30 July 2008

Mesin ketik pertama Arswendo Atmowiloto

Oleh Arswendo Atmowiloto

Saya menulis cerita pendek mulai kelas dua SMA. Mestinya jauh sebelum itu, karena itu yang pertama kali dimuat. Tentang kisah cinta sesama teman sekolah. Lalu banyak menulis cerpen dalam bahasa Jawa. Salah satunya BAKUL JAMU atau penjual obat pinggir jalan yang biasanya penuh atraksi.

Saya ingat karena karena cerpen itu dikomentari sastrawan senior N. Sakdani Darmopamudjo. Tentu saja cerita ini lahir dari tangan saya--dalam artian sebenarnya--karena saya tulis dengan tangan. Tulisan tangan saya tidak bagus... sampai sekarang susah dibaca, mirip resep bikinan dokter.

Sebagian dari karya saya kemudian saya berikan ke biro jasa pengetikan. Waktu itu di Solo ada banyak biro jasa seperti itu. Kita bisa mengetikkan , dapat rangkap dua, dengan ongkos tertentu per halaman. Tapi ya itu tadi, tulisan saya susah dibaca dan susah ditafsirkan. Akibatnya, banyak salah ketik.

Tanpa banyak belajar, saya bisa mengetik di kantor kelurahan. Biasanya sehabis jam kantor, kelurahan sepi. Mesin ketik gede pun menganggur sehingga saya bisa leluasa menggunakan. Namun, kondisinya sudah tidak memenuhi syarat. Pitanya kering dan hancur, huruf-hurufnya harus dibersihkan, sehingga cara terbaik adalah memakai karbon. Aslinya tak jelas, tapi hasil karbon bisa terbaca. Apalagi harga karbon jauuuuh lebih murah dibandingkan dengan harga pita mesin ketik.

DIGADAIKAN IBU

Sebenarnya, kami pernah memiliki mesin ketik, warisan keluarga. Saya pernah menggunakan sesekali. Tapi oleh Ibu, mesin ketik itu digadaikan ke keluarga dekat. Karena tiga bulan tak bisa menebus, akhirnya "mabur" alias terbang tak kembali.

Sebenarnya keluarga dekat itu bukan tukang gadai. Tapi Ibu sering meminjam uang dan biasanya susah ditagih. Saya sempat marah besar kepada Ibu, namun Ibu menerangkan: "Itu lebih baik daripada kelaparan, dijual kan sayang."

Untuk jangka yang lama saya membenci Ibu karena tak menemukan alasan kenapa mesin ketik itu digadaikan. Ibu menyesali perbuatan itu, dan menurut cerita, ia mau "menjual rambut tubuhnya" jika bisa menebusnya. Tapi tak ada yang mau membeli rambut Ibu. Versi lain diceritakan tetangga. Ibu terpaksa menggadaikan mesin ketik itu bukan untuk kebutuhan sendiri, melainkan untuk menolong seseorang yang datang padanya meminjam duit.

Beberapa kali saya minta klarifikasi ke Ibu, tapi tak ada jawaban pasti. Untuk satu hal ini, Ibu lebih suka tutup mulut.

Akhirnya, ada jalan keluar yang tak terduga. Bisa jadi beginilah jalan Tuhan yang susah dimengerti, tapi mudah dirasakan. Saya menjaga toko kelontong milik keluarga dekat tadi. Saya menjaga saya juga berbelanja ke toko grosir dan melakukan pembukuan. Untuk itu, saya tidak menerima gaji, tapi bisa menggunakan mesin ketik.

Selama tak ada pembeli, saya bisa terus mengetik. Sebuah penyelesaian yang sama-sama menyenangkan. Saya mengusulkan toko buka 24 jam, meski yang disetujui hanya sampai pukul 22.00.

Toh, keinginan memiliki mesin ketik sendiri tetap menggebu, apalagi setelah toko kelontong itu punya penjaga lain. Saya merasa kurang leluasa mengetik. Untunglah, tak lama kemudian saya diterima bekerja di sebuah penerbitan berbahasa Jawa. Di sini saya bisa mengetik. Tapi, karena satu mesin dipakai tiga empat wartawan, kami harus antre. Di malam hari kadang saya tertidur dalam antrean.

Di samping pekerjaan kantor, saya mengetik juga keperluan pribadi. Menulis artikel, cerita pendek, dan cerita bersambung untuk dikirimkan ke penerbitan di Jakarta. Untuk kertas yang dipakai urusan pribadi, saya membawa sendiri dari rumah. Kertas itu biasanya kertas buram--begitu istilahnya, harganya murah.

Kertas itu tidak dibeli per rim, melainkan secara eceran. Bisa dibeli hanya 100 lembar, 50 lembar, bahkan 10 lembar pun dilayani. Dapat dibayangkan betapa repotnya menghitung lembar demi lembar, kadang tangan dibasahi ludah lebih dulu.

Saya mencoba menyisihkan uang agar kelak bisa membeli mesin ketik. Yang bekas pun tak apa. Namun, keinginan itu lebih sering mentok oleh kebutuhan perut. Hanya mereka yang pernah merasakan lapar, tahu betapa kelaparan bisa mendorong seseorang berbuat yang kita sesali, termasuk membenci Ibu atau mengecewakan anak. Hanya mereka yang tulus akan menemukan jalan keluar yang menyenangkan, tidak menyakiti siapa-siapa, dan tidak menyisakan dendam.

BUAH PERKAWINAN

Tahun pertama pernikahan, saya lebih memperkuat tekad untuk bisa membeli dan memiliki mesin ketik sendiri. Istri saya yang bekerja sebagai penjahit setuju untuk sama-sama menyisihkan uangnya. Dimasukkan ke "tabungan" yang diletakkan di kamar tidur. Bukan celengan ayam atau babi, melainkan kendi, tempat air dari tanah.

Kalau saya menerima honor tulisan, separuh masuk tabungan. Juga istri saya kalau menerima honor jahitan. Kalau tidak begitu, tidak ada yang tertahan. Sebelumnya, kami sudah melakukan hal yang sama ketika membeli mesin jahit bekas, dan sukses.

Meskipun tidak mencatat, kami sering berhitung. Kira-kira sudah berapa, hari ini memasukkan berapa, minggu ini memasukkan berapa. Perolehan dari honor-honor saya lumayan sebenarnya. Karena saya juga menulis laporan atau berita--lebih sering berbentuk feature--untuk harian KOMPAS dan mingguan TEMPO. Mungkin saya satu-satunya koresponden lepas yang bekerja untuk dua media yang berbeda. Herannya, saya memiliki surat tugas resmi, selembar kertas yang menerangkan saya koresponden lepas, dengan jangka waktu tertentu.

Honor menulis cerpen sekitar lima kali hasil menjahit baju. Namun tak bisa dijadwalkan kapan saya terima. Sementara menjahit bisa diperhitungkan, tiga hari dikerjakan selesai. Bisa langsung terima ongkos jahit... kalaupun mundur pembayaran, masih bisa diperkirakan. Baik menjahit maupun mengetik tak memerlukan modal besar. Menjahit hanya perlu membeli benang dan jarum sesekali, sedangkan mengetik hanya memerlukan kertas. Masalahnya, mesin jahit sudah ada, mesin ketik belum!

Sambil menunggu tabungan penuh, kami berdua rajin ke toko, melihati pajangan mesin ketik, dan mengumpulkan data-data, merek ini harganya berapa.Keinginan saya adalah mesin ketik portable--bukan yang gede kayak di kantor. Buatan Jepang lebih murah dari buatan Jerman, Inggris atau negara lain.

Ketika merasa sudah cukup, kami pun sepakat untuk memecahkan kendi. Benar, uang yang kami kawinkan berhasil mencapai harga mesin ketik di toko. Tak menunggu lama, kami berdua naik becak menuju kompleks pertokan di daerah Singasaren, sekitar tiga kilometer dari rumah. Dengan gagah kami membeli. Akhirnya! Ya, akhirnya saya, eh kami, memiliki mesin ketik sendiri!

Pulangnya saya tak mau naik becak. Mesin ketik sengaja saya tenteng sambil jalan kaki. Biar seluruh dunia tahu saya mampu membeli mesin ketik. Baru. Merek Brother, buatan Jepang -- mungkin juga buatan Taiwan atau Tiongkok, atau malah rakitan negeri sendiri. Kami hanya beristirahat di warung bakso. Bukan karena kecapekan, melainkan masih ada sisa duit. Melanjutkan jalan kaki, lewat deretan toko yang lampunya terang. Sehingga orang-orang bisa melihat kami membawa mesin ketik!

Sampai di rumah, mesin ketik dibuka plastiknya, saya letakkan di ranjang. Lalu dikeloni. Sengaja saya tidak menggunakan malam itu. Ingin memandang sepuasnya. Saya sudah menyatakan tekad bulat: segenting apa pun hidup ini, mesin ketik ini tak boleh digadaikan.

AMAN BERSELIMUT

Esoknya, berita besar sampai di kantor. Saya mendapat ucapan selamat. Semua teman menyatakan turut bergembira. Tentu saja mereka bergembira karena saya tak ikut antrean lagi.

Sejak itu hiasan rumah jadi berubah. Bertambah dengan pita yang direntangkan dari ujung ke ujung. Pita mesin ketik yang kering diminyaki, kemudian diangin-anginkan. Ini cara yang lebih mudah dibandingkan membeli yang baru. Pernah saya melakukan kebodohan yang disesali agak lama. Membeli pita baru yang dua warna: merah dan hitam. Ternyata warna merah praktis tak pernah digunakan, artinya hanya mempergunakan separuh. Duuuuh, nyesel rasanya.

Akhir 1973 saya mengembara ke Jakarta, sendirian. Anak dan istri di rumah. Pekerjaan saya menulis resensi, atau apa saja untuk dikirimkan ke media yang ada. Media mana saja. Mesin ketik itu saya bawa karena tak punya kantor. Saya memperoleh tempat tinggal di daerah Cililitan, di sebuah kebun kosong milik orang yang baik hati. Di sana ada rumah, namun kurang terurus... memang tak ditempati. Ada daun pintu, tapi tak ada kunci, dan engselnya mudah lepas.

Kalau saya dan teman-teman pergi, mesin ketik itu saya bungkus selimut, disembunyikan di kolong ranjang. Nyatanya selamat dari pencuri yang bisa masuk leluasa jika mau.

Kemudian saya mulai bekerja di grup ... namanya belum divisi majalah, di Gramedia. Mesin ketik itu pun ikut pindah ke rumah kontrakan di daerah Kalipasir, Cikini, kemudian ke Depok. Kadang kalau tugas keluar kota saya bawa.

Kami berpisah sementara di akhir tahun 1979 ketika saya mendapat beasiswa dari University of Iowa, Amerika Serikat. Saya mendapat kesempatan mengikuti kuliah dan membeli kuliah, kalau mau, mengenai penulisan kreatif. Hasil pertama di sana saya isi dengan membeli mesin ketik. Waktu itu mesin ketik sangat murah karena adanya komputer. Belinya di toko loak.

Suara tak-tik-tak-tok yang merdu turut hilang, berganti tet-tet-tet-tet mesin ketik listrik. Rasanya kok kurang pas. Itu sebabnya saya beli lagi mesin ketik biasa. Saah satu novel yang saya tulis lewat mesin ketik itu adalah DUA IBU yang dimuat bersambung di KOMPAS dan diterbitkan Gramedia, lalu mendapat penghargaan sebagai buku terbaik dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dua mesin ketik itu saya bawa pulang, meskipun praktiknya saya masih lebih sering menggunakan merek Brother, yang kini telah berubah, catnya diperbarui. Kalau tak salah pernah dua kali diperbarui catnya, sebelum akhirnya lebih banyak digunakan keponakan. Sekitar 1985-an saya mulai menggunakan komputer. Membeli dari Parakitri Tahi Simbolon yang menjual berikut mesin printernya.

DOA DARI PENJARA

Saya memang selalu mengetik. Boleh dikata, tak pernah tiga hari berturut-turut, dalam kondisi apa pun, saya tidak mengetik. Setidaknya sampai 1990 ketika saya masuk penjara. Saya masih menulis, mengumpulkan lelucon-lelucon, yang lantas menjadi buku MENGHITUNG HARI, juga dibuat sebagai sinetron dengan judul yang sama dan dipilih sebagai sinetron terbaik. Capek sekali menulis tangan seperti dulu. Akhirnya, saya secara khusus merumuskan cara berdoa.

"Tuhan, tangan saya capek menulis. Beri kesempatan menggunakan mesin ketik kalau itu membawa kebaikan bagi saya. Jangan beri kesempatan kalau ternyata menjauhkan dari-Mu." Saya minta bantuan istri dan anak-anak berdoa dengan tema serupa: mendapatkan mesin ketik.

Eeeee, manjur seketika atau kebetulan, saya diizinkan memakai mesin ketik. Surat permohonan yang sudah diajukan sejak masuk, tiba-tiba diberi izin, dengan surat khusus. Alasan yang saya pakai untuk mengetik pembelaan. Surat izin itu saya beri bingkai, saya tempel di kamar. Isinya bahwa saya bertanggung jawab penuh atas penggunaan mesin ketik itu, tak boleh dipinjamkan kepada orang lain tanpa izin tertulis dari pimpinan.

Suatu ketika ada sipir yang mau meminjam mesin ketik, tetapi saya tolak. Padahal hanya mengetik satu huruf. Ya, satu huruf. Sipir itu baru saja memfotokopi kartu tanda penduduk. Rupanya ada huruf yang tak tersalin dengan jelas, dan hanya bisa dibetulkan dengan mesin ketik karena jenis hurufnya sama. Tapi saya keukeh tak memberikan dengan menunjukkan tanda larangan meminjamkan.

Di ruang keamanan--hanya ini tempat yang diperbolehkan untuk mengetik, itu pun siang hari--saya tak cuma mengetik pembelaan, tapi juga cerpen, novel, cerita bersambung, sesekali artikel. Dengan nama samaran, saya kirimkan dan dimuat di banyak harian, mingguan, dan majalah.

Gangguan kala mengetik hanya terjadi kalau ada napi berkelahi, pukul-pukulan, tusuk-tusukkan, atau tertangkap sodomi. Di ruang itulah diperiksa, berdaah-darah. Saya tak tega melihatnya. Mungkin kalau dulu saya berdoa: "Tuhan beri kesempatan saya menggunakan mesin ketik siang dan malam", lain ceritanya.

Sekarang, ketika menulis ini, saya tak lagi memakai mesin ketik. Tapi saya mengoleksi banyak mesin ketik, dari semua jenis yang pernah saya gunakan dan masih saya ingat, sampai yang aneh-aneh. Ada yang hurufnya amat sangat kecil, berhuruf Jepang, Arab, Thailand, Ibrani, India, ada juga yang sangat besaaaaar, hurufnya berdiri seperti bulu merak, hurufnya kapital semua, hurufnya terbuat dari perak, berukuran lebih kecil dari korek api [ini lebih sebagai hiasan], sampai yang masih lengkap tas pembungkusnya [dari kulit, kayu, plastik].

