30 August 2008

Selamat jalan Pak Soemadi Martono Wonohito

Nyuwun Duko, Pak Madi
Catatan Dahlan Iskan

Saya tahu sejak dulu bahwa Pak Madi -panggilan akrab untuk Dr (HC) Soemadi Martono Wonohito yang meninggal Jumat kemarin pukul 18.15 di Jogjakarta- itu tokoh pers dan pemilik harian Kedaulatan Rakyat di Jogjakarta. Tapi, hingga sepuluh tahun memimpin Jawa Pos, saya masih belum kenal dan belum pernah bertemu dengan beliau. Mungkin karena perbedaan umur yang jauh. Mungkin juga karena Pak Madi jarang mau muncul di pentas hura-hura orang pers di Jakarta. Sedangkan saya, sepuluh tahun pertama memimpin Jawa Pos, boleh dikata amat jarang keluar dari dapur: konsentrasi penuh, fokus dan merawat Jawa Pos seperti merawat bayi.

Memang saya pernah ke kantor Kedaulatan Rakyat, namun hanya di percetakannya. Yakni percetakan yang waktu itu masih sangat baru dan tergolong modern. Kecepatannya 40.000/jam, sistemnya double plate, empat unit, dan buatan Jerman. Namanya Uniman 2/2. Sedangkan Jawa Pos saat itu baru memiliki percetakan yang sangat kecil, kuno, dan hanya satu unit. Saya datang ke percetakan itu untuk melihat betapa modernnya percetakan KR. Mesin seperti itulah yang kami impikan dan kemudian di tahun 1984 berhasil kami beli. Setelah itu, tiap dua tahun Jawa Pos membeli percetakan baru yang kapasitasnya jauh lebih besar.

Suatu hari di tahun 1989, saya membaca berita koran mengenai musibah yang menimpa Pak Madi dan Kedaulatan Rakyat. Yakni berita bahwa hampir semua tenaga redaksi KR (mulai dari pimpinan redaksinya hingga reporternya) secara mendadak dan serentak menyatakan berhenti untuk pindah ke koran baru di Jogja. Saya bisa membayangkan paniknya Pak Madi -meski belum bisa membayangkan orangnya seperti apa. Maka, secara spontan, saya telepon Pak Madi. Saya sampaikan rasa simpati saya. Lalu, saya tawarkan apa saja bantuan yang diperlukan agar KR tidak terganggu oleh eksodusnya tenaga redaksi yang begitu dramatis.

Saya tahu Pak Madi tidak kekurangan uang, kertas, atau logistik lainnya. Karena itu, Pak Madi hanya memerlukan bantuan tenaga redaksi. Maka, hari itu juga saya kirim dua orang tenaga redaksi yang kira-kira bisa mengoordinasikan penerbitan darurat. Yang saya kirim, antara lain, Surya Aka, yang waktu itu sudah menjabat koordinator liputan. Jawa Pos memang masih kekurangan orang, namun membantu mengatasi krisis di KR lebih penting.

Pak Madi sendiri pernah bercerita kepada saya betapa paniknya malam itu. Bukan saja ditinggalkan redaksinya, tapi juga kehilangan naskah-naskah berita yang sudah disiapkan. Tapi, jiwa kewartawanan Pak Madi muncul. Pak Madi dengan segala cara mempertahankan agar KR tetap terbit hari itu, seperti apa pun mutunya. Pak Madi seperti terpanggil jiwa heroiknya untuk mempertahankan kelangsungan hidup KR. Saya hanya membantu di belakangnya.

Cukup lama Saudara Surya Aka berada di Jogja, ikut memimpin secara darurat penerbitan KR. Sampai lima bulan. Agustus-Desember 1989. KR selamat dari malapetaka. Bahkan, ketika Saudara Surya Aka sudah bisa kembali ke Jawa Pos di bulan Januari 1990, oplah KR justru sudah 50 persen lebih besar daripada sebelum ditinggal para redakturnya itu. Sedangkan koran baru yang dibangun investor dari Jakarta itu kian lama kian pudar dan akhirnya mati sama-sekali.

Suatu saat saya diminta Pak Madi untuk sama-sama ke Jakarta, menemui tokoh penting asal Jogjakarta: Probosutedjo. Itulah pertemuan pertama saya dengan Probosutedjo, adik tiri Presiden Soeharto itu. Di situ saya baru tahu Pak Madi lagi cari tokoh yang bisa melindungi kalau-kalau ada musibah politik yang menimpa KR. Kala itu keberadaan koran memang sangat rawan: kapan saja bisa dibredel. Apalagi KR berada di Jogja yang tentu masuk radar pengamatan istana. Salah sedikit bisa berbahaya.

Pak Madi, dengan gaya dan bahasa Jogja-nya, mengutarakan segala maksudnya dengan bahasa penuh terselubung. Saya bisa meraba maksud yang sebenarnya karena sebagai anak Magetan, budaya saya tidak banyak berbeda dengan budaya Jogja. Pak Madi berusaha apa saja untuk menyelamatkan korannya.

Kami punya kenangan manis dengan Pak Madi dan Kedaulatan Rakyat-nya. Juga kenangan solidaritas yang sangat baik. Sayang, kenangan ini sempat rusak gara-gara koran kami di Jogja menulis serentetan berita mengenai pribadi Pak Madi. Saya tidak tahu sama sekali karena saya berada di Surabaya. Kami tidak pernah mengikuti isi koran kami yang di Jogja waktu itu.

Saya tidak mempersoalkan benar salahnya berita tersebut. Juga tidak mempersoalkan sisi hukum di balik itu. Sebagai orang yang punya kenangan manis dengan Pak Madi, saya segera ke Jogja. Saya temui Pak Madi, saya cium tangannya, dan sebagai orang yang lebih muda saya ucapkan serentetan kata nyuwun duko.

Pak Madi lantas curhat yang mendalam kepada saya. Dia tunjukkan kepada saya sesuatu yang baru dia ambil dari lemarinya. Saya kaget. Barang yang beliau ambil ternyata tulisan tangan saya yang sudah diabadikan dalam bentuk tulisan timbul. Pak Madi juga menunjukkan betapa banyak tulisan saya yang dikumpulkannya dan disimpannya. Berkali-kali Pak Madi menyampaikan betapa selama ini mengagumi dan ingin mengikuti jejak saya, namun kemudian terganggu oleh pemberitaan yang dibuat anak buah saya.

Sekali lagi saya nyuwun duko. Tapi, mungkin itu memang belum cukup memuaskan hati Pak Madi. Setidaknya, saya merasa seperti itu. Karena itu, ketika saya dan Pak Madi bersama-sama berada di atas panggung untuk jadi pembicara di seminar yang diadakan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) di Bandung, saya ulangi sopan-santun ketimuran itu. Bahkan, di forum besar tersebut saya cium kakinya di depan umum.

Setelah itu, saya tidak pernah bertemu lagi. Saya sendiri kemudian menderita sakit yang parah. Liver saya terkena sirosis dan kemudian terkena kanker. Tiga buah kanker yang salah satunya sudah berukuran 6 cm berada di liver saya. Tidak ada jalan lain, saya harus ganti hati.

Setelah saya berhasil ganti hati itu, Pak Madi kirim SMS ke saya. SMS itu dalam bahasa Jawa kromo yang sangat santun. Pak Madi mengungkapkan rasa syukurnya bahwa saya selamat dari maut yang sudah terasa dekat. Saya balas SMS itu dengan ucapan terima kasih dalam bahasa kromo inggil.

Bulan lalu sebenarnya saya ke Jogja. Tapi, acara saya begitu padat. Saya menyesal tidak menemui Pak Madi hari itu. Terutama karena saya tidak mengira bahwa Pak Madi akan pergi selamanya secepat ini. "Nyuwun duko, Pak Madi." Saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan, berdoa setulus-tulusnya untuk kelapangan jalan Pak Madi ke surga. Saya juga tidak sempat melayat karena saya ke Singapura dan terus ke Kamboja. (*)

27 August 2008

PP 10 mengubah peta bulutangkis dunia



Tong Sin Fu alias Tang Xianhu alias Thing Hian Houw alias Fuad Nurhadi.


Oleh WENS GERDYMAN

Begitu pemain tunggal putra Tiongkok, Lin Dan, memenangkan medali emas di Olimpiade Beijing 2008, dia langsung melompat kegirangan dan memeluk kedua orang pelatihnya. Maklum, walaupun ia memegang ranking IBF (persatuan bulutangkis internasional) nomor satu dan sudah memenangkan Kejuaraan Dunia, Thomas Cup, dan All England, empat tahun sebelumnya di Athena, Yunani, ia harus menggigit jari dikalahkan di babak pertama oleh pemain Singapura asal Indonesia, Ronald Susilo.

Lawan bebuyutannya kala itu, Taufik Hidayat, yang akhirnya memenangkan medali emas 2004. Di tahun ini, Taufik tersingkir di babak pertama oleh pemain Malaysia, Wong Choon Hann.

Penggemar bulutangkis di Indonesia pasti tak asing lagi dengan salah satu pelatih Lin Dan, yang oleh persatuan bulutangkis Tiongkok diberi tugas khusus untuk mempersiapkan Super Dan – demikian ia biasa dipanggil oleh media luar negeri – untuk merebut medali emas. Ia tak lain ialah Tang Xianhu, bekas pelatih Tim Nasional Indonesia dari tahun 1987 sampai dengan 1997.

Tang Xianhu (menurut ejaan standar bahasa Tiongkok, pinyin) juga dikenal dengan nama Tong Sinfu (ejaan bahasa Kanton), dan ketika masih mewakili Indonesia sebagai pemain yunior di akhir tahun 1950-an, memakai nama lahirnya Thing Hian Houw (ejaan bahasa Hokkian, yang lazim dipakai di Indonesia sejak masa Hindia Belanda).

Di masa 1950-an, para pemain papan atas Indonesia didominasi oleh etnis Tionghoa, misalnya Tan Joe Hok dan Njoo Kiem Bie, dengan beberapa perkecualian misalnya Ferry Sonneville yang keturunan Eropa. Di bagian yunior, Hian Houw termasuk pemain generasi berikutnya.

Di masa itu juga, politik adalah panglima. Presiden Sukarno dekat dengan PKI, tapi bila perlu akan memberi angin kepada tentara yang di masa perang dingin itu mengambil haluan politik sangat kanan. Dengan dimotori oleh tentara, di tahun 1959, pemerintah Sukarno meluncurkan Peraturan Pemerintah Nomor 10, yang melarang etnis Tionghoa berdagang di kota tingkat kecamatan, jika mereka tidak memiliki surat bukti kewarganegaraan Indonesia (SBKRI).

“Pai hua” (racial harrassment), lagi-lagi “pai hua”, keluh etnis Tionghoa. Mengurus SBKRI, bahkan sampai 40 tahun kemudian pun, makan waktu bertahun-tahun dan uang banyak. Alhasil, PP 10, demikian ia dikenal, dalam waktu semalam membuat puluhan ribu warga Tionghoa di pelosok-pelosok kelihangan aset dan mata pencaharian.

Tak kurang dari sastrawan dan intelektual nomor wahid Pramudya Ananta Toer, memprotes ketidakadilan itu, yang dituangkannya dalam satu buku penuh data otentik dan tabel-tabel berjudul “Huakiao di Indonesia”. Atas keberaniannya sebagai satu-satunya “suara di padang pasir”, Toer dipenjarakan tentara.

Sebagai akibat dari ketidakbijakan ini, terjadi eksodus besar-besaran di tahun 1960 dari Indonesia ke Tiongkok. Bagaimana jika anda dilarang bekerja di bidang yang sudah turun temurun dilakukan dan diusir dari toko keluarga? Puluhan ribu pemuda-pemudi Tionghoa direpatriasikan ke kampung halaman nenek moyang mereka, walaupun bahasa Mandarin tidak begitu mereka kuasai atau mereka ucapkan dengan aksen Jawa yang kental.

Termasuk dalam rombongan ini ialah pemain-pemain top bulutangkis yunior di Indonesia, termasuk Thing Hian Houw (Jakarta), Houw Ka Tjong (Semarang), dan Fang Kaixiang (Surabaya) di rombongan pria, dan Tan Giok Nio and Leung Tja Hoa di bagian wanita.

Sesampainya di Tiongkok, nama-nama mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin menjadi Tang Xianhu, Hou Jiachang, Fang Kaixiang, Chen Yuniang, dan Liang Qiuxia. (Liang Qiuxia sendiri ialah kakak Tjun Tjun, yang kemudian bersama Johan Wahjudi menang piala ganda putra All England 5 kali berturut-turut.)

Dengan cepat mereka menjadi pemain-pemain papan atas di Tiongkok, karena mereka membawa serta permainan dan latihan “speed and power” yang dikembangkan oleh klub-klub bulutangkis di Indonesia (yang memungkinkan Indonesia mendominasi Thomas Cup dan All England 1956-1980).

Dalam setiap pertandingan internasional yang mereka hadapi, tidak ada yang mampu mengalahkan Tang cs. Bahkan Erland Kops, juara All England sebelum Rudy Hartono naik daun, hanya diberi 5 dan 0 dalam suatu pertandingan persahabatan waktu Kops berkunjung ke Tiongkok. Di masa itu, duo pendekar bulutangkis Hou dan Tang ini dikenal sebagai pendekar jurus monyet.

(Hou dari Hou Jiachang sama bunyinya dengan hou monyet) dan pendekar jurus macan (Hu dari Xianhu sama bunyinya dengan hu macan).

