-orang Belanda. Kebetulan saya masih punya data nama-nama jalan lama di Surabaya, dan itu memudahkan mereka untuk napak tilas rumah keluarganya dulu.”

Semangat Eddy Samson untuk menggeluti Oud Soerabaia semakin berkobar ketika Radar Surabaya membuka rubrik Soerabaia Tempo Doeloe yang diasuh oleh Dukut Imam Widodo. Eddy tak sekadar memberikan saran dan masukan, tapi juga menyumbangkan banyak koleksi foto-foto lama untuk dimuat di Radar Surabaya pada 2001.

Berkat Soerabaia Tempo Doeloe pula, terbentuklah Tim 11 yang bertugas antara lain mencari makam von Faber di Kembang Kuning. “Kami mencari selama dua minggu dan akhirnya ketemu,” kenang Eddy Samson. Makam sejarawan Indo-Surabaya itu kemudian direnovasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.


EDDY EMANUEL SAMSON

Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 3 April 1934
Alamat: Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya


Telepon : 031 547 4877, 031 720 539 10
Agama: Kristen Protestan
Istri I: Diana Runtulalo (meninggal)
Anak: Fabian Cornelius Samson, Agustine Samson
Istri II: Haryati
Anak: Johannes Samson, Samuel Samson

AKTIVITAS

*Tim 11 Von Faber Cagar Budaya Kota Surabaya
*Tim Soerabaia Tempo Doeloe
*Surabaya Heritage
*Ketua de Indo Club Surabaya
*Pemandu wisata sejarah Surabaya

15 October 2008

Krisis calon pastor di Keuskupan Surabaya

Oleh Prof Dr. John Tondowidjojo CM
Pastor Paroki Kristus Raja Surabaya

Para pemimpin hierarki di daerah-daerah misi sudah sejak dini berpikir tentang adanya bibit-bibit panggilan yang berasal dari daerah misi sendiri yang nantinya bisa menggembalakan Gereja lokal dan meneruskan misi Kristus yang telah dirintis oleh para misionaris mancanegara. Hal tersebut terungkap dari sikap Prefektur Apostolik Mgr. J. De Backere CM dengan mengirim beberapa frater yang mau menjadi anggota Kongregasi Misi seperti Romo Ignatius Dwidjasoesastra CM.

Setelah selesai Seminari Menengah di Yogyakarta para frater lalu dikirim ke Seminari Tinggi Kongregasi Misi St. Jozef di Helden, Panningen, Belanda. Mgr. Michael Verhoeks CM, Vikaris Apostolik Surabaya, mengirim para Frater ke Seminari Tinggi di Code, Yogyakarta, sampai selesai lalu bekerja di Vikariat Apostolik Surabaya.

Bahkan, Mgr. Michael Verhoeks merintis berdirinya Seminari Menengah Keuskupan Surabaya pada 29 Juni 1948, lalu dilanjutkan serta dikembangkan oleh Mgr. J.A.M. Klooster CM, Mgr. A.J. Dibjokarjono, dan Mgr. Johanes Hadiwikarta, hingga saat ini diteruskan oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

JEJAK LANGKAH SEMINARI GARUM

Seminari Menengah pertama Keuskupan Surabaya dengan nama Pelindung St. Vincentius à Paulo didirikan oleh Mgr. Michael Verhoeks CM pada 29 Juni 1948, berlokasi di Pavilyun Pastoran Paroki Kelahiran St. Perawan Maria, Jalan Kepanjen 9 Surabaya. Hal tersebut sebagai realisasi gagasan Mgr. de Backere CM – Prefek Apostolik Surabaya. Sebenarnya calon-calon Seminaris itu sudah berhimpun di Kediri sejak 26 Juni 1948 atas perjuangan Romo Ign. Dwidjasoesastra CM.

Pada waktu itu situasi pendudukan tentara Belanda masih genting. Dari Kediri ke Surabaya harus ditempuh jalan darat yang memakan waktu tiga hari. Angkatan pertama ada delapan orang dan sebagian besar atas hasil perjuangan Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Kelompok ini ialah J. Haryanto, S. Sunaryo, R. Sutarno, B. Suryadi, A. Hardjatmo, lalu menyusul dari Yogyakarta yakni J. Purnomo, C. Subagiyo, dan dari Surabaya Adel Koentjoro dan Max Soegriwo (setelah beberapa hari lalu keluar).

Enam bulan kemudian Keuskupan Surabaya mendapatkan rumah di Jalan Dinoyo 42 Surabaya, atas jerih payah Romo G. van Bakel CM, Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya. Pada 25 Februari 1950 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo dipindahkan ke Jalan Dinoyo 42 Surabaya dan Romo H. van Megen CM Rektor pertamanya, dibantu oleh Rm J. Wolters CM, Romo Sjef Verbong CM, Romo H. Niessen CM, Romo W. van den Brand CM, Romo Michel van Driel, Romo B. Slutter CM, Romo J. Rulkens CM, Romo O. Blondeel CM, Romo G. Boonekamp CM.

Siswa makin bertambah dari delapan menjadi dua belas, yaitu PC Surjanto, Ign. Suharto, Ign. Widijanto, dan Karel Dommers. Mereka kebanyakan hasil dari upaya Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Setelah itu ditambah lagi dengan R. Widijat, L. Sumarto, A. Siswadi, L. The Bing Kwie, Johnny Soetiarso (John Tondowidjojo), A. Soegianto, J. Suhakto, Th. Kho Sie Tjoen, Ign. Sunardi, PC. Utoko, Fr. Budoyo, Chr. Ismanadji.

Angkatan ini pun kebanyakan berkat upaya Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Pada 1950, karena jumlah seminaris semakin banyak dan rumah di Dinoyo 42 sudah tidak bisa menampung lagi, maka Mgr. Klooster CM menugaskan Romo Michel van Driel CM untuk mencari lahan baru. Akhirnya, diperoleh sebidang tanah luas di Garum, Blitar. Di sinilah dibangun Seminari Menengah baru. Pada 1 Oktober 1958 seluruh penghuni Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo Jalan Dinoyo 42 Surabaya pindah ke Garum, Blitar. Yang menjadi rektor Romo Sjef Verbong CM (1958-1965).

Seminari Garum lambat laun membuka kemungkinan untuk mengikuti ujian SMP-SMA seperti ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam tahun 1959 untuk pertama kalinya para siswa menempuh ujian negara tingkat SMP, sedangkan untuk tingkat SMA dalam tahun 1964. Pertama-tama hanya ada SMA jurusan Budaya, tetapi lambat laun juga membuka jurusan Paspal. Sampai sekarang dapat dikata selalu lulus 100 persen. Program proses belajar yang dirintis oleh Romo Sjef Verbong CM dilanjutkan oleh Romo Johanes Haryanto CM, rektor pengganti (1965-1968).

Dalam-tahun 1973 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo, Keuskupan Surabaya, genap 25 tahun berdiri. Dalam momentum ini penulis menyelenggarakan reuni para eks seminaris dan para siswa Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo, di Garum, Blitar. Dari tahun 1948 sampai 1973 tercatat 400 siswa yang pernah belajar pada Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo Keuskupan Surabaya di Garum Blitar. Dari jumlah itu ada 35 orang ditahbiskan menjadi imam, 19 orang menjadi mahasiswa Seminari Tinggi (11 CM dan 8 Projo di Yogyakarta). Siswa Seminari Garum pada 1973 mencapai 100 orang, termasuk 18 orang dari Keuskupan Denpasar.