Beragam benar, dan semua masih bisa digunakan untuk mengetik. Saya memang senang mengoleksi. Mungkin karena dulu pernah menggunakan berbagai jenis yang tak bisa saya miliki. Mungkin juga karena kini saya merasa punya duit dan mampu membeli. Mungkin juga karena keinginan bernostalgia, sebagai kenangan yang bisa menjadi kekuatan rohani saat itu... atau juga sampai saat ini.

Yah, hanya mereka yang penah lama mengetik dengan mesin ketik manual bisa merasakan irama tak-tok-tak-tok yang indah, merdu, dan memberi kekuatan hidup. (*)

Sumber: Intisari, Februari 2008

22 July 2008

Franky Sihombing pembaru musik kristiani



Musik rohani Kristen--gospel music--di Indonesia dalam 10 tahun terakhir berkembang luar biasa. Album-album banyak. Penyanyi-penyanyi baru bermunculan. Konser pun digelar di mana-mana. Atraksi para pemusik tak kalah dengan artis-artis pop. Mereka dielu-elukan layaknya superstar.

"Lha, yang seharusnya dipuji itu Tuhan atau si artis?" begitu pertanyaan iseng saya kepada seorang mahasiswa penikmat konser rohani di Surabaya.

"Memuji Tuhan, dong! Tapi artisnya juga penting. Artis itu yang mengantar kita memuji Tuhan," jawab si mahasiswa keturunan Tionghoa.

Beberapa tahun lalu Don Moen, artis rohani asal Amerika Serikat, didatangkan Gereja Bethany ke Surabaya. Wah, hebohnya luar biasa. Maka, kebaktian dan konser musik berpadu satu. Suasananya mirip konser band-band populer macam Peterpan, Padi, Dewa 19, dan sejenisnya di Stadion Tambaksari Surabaya atau Stadion Gajayana Malang. Ribuan jemaat hafal lagu-lagu Don Moen. Mereka menyanyi, angkat tangan, tutup mata, beserah kepada Tuhan.

Begitulah. Belantika musik rohani di tanah air memang mengalami transformasi luar biasa sejak era 1970-an, 1980-an, sampai hari ini. Sebelum 1990-an artis rohani--sebut saja begitu--bisa dihitung dengan jari. Biasanya, penyanyi-penyanyi pop terkenal diminta menyanyikan lagu-lagu rohani di buku Kidung Jemaat dan sejenisnya. Tampil di TVRI saat Natal atau Paskah.

Nama-nama beken sebut saja Henny Purwonegoro, Ade Manuhutu, Ongen Latuihamalo, Victor Hutabarat, Broery Marantika, Bob Tutupoly, Masnait VG. Nyanyi rohani hanya sampingan belaka. Bukan bisnis utama. Kaset-kaset rohani dipersiapkan secara kilat. Beda sekali dengan rekaman untuk musik pop yang dipersiapkan secara intensif. Baru pada pertengahan 1980-an, dan lebih-lebih era 1990-an, bisnis rekaman kristiani digarap secara serius.

Para artisnya selalu pakai istilah 'pelayanan'. Tapi, kalau dikuliti betul, ya, tetap saja bisnis. Bisnis dengan segmen pasar jemaat kristiani di seluruh Indonesia. Mereka pun tak segan-segan keluar uang banyak untuk promosi di televisi. Nikita, ketika menjadi artis cilik, sukses mencetak hit Di Doa Ibuku Namaku Disebut pada era 1990-an. Omzet kaset Nikita tak kalah dengan rekaman penyanyi populer [sekuler] papan atas.

Dari sekian banyak artis rohani--yang muncul, hilang, tumbuh, kembang--nama FRANKY SIHOMBING termasuk yang sangat mencorong. Namanya bermarga Batak, tapi gaya bicaranya mengalahi orang Betawi asli. Franky pemusik yang malang melintang di Jakarta. Dia mengawali karier sebagai pemusik pop [sekuler]. Masuk keluar studio, main di panggung, kafe, dan di mana saja. Dia menguasai banyak instrumen, khususnya bas dan gitar.

"Saya dulu orang dunia," tutur Franky Sihombing dalam sebuah seminar musik rohani di Surabaya. Karena itu, dia pernah merasakan 'nikmatnya dunia' artis pop terkenal dengan segala pahit getirnya. Hingga suatu saat Franky Sihombing mengaku mengalami pertobatan. Istilah khas teman-teman karismatik: "dipakai Tuhan sebagai alat-Nya untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan".

Ketika masih mahasiswa, saya sekali-sekali menulis untuk majalah rohani. Salah satunya BAHANA. Wartawan senior BAHANA, Fanny Lesmana, suatu ketika meminta saya untuk meliput kegiatan Franky Sihombing bersama teman-temannya dari VOG di Surabaya. "Kamu tolong bikin profil Franky Sihombing dan VOG. Sekarang lagi tren di kalangan anak muda Kristen," pinta Mbak Fanny.

Amboi, tugas yang menarik! Saya bisa bertemu artis-artis Jakarta meski bukan artis pop sekuler. Ini pengalaman pertama melakukan wawancara mendalam dengan artis. Meliput dari dekat, belakang panggung, konser artis. Kemudian meramu menjadi tulisan yang padat. Saat itu Bang Franky dan kawan-kawan tinggal di sebuah guest house yang asri meski tidak mewah.

Pemusik berbadan subur ini ramah, terbuka, bersahabat. Dia cerita tentang VOG dan perjalanan kariernya sebagai pemusik. Sebagian besar informasi saya lupa. Maklum, sudah lewat beberapa tahun dan dulu belum ada blog macam ini, bukan? Intinya, Voice of Generation alias VOG dibentuk Franky Sihombing untuk mengimbangi kegandrungan anak-anak muda pada artis-artis pop sekuler.

Lagu-lagu pop merasuk ke mana-mana. Cinta muda-mudi, patah hati, naksir cowok/cewek, dan tema-tema seputar itulah. Lantas, Franky Sihombing yang makan garam di pop sekuler--dia pun komposer hebat--punya visi rohani yang sangat kuat. Yakni, menciptakan lagu/musik kristiani yang bisa mengimbangi kedahsyatan pop duniawi. "Kita harus lawan. Dan caranya bukan dengan khotbah atau larangan, tapi kita bikin alternatif," tegasnya.

Tak ada cara lain, demikian Bang Franky, kecuali dengan kualitas. Bagaimana bisa memenangi pertempuran dengan pop duniawi kalau kualitas musik rohani buruk? Tanpa mengurangi respek pada artis-artis rohani sebelumnya, Franky menilai album-album gospel di Indonesia selama ini kalah kelas dibandingkan pop duniawi. Biaya produksinya saja tak sampai 5 persen. Aransemen seadanya. Proses rekaman seadanya. Dibuat cepat-cepat. Materi lagu atau musik pun pas-pasan.

"Itu yang jadi pergumulan saya," kata Franky Sihombing. Tak lupa pria yang kerap disapa "pendeta" ini mengutip ayat-ayat Alkitab tentang pentingnya musik bagi pertumbuhan iman. Dia juga mengingatkan bahwa setan pun menggunakan musik dalam rangka menyesatkan manusia. Maka, musik harus dilawan dengan musik. "Anak Tuhan jangan mau kalah sama setan," tandasnya.

Nah, VOG yang mirip grup vokal ini didesain dengan visi yang kuat dari Franky Sihombing. Namun, agar bisa diterima anak-anak muda, lirik dan lagunya dibuat sedekat mungkin dengan selera anak muda. Tidak ada kata-kata berbau terlalu Kristen macam "Yesus, Roh Kudus, anak terang, Bapa di surga, Juruselamat, dan sejenisnya". Istilah-istilah itu, menurut Franky Sihombing, bisa membuat orang alergi. Belum apa-apa sudah menolak mendengarkan musik yang ditawarkan VOG.

"Kita buat lirik yang universal. Bicara cinta, tapi cinta kepada Tuhan," kaya bapak tiga anak ini--Petra Sihombing, Ben Sihombing, Iva Sihombing.

Dengan pola ini, VOG bisa diterima di kalangan yang luas, tak hanya di lingkungan gereja. Konser VOG di berbagai kota pun ramai. Di Surabaya VOG bikin konser di Gedung Go Skate, Jalan Embong Malang. Tak lama setelah konser itu, Go Skate yang sudah tidak menarik dirobohkan. VOG itu personelnya banyak, tapi bintangnya tetap Franky Sihombing. VOG itu, ya, Franky Sihombing.

Entah mengapa, band rohani ini bubar. Bisa jadi karena kesibukan personel, perbedaan orientasi, atau masalah dengan label. Saya pun tidak tertarik bertanya lebih jauh. Yang pasti, setelah VOG bubar, nama Franky Sihombing justru semakin berkibar. Franky jadi salah satu penulis lagu rohani laris, hits maker. Dia pun merilis banyak album dan bikin konser di mana-mana. RAYAKAN, begitu nama serial album Franky Sihombing.

"Albumnya Franky Sihombing, RAYAKAN, cepat habis. Banyak yang cari," ujar penjaga toko kaset/CD rohani kepada saya di Surabaya. Konser-konser Franky Sihombing di Surabaya, biasanya di Plaza Tunjungan, pun selalu ramai. Ini karena Franky Sihombing sangat menguasai psikologi anak muda. Dia pakai bahasa anak muda untuk merangkul penggemarnya.

"And all the fans yang beli kaset dan CD saya ini, jangan yang bajakan ya, plis... plis," tulisan khas Franky di sampul albumnya. Dalam seminar-seminar, Franky pun selalu bicara dalam gaya anak muda. Maka, penggemarnya buanyaak banget. Salah satu lagu karya Franky Sihombing yang sering saya dengar di Surabaya adalah KAU SANGAT KUCINTA.

Liriknya sebagai berikut:

Bersyukur selalu
Bagi kasih-Mu di dalam hidupku
Tak kan kuragu
Atas rencanamu tuk masa depanku

S'bgai Bapa yang baik
Tak kan pernah Kau melupakanku
S'bagai Bapa yang sangat baik
Tak kan pernah Kau meninggalkanku

Ku kan menari dan bersuka
kar'na-Mu o Yesusku
Dan ku kan minum air-Mu
bagai rusa rindu selalu
Ku hidup dalam-Mu
dan hidup-Mu di dalamku
O Yesusku
Kau sangat kucinta

Istri Gombloh uripe ayem lan mulya

Dening: ENDANG IROWATI
Majalah Jaya Baya, Minggu III Juli 2008

Lagu-lagune swargi SOEDJARWOTO--ngono jeneng asline GOMBLOH--sing diripta asline 20 taun kepungkur isih disenengi sutresnane. Lagu sing paling hit yakuwi KUGADAIKAN CINTAKU ing pasar paling laris lan sempat entuk hadiyah, royalty, gedhe saka studio Nirwana Record.

Ana maneh salah sijine lagune sing kaya-kaya wis dadi lagu nasional, yaiku GEBYAR-GEBYAR. Lagu iki kerep dinyanyekake nalika pengetan dina kamardikan lan pengetan dina penting liyane sebab lagu iki pancen bisa nggugah semangat nasionalisme.

Taun 1998 GOMBLOH tilar donya naika umure meh 40 taun merga nandhang lara paru-paru. Kutha Surabaya kelangan seniman kondhang sing penampilane nyentrik lan dipuja-puja kuwi. Nalika tilar donya GOMBLOH ninggalake bojo sing jenenge WIWIK lan anak pupon lanang siji jenenge REMI. Senajan wis tila donya, penyanyi sing tau kuliah neng ITS kuwi isih dieling-eling dening masyarakat lan pemerintah.

Jasa-jasane uga diajeni. Contone digawekake patung Gombloh neng Taman Budaya Surabaya. Sing menehi pengaji-aji iya akeh. Saka pemerintah Surabaya wiwit jaman Wali Kota PURNOMO KASIDI uga menehi penghargaan. Saliyane iku uga penghargaan saka lembaga-lembaga liyane. "Yen penghargaan akeh sing menehi, embuh wis piro, dak simpen primpen neng mburi, klebu penghargaan saka Mount Black saka Eropa," kandhane WIWIK, randhane Cak GOMBLOH, nalika ditemoni ing omahe Perumahan Sutorejo Blok SS Nomer 23 Surabaya.

Sing keri iki taun 2008 nampa penghargaan saka Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal DJOKO SUYANTO, plakate dipajang ing tembok ruang tamu. Wiwik nampa penghargaan mau ing Jakarta. Ing tembok ruwang tamu kuwi uga ana fotone swargi GOMBLOH ukuran gedhe. Saka Pemerintah Provinsi Jawa Timur GOMBLOH kapilih minangka seniman sing apik lan duwe prestasi. Ing acara sing diadani neng Gedung Grahadi kuwi sing nampa bebana saka Gubernur IMAM UTOMO anak pupone GOMBLOH lan WIWIK. Nalika nampa bebana REMI. Sakliyane nampa piagam uga nampa dhuwit Rp 10 yuta.

"Atiku seneng banget nampa pengaji-aji lan bebana saka pemerintah. Iki tandhane pemerintah ngajeni seniman. Aku ya matur suwun marang pemerintah sing esih eling marang karya-karyane bojoku senajan wonge wis ora ono 20 taun kepungkur," ngono jarene wanita sing asale saka Blitar iku.

Piye uripe anak lan bojo GOMBLOH sawise ditinggal rong puluh taun?

Katone isih mulya lan ayem. Omah tinggalane GOMBLOH isih dipanggoni lan kerumat kanthi becik. Neng omah kono uga montor Daihatsu Espass werna abang lan sepedha motor siji. REMI sing saiki umure wis 24 taun uga wis nyambutgawe neng warnet. "Anakku iki ora gelem kuliah. Tau kuliah nanging banjur metu. Dheweke kepingin nyambutgawe wae. Ya wis ben, sing penting duwe pegawean," jarene ibu 47 taun kuwi.

Jan-jane ana omah bonus saka Nirwana Record sing ukurane gedhe lan sungsun loro, dununge iya ing Sutorejo nanging wis didol. Alasane omah gedhe malah kakehan ragad lan pajake iya gedhe. Semana uga yen resik-resik kekesalan merga omahe kekamban.

Lagu-lagune GOMBLOH sing direkam neng studio Nirwana nganti saiki entuk bonus. Miturut Wiwik, Nirwana saben sasi isih menehi dhuwit belanja lan saben taun menehi bonus. Nalika ditakoni cacahe pira, WIWIK ora ngaku. "Sing penting cukup kanggo belanja, mbayar listrik, telepon, banyu, pajak, lan liya-liyane. Iku wae aku wis bersyukur sebab ditinggal 20 taun nanging isih bisa mblanjani anak bojo. Durung sing wujud penghargaan saka kana-kene," kandhane marem.