Sayangnya, perkembangan politik di Tiongkok membuatnya menjadi negara yang tertutup (tirai bambu). Pertama, Republik Rakyat Tiongkok sampai tahun 1974 tidak diakui oleh Persatuan Bangsa Bangsa; Republik Nasionalis Tiongkok (Taiwan) lah yang diakui oleh PBB dan banyak negara lain sebagai satu-satunya negara Tiongkok.

Kedua, ketua Partai Komunis Tiongkok Mao Zedong meluncurkan program revolusi kebudayaan yang makin membuat Tiongkok terisolasi dari dunia internasional dan membuat perkembangan ekonomi dan budaya Tiongkok mandek selama era 1968-1978.

Ketiga, G30S PKI di Indonesia dengan imbas samping terputusnya hubungan diplomatik mengakibatkan pertukaran informasi dan budaya antara Indonesia dan Tiongkok sama sekali terputus antara 1965-1980. Tiongkok sendiri anggota World Badminton Federation, sedangkan Indonesia anggota International Badminton Federation.

Akibatnya, Tiongkok tidak pernah turut serta All England, Piala Thomas/Uber, dan turnamen lainnya yang disponsori oleh IBF. Paling-paling hanya Asian Games. Hou Jiachang dan Tang Xianhu di masa jayanya di tahun 1960-an dan awal 1970-an tidak pernah bertanding dengan pemain legendaris Indonesia Rudy Hartono.

Pada waktu mereka mulai gaeklah (usia 36) mereka bermain melawan Iie Sumirat dalam suatu pertandingan di Bangkok dan kalah. Jadi kita tidak akan pernah tahu, siapa yang lebih hebat: Hou dan Tang atau Rudy Hartono.

Begitu mereka pensiun sebagai pemain, Tang, Hou, dan Liang melanjutkan karier mereka sebagai pelatih. Tang dan Liang kemudian menjadi pelatih kepala tim nasional putra dan putri.




Dapat dikatakan efek mereka sebagai pelatih jauh lebih besar daripada sebagai pemain. Para pebulutangkis didikan mereka, langsung maupun tak langsung, langsung mampu bersaing dengan Liem Swie King dkk. begitu pintu diplomasi dibuka di tahun 1980. Dalam pertarungan persahabatan di tahun 1980, Indonesia dikalahkan tipis 5-4 oleh tim Tiongkok yang berisi Han Jian, Luan Jin, antara lain.

Generasi berikutnya Yang Yang, Zhao Jianhua naik daun bersamaan dengan turunnya pamor Liem Swie King karena usia. Icuk Sugiarto dicatat sejarah sangat kesulitan dan tidak pernah menang melawan Yang Yang.

Di bagian putri yang secara tradisional didominasi oleh Jepang dan kadang-kadang Indonesia, anak didikan Liang Qiuxia menyapu semua pertandingan internasional di tahun 1980-an, dengan dimotori Li Lingwei, Han Aiping, dkk.

Tang sendiri mengatakan, ia tidak bisa mengubah batu menjadi emas. Artinya, bakat harus ada, tidak bisa tanpa bakat dengan latihan langsung menjadi juara. Tapi peran pelatih dan tradisi disiplin dan kemampuan teknis yang dibawanya tidak bisa dianggap remeh.

Buktinya? Setelah Deng Xiaoping (pengganti Hua Guofeng yang ditunjuk oleh Mao Zedong sepeninggalnya) menjabat sebagai pemimpin RRT, ekonomi Tiongkok dibuka lebar. Pelatih boleh bekerja di luar negeri untuk mendapatkan penghasilan lebih. Tang Xianhu dan Liang Qiuxia memilih kembali ke tanah kelahiran mereka dan diangkat oleh PBSI menjadi pelatih tim nasional Indonesia, sejak tahun 1987.

Seorang pemain bulutangkis Amerika keturunan Vietnam pernah berlatih dengan timnas Indonesia di tahun 1988. Ia bercerita, latihan sangat berat. Delapan jam sehari, ditambah dua jam latihan main. Jika ada yang kakinya terkilir, pelatih dengan keras akan berkata: “Bangun, atau keluar”.

Hasil dari latihan keras ini? Ardy Wiranata, Heryanto Arbi kembali memenangkan All England berkali-kali. Di tahun 1992, Allan Budikusuma dan Susy Susanti mengawinkan medali emas putra-putri di Barcelona. Pemain-pemain tunggal Indonesia, digabung dengan kekuatan tradisional Indonesia di ganda putra yang dilatih Christian Hadinata, kembali mendominasi piala Thomas.

Di bagian putri, Susi Susanti dkk. untuk pertama kalinya sejak 1976 memenangkan Piala Uber. Susi sendiri mengakui peranan “cik Chiu-Hsia” demikian Liang dipanggil oleh anak didiknya di pelatnas. Tiongkok kelabakan ditinggal oleh dua pelatih dewa ini, dan perlu beberapa tahun untuk membangun kembali program mereka di bawah Li Yongbo, bekas didikan Tang juga.

Sekembalinya di Indonesia dan melanjuti sukses mereka, Tang dan Liang bahkan mau kembali menjadi warga negara Indonesia. Bahasa Indonesia mereka masih lancar. Bahkan kalau mereka bicara bahasa Mandarin dengan aksen Indonesia. Tapi, mengurus SBKRI tidak gampang.

Kemudian terjadi krisis moneter dan dampak negatifnya kerusuhan rasial Mei 1998 yang lagi-lagi ditunggangi oknum-oknum tentara. Tang memilih kembali ke Tiongkok ke tanah leluhur di Hokkian. Walaupun tidak jadi pelatih kepala, ia diminta melatih ganda putra dan secara selektif beberapa tunggal putra.

Hasilnya? Tiongkok kembali naik daun. Ji Xinpeng meraih emas mengalahkan Hendrawan (juga bekas murid Tang) di Sydney 2000. Hanya Taufik yang mampu mematahkan dominasi itu di Athena 2004. Pemain-pemain Tiongkok kembali mendominasi kejuaraan-kejuaraan beregu, baik Thomas, Uber, maupun Sudirman Cup.

Dan terakhir, Lin Dan membalas kekecewaan empat tahun lalu dan mempersembahkan medali emas kepada Tiongkok dan pelatihnya, Tang Xianhu alias Thing Hian Houw.

Jika bukan karena PP 10, hari ini RRT tidak akan mempunyai tradisi bulutangkis dominan yang diluncurkan oleh Tang, Hou, Liang, dkk., etnis Tiongkok asal Indonesia. Bukan tidak mungkin Indonesialah yang mendominasi total semua medali emas putra dan putri di dalam Olimpiade.


BACA JUGA

Tong Sin Fu yang Disia-siakan

Teknik vokal menurut N. Simanungkalit



Kebyar-Kebyar karya Gombloh, aransemen SATB oleh N. Simanungkalit.

Nortier Simanungkalit identik dengan paduan suara. Pria kelahiran Tarutung, Sumatera utara 17 Desember 1929 ini tak asing di kalangan para aktivis paduan suara. Pak Simanungkalit sangat produktif. Komposisi-komposisinya khas. Dia bikin ratusan mars, himne, serta lagu-lagu khusus untuk festival paduan suara baik itu tingkat mahasiswa, umum, gerejawi, atau instansi tertentu.

Maka, sangat wajar bahwa Pak Simanungkalit digelari Bapak Paduan Suara. Sampai hari ini, ketika usianya mendekati 80 tahun, Pak Kalit masih terus berkarya. "Saya ini kan pemusik. Musik tidak bisa lepas dari napas hidup saya. Saya baru berhenti berkarya kalau sudah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa," ujar Pak Simanungkalit kepada saya beberapa waktu lalu.

Tadi, 27 Agustus 2008, secara tak sengaja saya menemukan buku Teknik Vokal Paduan Suara di Toko Buku Gramedia Jalan Manyar, Surabaya. Penyusunnya N. Simanungkalit. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu. Takut habis kalau tidak segera 'diamankan'. Lantas, sambil menikmati lontong balap di Taman Bungkul, saya lahap habis buku teori vokal kor versi Bapak Paduan Suara Indonesia. Saya cermati uraiannya mulai halaman 1 sampai 124.

Bagi bekas aktivis paduan suara macam saya, banyak hal yang tak asing lagi dalam teknik olah vokal. Simanungkalit membahas teknik pernapasan--poin paling penting bagi penyanyi dan pemain alat musik tiup. Kemudian vokal dan konsonan: cara melafalkan huruf mati dan huruf hidup. Jenis dan karakter suara. Yang tak kalah penting bagaimana paduan suara harus tampil di atas panggung.

Mengapa suara parau. Pantangan bagi penyanyi. Aha, saya dan teman-teman dulu sering menyediakan wedang jahe untuk anggota paduan suara. Ini SALAH total! Pak Simanungkalit menulis: "Para ahli vokal dan paduan suara menganjurkan seorang penyanyi menghindari makanan dan minuman panas atau dingin yang didominasi rasa pedas, mengandung unsur jahe, kencur, asam, dan berlemak dua jam sebelum pementasan."

Maka, Saudara-Saudara, segera hapuskan minuman jahe hangat dari menu latihan Saudara! Paling afdal tentu minum air putih. Jangan-jangan paduan suara saya sering kalah pada 1990-an karena terlalu sering minum jahe selama latihan dan menjelang lomba. Hehehe....

Nasihat Pak Simanungkalit ini layak kita petik karena asal tahu saja beliau inilah yang kali pertama menggagas festival paduan suara mahasiswa tingkat nasional pada 1978. Sampai sekarang festival itu masih jalan. Paduan suara mahasiswa tumbuh di kampus-kampus tak lain berkat dedikasi luar biasa dari Pak Simanungkalit.

Buku karya N. Simanungkalit di usia senja ini sangat cocok untuk para aktivis paduan suara di Indonesia. Memang, dibandingkan buku serupa karya Karl-Edmund Prier SJ, MENJADI DIRIGEN [tiga seri], buku tipis ini kalah lengkap. Teknik pembentukan suara digeber habis Romo Prier yang juga bos Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta. Pak Simanungkalit lebih fokus ke garis-garis besar saja. Termasuk teori musik dasar yang wajib dipahami para penyanyi paduan suara.

Sonoritas suara menjadi tekanan Pak Kalit. Dia mengibaratkan vokal kor seperti kopi susu. Kopi susu terdiri dari kopi, gula, susu, air panas. Hasilnya kopi susu, tapi tidak terlihat lagi unsur-unsur kopi, gula, susu. "Demikian juga dengan suara kor. Unsur-unsurnya adalah suara perorangan dan berbagai unsur lainnya seperti suara sopran, alto, tenor, bas. Adukkan suara-suara manusia ini disebut suara kor atau choral voice," tulisnya di halaman 45.

Simanungkalit ternyata seorang komponis yang gandrung nada-nada pentatonik khas Indonesia. Pada 1981-1991 dia bikin orkes simfoni gondang Batak. Jauh sebelumnya, 1972, Pak Simanungkalit diundang sebagai pembicara pertemuan musik sedunia di New York. Saat itu dia memperkenalkan aransemen paduan suara GAMBANG SULING karya Ki Narto Sabdo dengan notasi pentatonik Jawa yang sangat kental lengkap dengan iringan piano.

Komposisi ini kemudian tak hanya terkenal di Indonesia, tapi juga kalangan pakar musik dunia. Aransemen paduan suara dan piano GAMBANG SULING tak lupa dilampirkan di buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, ini.

Yang cukup menggelitik, N. Simanungkalit menegaskan bahwa musik rap--semacam ocehan--itu sudah dikenal orang Batak sejak awal abad ke-20. Di Amerika justru baru muncul pada akhir 1970-an. Simanungkalit menunjuk lagu SIK-SIK SIBATU MANIKKAM yang terkenal itu. "Lagunya sangat miskin nada melodi, kata-katanya tidak begitu berarti, tetapi iramanya berulang-ulang menimbulkan kesan lucu. Lagu rap ini bisa didahului ataupun diikuti dengan lagu padanan atau lagu rakyat jenaka Batak lainnya." (halaman 85).

Masih ingat syair SIK-SIK SIBATU MANIKKAM yang kerap dibawakan paduan suara mahasiswa itu?
Ini dia:

SIK-SIK SIBATU MANIKKAM
DIPARJOGET
SORMA DI GOTTAM
DINAMA NGINGANI
SI GAMBANG KARJULA-JULA
SI GAMBANG KARJULA-JULA

Baca Juga:
N. Simanungkalit Bapak Paduan Suara.

Siti Idola Cilik mau jadi petinju




"Siti, lihat sini, saya mau motret kamu."

Siti pun langsung menatap kamera. Senyum manis. Tangan kanannya membentuk huruf V. Otomatis.

"Sekali lagi ya!" pinta saya.

Dan Siti langsung mengubah pose. Benar-benar mirip artis kawakan.

Saya pun tertawa geli melihat gaya bocah yang baru saja digodog di Jakarta oleh sebuah stasiun televisi itu. Cara senyum, bicara, jalan, menghadapi audiens, wartawan... semuanya sudah tertata. Beda dengan anak-anak kampung yang masih polos dan 'kampungan'.

Siti ini 'anak negeri' [baca: anak jalanan] yang dididik di Sanggar Alang-Alang, samping Terminal Joyoboyo, Surabaya. Diasuh Mas Didit HP, bos Alang-Alang, bakat musik Siti semakin terarah. Selain menyanyi untuk cari uang di terminal dan stasiun, namanya juga pengamen cilik, Siti bisa bermain drum.