Setelah Romo Adam van Mensvoort CM meninggal dunia lalu rektor selanjutnya ialah Romo Louis Pandu CM (1987-1994). Sudah sejak Romo Adam van Mensvoort CM diadakan kegiatan kursus-kursus untuk menambah gemblengan khusus sambil memperdalam penyaringan dalam seleksi kepribadian. Hal yang baru dalam proses penyaringan ini ialah mereka yang selesai dan lulus tingkat SMA dikirim ke Institut Pastoral Indonesia yang diasuh Romo Paul Janssen CM di Malang. Di sini mereka menghadapi masa orientasi pastoral yang pada dasarnya penyaringan kepribadian dan diterjunkan untuk hidup sosial dalam arti siap hidup berbaur dengan umat.

Pada 1988 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo genap berusia 40 tahun berdiri. Sehubungan dengan hal tersebut penulis mengkoordinasi para eks seminaris di Indonesia untuk reuni di Garum, 19 Juni 1988, dengan tim khusus dari para eks senior yakni Tan Tjong Hian, Ronald Wolfe, Jangkung Karyanto, Sukopurwanto, Liem Tjien Hoo, Kian Haryanto, Djokodwihatmono, Nic. Dadiadi, FX Totok Kusdianto, Adel Koentjoro, Anton Suharyo, dan Handoko Sasmito. Acaranya ialah Temu kangen antara eks Seminaris dengan para siswa Seminari Menengah di Garum Blitar, Seminar dengan pembicara antara lain Romo St. Reksosusilo CM, bertema euni. Lalu dibahas tentang seminari itu sendiri dan diadakan evaluasi tentang pendidikan di seminari.

Dalam periode ini ada pergantian dari Romo Louis Pandu CM ke Romo Alb. Haryopranoto (1994-1995), dan setelah itu digantikan oleh Romo Ag. Marsup CM (1995-2000). Para eks seminaris Surabaya menyumbangkan dana untuk membenahi perpustakaan Seminari Garum. Dalam periode ini terjadi lagi pergantian rektor. Pada 2000 Romo Ag. Marsup CM digantikan oleh Romo Petrus Canisius Edi Laksito. Sehubungan dengan adanya Tahun Suci 2000, di Seminari Menengah diadakan pembenahan, terutama aula direhab dengan ditingkat serta perpustakaan mendapatkan pula perhatian khusus. Saat ini rektor dipegang oleh Romo Cosmas Benediktus Centi Fernandez.

INFANTILISME DALAM HIDUP BERAGAMA

Berbicara masalah calon imam di Keuskupan Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya, dewasa ini layaknya kita melihat panorama yang indah dari kejauhan. Dari jauh sangat indah dan marak, tapi semakin didekati banyak hal yang memprihatinkan. Pemandangan itu terpancar pada situasi Gereja kita saat ini. Dari jauh indah penuh dengan berbagai nuansa, semakin kita dekati nuansa yang kita gambarkan indah itu ternyata masih banyak hal yang masih perlu dibenahi, salah satunya panggilan calon imam.

Keindahan Gereja Katolik dewasa ini nampak pada perkembangan jumlah umat dan bangunan gereja yang marak, namun kalau kita telusuri lebih lanjut perkembangan itu tidak diimbangi dengan perkembangan calon imam. Kita tidak dapat mengatakan perkembangannya menurun atau naik, namun sangat cocok kalau kita katakan sangat minim. Sistuasi semacam ini sangat dipengaruhi oleh gejala makro yang berkembang di zaman ini yang sering kita sebut dengan ”Zaman Modern”.

Di zaman modern pengaruh agama terhadap tata hidup masyarakat sangat menurun, bahkan kecil sekali. Banyak sistem pemerintahan dewasa ini sekularis. Keterlibatan agama sangat kecil dalam proses pembangunan bangsa dan masyarakat. Banyak pemeluk agama lebih cenderung mengikuti hal-hal ritual dan sangat kurang dalam penghayatan imannya. Mereka jatuh ke dalam ATHEISME PRAKTIS: mengakui Tuhan dengan bibir, tetapi dalam hidup sehari-hari tidak memedulikan Tuhan. Munafik.

Dari sini muncul krisis iman yang antara lain mengakibatkan krisis panggilan menjadi suster, bruder, frater, imam, serta rasul-rasul awam di paroki-paroki. Kehidupan menggereja menurun. Salah satu konsekuensi lain dari krisis iman ialah munculnya INFANTILISME, yakni orang beriman seperti kanak-kanak. Hal semacam ini menjalar di seluruh dunia dan juga di Indonesia. Akhirnya, masing-masing orang mempunyai pengetahuan yang kabur tentang agamannya.

Masalah keagamaan di negara-negara maju hampir kurang disentuh dalam setiap pendekatan humaniora di kalangan masyarakatnya. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemajuan teknologi yang sangat berpengaruh pada tata kehidupan masyarakat. Waktu untuk hal-hal yang bersifat religius sangat minim. Manusia lebih melihat jauh ke depan dengan wawasan teknologi untuk memenuhi hasrat nuraninya, yang pada akhirnya membentuk masyarakat manusia bersifat global. Pemimpin religius, bahkan tokoh yang paling terkemuka sekalipun, berpengaruh hanya pada sebagian kecil dari masyarakat dunia. Ia hampir tidak memberikan penekanan moral atas urusan-urusan global. Mereka memberikan kontribusi hanya pada satu bagian atas pengaruh keseluruhan yang membentuk ekspresi-ekspresi budaya dunia.

Gejala semacam ini sedikit atau banyak telah merasuk pula ke dalam kehidupan beragama di lingkungan kita. Sebenarnya dari pihak Gereja di Indonesia tidak henti-hentinya telah berusaha untuk menyadarkan jemaat akan dampak kehidupan menggereja seperti itu. Walau hasil yang dicapai masih kurang memadai namun usaha itu terus berlanjut. Pendalaman iman di wilayah dan lingkungan tak henti-hentinya di laksanakan. Bahkan kursus pengetahuan iman, pendalaman Kitab Suci dan berbagai kegiatan yang bersifat kerohanian digiatkan, namun semua itu tidak mampu untuk menjawab kebutuhan Gereja akan “Panggilan menjadi Rohaniwan dan Rohaniwati”.

Faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap minimnya jumlah panggilan, khususnya menjadi imam, karena masalah panggilan itu sendiri dalam setiap kegiatan gereja sama sekali tidak pernah disentuh. Persoalan ini nampaknya hanya disinggung pada saat diadakannya “Aksi Panggilan” yang hanya dilaksanakan setahun sekali, dalam Minggu Panggilan. Hal itu pun hanya disinggung dalam Khotbah Mimbar. Memang ada acara khusus yang menanggapi masalah panggilan yang dikemas dalam Ekspo Panggilan, itu dilaksanakan tidak setiap tahun.

Keluarga Katolik yang seharusnya merupakan sekolah panggilan dan suplier panggilan, pada kenyataannya TIDAK PERNAH memberi porsi cukup terhadap panggilan hidup menggereja kepada anak-anak mereka. Keluarga Katolik dewasa ini lebih memfokuskan masalah pendidikan pada bidang-bidang profan untuk bekal hidup di masa depan dengan hasil yang menggembirakan dalam bentuk materi. Sisi hidup alternatif sebagai imam tidak pernah diperkenalkan kepada anak-anak mereka. Sehingga, anak-anak tidak tertarik untuk memilih hidup sebagai biarawan/biarawati karena mereka kurang mengenal.