Apa ya nyekel hak ciptane GOMBLOH?

"Bab ngono kuwi dakpasrahake menyang Nirwana kabeh, Aku iki wong sing wuta hukum. Ora ngerti apa-apa mula aku mung pasrah bongkokan menyang Nirwana. Semana uga nalika ana wong Jakarta sing takon bab iki dak kongkon menyang Nirwana wae. Sebab, nyatane Nirwana iya duwe kawigaten marang kulawargaku. Ngene wae uripku wis ayem lan apa anane ya dak syukuri."

BACA JUGA
Gombloh pahlawan musik Surabaya.

20 July 2008

Selamat jalan Ibu Sumiarsih

Ibu Sumiarsih [60 tahun] bersama anaknya, Sugeng [44 tahun], sudah dieksekusi mati di Surabaya, Sabtu dinihari 19 Juli 2007. Sudah macam-macam upaya yang dilakukan untuk mengubah hukuman mati, tapi gagal. Tinggal 20 tahun di dalam penjara, bertobat, berkelakuan baik, rajin ibadat, sekali-kali tak akan pernah membatalkan hukuman mati.

Ini Indonesia, Bung! Negara yang punya pasal hak asasi manusia di konstitusi, tapi kokoh mempertahankan pidana mati. Maka, Sumiarsih, Sugeng, dan nama-nama lain pun harus meregang nyawa di depan regu tembak.

Mata ganti mata! Gigi ganti gigi! Nyawa ganti nyawa!

Saya terenyuh ketika Bu Sumiarsih dan Sugeng dipertemukan di Rutan Medaeng, Sidoarjo. Sebelumnya Bu Sumiarsih tinggal di Penjara Malang, Sugeng di Penjara Porong, Sidoarjo. Ini isyarat kuat bahwa hari-hari eksekusi segera menjelang. Hampir 20 tahun mereka tak bertemu. Sugeng menggenggam tangan Bu Sumiarsih erat-erat. Begitu pula sebaliknya. Keduanya seakan tak ingin berpisah.

Mari bersiap, mari berdoa! Moga-moga Tuhan kasih tempat terbaik, bertemu di dunia yang lain! Saya tidak tahu apa saja yang dibicarakan Bu Sumiarsih bersama anaknya, Sugeng. Sulit dibayangkan, bertemu sejenak, diawasi tim jaksa dan penjaga penjara, untuk kemudian bersiap di depan regu tembak dua hari kemudian. Ajal memang niscaya. Tapi siapa gerangan yang tak gentar ketika hari-hari hidupnya sudah ditentukan?

Sejumlah jemaat gereja dan rohaniwan menemui Bu Sumiarsih. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya selama 20 tahun, para jemaat tak banyak bicara. Mau omong apa? Hanya rasa yang bicara. Dalam hitungan jam Bu Sumiarsih alias Mbah Sih harus ditembak mati. Harus menebus dosanya gara-gara peristiwa hitam di Dukuh Kupang Barat 13 Agustus 1988.

Oh Tuhan, inikah ajal yang telah Tuhan tentukan? Ataukah, ajal manusia ditentukan jaksa eksekutor? Tiba-tiba Bu Sumiarsih angkat bicara: "Mengapa kalian sedih? Saya tidak sedih kok. Bukankah saya sudah bersama Tuhan Yesus? Kita, orang beriman, tidak boleh takut menghadapi situasi macam apa pun."

Ah, Bu Sumiarsih, kata-katamu seperti dikutip berbagai media di Surabaya sungguh tak pernah saya bayangkan. Ini hanya bisa keluar dari mulut insan yang penuh iman, tawakal, dekat dengan Tuhan. Hidup di penjara selama 20 tahun tampaknya telah menempa Bu Sumiarsih sebagai pengikut Yesus Kristus yang teguh.

"Kami sangat terharu mendengar kata-kata Bu Sumiarsih. Ternyata, bukan kami yang menguatkan Bu Sumiarsih, tetapi justru beliau yang menguatkan kami," berkata beberapa jemaat yang sempat menemui Bu Sumiarsih pada saat-saat terakhir.

Jumat, 18 Juli 2008.

Tengah malam, sekitar pukul 22:00 WIB, Bu Sumiarsih dan Mas Sugeng dibawa keluar dari Rutan Medaeng. Berputar-putar selama satu jam, lalu mampir di lapangan terbuka. Tidak penting di lapangan Mapolda Jatim, lahan di Osowilangun, atau di mana.

Toh, di mana saja acara penembakan dua anak manusia, pada saat bersamaan, harus dilakukan. "Demi hukum. Demi undang-undang. Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa," begitu kira-kira prinsip aparat penegak hukum.

Saya tidak tahu apa yang dikatakan Bu Sumiarsih kepada Tuhan pada detik-detik terakhir. Pula dengan Mas Sugeng. Tapi, mengutip pengacaranya, Pak Tedja Sasmita, Bu Sumiarsih terlihat tenang. Pasrah. "Oh Tuhan, ke dalam tanganmu kuserahkan nyawaku! Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama-Mu!"

Saya membayangkan Bu Sumiarsih menghadapi regu tembak [12 anggota Brimbo Jatim] dengan senyum. Selesai sudah! Umur manusia ternyata begitu pendek. Tak sampai satu menit, begitu perluru bersarang di tubuh fana, roh Bu Sumiarsih pun lepas dari badan. Pula dengan Sugeng. Ibu dan anak ini pun bertemu Sang Khalik!

Di TPU Samaan Malang, sebelum peti jenazah diturunkan, Pendeta Lanny Liem--pembimbing Bu Sumiarsih di penjara selama 20 tahun--menyampaikan kata-kata bijak Bu Sumiarsih kepada sidang jemaat. Lanny berbicara dalam nada yang tegas, layaknya pendeta-pendeta Pentakosta. Berikut kata-kata Bu Sumiarsih:

"Akhir hidup saya ini sudah ditentukan
hari, tanggal dan waktunya
Kepulangan saya bukan sebagai orang jahat,
melainkan sudah takdir dari Tuhan.

Kepada jemaat yang mengikuti pemakaman:
Hidup itu sementara,
kita pasti menghadap Bapa di Surga
Untuk itu, kita harus persiapkan keimanan kita
dan berusaha menebus dosa-dosa
yang pernah kita dilakukan di dunia ini."


Selamat jalan Bu Sumiarsih! Selamat jalan Bu Sumiarsih!

Mengutip kata-kata Rasul Paulus:

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,
aku telah mencapai garis akhir
dan aku telah memelihara iman."

Siapa Sumiarsih? Siapa Letkol Marinir Purwanto?



Sumiarsih dieksekusi bersama anaknya, Sugeng, di hadapan regu tembak dini hari kemarin. Otak pembunuhan berencana keluarga Letkol (Mar) Purwanto, 13 Agustus 1988, itu sosok kontroversial. Inilah penuturan ibu dua anak kelahiran Jombang, 28 September 1948, itu dalam buku MAMI ROSE yang ditulis ITA SITI NASYAH.

Namaku Sumiasih (nama lahir, bukan Sumiarsih yang telanjur tercatat di BAP). Aku dilahirkan dari seorang wanita bernama Sumarsih dan lelaki bernama Kasan Rejo. Dua orang tuaku hidup di Ploso, Jombang, sebuah desa terpencil kala itu. Sebagai anak mbarep (sulung), aku dipanggil Yu Sih oleh kelima adikku, Patemi, Sugito, Parjam, Parmi, dan Parno.

Di antara saudaraku itu, kata orang, aku yang paling cantik. Kulitku kuning, rambutku ikal dan hitam, bibirku tipis, dan mataku meski tidak blolak-blolok (lebar) tapi mirip damar kanginan (berseri-seri). Pipiku ada lesung pipit dan bersemu kemerahan jika tersenyum. Melihat kemolekan wajahku, banyak yang terkagum-kagum.

Banyaknya orang berkata aku cantik menjadikanku kerap mematut diri. Berkaca pada cermin tua yang sudah retak. Benarkah aku ini cantik? Benarkah aku ini ayu? Seolah ingin meyakinkan diri, jika aku dianugerahi segudang anugerah Tuhan, beratus kali pula, aku mematut diri di depan cermin di kamar. Kacanya sebagian juga sudah buram dimakan usia. Nelangsanya lagi, cermin itu diperoleh emak (ibu) dari pemberian orang. Bentuknya tidak utuh. Pecahan persegi tiga.

Cermin yang diselipkan pada sambungan sesek (dinding bambu) rumahku itu dilengkapi sisir hitam dari bahan tanduk. Dua alat kecantikan itulah yang dipakai bareng-bareng, antara emak, bapak, aku, dan adik-adikku.

‘’Mak, bener to aku iki ayu?’’ tanyaku suatu ketika kepada emakku. Emak yang kumintai pendapat hanya senyum-senyum, sambil terus melipati pakaian yang habis dijemur. Tidak seberapa lama, aku mendengar namaku dipanggil oleh satu dari adikku. ‘’Yu Sih, diceluk Yu Minuk, Yu Parti, lan Yu Tri, kae lho. Dienteni nang ngisor wit gayam (Mbak Sih, dipanggil Mbak Minuk, Mbak Parti, dan Mbak Tri, itu lho. Ditunggu di bawah pohon gayam),’’ panggil adikku, Patemi, setengah berteriak.

Di depanku sudah ramai terdengar teriakan dan nyanyian teman sebayaku. Mereka asyik memainkan dolanan kampung. Ada yang cublak-cublak suweng, jumpritan, dan jamuran. Sedangkan anak laki-laki, ada yang main patil lele, gundu, dan ada pula yang main karet serta adu jangkrik.

Teman lelakiku sering jowal-jawil padaku. Ada yang sekadar mencubit lenganku. Ada yang menarik-narik rambutku yang kerap dikucir ekor kuda emakku. Tidak jarang ada yang terang-terangan menggodaku. ‘’Sih...Sih, kowe gelem karo aku?’’ kata mereka kepadaku.

Mendengar rayuan itu, aku hanya bisa mesam-mesem malu. Kata orang, jika aku tersenyum, pipiku bersemu merah. Seperti isi buah jambu di depan rumahku. Di antara semua teman lelaki yang kerap menggodaku, aku sempat tertarik dengan anak lurah di desaku. Sayangnya, anak lurah itu terlalu pendiam. Dia jarang main bersama kami. Aku pun hanya bisa mengagumi saja.

Perbedaan ekonomi yang sangat mencolok menjadikan aku tak berani macam-macam. Jangankan untuk naksir-naksiran, untuk mengakui kagum kepada anak Pak Lurah saja hanya bisa kusimpan sendiri. Aku paling suka jika disuruh emakku menjemput Dik Gito ke rumah Pak Lurah. Adik ketigaku itu, kalau main, suka lupa waktu. Bisa jadi karena rumah Pak Lurah besar dan bagus, hingga Dik Gito lebih kerasan daripada tinggal di rumahnya yang gedheg.

Keluarga Pak Lurah memang baik kepada keluarga kami. Aku kerap dimintai tolong Bu Lurah menata taman bunganya di halaman belakang rumah. Aku biasa diberi tugas mengambil air di sumur untuk menyirami mawar-mawarnya. Bunga yang jadi kegemaranku.
Ada sebuah kebiasaan di rumahku, setiap pulang dari mana aja, adik-adikku di rumah selalu menanti di depan pintu. Mereka duduk berjajar sambil selalu memandangi jalan yang kulewati.

‘’Yu, nggowo opo? (Kak, membawa apa),’’ tanya adik kelimaku, Parmi. Yang lain, seperti Parjan dan Parno, ikut-ikutan merubung minta bagian. Aku senang jika adik-adikku riang seperti itu. Patemi, Sugito, Parjan, Parmi, dan Parno dulu-duluan menghabiskan oleh-oleh yang kubawa. Kendati sebetulnya perutku lapar dan ingin incip-incip, melihat lahapnya cara adikku makan, kutahan saja keinginanku.

Tergoda Ingin ke Kota

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai tumbuh menjadi remaja putri. Aku menjadi kembang desa yang cantik. Tapi, kecantikan paras wajahku bertolak-belakang dengan ekonomi keluarga. Kehidupan ekonomi keluargaku sangat memprihatinkan. Bapak dan ibuku hanyalah orang kampung biasa. Untuk makan sehari-hari, Bapakku harus banting tulang, menjadi buruh tani di sawah orang lain. Sedangkan emakku hanya ngopeni anak-anaknya di rumah.

Jika musim panen tiba, selain aku, emak juga ikut-ikutan terjun di sawah. Pikir kami, mumpung ada pekerjaan. Inilah saatnya kami mengumpulkan sedikit uang untuk biaya hidup. Kami pun bahu-membahu di sawah orang. Sayangnya, kendati sudah kerja keras, roda ekonomi keluargaku tak juga berputar ke atas. Kemiskinan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hariku. Kemelaratan dan kenistaan mendera hidup kami. Hidup keluarga miskin yang ada di sebuah desa terpencil di Jombang kala itu.

Siapa sih yang tidak ingin hidup makmur seperti anak Pak Lurah? Punya rumah gedhong. Punya sepeda. Bajunya bagus dan makannya selalu nasi putih. Sedangkan keluargaku? Sehari-hari, tiwul dan singkong yang bisa kami santap. Lauk paling enak dan bisa kami jangkau hanyalah tempe goreng. Ya, tempe menu sangat istimewa. Tidak jarang kami makan dengan tiwul dan kelapa parut. Kendati demikian, kami berdelapan menerima keadaan dengan lapang dada. Kami tidak menyangka bahwa kondisi itulah yang mementaskan perjalanan kedewasaanku. Memang, kemiskinan kami merupakan kemiskinan yang termiskin.

Kami baru makan nasi kalau pas musim panen atau Ramadan tiba. Yang paling membuat kami bersuka, jika ada we-we (syukuran atau bancakan nasi dan lauk yang dikirimkan orang mampu pada malam ganjil ataupun menjelang Lebaran). Selain nasi putih atau nasi kuning, menu we-we dilengkapi sayur tempe dimasak dengan santan serta ikan ayam dibumbu. Aku yang paling besar selalu kebagian yang mengalah. Aku biasanya kebagian sak emplokan (sesuap). Meski lagi-lagi harus menelan ludah karena kurang, bagian sak emplok itu sudah cukup mengenyangkan perutku.

Suatu kali emakku pergi ke rumah tetangga, meminjam uang karena sebentar lagi Lebaran. Rencananya, uang itu digunakan untuk membelikan baju kami, anak-anaknya. Entah ke mana saja tujuan Emak pergi. Pastinya, karena cukup lama, adik-adikku sampai ketiduran di amben (ranjang) bambu bikinan Bapak. Amben dengan alas tikar yang sudah robek sana sini menjadi tempat tidur sehari-hari dua adik lanang (lelaki)-ku, Parjan dan Sugito.