Pukulannya keras, penuh semangat. Saking semangatnya, Siti seolah mengabaikan harmoni musik. Dia ingin menonjol sendiri. Instrumen lain tertutup. Tapi tidak apa-apalah, toh penonton biasanya senang, kagum, melihat pengamen jalanan bisa bermetamorfosa sebagai selebritas cilik. Masuk RCTI, terkenal di seluruh Indonesia.

Siti produk variety show Idola Cilik ala RCTI. Dengan latar belakang pengamen jalanan, anak jalanan, banyak orang mengirim SMS untuk mendukungnya. Selain itu, suaranya cukup bagus. Cara menyanyi dimirip-miripkan dengan penyanyi band anak muda yang laku sekarang. Agak serak dan dibuat-buat.

"Malam ini kusendiri, tiada yang menemani. Seperti malam-malam yang telah silam...," begitu antara lain syair lagu ciptaan Ahmad Dani yang selalu dibawakan Siti di depan khalayak. Oh ya, lagu ini pun selalu dibawakan para pengamen di bus kota Surabaya. Siti itu anak-anak, tapi industri musik kita memaksanya menyanyikan lagu-lagu pacaran ala anak muda kota besar.

Terus, apa sebetulnya cita-cita Siti?

"Jadi petinju," tegasnya.

Nggak salah nih?

"Tidak. Saya mau jadi petinju!"

Perempuan jadi petinju? Situ pun bercerita. Bahwa dunia yang dihadapinya di jalanan, stasiun kereta api, terminal bus, itu berat. Tak sedikit orang berwatak jahat yang bisa saja merampok uang hasil ngamen. Maka, dia ingin mengantisipasi dengan menguasai olahraga bela diri nan keras ini. Kalau bisa jurus-jurus tinju, tentulah Siti dengan mudah mengatasi keisengan orang jahat.

Pada Kontes Idola Cilik, Siti beroleh nomor 7. Tujuh besar! Prestasi hebat karena saingan Siti umumnya anak-anak orang berada. Setidaknya bukan anak jalanan macam dia. Keluarganya tak mampu. Sanggar Alang-Alang pun tak mampu memborong pulsa untuk 'ngebom SMS' ke operator.

Asal tahu saja, pemenang variety show di televisi kita ditentukan oleh SMS. Banyak peserta menghabiskan uang puluhan, bahkan ratusan juta, hanya untuk ngebom SMS. Ada yang akhirnya menang, tapi jauh lebih banyak yang kalah. Dan... kemudian stres atau sakit jiwa. Atau, kembali sebagai wong cilik, berjualan bakso atau jadi tukang kredit.

Karena itu, prestasi Siti sebagai the best seven Idola Cilik RCTI layak diapresiasi.

"Kapan kamu ke Jakarta lagi? Masuk televisi?" tanya saya.

"Belum tahu. Aku tunggu panggilan," jawab Siti yang dikerubungi sejumlah fansnya.

Percakapan santai ini pun terhenti karena Siti harus segera tampil di Kick Andy. Ini program unggulan MetroTV yang dipandu Andi Flores Noya.

26 August 2008

Priyo Suprobo rektor ITS



Juru Tulis: Bahtiar dan Siti (ITS Online)
juru Edit: Lambertus L. Hurek

Sejak dilantik oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo sebagai rektor ITS pada 13 April 2007, kesibukan Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD semakin bertambah. “Saya sekarang sekali bolak-balik ke Jakarta,” ujar pria jebolan Purdue University, Amerika Serikat, ini.

Pengganti Prof Mohammad Nuh--sekarang Menteri Komunikasi dan Informasi--ini sebelumnya juga aktif sebagai ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia Komda Jawa Timur dan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Jatim. Walaupun begitu, dia masih menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan keluarga.

“Saya usahakan menyisihkan waktu untuk window shopping, main bulu tangkis, dan golf dengan keluarga,” ujar anak kedua dari enam bersaudara ini. Tapi ia juga mengakui bahwa terkadang waktu luang untuk keluarga terambil oleh kesibukannya.

Priyo juga memiliki hobi kuliner. Dia mengaku jatuh hati dengan soto ayam. Bahkan, dia punya langganan khusus di Jogjakarta, kota asalnya. “Di Jalan Adi Sucipto, yang juga langganannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Red),” ujarnya.

Ditanya perjalanan hidupnya, dia menceritakan bahwa kesuksesan yang diraih sekarang diinspirasi pesan orangtuanya. “Intinya, di mana pun saya berada saya harus bisa membawa diri dan berguna bagi sesama,” tambahnya sambil mengingat-ingat masa lalunya. Sehingga, orangtuanya membebaskan Priyo dalam memilih jalan hidupnya.

“Dahulu saya hanya ingin jadi insinyur,” tegasnya. Sebab, pria asal Jogjakarta ini menganggap insinyur sebagai pekerjaan yang diisi orang-orang pintar.

Priyo Suprobo mengaku sempat mengalami dilema ketika lulus SMA. Ketika itu dia sudah diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Jogjakarta, dan Teknik Sipil ITS. Ternyata, dia memilih Teknik Sipil ITS. “Kalau insinyur kan bisa jadi politisi dan seniman, tapi kalau politisi atau seniman sulit jadi insinyur,” tuturnya lalu tertawa kecil.

Pada umur 43 tahun, dia meraih gelar profesor dalam bidang struktur beton. Dia juga pernah tercatat sebagai guru besar termuda di ITS sebelum rekornya dipatahkan Prof Agus Rubianto (saat umur 37 tahun, Red). Dia mengaku bahagia ketika melihat anak didiknya menjadi orang sukses. Namun, dia sedih melihat mahasiswanya tidak bisa menangkap pelajaran. “Ada dua kemungkinan kalau mahasiswa diam: mengerti atau blank. Saya lebih suka mahasiswa yang banyak bertanya,” tegasnya.

Dalam mendidik anak, ia tidak pernah memaksakan pilihannya kepada anaknya. Anaknya yang tertua kuliah di FK Unair, sementara anaknya yang lain sempat mengatakan ingin menjadi pengusaha restoran. “Apa pun pilihan mereka saya hargai,” ujar ayah dari empat anak ini.

Soft Skill Alumni Masih Kurang

Berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta akhir-akhir ini saling berlomba meningkatkan kualitas. Tak terkecuali Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Bahkan, ITS telah mencanangkan diri sebagai kampus yang siap go international.

Bagaimana desain dan visi ITS ke depan? Berikut wawancara khusus dengan Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD.


Apa strategi Anda untuk lebih meningkatkan kualitas ITS sebagai salah satu perguruan tinggi utama di tanah air?

Yang jelas, saya akan membawa ITS untuk go international. Itu misi utama yang akan saya jalankan selama memimpin institut ini. Sehingga, nantinya ITS mendapat pengakuan resmi dari Ranking World Class University.

Untuk menjalankan misi tersebut, langkah-langkah apa yang akan dilakukan?

Ada banyak cara. Di antaranya, meningkatkan lulusan ITS yang berkualitas, sehingga nantinya lulusan ITS tidak sekadar jago kandang. Meningkatkan prestasi bertaraf internasional seperti Maritim Challenge. Kemudian meningkatkan riset-riset bertaraf internasional dan tentunya diakui tingkat internasional.

Berkaitan dengan status ITS sebagai perguruan tinggi negeri (PTN), adakah rencana ITS untuk menyesuaikan diri dengan manajemen PTN sekarang?

Sesuai dengan instruksi Mendiknas, saat ini PTN diharuskan beralih status ke menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP) atau Badan Layanan Umum (BLU). Pilihannya hanya dua itu.

Alasan apa pihak ITS memilih BLU?
Ada beberapa pertimbangan, dan ini pun telah dimusyawarahkan dengan Senat ITS. Di antaranya, pegawai administrasi dan dosen masih ditanggung negara (APBN), defisit keuangan masih ditanggung negara, serta diperbolehkannya membentuk usaha. Selain itu, undang-undang tentang BLU lebih jelas daripada BHP.

Dengan status BLU, apakah ada perubahan biaya SPP? Biasanya, masyarakat khawatir SPP semakin tidak terjangkau oleh mahasiswa yang orangtuanya tidak mampu?

Mahasiswa lama tidak perlu khawatir karena biaya SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) untuk mahasiswa lama tidak akan dinaikkan. Sebab, SPP itu naik hanya untuk mahasiswa baru, dan itu pun sudah dengan pertimbangan yang cukup matang. Dan, sebenarnya, biaya kuliah di ITS itu sudah cukup murah.

Mahasiswa hanya membayar sekitar 12,5 persen dari biaya total. Sebenarnya satu orang mahasiswa bisa menghabiskan biaya Rp 18 juta. Padahal, pihak institut hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah sekitar Rp 2,5 juta per mahasiswa. Sedangkan sisanya dari ITS dan SPP mahasiswa.

Terus, bagaimana dengan proporsi mahasiswa yang diterima di ITS?

Sejauh ini untuk penerimaan mahasiswa baru 65 persen dari SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan sisanya dikhususkan untuk program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Nah, calon mahasiswa dari program PMDK harus ikut placement test.

Placement test di sini bisa dilihat dari prestasi akademik yang dicapai oleh calon mahasiswa itu sendiri, baik itu nilai rapor atau pun prestasi akademik waktu di SMA. Termasuk menjuarai lomba-lomba saat SMA.

Apakah mahasiswa yang diterima di ITS sudah memenuhi standar kualitas? Juga bagaimana kualitas lulusan ITS?

Yah, sejauh ini pemantauan yang dilakukan ITS masih terdapat banyak kekurangan, terutama dalam hal soft skill, yakni leadership dan teamwork. Oleh karena itu, dibutuhkan pembenahan. Sekarang, misalnya, ITS memberikan sarana dan prasana yang mendukung. Salah satunya dengan mendirikan Centre of Entrepreneur Development(CED).

CED didirikan guna meningkatkan mahasiswa untuk menjadi entrepreneur sambil kuliah.
Selain itu, pada tahun ajaran 2009/2010 soft skill berupa leadership dan teamwork akan dimasukkan dalam kurikulum. Technopreneur akan diwajibkan di setiap mata kuliah. Dan untuk mahasiswa tahun ajaran 2008/2009 akan diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di kampus seperti bela diri.

Berkaitan dengan misi agar ITS go international, apakah sarana prasarananya sudah cukup mendukung?

Saya rasa, sarana dan prasana sudah cukup mendukung untuk proses belajar mengajar di ITS. Akan tetapi, memang masih ada kekurangan. Masih belum ada alat yang memadai jika ingin melakukan riset yang berkualitas tinggi.

Bagaimana dengan staf pengajarnya? Apakah sudah memenuhi?

Mengingat ITS telah terakreditasi A, jika dilihat dari segi kuantitas, staf pengajar yang ada sekarang masih kurang. Dan, kalau mau konsekuen, seharusnya tiap tahun ada 35 orang yang berpredikat doktor di ITS, 17 orang dikukuhkan sebagai guru besar. Saat ini ITS masih memiliki 70 guru besar dan persentasenya baru mencapai 17 persen. Padahal, seharusnya jumlah doktor 35 persen dari total staf pengajar. (*)

Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD

Tempat, tanggal lahir: Jogjakarta, 11 September 1959
Nama Istri: Dyah Listiowati
Nama Anak: Puspita Wijayanti, Jagatdito, Danur Pastika, Rangga Lalita

Pendidikan
SMAN 1 Jogjakarta
Teknik Sipil ITS
Pursue University, USA.

JABATAN
Rektor ITS Surabaya

AKTIVITAS
Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia Komda Jawa Timur
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Jatim.

22 August 2008

Peliknya Dewan Kesenian Sidoarjo

"Sudah dengar belum? Dewan Kesenian baru saja bikin musyawarah. Hasilnya, ya, sama saja. Ketuanya sama, Cak Sakek [foto]," ujar seorang teman pelukis di Sidoarjo.

Dewan Kesenian Sidoarjo. Lembaga ini--seperti juga dewan-dewan kesenian di kabupaten lain di Jawa Timur--sejak dulu tak jelas peranannya. Menurut ketentuan, katanya dewan berfungsi memberikan masukan-masukan kepada bupati atau wali kota tentang kesenian dan kebudayaan. Itu salah satunya. Dus, dewan kesenian harus ada di semua kabupaten.

Tapi, seperti saya ketahui, kebetulan saya juga pernah diundang ikut musyawarah untuk memilih pemimpin Dewan Kesenian Sidoarjo periode lalu, 2005-2008, yang namanya dewan kesenian ibarat organisasi papan nama. Antara ada dan tiada. Tiap tahun, di Sidoarjo, dapat dana Rp 12 juta untuk memutar roda organisasi.

Kegiatan-kegiatan? "Ya, sulit, wong dananya nggak ada. Bikin kegiatan itu kan perlu dana. Untuk konsumsi saja sudah berapa? Sewa gedung, seniman, dan lain-lain? Makanya, posisi dewan kesenian selalu sulit," kata Hartono Aje, bekas ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Karena tak punya dana, dulu Hartono suka mengumpulkan para seniman, khususnya pelukis, di rumahnya, samping Gelora Delta. Sekadar omong-omong, diskusi, merasani pejabat, hingga susun rencana kegiatan. Kadang ada acara bakar sate, makan bareng, sambil melukis bareng. Beberapa pemusik menghibur teman-temannya sesama seniman.

"Kalau nggak gitu, ya, dewan kesenian itu hanya namanya thok," kata Hartono. Kebetulan bos Akar Jati ini punya kafe dan tempat kongkow-kongkow yang bagus di Sidoarjo. Dia juga bukan pegawai negeri atau orang kantoran, sehingga kapan saja orang bisa 'main-main' ke rumahnya.