SIMPULAN DAN SARAN

Kurang berkembangnya jumlah panggilan sebenarnya tanggung jawab kita semua. Banyak kasus yang sebenarnya merupakan tanggung jawab kita sebagai TUBUH GEREJA UNIVERSAL, namun dampak yang paling langsung ada pada diri Hierarki Gereja Lokal. Pada skala yang lebih luas sangat berpengaruh pada panggilan hidup menggereja. Satu contoh kasus di Amerika Serikat, Gereja sangat terpukul dengan skandal seks. Bagaimana pula dengan di Afrika yang disinyalir bahwa panggilan menjadi imam diwarnai krisis nilai, karena imamat hanya dilihat sebagai upaya perolehan status sosial.

Bagaimanapun juga masalah panggilan merupakan tanggung jawab kita bersama, karena imam itu dari kita, bersama kita, dan untuk kita. Baik buruknya, maju mundurnya jumlah para imam, tidak lepas dengan peran kita sebagai umat yang mengkristal dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah tempat panggilan lahir, dikenal, dan dipelihara. Keluarga juga sekolah menjadi imam, sekolah pengorbanan, cinta, pemberian diri, doa, dan pelayanan. Di sinilah kaum awam atau umat harus ikut terlibat mencari, memelihara, dan menumbuhkan benih panggilan.

Dalam Gereja Katolik, peranan imam menjadi inti dinamika kehidupan religiusnya. Peranan kunci yang dipegang mereka di altar untuk mendoakan umat kepada Allah, di sini diperlukan kedewasaan dalam iman. Seorang pastor bisa saja berdosa, tetapi dia harus tetap membawa mereka yang berdosa kepada Allah. Konsekuensi moral yang harus dia emban sedikit banyak sudah dibina sejak di seminari, sehingga saat melangkah dalam meniti hidup panggilannya, mereka siap dengan kedewasaan iman. (*)

Ketemu Badai Pasti Berlalu 1977

Mencari kaset-kaset lama, terbitan 1980-an, 1970-an, apalagi di bawah 1970-an, sungguh tidak gampang. Harus tekun betul. Harus berlama-lama di pedagang kaset bekas. Kalaupun ketemu, pitanya belum tentu bagus. Dibeli, ya, percuma karena musiknya tidak bisa dinikmati. Tapi, lumayan, kita bisa melihat sampul kaset zaman dulu yang sederhana, norak, tapi juga unik dibandingkan era sekarang.

Sebagai penggemar musik lama, di bawah tahun 2000, saya selalu menyempatkan diri mencari kaset bekas di lapak-lapak kaset. Bongkar sana-sini, kita ibarat sedang memutar balik jarum jam sejarah. Ketemu kaset koleksi paman-paman di Flores Timur tempo doeloe. Ketemu kaset kegemaran teman semasa mahasiswa. Ketemu foto artis-artis lama yang manis-manis (dulu), dan sekarang sudah tua. Bahkan, banyak artis sudah meninggalkan dunia fana ini.

Minggu, 12 Oktober 2008, saya mampir ke lapak buku di depan stasiun kereta api Malang. Saya menemukan banyak sekali buku bagus, termasuk buku-buku gerejawi macam devosi kepada Bunda Maria. Juga buku-buku musik dan jurnalistik. saya pun membeli beberapa buku dengan harga murah. Bayangkan, buku bagus harganya di bawah Rp 10.000. Lumayan, bukan?

Saat pulang, saya terbelalak melihat tumpukan kaset lama di salah satu lapak buku. "Sampean juga jualan kaset-kaset lama? Atau ini cuma koleksi pribadi," saya bertanya.

"Memang aku jualan kaset juga. Dulu khusus kaset, tapi sekarang buku. Kalau kaset-kaset lama itu banyak yang dikirim ke Bandung. Orang Bandung pesan banyak sekali. Makanya, di sini cuma segelintir," ujar pria asli Malang itu ramah.

Saya lantas tersentak melihat kaset bersampul hijau muda. Seorang perempuan berlari seperti dikejar-kejar. Oh, tak salah lagi, BADAI PASTI BERLALU. Tanpa basa-basi saya membeli kaset langka itu. Tak sampai Rp 10.000. Sudah bertahun-tahun saya memburu kaset terbitan Irama Mas, 1977, itu di Surabaya dan Sidoarjo, tapi tidak ketemu. Eh, sekarang kaset legendaris itu nongol sendiri di depan mata.

"Hampir semua kolektor cari BADAI PASTI BERLALU. Kaset itu termasuk sangat langka," kata teman-teman pedagang kaset bekas di Surabaya.

Saya pun pasrah. Apa boleh buat, saya hanya bisa menikmati BADAI PASTI BERLALU versi Erwin Gutawa yang mutunya bagus pula. Tapi sebagus-bagusnya karya ulang, remake, tak akan bisa menandingi versi perdana.

Saya semakin terpancing memburu BADAI PASTI BERLALU versi 1977 lantaran majalah musik Rolling Stone edisi Desember 2007 secara mutlak memilih album karya Eros Djarot ini sebagai album NOMOR SATU sepanjang sejarah musik Indonesia. Ada 150 dari ribuan kaset dan piringan hitam yang masuk daftar the best, dan BADAI PASTI BERLALU nomor wahid.

Yah... BADAI PASTI BERLALU memang fenomenal.

"Album ini menjadi cetak biru perkembangan musik pop Indonesia di era-era selanjutnya," tulis Rolling Stone Indonesia.

Pulang, saya menikmati alunan suara merde Christian (kemudian ganti nama Chrisye, sekarang almarhum) dan Berlian Hutauruk. Paduan musik yang apik dari Fariz RM (drum), Yockie Suryoprayogo (kibod), Christian alias Chrisye (bas), dan syair puitis seorang Eros Djarot. "Bagaikan langit berpelangi, terlukis wajah dalam mimpi...."

Bukan main! Album ini dibuat tahun 1977 ketika infrastruktur musik Indonesia masih sangat sederhana. Perkakas rekaman di studio Irama Mas sangat minim. Komputer belum ada. Industri musik masih dalam tahap embrio. Kok bisa ya Eros Djarot dan kawan-kawan bisa membuat album musik pop yang sangat bermutu, jadi master piece, di belantika musik Indonesia ya?

Saya jadi ingat almarhum Pramoedya Ananta Tour. Dia justru mampu menghasilkan karya-karya dahsyat ketika ditahan di Pulau Buru. Pelajaran moral: Jika hidupmu enak, kaya, banyak fasilitas, punya segalanya.... jangan harap bisa bikin karya luar biasa!

Saya pun terkesan dengan suara Berlian Hutauruk. Soprano asal Batak ini menunjukkan kualitas vokalnya yang bening tinggi. Hasil olah vokal, latihan yang spartan, bukan penyanyi instan. Saya berterima kasih kepada wong cilik, pedagang kaset bekas, di depan stasiun kereta api Malang. Akhirnya, saya menemukan BADAI PASTI BERLALU edisi 1977. Semoga Tuhan memberkati Anda!