Dua adik perempuanku, Patemi dan Parmi, serta adik bungsuku, Parno, tidur bersamaku di dalam kamar. Akan halnya adik lanang-ku, tempat tidur kami juga terbuat dari bayang (ranjang bambu) bikinan Bapak sendiri. Jadi, baik anak laki maupun perempuan tidur ngruntel (berdesakan). Anak lelaki dengan Bapak, sedangkan anak perempuan dengan Emak sambil ngeloni Parno.

Yang tak bisa kulupakan, tempat tidur merangkap ruang tamu berbau pesing. Maklumlah, adik lelakiku masih sering ngompol. Jadi, meski kujemur setiap hari, karena tiap hari diompoli, tikar pandan yang menjadi alas tidur kami tetap saja mengeluarkan aroma tak sedap. Pesing dan lengur. Bau dan basah itulah yang membuat tikar tidur kami diwarnai tinggi (kutu busuk). Itu lho, hewan kecil hitam yang kerap mengisap darah. Baunya busuk jika digintes.

Pukul 21.00 WIB, Emak baru pulang ke rumah. Padahal, berangkatnya bakda (setelah) asar. Tidak seperti keberangkatannya, wajah emak kali ini muram. Matanya sembab habis menangis. Ketika kutanya mengapa, emak diam saja. Tak ada kata yang keluar dari mulut mungilnya. Karena penasaran, kudesak terus emakku. Wanita yang terlihat lebih tua daripada usianya itu hanya berkata pendek. ‘’Ora opo-opo, Nduk. Ora opo-opo,’’ katanya mengelak. Sambil berkata demikian, tubuhnya membelakangiku.

Meski emak tak mau berterus terang, hati kecilku mengatakan, Emak tak dapat pinjaman uang. Buktinya, emak tak lagi membahas akan membelikan baju baru buat Lebaran kami. Yang dilakukan malah naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi adikku, Parno. Tidurnya miring. Aku tahu, emakku bersedih. Aku tahu, emakku habis menangis. Tapi, aku bisa apa? Duh Gusti, sampai kapan kemelaratan ini Kau beri? Sampai kapan kemiskinan ini Kau ujikan? Sampai kapan, Tuhan?

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku menggugat ketidakadilan Tuhan yang diberikan kepada keluarga kami. Kami sudah bekerja keras. Kami sudah berusaha. Kami juga bukan orang malas. Tapi, kapan hidup kami berubah? Aku, si gadis cantik ini, menjadi amat dendam kepada kemelaratan. Kemelaratan inilah yang membuatku tidak berani berangan-angan. Apalagi, cita-cita. Aku takut kecewa! Bagiku, bisa baca dan tulis sudahlah cukup. Tidak perlu harus sampai lulus SD. Masih ada 5 adikku yang butuh biaya. Butuh sekolah.

Sementara di kampungku, setiap anak yang sudah berusia 11 tahun biasanya pergi merantau. Mencari kerja ke kota besar. Surabaya dan Jakarta, merupakan kota jujukan bagi remaja Jombang. Pekerjaan yang tersedia tak bisa bervariasi. Kalau bukan babu, ya penjaga warung. Itu karena pendidikan kami rata-rata sangat rendah. Tapi, aku juga dapat kabar, gadis-gadis yang punya paras cantik lebih gampang dapat kerja. Bagi yang cantik dan apalagi bisa baca, pekerjaan yang tersedia di kota bisa saja tambah satu: penjaga toko orang Cina.

Pekerjaan itulah yang kuincar. Pikirku, meski tidak punya ijazah, aku bisa hitung-hitungan. Aku bukan gadis bodoh. Kalau saja aku bisa sekolah terus, pastilah aku mampu bersaing dengan anak-anak pintar lainnya. Aku punya keyakinan seperti itu. Begitu juga kalau harus ikut menjaga warung. Aku bisa masak karena terbiasa membantu Emak di dapur. Cuma, siapa yang mau memberikan pekerjaan? Siapa yang akan mengantarkanku ke kota?

Untuk sampai ke Surabaya saja diperlukan waktu kira-kira 3-4 jam naik kendaraan umum. Itu pun harus berjalan kaki dulu ke kota. Jika mikir itu, puyeng kepalaku! Untuk itu, aku tak berani berpikir yang aneh-aneh. Takut kecewa. Takut gagal. Besarnya keinginan, ditambah tidak adanya biaya, menjadikanku murung. Untuk minta duwit kepada orang tua, tidaklah mungkin. Sementara waktu kulupakanlah keinginanku bekerja.

BAGIAN KEDUA

Nafkahi Keluarga dari Tip Hostes Kelab Malam Ancol. Tekanan ekonomi membuat pernikahan dini Sumiarsih gagal total. Dia lalu memutuskan merantau ke Jakarta.


COWOK yang apel ke rumahku kian banyak. Ibarat bunga, aku sedang mekar-mekarnya. Pemuda yang naksir tidak terbatas di kampungku. Pemuda tetangga desa juga kerap main ke rumahku. Rata-rata mereka bermaksud menjadikanku sebagai pacar. Tidak itu saja. Kecantikanku membuat lelaki beristri ikut-ikutan "mengagumiku".

Di antara lelaki yang datang, ada satu yang menarik hatiku. Lelaki bernama Suwadi itu sangat perhatian terhadapku. Selain berbudi luhur, dia sabar dan ngemong. Kami pun lantas pacaran, meski sebentar. Oleh orang tuaku, kami kemudian dinikahkan. Tepatnya, ketika usiaku menginjak 15 tahun pada 1963. Setahun kemudian, anak kami lahir dan diberi nama Sugeng (bersama Sumiarsih ikut dieksekusi di depan regu tembak pada 19 Juli 2008).

Anak lelaki pertama yang lahir 15 September 1964 itu berwajah ganteng. Kulitnya kuning, hidungnya mancung, dan rambutnya ikal. Kegantengan Sugeng mungkin mewarisi wajahku dan wajah Suwadi kali ya, he he he.

Meski sudah menikah dan punya anak, aku ingin merasakan dapat uang sendiri. Satu-satunya cara ya dengan bekerja. Sayang, keinginanku itu ditentang oleh Mas Wadi, suamiku. Katanya, cukup lelaki saja yang mencari uang.

Aku iri melihat teman-teman sebayaku pulang kampung saat Lebaran. Pakaiannya bagus-bagus. Perhiasan emasnya kemeroncong. Mereka selalu pulang membawa roti kaleng Khong Guan dan minuman sirup jeruk Orson. Melihat pemandangan seperti itu, hatiku makin sakit. Kenapa mereka bisa, aku tidak. Padahal, wajah mereka tidak secantik wajahku. Kalau saja aku bisa ke kota, pastilah lebih banyak uang kubawa.

Besarnya keinginan untuk punya penghasilan sendiri itulah yang menjadikan rumah tanggaku goyah. Mas Wadi yang hanya bekerja serabutan tidak mampu menaikkan kondisi ekonomi sehingga kami sering cekcok. Singkat cerita, kami pun berpisah. Sugeng yang belum berumur 40 hari kutitipkan kepada emakku di desa. Aku nekat mengadu nasib ke Jakarta.

Sejak berangkat dari Stasiun Jombang aku bersumpah anak dan adik-adikku harus hidup sejajar dengan warga kampung yang lain. Mereka harus jadi orang besar. Punya cita-cita. Punya harapan. Bisa sekolah tinggi seperti anak Pak Lurah.

***

Pepatah yang mengatakan kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibu kota bukan sekadar pepatah belaka. Di sana aku hidup sebatang kara. Hidup di kota besar seperti Jakarta itu ternyata tidak mudah. Tak seperti saat tinggal di kampungku di Jombang, semua diukur pakai uang. Jangankan untuk makan, kencing pun harus pakai uang, apalagi mandi. Ini yang membuatku menangis setiap malam.

Aku bisa bekerja di sebuah warung makan. Warung tegal pinggir jalan milik Koh Liem. Warung yang tidak seberapa luas itu menyediakan berbagai macam masakan Jawa. Ada pecel, sup, sayur asem, hingga lodeh. Warung nasi yang tak jauh dari Terminal Pulo Gadung itu sebenarnya sudah punya tiga pegawai. Aku bisa dipekerjakan setelah satu pegawai bagian cuci piring tidak kembali karena menikah.

Di warung itulah aku mengenal banyak lelaki. Mulai sopir, kernet, makelar tiket, hingga penyemir sepatu di Terminal Pulo Gadung. Karena kecantikanku, warung milik Koh Liem, laris manis. Banyak pelanggan yang tak segan memberiku tip. Awalnya, pemberian itu kutolak halus. Aku tidak biasa menerima uang tanpa harus bekerja lebih dulu. Tapi, karena majikanku mengizinkan, akhirnya tip itu kuambil juga. Tip dan gaji yang tidak seberapa itulah yang rutin kukirimkan ke kampung.

Di warung itulah aku berkenalan dengan Hendrik. Lelaki dari seberang itu mengatakan akan mencarikanku pekerjaan lain. Menurut Hendrik, kerja di warung tak akan bisa membuatku kaya. "Lho, kan cantik, kerja di tempat lain aja yang gajinya lebih tinggi," ajaknya.

Suatu hari Hendrik mengantarku ke klub hiburan malam di daerah Ancol. Restorannya memang besar. Tempatnya bagus. Tapi, kalau siang, sepi. "Iki jane ngono nggone opo? (Ini tempat apa ya sebetulnya)," kataku kepada Hendrik.

Manajer di sana mengamatiku cukup lama. Aku akhirnya diterima tanpa ditanya tentang ijazah. Tugasku mengantar minuman dan makanan kecil pesanan para tamu. Kerjanya malam hari. Jam pitu bengi sampek jam telu parak isuk (Pukul tujuh malam hingga tiga dini hari). Aku mau karena bayarannya tiga kali lipat dibanding kerja di warung.

Bapak manajer memberiku seragam. Rok mini ketat dan atasan putih. Aku terkaget-kaget ketika bekerja. Banyak wanita cantik berlalu lalang. Mereka hanya duduk-duduk di kamar ruang tertutup. Tidak sedikit yang sambil merokok. Aku bertanya ke Hendrik, apa pekerjaan wanita-wanita itu? Kata Hendrik, mereka itu hostes.

Meski hanya pelayan (waiters), aku dapat imbalan cukup tinggi. Tip yang kuterima dari tamu lebih besar daripada bayaranku sebulan. Bulan pertama aku mendapatkan Rp 41 ribu dari tip saja, sedangkan gajiku Rp 30 ribu. Ceperan dari pengunjung itu kubelikan alat-alat make up. Ya gincu, pemoles pipi, sampai eye shadow. Pokoknya komplet. Hanya dalam setahun, manajer dan mami tempatku bekerja menaikkan pangkatku menjadi hostes. Aku ikut-ikutan "mejeng" di ruang kaca agar bisa dipilih tamu.

Kali pertama yang aku lakukan adalah memotong rambut model agogo ala Marilyn Monroe yang saat itu tren. Aku memang mengagumi artis Hollywood itu. Sebagai hostes, aku harus tampil seksi. Aku pakai rok superpendek dan sepatu hak tinggi yang warnanya sesuai baju. Tapi, biasanya aku pakai baju hitam. Supaya kontras dengan kulitku yang kuning langsat.

Tip yang kuterima dari tamu makin banyak. Mulai Rp 1.000 hingga Rp 10 ribu. Cukup besar untuk ukuran waktu itu. Tamu-tamu yang nakal memberi tip dengan menyelipkannya di sela-sela payudara. Kadang ada yang di sela celana dalamku. Aku senang jika tamuku mabuk. Tipnya makin banyak.

Atas saran Mami, nama Sumiasih yang terdengar kampungan diganti nama lain. Aku memang suka mawar, maka aku senang saat Mami memberi nama Rose. Aku ingin bunga mawar seharum namaku di dunia malam. Pelangganku kalangan menangah ke atas. Ada pengusaha, pegawai, ABRI (tentara), dan tidak sedikit yang jadi pejabat.

Empat tahun menetap di Jakarta, aku pulang ke desa di Ploso, Jombang. Tepatnya saat Lebaran. Kali ini aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Di depan warga desa, aku tampil habis. Semua yang kumiliki kupamerkan. Apalagi, aku mudik membawa mobil. "Dadi opo kowe nang Jakarta, Sih," tanya tetangga sambil melihat-lihat perhiasan emas yang kukenakan.

Adik perempuanku, Patemi dan Parmi, kubelikan oleh-oleh anting, gelang, kalung, emas lengkap dengan baju model terbaru dari Jakarta. Tiga adik laki-lakiku, Sugito, Parjan, dan Parno, kubelikan sepeda mini (sepeda tren saat itu) satu-satu, selain sepatu dan baju baru.

Emakku yang dulu selalu menangis menjelang Lebaran karena tidak punya uang, semringah melihatku pulang. Sebelum balik ke Jakarta, aku minta Emak menyekolahkan Sugeng (anaknya yang ditinggal di desa) dan lima adiknya. "Jangan takut masalah biaya, Mak. Nanti aku yang mengirimi setiap bulan," kataku.

BAGIAN KETIGA
Terjebak Kongsi Wisma Bordil di Gang Dolly

Setelah sukses mengembangkan "karir" dan memupuk modal di Jakarta, Sumiarsih memutuskan pulang ke kampung halaman. Bersama suami baru, dia lalu membuka bisnis esek-esek di Surabaya.


Dengan uang yang rutin aku kirim dari Jakarta, rumah kami di desa yang dulu dari gedheg (anyaman bambu) dibangun dengan batu bata. Bahkan, rumah kami sudah jadi rumah gedong menyamai rumah Pak Lurah. Sugeng juga sudah bisa bersepeda. Empat adikku semuanya sudah mengenakan perhiasan di leher, jari, maupun tangan.

Pergaulan high class-ku (sebagai hostes) di Jakarta berimbas pada kehidupan pribadiku. Aku jadi emoh tinggal di desa terpencil, seperti Ploso. Agar terlihat seperti orang kota, aku pun membeli rumah di kota Jombang. Tepatnya di Jalan Gajah Mada. Ini kulakukan agar adik-adikku tidak terlalu jauh jika pergi sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah yang bagus hanya ada di kota kabupaten. Aku ingin adik-adik dan anakku bisa menikmati fasilitas terbaik.

Kepindahan kami ke kota seperti kampanye. Yang mengiring ratusan. Saking banyaknya yang ikut, untuk mengangkut mereka, orang tuaku menyewa truk.