Lha, bagaimana kalau ketua Dewan Kesenian Sidoarjo itu bukan Hartono, tapi orang sibuk? Yang tidak punya tempat untuk kongkow-kongkow? Hehehe... Inilah yang terjadi selama tiga tahun kepemimpinan Cak Sakek.

Nungky Prasedarnanto--nama lengkap Cak Sakek--pengusaha periklanan, sangat sibuk. Dia kan tipe orang yang suka kongkow-kongkow. Namanya juga pengusaha, meski sejak kuliah di Jogjakarta selalu berkumpul bersama seniman, Cak Sakek tak punya banyak waktu untuk kumpul-kumpul dengan pelukis, penyair, pemusik, atau penggiat kesenian di Sidoarjo.

Gayanya memang beda. Dan, rupanya, itulah yang membuat banyak teman seniman yang menggerutu. "Dewan kesenian kok begini? Gak jelas kegiatannya, kemudian musyawarah diam-diam, Cak Sakek tetap bertahan. Mau dibawa ke mana kesenian di Sidoarjo," begitu gerutuan teman-teman seniman.

Saya diam saja karena tidak aktif berkumpul bersama teman-teman seniman sejak 1 Januari 2006. Beda dengan era Mas Hartono, di mana hampir setiap hari saya mangkal di Akar Jati. Setiap hari diskusi dengan pelukis, pemusik, dan macam-macam tipe seniman.

"Pokoknya, saya sudah tidak mau tahu lagi deh," kata Harryadjie BS, bekas ketua penelitian dan pengembangan Dewan Kesenian Sidoarjo.

Aneh, karena dulu Pak Harryadjie selalu bicara tentang kesenian dan dewan kesenian. Pernyataan-pernyataan Pak Harryadjie, pelukis di Sidokare, yang sering saya tulis di koran membuat Pak Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, memberikan respons positif. Seniman dirangkul, diajak bicara.

Nah, Cak Sakek ini lebih dekat lagi dengan Pak Win karena sama-sama pernah merasakan pahit manisnya kehidupan di Jogjakarta pada 1970-an. Naiknya Cak Sakek pun lebih karena 'pertimbangan politik' lantaran kedekatan itu. Siapa tahu, karena dekat, kesenian di Sidoarjo lebih diperhatikan.

Sayang sekali, pada era Cak Sakek Sidoarjo dilanda musibah lumpur panas --Porong dan sekitarnya--pada 29 Mei 2006. Dampaknya luar biasa. Sekitar 20.000 orang terkena dampak langsung, mengungsi. Lebih dari 10 desa di tiga kecamatan amblas. Energi pemerintah tersedot ke lumpur. Pak Win hampir tiap hari didemo oleh korban lumpur yang menuntut ganti rugi dan sebagainya.

Mana sempat Pak Bupati mikir kesenian yang dananya Rp 12 juta setahun? Jadi, kalau dewan kesenian tidak jalan selama dipegang Cak Sakek, ya, harap maklum. Musibah lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated ini memang luar biasa dahsyatnya... sampai hari ini.

Cita-cita Pak Win menjadikan Sidoarjo sebagai kota festival pun kian menjadi tanda tanya. "Yang jelas, sekarang ini Sidoarjo sudah terkenal dengan festival lumpur panas Lapindo. Hehehe," kata seorang teman.

Yah, tidak gampang memang mengelola Dewan Kesenian Sidoarjo dalam suasana macam sekarang. Jangankan Cak Sakek, siapa pun juga, termasuk mereka-mereka yang suka mengecam dewan kesenian, tak akan bisa. Di masa normal saja susah, apalagi di musim lumpur begini. Bagi saya, masih syukurlah Cak Sakek masih mau berkorban untuk memimpin Dewan Kesenian Sidoarjo.

Lalu, apa yang harus dilakukan Cak Sakek bersama pengurus lain? Tidak usah muluk-muluklah. Jalan saja dulu.

KOMUNIKASI lebih banyak. Bicara dari hati ke hati dengan para seniman, khususnya pelukis. Sebab, pelukis yang 300-an orang itu--apa pun kekurangannya--sangat menentukan merah hitamnya kesenian di Sidoarjo. Era seluler sekarang seharusnya bikin kita lebih mudah berkomunikasi.

INVENTARISASI seniman dan kesenian. Database kesenian di 18 kecamatan mulai Waru, Sedati, Candi, Porong, Tanggulangin, Krian, hingga Tarik harus dilakukan.

Inventarisasi SITUS cagar budaya, kantong-kantong kesenian, potensi-potensi kesenian yang hilang ditelan lumpur Lapindo. Di mana keberadaan para seniman [apa saja] yang tinggal di desa-desa yang kini tenggelam oleh lumpur? Alamat baru mereka harus diketahui. Ingat, Porong dan sekitarnya dikenal sebagai kawasan situs cagar budaya peninggalan Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil.

Bikin MEDIA komunikasi. Sederhana saja. Blog Dewan Kesenian Sidoarjo memang sudah ada, tapi setahu saya jarang diakses. Teman-teman seniman di Sidoarjo perlu dibiasakan memanfaatkan internet untuk berkomunikasi, sosialisasi program dewan kesenian, diskusi, merancang program, dan sebagainya.

Kembangkan JARINGAN. Cak Sakek dan kawan-kawan berada di garis depan dalam membangun jaringan dan kerja sama dengan seniman-seniman daerah lain. Bahkan, dunia internasional. Jajaki kemungkinan kerja sama seniman Sidoarjo dengan seniman luar. Usahakan agar seniman-seniman Sidoarjo--yang berkualitas, tentu--berkesempatan tampil di ajang regional, nasional, bahkan internasional.

Bikin APRESIASI di kalangan anak muda. Tanpa apresiasi, maka kesenian akan sulit dinikmati masyarakat. Ingat, sekarang ini kita dibombardir oleh kesenian industri, budaya massa, yang sangat dahsyat. Ruang-ruang untuk apresiasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, sangat sedikit.

Lha, kalau pemerintah dan kawan-kawan seniman tidak bergerak, membiarkan mekanisme pasar bermain, maka kesenian yang apresiatif bisa hancur. Sekarang saja banyak warga Sidoarjo tidak kenal lagi kesenian-kesenian asli daerahnya. Busana khas Sidoarjo pun tak populer.

Apresiasi bisa dilakukan dengan biaya murah. Jika ada pameran lukisan, misalnya, undang anak-anak sekolah. Pelajar diskusi sama seniman. Jelaskan proses kreatif, aliran lukisan, manfaat kesenian, dan seterusnya. Insyaalah, 10-20 tahun ke depan, ketika anak-anak muda ini sudah kerja, punya penghasilan sendiri, mereka menjadi konsumen alias kolektor lukisan. Jadi pengunjung konser musik klasik, tradisional, kontemporer.

Yang tak kalah penting, bahkan urgen, dewan kesenian perlu melobi pemerintah dan parlemen untuk membangun GEDUNG KESENIAN. Ini cita-cita lama. Kata Pak Sutrisno Kasim, pembina seni tari, sejak 1970-an para seniman di Sidoarjo sudah menuntut didirikannya gedung kesenian di Sidoarjo. Tapi tetap tidak ada realisasinya meski bupati sudah ganti berkali-kali. "Saya sampai nek bicara gedung kesenian," kata Mas Tris.

Memang, banyak sekali seniman yang putus asa kalau bicara gedung kesenian. Omong berbusa-busa, janji-janji manis, tapi semuanya fantasi belaka. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan entengnya membiaya klub sepakbola Deltras Rp 12-14 miliar per tahun, tapi tak pernah mau keluar duit untuk membangun gedung kesenian.

Kesenian masih dianggap anak tiri. Beda dengan atlet peraih medali Pekan Olahraga Nasional, apalagi Olimpiade, yang bermandi uang. Seniman kadang-kadang 'disangoni' Rp 50.000.

Akankah Pak Win Hendrarso mencatat namanya sebagai bupati yang berhasil membangun gedung kesenian? Kita lihat saja hingga 2010. Pak Win sudah menjabat dua periode sehingga tidak mungkin naik lagi. Cak Sakek, sebagai ketua dewan kesenian, kiranya bisa memainkan peranannya sebagai juru bicara seniman yang ingin mewujudkan gedung kesenian di Sidoarjo.

Kalaupun toh tidak berhasil, tidak apa-apa. Bukankah para seniman di Sidoarjo sejak dulu sudah kenyang dijejali janji-janji manis? Prek!!!

20 August 2008

Pesta kacang [bean festival] di Ile Ape




Kak, kame mete pesta kacang.
Pia mete OHA.
Bupati nong hang di ega.


Pesan pendek alias short message service [SMS] ini saya terima dari Kristofora, adik kandung saya, di pelosok Lembata, Flores Timur, Senin 18 Agustus 2008, malam. Dia mengabarkan bahwa di kampung [Mawa dan Bungamuda, Kecamatan Ile Ape] sedang berlangsung PESTA KACANG. Bupati Andreas Duli Manuk dan istri, Margareta Hurek, hadir. Warga sedang ramai-ramai OHA.

OHA nama tarian tradisional di daerah-daerah etnis Lamaholot: Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan. Meskipun ada variasi di sana-sini, pada dasarnya OHA sama saja. Warga berpegangan tangan, bikin lingkaran, kemudian menari. Selang-seling laki-laki perempuan lebih bagus.

Tarian massal macam ini tidak membutuhkan kemampuan khusus macam tari-tarian di Jawa. Siapa saja bisa. Gerakannya sangat sederhana. Hanya saja, perlu beberapa penyanyi tradisional yang bernyanyi solo. Dia menguasai sastra Lamaholot--koda kiring, tutu nuan--sehingga syairnya muncul spontan. Bisa memuji, menyindir, bahkan mengkritik siapa saja, termasuk pejabat.

OHA sangat dinamis. Mula-mula solis menyanyi dengan tempo lambat, kemudian sedang, dan makin lama makin cepat. Istilah musik klasiknya: poco a poco allegretto. Ketika tempo cepat, klimaks, semua orang yang bikin lingkaran membuat gerakan kaki secara rritmis. Bisa dibayangkan 50-80 orang mendentumkan kaki bersama-sama. Di sinilah letak keindahan OHA. Tarian yang berusia ratusan tahun ini senantiasa menarik perhatian orang baik yang hanya sekadar menonton, apalagi melakukannya.

Saking populernya, setiap ada pesta pernikahan, pesta kampung, atau apa saja, OHA selalu digelar. Dulu, orang rela jalan kaki cukup jauh ke kampung-kampung lain hanya untuk bisa OHA bersama-sama. Mana bisa OHA ditarikan sendiri, bukan? Apalagi, di sela-sela tarian orang bisa makan minum dengan lahap.

Dulu, mungkin juga sampai sekarang, OHA dilakukan dari malam sampai matahari terbit. Siangnya istirahat, kerja di kebun, malamnya OHA lagi, dan seterusnya. OHA memang bisa membuat orang Lamaholot kecanduan. Lebih-lebih kalau solis bisa membawakan ORENG [semacam nyanyian tunggal] dengan suara merdu dengan pesan mendalam.

Tarian sejenis OHA adalah HAMANG. Baik OHA maupun HAMANG dilakukan di NAMANG alias tanah lapang. Karena itu, semua kampung harus punya NAMANG. Lebih baik lagi kalau punya lapangan sepak bola. Berbeda dengan OHA yang dinamis, mencapai puncak dengan gerakan yang lincah-bersemangat, HAMANG relatif tenang dan lambat. Lebih reflektif.

Lagu-lagu yang dibawakan secara spontan sarat dengan hikmah kebijaksanaan, kritik sosial, sindiran, hingga doa-doa kepada Sang Pencipta. Tapi HAMANG bisa dengan lekas diubah menjadi OHA kalau situasinya menuntut demikian. HAMANG pun lazim dimainkan semalam suntuk.

Kembali ke PESTA KACANG.

Bagi kami di kampung, pesta kacang ini sangat penting maknanya secara kultural maupun religius. Lazim digelar tiap bulan Agustus, seperti sekarang, pesta kacang merupakan momentum untuk menengok kampung lama [lewo nolungen, lewo ulun]. Berada di kampung lama ibarat kembali ke akar kami sebagai lewo alawen, orang Lamaholot. Di sinilah aneka ritual adat Lamaholot [versi Mawa/Nobolekan] digelar secara relatif sempurna.

Kenapa disebut kampung lama? Ceritanya, hingga awal 1970-an penduduk Ile Ape yang berada di kawasan pesisir utara tinggal di kaki Ile Ape alias Gunung Api. Ata kiwan. Sekitar 5-7 kilometer dari pantai. Rumah di kampung lama sangat sederhana. Namanya ORING atau pondok. Tak pakai dinding. Setiap suku atau fam punya gugus rumah sendiri-sendiri. Rumah ini sangat sentral dalam momentum pesta kacang.

Pengaruh modernisasi, perjumpaan dengan dunia luar, kedatangan misionaris Katolik, era Orde Baru... membuat nenek moyang kami perlahan-lahan eksodus ke bawah [pantai]. Pondok-pondok, berikut berbagai perlengkapan adat, termasuk logam-logam peninggalan zaman dulu, ditinggalkan. Kampung lama pun menjadi arena kosong. Hanya ada beberapa orang yang mampir kalau kebetulan lewat.