BADAI PASTI BERLALU VERSI 1977

Sisi A:

Pelangi
Merpati Putih
Matahari
Serasa
Khayalku
Angin Malam

Sisi B:

Merepih Alam
Semusim
Baju Pengantin
E & C & Y (instrumentalia)
Cintaku
Badai Pasti Berlalu
Merpati Putih

Aransemen: Eros, Christian, Yockie
Juru Rekam: Stanley
Studio: Irama Mas
Vokal: Christian, Berlian Hutauruk
Drum: Fariz RM
Bas, gitar: Christian
Syair: Eros Djarot
Kibod, drum: Yockie Suryoprayogo

Lagu SEMUSIM, ANGIN MALAM, KHAYALKU oleh Keenan dan Debby Nasution.

11 October 2008

Paduan Suara Laetitia Iuventia

Tidak banyak paduan suara Katolik yang baik dan bertahan di Surabaya. Salah satunya Paduan Suara Laetitia Iuventae. Kor ini dibentuk menjelang penahbisan Mgr Johanes Hadiwikarta (almahum) sebagai uskup Surabaya pada 25 Juli 1994. Beberapa penggiat paduan suara di Keuskupan Surabaya diminta mempersiapkan kor tahbisan.

Mereka antara lain Antonius Tjahjoanggoro, Albert Maramis, Anton Teguh, Marcellino Rudyanto, Matheus Suprat, Ardi Handojoseno, B. Sotyoanggoro, dan Edy Prast. Nama-nama ini kemudian tercatat sebagai pendiri Paduan Suara Laetitia Iuventae. Artinya, pada 2008 ini Laetitia Iuventae telah berusia 14 tahun.

Untuk ukuran paduan suara, terbilang tua lah. Sebab, jarang ada paduan suara kategorial di Keuskupan Surabaya yang bertahan sekian lama. Persoalannya klasik: regenerasi. Ketika teman-teman anggota lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, paduan suara ditinggal. Kalau nyanyi terus, siapa yang cari uang?

Menyanyi di lingkungan gereja itu benar-benar Pro Deo, untuk Gusti Allah. Sonder pakai bayaran apa-apa, selain sedikit konsumsi ringan.

Pesan moral: Paduan suara maju kalau 100 persen anggotanya lajang!

LAETITIA IUVENTAE berarti anak-anak muda yang bersukacita. Motonya: Per Laetitiam Iuventae ad Caelestiam. Semua bersukacita, bersemangat muda, demi Kerajaan Allah di Surga. Laetitia Iuventae didesain sebagai paduan suara kader. Anggota harus lekas belajar, lekas pintar, lekas membagikan sukacita berpaduan suara kepada jemaat lain. Bikin kelompok baru, tapi tidak lupa akarnya di Latetitia.

Sekarang tercatat 100 alumni tersebar di Indonesia. Mereka aktif membina paduan suara meski sibuk mencari nafkah untuk keluarga. Nah, pada akhir Agustus 2008 paduan suara ini bikin Oratorium Maria di Gedung WTC Surabaya. Konser sekaligus devosi, refleksi, renungan tentang Misteri Bunda Maria. Sambutan umat, penggemar paduan suara, sangat bagus. Maklum, akhir-akhir ini jarang ada konser paduan suara rohani di Kota Surabaya.

Sesuai dengan tema, PS Laetitia Iuventae membawakan komposisi bertema Maria karya Mozart, JS Bach, Beethoven, sampai Paul Widyawan. Didukung 26 penyanyi, 10 pemusik, Matheus Suprat ketiban sampur sebagai dirigen. “Ini bukan sekadar konser, tapi oratorio. Biasanya paduan suara lain hanya menggelar konser,” sebut Anton J. Tjahjoanggoro, ketua panitia, yang dikenal sebagai pentolan paduan suara alumni Pusat Musik Liturgi Jogjakarta.

Susunan lagu dibuat kombinasi: berat, sedang, ringan. Lagu-lagu umat macam Nderek Dewi Maria, Di Lourdes di Gua, dilantunkan dengan syahdu oleh anggota kor. Umat ikut bersenandung karena lagu-lagu itu sangat familier. “Paduan suara Laetitia makin matang. Anggotanya serba sibuk, tapi masih komit mempertahankan eksistensinya,” komentar Yohanes, umat asal Paroki Juanda Sidoarjo.

Mudah-mudahan semangat berpaduan suara Laetitia Iuventae juga menular di semua paroki di Keuskupan Surabaya.

Pesan moralnya: nyanyi dan nyanyi terus karena upahmu besar di surga!

09 October 2008

Makan ketupat di rumah Pak Malik Bz.



KIRI KE KANAN:
Abubakar, A. Malik Bz, Said Alamus, Ali Alatas, Andrew Weintraub (profesor asal USA), H. Urip Santoso, Hj. Moerahwati (aka Ida Laila), Rubajak, Imron. Mereka anggota Orkes Melayu Sinar Kemala yang masih tersisa.


Satu minggu setelah Idulfitri ada pesta ketupat. Perayaan kecil-kecilan di keluarga muslim di Jawa Timur sebagai penanda bahwa momem Lebaran sudah selesai. Bermaaf-maafan, minal aidin fal faizin, maaf lahir batin, tetap berlaku selama bulan Syawal, tapi stok kue-kue lebaran sudah habis.

Aku memanfaatkan momentum pesta ketupat ini dengan bersilaturahmi ke rumah beberapa tokoh musik melayu-dangdut di Sidoarjo. Salah satunya Bapak Abdul Malik Buzaid atau yang lebih dikenal dengan A. Malik Bz. Usianya 60 tahun. Pak Malik salah satu pelopor musik melayu di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Dia menulis banyak lagu--sampai sekarang pun--salah satunya KEAGUNGAN TUHAN. Kau suka nonton televisi? Nah, kau pasti sering menikmati lagu ini selama bulan Ramadan. Syairnya antara lain:

"Insyaflah wahai manusia,
jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'Tuk makhluk ciptaan Tuhan.

Dengan tiada terduga
Dunia ini kan binasa
Kita kembali ke asalnya
Menghadap Tuhan yang Esa
.................."


"Hurek, kamu tahu enggak? Lagu KEAGUNGAN TUHAN itu saya tulis tahun 1966. Waktu itu saya dan teman-teman jalan-jalan malam-malam di Kremil (salah satu lokalisasi di Surabaya). Saya melihat arek-aek iku (baca: pekerja seks) duduk menunggu tamu. Tiba-tiba muncul ilham untuk menulis lagu. Syairnya, melodinya, aransemennya langsung jadi begitu pulang ke rumah," cerita Pak Malik, yang lahir di Surabaya 31 Desember 1948.

Kita tahu KEAGUNGAN TAHUN kemudian direkam oleh Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan Abdul Kadir di Lokananta. Ini perusahaan rekaman milik pemerintah paling top pada 1960-an dan 1970-an. Dibawakan vokalis Ida Laila (nama aslinya Moerahati, sekarang jadi pendakwah), KEAGUNGAN TUHAN meledak. Piringan hitamnya diputar di seluruh Indonesia, bahkan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

"Sampai sekarang pun saya dikenal orang karena KEAGUNGAN TUHAN. Padahal, lagu yang saya tulis dan sukses itu banyak sekali," ujar Pak Malik Bz sambil tersenyum bangga.