Manisnya Jakarta terus kureguk. Ibarat minum air laut, aku selalu kehausan, demikian juga dengan diriku. Kian hari kian ketagihan. Aku lupa daratan. Norma-norma agama sudah kulanggar semua. Aku juga sudah terbiasa hidup tanpa ikatan.

Penghasilanku makin besar jika aku di-BL (booking luar). Saat itu, rasanya, uang itu tidak ada artinya. Sambil menimang uang gebokan, pikiran jelekku keluar. ''Kenapa tidak dulu-dulu seperti ini,'' ucapku dalam hati. Hotel Indonesia -saat itu paling besar dan paling terkenal- jadi tempatku mangkal sehari-hari.

Aku pernah ikut (di-BL) kunjungan kerja seorang menteri ke Batam selama seminggu. Pulangnya, uang yang diberikan bisa kupakai beli mobil (Suzuki) Carry baru. Ya, hitung sendiri deh, berapa kira-kira.

Dampak lain dari profesiku itu, aku juga sudah keliling Indonesia. Apalagi jika bukan mengikuti ''kunjungan'' para pejabat. Ya, itung-itung, sambil kerja, aku juga bisa piknik gratis, gitulah.

Saat ke Jakarta dan bekerja sebagai hostes, awalnya aku sudah bertekad tidak jatuh cinta kepada lelaki mana pun. Namun, Hasan Winarya, seorang pria beristri dan beranak, berhasil mencuri perhatianku. Ketelatenan dan kelembutan pria keturunan China Lampung itu menjadikan hatiku terlena. Aku benar-benar mabuk oleh perhatiannya. Mungkin, perasaan itu tumbuh lantaran di Jakarta aku hidup sendiri.

(Dari Hasan Winarya, seorang pengusaha kontraktor ibu kota saat itu, Sumiarsih mendapat hadiah rumah di kawasan Senayan, Jakarta. Dari hasil hubungan itu, lahir Rose Mey Wati, perempuan, anak kedua, yang saat berusia empat bulan dititipkan ke neneknya di Jombang).

***

Karena tak kunjung dinikahi dan terus didamprat dan iba dengan istri dan anak-anak Hasan Winarya, Sumiarsih lalu memutus hubungan dengan Hasan. Dia lalu memutuskan kembali ke Jombang.

Di sisi lain, kembalinya Rose alias Sumiarsih ke Jombang menjadikan buah bibir tersendiri di kampung halamannya. Tak sedikit lelaki yang coba-coba mendekatinya. Maklum, Rose memang cantik. Di antara lelaki yang tertarik kepada Rose adalah Djais Adi Prayitno. Duda dua anak tersebut terang-terangan mengatakan ingin mempersunting dia.

''Nganpunten (maf) lho, Mas. Saya tidak ingin pacaran lagi. Malu. Sudah tua. Saya mencari calon suami,'' kata Rose kepada Prayit ketika lelaki itu menyampaikan isi hatinya.

Sebaliknya, lelaki berkaca mata itu gembira dengan ketegasan Rose. ''Kalau Jeng Sih mau mencari suami, saya siap menikah. Kapan pun diminta,'' ujarnya menimpali kalimat Rose.

Rose mengatakan sebetulnya masih mencintai Hasan Winarya, ayah Wati. Namun, Sumiarsih melihat Prayit sabar dan bertanggung jawab. Sadar bahwa dia butuh pendamping untuk menata hidupnya ke depan, Rose pun menerima pinangan Prayit -panggilan akrab Djais Adi Prayitno- untuk menikah.

Sumiarsih memang tak punya keahlian selain pengalamannya menjadi hostes dan mengelola salon plus (beberapa kapsternya juga wanita panggilan) di Kebayoran Baru, Jakarta. Karena itu, setelah menikah dengan Prayit, keduanya memutuskan membuka binis esek-esek. Pilihannya jatuh ke Dolly, kawasan pelacuran terkenal di Surabaya.

Launching rumah bordil dua lantai Happy Home (HH) dilakukan pada awal 1975. Rumah berukuran 8 x 15 meter itu diharapkan jadi tumpuan hidup keluarga. Letaknya di gang Dolly bernomor 2B. Pada awal pembukaan HH, Mami Rose -panggilan akrabnya di Dolly, hanya menampung sepuluh orang pekerja seks komersial (PSK). Tapi, yang membuat wisma HH jadi harum karena PSK di sana masih sangat belia dan cantik-cantik. Usianya berkisar 15 tahun.

Para PSK itu direkrut secara terang-terangan. Becermin dari pengalaman hidup Sumiarsih, para remaja itu berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka ini adalah korban perdagangan wanita. ''Kowe gelem gak melu ngladeni tamu nang omahku Suroboyo. Tugasnya ngancani ngombe. Tapi, nek tamu ngajak turu, kowe yo kudu gelem. (Kamu mau ikut menemani tamu di rumahku Surabaya? Tugasmu menemani minum. Tapi, kalau tamu minta dilayani tidur, kamu harus mau),'' ujar Mami Rose Sumiarsih kepada para calon PSK saat wawancara. Karena terdesak faktor ekonomi, rata-rata gadis yang datang kepada Rose bersedia secara suka rela.

Para PSK yang dikaryakan kebanyakan janda muda dengan berbagai problem. Ada yang ditinggal kawin suami, ada yang suami pengangguran, dan tidak sedikit wanita yang punya anak tanpa bapak. Tarif short time PSK di HH Rp 25 ribu. Dari jumlah itu, Mami Rose dapat 70 persen.

Berbeda dengan para mucikari lain, setoran yang 70 persen itu diolah lagi oleh Mami Rose. Sebesar 50 persen masuk kantong pribadi, 10 persen biaya makan dan minum PSK, dan 10 persen untuk biaya kursus. Untuk yang terakhir itu, PSK biasanya sekolah modes di daerah Pasar Kembang yang tak jauh dari Gang Dolly.

''Kalian-kalian tidak boleh selamanya jadi balon (PSK). Di sini kamu semua harus mentas setelah tabunganmu cukup,'' kata Rose saat membrifing anak buahnya sebelum diterjunkan ke lembah hitam.

Selain tamu dari kalangan biasa,Wisma HH kerap didatangi lelaki dari kalangan tentara. Salah seorang di antara lelaki itu tidak lain adalah Letkol Marinir Purwanto. Bapak tiga anak itu punya jabatan prestisius: kepala Primer Koperasi Angkatan Laut (Primkopal) di Pangkalan Angkatan Laut, Ujung, Surabaya. Seperti pengunjung yang lain, Purwanto kerap bersenang-senang dengan anak buah Sumiarsih.

Yang membuat Mami Rose girang, kehadiran Purwanto dianggap sebagai ''pelindung''. Maklumlah, dunia hitam seperti itu rentan berbagai kejahatan dan keributan.

Suatu hari, saat menyambangi Wisma HH, Purwanto mengajak omong-omong serius Mami Rose. ''Mi, kalau aku buka usaha (membuka rumah bordil di Dolly) seperti punyamu, apa masih laku ya,'' kata Purwanto seperti ditirukan Sumiarsih.

Pucuk dicita ulam tiba. Tawaran ini bersambut. Mami Rose mengakui ''penghuni'' HH sudah overload. Sebelumnya, Rose berpikir ingin melebarkan sayap. Namun, untuk memperluas bangunan, tidak mungkin karena tanahnya terbatas. Mau membeli rumah baru, uangnya juga belum mencukupi. ''Kebetulan sekali, kalau Pak Pur mau bikin di sini,'' kata Rose terus terang.

Berkat kongsi usaha dengan Puwanto itu, tepat pada ulang tahun kelima Wisma HH (1980), Mami Rose membuka "cabang" kedua. Kebetulan, ada wisma yang dijual pemiliknya karena bangkrut. Rumah itu bernomor 1A atau berjarak dua rumah dari Wisma HH. Oleh Mami Rose, rumah bordir baru itu diberi-nama Wisma Sumber Rejeki (SR).

Usai merayakan peresmian SR, Mami Rose, Prayit, dan Purwato -yang menjadi pengelola dan "pemegang saham"- terlibat diskusi serius. Yakni, mematangkan sistem bagi hasil usaha barunya. ''Sebagai pemilik, aku minta kamu setor Rp 25 juta per bulan. Tidak boleh telat. Gimana, Mi,'' kenang Rose tentang kalimat Purwanto.

Sejenak berpikir, Mami Rose, yang kala itu mengenakan rok terusan warna hitam bunga-bunga merah, mencoba menawar. ''Ya, jangan segitu toh, Pak Pur. Ini kan usaha baru. Anak-anaknya juga belum banyak. Kita juga belum tahu sambutan pasar,'' kata Mami Rose coba berdalih.

Setelah melalui perdebatan sengit, mereka bertiga sepakat setor Rp 22 juta per bulan. Setiap tahun, setoran selalu meningkat Rp 1 juta per bulan. Setiap keterlambatan Purwanto -yang sudah terbiasa mengelola usaha di koperasi itu- mengenakan denda. ''Nggih, Pak. Menawi ngaten, tiap tanggal 1 kita akan kirimkan uangnya ke Bapak,'' kata Rose.

Banyaknya anak buah (PSK) yang diasuh menjadikan masalah bagi Mami Rose. Terutama masalah keuangan. Ada yang pinjam uang untuk biaya anak sakit, sekolah, modal untuk tanam padi desa, dan sebagainya. Jika tidak punya uang, Sumiarsih pinjam kepada teman kongsinya, Purwanto. Lambat laun, utang Rose semakin berbukit. Apalagi, semua tidak sekadar pinjam, tapi ada bunganya. Belum lagi jika terlambat membayar jatah setoran bulanan. "Ada denda 10-20 persen," ujar Rose.

Suatu hari, Rose pernah menyetor uang bagian Purwanto hingga Rp 40 juta. Padahal, sesuai perjanjian, bagian Purwanto hanya Rp 25 juta. Sisa yang Rp 15 juta itu merupakan bunga keterlambatan dan cicilan utang. ''Pak Pur, mbok kalau bisa, saya diberi keringanan. Banyak anak-anak yang belum bisa bayar utang ke saya. Jadi, saya yang harus nomboki dulu,'' kata Rose coba menawar. Bukan kata-kata halus yang didapat. Wanita yang telah ikut membesarkan SR tersebut malah dibentak dengan gebrakan meja. ''Gak iso. Iku harga mati. Koen lak wis janji. Ojok main-main karo aku lho, yo,'' kata Pur.

Bukan itu saja. Purwanto juga kerap menakut-nakuti dengan pistol jika Rose dan Prayit sedikit mengulur setoran. Alasan perwira TNI-AL tersebut bermacam-macam. Satu di antaranya adalah Rose telah mempekerjakan PSK di bawah umur. Pelanggaran seperti itu, jika diketahui polisi, bisa membawa Sumiarsih ke penjara. Lelaki yang dulu dianggap backing usahanya kini menjadi musuh dalam selimut.

BAGIAN KEEMPAT

Bawa Dua Anak untuk Luluhkan Hati Purwanto. Terus terlilit beban setoran yang berat membuat Sumiarsih merancang pembunuhan terhadap Letkol Purwanto.


MENGELOLA dua rumah bordil sekaligus, Happy Home dan Sumber Rejeki, nama Mami Rose cukup kondang di lokalisasi Gang Dolly. Kalau sedang mujur, semalam satu wisma bisa memberikan laba bersih Rp 2 juta. Di atas kertas, kalau bisnis berjalan normal, sebulan Sumiarsih dari dua wisma bisa mengumpulkan Rp 120 juta. Itu angka yang fantastik untuk ukuran usaha pada 1980-an.

Di kalangan pria hidung belang, wisma milik Mami Rose itu cukup atraktif. Wanita itu kerap mendatangkan penyanyi-penyanyi dangdut dengan pengiring musik live di malam hari. Dia juga mempekerjakan bartender khusus yang harus hafal minuman masing-masing pelanggan.

Namun, usaha prostitusi seperti itu tetaplah rentan. Gangguan yang sepele saja bisa mengganggu jalannya usaha. Padahal, khusus untuk Wisma Sumber Rejeki, hasil kongsi Mami Rose dengan Letkol Purwanto, dia punya kewajiban setor Rp 22 juta per bulan.

Suatu kali, dua wisma itu sepi selama seminggu. Itu terjadi karena ada operasi oleh Polres Surabaya Selatan terhadap laporan penculikan anak di bawah umur. Ada tengara, gadis berusia 12 tahun itu dijual di Gang Dolly. Setelah digerebek, anak itu ditemukan di sebuah wisma di sana. Akibatnya, transaksi seks di Gang Dolly menurun drastis.

''Piye yo, Pak, cara ngadepi Pak Pur. Mbok sampean toh sing mrono (Bagaimana Pak cara menghadapi Pak Purwanto. Bapak saja yang menghadap ke dia),'' kata Mami Rose kepada suaminya, Djais Adi Prayitno (Prayit). Mendengar keluhan itu, Prayit malah menasihati agar Sumiarsih sendiri yang menghadap. Siapa tahu, kalau wanita yang menghadap, hati Purwanto luluh.

Dengan diantar pakai mobil Suzuki Carry oleh anak tirinya (anak Prayit), Nano, dia berangkat ke rumah Purwanto di Jalan Dukuh Kupang Timur, Surabaya. Setelah Mami Roses menyampaikan permohonan keringanan akibat wisma yang sedang sepi itu, Purwanto menanggapi dengan tegas.

''Bah sepi. Bah rame. Nek awakmu nyetor telat, yo kudu mbungai. Titik! Wis, kono muliho. Ngganggu ae. (Biar sepi. Biar ramai. Kalau kamu setor terlambat, ya harus bayar bunga. Titik. Sudah, pulang sana. Mengganggu saja),'' jawab Purwanto.

Sumiarsih pulang dengan air mata menggenang. Mami Rose bersyukur Nano yang menunggu di luar tidak tahu bahwa di dalam tadi perwira marinir yang masih aktif itu memarahinya habis-habisan.

Pada kali lain, saat liburan Ramadan, Sumiarsih sedang bahagia karena kedua anaknya, Wati dan Sugeng, yang selama ini sekolah dan tinggal di rumah Jombang bersama nenek, liburan ke rumah keluarga Sumiarsih di Jalan Kupang Gunung Timur I/41, Surabaya.

Anak-anak Mami Rose itu pun diajak keliling kota seperti ke Toko Siola, Toko Nam, Taman Hiburan Rakyat (THR), dan kebun binatang. Namun, pada saat bersamaan, Mami Rose bingung karena usaha rumah bordilnya sedang sepi. Saat waktu membayar setoran tiba, uang yang tersedia hanya Rp 20 juta.

Saat mereka mau membayar setoran itu, anak-anak itu pun diajak ke rumah Purwanto. Harapan Sumiarsih, dengan mengajak anak-anak, kemarahan Purwanto bisa redam. ''Mugo-mugo ae Pak Pur gak ngamuk nek awak e dhewe teko bareng-bareng yo, Pak,'' kata Rose kepada Prayit sebelum mereka berangkat.