Kampung lama, bagi anak-anak era 1980-an macam saya, ibarat sesuatu yang angker. Wingit, kata orang Jawa. Punya nilai mistis sangat tinggi. TULA GUDUNG atau upacara-upacara adat sangat khas. Juga ada banyak larangan, misalnya, tidak boleh mengambil sedikit pun salah satu bagian dari atap pondok dari daun kelapa atau alang-alang. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.

Suku Hurek Making seperti saya ada tambahan pemali: Tidak boleh makan daging anjing! Kenapa? Ada legendanya sendiri. Kalau makan daging anjing, kata nenek moyang, bisa terkena penyakit kulit yang sulit disembuhkan. Harus bikin upacara di rumah adat di kampung lama dan melakukan macam-macam ritual. Tapi, anehnya, banyak famili kami, fam Hurek, di luar Nusa Tenggara Timur yang makan daging anjing.

"Itu kan makanan, ciptaan Tuhan. Saya ikut Alkitab saja deh," kata Cornelis Hurek, paman saya di Malang. Pak Cornelis ini malah beternak anjing. Banyak sekali! Orang-orang Lembata di Malang dan sekitarnya sering mampir di rumahnya, Kota Lama Gang Buntu 66 Malang, hanya untuk... makan RW. Tahu kan RW? Hehehehe....

Sebelum 1990, pesta kacang berlangsung biasa-biasa saja. Hanya ritual tahunan khusus untuk penduduk di kampung kami, khususnya Mawa dan Nobolekan. Pada era pembentukan 'desa gaya baru' di pesisir pantai, Mawa menjadi Desa Napasabok, sedangkan Nobolekan bergabung dengan Desa Bungamuda. Tapi dulu di kampung lama orang Mawa [Napasabok] dan Nobolekan ini satu kampung alias satu darah. Maka, logat Mawa dan Nobolekan sama saja. Beda dengan logat Atawatung atau Lamawara atau Lewotolok, desa tetangga.

Pesta kacang biasanya berlangsung lebih dari satu minggu. Diawali dengan membersihkan dan memperbaiki rumah adat suku masing-masing. RIE WANAN [tiang kanan] diperciki darah ayam oleh kepala suku. Halaman dan semua bagian penting di kampung lama dibersihkan. Para perempuan mengambil air dari sumur yang ada di bawah [pantai].

Ibu-ibu sibuk memasak. Para bapak yang pintar memancing atau menjala ikan ke pantai. Semua keluarga urunan lauk-pauk, gotong-royong luar biasa. Saya biasanya bantu menganyam ketupat. Ini makanan pokok pesta kacang. Simpanan kacang panjang [merah] di LEPO, wadah anyaman dari daun lontar, dikeluarkan. Kacang ini nantinya dicampur dengan jagung, dibuatlah ketupat. Komposisi kacangnya cukup besar.

Dari sinilah muncul istilah PESTA KACANG. Yah, kacang panjang dan kacang hijau memang makanan penting di Ile Ape. Ibu-ibu tidak pernah memasak nasi jagung 100% atau beras 100%, tapi mencampurnya dengan kacang sebagai NALINGEN. Tentu kacang direbus dulu sampai matang, baru ditanak dengan jagung menjadi nasi jagung.

Jadi, nenek moyang di Ile Ape sebenarnya secara tidak sadar mengkombinasikan karbohidrat dan protein nabati [kacang-kacangan] dalam makanannya. Ditambah sayur merungge alias kelor, plus ikan laut, wah menu itu cukup komplet menurut ilmu gizi. Sampai sekarang banyak orang Ile Ape 'tidak bisa' makan nasi kalau nasinya murni macam di Jawa. Harus ada NALINGEN alias biji-biji kacang panjang.

Pesta kacang yang semula biasa-biasa saja, alamiah, tradisional, lama-kelamaan diketahui orang luar. Termasuk turis Eropa. Orang-orang Ile Ape yang kebetulan menjadi pejabat, mahasiswa, dosen, perantau... menceritakan hal ini kepada orang luar. Lantas, muncul ide untuk menjadikan pesta kacang sebagai event pariwisata budaya.

"Kenapa tidak 'dijual' saja? Bisa mendatangkan devisa, menggerakkan ekonomi rakyat? Dan sebagainya," demikianlah pikiran-pikiran khas pejabat pariwisata.

Ndilalah, Bapak Andreas Duli Manuk, asli Nobolekan, kebetulan terpilih sebagai bupati Lembata. Lalu, saya dengar cerita bahwa jalan setapak menuju kampung lama alias LEWO NOLUNGEN diperbaiki. Diperlebar. Agar kendaraan roda empat bisa tembus ke sana. Tidak perlu lagi jalan kaki sambil menjunjung barang, memikul barang, macam saya dulu waktu kecil.

"Sekarang sudah enak sekali ke kampung lama. Bisa naik oto," kata adik saya. "Kame pia mete OHA," begitu bunyi pesan pendek di telepon seluler saya.

Wah, saya hanya bisa membayangkan PESTA KACANG versi modern di era seluler. Masih adakah suasana wingit, mistis, adat yang kental, macam dulu? Zaman memang terus bergulir. Dan kita tak mungkin membalik putaran jarum jam sejarah.

Orang Ile Ape, Lembata, Lamaholot umumnya, makin maju dan modern. Jalan pikirannya sudah berbeda jauh dengan Ama Arakian [RIP], mantan kepala suku, yang selalu memimpin ritual pesta kacan di kampung lama. Contohnya, ya, om saya di Malang yang mengabaikan larangan makan daging anjing.

"Yang penting, tite tetap peten lewo, peten Lera Wulan Tanah Ekan," katanya.

Ya, sudah!

Imamat perak Romo Zakarias Benny


Kejadiannya sudah agak lama, 9 Agustus 2008, tapi saya kebetulan baru saja membaca di www.antara.co.id. Perayaan 25 tahun imamat Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr di Witihama, Adonara Timur, Flores Timur, ternyata diwarnai peristiwa tragis.

Mama Maria Imaculata Barek Bunga, yang biasa disapa Ina Siti, orang tua angkat Romo Zaka selama bertugas di Adonara Timur selama seperempat abad meninggal dunia karena tertabrak sepeda motor. Maka, perayaan 25 tahun imamat--momentum sangat penting bagi seorang pastor--pun berubah nuansa. Usai misa syukur, Romo Zaka memimpin misa requiem, sekaligus melepas Ina Siti ke tempat peristirahatan terakhir.

Bagi kami di kampung, Desa Mawa [Napasabok] dan Nobolekan [Bungamuda], Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr punya posisi sentral. Romo Zaka, tetangga kakek saya di Nobolekan itu, merupakan pastor pertama di kampung saya. Namanya juga sangat dikenal di Ile Ape, kecamatan tandus di sebelah utara Pulau Lembata, karena jumlah pastor asal Ile Ape memang sangat sedikit.

Ile Ape yang tanahnya tidak subur sejak dulu dikenal sangat tandus untuk panggilan. Kalaupun ada benih panggilan, biasanya lekas kering, tak sampai berbuah. Beda sekali dengan tiga kecamatan lain di Lembata--Lebatukan, Atadei, dan Nagawutun--yang subur panggilan. Wilayah Kedang [Omesuri dan Buyasuri], meski tanahnya subur, tergolong kering panggilan. Tapi kasus di Kedang [bapak saya pernah jadi guru di Kedang] sangat berbeda dengan Ile Ape.

Pastor asal Ile Ape bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Sebut saja Pater Gabriel Goran SVD, Pater Yulius Yuli Hada CSsR, Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr, kemudian Romo Paskalis Kabe Hurek Pr. Lalu, siapa lagi ya? Oh, ya, berbeda dengan umat Katolik di Jawa yang menyamaratakan sebutan ROMO untuk pastor, di Flores umat mengenal PATER dan ROMO. PATER untuk imam biarawan [klerus], sedangkan ROMO untuk imam diosesan. Padahal, artinya ya sama saja: bapak.

Saking sulitnya panggilan di Kecamatan Ile Ape, pada 1980-an Pater Geurtz SVD dan Pater Willem van de Leur SVD--dua misionaris penting asal Belanda [RIP]--melakukan kampanye panggilan cukup gencar ke anak-anak sekolah dasar. Guru-guru sekolah dasar, yang juga merangkap ketua stasi atau gabungan, pun diberi semacam arahan khusus. Doa-doa panggilan sangat gencar. Meminta agar Tuhan sudi memanggil anak-anak Ile Ape bekerja di kebun anggur-Nya.

Kemudian ada program, kalau tak salah, namanya KELUARGAKU SEMINARI KECIL. Bahwa panggilan hanya bisa tumbuh di dalam keluarga yang rajin berdoa bersama-sama. Makan bersama, doa bersama, rajin misa, berkelakuan baik, dan seterusnya. Kemudian guru-guru asal Atadei, Nagawutun, dan Atadei dimutasi ke Ile Ape untuk menyebarkan 'virus' panggilan.

Saya yang masih kecil sering bertanya kepada guru-guru di sekolah dasar di Mawa, mengapa tidak ada orang Ile Ape yang jadi pastor. Pater-pater kok selalu dari Belanda, Adonara, Sikka, atau daerah Adonara, Solor, dan Flores lainnya?

"Yah, kita berdoa saja. Mudah-mudahan suatu ketika ada orang Ile Ape yang jadi pastor," kata Pak Paulus Lopi Blawa [RIP], guru asal Lebala. "Kalau kalian belajar rajin, otak encer, rajin berdoa, kalian di Ile Ape pun bisa. Tuhan itu kan memanggil siapa saja, termasuk orang Ile Ape," kata Pak Paulus bijak.

Kemudian muncul banyak analisis mengapa Ile Ape sulit melahirkan imam, bruder, dan suster. Pertama, budaya merantau yang luar biasa. [Topik ini akan saya bahas secara khusus.] Merantau lebih menguntungkan karena bisa mendatangkan uang untuk memperbaiki rumah, membeli barang-barang, dan sebagainya. Pastor bukanlah pilihan buat masa depan.

Di SDK Mawa, tempat bapak saya menjadi kepala sekolah [sekarang pensiun], misalnya, sejak akhir 1960-an tidak ada murid yang bercita-cita jadi pastor. Kecuali Paskalis Hurek, putra Ama Yeremias Selebar Hurek, katekis atau guru agama mula-mula di Mawa dan sekitarnya. Sebagian besar siswa nyaris tidak punya cita-cita. Lulus SD, merantau ke Malaysia. Atau sekolah sebentar di SMP atau SMA... lalu merantau. Mana bisa jadi pastor?

Kedua, intelektualitas anak-anak Ile Ape rata-rata rendah. Paling tidak dibandingkan dengan tiga kecamatan yang subur panggilan tadi: Atadei, Nagawatun, Lebatukan. Modal kecedasan alias IQ ini penting karena pendidikan di seminari jauh lebih berat daripada sekolah-sekolah umum. IQ harus tinggi agar mudah menyerap pelajaran. Namanya juga asumsi, ya, tidak ada kajian ilmiah. Tapi memang ada fakta bahwa anak-anak Ile Ape yang mencoba masuk seminari biasanya keluar [atau dikeluarkan] karena berbagai alasan.

Ketiga, orang Ile Ape rata-rata sulit berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar. Maklum, sejak melihat dunia, kami dibiasakan berbicara dalam bahasa ibu: bahasa Lamaholot. Berpikir dalam bahasa Lamaholot versi Ile Ape. Sulit sekali berbahasa Melayu ala Larantuka atau Lewoleba. Ini membuat anak-anak Ile Ape macam saya cenderung minder ketika bertemu orang Lewoleba. Wah, dia bisa cas-cis-cus dalam bahasa Indonesia, sementara saya hanya bisa menyimak.

Saya sendiri pun terheran-heran ketika mendengar orang Larantuka bisa bicara bahasa Melayu dengan fasih dan sangat cepat. Sedangkan saya terbata-bata. Maka, ketika saya SMP di Larantuka, saya menjadi bahan olok-olokan teman-teman asal Larantuka, Adonara, Flores Timur daratan yang jauh lebih fasih daripada kami orang Ile Ape. Tapi, bagi saya, olok-olok ini ada hikmah. Saya menjadi lebih terpacu belajar bahasa Indonesia, dan kemudian membuat saya selalu menjadi juara mengarang di Larantuka. Hehehe....

Dengan latar belakang ini, saya benar-benar kaget ketika mendengar kabar bahwa Diakon Zakarias Benny Nihamaking akan ditahbiskan di kampung. "Diakon Zaka heku? Nepe ti na nang tuana?" tanya saya kepada bapak saya. Diakon Zaka itu siapa? Berarti dia akan segera jadi pastor?

Asal tahu saja, selama pendidikan di seminari, Diakon Zaka Benny jarang pulang kampung, sehingga kami yang anak-anak tak banyak mengenalnya. Padahal, ya itu tadi, rumah orang tuanya dekat rumah kakek saya di Nobolekan.

Singkat cerita, 25 tahun lalu, Pater Geurtz SVD mengumumkan bahwa Diakon Zaka akan segera ditahbiskan di... Ile Ape. "Puji Tuhan! Ternyata, orang Ile Ape pun bisa jadi pastor. Kami juga bisa memberikan seorang putra terbaik untuk kebun anggur Tuhan," begitu kira-kira komentar orang kampung.

Misa tahbisan dipimpin Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD [sekarang RIP]. Pesta besar-besaran. Melibatkan berbagai kalangan, tak hanya beberapa suku macam pesta perkawinan, semua orang berbahagian luar biasa. Akhirnya, ada juga romo yang lahir dari kampung kami yang terpencil di pelosok Lembata. Tahbisan Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr, saya yakin, semakin memotivasi Paskalis Hurek untuk kemudian ditahbiskan juga sebagai romo.