Ketika aku mulai banyak bertanya soal musik, dangdut, Rhoma Irama, Pak Malik menukas: "Wis wis, engko ae. Saiki awakmu mangan ketupat sek yo. Wuenak, enak," kata Pak Malik dengan keramahan yang khas. Lantas, dia meminta Bu Is, istrinya, membawa makanan khas Lebaran itu ke ruang depan. "Saya tahu kamu kan suka makan. Pasti habis dua piring," goda Pak Malik lalu tertawa kecil.

Abah Malik benar. Ketupat masakan istrinya memang nikmat. Opor ayam, kuah, lezat. Bumbunya pas. Aku menikmati kegembiraan Lebaran seakan-akan aku bukan tamu. Satu piring tandas tak terasa. "Saya bilang apa? Kamu mesti habis dua piring," katanya. "Kemarin, saya dan keluarga baru pulang dari Bojonegoro. Riroyoan. Tapi selama Lebaran saya di rumah saja. Anak-anak yang datang."

Setelah menghabiskan dua piring ketupat plus opor ayam, mulailah Pak Malik bicara tentang musik. Tak sekadar nostalgia, kenangan masa lalu akan kejayaan OM Sinar Kemala, tapi juga musik masa kini. Aku mendengarkan dengan penuh minat sambil sesekali menyela atau bertanya. Pak Malik tampak bahagia.

Pelajaran moral: Sisihkan waktu, biarkan orang-oang tua bicara, cerita tentang masa muda dan kegemilangannya di masa lalu. Mereka pasti bahagia dan merasa usia panjangnya punya makna.

Tapi Pak Malik juga sedih dan kecewa dengan pengelola televisi kita, khususnya TVRI Jakarta, yang tidak profesional. Pada bulan puasa lalu, TVRI beberapa kali menayangkan KEAGUNGAN TUHAN yang dibawakan D'Lloyd. Pada kredit titel ditulis pencipta KEAGUNGAN TUHAN adalah Sam D'Lloyd. "Orang TVRI itu bagaimana? Sudah jelas lagu KEAGUNGAN TUHAN itu ciptaan saya. Kok ditulis orang lain. TVRI itu sudah sering begitu," kesalnya.

"Mungkin orang TVRI tidak tahu karena sekarang kan banyak orang muda yang tidak paham sejarah musik Indonesia," aku kasih komentar untuk meredakan kemarahan Pak Malik.

"Orang baru apa? TVRI itu televisi paling tua. Mereka pasti lebih tahu ini lagunya siapa, itu lagunya siapa. Kita bicara copyright dan profesionalisme," tukas penasihat Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Jawa Timur itu.

Bagi Pak Malik, juga seniman-seniman senior lainnya, pengakuan akan eksistensi sangatlah penting. Tayangan lagu itu ada kaitan dengan royalti. Sekali tayang di televisi, rumah karaoke, show panggung, atau acara komersial apa pun dipungut royalti. Setiap tahun Yayasan Karyacipta Indonesia mengirim royalti ke rumah sang seniman. Tidak besar sih, tapi cukuplah untuk hidup Pak Malik (dan seniman lain) di usia senja.

"Alhamdulillah, selama Lebaran kemarin beberapa sinetron pakai saya punya lagu, KEAGUNGAN TUHAN, untuk ilustrasi sinetron. Alhamdulillah, lagu saya masih abadi sampai hari ini. Insyallah, lagu itu tetap bertahan meskipun saya sudah tidak ada lagi," ujar Pak Malik tetap sumringah.

Sambil menghirup kopi panas, Pak Malik juga cerita bahwa beberapa penyanyi dangdut belum lama ini meminta lagu-lagunya untuk rekaman. Salah satunya Maria Eva, pedangdut asal Sidoarjo, yang bikin heboh lantaran skandar seksnya dengan Yahya Zaini, politikus Golkar, anggota parlemen di Jakarta. Pak Malik sangat siap.

"Saya punya banyak lagu yang belum dirilis. Coraknya macam-macam, saya sesuaikan dengan karakter penyanyi. Mau yang berbau Melayu Malaysia, Arab, pop, koplo... semuanya ada," ucapnya.

Tak terasa sudah hampir dua jam aku berada di rumah A. Malik Bz., seniman musik melayu. Aku lalu minta diri karena harus masuk kerja. "Hurek, kamu ini teman lama saya. Jangan segan-segan ke sini. Kapan saja, silakan ke sini," kata Pak Malik.

Terima kasih! Assalamualaikum!

07 October 2008

Bertemu Rhoma Irama, sang superstar

Siapakah superstar musik Indonesia?

Setahu saya belum ada riset dari lembaga yang kredibel. Dan rasanya tidak ada lembaga atau individu Indonesia yang mau capek-caek bikin penelitian macam begini. Tapi, berdasar pengalaman saya masuk keluar kampung, lihat televisi, menyimak rekaman dan film, Rhoma Irama layak disebut mahabintang. Superstar musik Indonesia.

Rhoma Irama bukan hanya penyanyi, pemimpin Orkes Melayu Soneta, gitaris dangdut-rock, pendakwah, pengurus Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia, pria bernama asli Oma Irama ini [RHoma itu Raden Haji, tambahan setelah naik haji] punya karisma luar biasa. Dia ibarat magnet yang bisa menyedot ribuan orang ke stadion atau lapangan kampung. Di mana-mana.

Bukankah konser band pop mutakhir macam Ungu, Peterpan, Dewa 19, Padi, juga sering dikunjungi ribuan penggemar? Benar. Tapi, ingat, popularitas band-band anyar ini cepat pudar. Ingat Sheila on 7? Di masa jaya, Stadion Tambaksari, Surabaya, penuh. Tapi konser tahun berikutnya penonton tak sampai 2.000.

Masa popularitas band-band pop anyar ini sangatlah pendek. Lalu, muncul band-band dan penyanyi-penyanyi baru. Albumnya meledak, stadion penuh. Lalu, gembos dan tidak laku. Rumus ini tidak berlaku untuk Rhoma Irama. Belum lama ini saya menyaksikan kegilaan penduduk desa-desa di Jawa Timur untuk melihat show Rhoma Irama dan Soneta Group. Kata-kata, gerak-gerik, syair... Bang Rhoma belum lekang di usianya yang tak muda lagi.

Hmm... Rhoma Irama juga masih digilai cewek-cewek cantik lho! Pelajaran moral nomor satu: Kalau ingin dikejar gadis-gadis cantik, jadilah superstar dangdut! Jangan jadi wartawan!

Saya sendiri kali pertama mendengar suara Rhoma Irama dari album lama milik Bapak Hamzah S. Hurek (kini almarhum) di kampung, pelosok Lembata, Flores Timur. Kebetulan dia baru pulang dari Malaysia. Sebagian besar koleksi kasetnya memang Rhoma Irama. "Lagu-lagu Rhoma Irama itu mengajak kepada kebaikan," ujar Pak Hamzah.

Paman beristrikan orang Malaysia ini juga dikenal sebagai pendakwah Islam di tengah penduduk yang mayoritas Katolik. Setiap hari dia memutar album Rhoma Irama sampai batu baterai zwak (lemah). Ingat, di kampung saya belum ada jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara! Karena ingin dengar terus, saya membawa baterai dari rumah agar tape recorder yang dibawa dari Sabah, Malaysia Timur, itu bunyi terus.