Kiat Mami Rose jitu. Melihat rombongan yang dikuti Wati dan Sugeng itu, Purwanto lebih lunak saat Mami Rose mau menyampaikan setoran yang hanya Rp 20 juta. ''Yo, wis, kurang piro. Gowoen ae disik nek ngono. Tapi, tolong, tanggal 15 kudu onok sak bungae lho yo (Ya, sudah, uangnya dibawa dulu. Tapi, tolong, tanggal 15 harus dibayar bersama bunganya),'' katanya.

Sambil berkata demikian, Purwanto tak henti-henti memandangi Wati. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Setelah itu, rombongan kecil itu meneruskan perjalanan menuju THR di Jalan Kusuma Bangsa.

Besok malamnya, sekitar pukul 20.30, Purwanto mengenakan jaket doreng berkunjung ke Wisma Sumber Rejeki, bersama tiga anak buahnya. Dia duduk di tengah para PSK yang sedang mejeng di ruang tamu atau akrab dikenal sebagai ''akuarium''. Dia minum sampai mabuk.

Pukul 23.30, Rose mendapati Purwanto keluar kamar. Dari mulutnya menyembur aroma alkohol. ''Sugeng dalu, Pak (Selamat malam, Pak),'' sapa Mami Rose berbasa-basi. ''He'eh,'' jawab Pur. Pur lalu bertanya soal setoran yang diantarkan kemarin.

''Seperti yang saya sampaikan kemarin, masih ada Rp 20 juta. Kurang Rp 5 juta. Tapi, malam ini tadi ada pemasukan Rp 1 juta,'' kata Mami Rose. Purwanto mendengarkan sambil berbaring di tempat tidur.

Sumiarsih melirik Purwanto yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Heran, kali ini bapak tiga anak itu terlihat lebih sabar. Saat Purwanto mengelurkan sebatang rokok, wanita itu pun membantu menyulut dari korek api miliknya. ''Ora usah kok pikirke kekuranganne, Rose. Tapi, anakmu Wati kekno aku (Tidak usah kamu pikirakan kekurangannya. Tapi, anakmu Wati kasihkan aku),'' katanya enteng.

Mendengar itu, tubuh Rose gemetar. Kakinya mendadak lemes. Seorang bodyguard wisma Sumber Rejeki, Bambang, yang kebetulan melintas heran mengetahui bosnya memegangi kepala. ''Ada apa, Mi, kok pucat,'' tanya Bambang. Tanpa diminta, pria bertubuh kekar itu membopong Mami Rose ke kamar nomor 6 yang malam itu tidak dipakai pelanggan.

(Sejak peristiwa itu, Sumiarsih mengaku terus berusaha menyelamatkan Wati yang berwajah ayu dari Purwanto. Pada 1986, Wati menikah dengan Serda (Brigadir Polisi Dua) Adi Saputro. Namun, Purwanto tak berhenti mengejar Wati. Faktor itulah yang menyebabkan Adi Saputro sangat sakit hati).

Delapan tahun lebih kongsi Purwanto-Sumiarsih di Wisma Sumber Rejeki itu adalah saat-saat yang berat bagi Sumiarsih. Wanita itu sering defisit karena Purwanto selalu meminta setoran tetap dengan nilai yang terus naik tiap tahun. Bahkan, keterlambatan pembayaran pun dikenai penalti bunga.

Puncak kesulitan itu terjadi pada Agustus 1988. Saat itu, setoran bulanan sudah menjadi Rp 30 juta. Angka itu belum memperhitungkan bunga karena sudah melebih tanggal 1. Purwanto memberikan deadline tanggal 15. Sumiarsih tidak kuat lagi. Suatu hari Sumiarsih mengungkapkan rencana jahat kepada Prayit: membunuh Purwanto.

Semula Prayit tidak setuju. Tapi, setelah dimintai pendapatnya langkah apa yang tepat untuk menghindari teror Purwanto, Prayit tak punya pilihan. Lelaki itu pasrah dan menyetujui ide Sumiarsih. Malam itu pula, pukul 19.30 WIB, Mami Rose lantas memanggil kemenakan Prayit, Daim, di meja bartender. Lelaki muda itu dipekerjakan di wisma sebagai pengawas keuangan.

Setelah berada di dalam kamar, Rose meminta tolong agar Daim ikut membantu membunuh Purwanto. ''Kowe lak ya, lara ati ta, Im (Kamu juga sakit hati kan, Im). Yok apa nek (Bagaimana kalau) Pak Pur kita bunuh saja bersama-sama,'' pinta Rose kepada Daim di dalam kamar. Daim sepakat dengan usul Sumiarsih. Sebab, Daim sendiri mengaku beberapa kali dipopor pistol hingga berdarah-darah.

Namun, sebelum keluar kamar, Prayit kepada Daim mengatakan agar minta bantuan Nano, anak Prayit dari istri terdahulu, yang tinggal di Putat Jaya Tembusan, Surabaya. ''Jangan bertindak sendiri-sendiri, tunggu perintah kita selanjutnya, ya,'' kata Prayit lagi. Daim manggut-manggut tanda mengerti.

Pada 12 Agustus 1988, bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur I/2B, Surabaya, rumah Sumiarsih yang lain, mereka berkumpul menyusun strategi pembunuhan. Saat rapat itu, Rose juga memanggil menantunya, Adi Prayitno, yang sedang berada di Surabaya karena urusan dinas. Rapat kecil itu menyepakati menghabisi Purwanto dengan dipukul alu besi.

''Hati-hati, lho. Pak Pur itu tentara. Kuat. Jadi, harus membawa senjata sendiri-sendiri. Kita keroyok ramai-ramai. Kalau tidak, kita yang mati. Dia punya pistol dan juga bisa karate,'' kata Prayit.

Tak seperti yang ditakutkan Prayit. Saat eksekusi pembunuhan terhadap Purwanto (dan empat anggota keluarga yang lain) dilaksanakan di rumah Purwanto, siang hingga sore pada 13 Agustus 1988, hampir tidak ada perlawanan berarti. Para korban, termasuk yang tak berkaitan dengan kongsi rumah bordil, seperti istri dan anak-anak Purwanto, mereka bunuh dengan cara yang sadis.

Wati sendiri tidak menyangka bahwa sang ibu yang dianggap sebagai otak pembunuhan itu berbuat demikian nekat. Sejak Sumiarsih dan kakaknya, Sugeng, dieksekusi mati menyusul suaminya (Adi Saputro) yang terlebih dahulu menghadapi regu tembak, Wati kini hidup sebatang kara. ''Saya tidak mengira ibu tega berbuat itu. Sebab, yang saya tahu, ibu itu berhati lembut,'' katanya.

TAMAT

19 July 2008

Setahun bersama Sugeng dan Sumiarsih



Oleh Muhammad Sholeh
Jawa Pos, 19 juli 2008

Saat semua koran memberitakan eksekusi mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng, saya teringat pertemanan dengan mereka selama satu tahun di Penjara Kalisosok, Surabaya, (sekarang pindah ke Porong). Ternyata sudah sepuluh tahun saya tidak bertemu mereka. Saya bebas mendapatkan amnesti dari Presiden Habibie pada 1998.

Penjara Kalisosok memang dipenuhi narapidana kasus-kasus besar. Selain Sugeng, ada Sugik (pembunuh empat keluarga Jojoran, Surabaya), Aris (pembunuh istri, anak, dan pembantu kepala cabang BCA Darmo), Nano (adik Sugeng yang divonis penjara 20 tahun), dan Pak Prayit almarhum (suami Sumiarsih). Belum lagi sisa-sisa orang PKI dan napi separatis Papua.

Saya lebih dekat dengan Pak Prayit karena kamarnya berdampingan dengan blok saya. Pak Prayit di Blok D (khusus orang tua dan narapidana yang sakit), saya di Blok E (kamar isolasi) kumpul dengan Sugik dan Aris. Saya masih terkenang dengan panggilan sayang orang tua itu kepada saya.

***

Kami sering bertukar pikiran soal politik, ekonomi, hingga kasus pembunuhan Letkol Purwanto (13/8/1988). Dalam setiap minggu, Pak Prayit selalu mengajak badminton meskipun bukan badminton sungguhan, mengingat usia beliau sudah lanjut. Pak Prayit akhirnya meninggal sebelum regu tembak mengeksekusinya.

Sekalipun dalam keseharian bergaul dengan para pembunuh yang oleh media dijuluki berdarah dingin, di Kalisosok hal itu tidak pernah tampak. Semuanya seperti layaknya manusia yang lain. Mereka juga menjalankan salat, bercocok tanam, hingga membuat karya seni. Banyak orang tidak tahu bahwa Sugeng itu pandai membuat kaligrafi Arab. Jika disandingkan dengan produksi pesantren, karyanya belum tentu kalah.

Saya biasa memanggil Sugeng dengan sebutan Mas karena umurnya jauh di atas saya. Selama satu tahun hidup dengannya, belum pernah saya melihat Sugeng bertengkar dengan narapidana lain. Menyandang status hukuman mati menjadikan Sugeng disegani napi lain. Tetapi, Sugeng tidak pernah memanfaatkan reputasi besar tersebut.

Dalam pengamatan saya, kasus pembunuhan itu dibagi menjadi dua. Pertama, mereka yang membunuh sebagai bagian dari perilaku kekerasan, misalnya perampok yang membunuh korbannya. Kedua, pembunuhan yang dilakukan dalam kondisi gelap mata. Misalnya, Sugeng, Aris, Sugik, dan Pak Prayit. Hal itu mudah diamati.

Kelompok kedua tersebut -sebelum terkena kasus- tidak punya catatan kriminal, seperti Sugik (tukang becak), Aris (mandor bangungan). Ketika di penjara, mereka tidak suka bertengkar, tidak suka ngompas, dan saat tidak punya uang pun hanya berdiam diri di kamar.

Itu berbeda dengan kelompok pertama, yang kriminalitas adalah kehidupan mereka. Di dalam penjara, mereka masih saja suka ngompas, minum, dan bikin kacau.

Preman-preman itu paling takut berhadapan dengan napi hukuman mati. Bagaimana tidak takut, mau bunuh sepuluh orang lagi pun, hukumannya tetap hukuman mati.

Suatu saat saya melihat Sugik bertengkar dengan preman. Karena marah, Sugik mengambil batu dan mengejar preman itu. Jika preman tersebut tidak lari, tentu kepalanya sudah ditimpuk batu oleh Sugik.

***

Saat beberapa kali saya besuk, Sugeng kelihatan tegar. Dia masih bisa membesarkan hati para pembesuknya. Bagaimana tidak, ajal sudah di depan mata. Setiap manusia pasti mati, entah besok, lusa, atau minggu depan. Tapi, buat Sugeng dan Bu Sumiarsih, ajal tinggal menuggu jam. Tentu, orang yang sudah merasa kenal baik pun iba melihatnya.

Saya tidak punya kepentingan terhadap eksekusi hukuman mati Sugeng maupun Bu Sumiarsih. Tetapi, setahun bersama mereka di Penjara Kalisosok mengajarkan kepada saya tentang pentingnya kasih sayang antarsesama manusia. Manusia itu memang tempat salah dan lupa.

Saya pun sedih atas eksekusi mati terhadap mereka. Apalagi melihat wajah Sumiarsih, seorang ibu yang sudah renta, tidak dieksekusi pun, mungkin ajal juga tidak lama lagi pasti datang.

Saat Astini dieksekusi mati beberapa tahun lalu, saya juga bersedih karena saya berteman dengan dia cukup lama ketika sama-sama tinggal di Rutan Medaeng. Astini bahkan pernah berjasa kepada kami ketika Penjara Medaeng terbakar. Saat itu sekelompok preman hendak memerkosa Dita Sari (tapol PRD). Astini dengan berani menggagalkan upaya pemerkosaan itu.

Masyarakat mendukung eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng hanya melihat dari sisi perbuatan kejamnya, bukan melihat sisi kehidupan mereka setelah dipenjara.

Pendapat saya, kenapa kita tidak memberi kesempatan Sumiarsih dan Sugeng bertobat dan beribadah sebanyak-banyaknya. Toh, keduanya telah menjalani 20 tahun penjara. Bukankah selama dipenjara mereka telah dibina dan membantu pembinaan terhadap napi lain. Artinya, kehidupan mereka jauh lebih bermanfaat daripada dieksekusi mati.

Biarkan Tuhan nanti yang menghukum mereka. Sebab, persoalan mati itu menjadi wewenang mutlak Tuhan, bukan jaksa, bukan hakim, apalagi regu tembak.

Muhammad Sholeh , mantan napi PRD di Kalisosok 1996-1998, sekarang advokat PDIP Surabaya

15 July 2008

Tugu Kuning di Porong


Rumah Pak Totok Widhiarto di Siring pada 1 Juni 2006, empat hari setelah semburan lumpur panas. Sekarang rumah ini bersama ribuan rumah lainnya sudah tenggelam di dasar lumpur.

Senin 14 Juli 2007. Saya melintas di depan Tugu Kuning. Ini pintu gerbang Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Puluhan orang berjejeran di tanggul melihat kolam air lumpur Lapindo. Sejak musibah lumpur panas pada 29 Mei 2006, Desa Siring tinggal kenangan. Bersama Jatirejo dan Renokenongo, Siring merupakan korban lumpur tahap pertama.

Ribuan warga mengungsi, mencari selamat sendiri-sendiri. Namun, mereka tetap berkomunikasi untuk mengurus ganti rugi yang dibayar dengan skema 20:80. "Saya sudah tidak tahu lagi di mana tetangga-tetangga saya di Siring dulu. Kami ini ibarat kapal pecah. Tersebar nggak karuan," ujar Pak Totok, warga Siring, kepada saya.

Siring sudah dua tahun ini menjadi kolam--atau lebih tepat 'lautan'--lumpur. Ratusan rumah penduduk sudah tak terlihat. Yang ada cuma air lumpur, puing-puing bangunan, serta tanggul. Pak Totok sendiri mengaku malas menengok bekas rumahnya di Porong. "Untuk apa? Sudahlah, semua sudah terjadi," ujar pria yang suka memainkan lagu keroncong dengan gitar atau kibod itu.

Bu Luqman, tetangga Pak Totok, sudah tak jelas rimbanya. Saya pernah bertemu dan berbincang pada bulan pertama pascamusibah di pasar, tempat pengungsian. Setelah itu, istri almarhum Luqman Aziz [pelukis senior] ini kontrak rumah atau tinggal di rumah kerabatnya.