Teman sebaya saya waktu SD, Marselina, belum lama ini mengabarkan lewat adik saya bahwa dia dalam perjalanan ke kampung halaman. Tujuan utamanya Adonara Timur. Untuk apa? "Ikut pesta 25 tahun imamat Romo Zakarias Benny," begitu pesan pendek dari Vincentia, adik perempuan saya di Kupang.

Aha, ternyata Marselina sekarang ini berstatus biarawati. Suster Marselina! Puji Tuhan!

Kenyataan ini juga mematahkan anggapan miring pada tahun 1970-an bahwa orang Ile Ape sangat sulit menjadi pastor, bruder, dan suster. Dengar-dengar saat ini sudah lumayan banyak gadis-gadis asal Ile Ape yang menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui berbagai kongregasi.

Ini juga berarti bahwa doa-doa kami, anak-anak kampung, perjuangan misionaris-misionaris perintis macam Pater Lorentz Hambach SVD, Pater Lambertus Paji Seran SVD, Pater Geurtz SVD, Pater Willem van de Leur SVD didengarkan Tuhan.

Selamat pesta perak imamat untuk Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr!

Dominus vobis cum!

15 August 2008

Doakan Romo Benny Susetyo


Romo Benny terbaring lemah di rumah sakit. [foto: KWI]

Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama, Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Antonius Benny Susetyo Pr saat ini terbaring di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta dalam kondisi babak belur akibat pemukulan Selasa malam (12/8/2008). Motivasi pemukulan masih kabur. Semua barang termasuk dompetnya masih utuh, tetapi nampaknya para pemukul telah mengambil cip telepon genggamnya.

Sepertinya, Romo Benny telah diculik dari tempat tinggalnya dan dibawa pergi sampai di kawasan Pondok Indah, lalu dipukul hingga babak belur. Kabarnya para pemukul berjumlah 3 orang. Masalah ini telah dilaporkan kepada pihak berwajib. Mohon doa bagi pulihnya kesehatan Romo Benny Susetyo.


Demikian pernyataan resmi Konferensi Waligereja Indonesia di laman www.mirifica.net. Pesan pendek atau SMS berantai juga dilakukan para aktivis gereja. Isinya sama: mendoakan kesembuhan Romo Benny Susetyo.

Nah, bagaimana kondisi Romo Benny sebenarnya?

Banyak teman bertanya kepada saya. Tapi saya sendiri tidak punya informasi yang akurat. Maklum, saya berada di Surabaya, tidak sempat ke Jakarta untuk besuk. Kalaupun ke Jakarta pun, saya dengar, tidak akan dibolehkan berkunjung.

"Romo Benny belum bisa dikunjungi. Romo juga belum boleh berkomunikasi meskipun via telepon," ujar Andreas Susetyo, abang kandung Romo Benny saat saya hubungi via ponsel. Ponsel bernomor Romo Benny ini memang dipegang Andreas.

Mas Andreas optimistis kondisi kesehatan pastor aktivis ini bisa segera pulih. "Doakan saja," katanya.

Namun, Kamis malam, 15 Agustus 2008, saat saya hubungi kembali, Andreas bilang Romo Benny akan dirawat ke Singapura. Berarti kondisinya makin parah? Andreas tidak memberikan keterangan yang jelas. "Doakan saja, semoga cepat sembuh," ujar Andreas.

Tadi, Jumat 16 Agustus 2008, saya kontak Romo Ismartono SJ, staf KWI yang selama ini dikenal sangat dekat dengan Romo Benny. Romo Ismartono juga aktivis dialog lintas agama macam Romo Benny. "Wah, saya sekarang di Jogjakarta. Saya mau ke Jakarta untuk melihat langsung kondisi Romo Benny. Jadi, saya juga belum tahu kondisinya," kata pastor yesuit ini.

Pastor Paroki Katedral Surabaya Romo Eko Budi Susilo dikenal sebagai sahabat dekat Romo Benny. Kalau ke Surabaya, hampir pasti Romo Benny menginap--dan ditraktir--oleh Romo Eko. Maklum, sebagai pastor kategorial, Romo Benny tidak pernah pegang banyak uang. Membeli tiket pesawat Surabaya-Jakarta saja susah.

"Aku iki romo sing gak punya. Wong aku iki romo kategorial. Hehehe...," ujar Benny suatu ketika.

Romo Benny pun selalu mendampingi Romo Eko pada saat misa malam Natal dan malam Paskah di Surabaya. Gaya khotbahnya yang meledak-ledak, selalu mengaitkan kitab suci dengan kondisi sosial politik mutakhir, membuat homili pastor arek Malang ini punya penggemar sendiri. Dia juga suka membaca Injil dengan gaya deklamasi. Suaranya menggelegar.

Kelemahan Romo Benny satu: Suaranya fals sehingga tidak bisa menyanyi. Pitch control tidak karuan sehingga organis gereja sehebat apa pun kesulitan mengikuti suara Pastor Benny. Maka, kalau ada lomba karaoke di kalangan pastor, dia pasti menghindar. Hehehe...

"Bagaimana keadaaan Cak Benny sekarang?" tanya saya.

Romo Eko Budi Susilo yang akrab disapa Cak Klowor ini menjawab lewat pesan pendek: "Kondisinya baik-baik saja!"

Yah, mudah-mudahan baik-baik saja. Semoga Romo Benny lekas sembuh dan aktif lagi!

NASKAH DAN FOTO TERKAIT
Benny Susetyo Pastor Aktivis.

14 August 2008

Misa internasional [international mass] di Surabaya



Sebagai konsul Filipina di Surabaya, Carmelito J. Sagrado sangat peduli pada warga negaranya di Jawa Timur. Pak Konsul benar-benar diplomat yang melayani warganya. Tidak hanya urusan duniawi, tapi juga ukhrawi. Bukan macam diplomat kita yang biasanya diisi bekas pejabat, suka mengutip dana dari tenaga kerja Indonesia, sehingga harus masuk penjara.

Orang Filipina itu mayoritas beragama Katolik. Dus, mereka perlu misa mingguan di gereja. Bukankah di Surabaya ada banyak gereja Katolik? "Benar. Tapi waktu saya pertama kali bertugas di Surabaya tidak ada gereja yang melayani misa dalam bahasa Inggris. Semuanya bahasa Indonesia," cerita Carmelito J. Sagrado.

Padahal, di kota-kota besar lain macam Jakarta atau Denpasar ada international mass alias misa internasional. Bahasa pengantarnya tentu Inggris. Diikuti kalangan ekspatriat, turis, keluarga diplomat yang tinggal di kota itu. Nah, orang Filipina, meski bahasa negaranya Tagalog, tak asing dengan bahasa Inggris. Cas-cis-cus kayak air mengalir saja.

Maka, pada 1986--tahun-tahun awalnya--Pak Sagrado meminta bantuan Prof Dr John Tondowijoyo CM, pastor sekaligus guru besar ilmu komunikasi. Waktu itu Romo Tondo menjabat ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya. Romo Tondo sangat lama studi dan menetap di Eropa, sehingga punya perhatian khusus pada komunitas ekspat Katolik.

"Father Tondowijoyo sangat antusias. Dan sejak itu kami mulai mengadakan international mass," kenang Carmelito J. Sagrado saat minum kopi bareng menjelang konser Surabaya Symphony Orchestra di Hotel Shangri-La, Selasa [12/8/2008] malam.

Belum ada tempat yang layak untuk misa. Pak Sagrado mengistilahkan "dari garasi ke garasi". Di mana ada ruangan kosong, jadilah tempat misa komunitas Filipina dalam bahasa Inggris. Pastor yang melayani sangat terbatas, salah satunya Romo Tondo, karena pastor-pastor lain sibuk di parokinya sendiri-sendiri. Juga tidak terbiasa memimpin misa dalam bahasa Inggris.

Tata perayaan ekaristi sih tidak sulit, tinggal baca saja, tapi khotbah? Ini membutuhkan pastor yang fasih berbahasa Inggris. "Tapi kami jalan terus dengan segala keterbatasan. Satu bulan sekali, minggu ketiga kami bikin international mass," tutur Pak Konsul yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

Pada 1989 komunitas Filipina ditampung di Kapel RKZ [Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo]. Kebetulan RKZ punya pastor pendamping dari Societas Verbi Divina alias SVD, kongregasi pastor terbesar di Indonesia. Pater-pater SVD itu paling berjasa dalam mengatolikkan rakyat di Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya. Sebagai misionaris, pater-pater SVD sangat fasih berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

"Sejak tahun 1989 kami mulai misa rutin di Kapel RKZ. Father-nya ganti-ganti, tapi selalu dari SVD," kata Pak Sagrado.

Entah mengapa, jemaat internasional ini tergusur lagi dari RKZ. Pindah ke kapel kecil milik Panti Asuhan Don Bosco di Jalan Tidar Surabaya. Tiap minggu Carmelito J. Sagrado dan kawan-kawan menggelar misa internasional di sana. Mereka juga membawa makanan, pakaian, dan sumbangan untuk anak-anak panti asuhan.

"Tapi lama-lama misa kami terbentur dengan kegiatan di panti asuhan. Jadi, kami tidak bisa terus-terusan di Don Bosco," kata diplomat yang beralamat di Jalan Kaliwaron 128 Surabaya, telepon 031 593 9889, ini.

Pak Konsul tak patah arang. Namanya juga diplomat, dia tetap mencari jalan agar jemaat Filipina di Jawa Timur beroleh santapan rohani. Sebab, perayaan ekaristi, sakramen mahakudus, sangat vital dalam kehidupan iman jemaat Katolik di mana pun. Orang Filipina rata-rata kurang sreg ikut misa berbahasa Indonesia. "Kemudian saya temui Bapa Uskup Mgr AJ Dibjokarjono [sekarang almarhum]. Saya ceritakan kegiatan kami selama ini, sekaligus minta fasilitas misa internasional."

Mgr Dibjo tidak keberatan. Namun, uskup yang lembut dan kebapakan itu meminta waktu untuk persiapan. Siapa saja pastor yang akan melayani? Tempatnya di mana? Penyelenggaranya siapa? Dan sebagainya. Nah, pada 1992 Pak Konsul mendapat titik terang dari Rom Vincentius Sutikno Wisaksono Pr, pengajar Seminari Tinggi Widya Sasana Malang. Romo Sutikno--sekarang jadi uskup Surabaya--dikenal sebagai alumni Filipina. Pendidikan doktoralnya pun dilakukan di Filipina. Klop sudah!

Maka, misa internasional mulai diadakan di Griya Pukat, Jalan Bengawan 1 Surabaya. Pastor-pastor dari Malang, dosen STFT Widya Sasana, yang melayani. Misa internasional pun semakin eksis. Tak hanya orang Filipina, warga asing lain yang tinggal di Surabaya dan Jawa Timur umumnya menjadi jemaat tetap.

Pada 1996 Uskup Surabaya merekomendasikan agar international mass ini dipindahkan ke Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat Surabaya. Ini gereja baru hasil pemekaran Gereja Hati Kudus Yesus alias Katedral Surabaya. Sampai sekarang misa internasional digelar di situ, tiap Minggu pukul 10:00 WIB. "Puji Tuhan, sekarang kami tidak perlu lagi berpindah-pindah dari garasi ke garasi," katanya bangga.

Saya pernah beberapa kali ikut misa internasional bersama di Gereja Redemptor Mundi. Pakem litugi sama saja dengan misa bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Namun, suasana Filipina sangat kental. Lebih ceria, riang, relaks, ala misa kelompok karismatik. Orang-orang Filipina itu musikalitasnya tinggi, dan itu tercermin dari paduan suara dan nyanyian selama misa.

Mereka senang memakai iringan gitar. Lagu-lagu memang berbahasa Inggris, tapi dengan gaya Filipina. Asyik sekali! Jemaatnya juga sangat ekspresif. Pada saat "salam damai", para jemaat berjabatan tangan dengan hangat. Beda sekali dengan misa di gereja-gereja di Jawa Timur yang salam damainya terkesan hambar. Meski jemaat ekspatriat itu orang kaya, berpangkat, diplomat, mereka memperlakukan sesama dengan sangat baik.

Ini yang membuat saya sangat terkesan. Suasana misa internasional yang dikelola Pak Carmelito J. Sagrado sungguh membuat saya betah. Umat lain yang bukan orang Filipina, ekspatriat, pun senang. Tak heran, jemaat internasional meningkat pesat. Setiap misa rata-rata hadir 500 orang. "Saya sendiri tidak membayangkan jemaatnya tumbuh sebanyak itu," kata Pak Sagrado.

Dibandingkan dengan jemaat di paroki-paroki biasa, 500 orang ini tidak ada apa-apanya. Tapi kolektenya, Saudara, sangat menggiurkan. Sekali misa uang yang terkumpul Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Bagaimana pembagiannya? "Oh, kami serahkan kepada gereja untuk dikelola. Satu sen pun tidak dipakai oleh orang Filipina," tegas Pak Sagrado dengan nada tinggi.

Saya belum sempat mengecek manajemen kolekte. Tapi, yang jelas, menurut Pak Sagrado, sempat muncul kecemburuan sosial gara-gara kolekte ini. Belum lagi banyak umat Surabaya yang ramai-ramai ikut misa internasional. Biasanya alumni Amerika, Eropa, atau luar negeri yang ingin merasakan suasana internasional. Orang tua, sanak famili, diajak serta ke misa internasional. Akibatnya, beberapa pastor di Surabaya mengeluh karena umatnya berkurang.