Mau tahu lagu Rhoma Irama yang paling saya suka? PIANO. Duet Rhoma Irama dan Nur Halimah. Isinya dialog antara guru piano (Rhoma) dan muridnya, gadis cantik. Syairnya antara lain begini:

...........................
Pak Guru, not ini apa namanya?
(Yang mana?) Re la la fa la la re
Pak Guru, yang ini apa namanya?
(Yang mana lagi?) Mi do do sol do do mi

Pak Guru, kini aku sudah tahu
Sekarang beri pelajaran baru
...............................

Ungkapan MI DO DO SOL DO DO MI pun jadi sangat terkenal di kampung saya. Anak-anak, remaja, muda-mudi, bercanda dengan melantunkan not-not ini. Aha, ternyata, setelah pindah ke Jawa Timur, masyarakatnya ternyata lebih gila lagi pada Rhoma Irama, yang digelari Raja Dangdut. Ribuan orang antre di bioskop untuk menonton film musikal yang dibintangi Rhoma Irama. Saya sendiri ikut antre tiket MENGGAPAI MATAHARI di Bioskop Merdeka, Kayutangan, Malang.

Bukan main! Sepanjang film bedurasi sekitar dua jam, penonton bertepuk tangan memberi dukungan kepada si Rhoma Irama, tokoh baik-baik (protagonis). Ketika Rhoma bernyanyi, penonton, orang-orang kota dingin itu, ikut besenandung dan bertepuk tangan. Acara layar tancap di pelosok Bondowoso, waktu saya kuliah kerja nyata, lebih heboh lagi. Masyarakat datang dari mana-mana hanya untuk menonton film lama Rhoma Irama.

Meski bukan penggemar musik dangdut, bagi saya, Rhoma Irama tetap superstar. Mahabintang musik pop Indonesia (dangdut itu ya termasuk pop juga menurut definisi pop culture) yang belum ada tandingannya sampai hari ini. Dia ibarat raja atau "dewa" dari dunia lain. Apalagi kalau sudah tampil di panggung dengan jubah kebesarannya, dengan tekanan kata yang khas.

Saya sudah berkali-kali menyaksikan secara langsung konser Rhoma Irama di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember. Di televisi tak terbilang lagilah. Tapi saya baru SATU KALI bertemu Rhoma Irama secara langsung. Tatap muka. Omong-omong santai ketika Bang Rhoma tidak memakai baju artis.

"Ayo, kita cari tempat yang enak sajalah. Pesan minum atau makanan, silakan," kata Rhoma Irama.

Superstar ini tampil sederhana. Baju biasa, celana panjang biasa, ya, seperti orang biasa. Beda jauh dengan penampilan di televisi atau panggung yang serbagemerlap, wah, jauh dari bumi. Beberapa pelayan hotel, juga penggemar Rhoma Irama, bahkan tidak sadar bahwa tamu yan sedang mereka layani itu Rhoma Irama.

"Gak kaya artis lain yang wah. Rhoma Irama ini datang diam-diam kayak nyamar," kata si pelayan di Hotel Hyatt Surabaya beberapa waktu lalu.

Yang membuat saya paling terkesan, nada bicara Rhoma Irama tidak pernah tinggi. Halus banget. Rhoma juga selalu tersenyum ramah kepada lawan bicara. Dia selalu bilang MATUR NUWUN untuk terima kasih. "Saya ini sudah main musik sejak awal 1970-an. Dulu saya gabung sama OM (Orkes Melayu) Purnama sebelum membentuk Soneta Group," tutur Bang Rhoma.

Bersama Soneta, Rhoma Irama menggebrak musik Indonesia dengan DANGDUT. Bahan-bahan dasar musik yang satu ini sejatinya sudah ada (gambus Arab, Melayu, India, etnik, pop), tapi di tangan Rhoma Irama dan Soneta dandut menjadi sangat populer. Bahkan, istilah DANGDUT sendiri dibuat oleh Rhoma Irama.

Sepanjang sejarah Indonesia, menurut saya, belum pernah ada musik yang membius begitu banyak orang Indonesia, kecuali DANGDUT. Mainkan dangdut dan dipastikan ratusan, bahkan ribuan orang, datang ke lapangan. Mainkan dangdut, maka kampanye pilkada atau kampanye pemilihan umum disesaki massa. Kalau ingin beroleh banyak pendukung, ya, kerahkanlah pemusik dan penyanyi dangdut. Jangan musik pop, apalagi keroncong atau seriosa!

Album Rhoma Irama pertama yang bikin geger persada musik Indonesia tentulah BEGADANG. Diterbitkan Yukawi pada 1974, album ini menampilkan lagu BEGADANG, SENGAJA, SAMPAI PAGI, TUNG KRIPIT, CINTA PERTAMA, KAMPUNGAN, YA LE LE, TAK TEGA, SEDINGIN SALJU. Musik Melayu ala Rhoma Irama (kemudian populer menjadi DANGDUT) lebih canggih, dinamis, modern, dengan sentuhan rock. Rhoma sukses melakukan revolusi musik Melayu yang tadinya stagnan, begitu-begitu saja.

Ah, saya hampir tak percaya duduk berdampingan dengan Rhoma Irama sambil mencicipi ayam goreng, kentang, dan panganan yang dibeli superstar. Saya tidak bertanya lebih banyak karena bahan-bahan tentang dangdut, perjalanan karier, kesibukan Rhoma Irama, sudah banyak tesedia di internet dan media cetak. Jadi, tidak perlulah bertanya-tanya lagi hal yang sama.

"Saya tetap bermusik, dakwah, dan ikut kegiatan yang positif. Termasuk membantu kampanye Ibu Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur," ujar pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.

Petemuan saya dengan Rhoma Irama tak lepas dari jasa Prof. Andrew Weintraub PhD, peneliti musik dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat. Andrew bukan sekadar profesor, tapi penggemar berat Rhoma Irama. Dia khusus datang ke Indonesia untuk mengikuti tour show Rhoma Irama dan Soneta Group.

"Saya punya band di Amerika, Dangdut Cowboy. Kami membawakan lagu-lagu dangdut, khususnya punya Rhoma Irama," ujar teman akrab Rhoma ini. Sekarang Prof. Andrew Weintraub tengah mempersiapkan buku tentang perjalanan musik melayu-dangdut di Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Saya dikenal Prof. Andrew lewat blog ini yang memuat cukup banyak cerita tentang musik Indonesia (lama), khususnya OM Sinar Kemala. Orkes pimpinan Abdul Kadir (almarhum) asal Surabaya ini salah satu pelopor musik melayu di tanah air. Ketika datang ke Surabaya, Andrew Weintraub menghubungi saya, sehingga saya bisa bertemu langsung Rhoma Irama dalam suasana santai, gayeng, sambil makan-makan kentang goreng.

Pelajaran moral nomor dua: Punya blog itu banyak gunanya. Bisa bertemu, bercanda, makan bersama superstar musik Indonesia. Dan ditemui profesor hebat USA, diwawancarai, jadi teman dekat.

06 October 2008

Uskup Bandung ternyata blogger




Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta silaturahmi Lebaran ke Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Bandung, 1 Oktober 2008.