Saya ingat, ketika Desa Siring masih ada, saya sangat sering main-main ke rumah Pak Totok, kemudian mampir di rumah Gus Luqman. Minum kopi. Ngobrol ngalor-ngidul. Latihan keroncong. Diskusi budaya Jawa. Lihat lukisan. Macam-macamlah aktivitas di Porong. Ah, saya juga tidak tahu di mana jasad Gus Luqman setelah kompleks makam Siring tenggelam oleh lumpur panas.

Tugu Kuning! Tugu berwarna kuning, sederhana, tapi selalu disebut-sebut di Radio Suara Surabaya. "Kawan, terjadi kemacetan di sekitar Tugu Kuning Porong karena truk gandeng mogok," kira-kira demikian penyiar SSFM. Tugu Kuning pun selalu menjadi tempat warga melakukan koordinasi sebelum berunjuk rasa.

Setiap kali melintas di depan Tugu Kuning, saya teringat teman-teman yang baik hati di Siring. Banyak kenangan indah di Siring. Kapan ya semburan ini berhenti?

Pilgub NTT dan setimen suku-agama



Pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur sudah selesai dan hasilnya sudah kita ketahui bersama. Frans Lebu Raya-Esthon Foenay unggul dengan perolehan suara 772.263 atau 37,34 persen. Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa 711.116 atau 34,41 persen. Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo 584.082 atau 28,25 persen. Pemilih tedaftar 2,65 juta.

Berbeda dengan pilkada di Jawa, pemilihan gubernur NTT diwarnai sentimen primordial yang kental. Faktor suku, agama, denominasi gereja, pegang peranan. Data Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan, 70 persen warga Katolik memilih Frans Lebu Raya. Pak Frans ini ketua PDI Perjuangan NTT, beragama Katolik, berasal dari Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

Sebaliknya, 80 persen jemaat Protestan pilih Ibrahim Agustinus Medah yang Protestan. Jarang ada orang Katolik yang memilih calon Protestan, dan sebaliknya. Politik segregasi agama dan etnis memang diterapkan penjajah Portugal sejak 1556. Kemudian dilanjutkan dengan sistematis oleh Belanda. Flores, Belu, Timor Tengah Utara didesain sebagai zona Katolik. Sisanya Protestan.

Setelah menjadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, segregasi dan politik etnis ini masih bertahan secara informal. Orang Katolik dan Protestan sulit melebur. Kalau ada kasus pencemaran hosti di Flores, misalnya, pasti orang Protestan yang dicurigai. Teman-teman Protestan asal NTT yang kuliah di Jawa pun sangat senang menyerang doktrin Katolik berdasar 95 pasal Martin Luther versi 1517.

Padahal, doktrin resmi Katolik sudah mengalami perubahan yang mencolok, khususnya pasca Konsili Vatikan II [1962-1965]. Saya sendiri capek meladeni serangan yang terkesan nyinyir dari para murid Tuan Martin Luther, Tuan Kalvin, dan sejenisnya itu.

Pelajar Katolik di Kupang--mayoritas Protestan--tidak mendapat pelajaran agama Katolik di sekolah. Biasanya, pelajaran agama sore hari. Padahal, jumlah pelajar Katolik tidak sedikit. Sebaliknya, di Flores tidak ada pelajaran agama Protestan. Siswa yang beragama Protestan, ya, silakan cari guru di luar. Aneh, memang, di era keterbukaan dan globalisasi ini sekat-sekat agama dan suku tetap saja kokoh di NTT. Hampir tidak ada perkawinan campur Katolik dan Protestan. Padahal, di Jawa, perkawinan beda gereja [Katolik-Protestan] hampir terjadi setiap hari.

Menjelang hari-H pencoblosan, saya kirim SMS kepada Pius, teman di kampung halaman, Flores Timur. "Pilgub ini kamu pilih siapa? Calon mana yang kuat di Flores Timur dan Lembata?" tanya saya.

"Frans Lebu Raya. Dia unggulan kami. Semua penduduk di sini pasti pilih Pak Frans."

"Pak Frans kan sudah pernah jadi wakil gubernur. Pejabat lama. Siapa tahu kebijakannya merugikan rakyat atau melenceng? Apa tidak ada calon lain yang bagus?"

"Kamu di Jawa tahu apa? Ini NTT, bukan Jawa. Pak Frans nepe lewun Adonara Timur, tite hama-hama Lamaholot. Ata kiwanen. Bae sonde bae tite musti pile Lamaholot alawen. Mo ake lupang, tite pe lewo tou: Lamaholot!" tegas sahabat lama ini. [Pak Frans itu orang Adonara Timur, sama-sama suku Lamaholot. Katolik. Baik tidak baik, kita mesti pilih orang Lamaholot. Kamu jangan lupa, kita itu satu kampung: Lamaholot!]

Pada saat pencoblosan, saya berada di Sidoarjo. Tiba-tiba datang SMS dari Kupang. Aha, adik kandung saya Vincentia, guru di Kupang. "Kami tetap menjagokan Pak Frans Lebu Raya. Na Adonara lewun, hama-hama Lamaholot. Sare le take, kame musti pile titen alawen. Pak Frans pasti menang!" tegas Vincentia.

Kalimat dalam bahasa Lamaholot [Flores Timur] ini intinya warga Flores Timur, Lembata, dan Alor yang dikenal sebagai etnis Lamaholot sudah bulat mendukung Pak Frans. Pertimbangannya bukan kinerja, prestasi, antikorupsi, cerdas, dekat rakyat, dan sejenisnya. Tapi karena sama-sama Lamaholot!

"Pak Gaspar Ehok kan bagus juga? Namanya cukup populer?" pancing saya.

"Sonde! Sonde bisa! Pak Gaspar pe Manggarai lewun. Ata alawen. Tite toi ketun hala. Kame tetap pile Pak Frans Lebu Raya!"
tegas si adik.

[Pak Frans itu orang Manggarai. Kita tidak begitu kenal. Maka, kami tetap pilih Pak Frans Lebu Raya!] Pak Frans ini punya visi mengikis sentimen primordial di NTT yang dinilai tidak sesuai dengan tuntutan modernisasi. Tapi, kita tahu, visi besar ini kalah dengan sentimen suku-agama yang sudah berakar di NTT. Malamnya, saya lihat di televisi orang-orang Lamaholot berpesta ria setelah hasil hitung cepat alias quick count menyatakan Pak Frans Lebu Raya menang.

"Ina, Ama, Kaka, Ari, Opulake, Anaopo... teti Kupang hedung mura-rame. Ra musti poro ewang nawung, behing tuak sampe hogo hulemen! Hehehe....,"
kata saya dalam hati.

Sebagai orang Lamaholot, saya tentu senang karena salah satu tokoh kami berhasil menduduki jabatan gubernur NTT hasil pemilihan langsung. Sebelumnya Pak Hendrikus Fernandez dari Larantuka--juga Flores Timur, tapi dianggap 'kurang Lamaholot' karena berbahasa Nagi [Melayu Larantuka]--menjabat gubernur NTT. Tapi Pak Hendrik naik di era Orde Baru ketika parlemen masih disetir eksekutif. Di sisi lain, saya gamang dengan kentalnya sentimen suku-agama dalam pemilihan gubernur NTT.

Kenapa? Sentimen primordial sangat merusak asas meritokasi di alam demokrasi. Orang dipilih pertama-tama bukan karena kemampuan, kapabilitas, melainkan "tite alawen" alias orang kita. Sekalipun koruptor, karena orang kita, ya dipilih. Sekalipun kurang mampu, karena "tite alawen" ya dicoblos gambarnya. Sekalipun hebat, bersih, sederhana, karena "orang lain" [ata lewun], ya, tidak dipilih.

Quo vadis, Flobamora?

Kornelis Kewa Ama menulis di KOMPAS 14 Juli 2008: "Masyarakat apatis terhadap figur dari suku dan agama lain. Mereka menilai calon dari suku dan agama berbeda tidak akan memperhatikan nasib warga dari suku dan agama lain."

Kata kuncinya adalah TRUST. Mengapa Indonesia tidak maju-maju? Jawabnya: masyarakat kita tergolong LOW TRUST SOCIETY menurut tesis Francis Fukuyama. Nah, menyimak berbagai indikasi yang ada, bisa jadi masyarakat NTT itu berada di level NO TRUST SOCIETY! Yah, tambah sulit majunya!

KREDIT FOTO: http://lamalekasiadonara.blogspot.com/

13 July 2008

Deddy Dores komposer paling produktif





HATIKU SEPUTIH GAUNMU
Oleh Deddy Dores

Ternyata keras hatiku luluh juga
Hatiku memang bukannya pualam
Telah kucoba hidup sendiri
Tanpa ada cinta di hatiku

Dinginnya hatimu saat itu
Mungkin hatimu telah terluka
Ingin kubalut dengan kasihku
Setulus cinta dalam hatiku

REFREIN

Simpan hatiku sayang
Rindu-rindu untukmu
Putihnya hati ini seputih gaunmu
Jangan sampai ternoda

Mestinya sebening kaca
Selembut kain sutra
Jangan sampai tergoda
Jangan sampai ternoda
Bunga cinta di hatiku

Akhirnya, hatiku ini luluh juga
Sekian lama kupalingkan cinta
Kini bayangmu datang di sini
Rindu rindu s'lalu menggebu

[kembali ke REFREN]


Malam-malam, kalau tidak bisa tidur, saya biasa mampir ke warnet di kawasan Sedati Agung, dekat Bandara Juanda. Warnet ini buka 24 jam. Ada minuman ringan, kadang saya bawa kopi sendiri. Ya, tambah gak bisa tidur!

Yang menarik, anak-anak muda [20-an tahun] penjaga warnet suka memutar lagu-lagu lawas, khususnya Deddy Dores. Diputar berulang-ulang. "Soalnya enak untuk hiburan larut malam. Kalau nyetel lagu-lagu sekarang kok kurang cocok, Mas," kata si penjaga warnet. Dia juga putar lawakan ala ketoprak Jawa Timur. Konyolnya minta ampun!

HATIKU SEPUTIH GAUN, lagu karya Deddy Dores, ini termasuk favorit pengguna warnet di Sedati itu. Saya sendiri suka karena punya kenangan khusus. Dulu, saya pernah ikut lomba menyanyi duet dengan cewek, dengan lagu wajib itu, tapi kalah.

Hatiku Seputih Gaunmu. Lagunya melankolis, mendayu, melodius, khas irama sebelum 1990-an.

"Putihnya hati ini seputih gaunmu, jangan sampai ternoda," begitu syair Kang Deddy Dores. Ah, rayuan gombal pemuda 1980-an. Hehehe..... Maka, saya pun tergerak mengisi blog ini dengan sedikit catatan tentang Deddy Dores, si laki-laki berkacama mata hitam.

"Saya sudah berkecimpung di dunia musik selama tiga dekade lebih. Macam-macam band, jenis musik, saya ikuti. Yah, dunia musik itu ibarat kehidupan manusia: ada naik turunnya, kadang di atas kadang di bawah. Dan industri musik itu akan terus berputar," ujar Deddy Dores di Surabaya beberapa waktu lalu.

Tak banyak yang tahu bahwa Deddy Dores ini di awal kariernya bergabung dengan rock band. Bahkan, pernah tercatat sebagai personel God Bless, grup rock legendaris. Main keyboard, instrumen yang sangat dikuasainya selain gitar. God Bless dikenal sebagai grup panggung. Rekaman nomor dua.

Nah, si Deddy Dores ini memperkuat God Bless formasi awal ketika masih gonta-ganti personel. Dari God Bless, Kang Deddy juga bermain untuk grup rock lain seperti Super Kid.

Tapi memori masyarakat Indonesia, khususnya di kawasan timur, khususnya di Flores, lebih mengenal Deddy Dores sebagai pencipta lagu melankolis 1980-an. Produktivitas menulis lagunya memang luar biasa. Dalam sehari dia bisa bikin belasan lagu. Masuk studio, tanpa persiapan, Deddy Dores dengan mudahnya membuat lagu untuk penyanyi-penyanyi yang hendak diorbitkan.

Kalau saja waktu itu sudah ada Museum Rekor Indonesia alias Muri, mungkin sudah lama Deddy Dores tercatat sebagai penulis lagu pop [komposer] paling produktif di Indonesia. Iklim industri musik sekarang tampaknya tidak memungkinkan lagi komposer bisa bikin lagu sebanyak Deddy Dores.

Nama Deddy Dores melejit keras seiring kejayaan JK Recods pada 1980-an. Judhi Kristiantho, bos JK Records, mengajak Deddy Dores untuk menulis lagu-lagu pop manis untuk artis-artis yang akan diorbitkan. Tentu saja, gaya lagunya harus sesuai dengan genre JK. Karena suaranya bagus--dibandingkan Pance F. Pondaag atau Obbie Messakh--Deddy Dores sering diminta berduet dengan artis-artis JK. Sebut saja Ria Angelina atau Lidya Natalia.

Sukses, maksudnya laku keras. Judhi Kristiantho pun mengajak Deddy Dores untuk rekaman. Saya masih ingat lagu-lagu Deddy Dores--yang dinyanyikan sendiri--tersebar luas di Flores Timur. Di mana-mana dipakai untuk latihan main gitar di pinggir jalan. Lagu ini paling populer di Larantuka, Flores Timur, pada pertengahan 1980-an:

"Malam ini aku sendiri lagi
Kucoba melupakan bayanganmu
Aku memang tak pantas untukmu
Tak pernah ada cinta di hatimu
............................."

Sukses bersama JK Recods membuat pengusaha-pengusaha rekaman lain tertarik untuk memakai jasa Deddy Dores. Dia bikin lagu sekaligus mengorbitkan TWIN SISTER [Dagmar dan Doris]. Dua nona manis ini cukup berhasil. Bahkan, saya dengar-dengar Deddy Dores menikahi salah satu personel TWIN SISTER. Belakangan bercerai pula. Corak lagu TWIN berbeda dengan artis JK. Ah, hebat benar Kang Deddy beradaptasi dengan produser lain.

Kemudian Deddy Dores juga berhasil mengangkat Nike Ardilla sebagai penyanyi populer Indonesia. Lagunya yang masih saya kenang BINTANG KEHIDUPAN dan SEBERKAS SINAR. Corak lagu-lagu Nike pun jauh berbeda dengan lagu-lagu JK meski tetap bertempo sedang. Ada distorsi gitar di sana-sini. Hentakan drum sangat khas Deddy. Nike Ardilla, almarhumah, pun dikenang sebagai penyanyi slow rock.

Lalu, masih banyak lagi penyanyi yang menjajal peruntungan dengan lagu-lagu Deddy Dores. Ada yang sukses, setengah sukses, tapi lebih banyak yang gagal. Deddy Dores sendiri masih merilis album the best atau the greatest hits. "Ada sih pembelinya, tapi nggak banyak. Deddy Dores itu punya penggemar sendiri lho," kata Reni, penjaga toko kaset/CD di kawasan Gedangan.