Kolekte di gereja-gereja tertentu pun tersedot ke misa internasional. "Makanya, kami sudah sering mengumumkan agar umat Katolik asal Surabaya kembali ke gereja masing-masing. Sebab, tujuan misa internasional itu untuk melayani para ekspatriat atau warga negara asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia dengan baik," kata Carmelito J. Sagrado.

Dalam sebuah percakapan terpisah, Romo Eko Budi Susilo Pr--sekarang kepala Paroki Katedral--menilai misa internasional di Gereja Redemptor Mundi pada awalnya bagus, sesuai dengan konsep, tapi makin lama disalahgunakan oleh umat Katolik asal Surabaya dan sekitarnya. Konsepnya, ya, misa khusus untuk para ekspatriat, yang kebetulan mayoritas orang Filipina.

Tapi lama-kelamaan umat asli Surabaya pun ikut, sehingga mengabaikan misa dan kegiatan di parokinya masing-masing. "Juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang malas bangun pagi. Karena terlambat bangun, mereka ikut misa internasional pukul 10:00. Ini yang harus diluruskan," ujar Romo Eko.

Romo Eko ini mantan kepala Paroki Redemptor Mundi, tuan rumah misa internasional. Sehingga, dia tahu persis perkembangan misa internasional setelah digelar di Gereja Redemptor Mundi. Menurut pastor asal Solo ini, umat Katolik hendaknya misa di gerejanya masing-masing. Sekali-sekali bolehlah ikut misa di tempat lain, tapi jangan menjadi kebiasaan. "Buat apa ada paroki kalau kategorial yang diutamakan?" ujar tokoh dialog lintas agama di Jawa Timur ini. (*)

13 August 2008

Lihat Konser Kemerdekaan 2008 SSO


Oleh Lambertus L. Hurek

Lama tidak melihat konser Surabaya Symphony Orchestra alias SSO, saya berniat menikmati konser kemerdekaan, Selasa 12 Agustus 2008. Kali ini digelar di ballroom Hotel Shangri-La, bukan di JW Marriott. Mengapa begitu? Pak SOLOMON TONG, pendiri sekaligus konduktor SSO, sudah bercerita latar belakangnya kepada saya, tapi off the record. Sekadar tahu sajalah.

Menurut saya, tempat konser di Shangri-La justru lebih bergengsi. Siapa pun tahu saat ini Hotel Shangri-La menjadi pilihan utama even-even bergengsi. Acara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Shangri-La. Festival marketing-nya Pak Hermawan Kartajaya di Shangri-La. Resepsi-resepsi pernikahan paling bergengsi, ya, Shangri-La juga. Jadi, Pak Tong, jangan kecil hatilah!

Sesuai dengan tradisi sejak didirikan pada 1996, setiap Agustus itu konser kemerdekaan. Banyak lagu nasional ditampilkan. Nyanyian anak sekolah, lagu daerah, seriosa Indonesia ada. Yang menarik, kali ini Pak Wiranto, bekas panglima Tentara Nasional Indonesia, menjadi salah satu biduan.

"Saya tertarik dengan suara Pak Wiranto ketika lihat acara Kick Andy. Suaranya Pak Wiranto itu romantis," ujar Solomon Tong kepada saya. Pak Tong lantas mengajak Pak Wiranto agar mau ikut konser bersama SSO di Surabaya. Tanpa ragu-ragu, pensiunan jenderal ini setuju. "Saya senang sekali karena respons Pak Wiranto sangat cepat. Padahal, sebelumnya saya belum kenal," ujar Pak Tong, yang sudah menekuni musik klasik selama 50 tahun lebih itu.

Wiranto yang juga ketua Partai Hati Nurani Rakyat jelas bukan penyanyi profesional. Dia bekas tentara, kini politikus. Jadi, maklum kalau di atas panggung Pak Wiranto terlihat agak tegang. Dia juga sempat 'pidato kecil' untuk mencairkan suasana. Lalu, mengalunlah lagu TUHAN karya Bimbo yang terkenal itu. Irama yang mengalir, beda dengan band biasa, membuat Pak Wiranto harus hati-hati benar agak tidak salah masuk.

Aplaus panjang! Pak Wiranto ternyata berhasil mencairkan suasana konser. Saking bersemangatnya--atau mungkin suporter Pak Wiranto--baru satu kalimat lagu sudah ada tepuk tangan. Kebiasaan yang melanggar pakem konser musik klasik. Syukurlah, di lagu kedua, WHEN I FALL IN LOVE, Pak Wiranto lebih mantap. Begitu pula penonton mau bersabar sampai akhir lagu sebelum bertepuk tangan.

Oh, ya, Pak Wir sempat mengutip syair Khalil Gibran sebelum melantukan WHEN I FALL IN LOVE. Pas banget!

Bagi saya pribadi, konser ini membuka kenangan semasa mahasiswa. Tak lain karena lagu BUMIKU INDONESIA. Komposisi paduan suara karya Liliek Sugiarto dari Universitas Indonesia ini pada 1990-an sering dijadikan lagu wajib atau pilihan festival paduan suara antarmahasiswa di Jawa Timur. Di Universitas Jember pun sering dipakai sebagai lagu wajib lomba untuk mahasiswa baru.

Lama sekali saya tidak mendengar lagu itu. Syukurlah, paduan suara Surabaya Oratorio Society alias SOS membawakannya dengan baik. Terasa lebih megah karena diiringi orkestra lengkap, dirigennya Solomon Tong pula.

"Awan gelap suram mencekam kenangan. Negeri murung dilanda nesta. Manusia mencari memacu harapan dalam hamparan petaka...," begitu antara lain syair BUMIKU INDONESIA. Sungguh, sampai sekarang saya tidak lupa syair dan aransemen paduan suara komposisi tersebut.

Saya juga lega menikmati lagu-lagu SERIOSA Indonesia [Pak Tong sejatinya tidak suka istilah ini]. Lagu-lagu itu dulu dilombakan di Bintang Radio dan Televisi. Malam Rabu Pon itu penikmat musik bisa merasakan keindahan melodi dan syair lagu WANITA [Ismail Marzuki], dibawakan Melissa Setyawan. KISAH MAWAR DI MALAM HARI [Iskandar] dibawakan Dewi Endrawati, menantunya Pak Tong. DEWI ANGGRAENI [Iskandar] dibawakan Pauline Poegoeh. MEKAR MELATI [Cornel Simanjuntak] dibawakan Pak Handoko Hidajat.

Pauline, soprano dengan power dahsyat, ini semakin matang saja. Tidak salah kalau gadis kelahiran Surabaya 3 Februari 1984 ini menjadi andalan Pak Tong. Komposisi sesulit apa pun disantap dengan nyaman oleh Pauline. Keunggulan Pauline semakin terasa pada AGNUS DEI [Mozart] dan AGNUS DEI [G. Bizet]. Dalam berbagai kesempatan, Pak Tong mengatakan bahwa Pauline Poegoeh ini soprano terbaik di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

"Warna suara sopran coloratura-nya sangat unik. Jarang ditemui range suara yang mampu mencapai f tinggi dan running technic yang matang. Pauline tidak kesulitan menyanyikan aria-aria opera apa pun, khususnya gubahan Verdi, Puccini, dan Mozart," ujar Pak Tong, pemusik kelahiran Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939 ini.

Pak Tong ini memang hebat! Usia sudah dekat 70 tahun, tapi semangatnya dalam mengembangkan musik klasik, khususnya orkestra, luar biasa! Jamunya apa, Pak? Hehehehe.... "Kita punya Tuhan. Serahkan semuanya pada Tuhan," begitu resep anak kelima dari tujuh bersaudara ini. Enam saudaranya pun hebat-hebat di bidangnya masing-masing: Peter Tong [USA], John Tong [USA], Caleb Tong [Bandung], Stephen Tong [Jakarta], dan Joseph Tong [USA].

"Saya ini bisa makan apa saja, nggak pakai diet-dietan. Perut saya juga tidak buncit. Hehehe," kata dirigen orkestra yang dikenal tegas, disiplin, tak kenal kompromi, tapi kebapakan ini.

Satu catatan lagi yang tak kalah penting. Pada Konser Kemerdekaan 2008 ini Pak Tong memberi kesempatan kepada CHRISTIAN XENOPHANES sebagai dirigen pendamping. Lahir di Malang 27 Oktober 1978, pemain cello SSO ini sangat berbakat sebagai konduktor. Bahkan, Christian ikut menggarap orkestrasi di beberapa komposisi.

Adakah ini sebuah upaya regenerasi mengingat Pak Tong sudah 69 tahun? Bisa ya bisa tidak. Tapi, menurut saya, anak-anak muda berbakat perlu diberi kesempatan untuk tampil. Sebab, bagaimanapun juga masa depan musik klasik, orkestra, manajemen SSO ada di tangan orang muda. Hanya dengan begitu, musik klasik bisa eksis di tengah hantaman kultur pop yang luar biasa di tanah air.

Sampai berjumpa pada konser berikut!

Salam musik!

11 August 2008

Dede Oetomo intelektual, aktivis gay Surabaya




Siapa tak kenal DEDE OETOMO PhD? Bekas dosen Universitas Airlangga yang satu ini unik. Bicaranya sangat lancar, cenderung cepat, blak-blakan. Pak Dede termasuk tipe intelektual yang berani melawan arus. Ketika teman-temannya masuk Golkar, partai berkuasa yang menjanjikan karier cemerlang dan kemapanan materi, Dede Oetomo justru masuk Partai Rakyat Demokratik.

Partai Rakyat Demokratik musuh besar rezim Orde Baru karena paling berani mengecam habis format politik Suharto dengan lima undang-undang politik. Toh, Dede Oetomo tenang-tenang saja. Dia menikmati dunianya bersama para aktivis muda. Memilih berada di luar arus utama. Seperti juga orientasi seksualnya yang berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia.

Saya kira, Dede Oetomo intelektual, doktor, pertama di Indonesia yang terang-terangan mendeklarasikan bahwa dirinya GAY. Dia menggunakan forum apa saja untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa manusia itu tidak hanya laki-laki dan perempuan, tapi juga gay, lesbian, waria. Bersama teman-teman sesama gay, Dede Oetomo menerbitkan majalah khusus kaum gay. Berbagai aspek tentang gay dibahas tuntas.

Suatu ketika Pak Dede diundang bicara di Pusat Kebudayaan Prancis alias CCCL, Jalan Darmokali  Surabaya. Setelah bicara ringan-ringan, ngalor-ngidul, dia mengatakan, "Tadi malam saya mimpi terima komuni dari pastor. Mungkin karena dulu saya dibesarkan sebagai orang Katolik. Hehehe..."

"Apakah gay itu dikehendaki oleh Tuhan?" tanya saya sekenanya.

Pria berbadan subur kelahian Pasuruan, 6 Desember 1953, ini terlihat kaget.

"Setahu saya di kitab suci disebutkan bahwa Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Saya kok tidak menemukan ayat bahwa Tuhan juga menciptakan gay," saya melanjutkan.

Kata-kata ini sekadar pancingan, sama sekali tidak mengajak Dede Oetomo bedebat soal teologi atau agama.

"Anda tahu nggak sejarah penulisan kitab suci? Kalau belum menguasai, nggak usah bicara soal itulah," tegas Dede Oetomo.

Kali ini saya mati kutu. Diam sambil mendengarkan reaksi Dede Oetomo yang serius. Dede Oetomo lalu membahas panjang lebar ABC kitab suci, tentu saja menurut versi dia. Intinya--kalau tak salah ingat, maklum sudah lama sekali--kitab suci itu sangat patriarkis. Ditulis dalam konteks budaya yang sangat patriarkis. Sehingga, jenis kelamin lain macam gay atau waria sengaja tidak dimasukkan.

Dede Oetomo, saya kira, hendak menegaskan tesisnya bahwa gay pun makhluk ciptaan Tuhan yang sama. Derajatnya sama. Punya hak hidup, hak asasi, seperti manusia lain yang laki-laki dan perempuan. "Kalau mau diskusi lebih lanjut, silakan," kata Pak Dede.

Bertahun-tahun saya tidak mau membahas lagi status atau eksistensi kaum homoseksual. Percuma saja karena Dede Oetomo bersama kaumnya sudah punya 'posisi politik' tertentu. Tesis-tesis normatif yang biasa kita dengar di tanah air niscaya tak mempan. Sebab, mereka sudah punya segudang antitesis untuk mematahkan tesis-tesis tadi.

Setelah Gaya Nusantara jalan, Dede Oetomo mulai jarang muncul di seminar atau diskusi-diskusi di Surabaya. Kabarnya lebih banyak di luar negeri. Roda organisasi komunitas gay sudah ditangani anak-anak muda macam Ko Budijanto--saat ini ketua Gaya Nusantara. Dede Oetomo pun jarang menulis artikel di surat kabar.

Pada 2004, tak dinyana, poster dan brosur Dede Oetomo tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur. Lha, ono opo Cak? Ternyata, penerima Felipa de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commision pada 1998 ini mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Yang menarik, dia kampanye lewat jejaring yang sudah dirintis lama, khususnya komunitas gay, waria, dan pekerja seks. Para pekerja seks di Surabaya konon memasang poster Dede Oetomo di kamarnya. Aktivis Partai Rakyat Deomkratik juga ikut membantu kampanye Dede Oetomo. Namun, Dede gagal terpilih sebagai senator Jawa Timur karena jaringannya kalah ampuh dengan Nahdlatul Ulama. Tokoh Nahdlatul Ulama yang akhirnya menang di Jawa Timur.