Saya baru saja membaca majalah HIDUP, mingguan Katolik yang terbit di Jakarta, edisi 5 Oktober 2008. Ada yang menarik di halaman 34. Iklan satu halaman penuh dari Uskup Bandung Monsinyur Johannes Pujasumarta. Beliau berterima kasih atas partisipasi banyak pihak dalam rangkaian tahbisannya sebagai uskup Bandung pada 10-20 Juli 2008.

"Kerelaan Anda berbagi telah menggetarkan hati saya," tulis Mgr. Pujasumarta.

Iklan ucapan terima kasih, syukur kepada Tuhan, sudah sangat biasalah. Tapi yang bikin saya terkejut Mgr. Pujasumarta juga mengumumkan alamat blognya di http://pujasumarta.multiply.com. Juga ada alamat e-mail, nomor telepon, alamat keuskupan, website resmi Keuskupan Bandung. Bapak Uskup tersenyum, tangan kanan menyapa umat, tangan kiri pegang tongkat uskup.

Bukan main! Baru kali ini saya tahu bahwa ada uskup Katolik di Indonesia punya blog
pribadi. Kalau website keuskupan, blog pastor-pastor, sih sudah banyak. Bahkan, ketika belum banyak orang Indonesia belum kenal internet dan komputer, beberapa pastor sudah memanfaatkan teknologi ini. Gembala-gembala kita tidak gaptek amatlah. Hehehe...

Tapi uskup punya blog? Amboi, saya baru tahu dari iklan Mgr. Pujasumarta di HIDUP. Dan saya sangat terkesan. Lebih terkesan lagi ketika saya bertamu ke blog berjudul JOHANNES'S SITE ini. Isinya selalu aktual, selalu dimutakhirkan, dan banyak sekali
komentar. Rata-rata setiap artikel dikomentari 20-30 orang, bahkan lebih. Ini berarti upaya Mgr. Pujasumarta bak gayung bersambut, kata berjawab.

Setiap komentar pembaca--bisa dipastikan umat Katolik yang taat, jika memembaca isi
komentar--pun dijawab. Bapa Uskup juga balas meminta umat di luar negeri untuk berbagi pengalaman rohani ketika mendengar lagu Ndherek Dewi Maria.

"Ayolah berbagi pengalaman mengenai devosi kepada Maria," tulis Mgr. Pujasumarta untuk seorang perempuan, umat Katolik di luar negeri.

Mgr. Pujasumarta punya moto BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM. Bahasa Latinnya: DUC IN ALTUM. Bertolak ke tempat yang dalam berarti pula menggali berbagai kemungkinan, peluang, memanfaatkan teknologi apa pun untuk mewarkan kabar gembira Tuhan. Salah satunya di zaman ini, ya, internet.

Bagaimana bisa menyapa umat di kota besar macam Bandung, Jakarta, atau Surabaya yang melek internet kalau gembalanya gagap teknologi? Ini sebuah terobosan cerdas dari Mgr. Pujasumarta menjawab tantangan dunia KINI dan di SINI. Umat yang tiap hari "makan" internet tentu beda pendekatannya dengan, katakanlah umat di Papua atau Flores, yang belum kenal listrik PLN.

Saya yakin Mgr. Pujasumarta sudah menyadari benar konsekuensi "bermain" di dunia internet, sebagai blogger. Sebab, bagaimanapun juga karakter pengguna internet itu biasanya kritis, cerdas, kadang iseng dan ngawur. Saya pastikan komentar yang masuk di bisa saja membuat Bapa Uskup kecewa, prihatin, sedih, sakit hati, bahkan marah. Mudah-mudahan ini bisa diantisipasi Bapa Uskup.

Juga jangan dilupakan, sehebat-hebatnya internet, jauh lebih banyak umat yang belum kenal internet. Penetrasi internet di Indonesia masih di bawah 10 persen. Mayoritas umat itu orang biasa, sederhana, penghasilan pas-pasan, tidak mampu beli laptop atau memasang internet di rumah. Umat wong cilik--istilah Romo Mangunwijaya LEMAH-DINA-MISKIN--ini harus lebih diperhatikan kehidupan rohani dan jasmaninya ketimbang yang KUAT-MULIA-KAYA.

Jangan sampai karena keasyikan main internet, sibuk menjawab pertanyaan sesama blogger (orangnya ya itu-itu saja), para wong cilik diabaikan. Oke, Mgr. Pujasumarta, selamat bertugas! Semoga sukses mendampingi umat Katolik di Keuskupan Bandung untuk BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM.

04 October 2008

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

Andrea Hirata menggebrak jagat pustaka kita dengan LASKAR PELANGI. Buku terbitan Bentang, Jogjakarta, yang saya baca sudah cetakan ke-18. Bisa jadi sekarang sudah cetak ulang dan ulang. Apalagi filmnya sudah beredar sejak Lebaran (1/10/2008).

Biasalah, kalau novel difilmkan, orang pun ramai-ramai membeli buku--bagi yang suka membaca lah. Jumat malam, 3 oktober 2008, saya melihat para pembuat film LASKAR PELANGI macam Riri Reza dan Mira Lesmana tersenyum lebar di televisi karena film ini laku keras. Antre tiket di mana-mana.

Saya sendiri, seperti biasa, tidak suka menonton film. Sehebat apa pun resensi atau klaim produsernya. Saya lebih suka membaca buku. Santai, ngopi, sambil membolak-balik halaman. Tidak suka ikut arus. Karena itu, saya tidak tertarik dengan diskusi tentang perbedaan LASKAR PELANGI di buku dan film.

Lantas, apa kehebatan novel LASKAR PELANGI? Sederhana saja, menurut saya. Andrea Hirata bercerita secara runut. Ceritanya sederhana, tapi kuat, karena dipetik dari pengalaman anak-anak kampung yang sekolah di SD Muhammadiyah Belitong.

Sekolah ini mau tutup karena kurang murid. Syarat minimal 10 murid, padahal yang ada hanya 9. Sampai akhirnya muncul Hafan, anak cacat dan terbelakang mental, mengenapi jumlah siswa. Alhamdulillah, sekolah tak jadi tutup. Pak Harfan dan Bu Muslimah bahagia.

Nah, cerita-cerita sederhana khas anak kampung, kiprah 10 anak berjuluk LASKAR PELANGI, ini kemudian mewarnai seluruh buku. Andrea Hirata sangat menguasai cerita, tahu banyak, berikut bumbu-bumbu humor, karena tampaknya dia bagian dari 10 bocah LASKAR PELANGI. Bisa dikata novel ini pengembangan dari pengalaman nyata seorang Hirata.

Sejak kalimat kedua, halaman 1, kita langsung disuguhi kesan ilmiah. Pengarang memakai nama Latin filicium, pohon tua yang rindang di depan sekolah. Nama-nama botani ini sangat banyak. Bahkan, Hirata perlu membuat glosarium untuk menjelaskan nama-nama ilmiah itu.

Syukurlah, novel ini tidak lantas menjadi buku teks biologi, fisika, atau matematika karena alur ceritanya bagus. Masing-masing tokoh punya keunikan dan kekonyolan. Punya kegilaan--yang menurut ibunda Ikal--ada 44 macam. Kegilaan paling parah diidap tiga bocah: Mahar, A Kiong, disusul Flo. Mereka ini penggemar Tuk Bayan Tula, dukun sakti yang tinggal di Pulau Lanun.