Setelah tahun 2000, industri musik pop Indonesia berubah drastis. Label asing bermodal raksasa masuk. Sistem rekrutmen penyanyi sudah lain sama sekali. Dulu produser mengajak nona-nona manis masuk dapur rekaman, lalu dibuatkan lagunya oleh para pencipta lagu macam Deddy Dores, Rinto Harahap, Obbie Messakh, Dian Pramana Putra, atau Oddie Agam.

Sekarang yang berjaya justru band-band remaja. Band-band pemula itu kirim rekaman--lagunya ditulis sendiri, aransemen sendiri--ke label untuk dipertimbangkan. Jika dirasa laik pasar, ya, direkam di major label. Produser juga melirik band-band jawara festival musik.

Dengan pola begini, komposer-komposer senior macam Deddy Dores kehilangan pekerjaan. Kemampuan menulis lagi sih tetap prima, tapi gaya musik sudah jauh berbeda. Anak-anak muda kelahiran 1980-an ke atas tidak bisa menerima gaya Deddy Dores dan kawan-kawan. Apa boleh buat, Deddy Dores cs pun tidak bisa berkiprah lebih banyak di dunia musik kita.

"Tapi saya percaya dengan siklus kehidupan. Ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah. Suatu saat, ya, musik-musik kami disukai kembali. Biasa sajalah," tegas Deddy Dores kepada saya usai konser di Stadion Tambaksari Surabaya.

Di usia yang tak lagi muda, kegiatan Deddy Dores saat ini lebih banyak di luar studio. Dia pernah bikin bernama Spaindo--Suara Perjuangan Artis Indonesia. Organisasi ini bertujuan mengangkat derajat seniman Indonesia. Kenapa?

"Selama ini seniman termasuk golongan masyarakat kelas tiga di bawah birokrat dan pengusaha," ujarnya.

Kang Deddy juga aktif memerangi pembajakan kaset/CD/VCD yang sangat marak di Indonesia. Andai saja pembajak-pembajak itu tidak ada, dan sistem royalti di industri musik kita berjalan baik, bisa dipastikan Deddy Dores menjadi salah satu artis kaya. Bukankah lagu-lagu karyanya tak terbilang banyaknya? Tapi, sudahlah, hidup itu ibarat roda pedati! Selalu ada naik turunnya!

11 July 2008

Jauhi politik! Jadilah pengusaha!


Oleh DAHLAN ISKAN
Sumber: Radar Surabaya 10 Juli 2008

Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema: JAUHI POLITIK dengan subtema KERJA! KERJA! KERJA! Waktu itu, enam tahun lalu, saya ingin mengajak masyarakat agar tidak semua orang tersedot ke magnet politik yang memang lagi "hot" di negara kita.

Ada reformasi, ada kebebasan membentuk partai politik, ada pemilihan presiden langsung dan ada pilkada langsung. Waktu itu saya menangkap gejala terjadinya pembiusan politik kepada masyarakat luas.

Apalagi masyarakat Jawa Timur memang sangat politis. Tokoh-tokoh politik asal Jatim luar biasa dominannya. Akibatnya kedekatan mereka kepada rakyat Jatim juga kental. Buntutnya, daya sedot politik kepada rakyat luar biasa hebat.

Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet. Semakin besar daya tarik masyarakat pada politik semakin seru pertengkaran politik. Bukan saja antar kekuatan politik, bahkan di internal kelompok-kelompok politik itu sendiri.

Mengapa sesekali perlu kampanye seperti itu?

Jawabnya: kita tidak boleh lupa bahwa salah satu syarat agar sebuah negara bisa maju adalah jumlah pengusahanya minimal harus 5% dari jumlah penduduknya. Sedang sebuah data menunjukkan bahwa jumlah pengusaha di Indoensia ini belum sampai 1% jumlah penduduk. Bahkan ada data yang menyebutkan baru 0,18%!

Orang seperti Ciputra atau Hermawana Kartajaya yang tidak jemu-jemunya membuat atmosfir enterpreuneur dan marketing di masyarakat bisa kalah gema dengan kampanye politik, kalau tidak ada yang menghambat wabah politik itu. Mengapa? Sebab, menjadikan seseorang jadi pengusaha atau menjadi orang marketing itu sulitnya bukan main. Perlu telaten, kerja sungguh-sungguh, jujur, konsisten dan merambat pelan.

Sedang untuk menjadi politikus: tidak perlu telaten, bahkan boleh hanya hit and run. Juga tidak perlu kerja sungguh-sungguh karena cukup modal mulut. Juga tidak perlu jujur. Bahkan kian pandai menipu kian baik. Tidak perlu konsisten. Bahkan loncat partai sana, loncat partai sini sah-sah saja. Juga tidak perlu konsisten: kapan-kapan koalisi dengan A, lain kali koalisi dengan B. Bahkan dalam satu koalisi pun suaranya bisa beda seperti dalam kasus angket BBM di DPR.

Jadi aktivis politik gampang. Jadi pengusaha atau orang marketing sulit. Karena itu saya sangat menghargai orang seperti Ciputra dan Hermawan Kartajaya yang di tengah-tengah hotnya isyu politik di Jatim saat menjelang Pilkada seperti ini, masih tetap gigih mengadakan berbagai perlawanan kepada arus politik.

Mungkin sudah waktunya lagi dikampanyekan besar-besaran JAUHI POLITIK disertai seruan KEMBALILAH BEKERJA. Terutama tahun-tahun terakhir ini daya pikat politik mengalami pasang naik lagi. Tragisnya, beberapa orang yang dulu sudah mulai tertarik jadi pengusaha dan sudah mulai menampakkan hasilnya kembali mengalami kemunduran. Gara-garanya: merasa sudah berduit, lalu terjun ke politik dan kehilanganlah IMAN wiraswastaannya.

Ingat! Kita perlu 5% penduduk yang mau jadi pengusaha.

Ingat! Sekarang pengusaha kita baru 0,18% dari jumlah penduduk kita.

10 July 2008

Tiap hari orang mati di jalan

Nyawa manusia di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya sangat murah. Nyaris tak berharga. Tadi, 10 Juli 2008, seorang mahasiswa 20-an tahun tewas di jalan raya kawasan Aloha, Pepelegi, Waru. Saya tidak melihat langsung kejadiannya, tapi yang jelas almarhum naik motor GL-Pro. Lalu, dihantam truk gandeng di tengah kemacetan lalu lintas sekitar pukul 16.30 WIB.

Jasad anak muda itu digeletakkan begitu saja di pinggir jalan. Dibungkus kertas koran. Kemudian beberapa polisi dari Polsek Waru, Sidoarjo, memuat jasad itu di atas pick-up bak terbuka. Tak ada yang menemani si jasad. Oh Tuhan, beginikah perlakuan terhadap anak manusia di kota besar? Manusia nyaris tak berbeda dengan....

Saya sangat sering menyaksikan peristiwa mengenaskan macam ini. Pekan lalu, juga ada anak muda bersepeda motor dihantam mobil di tempat yang sama. Menggelepar sebentar, kemudian hilang nyawa. Oh Tuhan! Sebelumnya, di Gresik, saya juga melihat langsung anak muda bermotor diserempet mobil dan meninggal di jalan raya.

Penanganannya sama. Jasad diletakkan di pinggir jalan raya. Dibungkus kertas koran. Polisi datang. Olah tempat kejadian perkara. Lalu, dititipkan ke kendaraan apa saja yang lewat. Minta visum di rumah sakit. Syukur-syukur, keluarga datang menjemput si mayat.

Yah, jalan raya di kota besar macam Surabaya-Sidoarjo makin mencekam. Terlalu banyak manusia mati sia-sia karena pemakai jalan yang ugal-ugalan. Motor zigzag, salib sana-sini, tidak pakai helm yang benar. Pengendara mobil, termasuk yang mewah, pun sama kacaunya. Uangnya banyak--bisa beli mobil, bukan?--tapi tidak tahu aturan lalu lintas.

Mobil di Surabaya mengambil hak pengendara sepeda motor dengan menguasai badan jalan sebelah kiri. Maka, wajar saja bahwa pengendara motor pun gantian 'menguasai' jalur kanan. Kampanye jalur kiri untuk sepeda motor oleh Polwiltabes Surabaya boleh dikata gagal total. Tidak ada efeknya sama sekali.

Penghargaan Wahana Tata Nugraha yang berkali-kali diterima Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sejatinya semu belaka. Tidak mengubah perilaku berlalu lintas warganya. Duh, murahnya nyawa manusia di kota ini.

Andrew N Weintraub profesor dangdut



Prof Andrew bersama Ida Laila dan A Malik Bz.



Andrew bersama Ali Alatas dan Rhoma Irama di teras Hotel Hyatt Surabaya, 9 Juli 2008.

Gara-gara sering menulis catatan ringan tentang musik di blog ini, Prof Andrew N Weintraub PhD menghubungi saya untuk membantu dia mengumpulkan informasi tentang perkembangan musik melayu-dangdut di Indonesia. Ah, saya dikira pakar atau pengamat musik jempolan. Hehehe....

Setelah kontak beberapa kali lewat e-mail, saya akhirnya bertemu muka dengan Prof Andrew. Orangnya gaul, ramah, telaten, dan sangat profesional sebagai peneliti dari Universitas Pittsburgh. Saya terkesan dengan cara kerjanya yang detail, mendalam, dan sangat menjaga akurasi dan objektivitas.

"Sebagai peneliti, saya harus selalu netral," kata Pak Botak ini kepada saya.


Adakah pakar Indonesia yang serius meneliti musik dangdut?

Prof Andrew N Weintraub PhD dari Pittsburgh, Amerika Serikat, bukan saja mengkaji dangdut, tapi juga tergila-gila dengan dangdut. Dia punya Dangdut Cowboys, band khusus dangdut.


Rabu 9 Juli 2008, Andrew N Weintraub berada di Surabaya untuk menemui para personel Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala, salah satu pelopor musik melayu-dangdut di Indonesia. Sejak lama profesor musik di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, ini memang bercita-cita menulis text book yang membahas perkembangan musik dangdut secara komprehensif.

Maka, Andrew berkeliling ke Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, Banjarmasin, dan tak ketinggalan Surabaya. Surabaya dianggap penting karena di sini ada OM Sinar Kemala pimpinan Abdul Kadir yang pernah berjaya hingga 1970-an. Grup dengan vokalis antara lain Ida Laila, Nur Kumala, S Achmady, dan A Rafiq ini memopulerkan lagu Keagungan Tuhan karya A Malik Bz.

"Jadi, saya harus wawancara dengan anggota Sinar Kemala," ujar Andrew N Weintraub.

Mula-mula Andrew ingin menemui masing-masing personel OM Sinar Kemala di rumahnya masing-masing. Tapi Rhoma Irama, ketua umum Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia, keberatan. "Lha, kalau datang ke rumah satu per satu, kapan selesainya?" kata Rhoma Irama.

Karena itu, Bang Haji yang sedang punya acara tur ke Jawa Timur ini berinisatif mengumpulkan para personel Sinar Kemala di Hotel Hyatt Surabaya. Gayung pun bersambut. Sedikitnya sembilan personel Sinar Kemala bisa berkumpul kembali setelah bertahun-tahun sibuk sendiri.

"Sejak Pak Kadir meninggal, Sinar Kemala memang vakum. Kami juga sudah sepuh sehingga tidak mungkin manggung kayak dulu. Ida Laila malah sudah jadi ustadzah," ujar A Malik Bz, pencipta sejumlah hits OM Sinar Kemala.

Didampingi Rhoma Irama, Prof Andrew N Weintraub mencoba mengorek ingatan para dedengkot musik melayu yang rata-rata berusia di atas 60 tahun itu. Andrew sendiri sudah punya banyak referensi tentang perkembangan musik populer di Indonesia sejak 1950-an sampai sekarang. Dengan telaten, Andrew meminta para personel OM Sinar Kemala mengingat gaya musik, aransemen, pengaruh musik asing (India, Arab, Malaysia, Barat) pada 1960-an.

"Apakah waktu itu sudah pakai suling bambu?" tanya Andrew.

Sebelumnya, musikolog yang pernah tinggal selama lima tahun di Bandung ini memutar rekaman OM Sinar Kemala.

"Wah, ternyata Anda punya koleksi lagu-lagu kami. Padahal, di Indonesia sendiri jarang ada yang punya," tukas A Malik Bz. Menurut Malik, dulu OM Sinar Kemala tidak menggunakan suling bambu, melainkan piccolo. Kemudian, dalam perkembangannya, orkes-orkes melayu beralih ke suling bambu.

"Kenapa?" kejar Andrew.

"Soalnya, lebih merdu. Apalagi, setelah musik melayu mulai terpengaruh gaya India," tambah Abubakar, personel OM Sinar Kemala, yang kemudian membentuk OM Kenanga.

Andrew N Weintraub juga menanyakan asal muasal istilah dangdut. "Apakah pada era Sinar Kemala istilah dangdut sudah dipakai?" tanya Andrew.

Para personel Sinar Kemala menjawab belum. Bahkan, sebelum 1970, musik yang dimainkan grup-grup terkenal macam Sinar Kemala, Bukit Siguntang, Tjandraleka, Kelana belum punya nama. "Gampangnya, ya, irama melayu. Yang memperkenalkan istilah dangdut, ya, Bang Haji ini," ujar Malik Bz sambil menepuk pundak Rhoma Irama. Personel Sinar Kemala yang lain pun membenarkannya.

Mereka juga sepakat bahwa Rhoma Irama-lah yang membuat musik melayu sangat populer di Indonesia. Perlahan-lahan istilah dangdut pun meluas ke mana-mana. Namun, yang menarik, grup-grup dangdut sampai sampai sekarang masih menggunakan embel-embel OM, singkatan orkes melayu. "Saya sendiri sebelum bikin Soneta pada 1970 ikut OM Purnama," timpal Rhoma Irama yang dikenal sebagai 'raja dangdut' itu.

Andrew N Weintraub puas karena berhasil menggali banyak informasi tentang melayu-dangdut di Surabaya. Dia berencana menulis buku kajian ilmiah tentang dangdut sebagai rujukan universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia. "Cetakan pertama nanti sekitar seribu eksemplar," kata pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Ali Alatas, penyanyi yang memopulerkan lagu Rindu, geleng-geleng kepala melihat ketekunan Andrew menggali sejarah melayu-dangdut. Dia tak menyangka kalau Andrew mengoleksi begitu banyak lagu dangdut sejak 1950-an hingga sekarang. Ironisnya, orang Indonesia sendiri hampir tidak pernah mengangkat musik melayu-dangdut sebagai karya ilmiah.

"Yang jelas, suatu saat nanti orang Indonesia perlu ke Amerika kalau ingin belajar dangdut," ujar Ali lantas tertawa kecil. (*)