Setelah pemilihan umum itu, Dede Oetomo praktis tenggelam dalam kesibukannya sebagai peneliti, aktivis, sukarelawan. Pernyataan-pernyataan Dede yang dulu sering dikutip media, bicara ceplas-ceplos di radio, kini sangat berkurang. Mungkin karena masyarakat sudah bosan membahas sepak terjang Dede Oetomo dan komunitas gay.

08 August 2008

Musik keroncong perlu 'Rhoma Irama'



Belum lama ini Musafir Isfanhari beroleh penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo. Pak Isfanhari dianggap berjasa mengembangkan kesenian, khususnya musik, baik secara teoretis maupun praktis. Dosen Universitas Negeri Surabaya--dulu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya--ini memang pemusik serbabisa.

Pak Isfanhari itu komposer klasik, kontemporer, hingga keroncong. Saya pernah berbicara khusus dengannya di makam WR Soepratman pada pembukaan Festival Surabaya Full Music. Dia main saksofon mengiringi paduan suara. "Kegiatan saya memang tidak jauh-jauh dari musik," ujar Pak Isfanhari yang suka diskusi tentang kesenian itu.

Menurut dia, musik itu universal, tidak boleh ada sekat-sekat. Janganlah mengembangkan image seakan-akan musik klasik musiknya orang kaya, kelas menengah atas. Dangdut musik kelas bawah. Keroncong musik orang tua. Irama padang pasir musik orang Islam. Paduan suara musik orang Kristen.

"Jangan. Kita harus membiasakan diri menikmati semua jenis musik. Lama-kelamaan Anda akan menemukan keindahan dalam jenis musik yang mungkin sebelumnya Anda tidak suka," ujar pria yang bolak-balik jadi juri lomba menyanyi, paduan suara, keroncong, hingga kasidah di Surabaya ini.

Mengapa jazz kurang peminat di Surabaya, bahkan Indonesia? Ya, citra itu tadi. Ada pencitraan seakan-akan jazz itu sulit, ruwet, musiknya kelas menengah-atas. "Itu kan dibuat-buat saja. Kalau kita membiasakan diri mendengar jazz, wah, musik itu luar biasa. Siapa saja bisa mengapresiasi," tegasnya.

Ingat, jazz dan blues itu pada awalnya dimainkan kaum negro Amerika, yang nota bene buruh, budak belian. Pak Isfanhari menjelaskan, para negro itu diam-diam mencermati musik majikannya yang orang putih. Karena tak punya bekas keterampilan bermusik, mereka menirukan secara spontan. Apa adanya. Improvisasi dibuat sebebas-bebasnya. Inilah yang kemudian melahirkan genre musik baru yang kita kenal sebagai jazz dan blues.

Celakanya, kata Pak Isfanhari, di Indonesia ini ada budaya feodalisme. Juga snobisme. Ini membuat musik yang sejatinya bisa, dan harus, dinikmati semua lapisan masyarakat menjadi terkotak-kotak. Orang-orang kaya ramai-ramai datang ke konser musik klasik Barat. Padahal, dia belum tentu suka. "Untuk simbol status saja. Hehehe," ujar Pak Isfanhari.

Bisa jadi, si kaya ini justru lebih suka dangdut atau pop. Sebaliknya, orang biasa bisa jadi suka klasik atau jazz. Tapi belum apa-apa sudah 'ngeri' dengan citra klasik atau jazz sebagai musik orang gedongan. "Saya mau agar sekat-sekat seperti ini didobrak. Sebab, tidak bagus untuk perkembangan musik kita," kata bekas staf Taman Budaya Jawa Timur itu.

Saya agak terkejut ketika Pak Isfanhari mengatakan dia pun sangat suka dangdut. Musik yang dicitrakan sebagai musiknya orang pinggiran, kelas bawah, tidak makan sekolah, wong kampung... ini ternyata punya kelebihan. "Coba Anda perhatian baik-baik. Semua orkes itu kalau memainkan lagu dangdut, aransemennya pasti sama persis. Mulai intro sampai coda sama persis. Padahal, dangdut itu tidak pakai partitur kayak musik klasik," ujarnya.

Ini menunjukkan bahwa para pemusik dangdut--yang hampir semuanya otodidak, berasal dari kelas menengah-bawah, punya kemampuan listening yang sempurna. Daya tirunya luar biasa. "Bapak-bapak yang main keroncong juga punya improvisasi yang sangat bagus."

Kini, sembari mengajar di jurusan musik Universitas Negeri Surabaya, Pak Isfanhari juga getol membina musik keroncong. Bahkan, jadi pengurus sebuah komunitas pemusik keroncong. "Kenapa keroncong makin tenggelam di Surabaya? Beda dengan dangdut yang semakin mewabah di mana-mana?" tanya saya.

Pak Isfanhari menjawab, sebetulnya keroncong tidak pernah mati. Para pemusiknya, meski rata-rata sudah tua, tetap aktif bermusik. Hanya saja, musik yang pernah sangat populer di tanah air ini tidak pernah muncul di televisi. Jangankan keroncong, musik klasik dan jazz pun tidak disiarkan televisi-televisi kita. Yang ada hanya musik industri--pop [rock] dan dangdut.

"Tapi memang setiap zaman selalu begitu. Ada siklusnya. Musik yang populer di suatu kurun, akan diganti jenis lain, dan seterusnya," ujar Pak Isfanhari.

"Tapi mengapa dangdut berkembang luar biasa, menjadi musik rakyat?" tanya saya lagi.

"Karena dangdut punya Rhoma Irama. Kehadiran Rhoma benar-benar membawa perubahan signifikan bagi musik melayu yang kemudian menjadi dangdut. Revolusi dangdut itu dilakukan Rhoma Irama," tegas Pak Isfanhari.

"Nah, kalau mau berkembang, ya, keroncong harus punya tokoh sekaliber Rhoma Irama. Itulah yang sampai sekarang tidak ada."



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

Salah kaprah KONFIRMASI


Bahasa Indonesia sekarang menyerap begitu banyak istilah atau kata bahasa Inggris. Dan itu wajar karena ada begitu banyak istilah teknologi yang mau tak mau, suka tak suka, punya istilah khas. Komputer, laptop, handphone, flashdisk, mouse, monitor... bukan temuan atau buatan orang Indonesia.

Maka, kamus baku bahasa Indonesia pun penuh dengan kata-kata serapan bahasa Inggris. Yang menarik, kata-kata 'asli' yang sudah berterima ratusan tahun pun ikut tergeser. Baca saja majalah atau koran. Kata HARAPAN mulai diganti EKSPEKTASI. HASUTAN jadi PROVOKASI atau INSINUASI. HORMAT jadi RESPEK. BELANJA jadi SHOPPING. Resepsi pernikahan jadi WEDDING PARTY. Dan masih banyak lagi.

Di kalangan wartawan, kata yang paling populer adalah KONFIRMASI. Asalnya tentu dari bahasa Inggris: CONFIRM, CONFIRMATION: menegaskan, memperkuat. Jika ada peristiwa kejahatan, selain menggali data di lapangan, wartawan perlu bertanya kepada pejabat polisi entah kepala kepolisian resor atau kepala kepolisian sektor. Penegasan dari pihak berwajib membuat berita lebih lengkap, eh KOMPLET.

Wartawan yang sudah pasti lulusan strata satu [ke atas] mestinya tahu benar makna KONFIRMASI. Tapi, apa lacur, setiap hari kata sederhana ini digunakan secara tidak tepat. Penyiar radio terkenal di Surabaya tiap hari selalu berkata begini:

"Saat DIKONFIRMASI Radio... AKP Bambang Gendheng membenarkan bahwa tadi malam terjadi aksi perampokan di kawasan Rungkut."

Masih di radio yang sama, si perempuan penyiar, sangat terkenal di Surabaya, selalu bilang:

"Saya sudah KONFIRMASI ke polisi... bla-bla-bla."

Siapa yang MENGONFIRMASI dan yang DIKONFIRMASI? Wartawan MENGONFIRMASI polisi atau polisi DIKONFIRMASI wartawan?

Jawabannya sangat mudah: wartawan MEMINTA KONFIRMASI kepada AKBP Bambang Gendheng. Dan AKBP Bambang Gendheng MENGONFIRMASI bahwa memang benar telah terjadi peristiwa kriminalitas di Rungkut. Dari konteks kalimat-kalimat yang ada, saya menangkap kesan bahwa wartawan [muda, sedang, tua] mengartikan KONFIRMASI dengan BERTANYA atau MENGHUBUNGI atau meminta keterangan dan sejenisnya.

Syukurlah, bulan lalu seorang pengamat bahasa membahas salah kaprah KONFIRMASI di kolom bahasa harian KOMPAS. Saya pun berharap redaksi KOMPAS--koran paling berpengaruh di Indonesia--lebih cermat menggunakan kata KONFIRMASI. Katakanlah jadi kompas buat wartawan media-media lain di tanah air.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata tidak mudah mengubah salah kaprah itu. Sangat mudah mengajari orang lain, tapi belum tentu diri sendiri bisa melakukannya! Harian KOMPAS edisi 8 Agustus 2008 lagi-lagi membuat kalimat yang salah kaprah. Simak berita berjudul 'Anggota Komisi III Tak Semuanya Tahu' di halaman 2:

Meski demikian, Maiyasyak ketika DIKONFIRMASI Kompas semalam mengaku belum mengetahui persis rencana keberangkatan ke Lebanon tersebut karena dirinya baru pulang dari daerah.

Demikianlah Saudara-Saudara, orang Indonesia semakin terjebak dalam snobisme. Tergila-gila dengan istilah Inggris--agar terkesan keren, intelektual, hebat, tapi tidak cermat menggunakannya.

Ngisin-isini, Cak! Mbelgedhes!

06 August 2008

Tak lagi kenal tetangga

Selasa, 5 Agustus 2008.

Saya ingin sekali bertemu Pak Kamari di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Dia salah satu empu musik keroncong di Jawa Timur. Sejak kecil main keroncong. Mengisi acara di tempat-tempat hiburan Surabaya. Juga mendidik anak-anak muda agar mau melestarikan keroncong.

Hampir tiga tahun saya tidak bertemu Pak Kamari. Maka, saya pun ke Jalan Jeruk Wage untuk menemui sang pemusik. "Mas, sampean tahu rumahnya Pak Kamari?" tanya saya kepada serang pria 30-an tahun.

"Pak Kamari siapa ya?"

"Pemusik. Beliau punya orkes keroncong."

"Wah, gak pernah dengar, Mas!"

"Gak apa-apa. Mas masih baru di sini ya?"

"Sekitar dua tahun."

Saya pamit karena jelas tidak dapat informasi dari mas itu. Saya bertanya lagi ke dua rumah lagi, tapi jawaban sama. Syukurlah, di rumah keempat saya beroleh jawaban. "Itu lho rumahnya Pak Kamari. Yang ada pohon mangganya," kata seorang ibu dengan ramah.

Wah, ternyata rumah Pak Kamari hanya berjarak 10-15 meter dari kediaman mas yang pertama tadi. Hanya berseberangan jalan. Saya pun bergumam dalam hati: "Sudah dua tahun bertetangga sama keluarga Pak Kamari, empu keroncong, tapi tidak tahu pria yang namanya Pak Kamari. Bagaimana kualitas komunikasi di Wage yang nota bene berstatus DESA?

"Katanya, orang desa itu guyub, rukun, saling kenal, gotong-royong. Ataukah memang masyarakat kita sudah mengalami perubahan sangat drastis? Menjadi individualis ekstrem? Masak, sudah dua tahun tidak pernah mengenal Pak Kamari!"

Begitulah.

Indonesia sudah berubah. Individualisme yang dulu kita cela sebagai gaya hidup orang Barat kini merambah di mana-mana. Apakah Anda mengenal dengan baik lima keluarga tetangga Anda? Hm... belum tentu. Apakah Anda mengenal teman satu indekos? Belum tentu juga. Apalagi, warga perumahan-perumahan baru yang biasanya sibuk sendiri-sendiri, tidak saling kenal satu sama lain.

Maka, masuk akal juga mengapa si Ryan [Very Idam Henyansah] dari Jombang bisa menghabisi 10 korbannya, kemudian menguburkan di halaman rumahnya. Pembunuhan sadis berantai, 10 korban, berlangsung dalam waktu lama. Tapi tidak ada satu pun tetangga yang tahu. Aneh? Ya, kalau konstruksi masyarakat kita masih seperti sebelum tahun 1980-an.

Dulu, ketika masyarakat kita masih guyub, alih-alih membunuh 10 orang, jalan bareng dengan gadis bukan muhrim saja sudah menjadi buah tutur penduduk desa. Semua orang desa tahu siapa naksir siapa, siapa yang sakit jantung, siapa yang punya motor baru, dan seterusnya. Sayang sekali, virus individualisme sudah merusak sendi-sendi kekeluargaan kita.

Saya tak habis pikir tak satu pun penduduk Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, tidak mengetahui perbuatan biadab Ryan. Tidak punya rasa curiga sedikit pun dengan sepak terjang Ryan dan keluarganya.

Poskamling atau ronda kampungnya bagaimana? Kinerja polisi, khususnya intel dan serse, bagaimana? Mengapa begitu banyak laporan orang hilang, tapi aparat tidak juga menemukan jejak orang-orang hilang itu? Ada apa dengan republik ini? Quo vadis Indonesia?