Saking gilanya sama Tuk Bayan Tula, Mahar yang seniman, jago musik dan nyanyi, suram masa depan. Oh ya, saya sendiri penggemar Tennesse Waltz, nyanyian Mahar yang memukau teman-teman sekelas plus guru. Lagu lawas ini pada 1980-an dan 1990-an sering dipakai orang-orang Flores sebagai pengiring dansa.

Iramanya waltz, tiga perempat (ketukan pertama keras, ketukan kedua dan ketiga lembut), andante... memang cocok sebagai pengiring dansa. Ini digambarkan Hirata di bab khusus tentang Mahar, 127-138. Bisa dipastikan Hirata penggemar lagu nostalgia itu.

Meski berangkat dari pengalaman nyata Andrea Hirata, novel ya tetap novel. Imajinasi Hirata meluap-luap luar biasa. Bagaimana seorang Lintang, bocah kampung di pelosok Belitong, punya kepandaian melebihi juara Olimpiade fisika-matematika-kimia, bahkan pemenang Nobel. Baca buku apa saja dia? Ini sungguh sulit dibayangkan di alam nyata.

Jenius sih jenius, tapi deskripsi yang dibuat di LASKAR PELANGI jelas sangat berlebihan. Tapi, ya, gaya macam itu sering dibuat para novelis yang punya misi menyampaikan pesan-pesan tertentu. Tokoh-tokoh novel YB Mangunwijaya, misal, selalu bicara tinggi, macam ahli filsafat atau sosiolog, padahal tidak jelas pendidikannya. Novel GROTA AZZURA Sutan Takdir Alisjabana juga ibarat kuliah filsafat.

Si pengarang memang mencekokkan kata-kata di mulut para tokoh. Hirata punya pengalaman, ide, ambisi, misi, obsesi... lalu disampaikan melalui lakon-lakonnya. Dan dalang tak pernah kehabisan lakon, bukan?

Selain LASKAR PELANGI, saya juga sudah membaca seri susulannya SANG PEMIMPI, dan EDENSOR. Dari tiga buku ini, buku pertama, LASKAR PELANGI, tetap yang paling asyik.

Siapa sih yang tak suka anak-anak yang lugu, lucu, dan polos?

Selamat buat Andrea Hirata yang berhasil mengajak orang Indonesia untuk melihat sisi lain kehidupan rakyat di pelosok, sekolah-sekolah miskin, guru-guru yang berdedikasi, serta hidup yang sederhana di desa. Andrea Hirata pun berhasil mengangkat derajat manusia berambut IKAL (dan keriting) yang selama bertahun-tahun dimarginalkan di Indonesia.

Empat mahasiswa UPN magang


Nevy sama Anggun lagi kerja keras.

Pada bulan puasa lalu, saya kembali mendapat tugas untuk membimbing empat mahasiswa UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran Surabaya. Mereka Antonius Angga, Randie William, Nevy Periyanti, dan Anggun Dewi. Seperti biasa, lama magang satu bulan.

Magang, bagi mahasiswa komunikasi, merupakan tugas wajib. Kalau tidak magang di media, maka beberapa mata kuliah tidak bisa diambil. Dus, magang mau tidak mau, suka tak suka, senang tak senang, harus dilalui. "Cari tempat magang di Surabaya itu susah lho. Makanya, saya senang sekali bisa magang di Radar Surabaya," kata Randie, yang mengaku jago main bola.

Dibandingkan teman-teman lain, saya termasuk "berpengalaman" mendampingi para mahasiswa magang. Ada yang dari UPN, ITS, Stikosa AWS, Unesa, Unmuh Sidoarjo, hingga Universitas Airlangga. Karena itu, sedikit banyak saya hafal karakter mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. Paling asyik, ya, mendampingi mahasiswa-mahasiswa macam UPN ini.

Kenapa? Mereka pasti benar-benar bekerja. Meskipun tidak dibayar, mereka kerja mati-matian layaknya reporter beneran. Cari data. Memfoto. Wawancara. Mengetik. Padahal, mereka tak beroleh bayaran. Upahnya, ya, bisa magang dan dapat pengalaman lapangan. Juga bimbingan langsung dari redaktur.

Saya masih ingat bagaimana Elsa dan Ira--juga dua mahasiswa UPN Veteran--jalan kaki dari Joyoboyo ke Kupang Baru, rumah pelawak Kartono, karena sopir angkutan kota mogok massal pada Mei 2008. "Anggap saja ini pengalaman. Jarang lho mahasiswa bisa setiap hari bertemu dengan orang-orang penting," kata Ira. Bukan main!

Sebelum magang, saya selalu bertanya apakah mereka sudah mendapat teori menulis berita langsung, fitur (feature), dasar-dasar jurnalistik. "Oh, kami sudah dapat semua. Bahkan, kami selalu dapat tugas menulis berita di kampus," begitu jawaban adik-adik magang UPN Veteran. "Kalau belum ambil kuliah itu, ya, kami nggak mungkin magang," tambah yang lain.

Saya percaya saja. Mahasiswa komunikasi di mana-mana memang sudah banyak makan teori. Hanya praktiknya yang kurang. Kalaupun sudah praktik, biasanya jarang mendapat bimbingan intensif. Terlalu sulit bagi seorang dosen menangani sekian banyak mahasiswa.

Bagaimana si dosen bisa membaca tulisan anak-anak didiknya satu per satu? Membetulkan ejaan? Logika yang berantakan? Belum soal akurasi, gaya bahasa, dan elemen-elemen dasar jurnalistik lainnya. Karena itu, saya tidak pernah menuntut banyak dari para magang. Asal rajin masuk, mau ke lapangan, menulis satu berita tiap hari, cukuplah.

Nilainya pasti bagus. Kalau tulisan anak magang jelek, ya, sayalah yang harus membaguskannya. Sudah tugas redaktur to yang harus bikin baik itu tulisan-tulisan. Tapi memang sangat afdal kalau tulisan-tulisan yang disetor itu pressklaar alias fit to print. Biar tidak capek-capek edit sana edit sini, bukan?

Selama ini saya puas dengan kinerja mahasiswa-mahasiswa UPN. Mereka benar-benar bekerja. Saking seriusnya, banyak yang tidak sempat mandi. Langsung ke kantor, mengetik berita, untuk kemudian diedit. Kehadiran mereka membuat pasukan saya lebih segar dan energetik. Saya sering kehilangan ketika masa magang para mahasiswa ini habis.

Kekurangan magang? Tentu banyak. Tapi yang paling serius adalah EJAAN. Mereka umumnya kurang tertib menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Kapan titik, koma, kalimat langsung, kalimat tak langsung, belum tertib.

Para magang, juga reporter baru, memang suka memakai kalimat-kalimat panjang alias kalimat majemuk. Padahal, surat kabar di mana pun lebih suka kalimat sederhana. Kalimat-kalimat pendek. Ihwal KALIMAT PENDEK selalu saya tekankan kepada wartawan baru dan para magang. Tapi, ya, adik-adik ini selalu lupa. Apa boleh buat, si penyunting dibuat pusing dan capek.

Mudah-mudahan para guru kita, mulai sekolah dasar sampai universitas, semakin serius membekali anak didiknya dengan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan. Ingat, hasil ujian nasional bahasa Indonesia tahun ini--juga tahun-tahun sebelumnya--paling parah dibandingkan mata pelajaran lain.